Anda di halaman 1dari 4

Nama : Siti Hardianti

Program Studi : IKP


Semester :1

MADELEINE LEININGER

A. SEJARAH/ BIOGRAFI
Madeleine M. Leininger (1925-2012) adalah seorang perawat dan antropolog
Amerika, penulis yang disebut keperawatan transkultural. Lahir di Nebraska, ia menjadi
perawat profesional pertama yang memperoleh gelar PhD dalam antropologi, menyatukan
kedua disiplin ilmu dalam pekerjaannya.
Madeleine M. Leininger lahir di Sutton, Nebraska (AS) pada 13 Juli 1925. Setelah
menyelesaikan sekolah menengah, ia mendaftar di Sekolah Perawatan St. Anthony di
Denver.
Ketika dia lulus, dia mulai bekerja sebagai perawat di Korps Kadet, meskipun dia
melanjutkan pelatihannya di bidang profesional yang sama. Pada tahun 1950, ia lulus
dalam Ilmu Biologi di Kansas, juga melakukan studi di bidang filsafat dan humanisme.
1. Pekerjaan pertama dalam keperawatan
Nasib profesionalnya berikut ini membawanya untuk menduduki posisi
sebagai instruktur dan kepala perawat di unit bedah medis di Rumah Sakit St. Joseph
di Omaha. Di sana ia membuka unit psikiatris, mengambil alih pelayanan keperawatan
yang sama. Dia juga berkolaborasi dalam pengembangan kurikulum tentang hal ini
untuk Universitas Negeri.
2. Perawatan untuk anak-anak
Tertarik dalam psikiatri, Leininger diperoleh pada 1954 a M.S.N. dalam
perawatan psikiatrik oleh Universitas Katolik Amerika di Washington, DC. Ini
mengarah ke Cincinnati, di mana rumah sakit universitasnya memulai program khusus
pertama dalam perawatan psikiatri anak di seluruh dunia. Selama tugas inilah
Leininger mulai memperhatikan bahwa faktor budaya pasien mempengaruhi perilaku
dan efektivitas perawatan, sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh petugas kesehatan..
3. Antropologi dan keperawatan
Karena kurangnya respons, Leininger mulai mengerjakan tesis doktoral
tentang antropologi sosial, budaya dan psikologis. Selama penelitiannya tentang
masalah ini, ia menganalisis banyak budaya yang berbeda dan menegaskan
keyakinannya tentang penggunaan antropologi yang diterapkan untuk perawatan..
4. Keperawatan lintas budaya
Sekembalinya ke Amerika Serikat, Leininger melanjutkan pekerjaannya. Pada
tahun 1966, di University of Colorado, ia menawarkan kursus pertama tentang
keperawatan transkultural. Dengan cara yang sama, ia menjadi direktur program
ilmiah pertama dalam bidang keperawatan di negaranya. Pada 1969, ia diangkat
menjadi dekan keperawatan di University of Washington. Selain itu, ia memegang
posisi dosen di bidang antropologi. Dia menurunkan mandatnya, Kantor Fasilitasi
Penelitian didirikan dan beberapa kursus keperawatan transkultural dimulai.
5. Perhimpunan Keperawatan Transkultural Nasional
Pada awal 1974, Leininger mendirikan Perhimpunan Transkultural
Keperawatan Nasional. Empat tahun kemudian, dia adalah pencipta Konferensi
Nasional Penelitian Perawatan, yang didedikasikan untuk melatih para profesional
yang tertarik dengan teorinya.
6. Semi pensiun
Pada 1981 Leininger mulai bekerja sebagai profesor di Wayne State University
di Detroit. Di sana ia mengajar keperawatan dan antropologi sampai, pada 1995, ia
pensiun dari mengajar.
Ini tidak berarti bahwa dia meninggalkan pekerjaan sama sekali, karena dia
terus memberikan kuliah, kursus, dan mengurus organisasi yang telah dia ciptakan..
7. Kematian
Madeleine Leininger meninggal pada 10 Agustus 2012 di Omaha, pada usia 87
tahun. Teorinya telah diakui dengan berbagai penghargaan dan hari ini sepenuhnya
berlaku.

B. TEORI
Teori yang dirumuskan oleh Madeleine Leininger didasarkan pada aplikasi
antropologi untuk perawatan kesehatan. Keperawatan lintas budaya didefinisikan oleh
penulis sendiri sebagai "area utama keperawatan yang berfokus pada studi komparatif dan
analisis berbagai budaya dan subkultur dunia sehubungan dengan nilai-nilai perawatan,
ekspresi dan kepercayaan dari kesehatan dan penyakit, dan model perilaku ".
1. Dasar teoretis
Niat Leininger dalam mengembangkan teorinya adalah bahwa perawatan
perawat sendiri disesuaikan dengan karakteristik budaya dan sosial pasien. Dengan ini,
ia mencoba meningkatkan perawatan atau, dalam kasusnya, memberikan perawatan
yang cocok untuk mereka yang hampir mati. Dengan cara ini, keperawatan
transkultural melampaui dalam pendekatannya hanya fakta menerapkan pengetahuan
keperawatan formal. Para profesional harus memiliki gagasan antropologi tertentu dan
menerapkannya pada tugas mereka.
Dalam tulisannya ia membagi keperawatan menjadi dua kelompok besar. Yang
pertama, dibentuk oleh para pengikut keperawatan transkultural itu sendiri, di mana
para profesional telah menerima pelatihan khusus untuk merawat pasien dari budaya
yang berbeda. Kelompok kedua, sebaliknya, akan menjadi keperawatan antarbudaya,
tanpa pelatihan ini dan menggunakan konsep antropologis medis atau terapan.
2. Perawat lintas budaya
Bagi penulis, seorang perawat transkultural seharusnya menerima ajaran yang
diatur tentang disiplin. Selain itu, ia harus bisa menerapkan konsep transkulturalitas
dalam perawatan pasien.
3. Teori keragaman dan universalitas
Dalam bagian dari teori umumnya ini, Leininger menyatakan bahwa individu
dari budaya yang berbeda dapat membantu para profesional untuk menawarkan
perawatan yang paling tepat bagi kepercayaan dan kebiasaan mereka. Dengan cara ini,
teori ini mencari bahwa perawat mempelajari bagaimana dunia pasien dan bahwa
mereka memperhatikan sudut pandang internal mereka, mempertahankan etika yang
memadai. Singkatnya, Leininger menginginkan perawatan yang ditawarkan agar
koheren dengan kepercayaan budaya orang sakit. Dengan ini, saya berpikir bahwa
hasil akhir akan membaik dan bahwa pasien akan bereaksi lebih baik terhadap
perawatan yang diterima.
4. Model Matahari Terbit
Model Matahari Terbit dielaborasi oleh Leininger pada tahun 1970. Dalam hal
ini, ia mencoba untuk mewakili beberapa elemen penting dari teorinya. Model harus
menjadi instrumen bagi para profesional untuk menerapkan ajaran mereka. Di bagian
atas lingkaran (matahari), komponen struktur sosial dan kepercayaan budaya akan
ditemukan. Ini pasti mempengaruhi konsep dunia individu, sesuatu yang memengaruhi
perawatan dan kesehatan. Di area pusat model adalah perawat. Dengan bergabung
dengan dua bagian, seluruh matahari terbentuk, mewakili alam semesta yang harus
diperhitungkan perawat untuk menilai perawatan manusia. Menurut teori tersebut, tiga
jenis asuhan keperawatan dapat dibentuk: presentasi dan pemeliharaan asuhan budaya;
adaptasi dan negosiasi perawatan semacam itu; dan restrukturisasi perawatan
berdasarkan budaya.

C. CONTOH PENGGUNAAN TEORI


Penerapan teori Leineger (Sunrise Model) pada proses keperawatan dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Penerapan Asuhan Keperawatan Berdasarkan teori Leininger.
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan terhadap respon adaptif dan maladaptif untuk memenuhi
kebutuhan dasar yang tepat sesuai dengan latar belakang budayanya. Pengkajian
dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada “ Leininger’s Sunrise models”
dalam teori keperawatan transkultural Leininger yaitu :
1. Faktor teknologi (technological factors)
Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi kesehatan maka perawat perlu mengkaji
berupa: persepsi pasien tentang penggunaaan dan pemanfaatan teknologi untuk
mengatasi permasalahan kesehatan saat ini, alasan mencari bantuan kesehatan.
2. Faktor Agama dan Falsafah Hidup (religious and Philosophical factors)
Faktor agama yang perlu dikaji perawat seperti : agama yang dianut, kebiasaan
agama yang berdampak positif terhadap kesehatan, berikhtiar untuk sembuh tanpa
mengenal putus asa, mempunyai konsep diri yang utuh, status pernikahan, persepsi
dan cara pandang pasien terhadap kesehatan atau penyebab penyakit.
3. Faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan (Kinship & Social factors)
Pada faktor sosial dan kekeluargaan yang perlu dikaji oleh perawat : nama lengkap
dan nama panggilan di dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam anggota keluarga,
hubungan pasien dengan kepala keluarga, kebiasaan yang dilakukan rutin oleh
keluarga misalnya arisan keluarga, kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat
misalnya : ikut kelompok olah raga atau pengajian.
4. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup (Cultural values & Lifeways)
Hal-hal yang perlu dikaji berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan gaya hidup
adalah: posisi dan jabatan misalnya ketua adat atau direktur, bahasa yang
digunakan, bahasa nonverbal yang ditunjukkan pasien, kebiasaan membersihkan
diri, kebiasaan makan, makan pantang berkaitan dengan kondisi sakit, sarana
hiburan yang biasa dimanfaatkan dan persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas
sehari-hari, misalnya sakit apabila sudah tergeletak dan tidak dapat pergi ke
sekolah atau ke kantor.
5. Faktor kebijakan dan peraturan Rumah Sakit (Political and Legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dan kelompok dalam asuhan keperawatan
transkultural (Andrew & Boyle, 1995), seperti jam berkunjung, pasien harus
memakai baju seragam, jumlah keluarga yang boleh menunggu, hak dan
kewajiban pasien, cara pembayaran untuk pasien yang dirawat.
6. Faktor ekonomi (economical factors)
Faktor ekonomi yang perlu dikaji oleh perawat antara lain seperti pekerjaan
pasien, sumber biaya pengobatan , kebiasaan menabung dan jumlah tabungan
dalam sebulan
7. Faktor pendidikan (educational factors)
Perawat perlu mengkaji latar belakang pendidikan pasien meliputi tingkat
pendidikan pasien dan keluarga, serta jenis pendidikannnya.
B. Diagnosa Keperawatan
Perawat merumuskan masalah yang dihadapi Pasien dan keluarganya adalah :
1. Perlunya perlindungan, kebutuhan akan kehadiran orang lain dan rasa ingin
berbagi sebagai nilai yang penting untuk Pasien dan keluarganya.
2. Perkembangan dari pola ini adalah kesehatan dan kesejahteraan yang bergantung
pada ketiga aspek tersebut.
3. Hal lain yang ditemukan adalah suatu pola yang dapat membangun kehidupan
social dan aspek penting lainnya yaitu masalah kerohanian, kekeluargaan dan
ekonomi yang sangat besar mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan
C. Perencanaan dan Implementasi
Perencanaan dan implementasi keperawatan transkultural menawarkan tiga strategi
sebagai pedoman Leininger (1984) ; Andrew & Boyle, 1995 yaitu :
1. Perlindungan/mempertahankan budaya (Cultural care preservation/ maintenance)
bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan,
2. Mengakomodasi/menegosiasi budaya (Cultural care accommodation atau
negotiations) apabila budaya pasien kurang mendukung kesehatan
3. Mengubah dan mengganti budaya pasien dan keluarganya (Cultural care
repartening / recontruction).
D. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap :
1. Keberhasilan pasien mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan
2. Negosiasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya
3. Restrukturisasi budaya yang bertentangan dengan kesehatan.