Anda di halaman 1dari 9

METODE PENELITIAN EKSPERIMEN

Dasar Teori Puzzle

OLEH

DIAH CANTIKA ADIL NUR


17710342002

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2019

1
2

1.2 DASAR TEORI


1.2.1 Intelegensi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inteligensi adalah daya reaksi atau
penyesuaian yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental, terhadap
pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap
untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru. Menurut Piaget
adalah suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-
kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan
lingkungan secara efektif. Menurut Feldam, kecerdasan merupakan kemampuan
untuk memahami dunia, berpikir secara rasional dengan menggunakan sumber-
sumber atau referensi secara efektif pada saat menghadapi sebuah tantangan.
Menurut M Dalyono (2004: 124) intelegensi adalah kemampuan yang bersifat
umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap sesuatu situasi atau masalah,
yang meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis,
matematis, memahami, mengingat, berbahasa, dan sebagainya. Intelegensi juga
dapat diartikan sebagai kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan
seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu (M Ngalim Purwanto, 2004: 52).
Berdasarkan beberapa definisi tentang inteligensi di atas, dapat disimpulkan
bahwa inteligensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir yang dapat
digunakan untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan baru dengan
menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuanya.
Intelegensi atau kecerdasan dapat dibagi menjadi sepuluh macam. Pertama,
kecerdasan intelektual, kecerdasan dilihat hanya dari sisi kekuatan verbal dan
logika seseorang (Alfred Binet, dalam Desmita, 2006). Kedua, kecerdasan umum,
Charles Spearman berpendapat bahwa Manusia mempunyai kemampuan mental
umum (G) yang mendasari semua kemampuannya untuk menangani kesulitan
kognitif. Faktor G ini meliputi kemampuan memecahkan masalah, pemikiran
abstrak, dan keahlian dalam pembelajaran.
Ketiga, Kecerdasan yang dapat dimodifikasi. Reuven Feurstein (dalam
Gunawan, 2006) berpendapat bahwa Kecerdasan dapat diukur dari kemampuan
3

berpikir seseorang yang mana kemampuan berpikir manusia tersebut mempunyai


tahap-tahap perkembangan. Keempat, kecerdasan proximal, Leo Vygotsky
berpendapat bahwa kecerdasan seseorang dapat diuji dengan memperhatikan
kronologis usia mental orang tersebut dan memperhatikan kapasitas orang
tersebut.
Kelima, kecerdasan yang dapat dipelajari atau Learnable Intelligence. David
Perkins (2006) dari Harvard University berpendapat bahwa kecerdasan
dipengaruhi dan dioperasikan oleh beberapa faktor dalam kehidupan yaitu sistem
otak, pengalaman hidup, dan kapasitas untuk pengaturan diri.
Keenam, kecerdasan tri tunggal atau Triarchic Intelligence, yaitu kecerdasan
kreatif, analisis, dan praktis. Kecerdasan kreatif meliputi kemampuan menemukan
dan merumuskan ide serta solusi dari masalah. Kecerdasan analisis digunakan saat
secara sadar mengenali dan memecahkan masalah, merumuskan strategi,
menyusun dan menyampaikan informasi. Kecerdasan praktis digunakan untuk
bertahan dalam hidup seperti keberhasilan mengatasi perubahan.
Ketujuh, kecerdasan moral yaitu kecerdasan yang menitikberatkan pada
prinsip dan nilai-nilai hidup. Kedelapan, kecerdasan emosional. Daniel Goleman
berpendapat bahwa Kecerdasan dapat terdiri dari kombinasi 5 komponen, yaitu
kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur hubungan atau
relasi.
Kesembilan, kecerdasan spiritual atau Spiritual Intelligence. Dalam ESQ
kecerdasan spiritual diartikan sebagai kemampuan untuk memberi makna ibadah
terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-lagkah dan pemikiran yang
bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola
pemikiran integralistik (tauhidi) serta berprinsip hanya karena Allah.
Kesepuluh, Kecerdasan Majemuk atau multiple intelligences. Howard Gardner
dari Harvard University berpendapat bahwa setiap orang mempunyai lebih dari
satu kecerdasan, minimal memiliki delapan kecerdasan yaitu linguistik, logika-
matematika, interpersonal, intrapersonal, musikal, naturalis, visual-spasial, dan
kinestestis. Setiap orang memiliki delapan kecerdasan ini dengan kadar
perkembangan yang berbeda-beda.
4

Menurut teori nativisme, bahwa setiap individu (anak) dilahirkan ke dunia


dengan membawa faktor-faktor turunan (heredity) yang dibawa sejak lahir yang
berasal dari orang tuanya. Sifat pembawaan ini mempunyai peranan yang sangat
penting bagi perkembangan individu termasuk perkembangan inteligensinya.
Menurut teori ini pendidikan dan lingkungan hampir tidak ada pengaruhnya
terhadap perkembangan inteligensi anak.
Sementara itu, menurut teori empirisme, kecerdasan seseorang dipengaruhi
oleh faktor lingkungan atau pengalaman. Menurut teori ini segala sesuatu yang
terdapat pada jiwa manusia dapat diubah oleh pendidikan. Watak, sikap dan
tingkah laku manusia dianggapnya bisa dipengaruhi seluas-luasnya oleh
pendidikan.
M. Ngalim Purwanto (2004: 55-56) menegaskan bahwa lima faktor yang
dapat mempengaruhi intelegensi yang mengakibatkan terjadinya perbedaan antara
intelegensi seseorang dengan yang lain. Pertama, pembawaan, yakni intelegensi
seseorang dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Kedua,
kematangan, yaitu ketika organ-organ dalam tubuh manusia mencapai
kematangan maka ia akan mampu melakukan fungsinya dengan baik.
Ketiga, pembentukan. Intelegensi seseorang dapat dibentuk artinya itelegensi
dipengaruhi oleh keadaan luar masing-masing individu. Keempat, minat dan
pembawaan yang khas, seseorang yang memiliki minat akan terdorong untuk
mencapai tujuannya dan terdorong untuk mempelajari dunia luar.
Kelima, kebebasan. Manusia memiliki kebebasan maksudnya adalah manusia
bebas menentukan metode-metode yang ingin digunakan dalam mempelajari
sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.
1.2.2 Berpikir kritis
Berpikir merupakan suatu aktivitas mental, aktivitas kognitif yang berwujud
mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan simbol-simbol
atau materi-materi yang disimpan dalam ingatan dan bertujuan untuk
memecahkan masalah. Di dalam pemecahan masalah tersebut, seseorang akan
menghubungkan satu hal dengan hal yang lain untuk menemukan pemecahannya.
Materi-materi atau bahan yang digunakan sebagai petunjuk dalam proses berpikir
5

dapat dinyatakan dengan kata-kata, gambar, simbol, atau bentuk-bentuk lain.


(Walgito, 2002).
Proses berpikir dalam pemecahan masalah juga sering dikaitkan dengan
kreativitas psikis yang intensional untuk mencapai solusi yang kreatif, dimana
seseorang harus berpikir secara original dan relevant (Medin dkk, 2005). Menurut
Wallas (dalam Medin dkk, 2005) terdapat empat tingkatan (stage) dalam
creativity thought. Pertama, Preparation (persiapan), yaitu tahap dimana
seseorang memformulasikan masalah dan mengumpulkan pengetahuan (fakta-
fakta atau materi) yang dipandang berguna dalam pemecahan masalah.
Kedua, Incubation, yaitu tahap dimana seseorang meletakkan masalah tersebut
dalam jiwanya, karena ia belum memperoleh pemecahan masalah. Ketiga,
Illumination, yaitu tahap dimana seseorang mendapatkan pemecahan masalah
yang secara tiba-tiba (“AHA” experience). Keempat, Verification (evaluasi), yaitu
mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi benar atau
tidak. Jika tidak, maka dapat dilakukan revisi.
Salah satu teori mengenai kreativitas, Investment Theory of Creativity yang
dikemukakan oleh Sternberg dan Lubart (Kusrohmaniah, 2009), menjelaskan
bahwa kreativitas seseorang dipengaruhi oleh intelegensi, pengetahuan, motivasi,
lingkungan yang mendukung, pola pikir yang memadai, emosi dan kepribadian.
Selain itu juga terdapat pengaruh dari faktor sosial, misalnya evaluasi terhadap
pekerjaan, kehadiran orang lain, kompetisi, dan ada tidaknya pembatasan untuk
berkreasi.
Menurut Walgito (2002), dalam proses berpikir untuk memecahkan
permasalahan, terdapat hambatan-hambatan yang mungkin timbul, yaitu data yang
kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang harus diperoleh dan data
yang ada dalam keadaan confuse, data satu bertentangan dengan yang lain,
sehingga membingungkan dalam proses berpikir. Sedangkan permasalahan
(problem) itu sendiri, timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan
satu dengan keadaan yang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan. Pemecahan
masalah (problem solving) yang terjadi bersifat directed, yaitu mencari
6

pemecahan dan dipacu untuk dapat memecahkan masalah tersebut (Walgito,


2002).
Setiap masalah mempunyai tiga unsur (features), yaitu initial state, goal state,
dan obstacles (Matlin dalam Kusrohmaniah, 2009). Initial state didefinisikan
sebagai situasi atau kondisi pada permulaan masalah itu muncul dan Goal state
adalah pencapaian, yaitu ketika masalah diselesaikan. Sedangkan, Obstacles
adalah batasan atau pembatas yang membuat sebuah masalah menjadi sulit untuk
dilanjutkan pemecahannya dari initial state menuju goal state.
Kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah seringkali ditentukan
oleh kemampuan untuk menghasilkan representasi masalah (representing of
problems) yang bermanfaat tentang masalah itu (Atkinson, 2005). Metode untuk
representing of the problems ini dapat berupa symbols, lists, matrices,
pembentukan mental models, hierarchical tree diagrams, graphs, visual imagery,
dan lain-lain (Kusrohmaniah, 2009). Dalam sebuah penelitian dinyatakan bahwa
pembentukan mental models maupun visual imagery mampu membantu subjek
eksperimen menemukan suatu lokasi dan dalam pembentukan mental models
tersebut salah satunya dengan menggunakan informasi yang detail dari lokasi
tersebut (Sternberg, 2002).
Dalam eksperimen yang dilakukan Thorndike dan Kohler, pemecahan masalah
dapat juga dilakukan dengan dua macam cara (Walgito, 2002). Pertama, Trial and
error. Cara ini digunakan seseorang untuk memecahkan masalah dengan
mencoba-coba tanpa adanya pemikiran yang mendalam tentang persoalan yang
dihadapinya.
Kedua, Insight (AHA). Seseorang telah mempunyai insight terlebih dahulu
meskipun masih merupakan suatu hipotesis (Walgito, 2002). Cara ini merupakan
langkah kunci dalam berpikir solutif terhadap suatu permasalahan, dan berada
dalam tahapan illumination (Hunt & Ellis, 2004).
Terkait dengan proses pemecahan masalah, terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi (Kusrohmaniah, 2009). Pertama, expertise (keahlian).
Seseorang yang ahli (kurang lebih mempunyai pengalaman 10 tahun) atau
seseorang yang memiliki keahlian secara konsisten, mampu mengatasi persoalan
7

dan mempunyai performance dan representasi yang lebih baik dalam bidang
tertentu (Medin dkk, 2005).
Kedua, mental sets. Seseorang tetap mencoba atau mempertahankan cara-cara/
solusi yang telah digunakan untuk mengatasi masalah yang sebelumnya,
meskipun terdapat cara yang lebih mudah (Hunt & Ellis, 2004).
Ketiga, functional fixedness, mengacu pada cara kita memikirkan objek (alat
pemecahan masalah), memikirkan cara baru memanfaatkan suatu objek untuk
memecahkan masalah, misalnya dengan mengalihfungsikan alat (Hunt & Ellis,
2004). Keempat, insight and noninsight problems. Kemampuan seseorang dalam
memecahkan masalah juga dipengaruhi oleh ada tidaknya insight atau seberapa
cepat insight tersebut muncul dari dalam dirinya ketika suatu permasalahan
dihadapinya (Hunt & Ellis, 2004).
Cepat atau tidaknya seseorang dalam menyelesaikan masalah juga sangat
dipengaruhi oleh petunjuk (guidance) yang ada. Branca (dalam Sternberg, 2002),
mengemukakan bahwa berpikir dengan menggunakan lambang-lambang atau
simbol-simbol merupakan hal yang penting dalam pemecahan masalah.
Pembentukan konsep atau lambang-lambang merupakan petunjuk dalam usaha
memecahkan masalah dan pengertian yang diperoleh lebih luas.
Petunjuk (guidance) merupakan prosedur yang diberikan dalam memberikan
bantuan pada individu untuk memecahkan masalah (Chaplin, 2006). Untuk lebih
lanjut, Woodworth dan Marquis (dalam Walgito, 2002), mengemukakan bahwa
petunjuk atau guide tersebut dapat diperoleh melalui guide by out standing
characteristic of the pieces dan guide by size on the required square.
Untuk mengukur pengaruh penggunaan petunjuk dalam pemecahan masalah,
dapat diukur dengan menggunakan permainan puzzle. Puzzle dapat diartikan
sebagai suatu teka-teki yang terdiri dari berbagai macam potongan yang harus
diharus dipecahkan, diuraikan, ataupun dipikirkan, sehingga potongan-potongan
tersebut dapat dijadikan satu (Wikipedia, 2010).
8

DAFTAR PUSTAKA

Adi W. Gunawan. 2006. Genius Learning Strategy: Petunjuk Praktis untuk

Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Aliah B. Purwakania Hasan. 2006. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap

Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian.

Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Ary Ginanjar Agustian. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi

dan Spiritual, ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Berdasarkan 6 Rukun

Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga.

Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Hilgard, E.R. 2005. Pengantar Psikologi Jilid I.

Jakarta : Erlangga.

Bhinnety, M. 2001. Petunjuk Praktikum Psikologi Eksperimen. Yogyakarta:

Fakultas Psikologi UGM.

Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rajawali.

Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT.Rosda Karya.

Dini Kasdu. 2004. Anak Cerdas. Jakarta: Puspa Swara.

Hunt, R.R., Ellis, H.C. 2004. Fundamentals of Cognitive Psychology Seventh

Edition. New York : McGraw Hill.

Kusrohmaniah, S. 2009. Handout Mata Kuliah Psikologi Kognitif. Yogyakarta :

Fakultas Psikologi UGM.

Matsumoto, D. 2008. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : Pustaka

Pelajar.
9

Medin, D.L., Ross, B.H., Markman, A.B. 2005. Cognitive Psychology Fourth

Edition. Unites State of America : John Wiley & Sons, Inc.

Stenberg, R.J. 2002. Cognitive Psychology. New York : MCGraw Hill.

Tatang Syaripudin. 2009. Landasan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal

Pendidikan Islam Kementerian Agama RI .

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia ed. 3.

Jakarta: Balai Pustaka.

Uno Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta:

Bumi Aksara.

Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.

Wasty Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Wikipedia. 2010. Puzzle. Online. ( http://www.Wikipedia.com/Pengertian_Puzzle,

diakses pada tanggal 6 November 2019)