Anda di halaman 1dari 8

Pengolahan data

I Keadaan Ekonomi Responden

Tabel 4.1 jenis pekerjaan di wilayah kecamatan Gondanglegi tahun 2013


No Jenis Jumlah Persentase
Pekerjaan Orang (%)
1 Pedagang 5.441 19,76
2 PNS 766 2,78
3 TNI/Polri 55 0,20
4 Industri 1.732 6,29
5 Buruh Tani 14.290 51,91
6 Bangunan 1.314 4,77
7 Jasa 3.801 13,81
8 Lainnya 133 0,48
Total 27.532 100
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat jenis pekerjaan penduduk di kecamatan
Gondanglegi didominasi oleh sektor pertanian dengan 51,91% bekerja sebagai buruh
tani.

II Karakteristik Responden

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi karakteristik responden menurut jenis kelamin


Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Responden
Laki-laki 31 51,7
Perempuan 29 48,3
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4.2 hasil penelitian terhadap 60 responden diketahui bahwa
yang paling banyak yaiti laki-laki dengan jumlah responden sebanyak 31 responden
(51,7%).

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi karakteristik responden menurut umur


Kelompok Umur Frekuensi Persentase
Responden (tahun) (%)
16-25 4 6,7
26-35 8 13,3
36-45 15 25
46-55 16 26,7
56-65 9 15
66-75 6 10
76-85 2 3,3
Total 60 100
Mean=48 tahun Std=14,588 Min-max=16-80
Berdasarkan Tabel 4.3 hasil penelitian terhadap 60 responden diketahui bahwa
kelompok umur responden yag paling banyak terdapat pada kelompok umur 46-55
tahun dengan jumlah responden sebanyak 16 responden (26,7%) dan yang paling
sedikit pada kelompok umur 76-85 tahun sebanyak 2 responden (3,3%). Rata- rata
umur responden 48 tahun dengan standar deviasi 14,588, umur minimum responden
16 tahun dan umur maksimum responden 80 tahun.

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi karakteristik responden menurut tingkat


pendidikan
Tingkat Pendidika responden Frekuensi Persentase
(%)
Tidak tamat SD 3 5
Tamat SD/ sederajat 27 45
Tamat SLTP/ sederajat 17 28,3
Tamat SMA/ sederajat 12 20
Tamat Akademi/ PT 1 1,7
Total 60 100
Berdasarkan Tabel 4.4 hasil penelitian terhadap 60 responden diketahui bahwa
tingkat pendidikan responden yang paling banyak yaitu tamat SD/sederajat dengan
jumlah responden sebanyak 27 responden (45%). Rendahnya tingkat pendidikan
responden menyebabkan pengetahuan tentang kesehatan masih sangat minim
terutama pengetahuan tentang TB paru.

Distribusi frekuensi karakteristik responden menurut jenis pekerjaan


Jenis Pekerjaan Frekuensi Persentase
responden (%)
Tidak bekerja 7 11,7
IRT 5 8,3
Buruh 15 25
Petani 15 25
wiraswasta 6 10
PNS 1 1,7
Pegawai Swasta 7 11,7
Lainnya 4 6,7
Total 60 100
Berdasarkan tabel 4.5 hasil penelitian terhadap 60 responden diketahui bahwa
jenis pekerjaan responden yang paling banyak yaitu buruh dan petani dengan jumlah
responden sebanyak 15 responden (25%).
III Analisi Hasil

Tabel 4.14 Hasil analisis hubungan jenis lantai dengan kejadian TB Paru di
wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014
Satus responden P
Jenis Lantai OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 13 10
Syarat kesehatan 43,3% 33,3%
0,595 1,529 0,536 – 4,361
Memenuhi syarat 17 20
Kesehatan 56,7% 66,7%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.14 Menunjukkan bahwa jenis lantai pada rumah responden yang tidak
memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb paru) yaitu sebesar 43,3% lebih
besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 33,3%.

Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan jenis lantai


dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,595; OR = 1,529; 95% CI =
0,536 – 4,361. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara
jenis lantai dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi (p
value > α 0,05).

Tabel 4.15 Hasil analisis hubungan jenis dinding dengan kejadian TB Paru di
wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014
Satus responden P
Jenis Dinding OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 9 10
Syarat kesehatan 30% 33,3%
1,000 0,857 0,288 – 2,547
Memenuhi syarat 21 20
Kesehatan 70% 66,7%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.15 Menunjukkan bahwa jenis dinding pada rumah responden yang
tidak memenuhi syarat pada kelompok kontrol yaitu sebesar 33,3% lebih besar
dibandingkan kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu 30%.
Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan jenis dinding
dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 1,000; OR = 10,857; 95% CI =
0,288 – 2,547. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara
jenis dinding dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi (p
value > α 0,05).
Tabel 4.16 Hasil analisis hubungan luas ventilasi dengan kejadian TB Paru di
wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014
Satus responden P
Luas ventilasi OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 26 9
Syarat kesehatan 86,7% 30%
0,0001 15,167 4,09 – 56,248
Memenuhi syarat 4 21
Kesehatan 13,3% 70%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.16 Menunjukkan bahwa Luas ventilasi pada rumah responden yang
tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu sebesar 86,7%
lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 30%.
Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan Luas ventilasi
dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,0001; OR = 15,167; 95% CI =
4,09 – 56,248. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara luas
ventilasi dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi (p value
< α 0,05).
Hasil OR = 15,167 menunjukkan bahwa orang yang tinggal dirumah dengan
luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan memiliki risiko 15 kali untuk
menderita TB Paru dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah dengan luas
ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan. Nilai OR = 15,167 dengan Convidence
Interval (CI) 95% = 4,09 – 56,248 menunjukkan bahwa luas ventilasi yang tidak
memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko untuk terserang TB paru.

Tabel 4.17 Hasil analisis hubungan kepadatan hunian dengan kejadian TB


Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014
Satus responden P
Kepadatan Hunian OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 5 6
Syarat kesehatan 16,7% 20%
1,000 0,8 0,215 – 2,972
Memenuhi syarat 25 24
Kesehatan 83,3% 80%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.17 Menunjukkan bahwa Kepadatan Hunian pada rumah responden
yang tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu sebesar
16,7% lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 20%.
Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan Kepadatan
Hunian dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 1,000; OR = 0,8; 95% CI =
0,215 – 2,972. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara
Kepadatan Hunian dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi
(p value > α 0,05).
Tabel 4.18 Hasil analisis hubungan suhu dengan kejadian TB Paru di wilayah
kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014
Satus responden P
Suhu OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 8 5
Syarat kesehatan 26,7% 16,7%
0,531 1,818 0,518 – 6,382
Memenuhi syarat 22 25
Kesehatan 73,3% 83,3%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.18 Menunjukkan bahwa suhu pada rumah responden yang tidak
memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu sebesar 26,7% lebih
besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 16,7%.

Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan suhu dengan


kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,531; OR = 1,818; 95% CI = 0,518 –
6,382. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara suhu
dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi (p value > α 0,05).

Tabel 4.19 Hasil analisis hubungan kelembapan ventilasi dengan kejadian TB


Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014

Satus responden P
Kelembapan OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 22 9
Syarat kesehatan 73,3% 30%
0,0002 6,417 2,048 – 19,755
Memenuhi syarat 8 21
Kesehatan 26,7% 70%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.19 Menunjukkan bahwa kelembapan pada rumah responden yang
tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu sebesar 73,3%
lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 30%.

Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan kelembapan


dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,002; OR = 6,417; 95% CI =
2,084 – 19,755. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara
kelembapan dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi (p
value < α 0,05).

Hasil OR = 6,417 menunjukkan bahwa orang yang tinggal dirumah dengan


kelembapan yang tidak memenuhi syarat kesehatan memiliki risiko 6 kali lebih besar
untuk menderita TB Paru dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah dengan
kelembapan yang memenuhi syarat kesehatan. Nilai OR = 6,417 dengan Convidence
Interval (CI) 95% = 20,84 – 19,755 menunjukkan bahwa kelembapan yang tidak
memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko untuk terserang TB paru.

Tabel 4.20 Hasil analisis hubungan intensitas pencahayaan dengan kejadian


TB Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014

Intensitas Satus responden P


OR 95% CI
Pencahayaan Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 26 6
Syarat kesehatan 86,7% 20%
6,532 –
0,0001 26,000
103,496
Memenuhi syarat 4 24
Kesehatan 13,3% 80%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.20 Menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan pada rumah
responden yang tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru)
yaitu sebesar 86,7% lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 20%.

Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan intensitas


pencahayaan dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,0001; OR = 26,000;
95% CI = 6,532 – 103,498. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan
antara intensitas pencahayaan dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas
Gondanglegi (p value < α 0,05).

Hasil OR = 26,000 menunjukkan bahwa orang yang tinggal dirumah dengan


intensitas pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan memiliki risiko 26 kali
lebih besar untuk menderita TB Paru dibandingkan dengan orang yang tinggal di
rumah dengan intensitas pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan. Nilai OR =
26,000 dengan Convidence Interval (CI) 95% = 65,32 – 103,498 menunjukkan bahwa
intensitas pencahayaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor
risiko untuk terserang TB paru.
Tabel 4.21 Hasil analisis hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian TB
Paru di wilayah kerja puskesmas Gondanglegi tahun 2014

Satus responden P
Kebiasaan Merokok OR 95% CI
Kasus Kontrol value
Tidak memenuhi 25 7
Syarat kesehatan 83,3% 23,3%
0,0001 16,429 4,569 – 56,073
Memenuhi syarat 5 23
Kesehatan 16,7% 76,7%
Total 30 30
100% 100%
Tabel 4.21 Menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pada rumah responden
yang tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus (penderita Tb Paru) yaitu sebesar
83,3% lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yaitu 23,3%.

Berdasarkan uji statistik Chi-Square untuk menguji hubungan kebiasaan


merokok dengan kejadian TB Paru diperolah nilai p value = 0,0001; OR = 16,429;
95% CI = 4,569 – 56,073. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan
antara kebiasaan merokok dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja puskesmas
Gondanglegi (p value < α 0,05).

Hasil OR = 16,429 menunjukkan bahwa orang yang memiliki kebiasaan


merokok memiliki risiko 16 kali lebih besar untuk menderita TB Paru dibandingkan
dengan orang yang tidak merokok. Nilai OR = 16,429 dengan Convidence Interval
(CI) 95% = 4,569 – 56,073 menunjukkan bahwa kebiasaan merokok merupakan
faktor risiko untuk terserang TB paru.
Rekapitulasi Hasil Uji Statistik
Adapun rekapitulasi hasil uji statistik variable penelitian dapat dilihat pada tabel 4.22
berikut ini:

Tabel 4.22 Reakapitulasi hasil uji statistik

Variabel P value OR 95% CI Keterangan


Jenis Lantai 0,595 1,529 0,536 - 4,361 Tidak ada
Hubungan

Jenis Dinding 1,000 0,857 0,288 – 2,547 Tidak ada


Hubungan

Luas 0,0001 15,167 4,09 – 56,248 Ada


Ventilasi Hubungan

Kepadatan 1,000 0,8 0,215 – 2,972 Tidak ada


Hunian Hubungan

Kebiasaan 0,0001 16,429 4,569 – 56,073 Ada


Merokok Hubungan

Suhu 0,531 1,818 0,518 – 6,382 Tidak ada


Hubungan

Kelembapan 0,002 6,417 2,084 – 19,755 Ada


Hubungan

Intensitas 0,0001 26,000 6,532 – 103,498 Ada


Pencahayaan Hubungan

Berdasarkan tebel 4.22 hasil rekapitulasi dapat disimpulkan bahwa dari 8


variabel yang diteliti, ada 4 variabel yang menujukkan adanya hubungan dengan
kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Gondanglegi yaitu luas ventilasi,
kelembapan, intensitas pencahyaan, dan kebiasaan merokok. Hal ini dibuktikan
dengan nilai p value < α (0,05) dan Convidence Interval (CI) > 1.