Anda di halaman 1dari 8

Atribut Seismik

Atribut seismik dapat didefinisikan sebagai semua informasi berupa


besaran spesifik dari geometri, kinematika, dinamika atau statistik yang diperoleh
dari data seismik, yang diperoleh melalui pengukuran langsung maupun logis
berdasarkan pengalaman (Chien dan sidney, 1997).
Atribut seismik atau Seismik Attribute juga dapat diartikan segala
informasi yang diperoleh dari data seismik baik melalui pengukuran langsung,
komputasi maupun pengalaman. Seismik attribute diperlukan untuk
’memperjelas’ anomali yang tidak terlihat secara kasat mata pada data seismik
biasa. Atribut seismik merupakan pengolahan data seismik yang cukup baik
untuk menggambarkan citra seismik yang lebih baik dan pengukuran zona-zona
yang menarik serta untuk menentukan struktur atau lingkungan pengendapan
(Chopra dan Marfurt, 2005). Seismik Atribut merupakan sifat kuantitatif dan
deskriptif dari data seismik yang dapat didisplai pada skala yang sama dengan
data seismik konvensional (Barnes, 1999). Seismik merupakan derivatif suatu
pengukuran seismik dasar (Brown, 2000).
Untuk menampilkan zona-zona yang menarik secara langsung dari citra
seismik, diperlukan keahlian untuk memilih dan atribut menentukan atribut yang
tepat.

1. Amplitudo

Gambar 1. Komponen sebuah gelombang (Tras seismik)


Amplitudo merupakan komponen sebuah gelombang seismik atau
atribut paling dasar dalam gelombang seismik. Pada awalnya data seismik
digunakan hanya untuk menganalisi struktur saja, karena amplitudi hanya
dilihat berdasarkan kehadirannya saja bukan kontras nilai pada waktu. Akan
tetapi pada saat ini nilai amplitudo asli (atribut amplitudo) dapat diturunkan
dari data seismik. Atribut amplitudi tersebut dappat mengidentifikasi
parameter-parameter seperti akumulasi gas dan fluida, gros litologi,
ketidakselarasan, efek tuning dan perubahan stratgrafi sekuen. Oleh karena itu
atribut amplitudo dapat digunakan untuk pemetaan fasies dan sifat reservoar.
Pada umumnya respon amplitudo memiliki nilai yang tinggi jika
lingkungan tersebut kaya akan pasir dibandingkan dengan lingkungan yang
kaya akan serpih. Dengan demikian peta amplitudo dapat melihat perbedaan
rasio batupasir-batuserpih dengan lebih mudah.

2. Magnitudo
Gambar dibawah menunjukkan respon data R3M untuk sebuah
survey. Pada Gambar A, titik-titik MERAH menunjukkan respon untuk
reservoir yang mengandung HC dan PUTIH untuk latar belakang saline brine
(wet). Sementara gambar (B) adalah rasio antara kasus HC dan kasus saline
brine (wet). Pada gambar B terlihat jelas bahwa kehadiran HC akan
menghasilkan respon peningkatan magnitudo lalu penurunan magnitudo
resistivitas sejalan dengan bertambahnya offset.
Kuat refleksi didefinisikan sebagai envelop dari jejak seismik,
sehingga kuat refleksi selalu bernilai positif dan selalu mempunyai magnitudo
yang sama dengan jejak seismik real. Kuat refleksi memberikan informasi
mengenai kontras impedansi akustik. Perubahan lateral pada kuat refleksi
sering berasosiasi dengan perubahan litologi secara umum dan berasosiasi
dengan akumulasi hidrokarbon. Kuat Refleksi juga berguna untuk identifikasi
perlapisan batuan dan membantu untuk mendeskripsi satu reflektor masif
seperti ketidakselarasan dari kelompok komposit reflektor.
Gambar 2. A (modified from Johansen,2008)

Gambar 3. B (modified from Johansen,2008)

3. Instatinous Phase

Fasa Sesaat merupakan sudut di antara fasor (rotasi vektor yang


dibentuk oleh komponen riil dan komponen imajiner dalam deret waktu) dan
sumbu riil sebagai fungsi dari waktu dan selalu mempunyai nilai antara -180˚
s.d. + 180˚. Dalam pengertian umum, saat tras seismik riil berpindah dari
puncak ke palung, maka fasa sesaat berubah dari 0˚ ke + 180˚. Pada palung,
fasa sesaat “terlipat tajam” tajam dari -180˚ ke 180˚.

Gambar 4. Perubahan dari puncak ke palung pada jejak seismik memiliki (a)
menghasilkan Fasa Sesaat antara 0 – 180˚. (b) Palung seismik real
berfasa –180˚ s/d 180˚ (Redrawn from Landmark,1996)

Secara matematis, persamaan untuk Instantaneous Phase (fasa sesaat)


dituliskan sebagai berikut :

Dengan :

Dalam interpretasi seismik, Instantaneous Phase (fasa sesaat)


digunakan untuk melihat kontinuitas lapisan secara lateral, ketidakmenerusan,
batas sekuen, konfigurasi perlapisan, dan digunakan untuk menghitung
kecepatan fasa.
4. Instatinous Frequency
Fekuensi Sesaat merepresentasikan besarnya perubahan Fasa Sesaat
terhadap waktu atau sebagai slope jejak Fasa yang diperoleh dari turunan
pertama dari Fasa Sesaat. Berikut rumus yang digunakan :

Dengan :

Gambar 5. Perubahan dari puncak ke palung pada jejak seismik dengan


perhitungan frekuensi nyquist (Sukmono, 2007)

Frekuensi sesaat memiliki rentang frekuensi dari (–) Frekuensi


Nyquist sampai (+) Frekuensi Nyquist, tetapi sebagian besar Frekuensi Sesaat
bernilai positif. Frekuensi sesaat memberikan informasi tentang perilaku
gelombang seismik yang mempengaruhi perubahan frekuensi seperti efek
absorbsi, rekahan, dan ketebalan sistem pengendapan. Atenuasi gelombang
seismik ketika melewati reservoir gas dapat dideteksi sebagai penurunan
frekuensi, fenomena ini lebih dikenal dengan “low frequency shadow”
(Barnes, 1999). Hilangnya frekuensi tinggi menunjukkan daerah
overpressure.
White (1991) menyebutkan bahwa adanya nilai negatif dalam
instantaneous frekuensi menunjukkan bahwa kuantitas instantaneous
frekuensi bukanlah frekuensi dalam arti cycle per satuan waktu. Akan tetapi
instantaneous frekuensi disini merupakan sebuah atribut yang merupakan
turunan dari instantaneous phase. Lihatlah komponen instantaneous phase
sendiri memiliki nilai negatif dan positif sehingga turunannya pun akan
demikian.

5. Polarity (Polaritas)
Polaritas Normal Polaritas ‘Reverse’. Saat ini terdapat dua jenis
konvesi polaritas: Standar SEG (Society of Exporation Geophysicist) dan
Standar Eropa. Keduanya berkebalikan.
Gambar dibawah ini menunjukkan Polaritas Normal dan Polaritas
‘Reverse’ untuk sebuah wavelet fasa nol (zero phase) dan fasa minimum
(minimum phase) pada kasus Koefisien Refleksi atau Reflection Coefficient
(KR atau RC) meningkat (RC positif) yang terjadi pada contoh batas air laut
dengan dasar laut/lempung.

Gambar 6. Polaritas dalam wavelet fasa nol


Gambar 7. Polaritas dalam wavelet fasa minimum

Contoh penentuan polaritas pada data seismik real, seabed


ditunjukkan dengan trough (merah), hal ini berarti polaritas seismik yang
digunakan adalah normal SEG.

Gambar 8. penentuan polaritas pada data seismik real


Daftar Pustaka

Abdullah, Agus. 2007. Ensiklopedia Seismik.

Abdullah, Agus. Interpretasi Seismik.

Haq, Miftahul.2009. Analisa Atribut Amplitudo Seismik Untuk Karakterisasi


Reservoar Pada Cekungan Sumatra Selatan. Universitas Indonesia.

Digital Repository Unila. http://digilib.unila.ac.id/