Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu


diperhatikan oleh dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka
prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang ditimbulkannya. Berdasarkan
penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu hipertensi primer yang tidak
diketahui penyebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang
disebabkan oleh penyakit lain (Slamet Suyono, 2001). Hipertensi adalah apabila tekanan
darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik> 90 mmHg, atau apabila pasien
memakai obat anti hipertensi (Slamet Suyono, 2001 dan Arif
Mansjoer, 2001).
Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil riset kesehatan tahun 2007 diketahui bahwa
prevalensi hipertensi di Indonesia sangat tinggi, yaitu rata-rata 3,17% dari total penduduk
dewasa. Hal ini berarti dari 3 orang dewasa, terdapat 1 orang yang menderita hipertensi
(Riskesdas, 2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Riskesdas menemukan
prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,8%. Daerah Bangka
Belitung menjadi daerah dengan prevalensi hipertensi yang tertinggi yaitu sebesar 30,9%,
kemudian diikuti oleh Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa
Barat (29,4%) (Riskesdas, 2013).
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup)
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer,
2001).

1
Perawatan terhadap pasien lansia merupakan tanggung jawab keluarga dan
pemerintah khususnya Dinas social dan tenaga kesehatan. Perubahan – perubahan kecil
dalam kemampuan seorang pasien lansia untuk melaksanakan aktivitas sehari – hari atau
perubahan kemampuan seorang pemberi asuhan keperawatan dalam memberikan
dukungan hendaknya memiliki kemampuan untuk mengkaji aspek fungsional, sosial,
dan aspek – aspek lain dari kondisi klien lansia.
Berdasarkan latar belakang di atas, dengan tinggi persentase penyakit hipertensi
pada lansia, maka makalah berikut akan membahas lebih detail mengenai Asuhan
Keperawatan Gerontik pada Klien Hipertensi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas maka Rumusan masalah makalah Asuhan


keperawatan ini adalah :
1. Apa saja karakteristik yang muncul pada pasien lansia dengan hipertensi ?

2. Apa saja diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien lansia dengan
hipertensi ?
3. Apa saja intervensi atau rencana tindakan keperawatan pada pasien lansia dengan
hipertensi ?
4. Apa saja tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien lansia dengan
hipertensi?
5. Apa saja evaluasi yang didapatkan setelah melakukan tindakan keperawatan
pada pasien lansia dengan hipertensi ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah asuhan


keperawatan ini adalah:
1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menjelaskan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada


lansia dengan hipertensi .

2
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi karakteristik pada pasien lansia dengan


hipertensi.
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang muncul pada
pasien lansia dengan hipertensi.
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi rencana tindakan keperawatan yang dapat
dilakukan pada pasien lansia dengan hipertensi.
4. Mahasiswa mampu melaksanan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan
pada pasien lansia dengan hipertensi.
5. Mahasiswa mampu mengevaluasi keefektifan dari tindakan keperawatan yang
sudah dilakukan pada pasien lansia degan hipertensi.

3
BAB 2

TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi

Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan
diastolik> 90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti hipertensi (Slamet
Suyono, 2001 dan Arif Mansjoer, 2001). Menurut Tom Smith (1991), hipertensi atau
yang lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal. Hipertensi menurut
WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan
diastolik lebih dari 90 mmHg.
Menurut N.G. Yasmin A (1993) hipertensi adalah peningkatan dari tekanan
sistolik standar dihubungkan dengan usia, tekanan darah normal adalah refleksi dari
kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi puerperal. Menurut Alison Hull
(1996), hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada
arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah, hipertensi,
berkaitan dengan kenaikan tekanan diastolik, dan tekanan sistolik atau kedua-duanya
secara terus menerus.

2.2 Etiologi

Berdasarkan penyababnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan :

1. Hipertensi primer (Esensial)


Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor
yang mempengaruhinya yaitu : genetic, lingkungan, hiperaktifitas saraf
simpatis system reni, angiotensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor
faktor yang meningkatakan resiko: obesitas, merokok, alcohol dan polisiemia.
2. Hipertensi sekunder

4
Penyebabnya yaitu : penggunaan esterogen, penyakit ginjal, sindrom cushing
dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :

1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan
atau tekanan diastolic sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160
mmHg dan atau tekanan diastolic lebih rendah dari 90 mmHg. Penyabab
hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan
perubahan pada :
1. Elastisitas dinding aorta menurun.
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun. 1% setiap tahun sesudah usia
20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi
1. Faktor genetik
Terbukti bahwa faktor ini merupakan faktor predisposisi bagi individu untuk
menderita hipertensi.
2. Karakteristik
Faktor-faktor yang terdapat pada individu yang terpenting untuk terjadinya
hipertensi adalah umur, jenis kelamin dan ras.
3. Stress
Peranan stress dalam menimbulkan hipertensi sukar dinilai, sudah lama
diketahui bahwa stress akut dapat meningkatkan darah untuk sementara,
stress merupakan sesuatu yang sering dihubungkan dengan kegiatan.
4. Obesitas
Obesitas adalah kelebihan berat badan atau kenaikan berat badan di atas
beberapa standar yang ditetapkan, biasanya didefinisikan dalam hubungan
tinggi badan.
5. Merokok

5
Dalam kasus hipertensi seorang perokok mempunyai risiko yang lebih besar
dibandingkan orang yang tidak merokok.
6. Garam
Penyakit hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan
asupan garam yang minimal.
7. Konsumsi alkohol
Perlu diperhatikan oleh penderita penyakit kardiovaskuler adalah konsumsi
alkohol, karena adanya bukti yang saling tolak belakang antara keuntungan
dan risiko minum.
8. Olahraga
Kurangnya olahraga atau aktivitas fisik adalah kontribusi utama pada
obesitas, diabetes dan hipertensi.

2.3 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :

a. Tanda dan gejala


Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa.
Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak teratur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongon medic.

Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal tensi < 140 < 90


Hipertensi borderline 140-160 90-95
Hipertensi sedang dan berat > 180 > 105
Hipertensi terisolasi > 140 < 90

6
Beberapa gejala pasien yang menderita hipertensi yaitu :

1. Mengeluh sakit kepala atau pusing


2. Lemas dan kelelahan
3. Sesak nafas
4. Gelisah
5. Mual
6. Muntah
7. Epistaksis
8. Mudah marah (emosi meningkat)
9. Susah tidur
10. Rasa berat ditengkuk
11. Mata berkunang kunang
12. Telinga berdengung

2.4 Patofisiologi dan WOC

Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di


pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula pada system
saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system
saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang akan merangsang
serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinephrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap
rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepineprin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokontriksi.Medulla adrenal mensekresi epineprin, yang
menyebabkan vasokontriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol da steroid lainnya, yang dapat memperkuat
respons vasokontriksi pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan

7
aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiontensin II, suatu
vasokontriksitator kuat. Yang pada gilirannya meragsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyababkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Pertimbangan gerontologist, perubahan struktur dan fungsional pada system
perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi arterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya
menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya
aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah
yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner dan Suddarth, 2001).

8
2.5 Komplikasi

Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner, cedera


cerebrovaskuler, dan gagal ginjal. Hipertensi menetap yang disertai dengan
peningkatan tahanan perifer menyebabkan gangguan paada endothelium pembuluh
darah mendorong plasma dan lipoprotein ke dalam intima dan lapisan sub intima dari
pembuluh darah dan menyebabkan pembentukan plaque /aterosklerosis. Peningkatan

9
tekanan juga menyebabkan hiperplasi otot polos , yang membentuk jaringan parut
intima dan mengakibatkan penebalan pembuluh darah dengan penyempitan lumen.
(Underjillet all.,1989) dikutip dari Carpenito (1999).

Komplikasi yang dapat timbul bila hipertensi tidak terkontrol adalah

1. Krisis Hipertensi

2. Penyakut jantung dan pembuluh darah : penyakit jantung koroner dan penyakit
jantung hipertensi adalah dua bentuk utama penyakit jantung yang timbul pada
penderita hipertensi.
3. Penyakit jantung cerebrovaskuler : hipertensi adalah faktor resiko paling penting
untuk timbulnya stroke. Kekerapan dari stroke bertambah dengan setiap
kenaikan tekanan darah.
4. Ensefalopati hipertensi yaitu sindroma yang ditandai dengan perubahan
neurologis mendadak atau sub akut yang timbul sebagai akibat tekanan arteri
yang meningkat dan kembali normal apabila tekanan darah diturunkan.
5. Nefrosklerosis karena hipertensi.

6. Retinopati hipertensi.

2.6 Data penunjang

1. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan ( viskositas )
dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas,
anemia.
2. BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi (diabetes
mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan
katekolamin (meningkatkan hipertensi)
3. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau
menjadi efek samping terapi diuretik.
4. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
5. Kolesterol dan trigliserid serum

10
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
6. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
7. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )
8. Urinalisa

Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya


diabetes.
9. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
10. Steroid urin
Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
11. IVP

Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal,


batu ginjal / ureter
12. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
13. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
14. EKG

Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,


peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi

2.7 Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas


akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

1. Terapi tanpa Obat

11
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan
sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini
meliputi :
Diet

Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :

a. Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr

b. Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

c. Penurunan berat badan

d. Penurunan asupan etanol

e. Menghentikan merokok

Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu: Macam
olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda, berenang dan
lain-lain.
Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau
7287 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan
berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya
3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu

Edukasi Psikologis

Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :

Ø Tehnik Biofeedback

Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek
tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap
tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik
seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
Ø Tehnik relaksasi

12
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi
ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar
membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
Ø Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )

Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien


tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Terapi dengan Obat

Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi
juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( Joint

National Committee On Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure,

Usa, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium,
atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan
memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :

Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
Step 3
Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain
Step 4
Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4

Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk


mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan

13
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter )
dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.

2.8 Asuhan Keperawatan

2.8.1 Pengkajian

Pengkajian secara Umum

1. Identitas Pasien

Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama, Umur, Jenis
Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental, Suku, Keluarga/orang
terdekat, alamat, nomor registrasi.
2. Riwayat atau adanya factor resiko o Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
o Penggunaan obat yang memicu hipertensi

3. Aktivitas / istirahat

o Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup


monoton. o Frekuensi jantung
meningkat
o Perubahan irama jantung o Takipnea

4. Integritas ego o Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria


atau marah kronik.
o Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan dengan
pekerjaan).
5. Makanan dan cairan o Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi
garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang
digoreng,keju,telur)gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori. o
Mual, muntah. o Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau
menurun).

6. Nyeri atau ketidak nyamanan o Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan


jantung) o Nyeri hilang timbul pada tungkai. o Sakit kepala oksipital berat
seperti yang pernah terjadi sebelumnya. o Nyeri abdomen.

7. Pengkajian Persistem

14
1. Sirkulasi oRiwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner
atau katup dan penyakit cerebro vaskuler. oEpisode palpitasi,perspirasi.

2. Eleminasi o Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau
obtruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.
3. Neurosensori

o Keluhan pusing. o Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat


bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
4. Pernapasan oDispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja oTakipnea,
ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal. oBatuk dengan/tanpa
pembentukan sputum. oRiwayat merokok

2.8.2 Diagnosa

1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

3. Curah Jantung, resiko tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan


peningkatan afterload, vasokontriksi
4. Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan
metabolic
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung yang tidak
adekuat
6. Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau keterbatasan
kognitif

2.8.3 Intervensi

Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular Cerebral

1. Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut

Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi

2. Intervensi : Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit


kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher,
tenang, redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi.

15
Rasional : tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral dan yang
memperlambat atau memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan
sakit kepala dan komplikasinya
3. Intervensi : Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase kontriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejam saat bab, batuk panjang,
membungkuk
Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit
kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular cerebral
Dx 2 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

1. Intervensi : kaji respon pasien terhadap aktivitas,perhatikan frequency nadi


lebih dari 20 kali per menit diatas frequency istirahat : peningkatan tekan
darah yang nyata selama atau sesudah aktivitas ( tekanan sistolik meningkat
40 mmhg atau tekanan diastolic meningkat 20 mmhg) dispnea atau nyeri
dada : kelemahan dan keletihan yang belebihan :pusing atau pingsan.
Rasional : menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon
fisiologi terhadap stress, aktivitas bila ada merupakan indikator dari
kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2. Intervensi : instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy,
misalnyamenggunakan kursi saat mandi,duduk saat menyisir rambut atau
menyikat gigi,melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional : teknik memghemat energy mengurangi penggunaan energy,
juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. DX 3 :
Curah Jantung, resiki tinggi terhadap hipertensi berhubungan dengan
peningkatan afterload, vasokontriksi
1. Intervensi: pantau TD.ukur pad kedua tangan atau paha untuk evaluasi
awal.gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
Rasional : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular. Hipertensi berat
diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolic
sampai 130, hasil pengukuran diastolic diatas 130 dipertimbangkan sebagai
penigkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi sistolik juga merupakan
faktor resiko yang di tentukan untuk penyakit cerebrovaskular dan penyakit
iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115.

16
DX 4 : Nutrisi , perubahan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kebutuhan metabolic
1. Intervensi : kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara
hipertensi dan kegemukan.
Rasional : kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi
karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jangtung
berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
2. Intervensi : bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan
membatasi masukan lemak,garam,dan sesuai indikasi.
Rasional : kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya ateroskelorosis
dan kegemukan yang merupakan predesposisi untuk hipertensi dan
komplikasinya misalnya stroke,penyakit ginjal,gagal jantung. Kelebihan
memasukkan garam memperbanyak volume cairan intravascular dan dpat
merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi.

DX 5 : Koping individu tidak efektif berhubungan dengan system pendukung yang


tidak adekuat
1. Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku,
misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan
berpartisipasi dalam rencana pengobatan
Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang,
mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan ke
dalam kehidupan sehari-hari
2. Intervensi : Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan
kemungkinan strategi untuk mengatasinya
Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam
mengubah respons seseorang terhadap stressor
3. Intervensi : Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri
dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
Rasional : Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri yang
berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan
kerja sama dalam regimen terapeutik

17
4. Intervensi : Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala
ketidakmampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah
Rasional : Menifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin merupakan
indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD
diastolic
DX 6 : Kurang pengetahuan berhubungnya dengan kurang informasi atau
keterbatasan kognitif
1. Intervensi : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk orang
terdekat
Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnose karena perasaan
sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang
terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan, dan prognosis. Bila pasien
tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka
perubahan perilaku tidak akan dipertahankan.
2. Intervensi : Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan tentang
hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak
Rasional : Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD
dan mengklarifikasi istilah medis yang sering digunakan. Pemahaman bahwa
TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien
melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat
3. Intervensi : Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah
“terkontrol dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang
diinginkan
Rasional : Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan,
maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk
memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi
4. Intervensi : Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor risiko
kardiovaskular yang dapat diubah misalnya obesitas, diet tinggi lemak jenuh,
dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol( lebih dari
60cc/hari dengan teratur), pola hidup penuh stress.
Rasional : Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan dalam
menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta ginjal.

18
2.8.4 Evaluasi

a. Pasien melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang atau terkontrol


b. Pasien berpartisupasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
c. Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah atau beban
kerja jantung.
d. Menunjukkan perubahan pola makan ( misalnya pilihan makan, kuantitas,dan
sebagainya), mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan
kesehatan optimal.
e. Mengidentivikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
f. Pasien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan

BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

1. Identitas Klien

• Nama : Ibu S

• Umur : 67 tahun

• Jenis Kelamin : Perempuan

• Suku : Jawa

• Agama : Islam
• Pendidikan : SMA

• Status Perkawinan : Belum menikah

• Tanggal Pengkajian : 15 Mei 2015

• Alamat : Jakarta

2. Status Kesehatan Saat ini

Ibu S mengeluh pusing sejak pagi. Sakit kepalanya berdenyut-denyut. Pusing


semakin dirasakan jika Ibu S berjalan dan berkurang jika istirahat. Kadang Ibu S

19
merasakan ada yang kaku di lehernya. Ibu S mengatakan kurang paham mengenai
penyakit hipertensi
3. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ibu S mengatakan beberapa tahun yang lalu pernah mengalami sakit jantung dan
berobat ke rumah sakit.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu S mengatakan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit gula. Ibu S
mengatakan ayahnya menderita penyakit tekanan darah tinggi.
5. Pemeriksaan Tanda-tanda Vital

1. Tekanan darah : 160/110 mmHg

2. Nadi : 84 kali/menit

3. Suhu : 36.6 oC

4. Respirasi : 20 kali/menit

5. Berat badan : 40 kg

6. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Keadaan Ibu S tampak sedikit lemah. Ketika berjalan tampak memegangi


penghuni panti lainnya agar tidak jatuh.
b. Kepala, wajah, mata, leher

• Kepala tampak bulat, tidak ada lesi dan benjolan, rambut tampak beruban

• Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil isokor

• Tidak teraba ada pembesaran kelenjar getah bening

• Hidung tampak simetris, tidak tampak ada cairan berlebih

c. Sistem pernapasan
Bentuk thorax normal, tidak tampak ada retraksi intercostal, vocal premitus
merata di semua lapang paru, perkusi terdengar sonor, auskultasi terdengar
vesikular
d. Sistem kardiovaskuler

Auskultasi tidak terdengar murmur

20
e. Sistem urinaria

Ibu S BAK 2-3 kali sehari, tidak sakit saat BAK dan lancar.

f. Sistem muskulosceletal

Kedua kaki Ibu S tampak sejajar dan sama besar dan panjang. Tidak tampak
adanya kifosis dan scoliosis. Kemampuan mengubah posisi baik, kekuatan otot
tangan pada saat meremas agak lemah.
g. Sistem syaraf pusat

• Nervus I (Olfactorius) : Ibu S dapat membedakan bau dari minyak kayu putih
dan minyak wangi/parfum.
• Nervus II (Opticus) : Ibu S sudah tidak dapat melihat jauh tulisan, orang dan
benda-benda yang kecil, tapi Ibu S tidak menggunakan bantuan kacamata.
• Nervus III, IV, V (Oculomotoris, Trochlearis, Abdusen)

• Nervus V (Trigeminus) : Sensasi sensorik kulit wajah klien baik, dapat


merasakan goresan kapas pada pipi kanan.
• Nervus VII (Facialis) : Ibu S dapat, menggerakan alis dan mengerutkan dahi

• Nervus VIII (Vestibulococlear) : Fungsi keseimbangan baik

• Nervus IX, X (Glasopharingeus, Vagus) : Reflek menelan baik

• Nervus XI (Accesorius) : Ibu S dapat menggerakkan kedua bahunya dan


menggerakkan kepalanya
• Nervus XII : Ibu S dapat berbicara dengan jelas dan lidah berfungsi baik

h. Sistem endokrin

Ibu S mengatakan tidak mempunyai penyakit gula dan gondok.

i. Sistem reproduksi

Ibu S mengatakan belum menikah

j. Sistem integument

Kulit tampak keriput, warna kulit sawo matang, tidak tampak ada lesi, elastisitas
kulit berkuang.
7. Pengkajian Psikososial & Spiritual
a.Psikososial

21
Ibu S mengatakan dapat bersosialisasi dengan penghuni panti lainnya, karena
dengan bersosialisasi dapat membina hubungan yang baik dengan orang lain.
Status emosi Ibu S stabil dan kooperatif saat diajak bicara.

b.Spiritual

Ibu S mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Ibu


S memasrahkan semuanya pada Allah SWT. 8. Pengkajian Fungsional
Klien

Ibu S dapat beraktivitas secara mandiri tanpa pengawasan, pengarahan, atau


bantuan aktif dari orang lain.

b. Barthel index

No. Kegiatan Dengan Bantuan Mandiri


1. Makan/Minum 0 10
2. Berpindah dari kursi roda
0 15
ke tempat tidur/sebaliknya
3. Kebersihan diri (cuci muka,
gosok gigi, menyisir 0 5
rambut)
4 Keluara masuk kamar 0 10

22
Jumlah skor 100 = mandiri

Jumlah skor 50-95 = ketergantungan sebagian

Jumlah skor kurang dari 45 = ketergantungan total

9. Pengkajian Status Mental

Short Portable Mental Status Questioner (SPSMQ)

23
1. Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh

2. Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan


3. Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang 4. Salah 9-10 : kerusakan
intelektual berat
10. Pengkajian Aspek Kognitif Dari Fungsi Mental

No Aspek Kognitif Nilai Klien Kriteria

.
1. Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar R Tahun R

Musim R Tanggal R Hari R


Bulan
2. Orientasi 5 Menyebutkan dengan benar R Negara

Indonesia R Propinsi Jabar R Kota Bogor

R Panti Sukma Raharja


3. Registrasi 5 Pemeriksa mengatakan nama 3 objek

selama 1 detik kemudian klien mengulang


nama objek tersebut R Objek meja R
Objek kursi R Objek lampu
4. Perhatian & 5 Minta klien untuk memulai dari angka 100
Kalkulasi kemudian dikurangi 7 sampai 5 tahap R
100 R 93 R 86 R 79 R 72
5. Mengingat 5 Minta klien untuk menyebutkan atau

mengulang ketiga objek pada no.2 R


Objek kursi R Objek gelas R Objek
sendok
6. Bahasa 9 Tunjukkan pada klien suatu benda (2 objek)

tanyakan namanya! R Objek R Objek


Minta klien untuk mengulang kata berikut:
R Tak ada jika R Dan atau R Tetapi (bila
benar nilai 1) Minta klien untuk mengikuti
perintah berikut: R Ambil kertas di tangan

24
anda R Lipat dua R Taruh di lantai
Perintahkan pada klien untuk hal berikut
(bila aktifitas sesuai perintah nilai 1 R

Tutup mata anda Perintahkan pada klien


menilai satu kalimat dan menyalin gambar:
R Tulis satu kalimat R Menyalin gambar
Total Nilai

Interpretasi hasil :
1. Nilai lebih dari 25 = aspek kognitif dan fungsi mental baik

2. Nilai 8-22 = kerusakan aspek fungsi mental ringan

3. Nilai kurang dari 17 = terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat 3.2
Analisa Data

25
No. Analisa Data Etiologi Masalah
1. DS: Arteri besar kehilangan
Ibu S mengatakan sakit kelenturannya dan
kepala menjadi kaku
Sakit kepalanya
berdenyut-denyut Pembuluh darah tidak

Kadang Ibu S merasakan dapat mengembang Nyeri kepala

ada yang kaku di


kuduknya. Pembuluh darah menjadi

DO: sempit
Peningkatan tekanan
Ibu S tampak sering
darah
memegangi kepalanya
TD :160/110 mmHg
Peningkatan tekanan
Nadi : 84 x/menit
vaskular serebral
o
Suhu : 36.6 C
Respirasi : 20 x/menit Nyeri kepala
2. DS: Hipertensi
Ibu S mengatakan
kurang tahu mengenai Kurang terpapar informasi Kurang pengetahuan
penyakit hipertensi tentang hipertensi tentang hipertensi
DO:
Ibu S tampak sering Kurang pengetahuan

bertanya tentang tentang hipertensi

penyakit tekanan darah


tinggi

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral.


2. Kurang pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan kurang terpapar
informasi tentang hipertensi.

26
BAB 4 PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai perbandingan antara teori dan kasus nyata
Asuhan keperawatan pada lansia dengan hipertensi. Ditinjau dari data pengkajian antara
kasus nyata dan teori memiliki kesamaan mulai dari mengkaji data umum, keadaan
yang dialami oleh pasien, sampai dengan penyebab pasien masuk ke rumah sakit. Hal
tesebut bertujuan untuk memudahkan tenaga medis merencanakan tindakan yang akan
dilakukan untuk pasien.

Ditinjau dari diagnosa keperawatan antara teori dan kasus nyata memiliki
kesenjangan yaitu pada kasus nyata tidak muncul diagnosa keperawatan intoleransi
aktivitas dikarenakan pasien tidak mengalami keterbatasan dalam aktivitas meskipun
kepalanya sakit namun pasien dapat melakukan aktivitas sehari sehari secara mandiri.
Intervensi yang paling utama teori untuk diagnosa hipertensi antara lain
tindakan yang paling utama dalam teori yaitu masalah Nyeri berhubungan dengan
peningkatan tekanan vascular Cerebral perlu ditangani terlebih dahulu supaya tidak
terjadi komplikasi yang semakin parah. Intervensinya antara lain Mempertahankan tirah
baring selama fase akut, Berikan tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit
kepala, (misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang,
redupkan lampu kamar, tekhnik relaksasi), Hilangkan atau minimalkan aktivitas fase
kontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, (misalnya mengejam saat bab, batuk
panjang, membungkuk). Pada kasus nyata intervensi yang dilakukan antara lain untuk
diagnosa keperawatan Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular
serebral intervensi yang dapat dilakukan antara lain Kompres hangat pada dahi,
Anjurkan meminimalkan aktivitas yang dapat meningkatkan sakit kepala: (mengejan
saat BAB, batuk panjang, membungkuk), Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan
relaksasi, Menurunkan tekanan vaskular serebral dan memperlambat respon simpatis
efektif dalam menghilangkan sakit kepala, Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi
menyebabkan sakit kepala, Observasi nyeri , Kolaborasi: pemberian analgetik atau
penurun tekanan darah. Diagnosa Kurang pengetahuan tentang hipertensi berhubungan
dengan kurang terpapar informasi tentang hipertensi intervensi keperawatan yang dapat
dilakukan antara lain Kaji tingkat pengetahuan klien, Berikan pendidikan kesehatan
tentang cara mencegah dan mengatasi hipertensi, Memudahkan dalam menentukan
intervensi selajutnya, Evaluasi tingkat pengetahuan klien. Ditinjau dari intervensi
27
keperawatan dan implementasi antara kasus nyata dan teori tidak memiliki kesenjangan
karena intervensi pada kasus nyata sudah mencakup semua intrevensi yang ada pada
teori. Implementasi pada kasus nyata dan teori juga tidak memiliki kesenjangan yaitu
keduanya sama sama melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan tindakan
keperawatan yang sudah direncanakan.

Ditinjau dari evaluasi antara kasus nyata dan teori juga tidak memiliki
kesenjangan. Evaluasi pada kasus nyata yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2 hari pasien menunjukkan perubahan keadaan menjadi membaik, yaitu antara
lain : Ibu S mengatakan sakit kepalanya berkurang, Ibu S mengatakan hipertensi adalah
penyakit tekanan darah tinggi yang dapat disebabkan oleh makanan yang mengandung
banyak Garam dan Stress fikiran, Ibu S tampak mengerti mengenai faktor penyebab
hipertensi, hasil TTV TD :150/110 mmHgNadi : 84 x/menit.
.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Simpulan

Hipertensi adalah jika tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan
diastolik lebih dari 90 mmHg. Gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan.

28
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah
keperawatan hipertensi didapatkan dua diagnosa antara lain Nyeri kepala berhubungan
dengan peningkatan tekanan vaskular serebral, Kurang pengetahuan tentang hipertensi
berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang hipertensi.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari Ny.S menunjukkan
perubahan keadaan menjadi membaik, antara lain : Ibu S mengatakan sakit kepalanya
berkurang, Ibu S tampak mengerti mengenai faktor penyebab hipertensi, hasil TTV
dalam batas normal. Berdasarkan keadaan pasien tersebut pasein masih dalam proses
pengobatan dan belum dianjurkan oleh dokter untuk pulang.

5.2 Saran

1.Saran untuk perawat dalam menangani hipertensi pada lansia yaitu segera melakukan
tindakan keperawatan yang tepat dan intensive agar tidak terjadi hal hal yang tidak
diinginkan atau terjadi komplikasi yang membuat keadaan pasien semakin memburuk.
2.Saran untuk keluarga dalam menangani hipertensi pada lansia saat dirumah sebaiknya
melakukan tindakan yang dapat dilakukan sendiri untuk mencegah terjadinya
peningkatan tekanan darah misalkan dengan menghindari komsumsi makanan yang
mengandung banyak garam.
3.Saran untuk mahasiswa dalam mengatasi masalah hipertensi pada lansia sebaiknya
mahasiswa dapat memberikan tindakan keperawatan yang tepat serta dapat melakukan
penyuluhan terhadap masyrakat tentang cara menghindari hipertensi yang mudah
dimengerti oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth (ed.8, vol.2), Terjemahan oleh Agung Waluyo, (et,all), EGC :
Jakarta
Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa oleh
Monica Ester, (Ed.8),EGC,Jakarta
Doenges., 2003. Rencana Asuhan Keperawatan.EGC. Jakarta

29
Fatimah.,2010.Merawat manusia Lanjut usia.Trans Info media.Jakarta

Ma’rifatul Lilik Azizah.,2011.Keperawatan lanjut usia.Graha ilmu.Jogjakarta

Nugroho, Wahyudi SKM, 2000, Keperawatan Gerontik (edisi 2), penerit buku
Kedokteran EGC : Jakarta.

30