Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR

REGULASI DAN HOMEOSTASIS DALAM TUBUH

KELOMPOK 2

NADIA ALIMA FADHILLA 18304241032

ANISAH NUR AFIFAH 18304241033

AZIZAH NUR ISNAINI 18304241034

GILANG SINATA ERA YUDHA 18304241037

ELISA FEBY IFANI 18304244019

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018

0
A. LATAR BELAKANG

B. TUJUAN
1. Menyebutkan contoh regulasi dalam tubuh manusia
2. Menjelaskan mekanisme regulasi dalam rangka homeostasis dalam tubuh manusia

C. DASAR TEORI
A) Homeostasis
Homeostasis adalah kemampuan sistem fisiologi tubuh untuk mempertahankan keadaan
yang relatif konstan di dalam tubuh. Sel-sel tubuh hanya dapat hidup dan berfungsi bila berada
atau terendam dalam cairan ekstraseluler yang sesuai. Cairan ekstraseluler ini juga diebut
lingkungan dalam tubuh (milieu interiurer). Lingkungan dalam tubuh ini boleh dikatakan selalu
konstan dan hanya dapat berdeviasi (berubah) dalam kisaran yang sangat sempit. Contoh : pH
darah 7,40 hanya boleh berdeviasi antara 7,38 sampai 7,42. Homeostasis pertama kali
dikemukakan oleh Walter Canon yang menyebutkan bahwa keadaan stabil dinamis unsur –
unsur pokok lingkungan internal yang mengelilingi dan saling bertukar berbagai zat dengan sel.
Homeostasis mengacu pada pemeliharaan suatu keadaan stabil dinamis di dalam cairan internal
yang membasuh semua sel tubuh. Sebagai contoh, di lingkungan internal O2 dan zat – zat gizi
harus terus – menerus diganti sesuai kecepatan penggunaan oleh sel (Fried dan Hademenos,
1999 : 174)

Setiap sel memerlukan homeostasis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,


setiap sel melalui aktivitas yang khusus sebagai bagian dari sistem tubuh menyumbang terhadap
pemeliharaan lingkungan internal bersama dengan semua sel yang lain. Jadi, homeostasis harus
dipandang sebagai keadaan konstan yang dinamis dimana suatu perubahan yang terjadi
diusahakan dikurangi dengan respon fisiologi pengganti. Berbagai aktivitas sistem harus
diregulasikan dengan koordinasi untuk memelihara keadaan yang relatif stabil dengan
lingkungan internal melawan perubahan yang terus menerus mengancam dan mengganggu
kondisi optimal yang esensial penunjang kehidupan.

Beberapa faktor lingkungan internal yang harus dijaga secara homeostasis, yaitu :

a) Konsentrasi O2 dan CO2

1
Sel memerlukan O2 untuk mengoksidasi zat makanan yang digunakan untuk
menghasilkan energi. Sedangkan CO2 yang diproduksi selama reaksi kimia harus
diimbangi dengan pengeluaran CO2 dari paru – paru, sehingga pembentukan asam dari
CO2 tidak meningkatkan keasaman lingkungan eksternal.
b) Suhu
Fungsi sel akan menurun apabila berada dalam yang dingin dan akan rusak bila berada
pada lingkungan yang panas.
c) pH
Perubahan keasaman dalam lingkungan internal akan mempengaruhi aktivitas sel,
misalnya mempengaruhi mekanisme pada sel saraf dan aktivitas semua sel.
d) Kondisi molekul makanan
Sel memerlukan zat makanan untuk memenuhi kebutuhannya guna menghasilkan
energi metabolik yang menunjang kehidupan dan aktivitas seluler yang khusus.
e) Volume dan tekanan
Sirkulasi komponen lingkungan internal, yaitu plasma darah, harus dijaga pada
volume dan tekanan darah untuk menjamin distribusinya yang luas antar lingkungan dan
sel.

Terdapat 11 sistem utama dalam tubuh yang berperan dalam homeostasis, yaitu :
1. Sistem sirkulasi
Sistem transport pembawa zat seperti, nutrien, O2, CO2, sisa metabolisme,
elektrolit, dan hormon dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lainnya.
2. Sistem Pencernaan
Pada bagian ini, makanan akan dihancurkan menjadi molekul yang dapat
diserap mukosa usus. Sisa yang tidak terserap akan dibaung sebagai feses
3. Sistem Pernapasan
Pengambilan O2 dan mengeluarkan CO2 ke lingkungan luar.
4. Sistem Perkemihan
Pembuangan kelebihan air, garam, dan asam dari plasma dan membuangnya
ke urine bersama – sama sisa metabolisme, kecuali CO2.
5. Sistem Skeletal
Sistem yang berguna sebagai penyangga dan pelindung jaringan lunak dan
organ – organ, serta sebagai reservoir ion kalsium.

2
6. Sistem Muskoler
Untuk menggerakan sistem mukoler, tubuh perlu meatih gerakan yang
pengaturannya berada pada sistem saraf.
7. Sistem Integumen (kulit)
Proteksi luar terhadap benda asing dan mikroorganisme, mencegah cairan
tubuh keluar tanpa terkendali, dan mengatur suhu tubuh.
8. Sistem Imun
Sistem imun berfungsi sebagai penahan serangan dari benda asing yang masuk
ke dalam tubuh.
9. Sistem Saraf
Berfungsi untuk mengatur dan mengkoodinir aktivitas tubuh, deteksi rangsang
dari luar dan dalam tubuh serta bereaksi terhadapnya.
10. Sistem Endokrin
Sistem ini juga disebut sebagai sistem pengontrol tubuh, terutama aktivitas
yang berlangsung lama.
11. Sistem Reproduksi
Sistem ini tidak terlalu berperan penting dalam homeostasis, namun tetap
penting untuk mempertahankan spesies.

Pada dasarnya homeostasis pada tubuh kita memungkinkan terjadinya 2 mekanisme


respon, yaitu :
1. Umpan balik negatif
Pada mekanisme ini sistem tubuh kita butuh dihambatkan secara komplit saat proses
penerimaan rangsang sedang terjadi. Contohnya ketika tekanan darah meningkat, reseptor
di arteri karotis akan mendeteksinya dan mengirimkan sinyal ke otak, lalu otak akan
mengirimkan pesan ke jantung untuk memperlambat denyutnya. Sehingga
mengakibatkan penurunan tekanan darah.
2. Umpan balik positif
Suatu respon untuk menimbulkan atau menguatkan proses fisiologis. Respon ini
biasanya merupakan suatu proses siklik yang dapat terus berlanjut memperkuat suatu aksi
atau suatu proses.

3
B) Regulasi
Regulasi adalah suatu sistem yang mengkoordinasi segala aktivitas tubuh dan juga
mengatur agar semua sistem organ dapat bekerja secara serasi. Jadi secara umum, Sistem
regulasi adalah sistem organ meregulasi atau mengatur sistem-sistem organ tubuh lain. Sistem
regulasi pada manusia terdiri dari :
a. Sistem saraf
Sistem saraf merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan. Fungsinya mengkoordinasi, menafsirkan, mengontrol interaksi antara
individu dengan lingkungannya.
b. Sistem Endokrin
Sistem endokrin atau hormon merupakan getah yang disekresikan oleh kelenjar dan
langsung diedarkan ke cairan tubuh (darah) untuk mengkomunikasikan pesan pesan yang
sifatnya mengatur tubuh. Sistem ini di kontrol oleh hipotalamus dengan car menerima
informasi dari otak dan mengintegrasikan ke dalam sistem endokrin sesuai dengan
kondisi lingkungan.
c. Sistem Pengindraan
Sistem pengindraan adalan kumpulan dari reseptor yang membentuk organ atau alat
khusus. Sistem penginderaan diantaranya indra peraba, indra pengecap, indra pembau,
indra pendengaran, dan indra penglihatan.

Berikut adalah beberapa contoh proses regulasi :

1. Regulasi Suhu Tubuh (Thermoregulasi)


Manusia adalah mahkluk homeothermik yang artinya dapat mengatur suhu tubuh sendiri
untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga suhu tubuh cenderung konstan. Fluktuasi
temperatur dideteksi oleh reseptor yang disebut thermoreseptor. Contohnya adalah kulit.
2. Regulasi Cairan Tubuh (Osmoregulasi)
Osmoregulasi adalah suatu proses untuk mempertahankan keseimbangan cairan, air, dan
elektrolit dalam tubuh kita. Secara spesifik, regulasi adalah pengaturan konsentrasi cairan
dipembuluh darah dan secara efektif juga mengatur jumlah air untuk diserap oleh tubuh.
3. Pengaturan Kadar Glukosa Darah (Glukoregulasi)
Terdapat dua hormon penting dalam proses ini yaitu insulin dan glukagon. Insulin yang
dihasilkan oleh sel β islet langerhans pada pankreas dan glukagon yang dihasilkan oleh sel

4
α islet langerhans pada pankreas. Fungsi dari insulin adalah menurunkan kadar glukosa
dalam darah dengan memasukkan sel maupun merangsang hati untuk menyimpan
kelebihannya dalam bentuk glikogen. Sedangkan glukagon berfungsi menstimulasi hati
untuk membongkar glikogen jika tubuh mengalami kekurangan glukosa.
Pada saat berolahraga oksigen yang dibutuhkan tubuh kita meningkat hingga 30 kali lipat,
oleh karena itu harus ada mekanisme untuk menyesuaikan respirasi terhadap tuntutan
metabolik. Irama dasar respirasi dikendalikan oleh sistem saraf dalam medula dan pons.

Beberapa faktor yang mempengaruhi respirasi adalah :

a. Usia
Anak-anak lebih membutuhkan lebih dari orang dewasa karena masih dalam usia
pertumbuhan sehingga banyak membutuhkan energi
b. Jenis Kelamin
Laki –laki lebih banyak frekuensi pernafasannya dibanding perempuan karena
umumnya aktivitas laki-laki lebih banyak.
c. Suhu Tubuh
Semakin tinggi suhu tubuh maka frekuensi pernafasan semakin cepat. Bila di
lingkungan panas tubuh mengalami peningkatan metabolisme untuk mempertahankan
suhu untuk stabil, maka tubuh lebih banyak mengeluarkan keringat untuk menurunkan dan
menstabilkan suhu.
d. Kegiatan Tubuh
Orang yang melakukan kegiatan berlebih akan membutukan energi yang lebih besar pula.
Sehingga frekuensi pernafasannya semakin cepat.

D. ALAT DAN BAHAN


Alat dan Bahan :
1. Termometer badan
2. Stopwatch
3. Kertas
E. CARA KERJA
1. Menentukan 3 orang (2 wanita, 1 pria) diantara anggota kelompok praktikan untuk
berperan sebagai objek percobaaan
2. Mengukur suhu tubuh objek percobaaan. Menganggap suhu tubuh ini sebagai suhu
awal

5
3. Mengukur berat badan dan tinggi badan objek serta menanyai objek mengenai kondisi
tubuh (sakit/tidak sakit)
4. Mengukur frekuensi nadi (daerah pergelangan tangan). Menganggap frekuensi nadi
ini sebagai frekuensi awal
5. Mengukur frekeunsi respirasi (inspirasi dan ekspirasi) per menit
6. Mengamati ada tidaknya keringat pada permukaan tubuh, menyatakan dalam tidak
ada (-), sedikit (+), dan banyak (++)
7. Membagi objek dalam tiga kegiatan
 Diam (tidak melakukan apa – apa)
 Ringan (jalan santai 3 menit)
 Sedang (lari/jalan cepat 2 menit)
 Berat (lari 5 menit dan naik turun tangga 2 kali)
8. Mengukur suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi respirasi pada ketiga objek percobaan
sebanyak tiga kali (sebelum aktivitas, sesaat sesudah aktivitas, dan 10 menit setelah
aktivitas)
9. Meminta data dari kelompok lain
10. Membuat tabulasi data mengenai nama objek, jenis kelamin, jenis kegiatan, tahap
pengukuran, suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi respirasi, keterangan berat badan,
tinggi badan, dan kondisi tubuh
11. Membuat kesimpulan dari kegiatan.

6
F. HASIL PENGAMATAN
Tabel data pengukuran kondisi tubuh objek percobaan (kurang kelompok UCHAN)

Frekuensi Keterangan
Jenis Jenis Banyak
Nama Tahap Denyut Suhu Berat Tinggi Sakit /
Kelamin Kegiatan Napas Keringat
Nadi Bedan Badan Tidak
Nadia Alima Perempuan Lari 5 Sesudah 58/menit 27/menit 35,3°C - 39 Kg 152 cm Tidak
Fadhilla menit Sesaat 145/menit 37/menit 35,4°C +
dan naik Sesudah
turun Setelah 10 104/menit 33/menit 35,45°C -
tangga 2 Menit
kali
Gilang Sinata Laki –Laki Lari/jala Sesudah 55/menit 41/menit 36,3°C - 91 Kg 175 cm Tidak
Era Yudha n cepat 2 Sesaat 63/menit 47/menit 36,5°C ++
menit Sesudah
Setelah 10 60/menit 46/menit 36°C -
Menit
Elisa Feby Perempuan Diam Sesudah 90/menit 39/menit 35,45°C - 53 Kg 163 cm Tidak
Ifani Sesaat 90/menit 39/menit 35,45°C -
Sesudah

7
Setelah 10 90/menit 39/menit 35,45°C -
Menit
Amri Laki - laki Diam Sesudah 75/menit 25/menit 36,4°C - 70 Kg 170 cm Tidak
Shabirin Sesaat 75/menit 25/menit -
Sesudah
Setelah 10 75/menit 25/menit -
Menit
Endah Perempuan Jalan Sesudah 44/menit 26/menit 35,5°C - 50 Kg 159 cm Sakit
Anifatusshali santai 3 Sesaat 72/menit 28/menit 35°C - karena
khah menit Sesudah haid
Setelah 10 66/menit 26/menit 35°C -
Menit
Mufti Perempuan Jalan Sesudah 92/menit 16/menit 36°C - 40 Kg 153 cm Tidak
Nurkhasanah cepat 2 Sesaat 112/menit 24/menit 36,2°C -
menit Sesudah
Setelah 10 65/menit 18/menit 35,9°C -
Menit
Ahmad Laki - laki Sesudah 71/menit 26/menit 36,8°C 72,5 kg 170 cm Sakit
Sulchan Sesaat 76/menit 30/menit 37,3°C
Hidayat Sesudah

8
Setelah 10 70/menit 27/menit 37°C
Menit
Nurwidya Perempuan Sesudah 100/menit 24/menit 36,6°C 47 kg 153 cm Tidak
Setyaningsih Sesaat 110/menit 26/menit 36,9°C
Sesudah
Setelah 10 102/menit 23/menit 36,1°C
Menit
Novia Perempuan Sesudah 89/menit 16/menit 37,1°C 48 kg 161 cm Tidak
Permata Sesaat 100/menit 30/menit 37,2°C
Utami Sesudah
Setelah 10 94/menit 20/menit 36,8°C
Menit
Hery prasetyo Laki- laki Sedang Sesudah 78/menit 22/menit 36°C - 46 kg 165 cm Tidak
Sesaat 78/menit 28/menit 37,2°C +
Sesudah
Setelah 10 70/menit 28/menit 37,2°C -
Menit
Hendrianis perempuan Diam Sesudah 82/menit 24/menit 36,5°C - 39 kg 148 cm Tidak
syafira Sesaat 82/menit 24/menit 36,5°C -
Sesudah

9
Setelah 10 82/menit 24/menit 36,5°C -
Menit
Tria Perempuan Sedang Sesudah 72/menit 28/menit 35,7°C - 41 kg 145 cm Tidak
kurniasari Sesaat 91/menit 34/menit 36,9°C +
Sesudah
Setelah 10 71/menit 32/menit 36,9°C -
Menit
Reynaldi Laki-laki Berat Sesudah 76/menit 18/menit 37°C - 65 kg 171 cm Tidak
Desta Sesaat 116/menit 60/menit 37,5°C ++
Pramudya Sesudah
Setelah 10 78/menit 20/menit 37°C +
Menit
Nabilah Zatil Perempuan Diam Sesudah 80/menit 16/menit 37°C - 43 kg 148 cm Tidak
Afifah Sesaat 80/menit 16/menit 37°C -
Sesudah
Setelah 10 80/menit 16/menit 37°C -
Menit
Tia Mayasari Perempuan Sedang Sesudah 82/menit 19/menit 37°C - 48 kg 158 cm Tidak
Sesaat 96/menit 24/menit 37,2°C +
Sesudah

10
Setelah 10 84/menit 19/menit 37°C -
Menit
Erni Perempuan Ringan Sesudah 68/menit 18/menit 36,4°C - 42 kg 148 cm Tidak
Widiastuti Sesaat 68/menit 19/menit 37,2°C -
Sesudah
Setelah 10 60/menit 16/menit 36,4°C -
Menit
Janita Milka Perempuan Berat Sesudah 85/menit 20/menit 37,5°C - 48 kg 150 cm Tidak
Sesaat 90/menit 45/menit 38,3°C +
Sesudah
Setelah 10 67/menit 34/menit 37,1°C -
Menit
Afifah Intan Perempuan Berat Sesudah 50/menit 10/menit 37°C - 55 kg 166 cm Sakit
Permatasari Sesaat 83/menit 26/menit 37°C
Sesudah
Setelah 10 60/menit 21/menit 37°C
Menit
Anita Rahma Perempuan Ringan Sesudah 88/menit 38/menit 36,4°C 55 kg 155 cm tidak
Sesaat 96/menit 40/menit 36,4°C
Sesudah

11
Setelah 10 70/menit 30/menit 37°C cm
Menit
Hanum Perempuan Berat Sesudah 74/menit 24/menit 36,4°C - 50 kg 156 cm Tidak
Wulandari Sesaat 152/menit 30/menit 36,6°C +
Sesudah
Setelah 10 89/menit 20/menit 36,4°C -
Menit
Edo Cahyo Laki –laki Berat Sesudah 105/menit 10/menit 36,5°C - 45 kg 169 cm Tidak
Nugroho Sesaat 184/menit 36/menit 37,5°C +
Sesudah
Setelah 10 94/menit 20/menit 36,4°C -
Menit
Wina Afifah Perempuan Diam Sesudah 84/menit 16/menit 36,8°C - 55kg 159cm Tidak
Putri Sesaat 84/menit 16/menit 36,8°C -
Sesudah
Setelah 10 84/menit 16/menit 36,8°C -
Menit

12
G. PEMBAHASAN

Pada tanggal 23 Oktober 2018 pukul 11.10-12.50 WIB dilakukan percobaan dengan judul
“Regulasi dan Homestasis” di Laboratorium Biologi Dasar Universitas Negeri Yogyakarta.
Percobaan ini diawali dengan menentukan objek percobaan yang terdiri dari perempuan dan
laki – laki. Setiap objek diberikan perlakuan yang berbeda, jenis kegiatan yang dilakukan terdiri
dari kategori diam yang berarti tidak melakukan kegiatan apapun, ringan yang berarti
melakukan kegiatan jalan santai 3 menit, sedang yang berarti melakukan kegiatan lari/jalan
cepat 2 menit, dan berat yang berarti melakukan kegiatan lari 5 menit dan naik turun tangga 2
kali. Setiap kegiatan dilakukan oleh perempuan dan laki – laki yang measing – masing objek
melakukan kegiatan yang berbeda.

Objek berjenis kelamin perempuan melakukan kegiatan diam, ringan, sedang, dan berat.
Objek perempuan yang melakukan kegiatan diam cenderung tidak mengalami perubahan dalam
frekuensi denyut nadi, frekuensi respirasui, suhu tubuh, dan banyak keringat yang dihasilkan.
Hal ini disebabkan karena dalam tubuh objek diam tidak terdapat perubahan kadar cairan
ekstraseluler sehingga tidak terjadi proses regulasi. Sedangkan objek perempuan dengan
kegiatan ringan memiliki perubahan dalam frekuensi denyut nadi, frekuensi respirasui, suhu
tubuh, dan banyak keringat cenderung sedikit karena energi yang dikeluarkan sedikit, kecuali
pada objek yang sedang mengalami menstruasi, karena saat seseorang sebelum menstruasi
produksi hormon dalam tubuhnya meningkat dan mencapai puncaknya pada minggu setelah
menstruasi, peningkatan hormon ini membuat seseorang menjadi mudah lelah perubahan dalam
frekuensi denyut nadi, frekuensi respirasui, suhu tubuh, dan banyak keringat cenderung . Pada
objek perempuan dengan kegiatan sedang memiliki perubahan perubahan dalam frekuensi
denyut nadi, frekuensi respirasui, suhu tubuh, dan banyak keringat cenderung lebih signifikan
dari objek yang melakukan kegiatan

H. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum regulasi dan homeostasis pada tubuh, dapat disimpulkan
beberapa hal, yaitu :
 Regulasi adalah suatu sistem yang mengkoordinasi segala aktivitas tubuh dan juga
mengatur agar semua sistem organ dapat bekerja secara serasi. Contohnya seperti
ketika tubuh melakukan aktivitas yang berat, maka suhu tubuh akan meningkat. Tubuh
akan melakukan mekanisme regulasi agar suhu tubuh tetap bertahan pada kisaran
normal.

12
 Homeostasis adalah kemampuan sistem fisiologi tubuh untuk mempertahankan
keadaan yang relatif konstan di dalam tubuh. Hal ini terjadi ketika tubuh mengalami
suatu perubahan fisiologis dan pada akhirnya regulasi dalam tubuh manusia akan
melakukan mekanisme agar fisiologi tuuh tetap stabil (homeostasis). Contoh ketika
kita berlari, tubuh akan mengalami peningkatan suhu, agar suhu tubuh tetap normal
regulasi dalam tubuh melakukan mekanisme pengeluaran panas dengan cara
mengeluarkan keringat. Sehingga panas dalam tubuh dapat berkurang dan menuju
normal

13
I. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1983. Media Pendidikan Biologi Umum. P2LPTK. Dirjend. Dikti. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Basoeki, Soejono. (1999). Fisiologi Manusia. Malang : UM Press.
Kimball, John W. (2005). Biologi Edisi Kelima. (Terjemahan Siti Soetarmi T. dan Nawangsari
Sugiri). Jakarta : Erlangga (Edisi asli diterbitkan tahun 1983 oleh Addison-Wesley
Publishing Company Inc.).
Pertiwi, Kartika R. (2008). Hand Out Biologi Umum Regulasi Jurusan Pendidikan Biologi
Semester 1. Yogyakarta, Makalah.
Starr, C., Taggart, R., Evers, C., et al. (2012). Biologi : Kesatuan dan Keragaman Makhluk
Hidup Edisi 12 - Buku 1. (Terjemahan Yenny Prasaja). Jakarta : Penerbit Salemba
Teknika. (Edisi asli diterbitkan tahun 2009 oleh Cengage Learning).

14