Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM FISIKA DASAR I

PERCOBAAN GAYA GESEK


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Praktikum Fisika Dasar I
Yang dibimbing oleh Bapak Reyza

Disusun oleh :
Nama : Nur Rizka Faridhatul Qhusna
NIM : 190321624058
Kelas/Offering :C
Kelompok :4

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Oktober 2019
PERCOBAAN GAYA GESEK

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum gaya gesek ini adalah untuk menentukan koefisisen
gesek kinetik pada suatu bidang datar. Diharapkan mahasiswa mampu memahami
metode grafik dan mampu menerapkannya pada percobaan gaya gesek dengan baik
dan benar. Mahasiswa juga diharapkan mampu menyesuaikan persamaan pada
grafik garis lurus dengan persamaan modifikasi yang tersedia. Selain itu mahasiswa
juga diharapkan mampu mengembangkan pola pikir tentang hubungan antara massa
beban terhadap waktu serta mampu menggambarkannya dalam bentuk grafik
hubungan dengan baik dan benar. Mahasiswa diharapkan terampil dalam
menggunakan alat-alat praktikum dan merangkainya dengan benar untuk
meminimalisir kesalahan dalam percobaan.

B. LATAR BELAKANG
Gaya gesek adalah suatu gaya yang akan bekerja pada permukaan atau
lintasan benda yang saling bersentuhan meskipun benda tersebut memiliki
permukaan yang sangat licin. Sebenarnya, benda yang mempunyai permukaan yang
sangat licinpun sangat kasar pada skala mikroskopis. Ketika benda tersebut
bergerak benjolan-benjolan mikroskopis ini mengganggu atau dengan kata lain
menghambat gerak benda tersebut. Pada tingkatan terkecil yakni atom sebuah
tonjolan yang terdapat pada permukaan benda menyebabkan atom-atom tersebut
sangat dekat dengan permukaan yang lainnya, sehingga dengan sangat dekatnya
atom tersebut maka akan timbul beberapa gaya listrik di antara atom tersebut dan
membentuk sebuah ikatan kimia sebagai pengubung di antara permukaan benda
satu dengan yang lain yang bergerak bersentuhan atau bergesekan, baik pada suatu
permukaan benda padat ataupun pada media yang kental seperti benda berinteraksi
dengan lingkungannya. Bisa disebut kekuatan yang melawan ini dengan gaya
gesek. Gaya gesek bersifak mengurangi usaha, artinya semakin besar gaya gesek
maka pengurangan usaha juga akan besar dengan kata lain adalah semaik cepat
terhenti.
Gaya gesek dibagi menjadi 2 jenis, antara 2 benda yang padat dan saling
tegak lurus yaitu gaya gesek statis dan juga gaya gesek kinetis. Yang
membedakannya adalah antara titip-titik sentuhan antara dua permukaannya yang
tetap atau saling berganti. Keberadaan gaya gesekan (𝑓𝑔 ) dapat bermakna gaya
gesek statis (𝑓𝑔𝑠 ) bila massa benda atau massa beban belum bergerak, dan juga
dapat bermakna sebagai gaya gesekan kinetis (π‘“π‘”π‘˜ ) apabia massa beban atau massa
benda sudah atau mulai bergerak. Gaya gesek selalu memiliki arah yang
berlawanan terhadap arah gerak benda. Besar gaya gesek ini pun tergantung pada
tekstur permukaan benda, semakin kasar permukaan benda tersebut maka semakin
besar nilai gaya geseknya dan akan lebih menghambat kerja gaya luar yang pada
benda dan juga sebaliknya. Lebih tepatnya tingkat kekasaran tersebut
mempengaruhi nilai koefisien gesekan baik koefisien gesek statis (πœ‡π‘  ) maupun
koefisien gesek kinetis (πœ‡π‘˜ ), sehingga ketika gaya normal oleh lantai terhadap
benda adalah N, pernyataan diatas dapat dituliskan :

Gaya gesek statis terjadi apabila 𝐹 ≀ 𝑓𝑠

𝑓𝑠 = πœ‡π‘  𝑁

Gaya gesek yang kedua yaitu gaya gesek kinetik, gaya gesek kinetik adalah
gaya gesek yang terjadi pada saat benda bergerak. Gaya gesek kinetik terjadi
apabila 𝐹 > 𝑓𝑠

π‘“π‘˜ = πœ‡π‘˜ 𝑁

Berdasarkan Hukum II Newton, persamaan gerak sistem dapat dinyatakan


dengan persamaan: (m1 + m2) = m2g - πœ‡m1g ...........(1)

Sistem (balok + beban) awalnya diam, dan setelah bergerak dalam selang
waktu t beban bergerak menenmpuh jarak vertikal (H). Maka berdasarkan GLBB
(dipercepat), besar percepatan sistem dinyatakan :

2𝐻
a= ...................(2)
𝑑2

Dengan memasukkan persamaan 2 ke dalam persamaan 1, kemudian tiap


tiap suku dibagi dengan faktor (m1,m2,g), maka diperoleh:
1 1 2β„Ž 1 1
[π‘š + π‘š ] 𝑔𝑑 2 = m1 βˆ’ πœ‡ k m2 ....................(3)
1 2

Tampak pada persamaan 3 yang setara dengan persamaan garis lurus :

y = A + Bx ..................(4)

dengan

1 1 2β„Ž 1 1
y =[π‘š + π‘š ] 𝑔𝑑 2 ; A = m1 ; B = πœ‡ k dan x = ............(5)
1 2 βˆ’m2

Sehingga koefisien gaya gesekan kinetis (πœ‡ k ) dapat ditentukan dengan


menggunakan kuadrat terkecil.

Dengan menerapkan konsep gaya gesek yang dialami sehari-hari, tentu


lebih mudah bagi kita untuk mengenal konsep gaya gesek ini lebih dalam dan lebih
luas. Maka dari itu, pada praktikum ini kita akan belajar bagaimanakah pengaruh
besar massa beban yang terpasang ke dalam sistem percobaan terhadap waktu yang
diperlukan hingga benda sampai menyentuh permukaan lantai.

C. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum ini adalah set luncur
yang digunakan untuk tempat mika penggesek meluncur, mika penggesek yang
digunakan sebagai alat yang akan ditarik oleh beban, benang yang digunakan untuk
menghubungkan mika penggesek dengan beban, katrol yang berfungsi untuk
membuat beban bergerak ke bawah, sedangkan apabila tidak ada katrol maka
benang akan menyangkut pada set luncur karena tidak ada faktor menyebabkan
benang itu bergerak, lalu penyangga papan yang digunakan untuk menyangga set
luncur agar posisinya rata lantai, mistar yang digunakan untuk mengukur ketinggian
beban dan panjang set luncur, stopwatch yang digunakan untuk mengukur waktu
ketika benda mulai bergerak jatuh, neraca yang digunakan untuk mengukur massa
mika penggesek dan untuk mengukur beban, beban yang digunakan untuk pemberat
agar mika penggesek dapat meluncur pada set luncur, dan yang terakhir adalah
guntung yang digunakan untuk memotong benang.
D. PROSEDUR PERCOBAAN

Langkah pertama untuk melakukan praktikum gaya gesek yaitu dengan


menyusun set alat percobaan dengan benar seperti pada gambar diatas. Kemudian
memotong benang dengan panjang sesuai dengan keinginan untuk praktikum.
Selanjutnya menimbang massa mika penggesek dengan neraca dan catat pada tabel
pengamatan. Mika penggesek diletakkan di atas set luncur atau papan luncur lalu
pasang benang yang menghubungkan dengan beban. Selanjutnya adalah memilih
beban yang akan digunakan dalam percobaan dan menimbang massanya dengan
neraca kemudian pasang beban pada tali. Beban yang digunakan dapat harus dapat
menyebabkan sistem bergerak. Sebelum melakukan pengukuran tahan mika
penggesek dan mika penggesek diletakkan pada angka 10 cm. Langkah selanjutnya
adalah mengukur ketinggian beban dari lantai hingga pusat beban menggunakan
mistar lalu mencatatnya pada tabel pengamatan. Setelah itu mika penggesek
dilepaskan dan pada saat yang sama mulai aktifkan stopwatch untuk mengukur
selang waktu hingga beban mengenai permukaan lantai. Lakukan hal tersebut
hingga kita dapat memperoleh sesuai banyaknya data yang dibutuhkan. Untuk
analisis data dari percobaan kali ini adalah terlebih dahulu mencari data terhitung
1 1 1 2𝐻
yaitu x dan y dengan rumus π‘₯ = βˆ’ π‘š ; 𝑦 = (π‘š + π‘š ) 𝑔𝑑 2
2 1 2

Kemudian dengan menerapkan metode kuadrat terkecil, ralat relatif serta


metode grafik, maka kita akan mampu menentukan nilai koefisien gaya gesek
kinetis yang bekerja pada benda.
E. DATA PENGAMATAN

Data Pengukuran Data Terhitung


Jarak Vertikal
No. Massa Waktu
Beban ke Lantai X Y
Beban (g) Tempuh (s)
(cm)
1 55 68 1,83 -0,0182 0,1313
2 60 68 1,05 -0,0167 0,3801
3 70 68 0,78 -0,0143 0,6355
4 80 68 0,60 -0,0125 1,0066
5 90 68 0,55 -0,0111 1,1355
6 110 68 0,52 -0,0091 1,1689
7 140 68 0,46 -0,0071 1,3682
8 160 68 0,31 -0,0063 2,8862
9 180 68 0,25 -0,0056 4,2867
10 225 68 0,21 -0,0044 5,7326
Keterangan:

1. Massa mika balok (mika penggesek) = 70,7 gram


Nst = 0,1 gram
2. Panjang papan = 180 cm
Nst = 0,1 cm

F. ANALISIS DATA
Analisis data pada praktikum gaya gesek menggunakan teori kuadrat
terkecil dan teori grafik. Untuk mendapatkan nilai X dan Y yaitu menggunakan
rumus sebagi berikut :
1 1 1 2𝐻
x= dan y = +
βˆ’m2 m1 m2 gt2
Hasil perhitungannya yaitu:

a. Massa beban 55 g
1 1 1 2(68)
x= = -0,0182 ; y = [ + ] = 0,1313
βˆ’55 70,7 55 10.(1,83)2

b. Massa beban 60 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0167 ; y = [ + ] = 0,3801
βˆ’60 70,7 60 10.(1,05)2

c. Massa beban 70 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0143; y = [ + ] = 0,6355
βˆ’70 70,7 70 10.(0,78)2

d. Massa beban 80 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0125; y = [ + ] = 1,0066
βˆ’80 70,7 80 10.(0,60)2

e. Massa beban 90 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0111; y = [ + ] = 1,1355
βˆ’90 70,7 90 10.(0,55)2

f. Massa beban 110 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0091; y = [ + ] = 1,1689
βˆ’110 70,7 110 10.(0,52)2

g. Massa beban 140 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0071; y = [ + ] = 1,3682
βˆ’140 70,7 140 10.(0,46)2

h. Massa beban 160 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0063; y = [ + ] = 2,8862
βˆ’160 70,7 160 10.(0,31)2

i. Massa beban 180 g

1 1 1 2(68)
x= = -0,0056; y = [ + ] = 4,2867
βˆ’180 70,7 180 10.(0,25)2

j. Massa beban 225 g


1 1 1 2(68)
x= = -0,0044; y = [ + ] = 5,7326
βˆ’225 70,7 225 10.(0,21)2

Metode analisis kuadrat terkecil, ralat relatif dan teori grafik.

1 1 2𝐻 1 1
𝑦=( + ) 2= βˆ’ πœ‡π‘˜ ,
π‘š1 π‘š2 𝑔𝑑 π‘š1 π‘š2
dan diperoleh persamaan garis linier
1 1 1 1
𝑦 = 𝐴 + 𝐡π‘₯, dg 𝑦 = π‘š + π‘š ; 𝐴 = π‘š ; 𝐡 = πœ‡π‘˜ ; π‘₯ = βˆ’ π‘š
1 2 1 2

𝑛(Ζ©π‘₯𝑦)βˆ’(Ζ©π‘₯)(Ʃ𝑦) (βˆ‘π‘₯)(βˆ‘π‘₯ 2 )βˆ’(βˆ‘π‘₯)(βˆ‘π‘₯𝑦)


𝑦 = π‘Ž + 𝑏π‘₯, 𝑏= ,π‘Ž=
𝑛(Ζ©π‘₯ 2 )βˆ’(Ζ©π‘₯)2 𝑛 (βˆ‘π‘₯ 2 )βˆ’(βˆ‘π‘₯)2

1 (βˆ‘π‘₯ 2 )(βˆ‘π‘¦)2 βˆ’ 2 (βˆ‘π‘₯)(βˆ‘π‘₯𝑦)(βˆ‘π‘¦) + 𝑛(βˆ‘π‘₯𝑦)2


𝑆𝑦 = √ [βˆ‘π‘¦ 2 βˆ’ ]
π‘›βˆ’2 𝑛 (βˆ‘π‘₯ 2 ) βˆ’ (βˆ‘π‘₯)2

𝑛 βˆ‘π‘₯ 2
𝑆𝑏 = 𝑆𝑦 √ ; π‘†π‘Ž = 𝑆𝑦 √
𝑛 (βˆ‘π‘₯ 2 ) βˆ’ (βˆ‘π‘₯)2 𝑛 (βˆ‘π‘₯ 2 ) βˆ’ (βˆ‘π‘₯)2

𝑆𝑏 π‘†π‘Ž
𝑅𝑏 = Γ— 100% ; π‘…π‘Ž = Γ— 100%
𝑏 π‘Ž

1. Teori kuadrat terkecil


No x y x2 y2 xy
1 -0,0182 0,1313 0,00033124 0,01723969 -0,00238966
2 -0,0167 0,3801 0,00027889 0,14447601 -0,00634767
3 -0,0143 0,6355 0,00020449 0,40386025 -0,00908765
4 -0,0125 1,0066 0,00015625 1,01324356 -0,0125825
5 -0,0111 1,1355 0,00012321 1,28936025 -0,01260405
6 -0,0091 1,1689 0,00008281 1,36632721 -0,01063699
7 -0,0071 1,3682 0,00005041 1,87197124 -0,00971422
8 -0,0063 2,8862 0,00003969 8,33015044 -0,01818306
9 -0,0056 4,2867 0,00003136 18,37579689 -0,02400552
10 -0,0044 5,7326 0,00001936 32,86270276 -0,02522344
Ξ£ -0,1053 18,7316 0,00131771 65,6751283 -0,13077476
Ξ£2 0,01108809 350,87283856 0,000001736 4313,222477 0,017102037
3596441 221461 8530576

1 (𝛴π‘₯ 2 )(𝛴𝑦)2 βˆ’2(𝛴π‘₯)(𝛴π‘₯𝑦)(𝛴𝑦)+𝑛((𝛴π‘₯𝑦)2


ο‚· 𝑆𝑦 = βˆšπ‘›βˆ’2 [𝛴𝑦 2 βˆ’ ]
𝑛(𝛴π‘₯ 2 )βˆ’(𝛴π‘₯)2

𝑆𝑦

(0,00131771)(350,87283856)
√ 1 βˆ’2(βˆ’0,1053)(βˆ’0,13077476)(18,7316) + 10(0,0171020378530576)
= [65,6751283 βˆ’ ]
10 βˆ’ 2 10(0,00131771) βˆ’ (0,01108809)

𝑆𝑦

1 0,4623486480988976 βˆ’ 0,5158900761240096 + 0,171020378530576


= √ [65,6751283 βˆ’ ]
8 0,00208901

1 0,117478950505464
𝑆𝑦 = √ [65,6751283 βˆ’ ]
8 0,00208901

1
𝑆𝑦 = √8 [65,6751283 βˆ’ 56,23666258441271]

1
𝑆𝑦 = √ [9,43846571558729]
8

𝑆𝑦 = √1,179808214448411

𝑆𝑦 = 1,086189769077398

𝑆𝑦 = 1,09 (3AP)

(Ξ£y) (Ξ£π‘₯ 2 ) – (Ξ£x) (Ξ£xy)


ο‚· π‘Ž= 𝑛(Ξ£π‘₯ 2 ) – (Ξ£π‘₯)2
(18,7316) (0,00131771) – (βˆ’0,1053) (βˆ’0,13077476)
π‘Ž= 10(0,00131771)βˆ’(0,01108809)

0,024682816636 – 0,013770582228
π‘Ž= 0,00208901

π‘Ž = 5,223639143900699
(Ξ£π‘₯ 2 )
ο‚· π‘†π‘Ž = π‘†π‘¦βˆšπ‘›(Ξ£π‘₯ 2 )βˆ’(Ξ£π‘₯)2

0,00131771
π‘†π‘Ž = 1,086189769077398√10(0,00131771)βˆ’(0,021025)

π‘†π‘Ž = 1,086189769077398√0,6307820450835563

π‘†π‘Ž = 0,8626713385271055

π‘†π‘Ž
Ralat relatif = Γ— 100%
π‘Ž

0,8626713385271055
= Γ— 100%
5,223639143900699

= 16,51476%

= 17% (2AP)

n(Ξ£xy) βˆ’ (Ξ£π‘₯)(Ξ£y)
𝑏 =
𝑛(Ξ£π‘₯ 2 ) – (Ξ£π‘₯)2

10(βˆ’0,13077476)βˆ’ (βˆ’0,1053)(18,7316)
𝑏 = 10(0,00131771)βˆ’(0,01108809)

0,66468988
𝑏 = 0,00208901

𝑏 = 318,1841542165906

𝑛
ο‚· 𝑆𝑏 = π‘†π‘¦βˆš
𝑛(Ξ£π‘₯ 2 )βˆ’(Ξ£π‘₯)2

10
𝑆𝑏 = 1,086189769077398 √10(0,00131771)βˆ’(0,01108809)

𝑆𝑏 = 1,086189769077398 √4786,956500926276
𝑆𝑏 = (1,086189769077398)(69,1878349200658)
𝑆𝑏 = 75,1511184347914
𝑆𝑏
Ralat relatif = Γ— 100%
𝑏
75,1511184347914
= 318,1841542165906 Γ— 100%

= 23,6187%
= 24% (2AP)

Dari analisis dapat diperoleh persamaan y = 5,22π‘₯+318,2 . apabila


diketahui b = πœ‡π‘˜ maka dapat disimpulkan bahwa koefisien gesek kinetisnya adalah
(3,2 Β± 0,75) 102 dengan ralat relatif sebesar 24%. (2 AP)

2. Teori Grafik
Grafik hubungan antara massa beban dengan waktu tempuh
No x y
1 55 1,83
2 60 1,05
3 70 0,78
4 80 0,60
5 90 0,55
6 110 0,52
7 140 0,46
8 160 0,31
9 180 0,25
10 225 0,21

60βˆ’50 10
X= = =1
10 10

0,7βˆ’0,6 0,1
Y= = = 0,01
10 10

ο‚· βˆ†π‘₯0 = 53 Γ— 1 = 53

βˆ†π‘¦0 = 49 Γ— 0,01 = 0,49

βˆ†π‘₯0 53
𝑏0 = = 0,49 = 108,16
βˆ†π‘¦0
ο‚· βˆ†π‘₯1 = 18 Γ— 1 = 18

βˆ†π‘¦1 = 19 Γ— 0,01 = 0,19

βˆ†π‘₯1 18
𝑏1 = = 0,19 = 94,74
βˆ†π‘¦

ο‚· βˆ†π‘₯2 = 22 Γ— 1 = 22

βˆ†π‘¦2 = 23 Γ— 0,01 = 0,23

βˆ†π‘₯2 22
𝑏2 = =0,23 = 95,65
βˆ†π‘¦2

ο‚· βˆ†π‘1 = |𝑏0 βˆ’ 𝑏1 |

= |108,16 βˆ’ 94,74|

=13,42

ο‚· βˆ†π‘2 = |𝑏0 βˆ’ 𝑏2 |

= |108,16 βˆ’ 95,65|

= 12,51

βˆ†π‘1 +βˆ†π‘2
ο‚· βˆ†π‘ = | |
2

13,42+12,51
=| |
2

= 12,965

βˆ†b
Ralat relatif = b Γ— 100%
0

12,965
= 108,16 Γ— 100%

= 12% (2AP)

Jadi nilai 𝑏 = πœ‡π‘˜ = (1,1 Β± 0,13)102 dengan ralat relatif sebesar 12% (2𝐴𝑃)
G. PEMBAHASAN

Gaya yang bekerja pada permukaan benda padat yang saling bersentuhan
satu sama lain dan menghambat gerak benda disebut gaya gesek. Percobaan gaya
gesek menganut hukum II Newton yang menyatakan bahwa resultan gaya yang
bekerja pada benda sebanding/berbanding lurus dengan massa dan percepatan
benda. Agar berat beban mengalami percepatan a nilai mg harus lebih besar
daripada π‘“π‘˜ . Ketika benda diam artinya tidak ada resultan gaya atas benda tersebut
Ʃ𝐹⃗ = 0. Gaya gesek pada benda sebanding dengan gaya normal, hal ini dapat
dibuktikan dengan rumusan ketika benda tersebut diam hingga tepat sampai akan
bergerak maka 𝑓𝑠 = πœ‡π‘  𝑁, dan saat benda tersebut bergerak π‘“π‘˜ = πœ‡π‘˜ 𝑁. Dan tetapan
pembanding yang digunakan antara gaya gesek dengan gaya normal disebut
koefisien gesek statis (πœ‡π‘  ). Gaya normal sendiri merupakan gaya yang bekerja pada
obyek yang arahnya tegak lurus dengan arah gerak benda tersebut. Contohnya saat
kita berdiri di atas tanah, kita tidak akan terjatuh atau goyah karena kita mendapat
gaya gravitasi dan gaya normal bekerja pada kita sehingga kita tidak terjatuh.

Jika permukaan papan cukup kasar maka persamaannya saat diam hingga
tepat akan bergerak 𝐹𝑠 = πœ‡π‘  𝑁, dan saat bergerak πΉπ‘˜ = πœ‡π‘˜ 𝑁. Dan karena N
mempunyai komponen masa dan percepatan gravitasi maka besaran yang terdapat
pada persamaan di atas antara lain adalah gaya, massa dan percepatan gravitasi.
Nilai W (berat beban) lebih kecil daripada gaya gesek kinetisnya (π‘“π‘˜ ) saat sitem
diam.

Pada percobaan gaya gesek yang dilakukan kali ini salah satu tujuannya
adalah untuk mengetahui hubungan antara waktu (t) dengan massa beban (m) yang
divariasikan dan juga mempunyai tujuan untuk mengetahui koefisien gaya gesek.
Dalam percobaan ini yang disebut adalah koefisien gaya gesek kinetis karena mika
tersebut bergerak dan tidak diam. Pada praktikum ini menggunakan teori ralat
kuarcil atau kuadrat terkecil, teori ralat relatif serta teori grafik yang nantinya akan
membantu menentukan seberapa relevannya hasil perhitungan dari praktikum ini.
Sebelum membuat grafik tentu memerlukan nilai x dan y. Nilai tersebut diperoleh
dari persamaan :

1 1 1 2𝐻
π‘₯ = βˆ’π‘š ; y =(π‘š + π‘š ) 𝑔𝑑
2 1 2

Dari rumus tersebut π‘š1 sebagai massa balok/mika, π‘š2 sebagai massa beban


yang divariasi, H sebagai jarak antara massa beban terhadap permukaan lantai, g
sebagai percepatan gravitasi, serta t sebagai waktu yang diperlukan massa beban
untuk sampai menyentuh permukaan lantai. Maka diperoleh nilai π‘₯ dan 𝑦 yaitu pada
1
percobaan 1 massa beban 55 g dan diperoleh nilai x = = -0,0182 ; y =
βˆ’55
1 1 2(68)
[ + ] = 0,1313, percobaan 2 massa beban 60 g dan diperoleh
70,7 55 10.(1,83)2
1 1 1 2(68)
nilai x = = -0,0167 ; y = [ + ] = 0,3801, percobaan 3
βˆ’60 70,7 60 10.(1,05)2
1 1 1
massa beban 70 g dan diperoleh nilai x = = -0,0143; y = [ + ]
βˆ’70 70,7 70
2(68) 1
= 0,6355, percobaan 4 massa beban 80 g dan diperoleh nilai x = =-
10.(0,78)2 βˆ’80
1 1 2(68)
0,0125; y = [ + ] = 1,0066, percobaan 5 massa beban 90 g
70,7 80 10.(0,60)2
1 1 1 2(68)
dan diperoleh nilia x = = -0,0111; y = [ + ] = 1,1355,
βˆ’90 70,7 90 10.(0,55)2
1
percobaan 6 massa beban 110 g dan diperoleh nilai x = = -0,0091; y =
βˆ’110
1 1 2(68)
[ + ] = 1,1689, percobaan 7 massa beban 140 g dan diperoleh
70,7 110 10.(0,52)2
1 1 1 2(68)
nilai x = = -0,0071; y = [ + ] = 1,3682, percobaan 8
βˆ’140 70,7 140 10.(0,46)2
1 1 1
massa beban 160 g diperoleh nilai x = = -0,0063; y = [ + ]
βˆ’160 70,7 160
2(68) 1
= 2,8862, percobaan 9 massa beban 180 g dan diperoleh nilai x = =
10.(0,31)2 βˆ’180
1 1 2(68)
-0,0056; y = [ + ] = 4,2867, percobaan 10 massa beban 225
70,7 180 10.(0,25)2
1 1 1 2(68)
g dan diperoleh nilai x = = -0,0044; y= [ + ] = 5,7326.
βˆ’225 70,7 225 10.(0,21)2

Pada analisis data di atas dengan menggunakan metode kuadrat terkecil


telah diketahui bahwa koefisien gaya gesek kinetis (¡𝐾 ) 𝑏 = (3,2 Β± 0,75) 102
dengan ralat relatif sebesar 24%. (2 AP). Sedangkan dengan menggunakan metode
grafik didapatkan nilai b= ¡𝐾 = (1,1 ± 0,13)102 dengan ralat relatif sebesar
12% (2𝐴𝑃).

Dengan adanya ralat yang relatif besar pada metode grafik di atas, terdapat
beberapa kesalahan saat melakukan praktikum diantaranya adalah kurang teliti
dalam melakukan pengukuran waktu menggunakan stopwatch dan karena set
luncur yang beberapa waktu tidak digunakan maka memungkinkan debu menempel
pada set luncur yang menyebabkan set luncur berpenghambat dan mika penggesek
tidak bisa meluncur sebagaimana mestinya. Selanjutnya, bentuk grafik yang
semestinya berupa garis lurus atau linier dalam gambar tersebut kurang sempurna
karena kemungkinan beberapa faktor yaitu kurang teliti dalam menghitung nilai x
dan y, terlalu besar dalam membulatkan angka serta kurang teliti dalam
penggambaran.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di atas, maka diperoleh hasil
dengan menggunakan metode kuadrat terkecil diketahui bahwa koefisien gaya
gesek kinetis (¡𝐾 ) 𝑏 = (3,2 Β± 0,75) 102 dengan ralat relatif sebesar 24%. (2 AP).
Sedangkan dengan menggunakan metode grafik didapatkan nilai b= ¡𝐾 =
(1,1 Β± 0,13)102 dengan ralat relatif sebesar 12% (2𝐴𝑃). Maka dapat disimpulkan
kita sudah mam pu nemerapkan metode grafik dan kuadrat terkecil dengan cukup
baik.

Dari percobaan yang telah dilakukan juga didapat suatu kesimpulan


mengenai hubungan berat massa beban terhadap waktu tempuh massa tersebut
sampai menyentuh permukaan lantai yaitu adalah hubungan berbanding terbalik,
artinya semakin besar berat massa beban yang dipasang pada sistem maka akan
semakin sedikit waktu yang dibutuhkan massa beban tersebut untuk menyentuh
permukaan lantai. Dan massa balok atau dalam hal ini mika penggesek tidak
mempengaruhi koefisien gaya gesek.

Maka dapat disimpulka bahwa semua telah sesuai dengan tujuan dari
percobaan ini yaitu kita mampu menentukan nilai koefisien gaya gesek yang terjadi
pada benda dengan menggunakan metode kuadrat terkecil. Selain itu kita juga
menerapkan metode grafik dengan menyesuaikan antara persamaan pada grafik
garis lurus dengan persamaan modifikasi yang sudah ada. Kita juga mampu
mengembangkan mindset bahwa kita belajar hubungan antara massa beban
terhadap waktu. Serta kita sudah mampu merancang set alat ukur dengan baik untuk
pelaksanaan percobaan gaya gesek.

I. RUJUKAN

Halliday, Resnick, & Walker. 2010. Fisika Dasar Edisi 7 Jilid 1. Jakarta :
Penerbit Erlangga

Serway, Raymond A., & Jewett, John W.. 2014. Physics for Scientist and
Engineers with Modern Physics, Ninth Edition.USA: Brooks/Cole.

Serway, Jewet. 2010. Physics for Scientists and Engineers with Modern Physics.
USA. Brooks/Cole 20 Davis Drive Belmont, CA 94002-3098.

Konrad B. Krauskopi, Arthur Beiser. 1967. The Physical Universe. USA. McGrow-
Hill, Inc.

Marthen Kanginan. 1997. Fisika SMU. Jakarta. Erlangga

Randal D. Knight. 2004. Physics for Scientists and Engineers. San Luis Obispo.
California Polytechnic State University.

Anda mungkin juga menyukai