Anda di halaman 1dari 16

EVIDENCE BASED PRACTICE IN NURSING

EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES PADA ANAK DENGAN


HIPETERMI

DISUSUN OLEH : PEMINATAN ANAK

Agri Azizah Amalia 220120180056

Annita Olo 220120180048

Femyta Eko Widiansari 220120180067

Indah Benita Tiwery 220120180062

Juni Purnamasari 220120180069

Meri Anggryni 220120180059

PROGRAM STUDY PASCASARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2018
Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Efektifitas
Pemberian Kompres Pada Anak Dengan Hipertemi”. Makalah ini merupakan
salah satu penugasan mata kuliah pengembangan ilmu keperarawatan (PIK) yang
berkaitan dengan Evidence Based Practice (EBP).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan selamat membaca, semoga makalah ini dapat
memberikan informasi yang bermanfaat.

Bandung, Desember 2018

Peneliti

i
Daftar Isi

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan keperawatan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh
perkembangan keperawatan secara global. Dengan jelas dapat diamati bahwa
secara berkelanjutan keperawatan di Indonesia mengalami perkembangan yang
pesat, baik dibidang pendidikan maupun di tatanan praktek keperawatan . Pada
masa lalu keperawatan dilakukan lebih berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga
keperawatan dianggap hanya sebagai kiat tanpa komponen ilmiah dan landasan
keilmuan yang kokoh.
Panas atau demam kondisi dimana otak mematok suhu di atas setting
normal yaitu di atas 38C. Pemeriksaan suhu merupakan salah satu pemeriksan
yang digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh
menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme darah. Namun
demikian, panas yang sesungguhnya adalah bila suhu>38.5C. Akibat tuntutan
peningkatan tersebut tubuh akan memproduksi panas. Infeksi adalah masuknya
jasad renik (micro organisms atau mahluk hidup yg sangat kecil yang umumnya
tidak dapat dilihat dengan mata) ke tubuh kita. Masuknya micro-organisms
tersebut belum tentu menyebabkan kita jatuh sakit, tergantung banyak hal antara
lain tergantung seberapa kuat daya tahan tubuh kita. Bila sistem imun kita kuat,
mungkin kita tidak jatuh sakit atau kalaupun sakit, ringan saja sakitnya, bahkan
tubuh kita selanjutnya membentuk zat kekebalan (antibodi). Mikro organisme atau
jasad renik tsb bisa kuman bakteri,bisa virus, jamur.
Pada Anak yang mengalami infeksi tanda panas tubuh yang meninggi
seringkali muncul. Sudah terbukti bahwa demam sengaja dibuat oleh tubuh kita
sebagai upaya membantu tubuh menyingkirkan infeksi. Pada saat terserang
infeksi, maka tentunya tubuh harus membasmi infeksitsb. Caranya, dengan
mengerahkan sistem imun. Pasukan komando untuk melawan infeksi adalah sel
darah putih dan dalam melaksanakan tugasnya agar efektif dan tepat sasaran, sel

1
darah putih tidak bisa sendirian, diperlukan dukungan banyak pihak termasuk
pirogen. Pirogen mempunyai peranan yang kompleks terhadap mekanisme
pengaturan yang ada dalam tubuh manusia Pirogen itu membawa 2 misi: 1.
Mengerahkan sel darah putih atau leukosit ke lokasi infeksi. 2. Menimbulkan
demam yang akan membunuh virus karena virus tidak tahan suhu tinggi, virus
tumbuh subur di suhu rendah.
Pada anak yang panas perawat sering melakukan kegiatan untuk
penurunan panas tersebut salah satunya dengan kompres. Kompres adalah metode
pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat
menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan. Ada dua
jenis kompres, yaitu : kompres panas dan kompres dingin. Dimana dalam makalah
ini akan dijelaskan mengenai kompres panas.
Menurut Hartanto (2003), bahwa kompres dingin tidak effektif untuk
menurunkan suhu tubuh anak demam, dan menyebabkan suhu tubuh tidak turun,
anak bisa menggigil karena terjadi vasokontriksi pembuluh darah penelitian ini
melarang pemakaian alkohol. Menurut Swardana, Swasri, Suryaning (1998)
mengatakan bahwa menggunakan air dapat memelihara suhu tubuh sesuai dengan
fluktuasi suhu tubuh pasien. Kompres hangat dapat menurunkan suhu tubuh
melalui proses evaporasi. Hasil penelitiaannya menunjukkan adanya perbedan
efektifitas kompres dingin dan kompres hangat dalam menurunkan suhu tubuh.
Kompress hangat telah diketahui mempunyai manfaat yang baik dalam
menurunkan suhu tubuh anak yang mengalami panas tinggi di Rumah Sakit
karena menderita berbagai penyakit infeksi.
Hasil penelitian Tri Redjeki (2002), di rumah sakit umum Tidar Magelang
mengemukakan bahwa kompres hangat lebih banyak menurunkan suhu tubuh
dibandingkan dengan kompres air dingin, karena akan terjadi vasokontriksi
pembuluh darah, pasien menjadi menggigil. Dengan kompres hangat
menyebabkan suhu tubuh diluaran akan terjadi hangat sehingga tubuh akan
menginterpretasikan bahwa suhu diluaran cukup panas, akhirnya tubuh akan
menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan suhu
pengatur tubuh, dengan suhu diluaran hangat akan membuat pembuluh darah tepi

2
dikulit melebar dan mengalami vasodilatasi, sehingga pori – pori kulit akan
membuka dan mempermudah pengeluaran panas, terjadilah perubahan suhu
tubuh.

1.2. Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang diatas, maka terdapat rumusan maslah yaitu
“Bagaimana efektivitas pemberian kompres pada anak dengan Hipertermi”

1.3. Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Mengkaji evektifitas kompres pada anak dengan Hipertermi.
2. Tujuan Khusus
a. Memberi pengetahuan tentang kompres hangat pada anak dengan
Hipertermi kepada masyarakat luas, khususnya di dunia kesehatan.
b. Menurunkan suhu tubuh.
c. Memberi rasa hangat,nyaman dan tenang pada klien.

1.4. Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Guna menambah wawasan mahasiswa mengenai materi yang dibahas
dalam makalah ini.
2. Mengembangkan pemahaman mahasiswa tentang Kompres Hangat.

3
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Demam


2.1.1 Pengertian
Demam adalah kenaikan suhu tubuh melewati batas normal yang dapat
disebabkan oleh berbagai hal, seperti infeksi, peradangan, atau gangguan
metabolik (Sofwan, 2010). Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas normal
37◦C yag merupakan respon fisiologis tubuh terhadap penyakit yang di pelantarai
oleh sitokin dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh serta aktivitas
sistem imun (Hakim dan Ahrens, 2002 dalam Mahmudin 2012). Menurut Badjatia
(2009), demam adalah keadaan dimana temperatur tubuh melebihi 38,3◦C yang
terjadi dengan adanya kecelakaan neurologi sehingga mempengaruhi kerja
hipotalamus untuk menjalankan fungsinya dalam mekanisme pengaturan suhu
tubuh.

2.1.2 Penyebab
Demam merupakan akibat kenaikan set point (oleh sebab infeksi) atau oleh
adanya ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluarannya. Demam
pada infeksi terjadi akibat mikro organisme merangsang makrofag atau PMN
membentuk PE (faktor pirogen endogenik) seperti IL-1, IL-6, TNF (tumuor
necrosis factor), dan IFN (interferon). Zat ini bekerja pada hipotalamus dengan
bantuan enzim cyclooxygenase pembentuk prostaglandin. Prostaglandin-lah yang
meningkatkan set point hipotalamus. Pada keadaan lain, misalnya pada tumor,
penyakit darah dan keganasaan, penyakit kolagen, penyakit metabolik, sumber
pelepasan PE bukan dari PMN tapi dari tempat lain.1,2,3,4 Kemampuan anak
untuk beraksi terhadap infeksi dengan timbulnya manifestasi klinis demam sangat
tergantung pada umur. Semakin muda usia bayi, semakin kecil kemampuan untuk

4
merubah set-point dan memproduksi panas. Bayi kecil sering terkena infeksi berat
tanpa disertai dengan gejala demam (Mahmudin, 2012).

2.1.3 Karakteristik
Karakteristik demam sangat bergantung pada tingkat kenaikan suhu tubuh.
Suhu tubuh normal sangat bervariasi. Hal tersebut terjadi karena suhu tubuh
dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi individu dan lingkungan, usia dan
aktivitas fisik. Berikut ini adalah rentang normal suhu tubuh berdasarkan tempat
pengukuran yang berbeda, yaitu:
Tabel 2.1 Suhu tubuh normal pada anak berdasarkan tempat pengukuran
(Canadian Pedriatric Society, 2000)
Tingkat Jenis Termometer Rentang Suhu Demam
Pengukuran Normal (◦C) (◦C)
Aksila Air raksa, elektronik 34,7 – 37,3 37,4
Sublingual Air raksa, elektronik 35,5 – 37,5 37,4
Rectal Air raksa, elektronik 36,6 – 38 38,1
Telinga Emisi infra merah 35,8 – 38 38,1

2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme naik turunnya suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang
mengatur keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas.
Hipotalamus posterior bertugas meningkatkan produksi panas an mengurangi
pengeluaran panas. Bila hipotalamus histerior menerima informasi suhu
lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh maka pembentukan panas ditambah
dengan meningkatkan metabolisme dan aktivitas otot rangka dalam bentuk
menggigil dan vasokontriksi kulit, serta pengurangan produksi keringat sehingga
suhu tubuh konstan. Hipotalamus interior mengatur suhu tubuh dengan cara
mengeluarkan panas. Bila hipotalamus anterior menerima informasi suhu
lingkungan menerima suhu tubuh maka pengeluaran panas ditingkatkan dengan
vasodilatasi kulit dan menambah produksi keringat.

5
2.1.5 Penanganan
Pada dasarnya proses terjadinya demam dapat menguntungkan dan dapat
pula merugikan. Pada tingkat tertentu demam merupakan bagian dari respon
fisiologis pertahanan tubuh, yaitu daya fagositosis meningkat dan viabilitas
kuman menurun. Demam dapat pula merugikan anak karena anak menjadi
gelisah, nafsu makan dan minum berkurang, tidak dapat tidur, dan menimbulkan
kejang demam. Pada hakekatnya untuk menurunkan suhu tubuh anak saat demam
dapat dilakukan dengan metode fisik, pemberian obat antipiretik atau kombinasi
dari keduanya. Yang dimaksud dengan metode adalah cara penurunan demam
dengan menggunakan kompres hangat, penggunaan selimut dingin, atau dengan
menggosok tubuh anak dengan alkohol.
Pemberian kompres air hangat pada anak demam dianjurkan untuk
mencegah adanya kejang demam efektivitas dari kompres hangat ini dapat
menurunkan suhu sebesar 0,56◦C. Pemberian dengan kompres air hangat juga bisa
dilakukan dengan menggunakan teknik tapid sponge water jika suhu anak
mencapai 39,1◦C (Mahmudin, 2012).

2.2 Evidence Based Nursing Practice


Berikut ini beberapa evidence based yang membuktikan kompres demam
pada anak menggunakan kompres hangat.
2.2.1 Hasil penelitian Tri Redjeki (2002), di rumah sakit umum Tidar Magelang
mengemukakan bahwa kompres hangat lebih banyak menurunkan suhu
tunuh dibandingkan dengan kompres air dingin, karena akan terjadi
vasokontriksi pembuluh darah, pasien menjadi menggigil. Dengan
kompres hangat menyebabkan suhu tubuh diluaran akan terjadi hangat
sehingga tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluaran cukup
panas, akhirnya tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak
supaya tidak meningkatkan suhu pengatur tubuh, dengan suhu diluaran
hangat akan membuat pembuluh darah tepi dikulit melebar dan mengalami
vasodilatasi sehingga pori – pori kulit akan membuka dan mempermudah
pengeluaran panas. Sehingga akan terjadi perubahan suhu tubuh.

6
2.2.2 Hasil penelitian Purwanti (2008) di ruang rawat inap, ruang Cendana I, II,
III RSUD Dr. Moewardi Surakarta membuktikan ada pengaruh kompres
hangat terhadap perubahan suhu tubuh.
2.2.3 Hasil penelitian Susanti (2012) mengemukakan bahwa pemakaian
kompres hangat efektif untuk mengatasi demam memicu vasodilatasi yang
dapat meningkatkan pengeluaran panas tubuh. Pemakaian kompres hangat
dianjurkan sebagai terapi kombinasi dengan antipiretik untuk membantu
menurunkan temperature tubuh.
2.2.4 Hasil penelitian Permatasari (2013) di ruang anak RSUD Tugurejo
Semarang mengemukan bahwa kompres air hangat lebih efektif
menurunkan suhu tubuh pada anak demam dibandingkan dengan kompres
air biasa.

7
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengalaman Empiris


Pengalaman saya merawat anak yang dirawat dirumah sakit umum
Daerah Atambua dengan keluhan demam dan suhu tubuh di atas 390C.
Sebelum diberikan instruksi untuk pemberian obat penurun demam/panas
saya melakukan kompres dingin dengan air keran (Air dingin biasa)
menggunakan waslap pada daerah axila, femoralis dan dahi. Sebelum
melakukan kompres pakaian anak di buka, menggantikan dengan selimut
yang tipis. Selanjutnya kompres dilakukan dibagian salah satu axila, kedua
lipatan femoral dan di bagian dahi, sedangkan axila yang satu tidak diberikan
kompres, tetapi digunakan untuk mengukur suhu menggunakan termometer
axila dilakukan observasi setiap jam. Pergantian washlap setiap 2 – 3 menit,
dengan melibatkan orang tua dalam pemberian kompres. Selain itu anak tetap
diberikan minum air hangat.
Hasil observasi tanda- tanda vital yang dilakukan setiap 1 jam oleh
perawat, setelah melakukan kompres dingin terjadi penurunan suhu tubuh
berkisar antara 0,10C – 0, 20C. Pemberian kompres tetap dipertahankan
selama shiff di tambah pemberian antipiretik yang diinstruksikan oleh dokter
setiap 4 jam jika masih demam. Apabila suhu tubuh tidak turun sampai batas
normal 36,50 C – 37,50C maka kompres tetap dilakukan pada perawat jaga
berikutnya.

8
3.2 Kajian Teori
Pertanyaan Klinis Keperawatan / PICO
Pasien Anak ( Pasien Hipertermia)
Intervensi Pemberian kompres dingin
Comparison Pemberian kompres hangat
Outcome Penurunan suhu tubuh

1. Apakah intervensi keperawatan pemberian kompres dingin dengan air keran


(air biasa) menggunakan waslap di area axila, femoralis dan dahi pada anak
demam yang dirawat dirumah sakit umum Daerah Atambua menghasilkan
penurunan suhu tubuh anak?
2. Apakah ada hasil penelitian EBP mengenai pemberian kompres pada anak
hipertermia?
3. Bagaimana efektifitas pemberian kompres hangat dibandingkan pemberian ko
mpres dingin pada anak dengan hipertermia yang dirawat di rumah sakit?
4. Bagaimana cara pemberian kompres hangat pada anak dengan hipertermia
yang dirawat di rumah sakit?

Pemberian kompres dingin pada anak hipertermia di rumah sakit daerah


Atambua dengan menggunakan waslap dimana washlap diganti setiap 2 – 3 menit,
terjadi penurunan suhu tubuh berkisar antara 0,10C – 0, 20C setelah 1 jam
pemberian dan disertai pemberian antipiretik yang diinstruksikan oleh dokter
setiap 4 jam jika masih demam.

Seiring perkembangan ilmu keperawatan, pemberian kompres dingin


mulai digantikan dengan pemberian kompres hangat. Dimana perubahan tersebut
didasari hasil penelitian EBP pemberian kompres hangat pada anak hipertermi.
Hasil penelitian Tri Redjeki (2002), di rumah sakit umum Tidar Magelang
mengemukakan bahwa kompres hangat lebih banyak menurunkan suhu tubuh
dibandingkan dengan kompres air dingin, karena kompres air dingin akan
menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah dan pasien menjadi
menggigil. Kompres hangat menyebabkan suhu tubuh luar akan terjadi hangat

9
sehingga tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluaran cukup panas,
akhirnya tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak supaya tidak
meningkatkan suhu pengatur tubuh, dengan suhu diluaran hangat akan membuat
pembuluh darah tepi dikulit melebar dan mengalami vasodilatasi sehingga pori –
pori kulit akan membuka dan mempermudah pengeluaran panas. Sehingga akan
terjadi perubahan suhu tubuh.

Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Purwanti (2008) di ruang rawat


inap, ruang Cendana I, II, III RSUD Dr. Moewardi Surakarta membuktikan ada
pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh. Didukung dengan hasil
penelitian Susanti (2012) mengemukakan bahwa pemakaian kompres hangat
efektif untuk mengatasi demam memicu vasodilatasi yang dapat meningkatkan
pengeluaran panas tubuh. Pemakaian kompres hangat dianjurkan sebagai terapi
kombinasi dengan antipiretik untuk membantu menurunkan temperature tubuh
serta hasil penelitian Permatasari (2013) di ruang anak RSUD Tugurejo Semarang
mengemukan bahwa kompres air hangat lebih efektif menurunkan suhu tubuh
pada anak demam dibandingkan dengan kompres air biasa.

3.3 Evaluasi
3.3.1 Kekuatan

Kekuatan penggunaan EBP kompres hangat pada anak dengan hipertermi


adalah banyak peneliti kesehatan yang telah melakukan penelitian EBP terkait
efektifitas kompres hangat pada anak hipertermi, dimana hasil-hasil penelitian
menunjukan keefektifan penggunaan kompres hangat dalam menurunkan suhu
tubuh anak dengan hipertermi. kompres hangat efektif untuk mengatasi demam
memicu vasodilatasi yang dapat meningkatkan pengeluaran panas tubuh.
Pemakaian kompres hangat dianjurkan sebagai terapi kombinasi dengan
antipiretik untuk membantu menurunkan temperature tubuh dibandingkan
kompres dingin.

10
3.3.2 Kemamputerapan
Penerapan pemberian kompres hangat pada anak dengan hipertermi dapat
dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja. Pemberian kompres hangat dapat
dilakukan oleh perawat maupun anggota keluarga yang telah di berikan
pendidikan kesehatan terkait pemberian kompres hangat. Efektivitas dari kompres
hangat ini dapat menurunkan suhu sebesar 0,56◦C. Pemberian dengan kompres air
hangat juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknik tapid sponge water jika
suhu anak mencapai 39,1◦C (Mahmudin, 2012).

3.4 Tahapan perubahan yang dilakukan


Penelitian EBP terkait kompres demam yang terbukti efekti dalam
penurunan suhu tubuh anak dengan hipertermi menjadi dasar bagi perawat
melakukan perubahan, dimana sebelumnya penanganan anak hipertermi
menggunakan kompres dingin sekarang digantikan dengan pemberian kompres
hangat. Hasil Penelitian EBP tersebut disosialisasikan keseluruh perawat di rumah
sakit khususnya rumah sakit daerah Atambua terkait pemberian kompres hangat,
yang kemudian akan dijadikan sebagai intervensi keperawatan dalam penanganan
hipertermi di rumah sakit. Perawat membekali keluarga dengan pendidikan
kesehatan pemberian kompres hangat pada anak dengan hipertermi sebelum
keluar rumah sakit.

3.5 Kriteria evaluasi keberhasilan program

Dari evaluasi hasil kajian penelitian EBP terkait kompres hangat ini di harapkan :

1. Perawat dirumah sakit khususnya di rumah sakit daerah Atambua


memberikan kompres hangat sebagai intervensi keperawatan dengan anak
hipertermi
2. Perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga pasien terkait
pemberian kompres hangat pada anak hipertermi.

11
BAB IV
KESIMPULAN & SARAN

4.1. Kesimpulan
Dalam mengkompres pasien perlu diperhatikan dengan mengontrol
perkembangannya dalam waktu 30-60 menit, bila pasien kedinginan kompres
harus segera di angkat, perlu di perhatikan juga keberadaan iritasi pasien,
Bila suhu tubuh 39c/lebih, tempat kompres dilipat paha dan ketiak.Kompres
hangat terbukti efektif dalam menurunkan hipetermi pada anak dibandingkan
dengan kompres dingin.

4.2. Saran
1. Bagi Keluarga
Diharapkan dapat menerapkan tindakan kompres hangat pada perawatan
anak yang hipetermi dan dapat menjadikannya sebagai tindakan yang
pertama dan aman dilakukan pada pasien anak di rumah sebelum
menggunakan terapi antipiretik
2. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan agar penerapan tindakan
kompres hangat di ruangan dapat dimaksimalkan,sehingga dapat
memotivasi tenaga keperawatan yang ada di rumah sakit untuk
menerapkan tindakan mandiri sebelum tindakan kolaborasi

12
DAFTAR PUSTAKA

Permatasari, K. I. (2013). Perbedaan Efektivitas Kompres Air Hangat dan


Kompres Air biasa Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Dengan
Demam di RSUD Tugurejo Semarang. Karya Ilmiah S. 1 Ilmu
Keperawatan.

Purwanti, S., & Nur Ambarwati, W. (2008). Pengaruh Kompres Hangat terhadap
Perubahan Suhu Tubuh pada Pasien Anak Hipertermia di Ruang Rawat Inap
RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Susanti, N. (2012). Efektifitas kompres dingin dan hangat pada penataleksanaan


demam. SAINSTIS.

Wardiyah, A., Setiawati, S., & Setiawan, D. (2016). Perbandingan Efektifitas


Pemberian Kompres Hangat Dan Tepidsponge Terhadap Penurunan Suhu
Tubuh Anak Yang Mengalamidemam Rsud Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung. Jurnal Ilmu Keperawatan, 4(1), 44-56.

Mahmudin, M. (2012). Hipertermia Pada An. W Dengan Typhus Abdominalis Di


Ruang Cempaka Rsud Dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Fakultas
Ilmu Kesehatan: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

13