Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan membahas tentang hal-hal yang melatar belakangi penenliti

mengangkat judul penelitian dan dicantumkan tentang rumusan masalah, tujuan penelitian,

dan manfaat penelitian.

1.1. Latar Belakang

Luka bakar merupakan bentuk trauma yang terjadi sebagai akibat dari aktifitas

manusia dalam rumah tangga, industri, trafic accident, maupun bencana alam. Luka bakar

ialah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang

menghasilkan panas (api, air panas, listrik) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat,

basa kuat) aula,K.,dkk, 2009). Anak-anak kecil dan orang tua merupakan populasiyang

beresiko tinggi untuk mengalami luka bakar. Kaum remaja laki-laki dan pria dalam usia kerja

juga lebih sering menderita luka bakar dari pada yang diperkirakan lewat representasinya

dalam total populasi. Sebagian besar luka bakar terjadi di rumah. Memasak, memanaskan dan

enggunakan alat-alat listrik merupakan pekerjaan yang lazimnya terlihat dalam kejadian ini.

Kecelakaan industry juga menyebabkan banyak kejadian luka bakar (Brunner&Suddarth,

2001).

Pada dasarnya dalam berbagai kasus darurat yang terjadi misalnya pada luka bakar, peran

masyarakat sangatlah penting karena peran dan pengetahuan masyarakat merupakan faktor

utama yang bisa menentukan keselamatan seseorang. Hal ini karena masyarakat adalah

kelompok pertama yang akan berhadapan langsung dengan penderita luka bakar yang

embutuhkan bantuan sebelum korban mendapatkan bantuan dari pihak yang berkompeten,

dalam hal ini petugas medis (Anneahira, 2012).

Luka bakar dapat terjadi di mana saja, termasuk di rumah, apabila luka bakar itu

terjadi bisa segera dilakukan tindakan pertolongan pertama pada luka bakar yaitu dengan
mendinginkan kulit terbakar dengan air mengalir selama kurang lebih 20 menit (Yusuf,

2011). Luka bakar adalah luka yang sering terjadi pada kehidupan sehari-hari, baik luka bakar

kecil ataupun besar. Kehidupan sehari-hari yang sering berurusan dengan api membuat luka

bakar tidak menjadi hal yang asing karena itulah, pengetahuan tentang pertolongan pertama

pada luka bakar yang tepat diperlukan oleh orang awam (Agfian, 2011)(dalam Sri Haryani,

2017)).

Luka bakar adalah penyebab utama keempat trauma dan penyebab paling umum

kecacatan dan kematian di seluruh dunia (Ardabili, dkk., 2016). Dan merupakan penyebab

kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Laki-laki cenderung lebih

sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia

(Rahayuningsih, 2012). Ardabili, dkk. (2016) melaporkan bahwa insiden total luka bakar

telah terjadi diperkirakan sekitar 2,4 juta kasus di berbagai negara yang berbeda, 650.000 dan

75.000 di antaranya memerlukan perawatan segera dan rawat inap.

Menurut data dari World Health Organization (WHO), luka bakar merupakan masalah

kesehatan masyarakat yang sangat serius di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahunnya 300.000

kematian terjadi akibat luka bakar, terbanyak disebabkan oleh air panas, listrik, kimia dan jenis

lainnya. Lebih dari 95% kejadian luka bakar sangat tinggi terjadi di negara JOM FK Volume 2

No. 2 Oktober 2015 berpenghasilan rendah dan menengah. Angka kematian tertinggi akibat luka

bakar ditempati oleh Asia Tenggara (11,6 kematian per 100.000 populasi per tahun), kemudian

diikuti oleh Mediterania Timur (6,4 kematian per 100.000 populasi per tahun) dan Afrika (6,1

kematian per 100.000 populasi per tahun). (Kuswan, 2013)

Berdasarkan data dari American Burn Association (ABA) tahun 2010 ke tahun 2015

Mengalami peningkatan di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 163.000 kasus pada

tahun 2015 menjadi 558.400 kasus, dimana 70% pasien adalah laki-laki dengan rata-rata usia

sekitar 32 tahun, 18% anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun dan 12% kasus berusia lebih
dari 60 tahun. Luka bakar dengan luas 10% Total Body Surface Area (TBSA) sebesar 7%.

Penyebab tertinggi akibat flame burn (44%) dan tingkat kejadian paling sering di rumah

(68%).

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI sepanjang tahun 2012-2014 terdapat

3.518 kasus luka bakar di indonesia. Angka kejadian luka bakar dalam datanya terus

meningkat dari 1.186 kasus pada 2012 menjadi 1.123 kasus di tahun 2013 dan 1.209 kasus di

tahun 2014. Salah satu cara dalam menangani tingkat keparahan luka bakar sangat

dibutuhkan penanganan awal penderita sebelumnya di bawa ke pelayanan kesehatan.

Pertolongan pertama adalah pertolongan yang diberikan saat kejadian atau bencana terjadi di

tempat kejadian, sedangkan tujuan dari pertolongan pertama adalah menyelamatkan

kehidupan, mencegah kesakitan makin parah, dan meningkatkan pemulihan (Paula,K.,dkk,

2009). Semua luka bakar (kecuali luka bakar ringan atau luka bakar derajat 1) dapat

enimbulkan komplikasi berupa shock, dehidrasi dan ketidakseimbanan elektrolit, infeksi

ekunder, dan lain-lain (Rismana, et al., 2013)

Perlu diketahui bahwa penyebab angka kematian dan kecacatan akibat kegawat

daruratan adalah tingkat keparahan akibat kecelakaan, kurang memadainya peralatan, sistem

pertolongan dan pengetahuan penanganan korban yang tidak tepat dan prinsip pertolongan

awal yang tidak sesuai. Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang

posisi besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Banyak kejadian penderita 4

pertolongan pertama yang justru meninggal dunia atau mengalami kecacatan akibat kesalahan

dalam pemberian pertolongan awal. Ketergantungan masyarakat kepada tenaga medis untuk

melakukan tindakan penyelamatan dasar bagi korban kecelakaan, sudah waktunya di

tinggalkan. Hal ini karena kurangnya kemampuan masyarakat dalam pertolongan pertama

pada kecelakaan (Azhari, 2011). Apabila penanganan luka bakar tidak benar berdapak

timbulnya beberapa macam komplikasi. Luka bakar tidak hanya menimbulkan kerusakan
kulit, tetapi juga mempengaruhi seluruh system tubuh pasien. Pada pasien dengan luka bakar

luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai

macam komplikasi yang memerlukan penanganan khusus (Moenadjat, 2009).

Salah satu cara dalam menangani tingkat keparahan luka bakar sangat dibutuhkan

penanganan awal penderita sebelumnya di bawa ke pelayanan kesehatan. Pertolongan

pertama adalah pertolongan yang diberikan saat kejadian atau bencana terjadi di tempat

kejadian, sedangkan tujuan dari pertolongan pertama adalah menyelamatkan kehidupan,

encegah kesakitan makin parah, dan meningkatkan pemulihan (Paula,K.,dkk, 2009). Semua

luka bakar (kecuali luka bakar ringan atau luka bakar derajat 1) dapat menimbulkan

omplikasi berupa shock, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, infeksi sekunder, dan

lain-lain (Rismana, et al., 2013).

Penggunaan media demontrasi dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila

bandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena gerakan dan proses

pertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak, beberapa ersoalan

yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.

Informasi akan tersimpan sebanyak 40% bila disampaikan menggunakan leaflet sedangkan

menggunakan metode demonstrasi tingkat pemahaman akan mencapai 90% (Silaban, 2012).

Untuk mengurangi kejadian kecatatan pada penanganan luka bakar peran kita sebagai

tenaga kesehatan perlu untuk memberikan pengetahuan pertolongan pertama pada luka bakar

dengan memberikan edukasi masyarakat dengan cara demostrasi. Maka dari itu peneliti

ertarik untuk meneliti pengaruh pendidikan kesehatan pertongan pertama pada luka bakar.