Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

TRANSPIRASI
Hari: Kamis Tanggal: 14 Maret 2019 Jam: 08.50−10.30

Disusun Oleh:
Kelompok 3 Kelas D1
Imarotus Shofiyah (081711433052)
Aulia Azzahra (081711433061)
Febri Dwi Irfansyah (081711433063)
Zya Labiba (081711433065)

Dosen Asistensi :
Dr. Edy Setiti Wida Utami, MS.

PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari
jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati
stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Transpirasi merupakan pengeluaran
berupa uap H2O dan CO2, terjadi siang hari saat panas, melaui stomata (mulut
daun) dan lentisel (celah batang). Transpirasi berlangsung melalui bagian
tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu melalui pori-pori daun
seperti stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi tanaman.
Sebatang tumbuhan yang tumbuh di tanah dapat dibayangkan sebagai
dua buah sistem percabangan, satu di bawah dan satu lagi di atas permukaan
tanah. Kedua sistem ini dihubungkan oleh sebuah sumbu utama yang
sebagian besar terdapat di atas tanah. Sistem yang ada dalam tanah terdiri atas
akar yang bercabang-cabang menempati hemisfer tanah yang besar. Akar-
akar terkecil terutama yang menempati bagian luar hemisfer tersebut. Karena
sumbu yang menghubungkan akar dan daun memungkinkan air mengalir
dengan tahanan wajar, maka tidak dapat dielakkan lagi bahwa air akan
mengalir sepanjang gradasi tekanan air yang membentang dari tanah ke udara
dalam tubuh tumbuhan. Oleh karena itu seluruh tumbuhan dapat
dibandingkan dengan sumbu lampu, yang menyerap air dari tanah melalui
akar, mengalirkannya melalui batang dan kemudian menguapkannya ke udara
dari daun-daun. Aliran air ini dikenal dengan istilah alur transpirasi,
merupakan konsekuensi struktur tumbuhan dalam hubungannya dengan
lingkungan.
Transpirasi dapat terjadi melalui dua cara, yaitu transpirasi stomata dan
transpirasi kutikula. Sebagian air terlepas melalui stomata, kehilangan air
melalui kutikula hanya mencapai 5 sampai 10 persen dari jumlah air yang
ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Dalam bukunya, Loveless (1991)
menyatakan ada dua tipe transpirasi yaitu :
1) Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula
epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada
sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10
persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh
karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata.
2) Transpirasi Stomata
Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut
terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel
mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke
ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata
dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi
normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan
stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecualibila
atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
Transpirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-Faktor
tersebut yaitu:
A. Faktor Dalam diantaranya:
1. Besar kecilnya daun
2. Tebal tipisnya daun
3. Berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun
4. Banyak sedikitnya bulu di permukaan daun
5. Banyak sedikitnya stomata
6. Bentuk dan lokasi stomata
B. Faktor Luar yang Mempengaruhi Transpirasi
1. Cahaya
Tjitrosomo (1990) merumuskan bahwa cahaya mempengaruhi laju
transpirasi melalui dua cara sebagai berikut :
a. Sehelai daun yang dikenai cahaya matahari secara langsung
akan mengabsorbsi energi radiasi. Pemanasan tersebut
meningkatkan transpirasi. Daun yang kena cahaya matahari
mempunyai laju suhu yang lebih tinggi daripada suhu udara
memungkinkan laju transpirasi yang cepat, bahkan dalam
udara yang jenuh.
b. Cahaya tidak selalu berbentuk cahaya langsung, dapat pula
mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap
buka-tutupnya stomata
2. Temperatur
Temperatur merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang
mempengaruhi transpirasi daun yang ada dalam keadaan turgor.
Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu
udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu
10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara.

3. Kebasahan udara (Kelembaban udara)


Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju
air yang hilang. Transpirasi akan menurun dengan meningkatnya
kelembaban udara.
4. Angin
Pada umumnya angin akan menambah kegiatan transpirasi karena
angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat
stoma. Uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat
kesempatan untuk difusi ke luar.
5. Keadaan air dalam tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan
laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air
ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada
penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air
dalam daun. Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat
penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar
menjadi lebih lambat.

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana mengukur transpirasi stomata dengan cara mengumpulkan
uap air yang ditranspirasi?
2. Bagaimana cara mengukur transpirasi berdasarkan penyerapan air oleh
xylem?

1.3 Tujuan
1. Mengukur transpirasi stomata dengan cara mengumpulkan uap air yang
ditranspirasi.
2. Mengukur transpirasi berdasarkan penyerapan air oleh xylem.
BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1 Bahan dan Alat


2.1.1 Bahan
a) Percobaan Pengukuran Transpirasi dengan cara Pengumpulan Uap
air yang Ditranspirasi.
- Tanaman yang ada di halaman Fakultas Sains dan Teknologi
(Morus alba L.)
- Plastik transparan
- Karet gelang
- Label
b) Percobaan Pengukuran Transpirasi berdasarkan Penyerapan Air oleh
Xilem.
- Potongan tanaman Biji kacang hijau dan kedelai (Morus alba L.)
- Plastisin
2.1.2 Alat
a) Percobaan Pengukuran Transpirasi berdasarkan Penyerapan Air Oleh
Xilem.
- Botol yang lubang mulutnya sempit
- Gelas ukur
- Gunting tanaman
- Baskom
- Penanda (spidol marker)
2.2 Cara Kerja
a) Percobaan Pengukuran Transpirasi dengan cara Pengumpulan Uap Air yang
Ditranspirasi
1. Memilih jenis tanaman yang ada di halaman Fakultas Sains dan Teknologi.
Dalam hal ini dipilih tanaman Morus alba L. (arbei)
2. Memilih daun kedua atau ketiga dari pucuk tanaman, membungkus daun
dengan menggunakan plastik. Hal yang sama dilakukan untuk daun yang
lain sebagai ulangan ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5.
3. Memilih daun keenam atau ketujuh dari pucuk tanaman, kemudian
dilakukan pada seperti langkah 2
4. Membiarkan sampel selama 5 hari
5. Mengamati dan menimbang atau mengukur kapasitas uap air yang munsul
pada hari ke-5 yang diperoleh dari masing2 plastik.

b) Percobaan Pengukuran Transpirasi Berdasarkan Penyerapan Air Oleh Xilem.


1. Memilih tanaman yang berada di halaman Fakultas Sains dan Tekonolgi,
dalam hal ini tanaman yang dipilih adalah Morus alba L.Memotong dua
batang tanaman tersebut di dalam bak yang berisi air.
2. Menyiapkan tiga botol, masing-masing botol berisi air dengan volume
yang sama.
3. Menutup botol pertama menggunakan plastisin.
4. Mengisi botol kedua dengan batang tanaman yang memiliki jumlah daun
lebih sedikit, kemudian menutup botol menggunakan plastisin.
5. Menutup botol ketiga dengan batang tanaman yang memiliki jumlah daun
lebih banyak, kemudian menutup botol menggunakan plastisin.
6. Menandai posisi permukaan air pada botol dan meletakkan di tempat yang
terang.
7. Mengamati berkurangnya permukaan air yang ada di dalam masing-masing
botol setelah lima hari.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil pengamatan


Tabel 1. Pengukuran transpirasi dengan cara pengumpulan uap air yang
ditranspirasikan.

No. Daun ke- Ulangan ke- Volume uap air (ml)


1 2 1 2,5
2 2 2 3,0
3 2 3 4,5l
4 2 4 7,0
5 2 5 38
6 6 1 2,5
7 6 2 4,0
8 6 3 5,0
9 6 4 16
10 6 5 46,5

Tabel 2. Pengukuran transpirasi berdasarkan penyerapan air oleh xylem.


Botol ke-
No. Pengamatan 1 2 3
Tanpa daun Daun sedikit Daun banyak
1 Volume awal 100 ml 100 ml 100 ml
2 Volume akhir 100 ml 90 ml 86 ml
3 Ketinggian awal 6 cm 6 cm 6 cm
4 Ketinggian akhir 6 cm 5,5 cm 5,3 cm

3.2 Pembahasan
Transpirasi merupakan penguapan air dari tumbuhan. Pada tumbuhan,
peristiwa itu biasanya berhubungan dengan kehilangan air-dalam melalui
stomata, kutikula, atau lentisel. Tanaman menjadi besar harus kehilangan uap air
yang banyak karena rangka molekul semua bahan organik pada tumbuhan terdiri
dari atom karbon yang harus diperoleh dari atmosfer.
Praktium “Transpirasi” memiliki tujuan yaitu mengukur transpirasi
stomata dengan cara mengumpulkan uap air yang ditranspirasi dan mengukur
transpirasi berdasarkan penyerapan air oleh xilem. Dalam praktikum ini
dilakukan dua percobaan. Percobaan pertama yaitu pengukuran transpirasi
dengan cara pengumpulan uap air yang ditranspirasi atau metode kuvet. Langkah
pertama yaitu memilih satu jenis tanaman di halaman Fakultas Sains dan
Teknologi. Memilih daun ke-dua kemudian membungkus daun tersebut
menggunakan plastik, dilakukan sebanyak lima kali atau selama 120 jam.
Memilih daun ke-enam kemudian membungkus daun tersebut menggunakan
plastik, dilakukan sebanyak lima kali. Pada hari ke-lima mengukur uap air yang
diperoleh di dalam plastik ke gelas ukur. Tanaman yang kelompok kita pilih
adalah Morus alba L. atau dikenal dengan murbei yang terletak di parkiran
Fakultas Sains dan Teknologi. Percobaan tersebut diperoleh hasil volume
transpirasi pada daun ke-dua yang terletak dari pucuk tanaman adalah 2,5 ml; 3
ml; 4,5 ml; 7 ml; dan 38 ml, jika dirata-rata diperoleh jumah volume 11 ml.
Sehingga diperoleh laju transpirasi daun ke-dua murbei adalah 0,09 ml/jam. Pada
daun yang terletak ke-enam dari pucuk diperoleh hasil 2,5 ml; 4 ml; 5 ml; 16 ml;
dan 46,5 ml dengan rata-rata 18,8 ml. Sehingga dapat diketahui bahwa laju
transpirasi daun ke-enam murbei adalah 0,16 ml/jam.
Adanya perbedaan munculnya uap air hasil transpirasi stomata pada
ulangan daun yang ke-2 dan ke-6 sangat berbeda meskipun memiliki ukuran
daun yang relatif sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa letak daun dapat
mempengaruhi laju transpirasi. Semakin daun tersebut berada di dekat pucuk,
maka semakin banyak sinar matahari yang diterima sehingga semakin mudah
terjadi transpirasi. Sedangkan semakin ke bawah letak suatu daun dari pucuk
semakin ia jauh dari sinar matahari karena terhalang daun-daun diatasnya
sehingga transpirasi berjalan lambat dan uap air yang dihasilkan akan sedikit.
Selain itu, faktor lain yang dimungkinkan mempengaruhi transiprasi ini sehingga
hasilnya kurang baik adalah struktur anatomi daun Morus alba L. yang
permukaannya sedikit mengkilat karena dilapisi kutikula. Diketahui bahwa
kutukula merupakan struktur daun yang sulit ditembus air karena ia berfungsi
untuk mengurangi penguapan serta semakin banyak dan besar jumlah dan ukuran
stomata semakin cepat transpirasi terjadi. Adanya lapisan kutikula ini
memungkinkan stomata yang ada jumlahnya kurang dominan dan ukurannya
kecil. Jadi, dengan struktur anatomi tersebut dapat dimungkinkan jika daun
tanaman ini sedikit sulit mengalamai transpirasi.
Selain struktur anatomi, luas permukaan daun, dan cahaya, faktor lain
yang memepengaruhi laju transpirasi yaitu kelembaban, suhu, kecepatan angin,
tekanan atmosfer, dan suplai air dari akar. Pada saat percobaan pemberian
perlakuan pada sampel tersebut cuaca sedang hujan sehingga suhunya rendah
serta kelembapan tinggi yang mengakibatkan uap airnya berjumlah sedikit, tetapi
saat hujan pada daun ke-2 dan ke-6 memiliki volume 38 ml dan 46,5 ml hal
tersebut memungkinkan air hujan masuk ke dalam plastik yang berisi uap air. Hal
ini juga dimungkinakan berpengaruh terhadap laju transpirasi yang lambat
sehingga hasil uap airnya sedikit.
Percobaan kedua yaitu pengukuran transpirasi berdasarkan penyerapan air
oleh xilem atau metode aliran-batang. Pada percobaan kedua ini digunaman
tanaman yang sama yaitu daun Morus alba L. Perlakuan yang diberikan untuk
percobaan ini yaitu mula-mula beberapa tangkai daun diambil dari pohonnya
selanjutnya dimasukkan kedalam air dalam bak dan dipotong lagi dalam keadaan
tercelup air tersebut. Hal ini bertujuan untuk menghambat udara masuk menuju
xylem. Apabila pemotongan dilakukan di udara, maka udara akan mengisi
saluran xilem dan menghambat air tidak dapat diserap dengan baik oleh xilem,
sehingga proses transpirasi tidak berjalan dengan baik. Potongan tanaman
dilakukan sebnayak dua kali yaitu pertama potongan dengan daun banyak dan
kedua potongan dengan daun sedikit.
Selanjutnya disiapkan tiga botol leher sempit dengan diisi air dengan
volume sama yaitu 100 ml. pada botol pertama leher botol ditutup dengan
plastisin, botol kedua, diisi dengan potongan tanaman daun banyak lalu ditutup
plastisin dengan syarat batang atau tangkai daun harus tercelup air secara
sempurna, dan botol ketiga diisi dengan tanaman daun sedikit dan ditutup dengan
plastisin. Sampel dibiarkan selama 5 hari untuk menungu hasil transpirasinya dan
akan diamati kemudian setelah 5 hari.
Berdasarkan pengamatan setelah 5 hari didapatkan hasil bahwa pada
botol pertama yang tidak diisi tanaman dan hanya ditutup plastisin, tidak terjadi
transpirasi karena memang tidak ada organisme yang biotik yang dapat
melakukannya hal ini diindikasikan dengan volumenya yang tetap dan ketinggian
tetap. Pada botol kedua atau dengan daun sedikit yaitu 5 helai daun, terjadi
penurunan volume dari keadaaan awal 100 ml, dan turun menjadi 90 ml, serta
penurunan ketinggian dari keadaan awal 6 cm turun menjadi 5,5 cm. Hal ini
berati tanaman tersebut menggunakan 10 ml airnya untuk ditranspirasi melalui
penyerapan xylem selama 120 jam. Maka diperoleh laju transpirasi batang
murbei dengan 5 helai daun adalah 0,08 ml/jam. Sedangkan pada botol ketiga
atau dengan jumlah daun banyak penurunan volume terjadi dari volume awal 100
ml menjadi 86 ml serta penurunan ketinggian terjadi dari ketinggian awal 6 cm
menjadi 5,3 cm. Hal ini berarti selama 120 jam, 14 ml air telah diserap oleh
xilem untuk transpirasi pada tanaman tersebut. Maka diperoleh laju transpirasi
batang murbei dengan 10 helai daun adalah 0,13 ml/jam. Berdasarkan hasil
pengamatan, semakin banyak daun dalam volume yang sama semakin tinggi laju
transpirasinya ditandai dengan pengurangan volume yang lebih tinggi daripada
botol dengan daun yang sedikit.
3.3 Diskusi
a. Pengukuran Transpirasi dengan Cara Pengumpulan Uap Air yang
Ditranspirasi
1. Apakah ada perbedaan volume uap air antara daun di dekat pucuk dan
daun yang berada jauh dari pucuk?
Jawab :
Ada. Volume uap air dari daun yang treletak di dekat pucuk akan lebinh
tinggi jika dibandingkan dengan daun yang terletak jauh dari pucuk. Hal
ini karena daun yang terletak di dekat pucuk lebih dekat dengan sinar
matahari sehingga ia lebih cepat mneguap atau melakukan transpirasi
dibandingkan dengan daun yang terletak jauh dari pucuk karena ia akan
terhalang oleh daun-daun diatasnya.
2. Di dalam percobaan di lakukan pengulangan. Mengapa demikian?
Jawab:
Pengulangan di lakukan untuk menguji keakuratan data yang di ambil.
Karena semakin banyak pengulangan maka semakin baik datanya. Selain
itu, perbedaan letak daun juga dapat memengaruhi adanya proses
transpirasi ini.
b. Pengukuran Transpirasi berdasarkan Penyerapan Air oleh Xilem
1. Mengapa pemotongan dan pemasangan tanaman perlu dilakukan di dalam
air?
Jawab:
Pemotongan tanaman perlu dilakukan di dalam air untuk menghalangi
gelembung udara masuk pada saluran xilem yang dapat menghambat
aliran air tidak dapat disalurkan ke bagian daun pada tumbuhan. Karena
jika pemotongan dilakukan di udara, maka udara akan mengisi saluran
xilem dan menghambat air tidak dapat diserap dengan baik oleh
tumbuhan, sehingga proses transpirasi tidak berjalan dengan baik.
2. Apakah perbedaan evaporasi dan transpirasi?
Jawab:
Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi adalah sebagai berikut:

No. Transpirasi Evaporasi

Proses fisiologis atau fisika yang


1. Proses fisika murni
termodifikasi

2. Diatur oleh stomata Tidak diatur oleh stomata

3. Diatur beberapa macam tekanan Tidak diatur oleh tekanan

Tidak terbatas pada jaringan


4. Terjadi di jaringan hidup
hidup
Permukaan yang
5. Permukaan sel basah
menjalankannya menjadi kering

3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi transpirasi pada percobaan


ini?
Jawab:
a. Jenis spesies tumbuhan (jumlah stomata, struktur anatomi daun, lebar
daun)
b. Banyaknya daun
c. Temperatur
d. Kelembapan udara
e. Cahaya
f. Kecepatan angin
4. Bagaimanakah pengaruh ukuran dan jumlah daun yang digunakan
terhadap kecepatan transpirasi?
Jawab:
Semakin besar ukuran dan banyak jumlah daun, semakin cepat pula
proses transpirasinya. Hal ini berkaitan dengan banyaknya stomata yang
ada pada setiap helaian daun. Selain itu ukuran daun yang lebar
menandakan luasnya permukaan daun yang juga dapat meningkatkan laju
transpirasi.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Letak daun pada suatu tumbuhan mempengaruhi terjadinya transpirasi.
Semakin dekat daun dengan pucuk, maka semakin cepat laju transpirasi yang
terjadi, karena semakin tinggi intensitas cahaya yang dipaparkan dan celah
stomata semakin sering membuka untuk pertukaran air dan udara. Sedangkan
semakin jauh daun dari pucuk, maka semakin lambat laju transpirasi yang
terjadi. Laju transpirasi stomata daun murbei berdasarkan pengumpulan air
uap air yang ditranspirasi adalah pada daun ke-2 dari pucuk yaitu 0,09 ml/jam,
sedangkan pada daun ke-6 dari pucuk adalah 0,16 ml/jam.
2. Banyaknya daun pada suatu tumbuhan mempengaruhi penyerapan air oleh
xylem. Semakin banyak daun, maka semakin banyak penyerapan air oleh
xylem untuk diedarkan pada setiap daun untuk proses penguapan air, sehingga
semakin berkurangnya volume air pada botol. Laju transpirasi murbei
berdasarkan penyerapan air oleh xylem pada batang dengan 10 helai daun
sebesar 0,13 ml/jam. Sedangkan pada batang dengan 5 helai daun laju
tranpirasinya adalah 0,08 ml/jam.

4.2 Saran
Praktikum transpirasi tumbuhan memerlukan ketelitian dalam bekerja.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dan sesuai literatur, sebaiknya praktikan
memperhatikan segala hal, termasuk saat pemilihan tumbuhan yang akan
diukur laju transpirasinya dan memastikan kerapatan ikatan plastik
pembungkus daun, agar tidak ada bahan lain yang ditampung selain air hasil
penguapan air oleh tumbuhan.
LAMPIRAN

Volume air dihari pertama


pengamatan

Daun ke-2 dibungkus Pengukuran volume


plastik air dihari ke-5

Air hasil transpirasi Air hasil transpirasi Pengukuran air hasil


daun ke-6 daun ke-2 transpirasi
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseptro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Gramedia


Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada
Salisbury FB, Ross CW. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: Institut
Teknologi Bandung