Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN

KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN LEUKIMIA

Oleh :
Kelompok III (B12-A)

1. Dwi Febriana (193223055)


2. Gusti Ayu Istri Vikanamurti (193223057)
3. I.G.A. Anggreni (193223059)
4. I Made Widhi Arthayasa (193223069)
5. Komang Ariyani (193223075)
6. Ni Kadek Lisna Andarini (193223079)
7. Ni Komang Ayu Widyasari (193223082)

PROGRAM STUDI ALIH JENJANG S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA BALI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena
berkat rahmat-nya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat waktu. Makalah ini membahas konsep penyakit Leukimia, sehingga
mampu mencapai hasil yang terbaik dalam mengatasi masalah pada pasiendengan
Leukimia.Makalah ini disusun dengan berbagai kajian pustaka, dalam pembuatan
makalah ini.kami berterima kasih kepada pihak yang ikut menyusun makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan.Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.Kritik dan saran
yang diharapkan bersifat konstruktif yang dapat menyempurnakan makalah
selanjutnya.

Denpasar, 18 September 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Leukemia adalah sekumpulan penyakit yang ditandai oleh adanya
akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah (Hoffbrand, Pettit
& Moss, 2005).Leukemia merupakan kanker pada jaringan pembuluh darah
yang paling umum ditemukan pada anak (Wong, Hockenberry, Wilson,
Winkelstein & Schwartz, 2008; American Cancer Society, 2009).Leukemia
yang terjadi pada umumnya leukemia akut, yaitu Acute Limfoblastic
Leukemia (ALL) dan Acute Mieloblastic Leukemia (AML).Lebih kurang 80%
leukemia akut pada anak adalah ALL dan sisanya sebagian besar AML
(Rudolph, 2007).
Yayasan Ongkologi Anak Indonesia menyatakan bahwa menurut data dari
World Health Organization (WHO), setiap tahun jumlah penderita kanker
anak terus meningkat.Jumlahnya mencapai 110 sampai 130 kasus per satu juta
anak per tahun. Di Indonesia, setiap tahun ada kirakira 11.000 kejadian kanker
anak, dan 650 kasus kanker anak di Jakarta. Jenis kanker anak yang paling
sering ditemukan di Indonesia adalah leukemia dan retinoblastoma
Pengobatan utama leukemia yang digunakan adalah kemoterapi karena sel
leukemik dari penderita leukemia biasanya cukup sensitif terhadap kemoterapi
pada saat diagnosis (Rudolph, 2007).Kemoterapi adalah perawatan berulang
dan teratur yang diberikan secara kombinasi, dengan lama pengobatan selama
dua sampai tiga tahun bagi pasien ALL (Davey, 2005 dikutip dari Gamayanti,
Rakhmawati, Mardhiyah & Yuyun, 2012).Mekanisme kerja kemoterapi yang
bersifat tidak selektif dan terapi kombinasi menyebabkan toksisitas obat
meningkat.Toksisitas kemoterapi secara umum dapat dibagi dua yaitu bersifat
akut dan jangka panjang.Toksisitas akut terjadi segera setelah pemberian
kemoterapi (jam–minggu) dan bersifat sementara, sedangkan toksisitas jangka
panjang bersifat permanen. Toksisitas akut antara lain depresi sumsum tulang,
mual, muntah, alopesia, mukositis orointestinal, alergi, kelainan fungsi hati
dan ginjal. Beberapa obat kemoterapi bersifat unik oleh karena toksisitas obat
bersifat spesifik terhadap organ atau jaringan tertentu permanen (Vassal,
2005).
Menurut Rudolph (2007), ada strategi dasar untuk pengobatan ALL yang
terdiri atas: fase induksi, pengobatan sistem saraf pusat presimtomatis, fase
konsolidasi, dan fase rumatan (maintenance). Pada kemoterapi pertama yang
diberikan pada anak penderita leukemia yakni fase induksi, sangat ketat dan
kadang-kadang komplikasi dapat cukup 3 serius dan mengancam jiwa
(American Cancer Society, 2013)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah yang penulis angkat adalah bagaimanakah konsep penyakit leukemia
dan konsep dasar asuhan keperawatan anak dengan leukemia?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar penulis mampu mempelajari konsep penyakit Leukimia dan konsep
dasar asuhan keperawatan leukimia, sehingga mampu mencapai hasil yang
terbaik dalam mengatasi masalah pada pasiendengan Leukimia
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengkajian keperawatan pada anak dengan leukemia
b. Mengetahui rumusan masalah keperawatan pada anak dengan
leukimia
c. Mengetahui perencanaan keperawatan pada anak dengan leukimia
d. Mengetahui implementasi keperawatan pada anak dengan leukimia
e. Mengetahui evaluasi keperawatan pada anak dengan leukemia

1.4 Manfaat
Manfaaat yang diperoleh dalam penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui konsep penyakit Leukemia dan asuhan keperawatan pada pasien
dengan penyakit Leukemia.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


2.1 Definisi
Leukemia merupakan penyakit akibat proliferasi (bertambah banyak atau
multiplikasi) patologi dari sel pembuat darah yang bersifat sitemik dan biasanya
berakhir fatal (Nursalam, 2008).
Leukemia merupakan penyakit akibat terjadinya proliferasi sel leukosit yang
abnormal dan ganas serta sering disertai adanya leukosit jumlah berlebihan yang
dapat menyebabkan terjadinya anemia trombositopenia (Hidayat, 2008).
Leukemia penyakit ini merupakan proliferasi patologis dari sel pembuat
darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal.Leukemia dikatakan
penyakit darah yang disebabkan terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel
darah, yaitu pada sumsum tulang.Penyakit ini disebut kanker darah.Keadaan
sebenarnya sumsum tulang bekerja aktif membuat sel-sel darah tetapi yang
dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini mendesak pertumbuhan
sel darah yang normal (Ngastiyah, 2005).

2.2 Epidemiologi
Leukemia merupakan keganasan yang sering dijumpai tetapi hanya
merupakan sebagian kecil dari kanker secara keseluruhan. Beberapa data
epidemiologi yang terkumpul menunjukkan hal-hal berikut:
1. Insiden
Insiden leukemia di Negara Barat adalah 13/100.000 penduduk/tahun.
Leukemia merupakan 2,8 % dari seluruh kasus kanker. Belum ada angka
pasti mengenai insiden leukemia di Indonesia.
2. Frekuensi relative
Frekuensi relatif leukemia di Negara Barat menurut Gunz:
Leukimia akut: 66%
CLL 25%
CML 15%
Di Indonesia frekuensi CLL sangat rendah, CML merupakan leukemia
kronik yang paling sering dijumpai.
3. Umur
Mengenai insiden menurut umur didapatkan data-data sebagai berikut :
ALL : terbanyak pada anak-anak dan dewasa muda
AML : pada semua umur, lebih sering pada orang dewasa
CML : pada semua umur, tersering umur 40-60 tahun
CLL : terbanyak pada orang tua
4. Jenis kelamin
Leukemia lebih sering dijumpai pada laki-laki dibandingkan wanita dengan
perbandingan: 1,2 -2 : 1

2.3 Etiologi
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti.Oleh sebab itu, sangat sulit
bagi kita untuk menghindarinya, setidaknya ada beberapa factor yang dapat
mempengaruhi terhadap frekuensi leukemia. Ada beberapa faktor tersebut antara
lain(Sunaryanti, 2011) yaitu :
a) Radiasi
Menurut data, LMA lebih disebabkan karena serangan radiasi. Sedang
LLK sendiri jarang mendapat laporan karena faktor radiasi. Jadi ada
kemungkinan pegawai radiologi bisa memiliki kemungkinan terkena
serangan Leukemia, penderita dengan radioterapi lebih sering menderita
leukimia, Sebenarnya untuk serangan Leukemia pada anak-anak sendiri
meningkat setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.
Semenjak itu, mulai banyak laporan mengenai anak-anak yang menderita
Leukemia ini.
b) Faktor Leukemogenik
Maksudnya disini itu karena faktor zat kimia tertentu. Biasanya Racun
lingkungan seperti benzena, Insektisida, obat-obatan terapi kaya
kemoterapi juga akan memungkinkan terjadinya Leukemia.
c) Virus
Virus ini biasanya sih Virus HTLV penyebab utamanya. HTLV ituT-cell
Leukemia Viruses yang merupakan penyebab utama dari ketidak normalan
perkembangan sel darah putih. Biasanya sih HTLV I atau II. Virus lainnya
antara lain retrovirus atau virus leukemia feline.
d) Herediter
Herediter disini maksudnya keturunan. Biasanya orang yang memiliki
Sindrom Down lebih rentan terkena Leukemia dibanding yang tidak.
Kemungkinan terkenanya sekitar 20 kali lebih rentan dibanding yang
normal.

2.4 Patofisiologi
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan
leukosit atau sel darah putih (WBC) serta trombosit atau platelet.Seluruh sel darah
normal diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum
tulang.Sel batang dapat dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah
(myeloid), dimana pada kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagis
epanjang jalur tunggal khusus.
Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum tulang
tengkorak, tulang belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis
pada tulang-tulang yang panjang.ALL meningkat dari sel batang lymphoid tungal
dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam
sumsum tulang. Biasanya dijumpai tinmgkat pengembangan lymphoid yang
berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah hingga hampir
menjadi sel normal.Derajat kementahannya merupakan petunjuk untk
menentukan/meramalkan kelanjutannya.Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan
sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang leukopenia
(25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula kadar
hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya
menunjukkan sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel
stem pluripoten, kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia,
sel B matang, sel plasmasitoid dan sel plasma. Limfosit T juga berasal dari sel
stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem limfoid, sel timosit imatur,
cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T helper dan limfosit T
supresor.
Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular
sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan
hepatosplenomegali.Sakit tulang juga sering dijumpai. Jugaa timbul serangan
pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah, “seizures” dan
gangguan penglihatan( Nuratif & Kusuma, 2015)
2.5 Pathway
FACTOR PENCETUS
Sel neoplasma
- Genetik - kelainan kromosom
berproliferasi didalam
- Radiasi - infeksi virus
sumsum tulang
- Obat – obatan - paparan bahan kimia

Infiltrasi sumsum tulang Penyebaran ekstramedular Sel onkogen

Pertumbuhan berlebih
Melalui sirkulasi darah Melalui sistem limfatik

Kebutuhan nutrisi
Pembesaran hati dan Nodus limfe
meningkat
limfe

Limfadenopati
Hepatosplenomegali
Hipermetabolisme

Penekanan ruang Peningkatan tekanan


abdomen intra abdomen Defisit Nutrisi(D.0019)

Sel normal digantikan


Nyeri Akut(D.0077)
oleh sel kanker

Depresi produksi Suplai oksigen ke Perfusi perifer tidak


sumsum tulang jaringan inadekuat efektif(D.0009)

Penurunan eritrosit Risiko perdarahan(D.0012)


Anemia
Penurunan trombosit
Trombositopenia Kecenderunga perdarahan

Penurunan fungsi
leukosit Daya tahan tubuh Risiko infeksi(D.0142)

Infiltrasi periosteal Kelemahan tulang

Tulang lunak dan lemah

Fraktur fisiologis

Gangguan mobilitas fisik (D.0054)


2.6 Klasifikasi
Leukemia dibagi menjadi leukemia akut dan leukemia
kronik.Pembagian ini tidak menggambarkan lamanya harapan hidup
tetapi menggambarkan kecepatan timbulnya gejala dan komplikasi.
Pada garis besarnya pembagian leukemia adalah sebagai berikut
(Sunaryanti, 2011) yaitu :
a) Leukimia limfositik akut (LLA)
Merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak.Penyakit ini
juga terdapat pada orang dewasa, terutama mereka yang telah berumur 65
tahun atau lebih.
b) Leukemia mielositik akut (LMA)
Penyakit yang lebih sering terjadi pada orang dewasa daripada anak-
anak.Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
c) Leukimia limfositik kronis (LLK)
Penyakit ini sering di derita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55
tahun.Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda dan hampir tidak ada
pada anak-anak.
d) Leukimia mielositik kronis (LMK)
Penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa dan dapat juga terjadi pada
anak-anak, namun sangat sedikit kemungkinannya.

2.7 Tanda & Gejala


Adapun tanda dan gejala dari leukimia sebagai berikut (Nuratif & Kusuma,
2015) yaitu :
a) Leukemia Granulositik Kronik (LGK)
LGK adalah suatu penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan
produksi berlebihan seri granulosit yang relatif matang. Gejala LGK antara
lain rasa lelah, penurunan BB, rasa penuh di perut dan mudah berdarah.
Pada pemeriksaan fisis hamper selalu ditemukan splenomegali, yaitu pada
90% kasus. Juga sering didapatkan nyeri tekan pada tulang dada dan
hepatomegali.Kadang-kadang ada purpura, perdarahan retina, panas,
pembesaran kelenjar getah bening dan kadang-kadang priapismus.
b) Leukemia mieloblastik akut (LMA)
Gejala penderita LMA antara lain rasa lelah, pucat, nafsu makan hilang,
anemia, petekie, perdarahan, nyeri tulang, infeksi, pembesaran kelenjar
getah bening, limpa, hati dan kelenjar mediastinum.Kadang-kadang juga
ditemukan hipertrofi gusi, khususnya pada leukemia akut monoblastik dan
mielomonositik.
c) Leukemia limfositik kronik
Gejala LLK antara lain limfadenopati, splenomegali, hepatomegali,
infiltrasi alat tubuh lain (paru, pleura, tulang, kulit), anemia hemolitik,
trombositopenia, hipogamaglobulinemia dan gamopati monoklonal
sehingga penderita mudah terserang infeksi.
d) Leukemia limfoblastik akut
Gejala penderita LLA adalah sebagai berikut: rasa lelah, panas tanpa
infeksi, purpura, nyeri tulang dan sendi, macam-macam infeksi, penurunan
berat badan dan sering ditemukan suatu masa yang abnormal. Pada
pemeriksaan fisis ditemukan splenomegali (86%), hepatomegali,
limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimoses dan perdarahan retina.

1.8 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum
Keadaan umum pada penderita leukemia tampak lemah, kesadaran bersifat
composmentis selama belum terjadi komplikasi.
2. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : tidak normal (TD normal 120/80 mmHg)
Nadi : bisa meningkat
Suhu : meningkat jika terjadi infeksi
RR : Dispneu, takhipneu
3. Pemeriksaan fisik Head To Toe
a) Pemeriksaan Kepala
Inspeksi : Perhatikan bentuk kepala apakah simetris atau tidak.
Biasanya pada penderita leukemia betuk kepala simetris.Rambut :
Perhatikan keadaan rambut mudah dicabut atau tidak,warna, hygiene
Palpasi : Palpasi nyeri tekan, ada atau tidak. Biasanya pada
penderita tidak ada nyeri tekan.
b) Pemeriksaan Mata
Inspeksi
Palpebra : Perhatikan kesimetrisan kiri dan kanan
Konjungtiva : Anemis atau tidak. Pada penderita leukemia akan
ditemukan konjungtiva yang anemis.
Sclera : Ikterik atau tidak. Sclera penderita leukemia akan terlihat
tidak ikterik.
c) Pemeriksaan Hidung
Inspeksi kesimetrisan bentuk hidung, mukosa hidung, palpasi adanya
polip.Penderita leukemia memiliki pemeriksaan hidung yang normal.
d) Pemeriksaan Mulut
Inspeksi apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri ),
perdarahan gusi. Biasa papa penderita leukemia, ditemukan bibir
pucat, sudut – sudut bibir pecah – pecah.
e) Pemeriksaan Telinga
Inspeksi simetris kiri dan kanan, sirumen.Palpasi nyeri tekan.Periksa
fungsi pendengaran dan keseimbangan.Pada penderita leukemia
biasanya tidak ditemukan kelainan dan bersifat normal.
f) Pemeriksaan Leher
Inspeksi dan palpasi adanya pembesaran getah bening kelenjer tiroid,
JVP, normalnya 5-2.Penderita leukemia tidak mengalami pembesaran
kelenjer tiroid.
g) Pemeriksaan Thorak
Jantung
Inspeksi :Iktus terlihat atau tidak, inspeksi kesimetrisan. Pada
penderita leukemia, iktus terlihat
Palpasi : Raba iktus kordis. Normalnya, iktus teraba.
Perkusi : Tentukan batas jantung.
Auskultasi : Terdengar bunyi jantung 1 dan 2, normal.
Paru – paru
Inspeksi : Kesimetrisan kiri dan kanan saat inspirasi dan ekspirasi,
biasanya normal.
Palpasi : Vokal femoris teraba, simetris kiri dan kanan.
Perkusi : bunyi suara pekak atau normal
Auskultasi : Biasanya bunyi nafas vesikuler.
h) Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : Apakah dinding abdomen mengalami memar, bekas
operasi, dsb.
Auskultasi : Bising usus normal
Palpasi : Palpasi apakah ada nyeri tekan, hepar teraba atau tidak.
Biasanya terdapat nyeri tekan, dan hepar akan teraba.
Perkusi :Lakukan perkusi, biasa didapat bunyi tympani untuk
semua daerah abdomen
i) Pemeriksaan Ekstremitas
Inspeksi kesemetrisan, palpasi adanya nyeri tekan pada ekstremitas
atas dan bawah. Biasanya pada penderita leukemia akan mengalami
nyeri pada tulang dan persendian.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Adapun pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan diagnostik pada penderita
leukemia sebagai berikut (Nuratif & Kusuma, 2015 ; Ngastyah, 2005) yaitu :

1. Gejala yang terlihat pada darah tepi berdasarkan pada kelainan sumsum
tulang berupa adanya pensitopenia, limfositosis yang kadang-kadang
menyebabkan gambarah darah tepi menoton dan terdapat sel blas.
Terdapatnya sel blas dalam darah tepi merupakan gejala patognomik untuk
leukemia. Kolesterol mungkin rendah, asam urat dapat meningkat,
hipogamaglobinemia. Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan
gambaran yang menoton, yaitu hanya terdiri dari sel limfopoietik patologis
sedangkan system lain tersedak (aplasia sekunder). Pada L.MA selain
gambaran yang menoton, terlihat pula adanya hiatus leukemia ialah
keadaan yang memperlihatkan banyak sel blas (mieloblas), beberapa sel
tua (segmen) dan sanga kurang bentuk peatangan sel berada diantaranya
(promielosit, mielosit, metamielosit dan sel batang).
2. Biopsi limpa
Pemeriksaan ini memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang
berasal dari jaringan limpa yang terdesak, seperti limfosit normal, RES,
granuosit, dan pulp cell.
3. Cairan serebrospinalis
Bila terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein, berarti suatu
leukemia meningeal.Kelainan ini dapat terjadi setiap saat pada perjalanan
penyakit baik dalam keadaan remisi maupun dalam keadaan
kambuh.Untuk mencegah diberikan metotreksT (MTX) secara intratekal
secara rutin setiap pasien baru atau pasien yang menunjukkan gejala
tekanan intrakranial meninggi.
4. Sitogenik
Menunjukkan kelainan kromosom.Untuk menentukan pengobatannya
harus diketahui jenis kelainan yang ditemukan. Pada leukemia biasanya
didapatkan dari hasil darah tepi berupa limfositosis lebih dari 80% atau
terdapat sel blas, juga diperlukan pemeriksaan sumsum tulang dengan
menggunakan mikroskop electron akan terlihat adanya sel patologis.

2.10 Therapy/ Tindakan Penanganan


Pengobatan pada penderita leukemia dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu antara lain sebagai berikut( Tarwoto dan Wartonah. 2008) :
a) Kemoterapi dengan obat
Penggunaan ini bersifat menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker
patologis yang menyerang akan tubuh. Nah kalau tadi penggunaan
kemoterapi dapat mengakibatkan kanker baru memang benar.
Biasanya penggunaan obat ini ditambahkan dengan obat penghambat
munculnya penyakit baru. Biasanya obat yang digunakan
adalah hydrea / hydroksiurea, mercapto purinetol dan myleran. Rosy
Periwinkle di hutan madagaskar sering juga digunakan untuk
penyembuhan Leukemia ini. Sayangnya tumbuhan ini terancam punah.
b) Transplantasi Sumsung tulang belakang
Biasanya adalah sumsum tulang belakang dari saudara kandung atau
saudara dekat. Keuntungannya adalah sisem imun tidak akan aktif
untuk membunuh sel hasil transplantasi. Kerugiannya sendiri adalah
sel yang akan berfungsi dalam waktu yang sangat lama, tidak akan
berfungsi dengan baik dalam waktu yang singkat.
c) Radioterapi
Untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
d) Terapi terfokus
Untuk menyerang bagian-bagian rentan dalam sel-sel kanker.
e) Terapi biologis
Untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang
sel-sel kanker.

2.11 Komplikasi
Adapun komplikasi dari leukemia ada beberapa yaitu sebagai berikut (Betz
Lynn.C & Sowden. AL, 2009) :
a) Kelelahan (fatigue). Jika leukosit yang abnormal menekan sel-sel
darah merah, maka anemia dapat terjadi. Kelelahan merupakan akibat
dari kedaan anemia tersebut. Proses terapi Leukemia juga dapat
meyebabkan penurunan jumlah sel darah merah.
b) Pendarahan (bleeding). Penurunan jumlah trombosit dalam darah
(trombositopenia) pada keadaan Leukemia dapat mengganggu proses
hemostasis. Keadaan ini dapat menyebabkan pasien mengalami
epistaksis, pendarahan dari gusi, ptechiae, dan hematom.
c) Rasa sakit (pain). Rasa sakit pada leukemia dapat timbul dari tulang
atau sendi. Keadaan ini disebabkan oleh ekspansi sum-sum tulang
dengan leukosit abnormal yang berkembang pesat.
d) Pembesaran Limpa (splenomegali). Kelebihan sel-sel darah yang
diproduksi saat keadaan leukemia sebagian berakumulasi di limpa. Hal
ini menyebabkan limpa bertambah besar, bahkan beresiko untuk
pecah.
e) Stroke atau clotting yang berlebihan (excess clotting). Beberapa pasien
dengan kasus leukemia memproduksi trombosit secara berlebihan. Jika
tidak dikendalikan, kadar trombosit yang berlebihan dalam darah
(trombositosis) dapat menyebabkan clot yang abnormal dan
mengakibatkan stroke.
f) Infeksi. Leukosit yang diproduksi saat keadaan leukemia adalah
abnormal, tidak menjalankan fungsi imun yang seharusnya. Hal ini
menyebabkan pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu
pengobatan leukemia juga dapat menurunkan kadar leukosit hingga
terlalu rendah, sehingga sistem imun tidak efektif.
g) Kematian.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
Anak yang menderita leukima sering mengalami keluhan-keluhan yang tidak
spesifik, akibatnya anak diduga hanya mengalami sakit yang ringan sifatnya,
sehingga tidak segera dibawa ke dokter.Oleh karena itu, perlu dilakukan
pengkajian secara cermat. Data-data yang perlu dikaji adalah data-data yang
didapatkan pada anak berkaitan dengan kegagalan sumsum tulang dan adanya
infilarasi ke organ lain, sebagai berikut :
1. Usia
Menurut Wong (1991), leukimia merupakan kanker yang banyak didertita
oleh anak yang berusia 2-5 tahun, dimana penderita yang laki-laki lebih
banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang perempuan
2. Kegagalan sumsum tulang untuk memproduksi sel darah mengakibatkan
berbagai keluhan dan gejala, yaitu :
a) Anemia
Sebagaimana pembahasan terdahulu mengenai gejala pada anemi,
anak yang menderita leukimia juga mengalami pucat, mudah lelah,
kadang-kadang sesak nafas.Anemi terjadi karena sumsum tulang gagal
memproduksi sel darah merah.
b) Suhu tubuh tinggi dan mudah infeksi
Adanya penurunan leukosit secara otomatis akan menurunkan daya
tahan tubuh, karena leukosit yang berfungsi untuk mempertahankan daya
tahan tidak dapat bekerja secara optimal. Konsekusensi dari semuanya itu
adalah tubuh akan mudah terkena infeksi yang bersifat lokal ataupun
sistemik, dan kejadian tersebut sering berulang. Suhu tubuh yang
meningkat disebabkan karena adanya infeksi kuman secara sistemik
(sepsis)
Tanda-tanda infeksi tersebut harus diwaspadai karena pada anak yang
menderita leukimia, tidak ditemukan tanda-tanda yang spesifik pada
tahap awalnya.
c) Perdarahan
Tanda-tanda perdarahan dapat dilihat dan dikaji dari adanya
perdarahan mukosa seperti gusi, hidung (epistaxis), atau perdarahan
bawah kulit yang sering disebut dengan petekia. Perdarahan ini dapat
terjadi secara spontan atau karena trauma, bergantung pada kadar
thrombosit dalam darah. Apabila kadar thrombosit sangat rendah,
perdarahan dapat terjadi secara spontan.
3. Adanya sel-sel darah abnormal yang melakukan infiltrasi ke organ tubuh
lain dapat mengakibatkan :
a) Nyeri pada tulang atau persendian
Adanya infiltrasi sel-sel abnormal ke sistem musculuskeletal membuat
anak merasa nyeri pada persendian terutama apabila digerakkan
b) Pembesaran kelenjar getah bening
Selain tulang belakang, kelenjar getah bening merupakan salah satu
tempat pembentukan limfosit, yang mempunyai salah satu fungsi sebagai
mekanisme pertahanan diri.Limfosit merupakan salah satu bagian dari
leukosit.Adanya pertumbuhan sel-sel darah abnormal pada sumsum tulang
mengakibatkan kelenjar getah bening mengalami pembesaran karena
infiltrasi sel-sel abnormal dari sumsum tulang.Pembesaran kelnjar getah
bening dapat diamati/ palpasi karena yang letaknya superficial.
c) Hepatosplenomegali
Lien atau limfa juga merupakan salah satu organ yang berfungsi untuk
membentuk sel darah merah ketika bayi berada dalam kandungan. Apabila
sumsum tulang mengalami kerusakan, lien dan hepar akan mengambil-alih
fungsinya sebagai pertahanan diri. Sebagai kompensasi dari keadaan
tersebut, lien dan hepar akan mengalami pembesaran.
d) Penurunan kesadaran
Adanya infiltrasi sel-sel abnormal ke otak dapat menyebabkan
berbagai gangguan, seperti kejang sampai koma.
4. Selain data-data tersebut, perlu juga dikaji data-data yang tidak spesifik
yang dialami oleh anak yang sakit, misalnya :
a) Pola makan. Biasanya mengalami penurunan nafsu makan.
b) Kelemahan dan kelelahan fisik
c) Pola hidup, pola hidup, terutama dikaitkan dengan kebiasaan
mengkonsumsi bahan makanan yang tergolong karsinogenik, yaitu
makanan yang beresiko mempermudah timbulnya kanker karena
mengandung bahan pengawet / kimia, misalnya, makanan kaleng atau
tinggal dilingkungan yang banyak polutannya.
d) Apabila pasien yang dikaji sedang dalam pemberian sitostatika, perlu
diperhatikan efek samping yang kemungkinan timbul, seperti rambut
rontok, stamatitis, atau kuku yang menghitam.
5. Penunjang diagnosis, pemeriksaan yang sering dilakukan adalah :
a) Pemeriksaan darah, umumnya didapatkan hasil :
1) Hb dan eritrosit : menurun
2) Leukosit : normal, menurun atau meningkat
3) Thrombosit: menurun (thrombositopeni) dan kadang-kadang
jumlahnya sangat sedikit
4) Hapusan darah : hormokrom, normasiter, dan hampir selalu dijumpai
blastosit yang abnormal
b) Pemeriksaan sumsum tulang
Bagi anak yang diduga menderita leukimia, pemeriksaan sumsum
tulang (boneage) mutlak dilakukan.Hasil pemeriksaan hampir selalu penuh
dengan blastosit abnormal dan sistem hemopoitik normal yang terdesak.

2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis terhadap pengalaman atau
respon individu, keluarga, atau komunitas pada masalah kesehatan, pada risiko
masalah kesehatan atau pada proses kehidupan (PPNI, 2016).Diagnosis atau
masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan leukimia antara lain:
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis(mis: inflamasi,
iskemia, neoplasma)
2) Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis (mis : stress,
keengganan untuk makan)
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
4) Risiko perdarahan dibuktikan dengan gangguan koagulasi(misalnya
trombositopenia)
5) Risiko infeksi dibuktikan dengan ketidakadekuatan pertahan tubuh
sekunder (penurunan hemoglobin, imununospresi leukopenia, supresi
respon inflamasi)
6) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin
7) Hipertermia berhubungan dengan penyakit( mis: infeksi, kanker).
2.3Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer NOC Nic
berhubungan dengan penurunan konsentrasi  Circulation Status Peripheral Sensasion Management
hemoglobin  Tissue Perfusion : cerebral (Manajemen Sensasi Perifer)
1. Monitor adanya daerah tertentu yang hanya
Kriteria Hasil : peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
Mendemonstrasikan status sirkulasi yang 2. Monitor adanya aretese
ditandai dengan : 3. Mengobservasi kulit jika ada lesi atau laserasi
1. Tekanan systole dan diastole dalam 4. Gunakan sarung tangan untuk proteksi
rentang yang diharapkan 5. Batasi gerakan pada kepala, leher dan
2. Tidak ada ortostastik hipertensi punggung
3. Tidak ada tanda-tanda peningkatan 6. Monitor kemampuan BAB
intracranial (tidak lebih dari 15 mmHg) 7. Kolaborasi pemberian analgetik
Mendemonstrasikan kemampuan kognitif 8. Monitor adanya tromboplebitis
yang ditandai dengan : 9. Diskusikan mengenai penyebab perubahan
1. Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai sensasi
dengan kemampuan
2. Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan
orientasi
3. Memproses informasi
4. Membuat keputusan dengan benar
Menunjukkan fungsi sensori motori
cranial yang utuh : tingkat kesadaran
membaik, tidak ada gerakan involunter
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera NOC NIC
fisiologis(mis: inflamasi, iskemia, neoplasma).  Pain level Manajemen Nyeri
 Pain control 1. Kaji nyeri secara komprehensif termasuk
 Comfort level lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas atau beratnya nyeri dan faktor
Kriteria Hasil pencetusnya
1. Mampu mengontrol nyeri 2. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti ;
(tahu penyebab nyeri, penyebab nyeri, beberapa lama nyeri akan
mampu menggunakan diarasakan, dan antisipasi dari
tehnik nonfarmakologi mengurangi ketidaknyamanan akibat prosedur
nyeri, mencari bantuan) 3. Berikan posisi semi - fowler
2. Melaporkan bahwa Tehnik Relaksasi
nyeri berkurang dengan menggunakan 1. Ajarkan dan praktikkan tehnik relaksasi
manajemen nyeri nafas dalam pada pasien
3. Mampu mengenali 2. Anjurkan tehnik kompres hangat
nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan 3. Evaluasi laporan individu terkait
tanda nyeri) dengan relaksasi yang dicapai secara teratur
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri 4. Monitor denyut nadi(70-
berkurang 110x/menit), tekanan darah (100/60 mmHg -
115/60mmHg) dansuhu tubuh (36,5oC-37,5oC)
dengan tepat
5. Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap
terapi relaksasi
3) Hipertermia berhubungan dengan penyakit (mis: NOC NIC
infeksi, kanker) Thermuregulatiaon Fever treatment
Kriteria hasil : 1. Monitor suhu sesering mungkin
1. Suhu tubuh dalam rentang 2. Monitor IWL
normal(36,5oC-37,5oC) 3. Monitor warna dan suhu kulit
2. Nadi (70-110x/menit) dan respirasi (15- 4. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
30x/menit) dalam rentang normal 5. Monitor tingkat kesadaran
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan 6. Monitor WBC,Hb, dan Hct
tidak ada pusing 7. Monitor intake dan output
8. Berikan antipiretik
9. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab
demam
10. Selimuti pasien
11. Lakukan tapid sponge
12. Kolaborasi pemberian intravena
13. Kompres pasien pada lipatan paha dan aksila
14. Tingkatkan sirkulasi udara
15. Berikan pengobatan untuk mencegah
terjadinya menggigil
4) Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor NOC NIC
psikologis (mis : stress, keengganan untuk 1. Nutritional status Nutrition Management
makan) 2. Nutritional status: food and fluid 1. Kaji adanya alergi makanan
3. Intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi
4. Nutritional status : nutrient intake 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
5. Weight control 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein
Kriteria hasil : dan vitamin C
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai 5. Berikan substansi gula
dengan tujuan 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi serat
badan 7. Berikan makanan yang terpilih (sudah
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan dikonsulkan dengan ahli gizi)
nutrisi 8. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
4. Tidak ada tanda malnutrisi 9. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
5. Menunjukkan peningkatan fungsi 10. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
pengecapan dari menelan nutrisi yang dibutuhkan
6. Tidak terjadi penurunan berat badan Nutrision Monitoring
yang berarti 1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor adanya penurunan berat badan
3. Monitor interaksi anak selama makan
4. Monitor lingkungan selama makan
5. Monitor turgor kulit
6. Monitor mual muntah
7. Monitor kadar albumin, total protein,
8. Timbang pasien secara teratur
5) Risiko infeksi dibuktikan dengan NOC Nic
ketidakadekuatan pertahan tubuh sekunder 1. Immune status Infection Control (Kontrol Infeksi)
(penurunan hemoglobin, imununospresi 2. Knowledge : infection control 1. Pertahankan lingkungan aseptik selama
leukopenia, supresi respon inflamasi) 3. Risk control pemasangan alat
Kriteria Hasil : 2. Ganti letak IV perifer dan line central dan
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi dressing sesuai dengan petunjuk umum
2. Mendeskripsikan proses penularan 3. Tingkatkan intake nutrisi
penyakit, factor yang mempengaruhi 4. Berikan terapi antibiotic bila perlu
penularan serta penatalaksanaan Infection Protection (Proteksi Terhadap
3. Jumlah leukosit dalam batas normal Infeksi)
4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
local
2. Monitor hitung granulosit, WBC
3. Monitor kerentanan terhadap infeksi
4. Berikan perawatan kulit pada area epidema
5. Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
6. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
7. Dorong masukkan cairan
8. Instrusikan pasien untuk minum antibiotic
9. Laporkan kecurigaan infeksi
10. Laporkan kultur positif
6) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan NOC NIC
penurunan kekuatan otot 1. Joint movement : Active Exercise therapy : ambulation
2. Mobility Level 1. Monitoringvital sign sebelum/sesudah latihan
3. Self care : ADLs dan lihat respon pasien saat latihan
4. Transfer Performance 2. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang
Kriteria Hasil : rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan
1. Klien meningkatkan dalam aktifitas fisik 3. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain
2. Mengerti tujuan dari peningkatan tentang tehnik ambulasi
mobilitas 4. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan
3. Memverbalisasikan perasaan dalam ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
meningkatkan kekuatan dan kemampuan 5. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan
berpindah berikan bantuan jika diperlukan
7) Risiko perdarahan dibuktikan dengan gangguan NOC NIC
koagulasi (misalnya trombositopenia) 1. Blood lose severity Bleeding Precautions
2. Blood koagulation 1. Catat nilai Hb dan HT sebelum dan sesudah
Kriteria Hasil : terjadi perdarahan
1. Tekanan darah dalam batas normal 2. Monitor nilai lab (koagulasi) yang meliputi
2. Hemoglobin dan hematrokrit dalam PT,PTT, trombosit
batas normal 3. Monitor TTV ortostatik
3. Plasma, PT,PTT dalam batas normal 4. Hindari pemberian aspirin dan anticoagulant
5. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake
makanan yang banyak mengandung vitamin K
1.1 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
rencana keperawatan diantaranya : intervensi dilaksanakan sesuai dengan
rencana setelah dilakukan validasi : keterampilan interpersonal, teknikal dan
intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat,
keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi
dan respon pasien. pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara
kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah
kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien.

1.2 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada
tahap evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi adalah suatu penilaian
terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan klien. Hasil yang diharapkan pada klien dengan leukemia adalah:
a) Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b) Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan,
adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
c) Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
d) Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan
muntah
e) Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa
tidak nyaman
f) Masukan nutrisi adekuat
g) Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau
menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan
perasaan tidak nyaman.
h) Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan
rambut, anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek
kerontokan rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih,
rapi, dan berpakaian menarik.
i) Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga
menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastic yang
beragam, ditandai oleh petbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna
dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid.Sel-sel
normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel
abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah prefer atau
darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan
sel darah normal dan imunitas tubuh penderita. Tanda gejala yangmuncul
biasanya anak akan merasa sesak, lemah, pucat, nyeri pada persendian dan
diagnosa yang pasti ditegakkan berdasarkan hasil laboratorium.

3.2 Saran
Leukimia atau kanker darah merupakan penyakit yang dapat mengancam
nyawa untuk itu diperlukan diaggnnosa yang tepat untuk mecegah adanya
kompliksi lain yang dapat ditimbulkan. Saran yang ingin penulis berikan yaitu
sebagai seorang perawat ita harus mampu melaksanakan proses asuhan
keperawatan secara komprehensif mulai dari pengkajian, merumuskan masalah,
menyusun perencanaan, melaksanakan intervensi dan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA

Betz Lynn.C & Sowden.A Linda. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta
: Buku Kedokteran EGC.

Hidayat A.A.A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba


Medika

Ngastyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Nuratif Huda.A & Kusuma Hardhi.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 2.Jogjakarta :
Medication.

PPNI, T. P. S. D. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:


Dewan Pengurus Pusat.

Sunaryati shinta.S. 2014. Penyakit Paling Sering Menyerang dan Sangat


Mematikan. Jogjakarta : FlashBooks.

Tarwoto dan Wartonah.2008. Keperawatan Medikal Bedah gangguan


Hematologi. Jakarta : Trans Info Media.