Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

(Seluk Beluk Pengauditan dan Peran SPKN Dalam


Audit Sektor Publik)

Disusun Oleh :

RISDA SIPAYUNG ( 160301069 )


ORYZA SATIVA ( 160301051 )
VERA YURIKE ( 160301191 )
Dosen Pengampu : Muhammad Ahyaruddin, SE.,M.Sc.,Ak

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS


MUHAMMADIYAH RIAU
TP: 2017 / 2018

1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 2
Latar Belakang ........................................................................................................ 3
Rumusan Masalah .................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 4
2.1 Perbedaan Pengawasan dan Pemeriksaan (Pengauditan) ............................... 4
2.2 Jenis-Jenis Audit Sektor Publik ......................................................................... 4
2.3 Pendekatan-Pendekatan Dalam Audit Sektor Publik ........................................ 5
2.4 Proses Audit Dalam Sektor Publik .................................................................... 5
2.5 Peran dan Fungsi Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) ............... 6
2.6 Isu dan Tantangan Dalam Audit Di Pemerintahan Indonesia …………………..6
BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 7
3.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 7
Daftar Pustaka .......................................................................................................... 8

2
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Didalam ringkasan ini kita akan membahas tentang seluk beluk pengauditan
dan peran SPKN dalam audit di Pemerintahan Indonesia sekaligus memahami
fungsi BPK, BPKP, dan Inspektorat di Pemerintahan Indonesia. DiIndonesia
lembaga yang bertugas untuk melaksanakan akuntabilitas dan transparasi keaungan
negara adalah BPK. Sesuai dengan mandat yang diberikan, BPK-RI memiliki
kewenangan dalam melakukan tigas jenis pemeriksaan yakni pemeriksaan
keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Untuk
dapat menghasilkan audit yang baik BPK-RI harus memiliki sebuah standar
pemeriksaan yang baik pula. Sesuai dengan Pasal 9 (1e) UU Nomor 15 Tahun 2006
Tentang BPK,BPK-RI memiliki kewenangan untuk menetapkan standar pemeriksaan
keuangan negara setelah konsultasi dengan pemerintah pusat atau daerah yang
wajib digunakan dalam pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara. Berdasarkan peraturan tersebut, pada bulan Januari 2007, BPK-RI telah
menerbitkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) sebagai patokan
dalam melakukan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara.
Pada sebuah negara pasti memiliki sebuah masalah baik yang berasal dari
alam maupun masalah dari pengelola atau masyarakat yang berada pada negara
tersebut, namun pada dasarnya hampir setiap negara di dunia ini memiliki tujuan
yangsama, yakni untuk meningkatkan kesejahteraan, melindungi, dan memenuhi
kebutuhan masyarakatnya. Tujuan negara pada umumnya telah dirumuskan di
dalam konstitusi negara. Di Indonesia, tujuan negara tertuang dalam Pembukaan
UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dll. Semakin rumitnya masalah yang
menuntut pemerintah untuk membuat suatu badan atau organisasi yang bertujuan
untuk mencegah terjadinya hal-hal yag tidak diinginkan terbukti pada terbentuknya
BPK,BPKP dan Inspektorat di Pemerintah Indonesia, yang akan dibahas pada
ringkasan ini agar kita semua tahu bagaimana dan apa saja peranan yang diemban
oleh mereka.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERBEDAAN PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN (PENGAUDITAN)


Secara konsepsional, pelaksanaan pemeriksaan APBN/APBD sangat berbeda dari
aspek pengawasan. Istilah pemeriksaan (auditing) adalah sebuah istilah teknis
professional. Oleh karena itu, secara teknis professional, pemeriksaan APBN/APBD
hanya dapat dilakukan oleh instituisi yang memiliki wewenang dan keahlian untuk
melakukan audit. Sedangkan berbagai cara yang dilakukan oleh pihak-pihak lain
sehubungan dengan pelaksanaan fungsi pengawasan dari pimpinan, pemeriksan
keuangan secara internal, tidak bisa lepas dari keharusan untuk melakukan
pengawasan, yaitu membandingkan hasil yang seharusnya terjadi dengan yang
benar-benar terjadi.

2.2 JENIS-JENIS AUDIT SEKTOR PUBLIK


1. Audit Keuangan
Merupakan audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan pengendalian
keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi
serta dicatatsecara benar. Audit keuangan dibagi menjadi dua yaitu audit audit atas
laporan keuangan dan audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan.
2. Audit Kinerja
Merupakan perluasan audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Menurut
SKPN, audit kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang
terdiri atas aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
3. Audit Ekonomi dan Efisiensi
Ini bertujuan untuk menentukan bahwa suatu entitas telah memperoleh, melindungi,
menggunakan sumber dayanya (karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor)
secara ekonomi dan efisien. Juga menentukan dan megindentifikasi penyebab
terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis dan efisien.
4. Audit Efektivitas

4
Ini bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil atau manfaat yang
diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya dan
menentukan apakan entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain
yang memberikan hasil yang sama dengan biaya paling rendah.
5. Audit Investigasi
Merupakan kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu, periode tidak dibatasi,
lebih spesifik pada area pertanggungjawaban yang diduga mengandung indikasi
penyalahgunaan wewenang.

2.3 PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM AUDIT SEKTOR PUBLIK


1. Audit Transaksi
Pendekatan ini meliputi vouching atau pembuktian seluruh transaksi yang
terjadi setelah melihat dokumen-dokumen atau bukti-bukti yang ada.

2. Audit Neraca
Pendekatan ini meliputi verifikasi seluruh aset dan kewajiban yang disajikan
dalam neraca

3. Audit Sistem
Pendekatan ini meliputi pengujian sistem akuntansi dan pengendalian
internal.

2.4 PROSES AUDIT SEKTOR PUBLIK

Sebelum melakukan audit, auditor harus memperoleh informasi umum


organisasi guna mendapatan pemahaman yang memadai tentang lingkungan
organisasi yang diaudit, struktur organisasi, misi organisasi, proses kerja, serta
sistem informasi dan pelaporan. Kemudian menetapkan kriteria audit dan
mengambangkan ukuran kinerja yang tepat. Megembangkan hasil temuan audit dan
membangdingkannya antara kinerja yang dicapai dengan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.

Proses audit keuangan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga


tahap, yaitu:
1. Perencanaan audit
2. Pekerjaan lapangan (pelaksanaan audit)

5
3. Pelaporan

2.5 PERAN DAN FUNGSI STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN


NEGARA (SPKN)

Keberaaan standar sangat penting karena menjadi patokan dalam


pelaksanaan tugas pemeriksaan. Patokan inilah yang akan mengarahkan pemeriksa
di dalam setiap tahapan pemeriksaan dan menjadi penilai apakah sebuah
pemeriksaan telah dijalankan atau tidak. SPKN memiliki kedudukan sebagai dasar
untuk menilai kebenaran, kecermatan, kreabilitas dan keandalan informasi mengenai
pengelolaan tanggungjawab keuangan negara. Peran SPKN adalah memberikan
patokan prtahapan pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara
bagi pemeriksa. Dengan kata lain, SPKN disusun untuk menjadikan ukuran mutu
bagi para pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam melaksanaan pemeriksaan
atas pengelolaan dan tanggungjawa keuangan negara.

2.6 ISU DAN TANTANGAN DALAM AUDIT DI PEMERINTAHAN


INDONESIA

Media sederhana yang dapat dilakukan untuk memulai suatu pemahaman


pada SPKN adalah melalui sosialisasi. Namun, terkadang sosialisasi tidak berjalan
efektif karena hanya sekadar penyampaian. Oleh karena itu, perlu dibuat sosialisasi
yang dapat membuat pihak memahami makna SPKN sehingga memahami apa yang
akan dilaksanakan. Penerapan SKPN kadang memungkinkan terjadi perbedaan
interprestasi dalam memahami SKPN. Oleh karena itu, diterbitkan interpretasi atas
SPKN terhadap kondisi yang sedang berkembang dan belum diatur dalam SPKN.
Selain itu, tantangan dimasa mendatang bagi auditor, sebagaimana dijelaskan oleh
Ritonga (2010) bahwa adanya amanat UU Nomor 17 Tahun 2003 untuk menerapkan
akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Oleh karena itu, akuntansi berbasis akrual
menjadi kewajiban yang harus segera diterapkan. Kendalanya adalah belum adanya
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang berbasis akrual karena belum

6
mengatur penganggaran berbasis akrual yang dikeluarkan oleh Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan (KSAP).

BAB III
PENUTUP

1.1 KESIMPULAN
Salah satu fungsi yang harus ada dalam proses akuntanbilitas publik adalah
fungsi pemeriksaan atau auditing. Fungsi pemeriksaan berbeda dengan fungsi
pengawasan. Secara konsepsional, pelaksanaan pemeriksaan APBN/APBD
sangat berbeda dari aspek pengawasan. Namun secara operasional, antara
pengawasan dan pemeriksaan memang sulit dipisahkan. Sebagai bagian dari
pelaksanaan fungsi pengawasan dari pimpinan, pemeriksaan keuangan secara
internal, tidak bisa dilepas dari keharusan untuk melakukan pengawasan, yaitu
membandingkan hasil yang seharusnya terjadi dengan yang benar-benar terjadi.