Anda di halaman 1dari 6

1.

Karakteristik Pengawasan Yang Efektif

Agar dapat efektif setiap pengawasan harus memenuhi kriteria tertentu. Kriteria penting bagi
pengawasan yang baik menurut pendapat Ranupandojo (1990:114) yaitu :

 Informasi yang akan diukur harus akurat


 Pengawasan harus dilakukan tepat waktu disaat penyimpangan diketahui
 Sistem Pengawasan yang dipergunakan harus mudah dimengerti oleh orang lain
 Pengawasan harus dititik beratkan pada kegiatan-kegiatan strategis
 Harus bersifat ekonomis, artinya biaya pengawasan harus lebih kecil dibandingkan
dengan hasilnya
 Pelaksanaan pengawasan sesuai dengan struktur organisasi
 Harus sesuai dengan arus kerja atau sesuai dengan sistem dan prosedur yang
dilaksanakan dalam organisasi
 Harus luwes dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ada
 Bersifat memerintah dan dapat dikerjakan oleh bawahan
 Sistem pengawasan harus dapat diterima dan dimengerti oleh semua anggota organisasi

1. Asas- Asas Pengawasan

Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam buku Dasar-dasar Manajemen (2009:191)
mengemukakan asas-asas pengawasan yaitu :

 Asas tercapainya tujuan (Principle Of Assurance Of Objective), artinya pengawasan


harus ditujukan kearah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk
menghindari penyimpangan-penyimpangan dari rencana.
 Asas efisiensi pengawasan (Principle Of Efficiency Of Control), artinya pengawasan itu
efisien, jika dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga tidak menimbulkan
hal-hal lain yang di luar dugaan.
 Asas tanggung jawab pengawasan (Principle Of Control Responsibility), artinya
pengawasan hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan rencana.
 Asas pengawasan terhadap masa depan (Principle Of Future Control), artinya
pengawasan yang efektif harus ditujukan kearah pencegahan penyimpangan-
penyimpangan yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun pada waktu yang
akan datang.
 Asas pengawasan langsung (Principle Of Direct Control), artinya teknik control yang
paling efektif ialah mengusahakan adanya manajer bawahan yang berkualitas baik.
 Asas refleksi rencana (Principle Of Reflection Plans), artinya pengawasan harus disusun
dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan rencana.
 Asas penyesuaian dengan organisasi (Principle Of Organization Suitability), artinya
pengawasan harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.
 Asas pengawasan individual (Principle Of Individual Of Control), artinya pengawasan
dan teknik pengawasan harus sesuai dengan kebutuhan manajer.
 Asas standar (Principle Of Standard), artinya pengawasan yang efektif dan efisien
memerlukan standar yang tepat yang akan digunakan sebagai tolak ukur pelaksanaan dan
tujuan yang akan dicapai.
 Asas pengawasan terhadap strategis (Principle Of Strategic Point Contol), artinya
pengawasan yang efektif dan efisien memerlukan adanya perhatian yang ditujukan
terhadap faktor-faktor yang strategis terhadap perusahaan.
 Asas kekecualian (Exception Of Principle), artinya efisiensi dalam pengawasan
membutuhkan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor kekecualian.
 Asas pengawasan fleksibel (Principle Of Flexibility Of Control), artinya pengawasan
harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan rencana.
 Asas peninjauan kembali (Principle Of Riview), artinya sistem pengawasan harus ditinjau
berkali-kali, agar sistem yang digunakan berguna untuk pencapaian tujuan.
 Asas tindakan (Principle Of Action), artinya pengawasan dapat di lakukan apabila ada
ukuran-ukuran untuk mengkoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi,
staffing dan directing.

Menurut Komaruddin (1992:19) asas-asas pengawasan antara lain :

 Asas sumbangan terhadap tujuan


 Asas penetapan standar
 Asas penetapan pokok-pokok pengawasan strategi
 Asas tidakan perbaikan
 Asas manajemen dan kekecualian
 Asas keluwesan pengawasan
 Asas keharmonisan pengawasan
 Asas kecocokan pengawasan
 Asas tanggung jawab pengawasan

Asas akuntabilitas pengawasanF. Asas – Asas Controlling

Dalam pelaksanaan controlling (pengawasan) perlu diterapakan asas – asas yang


berfungsi sebagai tolok ukur atas pelaksanaan pengawasan. Harold Koontz dan Cyril
O’Donnel membagi asas – asas pengawasan menjadi sebagai berikut :

1. Asas tercapainya tujuan (Principle of assurance of objective), pengawasan harus


ditujukan kearah tercapainya tujuan, yaitu dengan mengadakan perbaikan (koreks)
untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan/deviasi dari perencanaan.
2. Asas efisiensi pengawasan (principle of efficiency of control). Pengawasan itu efisien
bila dapat menghindari deviasi-deviasi dari perencanaan, sehingga tidak menimbulkan
hal-hal lain yang diluar dugaan.

3. Asas tanggung jawab pengawasan (principle of control responsibility). Pengawasan


hanya dapat dilaksanakan apabila manager bertanggung jawab penuh terhadap
pelaksanaan rencana.

4. Asas pengawasan terhadap masa depan (principle of future control). Pengawasan yang
efektif harus ditujukan kearah pencegahan penyimpangan perencanaan yang akan
terjadi baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang.

5. Asas pengawasan langsung (principle of direct control). Teknik kontrol yang paling
efektif ialah mengusahakan adanya manager bawahan yang berkualitas baik.
Pengawasan itu dilakukan oleh manager atas dasar bahwa manusia itu sering berbuat
salah .Cara yang paling tepat untuk menjamin adanya pelaksanaan yang sesuai
dengan perencanaan ialah mengusahakan sedapat mungkin para petugas memiliki
kualitas yang baik.

6. Asas refleks perencanaan (principle of replection of plane). Pengawasan harus disusun


dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan perencanaan.

7. Asas penyesuaian dengan organisasi (principle of organizational suitability).


Pengawasan harus dilakukan sesuai dengan struktur organisasi. Manager dan
bawahannya merupakan sarana untuk melaksanakan rencana. Dengan demikian
pengawasan yang efektif harus disesuaikan dengan besarnya wewenang manager,
sehingga mencerminkan struktur organisasi.

8. Asas pengawasan individual (principle of individuality of control). Pengawasan harus


sesuai dengan kebutuhan manager. Teknik kontrol harus ditunjukan terhadap
kebutuhan-kebutuhan akan informasi setiap manager. Ruang lingkup informasi yang
dibutuhkan itu berbeda satu sama lain, tergantung pada tingkat dan tugas manager.
9. Asas standar (principle of standard). Control yang efektif dan efisien memerlukan
standar yang tepat, yang akan dipergunakan sebagai tolak ukur pelaksanaan dan
tujuan yang tercapai.

10. Asas pengawasan terhadap strategis (principle of strategic point control). Pengawasan
yang memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor-faktor yang
strategis dalam perusahaan.

11. Asas pengecualian (the exception principle). Efisien dalam control membutuhkan
adanya perhatian yang ditujukan terhadapfaktor kekecualian. Kekecualian ini dapat
terjadi dalam keadaan tertentu ketika situasi berubah/atau tidak sama.

12. Asas pengawasan fleksibel (principle of flexibility of control). Pengawasan harus luwes
untuk menghindarkan kegagalan pelaksanaan rencana.

13. Asas peninjauan kembali (principle of review). Sistem kontrol harus ditinjau berkali-kali
agar sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.

14. Asas tindakan (principle of action). Pengawasan dapat dilakukan apabila ada ukuran-
ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing
dan directing.

C. Asas-Asas Pengawasan
Harold Koontz dan Cyril O’Donnel, mengemukakan asas-asas pengawasan,
yaitu[7]:
1. Asas tercapainya tujuan, artinya pengawasan harus ditujukan ke arah tercapainya
tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-
penyimpangan dari rencana.
2. Asas efisiensi pengawasan, artinya jika dapat menghindari penyimpangan dari rencana,
sehingga tidak menimbulkan hal-hal lain yang di luar dugaan.
3. Asas tanggung jawab pengawasan, artinya pengawasan hanya dapat dilaksanakan jika
manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana.
4. Asas pengawasan terhadap masa depan, artinya pengawasan yang efektif harus
ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan yang akan terjadi, baik pada waktu
sekarang maupun masa depan.
5. Asas pengedalian langsung, artinya pengawasan itu dilakukan oleh manajer, atas dasar
bahwa manusia itu sering berbuat salah, ini untuk mengusahakan sedapat mungkin
para petugas memiliki kualitas baik.
6. Asas refleksi rencana, artinya pengawasan harus disusun dengan baik, sehingga dapat
mencerminkan karakter dan susunan rencana.
7. Asas penyusunan denngan organisasi, artinya pengawasan harus dilakukan sesuai
dengan besarnya wewenang manajer, sehingga mencerminkan struktur organisasi.
8. Asas pengawasan individual, artinya pengawasan sesuai dengan kebutuhan manajer.
Yaitu tergantung pada kebutuhan akan informasi setiap manajer, sebab ruang lingkup
informasi yang dibutuhkan itu berbeda satu sama lain, tergantung pada tingkat dan
tugas manajer.
9. Asas standar, artinya pengawasan harus memerlukan standar yang tepat sebagai tolok
ukur pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.
10. Asa pengawasan strategis, artinya memerlukan adanya perhatian yang ditujukan
terhadap faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
11. Asas kekecualian, artinya pengawasan juga memerlukan adanya perhatian dalam
keadaan tertentu terhadap faktor kekecualian, yaitu ketika situasi berubah atau tidak
sama.
12. Asas pengawasan fleksibel, artinya pengawasan harus luwes untuk menghindari
kegagalan pelaksanaan perencanaan.
13. Asas peninjauan kembali, artinya sistem pengawasan harus ditinaju beberapa kali, agar
setiap sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14. Asas tindakan, artinya pengawasan dapat dilakukan, apabila ada ukuran-ukuran untuk
mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing dan directing.

G. Karakteristik Pengawasan yang Efektif


Untuk menjadi efektif dalam proses pengawasan, sistem ini harus memenuhi
kriteria tertentu. Kriteria-kriteria utama adalah bahwa sistema seharusnya 1) mengawasi
kegiatan-kegiatan yang benar, 2) tepat waktu, 3) biaya yang efektif, 4) tepat-akurat, dan
5) dapat diterima orang yang bersangkutan. Semakin dipenuhinya kriteria-kriteria
tersebut maka semakin efektif sistem pengawasan. Karakteristik- karakteristik dapat
diperinci sebagai berikut:[13]
1. Akurat, informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat. Data yang tidak akurat
akan dapat menyebabkan organisasi mengambil tindakan koreksi yang keliru.
2. Tepat-waktu, informasi haus dikumpulkan, disampaikan dan dievaluasi secepatnya bila
kegiatan perbaikan harus dilakukan segera.
3. Obyektif dan menyeluruh, informasi harus mudah dipahami dan bersifat obyektif serta
lengkap.
4. Terpusat pada titik-titik pengawasan strategis, sistem pengawasan harus memusatkan
perhatian pada bidang-bidang di mana penyimpangan-penyimpangan dari standar
paling sering terjadi atau yang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.
5. Realistik secara ekonomis.
6. Realistik secara organisasional, sistem pengawasan harus cocok dengan kenyataan
organisasi.
7. Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi, hal ini karena 1) setiap tahap dari proses
pekerjaan dapat mempengaruhi sukses atau kegagalan keseluruha operasi, dan 2)
informasi harus samapi pada seluruh personalia yang memerlukannya.
8. Fleksibel, sebagai tanggapan atau reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dai
lingkungan.
9. Bersifat sebagai petunjuk dan operasional, sistem pengawasan efektif harus
menunjukkan, baik deteksi atau deviasi dari standar, tindakan koreksi apa yang
seharsunya diambil.
10. Diterima para anggota organisasi, sistem pengawasan harus mampu mengarahkan
pelaksanaan kerja para anggota organisasi dengan mendorong perasaan otonomi,
tangung jawab dan berprestasi.