Anda di halaman 1dari 22

SISTEM PEMBANGKIT DAYA

PENGOLAHAN BBM
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Minyak dan gas bumi sampai saat ini masih merupakan sumber energi yang
menjadi pilihan utama untuk digunakan pada industri, transportasi, dan rumah
tangga. Selain itu, pemanfaatan produk akhir atau produk-produk turunan minyak
bumi juga semakin meningkat sehingga peningkatan akan permintaan minyak
bumi diseluruh dunia telah mengakibatkan pertumbuhan dan ekspansi pada
kegiatan eksplorasi dan pengolahan minyak mentah diberbagai Negara, termasuk
Indonesia. (Nugroho, A. 2006)

Minyak bumi adalah suatu campuran cairan yang terdiri dari berjuta-juta
senyawa kimia, yang paling banyak adalah senyawa hidrokarbon yang terbentuk
dari dekomposisi yang dihasilkan oleh fosil tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Minyak bumi dan derivate minyak bumi menghasilkan bahan bakar kendaraan
bermotor, pesawat terbang, dan kereta api. Tumbuhan dan hewan juga
menghasilkan minyak pelumas yang dibutuhkan untuk alat-alat mesin industri.
(William, H.B. 1995)

Minyak bumi bukan merupakan bahan yang seragam, melainkan


mempunyai komposisi yang sangat bervariasi, bergantung pada lokasi lapangan
minyak dan juga kedalaman sumur. Minyak bumi merupakan senyawa kimia yang
terdiri dari unsur-unsur karbon, hidrogen, sulfur, oksigen, halogenida dan logam.
Senyawa yang hanya terdiri dari unsur karbon dan hidrogen dikelompokkan
kedalam senyawa hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon diklasifikasikan atas
naftanik, farafinik, dan aromatik, sedangkan senyawa campuran antara unsur
karbon, hidrogen, halogenida dan logam, dikelompokkan dalam senyawa non
hidrokarbon. (Jasji, E. 1996)

Bersama kita ketahui BBM (bahan bakar Minyak )adalah komoditas yang
tidak bias kita lepaskan dari kehidupan kita sehari-hari, untuk konsumen
perorangan sangat berkaitan dengan mobilitas anatar kota atau wilayah berupa
bahan bakar untuk sektor transportasi seperti sepeda motor, mobil, kendaraan
umum seperti bus, kereta api, kapal laut dan lain lain, sementara untuk kegiatan
usaha produktif tentu saja sangat dibutuhkan sebagai bahan bakar kegiatan
industri terutama di pabrik-pabrik maupun usaha lain yang bisa mendorong
kegiatan ekonomi.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


1
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
Menurut Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas)
Indonesia rata-rata konsumsi BBM Indonesia tiap tahun Indonesia 50 Juta Kilom
liter baik yang subsidi maupun non subsidi, tentu saja ini adalah jumlah yang luar
biasa besar dan perlu ketersediaan suplai dan stock yang memadai. Untuk
memenuhi konsumsi tersebut maka kilang didalam negeri harus dioptimalkan
selain juga dipenuhi lewat dengan impor BBM.

Gambar 1.1 Alur kegiatan Industri Migas Hulu– Hilir

Seperti terlihat pada diagram di gambar 1.1 bahwa kilang pengolahan


minyak bumi adalah proses awal dari kegiatan pengadaan BBM, dari kilang
pengolahan inilah nanti terjadi proses pembuatan bahan bakar minyak (BBM)
seperti LPG, Gasoline (Bensin), Kerosine (Minyak tanah) Gasoil (Minyak solar)
dan turunannya seperti aspal pelumas dan lain-lain.

Gambar 1.2 Kilang Pengolahan minyak bumi dan produk-produknya

Selama ini produksi bahan bakar minyak Indonesia hanya dilakukan oleh PT
Pertamina sementara untuk kilang selain pertamina sangat kecil proporsinya. Dari

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


2
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
total kapasitas kilang minyak yang mencapai sekitar 1,1 juta bpd, Pertamina hanya
mampu memproduksi BBM rata-rata sebesar 940 ribu bpd pada 2012 lebih tinggi
6,7% dibandingkan dengan tingkat produksi BBM Pertamina pada 2011 yang
hanya mencapai 881 ribu bpd barrel/day, 1 barrel = 159,6 liter). Solar merupakan
BBM yang paling banyak diproduksi dari kilang Pertamina. Produksi solar pada
2012 mencapai 19,8 juta kilo liter (KL), meningkat 6% dibandingkan produksi
solar pada 2011. Premium 11 juta KL, kerosene 1,7 juta KL, dan avtur 3,3 juta
KL. Produksi bahan bakar dalam negeri, secara total hanya mampu memenuhi
53% kebutuhan BBM dalam negeri, sisanya dipenuhi dari impor. Untuk solar,
produksi Pertamina hanya mampu memenuhi 79% kebutuhan solar dalam negeri,
sementara premium dari kilang minyak Pertamina hanya memenuhi 38% dari
kebutuhan nasional. Tingkat produksi BBM yang dihasilkan dari kilang dalam
negeri Indonesia semakin lama cenderung semakin tidak mampu memenuhi
kebutuhan BBM yang semakin meningkat, selain karena teknologi pengolahan
kilang yang semakin tidak efisien, biaya memproduksi BBM di dalam negeri
justru menjadi lebih mahal jika dibandingkan dengan harga BBM impor dari
Singapura. Untuk memproduksi BBM dengan menggunakan kilang di dalam
negeri diperkirakan dibutuhkan biaya berkisar antara 2%-5% lebih besar dari
harga Mean of Platts Singapore (MOPS). Oleh karena itu fungsi kilang sangat
vital untuk ketersediaan konsumsi BBM nasional.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah:
- Untuk mengetahui pengertian minyak bumi
- Untuk mengetahui komposisi minyak bumi
- Untuk mengetahui proses pengolahan minyak bumi
- Untuk mengetahui produk jadi yang dapat dihasilkan oleh kilang minyak
- Untuk mengetahui spesifikasi dari pertamax

C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini ialah:
- Mengetahui pengertian minyak bumi
- Mengetahui komposisi minyak bumi
- Mengetahui proses pengolahan minyak bumi
- Mengetahui produk jadi yang dapat dihasilkan oleh kilang minyak
- Mengetahui spesifikasi dari pertamax

BAB II
PEMBAHASAN

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


3
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

A. Komposisi Minyak Bumi

Komposisi kimia dan sifat-sifat minyak mentah sangat bervariasi, tetapi


komposisi elemental pada umumnya adalah tetap, yang ditampilkan pada tabel
berikut :

Tabel 1. Komposisi elemental minyak bumi

Komposisi Persen (%)

Carbon (C) 84 – 87
Hidrogen (H) 11 – 14
Sulfur (S) 0–3
Nitrogen (N) 0–1
Oksigen (O) 0–2

Sumber : Branan, C. 2002

Dalam minyak mentah, konsentrasi sulfur, nitrogen, dan oksigen bertambah


sesuai dengan kenaikan titik didih fraksi. Pada umumnya sulfur berada sebagai
merkapan dan sulfide, meskipun terdapat juga H2S dan sedikit belerang bebas,
sebagian besar senyawa belerang berada dalam bentuk besar, selebihnya terdapat
dalam senyawa khusus. (Branan, C. 2002)

 Senyawa Hidrokarbon
Berbagai seri hidrokarbon didapatkan dalam minyak bumi. Demikian juga
seri lain dari hasil perengkahan dan hidrogenasi. Seri yang utama diketahui dalam
minyak bumi adalah:
1. Seri Paraffin (CnH2n+2)
Paraffin dikarakterisasi oleh kestabilannya yang besar. Contoh paraffin
adalah methana, ethana, heksana dan heksadekan. Pada temperatur kamar
paraffin tidak bereaksi dengan asam kromat yang sangat oksidatif, kecuali yang
mengandung atom karbon tertier. Paraffin bereaksi dengan gas klor perlahan-
lahan pada sinarmatahari dan dengan klor dan brom jika terdapat katalis. Semua
minyak bumi mengandung hidrokarbon paraffin ringan. Paraffin berat dijumpai
pada semua minyak bumi, minyak bumi yang bebas lilin mungkin tidak
mengandung hidrokarbon paraffin berat. Lilin dapat terdiri dari paraffin
hidrokarbon rantai lurus dan rantai bercabang.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


4
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
2. Seri Olefin atau Etilen (CnH2n)

Olefin terdiri dari hidrokarbon rantai tak jenuh, yaitu hidrokarbon yang
memiliki ikatan rangkap. Contoh olefin adalah Etana (Etilen), propena, dan
butena. Hidrokarbon yang termasuk dalam seri ini dapat bereaksi langsung
dengan klor, brom, asam klorida dan asam sulfat, tanpa menggantikan atom
hidrogen. Senyawa tak jenuh bereaksi dan melarut dalam asam sulfat, sehingga
dapat dihilangkan dari minyak mentah. Olefin dengan titik didih rendah
kemungkinan tidak ditemukan dalam minyak mentah, tetapi berada dalam produk
perengkehan.

3. Seri Naften (CnH2n)

Naften mempunyai formula yang sama dengan Olefin, namun memiliki


sifat yang jauh berbeda. Naften adalah senyawa hidrokarbon siklis yang
merupakan senyawa jenuh. Sebelumnya naften disebut dengan Methilene,
contohnya adalah tertramethilene, pentamethilene dan heksamethilene, sekarang
senyawa tersebut disebut siklobutan, siklopentan, dan sikloheksan. Naften tidak
memilki ikatan rangkap sehingga tidak dapat bereaksi secara langsung. Naften
juga tidak larut dalam asam sulfat. Naften dijumpai pada hampir semua minyak
mentah.

4. Seri Aromatik (CnH2n-6)

Seri aromatik disebut juga sebagai seri Benzene. Seri ini bersifat aktif
karena adanya tiga ikatan rangkap.

5. Seri Diolefin (CnH2n-2)

Seri ini hampir sama dengan seri olefin, kecuali adanya dua atom hidrogen
yang hilang atau adanya dua ikatan rangkap pada tiap molekul. Ikatan rangkap
tersebut menyebabkan seri ini bersifat sangat aktif. Diolefin cenderung untuk
mengalami Polimerisasi atau berkombinasi dengan molekul tidak jenuh lainnya
membentuk padatan seperti gum dengan berat molekul yang tinggi. Diolefin dan
bentuk gum nya dapat ditemukan pada cracked gasoline yang belum diolah lebih
lanjut, namun tidak terdapat minyak mentah. Diolefin dapat dipolimerisasi dan
hilangkan dengan menggunakan asam sulfat.

6. Seri Siklik (CnH2n-4,nH2n-8,CH2n-8,dst)

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


5
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
Literature mengindikasikan bahwa seri ini cukup mendominasi pada
minyakdengan titik didih yang tinggi, seperti gas oil dan lubricating oil.

 Senyawa Non Hidrokarbon


Berbagai senyawa non hidrokarbon terdapat dalam minyak mentah dan dalam
aliran sebagai hasil pengilangan. Yang terpenting adalah senyawa belerang,
nitrogen, oksigen. Traces senyawa logam dapat menyebabkan permasalahan
dalam proses katalitik. Untuk proses pengubahan katalitik (Catalytic reforming),
sangat penting untuk mengontrol kandungan belerang dan vanadium dalam
umpan untuk mencegah keracunan katalis.

1. Senyawa Sulfur
Konsentrasi senyawa sulfur bervariasi dari suatu minyak bumi dengan
yang lain. Minyak mentah bersifat asam (Sour), mengandung hidrogen sulfide
atau mengandung belerang tinggi sebagai minyak yang asam. Minyak mentah
diklarifikasikan asam jika kandungan hidrogen sulfide terlarut sebesar 0.005 cuft
per seratus gallon minyak. Untuk minyak mentah dengan belerang tinggi,
mengandung presentase senyawa belerang tinggi. Sebagai contoh suatu minyak
mentah dengan kandungan 5% berat belerang, hampir setengah dari senyawa
minyak mengandung belerang. Telah terbikti bahwa minyak bumi dengan densitas
lebih tinggi mengandung belerang semakin tinggi. Senyawa belerang dalam
minyak bumi adalah kompleks, dan biasanya tidak stabil oleh panas. Senyawa
belerang menurunkan kemampuan susceptibilitas gasoline pada TEL. Senyawa
belerang yang tidak bersifat tidak asam dapat dihilangkan dengan hydrotreatin.
Belerang biasanya terdapat dalam minyak mentah dan dalam aliran produk
pengilangan dalam bentuk senyawa hidrogen sulfide, marcapatan alifik, sulfide
alifik, siklik desulfida alifik, desulfida aromatic, polisulfida, thiopene dan
homolognya. Persentase belerang dalam minyak mentah bervariasi dari mendekati
untuk minyak mentah dengan API grafity tinggi sampai 7,5 % dalam minyak
mentah berat. Jika persentase belerang tinggi berarti sebagian besar senyawa
dalam minyak mentah mengandung belerang.
2. Senyawa Nitrogen
Kandungan nitrogen hampir dalam semua minyak mentah adalah rendah,
biasanya kurang dari 0,1% berat. Kandungan nitrogen dalam fraksi dengan titik
didih tinggi adalah tinggi. Senyawa nitrogen stabil terhadap panas, sehingga
kandungan Nitrogen dalam fraksi ringan sangat rendah. Ada beberapa tipe utama
untuk senyawa hidrokarbon-nitrogen dan mempunyai struktur lebih kompleks
dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon-sulfur. Senyawa nitrogen dalam
minyak bumi dapat diklasifikasikan menurut sifat basa atau tidak. Beberapa tipe
senyawa nitrogen yang dapat diisolasi antara lain adalah Pyridines, quinolines,

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


6
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
isoquinolines, acridines, pyrolines dan indoles. Proses hydrotreating digunakan
untuk menurunkan kandungan nitrogen untuk umpan pada proses katalis, karena
senyawa nitrogen merupakan racun bagi katalis.
3. Senyawa Oksigen
Senyawa oksigen dalam minyak mentah pada umumnya lebih kompleks
dari pada senyawa belerang. Biasanya adalah asam karboksilat, fenol dan kresol
(cresilic acid), amida, keton, dan benzofuran. Aspal banyak mengandung senyawa
oksigen tinggi. Karena sifat asam dari senyawa oksigen, maka senyawa tersebut
akan mudah terpisah dari minyak mentah. Kandungan total; asam dalam minyak
bumi bervariasi dari 0.003% (minyak bumi dari Irak dan Mesir) sampai 3% dalam
minyak bumi Kalifornia. Asam naftenat yang memberikan keasaman dalam
minyak mentah adalah senyawa penting untuk Petrokimia. Da lam fraksi gas oil,
terdapat asam karboksilat dari rantai lurus alkyl-sikloparafin. Ekstraksi dengan
kaustik menghasilkan Na-naftenat. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah
serius seperti halnya senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses
katalis.

4. Senyawa Logam
Logam dalam minyak mentah berada dalam bentuk garam terlarut dalam
air yang tersuspensi dalam minyak atau dalam bentuk senyawa organometalik dan
sabun logam (metal soap). Sabun logam kalsium dam magnesium adalah zat aktif
permukaan (surface active agent) dan bertindak sebagai penstabil emulsi (emulsi
stabilizer). Elemen logam yang sering terdapat dalam minyak bumi antara lain :
Fe, Al, Ca, Mg, Ni dan Vanadium tidak dikehendaki berada dalam umpan untuk
proses katalik karena vanadium meracuni katalis. Adanya vanadium dapat
dimonitor dengan teknik emission dan atomic absorption. (Meyers, R.1999)

B. Proses Pengolahan Minyak Bumi di Kilang Minyak

Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik/fasilitas industri yang


mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung
digunakan maupun produk-produk lain yang menjadi bahan baku bagi industri
petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan dari kilang minyak antara
lain: minyak nafta, bensin (gasoline), bahan bakar diesel, minyak tanah(kerosene),
dan elpiji. Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang sangat kompleks
dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya. Selain itu,
pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Kilang minyak
merupakan salah satu bagian downstream paling penting pada industri minyak
bumi.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


7
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum
diproses umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara
optimal, minyak mentah tersebut harus diproses terlebih dahulu di dalam kilang
minyak. Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks yang tersusun
dari berbagai senyawahidrokarbon. Di dalam kilang minyak tersebut, minyak
mentah akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan mengubah
struktur dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.

Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat
digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu:

 Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik


didih; Proses ini berlangsung dikolom distilasi atmosferik dan Kolom
Destilasi Vakum.
 Proses Konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan struktur
senyawa hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini adalah:
 Dekomposisi dengan cara perengkahan termal dan katalis (thermal
and catalytic cracking)
 Unifikasi melalui proses alkilasi dan polimerisasi

 Alterasi melalui proses isomerisasi dan catalytic reforming


 Proses Pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk menyiapkan
fraksi-fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut, juga untuk diolah menjadi
produk akhir.
 Formulasi dan Pencampuran (Blending), yaitu proses pencampuran fraksi-
fraksi hidrokarbon dan penambahan bahan aditif untuk mendapatkan produk
akhir dengan spesikasi tertentu.

 Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah, proses


penghilangan air asin (sour-water stripping), proses pemerolehan kembali
sulfur (sulphur recovery), proses pemanasan, proses pendinginan, proses
pembuatan hidrogen, dan proses-proses pendukung lainnya.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


8
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

\\\\\\\\\\

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


9
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

1. Proses Primer Distilasi Atmosferis (Crude Distillation Unit)

Gambar 3.1Proses Distilasi Atmosferis

Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi dengan prinsip dasar pemisahan


berdasarkan titik didih komponen penyusunnya. Kolom CDU memproduksi
produk LPG, naphtha, kerosene, dan dieselsebesar 50-60% volume feed,
sedangkan produk lainnya sebesar 40-50% volume feed berupa atmospheric
residue. Distilasi Atmosferik berfungsi memisahkan minyak mentah (crude oil)
atas fraksi-fraksinya berdasarkan perbedaan titik didih masing-masing pada
keadaan Atmosferik. Atmospheric residue pada kilang lama, yang tidak
memiliki Vacum Distillation Unit/VDU, biasanya hanya dijadikan fuel oil yang
value-nya sangat rendah atau dijual ke kilang lain untuk dioleh lebih lanjut di
VDU. Sedangkan pada kilang modern, atmospheric residue dikirim sebagai
feed Vacuum Distillation Unit atau sebagai feed Residuel Catalytic Cracking
(setelah sebagiannya di-treating di Atmospheric Residue Hydro Demetalization
unit untuk menghilangkan kandungan metal atmospheric residue).

 Umpan dan Produk Crude Distilaion Unit


Jenis umpan CDU dapat berupa ”sour” crude (impurities tinggi) atau
“sweet” crude (impurities rendah) tergantung dari desainnya. Penggunaan
crude nondisaintetap dimungkinkan namun terlebih dahulu harus
dilakukan uji coba pemakaian untuk mengetahui efeknya terhadap unit-
unit dowstream. Adapun UP II dumai mempunyai bahan mentah minyak
dari Sumatera Light Crude dan Duri Light Crude. Residu yang diperoleh
akan rusak (terurai) jika terus didistilasi pada tekanan atmosferik dengan

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


10
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
temperatur yang lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, residu ini didistilasi lagi
pada tekanan vakum.

Tabel 3.1. Karakteristik Produk Distilasi Atmosferik Minyak Bumi Mentah


 Aliran Proses Crude Distillation Unit (Distilasi Atmosferik)
 Minyak mentah umpan masih mengandung kotoran garam dan pasir
sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu karena kehadiran zat-zat
ini dapat mempercepat laju korosi bahan konstruksi unit pengolahan,
menyebabkan pengendapan kerak serta penyumbatan pada peralatan
kilang. Pengolahan awal yang dilakukan adalah desalting atau
pemisahan garam. Minyak bumi mentah dipompa dan dipanaskan
lalu dicampur dengan air sebanyak 3-10% volume minyak mentah
pada temperatur 90-150oC. Garam-garam akan larut dan fasa air dan
minyak akan memisah dalam tangki desalter.
 Minyak mentah yang tidak mengandung garam dan padatan tersebut
dipanaskan lagi dengan minyak residu panas lalu heater sebelum
diumpankan ke kolom distilasi atmosferik. Produk atas kolom
distilasi utama (gas kilang dan straight run gasoline) ini umumnya
masih perlu distabilkan agar tidak terlalu banyak mengandung
hidrokarbon-hidrokarbon yang sangat mudah menguap seperti
butana di dalam kolom distilasi lain yang disebut kolom stabilisasi.
Produk samping dan bawah yang berupa cairan dilucuti oleh kukus
dan diuapkan lagi untuk menyempitkan rentang titik didihnya.
Pelucutan ini diselenggarakan dalam kolom-kolom pelucut kecil
yang disusun setelah kolom distilasi utama. Peralatan utama: Crude
Distillation Tower (CDU/ T-1), atmospheric sidestream stripper (T-2)
terdiri dari T-2A (kerosin), T-2B (LGO) dan T-2C (HGO). Peralatan
Pendukung : Fraksionasi akumulator (D-1), KO drum (D-2, D-5 &
D-3), heater (H-1 & H-2).

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


11
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

Gambar 3.2 Flow Diagram CDU

Pada diagram alir diatas crude oil pada tangki penyimpanan dialirkan
dengan menggunakan pompa ke unit penukar panas E-1 sampai E-7
sehingga temperaturnya mencapai 210oC dan dialirkan ke tungku
pemanas, heater H-1 untuk memanaskannya sampai dengan
temperature 330oC. Kemudian umpan masuk ke kolom distilasi (T-1)
untuk memisahkan crude oil tersebut berdasarkan fraksi-fraksi titik
didihnya. Proses pemisahan ini dilakukan pada tekanan atmosferik.
Produk atas menghasilkan fraksi minyak teringan berupa gas dan
naphtha dan dialirkan melewati penukar panas E-8 lalu masuk ke
tangki akumulator D-2, D-5 dan D-3 untuk memisahkan gas-gas
yang ringan dengan naphtha. Gas-gas tersebut dibuang ke flare
sedangkan fasa cairnya sebagian dikembalikan ke kolom distilasi
dan sebagian lagi diambil sebagai produk naphtha (Straight Run
Naphtha). Dari tray 32, dengan menggunakan pompa ditarik side
stream yang disebut TPA (Top Pump Around) yang setelah melalui
penukar panas E-1 dan didinginkan dengan menggunakan pendingin
air laut dalam E-10 dan dikembalikan ke puncak menara. Produk
samping dari kolom distilasi tersebut dimasukkan ke kolom stripper,
T-2. Fraksi kerosene diambil dari tray 24 dan mengalir ke stripper T-
2A secara gravitasi. LGO (Light Gas Oil) diambil dari tray 12 dan
mengalir ke stripper T-2B secara gravitasi untuk dihilangkan fraksi
ringannya. Sedangkan HGO (Heavy Gas Oil )mengalir ke stripper T-
2C. Di kolom ini, fraksi-fraksi tersebut distripping dengan steam
untuk mengambil fraksi-fraksi ringannya sehingga diperoleh kerosin,
LGO, dan HGO. Sebagian dari setiap aliran samping ini
dikembalikan ke kolom distilasi sebagai refluks dan sebagian lagi
diambil sebagai produk untuk komponen blending (pencampuran).
Produk bawah (bottom product) berupa long residu (LSWR)

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


12
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
sebanyak 56% yang diumpankan ke dalam Heavy Vacuum Unit
(HVU -110).
2. Proses Sekunder
Proses ini dilakukan untuk mengubah fraksi yang satu ke fraksi yang
diinginkan. Perubahan fraksi dapat dilakukan dengan beberapa proses.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


13
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


14
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


15
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM

C. Produk-Produk Kilang Minyak

Ada beberapa macam cara penggolongan produk jadi yang dihasilkan oleh
kilang minyak. Di antaranya produk jadi kilang minyak yang dapat dibagi
menjadi: produk bahan bakar minyak (BBM) dan produk bukan bahan bakar
minyak (BBBM).

Termasuk dalam produk BBM adalah :

1. bensin penerbangan 5. solar


2. bensin motor 6. minyak diesel
3. bahan bakar jet 7. dan minyak bakar.
4. kerosin

Sedangkan yang termasuk produk BBBM adalah :

1. Elpiji (liquified petroleum 4. gemuk


gases - LPG) 5. aspal
2. Pelarut 6. malam paraffin
3. minyak pelumas 7. karbon hitam (carbon black)
8. dan kokas.
(Hardjono.A.2010)

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


16
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
D. Pertamax

Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax, seperti


halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax
dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang
minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tanggal 10
Desember 1999 sebagai pengganti Premix 1994 dan Super TT 1998 karena
unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Pertamax
direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi 9,1-10,1, terutama
yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection
(EFI) dan catalytic converters (pengubah katalitik).

Keunggulan pertamax:
 Bebas timbal.
 Oktan atau Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi dari
Premium, dan Pertalite.
 Karena memiliki oktan tinggi, maka Pertamax bisa menerima tekanan
pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat bekerja dengan optimal
pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan Pertamax
lebih maksimal, karena BBM digunakan secara optimal. Sedangkan pada
mesin yang menggunakan Premium, BBM terbakar dan meledak, tidak
sesuai dengan gerakan piston. Gejala inilah yang dikenal dengan
'knocking' atau mesin 'ngelitik'.

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


17
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
SPESIFIKASI PERTAMAX

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


18
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

- Minyak bumi adalah suatu campuran cairan yang terdiri dari berjuta-juta
senyawa kimia, yang paling banyak adalah senyawa hidrokarbon yang
terbentuk dari dekomposisi yang dihasilkan oleh fosil tumbuh-tumbuhan dan
hewan. Minyak bumi dan derivate minyak bumi menghasilkan bahan bakar
kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan kereta api. Tumbuhan dan hewan
juga menghasilkan minyak pelumas yang dibutuhkan untuk alat-alat mesin
industri.
- Proses pengolahan minyak bumi di kilang minyak meliputi proses : destilasi,
konversi, pengolahan, dan blending.
- Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax, seperti
halnya Premium, adalah produk BBM dari pengolahan minyak bumi. Pertamax
dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya
di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tanggal 10
Desember 1999 sebagai pengganti Premix 1994 dan Super TT 1998 karena
unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, Pertamax memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Pertamax
direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi 9,1-10,1, terutama
yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection
(EFI) dan catalytic converters (pengubah katalitik).
- Keunggulan pertamax:

 Bebas timbal.
 Oktan atau Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi dari
Premium, dan Pertalite.
 Karena memiliki oktan tinggi, maka Pertamax bisa menerima tekanan pada
mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat bekerja dengan optimal pada
gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan Pertamax lebih
maksimal, karena BBM digunakan secara optimal. Sedangkan pada mesin
yang menggunakan Premium, BBM terbakar dan meledak, tidak sesuai
dengan gerakan piston. Gejala inilah yang dikenal dengan 'knocking' atau
mesin 'ngelitik'.
-

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


19
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pengolahan BBM”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Pengolahan BBM”
ini dapat memberikan manfaat.

Makassar, 9 September 2019

Penulis

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


20
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 3
C. Manfaat Penulisan........................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A. Komposisi Minyak Bumi....................................................................... 4
B. Proses Pengolahan Minyak Bumi di Kilang Minyak............................. 7
C. Produk-Produk Kilang Minyak………………….................................. 15
D. Pertamax…………………..................................................................... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


21
SISTEM PEMBANGKIT DAYA
PENGOLAHAN BBM
DAFTAR PUSTAKA

Branan, C. (2002) .Rule of Thumb for Chemical Engineer. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

Brown, H. william. (1995). Organic Chemistry. USA: Saunders College


Publishing.

Hardjono,A. (2001). Teknologi Minyak Bumi.Edisi Pertama. Yogyakarta:


Gajah Mada University.

Jasji, E. (1966). Pengolahan Minyak Bumi. Jakarta: Lemigas

Meyers, R.(1999). Handbook of Petroleum Refining Processes. California:


McGraw-Hill Company

Nugroho, A.(2006). Bioremediasi Hidrokarbon Minyak Bumi.Cetakan I.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/45874

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/45314

http://id.wikipedia.org/wiki/Kilang_minyak

Fachrul Rasyidin Kadir Thalib / D21116301


22