Anda di halaman 1dari 5

Nama: Agri Azizah Amalia

Npm: 220120180056
Peminatan: Keperawatan Anak
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Ir. Sjafril Darana, SU

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) FILSAFAT ILMU

1. Mengapa Kita Belajar Filsafat Ilmu?


2. Ada Apa Pada Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi?
3. Mengapa Kita Harus Mempertahankan Proposal Kita?
4. Perbedaan 7 Abad Ini Dan 7 Abad Itu?

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER FILSAFAT ILMU

1. Belajar filsafat ilmu bagi mahasiswa sangat penting, karena beberapa manfaat yang
dapat dirasakan, dengan mempelajari filsafat ilmu mahasiswa bisa semakin kritis dalam
sikap ilmiahnya dan dalam mengambil keputusan. Mahasiswa diharapkan untuk
bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di masa kuliah
maupun dari sumber-sumberlainnya. Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan
kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah
dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan
mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan
pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian
ilmiah. Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam opini & argumentasi
yang dikemukakan. Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah
mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam
pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan berpikir kritis
dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat ilmu diterapkan.
Mengembangkan toleransi dalam perbedaan pandangan. Banyak pendapat yang
membahas tenteng filsafat untuk itu filsafat mengajarkan untuk saling menghargai
pendapat. Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah karena ilmu
pengetahuan yang berasal dari filsafat akan selalu berkembang.
Di berbagai perguruan tinggi, khususnya di tingkat Pasca Sarjana, para
mahasiswa biasanya diajarkan mata kuliah “Filsafat Ilmu”. Sejauh ini, sudah banyak
diterbitkan buku tentang Filsafat Ilmu. Filsafat berusaha untuk menyatukan hasil-hasil
ilmu dan pemahaman tentang moral, estetika, dan agama. Para filsuf telah mencari suatu
pandangan tentang hidup secara terpadu, menemukan maknanya serta mencoba
memberikan suatu konsepsi yang beralasan tentang alam semesta dan tempat manusia
di dalamnya. Itulah beberapa contoh materi kuliah Filsafat Ilmu yang diajarkan kepada
para mahasiswa. Jika ditelaah beberapa uraian pada dua buku “Filsafat Ilmu” tersebut,
akan dijumpai problematika yang serius. Teori positivisme Comte – dalam perspektif
Islam – jelas sangat bermasalah. Sebab, ia meletakkan agama sebagai jenis pengetahuan
yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau
empirisisme, dimana yang diakui sebagai ilmu hanyalah pengetahuan yang didapat
dari panca indera manusia. Teori Comte ini pun sekarang tak terbukti. Sebab, manusia
– di Barat dan di Timur – di tengah perkembangan yang fantastis dari sains dan
teknologi tetap memegang kepercayaan pada hal-hal yang metafisik dan juga agama.
Di negara-negara Barat sendiri, banyak manusia percaya kepada “dukun ramal”
(fortune teller). Bagi seorang Muslim, pengetahuan yang didapat dari jalur khabar
shadiq ini juga merupakan ilmu. Sebab, ia diperoleh dari sumber-sumber terpercaya,
semisal al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Ilmu yang diraih dari jalur khabar
shadiq ini juga diterima secara universal. Misal, dalam soal pengakuan anak terhadap
kedua orang tuanya. Sangat jarang terjadi, ada anak yang meminta pembuktian secara
rasional dan empiris berkenaan dengan status hubungannya dengan kedua orang tuanya.
Misalnya, anak meminta bukti ilmiah berupa tes DNA. Kita biasanya menerima saja
cerita-cerita dari orang yang kita percayai, bahwa orang tua kita adalah A dan B.
Pengetahuan semacam ini – dalam konsep epistemologi Islam – juga disebut sebagai
“ilmu”, yang juga diraih dengan metode ilmiah.Karena itu, dalam perspektif Islam,
tidaklah tepat jika dikatakan, suatu ilmu hanya dapat diraih dari metode empiris dan
rasional. Pengetahuan tentang Allah, tentang para Nabi, tentang akhirat, tentang
keutamaan bulan Ramadhan, keutamaan ibadah haji, dan sebagainya, juga dikatakan
sebagai “ilmu” sebab didapatkan dari sumber-sumber terpercaya (khabar shadiq),
meskipun hal itu di atas jangkauan akal (supra rasional). Masalah “cara-cara meraih
ilmu” (epistemologi) saat ini telah banyak dibahas oleh para pakar keilmuan Islam.
2. Dalam mencari ilmu diperkenalkan Ontologi atau hakekat ilmu, Epistemologi atau
hakekat mencar ilmu, dan Aksiologi atau hakekat tentang ilmu. Ontologi memang benar
merupakan inti atau dasar sebagai lagkah perdana para ilmuan dalam melaksanakan
pendekatan awal mengenai “apa sesungguhnya ilmu itu?” sehingga menjadi kajian?
Menandakan kata “apa=what” wajib mengawali bidang disiplin alam pikiran.
Epistemologi berada pada langkah berikutnya, menyangkut hal “bagaimana ilmu
dikaji” dan sudah tentu “why” sangat tepat menempati arah garapan selanjutnya. Kedua
cabang hakekat ontologi dan epistemologi baru akan tuntas, bila langkah cabang
hakekat ketiga melengkapinya. Aksiologi dikatakan menutup “referensial filsafat ilmu”
mengingat peran tujuannya adalah sangat krusial atau menentukan “untuk apa ilmu”
digarap. Ungkapan “what for” atau suatu pertanyaan yang menggelitik tersebut, amat
layak “harus” dijawab. Apabila tidak, maka “buat apa” para ilmuan “eksis”. Eksistensi
para ilmuan mengandung tugas berat, layak jauh dari berpangku tangan begitu saja.
Umat dunia menanti buah pikir termasuk hasil karya dengan harapan mampu menuju
penantian akhir ke bentuk “universalism”. Onotologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang hakikat sesuatu yang berwujud dengan berdasarkan logika semata. Objek dari
ontology adalah “yang ada”. Ontologi membahas tentang realitas atau kenyataan
konkret secara logis. Ontologi mendorong timbulnya ilmu pengetahuan ilmiah maupun
sosial karena karakteristiknya: berasal dari riset, tidak ada konsep wahyu, empiris,
rasional,objektif, sistematik, metodologis, observatif, verifikasi, eksplanatif,
keterbukaan, mengakui pengetahuan yang relative, mengakui logika, memiliki
hipotesis,netral. Ontologi berguna untuk ilmu empiris. Epistemologi adalah ilmu yang
membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Pertumbuhan epistemologi
dibentuk oleh terjadinya banyak konflik dan benturan teoretikal mengenai hal-hal
tersebut (Pranarka, 1987 : 97). Skeptisisme merupakan suatu bentuk aliran yang perlu
untuk kenal dan diperhatikan secara seksama, karena skeptisisme adalah satu-satunya
aliran yang secara radikal dan fundamental tidak mengakui adanya kepastian dan
kebenaran itu, atau sekurang-kurangya skeptisisme Metode Deduktif diawali dari
pemikiran rasional, teori, pendapat, pikiran yang telah diuji kebenarannya lalu ke
kesimpulan. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional,
instrumen dan operasionalisasi. Dalam deduksi kita harus memahami dulu tentang
aspek-aspek yang dibahas dengan melakukan percobaan. Metode berpikir Deduksi ini
lebih dominan digunakan dalam ilmu ilmu eksakta ( ilmu pasti ). Metode ini juga
menggunakan apreori, apreori adalah mengetahui dengan mengenakan sebab pada
realitas itu. Jadi mengetahui secara apriori adalah dengan memahami apa yang menjadi
sebabnya, apa yang menimbulkan dan memungkinkan itu terjadi. Metode induktif
berlawanan dengan deduktif dimana diawali dari hal khusu baru ke umum Metode ini
diawali dengan melakukan percobaan-percobaan secara khusus untuk menjawab
pertanyaan umum. Induksi lebih banyak digunakan dalam ilmu sosial. Salah satu
contoh ilmu yang menggunakan metode induksi murni adalah antropologi. Aksiologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan orientasi atau nilai suatu kehidupan.
Aksiologi berisi tentang apa yang harus dilakukan manusia untuk menyelesaikan
masalah. Teori ini kemudian menghasilkanetika dan estetika. Aksiologi mempelajari
kegunaan ilmu pengetahuan.
3. Di karenakan perkembangan jaman terus berkembang dan perkembangan ilmu di
bidang kesehatan pun semakin berkemang, ilmu di bidang kesehatan sangatlah penting
dan dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, pentingnya ilmu kesehatan membuat
masyarakat sadar akan kebutuhan akan adanya pelayanan kesehatan yang memiliki
peran sangat strategis dalam upaya memepercepat peningkatan derajat kesehatan
masyarakat dan makin banyak juga tenaga kesehatan yang harus disediakan oleh pusat
pelayanan kesehatan agar tercapainya pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi
pasien, khusunya adalah perawat. Berfikir secara rasional berdasarkan pengalaman
yang terjadi pada manusia, ilmu juga didapat dimana individu menangkap pengalaman
dan mempersepsikannya. Ilmu didapat melalui intuisi, tapi ilmu yang didapat ini hanya
melalui proses penalaran bersifat individu. Pengetahuan intuisi dipergunakan sebagai
hipotesis dan analisis. Intuisi dan analitik bisa bekerja saling membantu dan
menemukan kebenaran. Sebelum mendapatkan ilmu, peneliti harus kuat dalam berfikir,
didalam proposal kita harus bisa mempertahankan proposal kita, sehingga kesimpulan
dan saran proposal kita bisa menjadi temuan efektif, efisien dan prosfektif. Oleh sebab
itu juga peneliti mempertahankan proposal, karena pada dasarnya pengujian proposal
penelitian merupakan metode verifikatif agar hasil penelitiannya bisa memenuhi unsur
universalisme.
4. Perbedaan 7 Abad Benar Dan 7 Abad Salah Dalam Buku Roda Berputar Dunia Bergulir
7 Abad Benar 7 Abad Salah
- Dalam periode abad “benar” yang - Periodesasi pada abad yang
dijadikan pedoman Al-Quran salah bahwa kejadian–
kejadian sebenarnya yang
kehidupan sesuai dengan perintah salah ada benarnya dan yang
Allah. benar ada salahnya.
- Muslim telah ditempa untuk - Adapun yang benar,
berpikir kritis dan rasional. kesalahannya adalah muslim
- Abad 9M, yang tampak kepada “tergelincir” karena tidak
kita sebagai cobaan dari Tuhan. lagi mempertahankan ajaran
Muslim tidak lulus ujian maka Allah karena dipengaruhi
tergelincirlah dari qudrat atau ajaran-ajaran agama lain.
kekuasaan tuhan. Mereka jatuh - Sedangkan yang salah,
terpuruk, ke kejumudan dan kebenarannya yaitu
konservatisme, yang “menyongsong” yang terjadi
mengkarakterisir muslim hingga pada abad 16. Tapi sayang
sekarang. menyongsongnya dengan
- Kemajuan muslim dalam cara yang salah.
menterjemahkan buku-buku, - Dalam sejarah dunia fase
taktik kemiliteran, industri, dinamis, bahwa saat yang
perdagangan, pertanian, menentukan adalah pada
astronomi, kemanusiaan dan nalar abad 13 (abad keruntuhan
bebas masuk ke barat dan kerajaan islam) muslim
modernisasi dengan Renaissance, mewariskan hal-hal yang
karena muslim jatuh ke jumudan. positif maupun yang negatif.
- Orang barat memperoleh Yang positif dimulai perang
kekuatan dan menyongsong salib masuk ke eropa dan di
“qudrat Allah” dan akhirnya eropa hal-hal itu digunakan
muslim tertindas penyebab sifat pembangkit kekuatan.
kejumudan atau kelemahan Disamping itu sisi negatif
menyebar ke dunia timur masuk ke dalam dunia timur,
termasuk ke indonesia. Kita yang menjadikan “lemah
peroleh (Q.S Al – Alaq : 5) karsa”.
muslim tergelincir karena tidak
lulus ujian dan cobaan dari Allah
(Q. S Al – Ankabut : 2).