Anda di halaman 1dari 6

HEADLINEProses Komunikasi Dalam Perilaku Konsumen

03:51:30 pmSaturday 12th, October 2019 /12 June,2017




Home » Teori Komunikasi » Teori Disonansi Kognitif – Asumsi – Konsep – Kritik

Teori Disonansi Kognitif – Asumsi – Konsep – Kritik


Sponsors Link
Teori disonansi kognitif adalah teori yang menjelaskan bagaimana manusia secara
konsisten mencari dan berupaya untuk mengurangi disonansi atau ketidaknyaman dalam
berbagai situasi yang baru. Teori ini secara revolusional memikirkan tentang
proses-proses psikologi sosial khususnya yang terkait dengan bagaimana suatu
penghargaan berdampak pada sikap dan perilaku. Selain itu, teori ini juga
menekankan pada bagaimana perilaku dan motivasi berdampak pada persepsi dan
kognisi.

ads
Baca juga : Pengantar Ilmu Komunikasi – Psikologi Komunikasi

Teori yang dicetuskan pertama kali oleh Leon Festinger (1951) ini mengalami
popularitasnya di akhir tahun 1950an hingga pertengahan tahun 1970an. Teori
disonansi kognitif oleh Stephen Littlejohn disebut juga sebagai salah satu teori
yang paling penting dalam sejarah psikologi sosial karena ratusan penelitan telah
dilakukan untuk menguji proses disonansi. Sebagian besar penelitian mengeksplorasi
bagaimana pengalaman disonansi kognitif menyebabkan adanya perubahan sikap dan
perilaku. Selama beberapa tahun terakhir, teori disonansi kognitif telah mengalami
perkembangan. Dalam ilmu komunikasi, teori disonansi kognitif merupakan teori yang
memayungi teori terpaan selektif komunikasi di akhir tahun 1980an.

Baca juga : Teori Komunikasi Menurut Para Ahli – Teori Feminisme Menurut Para Ahli

Sejarah

Teori disonansi kognitif adalah teori yang sangat berpengaruh dalam sejarah
psikologi sosial. Teori ini merupakan teori yang hadir ketika teori penguatan atau
reinforcement theory tengah mendominasi jagad penelitian psikologi sosial pada
pertengahan tahun 1950an. Teori penguatan atau reinforcement theory adalah teori
yang dirumuskan oleh para ahli psikologi yang menjelaskan fenomena psikologi sosial
melalui pendekatan behaviorisme.

Baca juga :

Filsafat Komunikasi
Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengertian Media Sosial Menurut Para Ahli
Sebagai gambaran, para ahli teori penguatan atau reinforcement theory menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan konformitas adalah sebuah upaya diri untuk tidak merasa
cemas ketika melawan sebuah kelompok mayoritas. Penghargaan yang didapat adalah
rasa nyaman untuk sepakat dengan pihak lain. Kini, para ahli teori penguatan atau
reinforcement theory menjelaskan bahwa sebuah sumber yang kredibel akan lebih
persuasif karena sumber yang kredibel akan lebih menghargai pihak lain.

Baca juga :

Model Komunikasi
Model Komunikasi Lasswell
Model Komunikasi Massa
Dengan berkembangnya teori disonansi kognitif yang dirumuskan oleh Leon Festinger
dengan berbagai penelitiannya, maka era baru menjadi terbuka bagi para ahli
psikologi sosial yang berorientasi pada sisi kognitif atau aliran kognitif.
Beberapa peneliti kemudian dipisahkan dari penjelasan penghargaan-penguatan dan
beralih ke penjelasan yang berorientasi pada kognitif akibat hadirnya teori
disonansi koginitif. Teori ini telah menginspirasi para peneliti untuk menerapkan
teori disonansi kognitif ke dalam berbagai tema seperti sikap terhadap merokok dan
lain-lain.

Teori disonansi kognitif juga menginspirasi para peneliti dari berbagai disiplin
ilmu salah satunya adalah ilmu komunikasi. Dampak teori disonansi kognitif
berlanjut dari akhir tahun 1950an hingga pertengan tahun 1970an. Dengan semakin
berkembangnya minat terhadap proses kognitif seperti proses informasi, popularitas
teori disonansi kognitif menjadi menurun (Camgoz, 2011).

Baca juga :

Pengertian Media Sosial Menurut Para Ahli


Pengertian Media Menurut Para Ahli
Media Komunikasi Modern
Dasar Teori Disonansi Kognitif Festinger

Leon Festinger merumuskan pertama kali teori disonansi kognitf pada pertengahan
tahun 1950an dan dipresentasikan secara formal dan lengkap pada tahun 1957. Menurut
Festinger, ketika seorang individu memiliki dua atau lebih elemen pengetahuan yang
relevan satu sama lain namun inkonsisten dengan yang lainnya maka terciptalah
perasaan ketidaknyamanan. Festinger menyebutnya dengan disonansi.

Kemudian, Festinger menyatakan bahwa derajat disonansi dalam hubungannya dengan


kognisi dapat dirumuskan sebagai berikut : Derajat disonansi = D/(D+C), dengan D
adalah jumlah kognisi disonan dengan kognisi tertentu dan C adalah jumlah kognisi
konsonan dengan kognisi tertentu yang sama, dengan mempertimbangkan kepentingan
masing-masing kognisi.

Baca juga :

Teori Kultivasi
Teori Komunikasi Persuasif
Teori Jarum Hipodermik
Bauran Komunikasi Pemasaran
Lebih lanjut Festinger menyatakan bahwa orang-orang termotivasi dengan adanya
pernyataan disonan yang tidak menyenangkan untuk terikat dalam cara kerja kognisi
guna mengurangi inkonsistensi. Untuk mengurangi disonansi, setiap individu dapat
menambahkan kognisi konsonan, mengurangi kognisi disonan, meningkatkan kepentingan
kognisi disonan. Salah satu dari ketiga cara tersebut seringkali dapat merubah
sikap.

Perubahan sikap diharapkan sebagai arah bagi kognisi yang resisten terhadap
perubahan. Pengujian terhadap teori disonansi kognitif Festinger seringkali
mengasumsikan bahwa pengetahuan tentang perilaku biasanya sangat sulit untuk
berubah karena jika seseorang telah memiliki jalan yang tepat akan sulit untuk
merubah perilaku. Karena itu, perubahan sikap akan konsisten dengan perilaku.

Baca juga :

Teori Semiotika Roland Barthes


Teori Semiotika Charles Sanders Peirce
Teori Semiotika Ferdinand De Saussure
Teori Komunikasi Kelompok
Teori Difusi Inovasi
Asumsi Dasar

Dari uraian singkat teori disonansi kognitif yang dirumuskan oleh Festinger, maka
dapat dikatakan bahwa teori disonansi kognitif didasarkan atas 3 (tiga) asumsi
dasar, yaitu :

Manusia sangat sensitif terhadap adanya inkonsistensi antara tindakan dan


kepercayaan.
Pengakuan terhadap adanya inkonsistensi ini dapat menyebabkan disonansi dan dapat
memotivasi seorang individu untuk mengatasi disonansi yang ada.
Disonansi dapat diatasi melalui salah satu dari 3 (tiga) cara berikut ini, yaitu :
Perubahan kepercayaan.
Perubahan tindakan.
Perubahan persepsi tindakan.
Baca juga :

Sistem Komunikasi Interpersonal


Komunikasi Interpersonal – Komunikasi Antar Pribadi
Teori-teori Komunikasi Antar Pribadi
Proses Komunikasi Interpersonal
Konsep dan Proses Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif semakin berkembang berdampak pada munculnya beragam konsep
penting yang menyertainya. Disonansi kognitif adalah sebuah teori komunikasi yang
diadopsi dari psikologi sosial. Teori disonansi kognitif memiliki beberapa konsep
utama yaitu kognitif dan disonansi.

Kognitif merujuk pada pikiran atau pemikiran.


Disonansi merujuk pada konflik atau inkonsistensi.
Mengacu pada dua konsep utama diatas, maka yang dimaksud dengan disonansi kognitif
adalah sebuah konflik psikologis antara dua atau lebih kepercayaan yang tidak
sesuai secara simultan. Teori disonansi kognitif dibangun berdasarkan gagasan bahwa
setiap individu akan selalu berjuang untuk menuju pada konsistensi. Mereka akan
mencoba untuk berpikir untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis.

Baca juga : Komunikasi Asertif

a. Besaran Disonansi

Besaran disonansi tergantung pada kepentingan atau nilai dari berbagai elemen
seperti pengetahuan, kepercayaan, dan sikap yang disonan. Jika seseorang memberikan
kepentingan kepada elemen-elemen tersebut, maka besaran hubungan disonan di antara
berbagai elemen akan semakin besar. Pada dasarnya, besaran disonansi akan
mempengaruhi tekanan untuk mengurangi atau mengeliminasi disonansi. Semakin
meningkatnya besaran disonansi maka tekanan untuk mengurangi disonansi dan
penghindaran dari berbagai situasi yang menghasilkan disonansi akan meningkat.

Baca juga : Komunikasi Dua Arah – Karakteristik Media Penyiaran

Besaran disonansi merujuk pada jumlah kuantitatif dari pengalaman disonan seseorang
atau jumlah perasaan ketidaknyamanan seseorang yang dapat diukur. Besarnya
disonansi dapat menentukan tindakan yang akan diambil oleh seorang individu dan
kognisi yang mungkin ia dukung untuk mengurangi disonansi. Teori disonansi
membedakan antara situasi-situasi yang menghasilkan disonansi lebih banyak dengan
situasi-situasi yang menghasilkan disonansi lebih sedikit.

Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi magnitude of dissonance, yaitu :

Derajat kepentingan – merujuk pada seberapa penting suatu isu yang berdampak pada
derajat disonansi.
Jumlah disonansi – merujuk pada seberapa banyak disonansi yang dipengaruhi oleh
rasio disonansi, atau jumlah kognisi disonan relatif terhadap jumlah kognisi
konsonan.
Rasional – merujuk pada alasan yang digunakan untuk menjelaskan mengapa sebuah
inkonsistensi terjadi.
Baca juga : Cabang Ilmu Komunikasi – Komunikasi Pembangunan

b. Mengatasi Disonansi

Meskipun teori ini telah menjelaskan bahwa disonansi dapat dikurangi melalui
perubahan perilaku dan perubahan sikap, namun beberapa penelitian lebih menekankan
pada pengurangan disonansi yang dilakukan melalui perubahan sikap. Terdapat
beberapa cara yang dapat dgunakan untuk mengurangi disonansi, yaitu :

Menambah atau mengurangi kognisi terhadap perubahan rasio konsonan ke kognisi


disonan.
Mengurangi kepentingan kognisi disonan.
Melihat segala sesuatunya melalui perspektif yang berbeda.
Baca juga : Komunikasi Islam – Teori Efek Media Massa

c. Disonansi Kognitif dan Persepsi

Teori disonansi kognitif berkaitan dengan proses persepsi yang meliputi selective
exposure, selective attention, selective interpretation, dan selective retention.
Hal ini dikarenakan teori disonansi kognitif memprediksi bahwa orang akan
menghindari informasi yang akan menambah disonansi. Proses persepsi ini merupakan
dasar dari penghindaran.

Disonansi kognitif terjadi melalui beberapa proses persepsi, yaitu :

Selective exposure – adalah sebuah metode untuk mengurangi disonansi dengan cara
mencari informasi yang konsonan dengan kepercayaan atau pemikiran atau tindakan
seseorang.
Selective attention – adalah sebuah metode untuk mengurangi disonansi kognitif
dengan cara memberikan perhatian pada informasi yang khusus atau bagian dari
informasi yang konsonan dengan kepercayaan, pemikiran, dan tindakan seseorang.
Selective interpretation – adalah sebuah metode untuk mengurangi disonansi dengan
cara menginterpretasi informasi yang ambigu sehingga terlihat konsisten dengan
kepercayaan, pemikiran, dan tindakan seseorang.
Selective retention terjadi ketika seorang individual hanya mengingat informasi
yang konsisten dengan kepercayaan yang dimiliki.
Baca juga : Pola Komunikasi Organisasi – Metode Penelitian Komunikasi

Kelebihan dan Kekurangan Teori Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, diantaranya


adalah :

a. Kelebihan teori disonansi kognitif

Merupakan teori yang paling berpengaruh dalam ranah psikologi sosial.


Memotivasi tejadinya berbagai diskusi dan berimplikasi pada beragam situasi.
Membuat prediksi tentang apakah setiap individu akan mencari informasi.
Membuat prediksi tentang pemikiran dan perilaku manusia setelah keputusan dibuat.
Memiliki implikasi terhadap persuasi.
Teori disoansi kognitif merupakan teori yang sangat luas cakupannya.
Memberikan kontribusi yang besar terhadap pemahaman kita mengenai kognisi dan
kaitannya dengan perilaku.
b. Kekurangan teori disonansi kognitif

Tidak memungkinkan dilakukan prediksi terhadap bagaimana mengurangi disonansi.


Tidak membuat prediksi yang spesifik. (baca: Teori Fenomenologi)
Tidak mempertimbangkan sifat pesan-pesan pesuasif. (baca: Komunikasi Terapeutik
dalam Keperawatan)
Menolak adanya variabel efek pesan terhadap disonansi kognitif dan persuasi.
Disonansi bukanlah konsep terpenting untuk menjelaskan perubahan sikap.

Kritik Terhadap Teori Disonansi Kognitif

Sebelum teori disonansi kognitif mengalami perkembangan, para peneliti telah


memberikan catatan khusus, beberapa diantaranya adalah :

Dalam pengujian teori yang dilakukan oleh Festinger dan Carlsmith (1959)
menunjukkan bahwa disonansi mengkin saja bukan merupakan konsep penting untuk
menjelaskan perubahan sikap.
Wicklund dan Brehm (1976) berpendapat bahwa teori disonansi kognitifteidak cukup
jelas tentang kondisi-kondisi yang menunjukkan jika disonansi dapat menuju pada
adanya perubahan sikap. Mereka yakin bahwa konsep pilihan atau memilih adalah
konsep yang hilang dalam teori disonansi kognitif.
Joel Cooper dan Jeff Stone (2000) melalui studinya menyatakan bahwa anggota
kelompok memainkan peranan yang sangat penting dalam mengurangi disonansi terkait
dengan pengalaman setiap individu.
Manfaat Mempelajari Teori Disonansi Kognitif

Mempelajari teori disonansi kognitif dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya


adalah :

Memahami dasar teori disonansi kognitif yang dikemukakan oleh Leon Festinger.
Memahami asumsi dasar teori disonansi kognitif.
Memahami konsep serta proses teori disonansi kognitif.
Memahami kelebihan serta kekurangan teori disonansi kognitif.
Memahami kritik yang diberikan oleh para peneliti lainnya.
Memahami implementasi teori disonansi kognitif dalam bidang komunikasi persuasif
dan bidang lainnya
Demikianlah uraian singkat mengenai teori disonansi kognitif yang dirumuskan oleh
Leon Festinger. Semoga menambah wawasan kita mengenai salah satu teori komunikasi
persuasif dan ilmu komunikasi secara umum.

Sponsors Link
FBTwitterWALinePinterestG+LinkedIn
cognitive dissonance, disonansi kognitif, komunikasi persuasif, teori kognitif,
Teori Komunikasi
RELATED POSTS
13 Hubungan Teori Komunikasi dan Teori Pembelajaran

Teori Respon Kognitif dalam Komunikasi – Pengertian, Penerapan, dan Kritik

Teori Perubahan Sosial dan Budaya – Pengertian, Konsep, Penerapan, dan Kritik

4 Kritik Teori Agenda Setting Dalam Komunikasi

Teori Ekonomi Politik Media – Pengertian, Fungsi, Penerapan, dan Kritik

Teori CMC Dalam Komunikasi – Pengertian, Perkembangan, Konsep, dan Kritik

7 Teori Komunikasi Dalam Konteks Media


Teori Penyusunan Dalam Komunikasi Kelompok – Pengertian, Konsep, Perkembangan, dan
Penerapan

Teori Pesan dalam Ilmu Komunikasi – Pengertian, Pendekatan, dan Penerapan

Teori Modernisasi Dalam Komunikasi Internasional – Pengertian, Tahapan, Kritik

Previous
Next
Oleh : Ambar Kategori : Teori Komunikasi
RECENT POSTS
RECENT
13 Hubungan Teori Komunikasi dan Teori Pembelajaran
30 August, 2019
5 Fungsi Clipper Dalam Proses Pembuatan Film
30 August, 2019
5 Fungsi Green Screen Dalam Pembuatan Film
30 August, 2019
13 Hubungan Teori Organisasi dengan Tipe Komunikasi
30 August, 2019
Jurnalisme Umpan Klik – Sejarah, Perkembangan, Kelebihan dan Kekurangan
26 July, 2019
Tentang Kami | Hubungi Kami
Informasi di web ini hanya bersifat informasi dan tidak untuk menggantikan pendapat
ahli atau profesional.
© Copyright PakarKomunikasi.com. All Right Reserve World Wide
Ketentuan Layanan | Kebijakan Privasi | Disclaimer | Cookies Term Of Use |
Adchoices
TO TOP ↑