Anda di halaman 1dari 7

ESSAY

PSIKOPATOLOGI

CAUSAL FAKTOR, STRESS, ASESSMENT, DAN METODE PENANGANAN

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2018
CAUSAL FAKTOR, STRESS, ASESSMENT, DAN METODE PENANGANAN

Perilaku abnormal dapat diketahui penyebabnya dari berbagai perspektif.


Terdapat empat perspektif yaitu perspektif biologi, perspektif psikologis, perspektif
sosiokultur, dan perspektif biopsikososial.

Istilah perspektif biologis menekankan pada perang faktor biologis di dalam


menjelaskan perilaku abnormal dan penerapan penanganan yang berbasis biologis
dalam menangani gangguan psikologis.

Ketidak teraturan dalam kerja sistem neurotransmitter di otak berkaitan erat


dengan pola-pola abnormal. Dalam otak terdapat sistem saraf yang juga berperan
dalam pembentukan perilaku abnormal. Ketika ada sesuatu yang salah dengan sistem
saraf somatic maka otak akan menerima informasi yang salah. Orang-orang yang
skizofrenia memiliki masalah dengan sistem saraf somatic sehingga ia berhalusinasi
melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada. Perubahan pupul pada mata, pelepasan
kelenjar, atau bahkan denyut jantung pada orang-orang yang berperilaku abnormal
diatur oleh sistem saraf ini. Dalam otak juga terdapat korteks serebral yang terdiri atas
empat bagian. Lobus oksipital memproses stimulus penglihatan/visual, lobus temporal
terlibat dalam pemprosesan suara atau stimulus auditoris, lobus parietal menentukan
sensasi sentuhan, suhu, dan rasa sakit, lobus frontalis terlibat dalam pengendalian
respon-respon otak.

Keturunan seseorang juga ikut mempengaruhi pembentukan perilaku abnormal,


semua orang memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk berperilaku abnormal
apabila orangtua orang tersebut memiliki perilaku abnormal sehingga perilaku tersebut
memang sudah ada dalam genetika orang tersebut.

Kemudian, pendekatan perspektif psikologis adalah perspektif yang


mengatakan perilaku abnormal disebabkan oleh keadaan jika orang tersebut.
Pendekakatan psikologis terbagi menjai empat yaitu : pendekatan psikodinamika,
behavioristic, humanistic, dan kognitif.
Dalam pendekatan psikodinamika, perilaku abnormal selalu disangkutpautkan
dengan pengalaman-pengalaman tidak sadar seseorang. Menurut Freud, penyebab
perilaku abnormal dapat dilihat dari dua hal yaitu struktur kepribadian dan tahap
psikoseksual.

Struktur kepribadian menurut Freud adalah id, ego, dan superego. Ketika
seseorang memiliki kontrol diri yang kurang (ego) sedangkan ia memiliki id dan
superego yang besar maka ia akan menciptakan suatu konflik dalam dirinya. Ketika
konflik tersebut tidak terselesaikan dengan baik maka dari hal tersebut akan muncul
perilaku abnormal. Kemudian selanjutnya dikenal pula tahap psikoseksual. Tahap
psikoseksual dibagi menjadi empat yaitu tahap oral, anal, phallic, dan genital. Ketika
terjadi ketidaksesuaian dalam salah satu tahap ini maka akan berdampak pada perilaku
individu dan menimbulkan perilaku abnormal yang beragam tergantung pada
kegagalan proses pada tahap tertentu.

Beberapa ahli dibawah Freud juga berpendapat bahwa perilaku abnormal


dipengaruhi oleh pikiran-pikiran tak sadar. Menurut Carl Jung, segala pikiran, mimpi,
emosi, dan perilaku baik normal maupun abnormal dipengaruhi oleh arketipe-arketipe
tersebut. Teori lainnya seperti teori Adler mengacu pada kompleks inferioritas yang
kemudian berubah menjadi powerful drive for superiority yang kemudian ketika
motivasi atau keinginan tersebut tidak terpenuhi maka akan muncul perilaku abnormal.
Dengan kata lain, keinginan untk menjadi superior tersebutlah yang memicu terjadinya
perilaku abnormal.

Di sisi lain, Karen Horney lebih menekankan pada hubungan orangtua dan
anak. Ketika terjadi distorsi pada hal tersebut maka akan muncul perilaku abnormal,
seperti self-defeating dan cemas. Sedangkan menurut Erik Erikson perilaku abnormal
berkaitan dengan identitas ego, menurut Erikson remaja yang berjalan tanpa tujuan atau
kejelasan tenatng self tetap berada pada kebingungan.
Pendekatan kedua yaitu pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran,
perilaku abnormal muncul karena adanya pengaruh dari lingkungan. John B. Watson
berpendapat bahwa perspektif behavioral berfokus pada peran dari belajar dalam
menjelaskan perilaku normal maupun abnormal. Perilaku abnormal dianggap sebagai
sesuatu yang dipelajari dengan cara yang sama sebagaimana perilaku normal namun
ada faktor situasional: riwayat belajar yang berbeda.

Pendekatan ketiga yaitu pendekatan humanistic. Keyakinan utama dalam


pendekatan humanistic adalah bahwa perilaku abnormal adalah hasil dari
perkembangan konsep tentang self yang terganggu. Rogers meyakini bahwa
kecemasan mungkin muncul ketika kita merasakan perasaan atau ide kita tidak
konsisten dengan self-concept terdistorsi yang telah kita kembangkan. Ketika kita
menyangkal perasaaan terganggu tersebut maka self-actualization kita akan terganggu.
Dibawah kondisi semacam ini, kita tidak dapat mempersepsikan nilai kita dan bakat-
bakat kita sehingga menyebabkan frustasi dan membentuk tahap perilaku abnormal.

Keempat, pendekatan kognitif mengatakan bahwa perilaku abnormal terjadi


dikarenakan adanya kesalahan dalam pengolahan informasi. Seseorang yang salah
dalam melakukan codeing akan mengakibatkan perilaku-perilaku abnormal dalam
dirinya.

Ditinjau dari perspektif sosiokultur terdapat beberapa faktor yaitu etnisitas dan
peran kelas sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu kebudayaan dapat
mempengaruhi perilaku seseorang. Dengan kata lain, hal tersebut juga dapat memicu
terbentuknya perilaku abnormal. Sebagai contoh, pada wilayah-wilayah dengan tingkat
pengguna alcohol yang tinggi. Masyarakat di wilayah tersebut merasa bahwa
meminum alcohol adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, sehingga dapat membentuk
perilaku abnormal yaitu ketergantungan ada alcohol dalam komunitas sosial tersebut.

Sedangkan dalam perspektif biopsikososial dikenal istilah model diathesis


stress. Model diathesis tress beranggapan bahwa gangguan muncul dari kombinasi atau
interaksi dari suatu diathesis dengan stress. Ketika diathesis dikaitkan dengan stress
maka stress tersebut berperan sebagai pemicu untuk mengaktifkan diathesis tersebut.
Misalnya, ketika seseorang yang memiliki kemungkinan resiko terbentuknya perilaku
kleptomaniac terkendala dengan stress karena kekurangan finansial. Hal ini akan
memicu perilaku kleptomaniac dalam dirinya.

Stress dalam diri seseorang dapat menyebabkan gangguan-gangguan yang


berakibat pada timbulnya perilaku abnormal. Sumber stress atau yang biasa disebut
stressor dapat berasal dari mana saja, seperti keadaan psikologis seseorang,
permasalahan sehari-hari dan faktor lingkungan disekitar orang tersebut.

Stress yang berkepanjangan kemudian akan menyebabkan distress yaitu sakit


fisik pada seseorang. Psikolog klinis mempelajari mengenai hubungan kondisi
psikologis seseorang dan kondisi fisiknya. Stress terbukti dapat melemahkan sistem
kekebalan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap berbagai penyakit. Ketika
seseorang memiliki lebih banyak tekanan hidup dalam bentuk perubahan hidup dan
kesibukan sehari-hari, maka ia akan meningkatkan risiko pengembangan masalah
penyakit fisik.

Orang-orang yang memiliki pengalaman traumatis dan memiliki stress terhadap


hal tersebut akan menyebabkan perilaku abnormal seperti OCD, stress pasca trauma,
dll.

Salah satu jenis stress adalah stress akulturatif, yang dimana suatu kelompok
minoritas dipaksa untuk beradaptasi pada kebudayaan yang lebih besar atau bertolak
belakang dari hal yang diyakininya. Seseorang yang dipaksa melakukan hal tersebut
akan memiliki gangguan penyesuaian yang dimana timbul perilaku abnormal
dikarenakan pemaksaan terhadap suatu hal.

Beberapa faktor yang dapat meringankan stress yaitu, self efficacy yang tinggi,
optimism, dukungan sosial dan gaya coping yang efektif. Gaya coping adalah suatu
upaya untuk menyangkal adanya stressor tertantu dan menarik diri dari masalah
tersebut untuk menghindari stress yang berkelanjutan.

Suatu perilaku abnormal dapat dikategorikan dengan DSM V. keuntungan


dengan digunakannya DSM adalah adanya kriteria untuk perilaku abnormal tertentu.
Sedangkan kekurangnnya adalah adanya pertanyaan-pertanyaan mengenai validitas
dan reliabilitas pada kategori-kategori tertentu.

Dalam mengkategorikan suatu perilaku abnormal harus dilakukan assessment.


Ada berbagai macam assessment yang dapat digunakan untuk mengetahui perilaku
abnormal. Wawancara klinis memakai serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada
seseorang untuk melihat perilau abnormal yang orang tersebut miliki. Tes psikologi
menggunakan pertanyaan-pertanyaan psikologis secara tertulis yang dapat mengukur
berbagai aspek dari seseorang. Tes neuropsikologis digunakan untuk mengetahui
apakah ada kerusakan otak atau cacat. Selain tu ada pula assessment perilaku dimana
dalam hal ini perilaku seseorang akan dimonitoring untuk mengetahui apakah ada
perilaku abnormal. Assessment kognitif berfokus pada pengukuran keyakinan dan
pemikiran seseorang. Dan terkahir ada assesmnet fisiologis, dimana ia berfokus pada
kinerja organ tubuh seperti detak jantung dan lain-lain.

Untuk menangani perilaku abnormal ini terdapat metode-metode yang dapat


digunakan. Tenaga ahli yang digunakan adalah psikolog klinis, psikiatri, dan psikiater
yang membantu dalam proses penanganan perilaku abnormal.

Dalam metode penanganan terdapat beberapa jenis terapi. Pertama, terapi


psikodinamika menjelaskan mengenai perilaku abnormal dan menggunakan pikiran-
pikiran tak sadar dalam penanganannya. Kedua, terapi pembelajaran, terapi ini
menggunakan teori pembeljaran dalam mengubah perilaku-perilaku abnormal. Ketiga,
terapi kognitif yang kemudian membantu dalam hal perubahan kognisi yang
menyebabkan timbulnya suatu perilaku abnormal. Keempat, perilaku kognitif-perilaku
adalah suatu metode penanganan yang menggabungkan terapi perilaku dan terapi
kognitif. Kelima, terapi humanistic yaitu perilaku yang berfokus pada pengalaman
subjektif dan sadar saat ini. Keenam, terapi eklektik yang terbagi menjadi dua yaitu
eklektik teknis, yang menerapkan berbagai jenis terapi tanpa mengadopsi teori yang
mendasarinya, dan eklektik integrative yaitu jenis terapi elektik yang mengintegrasikan
beragam pendekatan teoritis. Ketujuh, terapi kelompok dan pasangan, yaitu suatu terapi
yang menyediakan komunikasi antar sesame untuk mendukung seseorang dengan
perilaku abnormal. Kedelapan, terapi keluarga yaitu suatu terapi yang menyelesaikan
atau menyembuhkan suatu perilaku abnormal dengan kedekatan dengan keluarga.

Dalam penanganan perilaku abnormal, terdapat pula obat-obatan yang sering


digunakan. Obat anti kecemasan yang dimana berfungsi pada penanganan kecemasan
dalam jangka waktu yang singkat. Obat anti depresan berfungsi menangani dan
mengurangi depresi dalam diri seseorang. Sedangkan obat antipsikosis membantu
mengontrol gejala psikosis yang membahayakan, tapi penggunaannya secara teratur
diasosiasikan dengan risiko efek samping yang serius.