Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

PRINSIP – PRINSIP ILMU GIZI

Disusun Oleh:
Kelompok 2
Destriani Rahmadini I1D018002
Dyah Cahyanda Prasiwi I1D018015
Nona Ariesya Rahma I1D018027
Widya Intan Sulistyani I1D018040
Miranti Adining Tyas I1D018049

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2019
LAPORAN PRAKTIKUM
PRINSIP – PRINSIP ILMU GIZI (GIZ 1210)
ACARA I
PERHITUNGAN BERAT DAPAT DIMAKAN (BDD) DAN
NILAI GIZI BAHAN MAKANAN

Disusun Oleh:

Dyah Cahyanda Prasiwi I1D018015

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2019
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ....................................................................................................i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Tujuan Praktikum .......................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................ .............................................3

BAB III METODE PELAKSANAAN


A. Waktu Pelaksanaan ......................................................................................... 5
B. Tempat Pelaksanaan ......................................................................................6
C. Alat dan Bahan .............................................................................................. 8
D. Prosedur Praktikum ...................................................................................... 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil dan Intepretasi Hasil ..............................................................................5
B. Pembahasan ...................................................................................................6

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................................16
B. Saran ............................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dalam beraktivitas membutuhkan energi yang berasal dari
makanan dan minuman. Hal tersebut menyebabkan setiap manusia perlu
mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, konsumsi
pangan diartikan sebagai faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang
selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses
metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Harper et
al., 1986).
Penilaian konsumsi makanan dapat digunakan untuk mengetahui 1)
cukup tidaknya asupan zat gizi individu dan juga preferensi terhadap suatu
makanan, 2) ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan kebiasaan
makan pada level rumah tangga, dan 3) besarnya rata-rata asupan zat gizi serta
ketersediaan pangan yang ada di masyarakat. Penilaian ini dilakukan pada
tingkat individu, keluarga maupun pada tingkatan yang lebih luas hingga
nasional (Prihananto dkk., 2013).
Adapun untuk melakukan penilaian konsumsi makanan, diperlukan
kemampuan menghitung berat yang dapat dimakan (BDD) untuk menganalisis
nilai gizi bahan makanan.
 Rumus untuk menghitung jumlah zat gizi pada bahan makanan apabila
yang dihitung adalah berat kotor, yaitu:
𝐁
𝐊𝐆 = × 𝐆 × %𝐁𝐃𝐃
𝟏𝟎𝟎
Keterangan:
KG = Kandungan gizi bahan
B = Berat bahan dalam berat bersih
G = Kandungan zat gizi dalam 100 gr BDD bahan makanan
%BDD = % Berat yang dapat dimakan

 Rumus untuk menghitung jumlah zat gizi pada bahan makanan bila yang
dihitung adalah bahan bersih (BDD), yaitu:
𝐁
𝐊𝐆 = ×𝐆
𝟏𝟎𝟎
Keterangan:
KG = Kandungan gizi bahan
B = Berat bahan dalam berat bersih
G = Kandungan zat gizi dalam 100 gr BDD bahan makanan
(Prihananto dkk., 2013).

B. Tujuan Praktikum
 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip ilmu gizi dan ruang
lingkupnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menentukan berat yang dapat dimakan dari suatu
bahan/makanan.
2. Mahasiswa dapat menganalisis nilai gizi dari bahan/makanan tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Berat Dapat Dimakan (BDD) adalah presentase dari bagian bahan makanan
yang masuk ke dalam mulut atau yang dapat dimakan, sementara bagian yang tak
lazim dimakan akan dibuang atau tidak dimakan (Sandjaja, 2009). BDD berfungsi
untuk menaksir jumlah bahan pangan ke dalam gram. Selain itu, BDD juga
digunakan untuk mengetahui metode survey konsumsi terhadap berat sebuah
pangan. Bahan yang Dapat Dimakan (BDD) adalah kadar zat gizi yang disajikan
per 100 gram bagian yang dapat dimakan.
Menurut Muchtadi et al. (2013) perlu adanya perhitungan bagian yang dapat
dimakan dari suatu bahan pangan. Perhitungan BDD sangat penting karena dengan
informasi BDD ini dapat ditentukan kandungan energi, protein, karbohidrat, dan
instrumen gizi lainnya. Damayanti et al. (2014) menunjukkan rumus cara
menghitung BDD, yaitu:
𝐁𝐞𝐫𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡
𝐁𝐃𝐃 = × 𝟏𝟎𝟎%
𝐁𝐞𝐫𝐚𝐭 𝐊𝐨𝐭𝐨𝐫
Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal
maupun beragam, yang konsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Tujuan fisiologis
adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk
memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk
memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah
untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sedioetama,
1996).
Konsumsi, jumlah, dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Menurut Harper et al. (1986), faktor-faktor yang sangat memengaruhi konsumsi
pangan adalah jenis, jumlah produksi, dan ketersediaan pangan. Untuk tingkat
konsumsi Sedioetama (1996), lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas
pangan yang dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang
dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas
pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Untuk
mencapai keadaan gizi yang baik, unsur kualitas dan kuantitas harus dapat
terpenuhi.
Agar dapat melakukan penilaian konsumsi makanan, diperlukan kemampuan
untuk menghintung nilai gizi bahan pangan. Beberapa instrument yang diperlukan
untuk menghitung nilai gizi pada pangan/makan meliputi:
1. Daftar kandungan zat gizi bahan makanan
2. Daftar kandungan zat gizi makanan jajanan
3. Daftar konversi berat mentah masak
4. Daftar konversi penyerapan minyak
5. Daftar kandungan asam amino esensial
6. Daftar kecukupan asam amino esensial
7. Daftar kecukupan gizi
8. Daftar ukuran rumah tangga
9. Daftar bahan makanan penukar (Prihananto dkk., 2013).
Kandungan zat gizi pangan yang dikonsumsi dihitung dengan menggunakan
Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang dihitung berdasarkan jenis dan
jumlah bahan pangan dalam g/URT yang dikonsumsi individu. Perhitungan
kandungan zat gizi tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kecukupan
masing-masing zat gizi (Anwar dan Hardinsyah, 2014).
Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan salah satu komoditas perikanan
yang cukup popular di masyarakat. Ikan ini berasal dari benua Afrika dan pertama
kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Ikan lele termasuk ikan yang hidup
di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih
memanjang, dan memiliki “kumis” yang panjang yang mencuat dari sekitar bagian
mulutnya (Andrianto, 2005).
Ikan lele merupakan salah satu bahan makanan bergizi yang mudah
dihidangkan sebagai lauk. Kandungan gizi dalam ikan lele yang dibutuhkan oleh
tubuh manusia seperti sumber energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi,
natrium, tiamin (B1), riboflavin (B2), dan niasin (Azhar, 2006). Ikan lele
mengandung protein yang tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk
makanan anak balita (Apriyana, 2014).
Telur merupakan bahan makanan yang sangat akrab dengan kehidupan kita
sehari-hari. Telur sebagai sumber protein mempunyai banyak keunggulan antara
lain, kandungan asam amino paling lengkap dibandingkan bahan makanan lain
seperti ikan, daging, ayam, tahu, tempe, dan lain-lain. Telur mempunyai cita rasa
yang enak sehingga digemari oleh banyak orang (Bakhtra dkk., 2016).
Telur ayam memiliki kandungan gizi yang lengkap. Kandungan protein telur
terdapat pada putih telur dan kuning telur. Kandungan gizi telur ayam, yaitu air
73,7%, protein 12,9%, lemak 11,2%, karbohidrat 0,9%, dan lemak pada putih telur
hampir tidak ada (Komala, 2008). Kandungan lemak dalam telur cukup tinggi.
Hampir semua lemak di dalam telur terdapat pada kuning telur yaitu mencapai 32%,
sedangkan pada putih telur kandungan lemaknya sangat sedikit. Oleh karena itu,
konsumsi telur secara berlebihan sangatlah berbahaya bagi kesehatan tubuh
(Sudaryani, 2003).
Telur puyuh merupakan sumber protein hewani yang relatif murah
dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya seperti telur ayam,daging
sapi, daging kambing. Zat yang terkandung di dalam telur puyuh lebih baik
dibandingkan susu sapi segar dari segi jumlah kandungan kalori (Listiyowati dan
Roospitasari, 2005). Telur puyuh digemari masyarakat karena rasanya yang enak
dan mengandung gizi yang lengkap, yaitu protein, kalori, lemak, fosfor, zat besi,
vitamin A,vitamin B, dan vitamin B12 yang berguna bagi tubuh (Ambarwati dkk.,
2017).
Telur puyuh merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki
kandungan gizi cukup tinggi. Telur puyuh kaya akan asam amino esensial yang baik
untuk tumbuh kembang balita (Anggraini dan Subakti, 2011). Kandungan protein
pada telur puyuh tidak kalah dibandingkan dengan kandungan protein telur ayam
dan telur itik. Telur puyuh mengandung protein sebanyak 13,1% lebih tinggi
dibanding dengan protein telur ayam ras yang kandungan proteinnya hanya 12,7%
(Atik dan Tetty, 2015).
BAB III
METODE PELAKSANAAN
A. Waktu Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Mei 2019 pukul 08.30-
11.00 WIB.

B. Tempat Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Gizi Kuliner Program Studi
Ilmu Gizi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman.

C. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum adalah pisau, baskom, dan
timbangan makanan. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum adalah
1 ekor ikan lele, 1 buah telur ayam rebus, dan 1 buah telur puyuh rebus.

D. Prosedur Praktikum
Alat dan bahan disiapkan

Bahan ditimbang berat kotornya

Bahan makanan dibersihkan dari kulit, kepala, ekor, dan duri

Bahan makanan ditimbang kembali dalam berat bersih

Nilai gizi bahan makanan dihitung

Hasil praktikum dan lembar hasil praktikum ditata di atas meja saji

Hasil praktikum dipresentasikan di hadapan dosen pembimbing

Lembar hasil praktikum yang terdapat di buku pedoman diisi dan


ditandatangani oleh asisten praktikum
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Interpretasi Hasil
Tabel 1. Hasil Praktikum
No Bahan Berat Berat % %
makanan kotor yang berat berat
(gram) dapat yang yang
dima- dapat dapat
Nilai Gizi
kan dima- dima-
(gram) kan kan
(hasil (dari
prakti- tabel)
kum) Energi Protein Lemak KH
134,64 17,3 gr 1,12
6,73 gr
51,25 Kal gr
1. Ikan lele 199 102 51,3%
% Tabel: Tabel: Tabel: Tabel
132 Kal 17 gr 6,6 gr 1,1 gr
85,86 0,37
Telur 6,78 gr 6,09 gr
Kal gr
2. ayam 62 53 85,5% 90%
Tabel: Tabel: Tabel: Tabel
(rebus)
162 Kal 12,8 gr 11,5 gr 0,7 gr
54,52 0,75
Telur 5,03 gr 3,9 gr
90,38 Kal gr
3. puyuh 52 47 90,4%
% Tabel: Tabel: Tabel: Tabel
(rebus)
116 Kal 10,7 gr 7 gr 1,6 gr

 Perhitungan BDD bahan makanan


Rumus untuk menghitung BDD pada bahan makanan, yaitu:
𝐁𝐞𝐫𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐡
𝐁𝐃𝐃 = × 𝟏𝟎𝟎%
𝐁𝐞𝐫𝐚𝐭 𝐊𝐨𝐭𝐨𝐫

102
1. Ikan lele =199 × 100% = 51,3%
53
2. Telur ayam = 62 × 100% = 85,5%
47
3. Telur puyuh = 52 × 100% = 90,4%
 Perhitungan BDD bahan makanan
Rumus untuk menghitung jumlah zat gizi pada bahan makanan
bila yang dihitung adalah bahan bersih (BDD), yaitu:
𝐁
𝐊𝐆 = ×𝐆
𝟏𝟎𝟎
Keterangan:
KG = Kandungan gizi bahan
B = Berat bahan dalam berat bersih
G = Kandungan zat gizi dalam 100 gr BDD bahan makanan

Tabel 2. Perhitungan Nilai Gizi Bahan/Makanan


Bahan Makanan Energi Protein Lemak Karbohidrat
102 102 102 102
× 132 × 17 × 6,6 × 1,1
Ikan lele 100 100 100 100
= 134,64 Kal = 17,3 gr = 6,73 gr = 1,12 gr
53 53 53 53
× 162 × 12,8 × 11,5 × 0,7
Telur ayam 100 100 100 100
= 85,86 Kal = 6,78 gr = 6,09 gr = 0,37 gr
47 47 47 47
× 116 × 10,7 ×7 × 1,6
Telur puyuh 100 100 100 100
= 54,52 Kal = 5,03 gr = 3,9 gr = 0,75 gr

Percobaan yang telah dilakukan pada acara praktikum ini


menunjukkan perbedaan hasil antara BDD ikan lele, telur ayam, dan telur
puyuh berdasarkan praktikum dengan tabel DKBM. BDD ikan lele
berdasarkan praktikum lebih besar yaitu 51,3%, sedangkan BDD ikan lele
berdasarkan tabel DKBM adalah 51,25%. Adapun BDD telur ayam
berdasarkan praktikum lebih kecil yaitu 85,5%, sedangkan BDD telur ayam
berdasarkan tabel DKBM adalah 90%. Sementara itu, BDD telur puyuh
berdasarkan praktikum lebih besar dari tabel DKBM dengan selisih 0,02%
yaitu 90,4%, sedangkan BDD telur puyuh berdasarkan tabel DKBM adalah
90,38%. Adapun hasil dari BDD ini berpengaruh pada analisis kandungan
gizi pada bahan makanan.
B. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan berat yang dapat dimakan
(BDD) dan menganalisis nilai gizi suatu bahan makanan. Pada praktikum
kali ini terdapat tiga bahan yang diteliti, yaitu ikan lele, telur ayam, dan telur
puyuh. Dalam praktikum ini, ikan lele, telur ayam, dan telur puyuh
ditimbang berat kotor dan berat yang dapat dimakan kemudian ditentukan
%BDD dan nilai gizinya. Untuk mencari berat yang dapat dimakan, ketiga
bahan tersebut harus dipisahkan dari bagian yang tidak lazim untuk dimakan
seperti kulit, kepala, sirip, ekor, dan duri. Setelah itu, hasil praktikum ini
dibandingkan dengan kandungan zat gizi pangan yang ada di Daftar
Komposisi Bahan Makanan (DKBM) sebagai acuan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan terdapat perbedaan
antara berat kotor dan berat yang dapat dimakan. Hal tersebut karena pada
pengukuran bahan dalam berat kotor, bahan makanan tersebut ditimbang
langsung tanpa dikurangi bagian-bagian yang tidak perlu. Sementara itu,
pada pengukuran bahan dalam berat yang dapat dimakan (BDD), bagian
bahan makanan yang tidak dapat makan seperti kulit, duri, kepala, sirip, dan
ekor telah dihilangkan sehingga hasil yang didapatkan lebih kecil
dibandingkan berat kotor.
Percobaan pada praktikum yang telah dilakukan memberikan hasil
BDD ikan lele adalah 51,25%. Hal tersebut berarti bagian ikan lele yang
dapat dimakan adalah 51,25% dari total keseluruhan, sedangkan 48,75%
termasuk bagian yang tidak dapat dimakan seperti kepala, sirip, ekor, duri,
dan jerohan. Sementara itu, BDD telur ayam rebus adalah 85,5%. Hal
tersebut berarti bagian telur ayam yang dapat dimakan adalah 85,5% dari
total keseluruhan, sedangkan 14,5% merupakan bagian yang tidak dapat
dimakan yaitu kulit telur. Di samping itu, BDD telur puyuh rebus adalah
90,4%. Hal tersebut berarti bagian telur puyuh yang dapat dimakan adalah
90,38% dari total keseluruhan, sedangkan 9,62% merupakan bagian yang
tidak dapat dimakan yaitu kulit telur.
Terdapat perbedaan hasil %BDD praktikum dengan %BDD tabel
DKBM. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Tergantung tebal dan tipisnya kulit bahan
2. Tergantung cara pengupasan (telur ayam dan telur puyuh)
3. Tergantung cara filet (ikan lele)
4. Tergantung alat yang digunakan
5. Tergantung tingkat kematangan
Ikan lele adalah jenis ikan tawar yang paling banyak diminati serta
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Olahan ikan lele mempunyai rasa
yang enak dan kandungan gizi yang tinggi. Kandungan gizi dalam ikan lele
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti sumber energi, protein, lemak,
kalsium, fosfor, zat besi, natrium, tiamin (B1), riboflavin (B2), dan niasin
(Azhar, 2006). Beberapa jenis ikan, termasuk ikan lele mengandung protein
lebih tinggi dan lebih baik dibandingkan dengan daging hewan (Abbas,
2001).
Analisis nilai gizi ikan lele pada praktikum kami didapatkan hasil
bahwa ikan lele mengandung enegi yang besar yaitu 134,64 Kal. Sesuai
referensi, kandungan protein ikan lele cukup tinggi yaitu 17,39 gram. Selain
itu, lemak pada ikan lele sebesar 6, 73 gram dan karbohidrat sebesar 1,22
gram. Perhitungan kandungan gizi ikan lele berdasarkan praktikum dan
tabel DKBM mengalami perbedaan. Hal tersebut disebabkan BDD ikan lele
berdasarkan praktikum dan tabel DKBM tidak sama-sama bernilai 100%.
Telur ayam memiliki kandungan gizi yang lengkap. Kandungan
protein telur terdapat pada putih telur dan kuning telur. Kandungan gizi telur
ayam, yaitu air 73,7%, protein 12,9%, lemak 11,2%, dan karbohidrat 0,9%
(Komala, 2008). Kandungan lemak dalam telur cukup tinggi. Hampir semua
lemak di dalam telur terdapat pada kuning telur yaitu mencapai 32%,
sedangkan pada putih telur kandungan lemaknya sangat sedikit.
Analisis nilai gizi telur ayam pada praktikum kami didapatkan hasil
bahwa telur ayam mengandung enegi sebesar 85,86 Kal. Sesuai referensi,
kandungan lemak telur ayam cukup tinggi yaitu 6,09 gram. Selain itu,
protein pada telur ayam sebesar 6,78 gram dan karbohidrat sebesar 0,37
gram. Perhitungan kandungan gizi ikan lele berdasarkan praktikum dan
tabel DKBM mengalami perbedaan. Hal tersebut disebabkan BDD telur
ayam berdasarkan praktikum tidak bernilai 100% dan berat bersih bahan
tidak bernilai 100 gram.
Telur puyuh merupakan sumber protein hewani yang relatif murah
dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya seperti telur ayam,
daging sapi, dan daging kambing. Zat yang terkandung di dalam telur puyuh
lebih baik dibandingkan susu sapi segar dari segi jumlah kandungan kalori,
protein, lemak, fosfor, zat besi, vitamin A,vitamin B, dan vitamin B12
(Listiyowati dan Roospitasari, 2005). Telur puyuh merupakan salah satu
sumber protein hewani yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi. Telur
puyuh kaya akan asam amino esensial yang baik untuk tumbuh kembang
balita (Anggraini dan Subakti, 2011).
Analisis nilai gizi telur puyuh pada praktikum kami didapatkan hasil
bahwa telur puyuh mengandung enegi sebesar 54,52 Kal. Sesuai referensi,
kandungan protein telur puyuh cukup tinggi yaitu 5,03 gram. Selain itu,
lemak pada telur ayam sebesar 3,9 gram dan karbohidrat sebesar 0,75 gram.
Perhitungan kandungan gizi telur puyuh berdasarkan praktikum dan tabel
DKBM mengalami perbedaan. Hal tersebut disebabkan BDD telur puyuh
berdasarkan praktikum tidak bernilai 100% dan berat bersih bahan tidak
bernilai 100 gram.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum perhitungan berat dapat dimakan (BDD) dan
nilai gizi bahan makanan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa BDD bahan makanan praktikum berbeda dengan BDD tabel DKBM.
Adapun hasil dari BDD ini berpengaruh pada analisis kandungan gizi pada
bahan makanan. Kandungan gizi bahan makanan praktikum yang paling
dominan adalah protein, yaitu ikan lele sebesar 17,3 gram, telur ayam
sebesar 6,78 gram, dan telur puyuh sebesar 5,03 gram. Perhitungan
kandungan gizi bahan makanan berdasarkan praktikum dan tabel DKBM
mengalami perbedaan disebabkan BDD bahan makanan berdasarkan
praktikum tidak bernilai 100% dan berat bersih bahan tidak bernilai 100
gram.

B. Saran
Praktikan perlu lebih memahami materi agar praktikum berjalan
lancar dan sesuai prosedur. Selain itu, perlu pembagian jobdesk yang jelas
agar praktikan tidak bingung saat melakukan praktikum.
LAMPIRAN
Lampiran 1
No. Foto Berat Mentah Foto Berat Bersih
1.

Ikan lele ditimbang berat kotornya Ikan lele ditambang berat bersihnya

Telur ayam ditimbang berat Telur ayam ditimbang berat


kotornya bersihnya

Telur puyuh ditimbang berat Telur puyuh ditimbang berat


kotornya bersihnya
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, S.D. 2001. Budidaya Ikan Lele Dumbo. Jakata: Penerbit Kanisius.
Ambarwati, D.A, E. Suprijatna, dan S. Kismiati. 2017. Karakteristik Kimiawi Telur Puyuh
Akibat P emberiaan Pakan Mengandung Tepung Limbah Udang Fermenrasi.
Jurnal Peternakan Indonesia. Vol. 19 (2): 37-45.
Andrianto, I.T.T. 2005. Pedoman Praktis Budidaya Ikan Lele. Yogyakarta: Absolut.
Anggraini, D.R. dan Y, Subakti. 2011. Super Komplit Menu Sehari-hari Sepanjang Masa.
Cimpedak-Jagakarsa: PT. Kawah Media.
Apriyana, Ika. 2014. Pengaruh Penambahan tepung kepala Ikan Lele (Clarias sp) dalam
Pembuatan Cilok Terhadap Kadar Protein dan Sifat Organoleptiknya. Unnes
Journal of Public Health. Vol. 3 (2): 1-9.
Atik, Rusmiati dan Tetty. 2015. Aneka Masakan Telur. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Anwar, Khoirul dan Hardinsyah. 2014. Konsumsi Pangan dan Gizi serta Skor Pola Pangan
Harapan pada Dewasa Usia 19-49 Tahun di Indonesia. Jurnal Gii dan Pangan.
Vol. 9 (1): 51-58.
Azhar, T.N. 2006. Rekayasa Kadar Omega-3 pada Ikan Lele Melalui Modifikasi Pakan.
Jakarta: Pustaka Pelajar.
Bakhtra, D.D.A., Rusdi, dan Aisyah Matdiah. 2016. Penetapan Kadar Protein dalam
Telur Unggas melalui Analisis Nitrogen Menggunakan Metode Kjeldahl. Jurnal
Farmasi. Vol. 8 (2): 143-150.
Damayanti et al. 2014. Buku Pegangan Ilmu Giz. Bogor: IPB Press.
Harper, L. J. et al. 1986. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Penerjemah Suharjo. Jakarta: UI
Press.
Listiyowati, E. dan K. Rosspitasari. 2004. Puyuh Tatalaksana Budi Daya Secara
Komersial. Jakarta: Penebar Swadaya.
Muchtadi TR, Sugiyono, Ayustaningwarno F. 2013. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan.
Ban.dung: Alfabeta.
Prihananto, V., Dyah Umiyarni Purnamasari, dan Endo Darjito. 2013. Pedoman
Praktikum Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Purwokerto: Unsoed.
Sandjaja, Atmarita. 2009. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga.Jakarta: Gramedia.
Sediaoetama, A.D. 1996. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I. Jakarta: Dian
Rakyat.
Sudaryani. 2003. Kualitas Telur. Jakarta: Penebar Swadaya.