Anda di halaman 1dari 34

MATA KULIAH

BAHAN BANGUNAN

NAMA DOSEN
ROBI FERNANDO, S.T, M.T.

JUDUL TUGAS
BAHAN BATU BATA, BATAKO, DAN BATA RINGAN

OLEH :

PRETTY MARPAUNG
NIM. 193025

PROGRAM STUDI BANGUNAN GEDUNG

POLITEKNIK PEKERJAAN UMUM

T.A 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah saya yang berjudul
“BAHAN BATU BATA, BATAKO, DAN BATA RINGAN” ini dengan baik. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah ilmu bahan bangunan.

Saya berterima kasih pada Bapak Robi Fernando, S.T, M.T. selaku Dosen mata
kuliah ilmu bahan bangunan yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya sangat
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan
kita mengenai informasi-informasi yang berhubungan dengan Aspal.

Pada makalah ini saya banyak mengambil dari berbagai sumber dan refrensi dan
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini saya mengucapkan
terima kasih sebesar-sebesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk
itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan
makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk semua pihak yang membaca.
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Seiring dengan semakin pesatnya pertumbuhan pengetahuan dan teknologi dibidang


konstruksi yang mendorong kita lebih memperhatikan standar mutu serta produktivitas kerja
untuk dapat berperan serta dalam meningkatkan sebuah pembangunan konstruksi dengan
lebih berkualitas. Diperlukan suatu bahan bangunan yang memiliki keunggulan yang lebih
baik dibandingkan bahan bangunan yang sudah ada selama ini. Selain itu bahan tersebut
harus memiliki beberapa keuntungan seperti bentuk yang dapat menyesuaikan dengan
kebutuhan, spesifikasi teknis, dan daya tahan yang kuat, kecepatan pelaksanaan konstruksi
serta ramah lingkungan. Komponen suatu bangunan terdiri dari pondasi, dinding, lantai,
atap, dan lain-lain. Selama ini komponen dinding biasanya menggunakan bata merah,
batako, bata beton berlubang. Pada dasarnya komponen tersebut mempunyai berat jenis
berkisar 1700 kg/m3 - 1900 kg/m3. Akhir-akhir ini telah berkembang suatu produk bata
ringan dimana mempunyai kemudahan dan efisiensi waktu dalam pemasangannya.
Penggunaan bata beton ringan yang dinilai lebih praktis dan ekonomis saat ini sudah banyak
diproduksi dengan harga yang bervariasi. Keunggulan dari bata beton ringan yang telah
diproduksi antara lain mempunyai kekedapan suara yang baik, kuat tekan yang tinggi, serta
mempunyai berat jenis normal sebesar 650 kg/m 3, hal ini membuat bata beton ringan
mempunyai ketahanan yang lebih baik terhadap gempa bumi. Namun, tidak sedikit orang
belum mengenal perbedaan bahan batu bata, batako, dan bata ringan yang dipakai sebagai
bahan bangunan. Oleh karena itu, makalah ini akan menjelaskan batu bata, batako, dan bata
ringan sebagai bahan bangunan.

B. TUJUAN
- Mengetahui yang dimaksud dengan batu bata, batako, dan bata ringan yang dipakai sebagai
bahan konstruksi bangunan

- Menguraikan sifat karakteristik, pembuatan, dan komposisi batu bata, batako, dan bata ringan
dalam konstruksi bangunan

- Mengetahui jenis pengujian beserta persyaratan teknis terkait bahan batu bata, batako, dan bata
ringan

- Mengetahui standar mutu batu bata, batako, dan bata ringan sesuai dengan SNI yang digunakan
untuk bahan bangunan konstruksi
II. PEMBAHASAN
1. BATU BATA

A. PENGERTIAN BATU BATA


Batu Bata adalah suatu unsur bangunan yang dipergunakan dalam pembuatan konstruksi
bangunan dan dibuat dari tanah liat ditambah air dengan atau tanpa campuran bahan-bahan
lain melalui beberapa tahap pengerjaan, seperti manggali, mengolah, mencetak,
mengeringkan, membakar pada temperature tinggi hingga matang dan berubah warna, serta
akan mengeras seperti batu jika didinginkan hingga tidak dapat hancur lagi bila direndam
dalam air.Definisi Batu Bata menurut NI-10, SII-0021-78 sebagai berikut: Batu Bata adalah
suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat
dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak
dapat hancur lagi bila direndam dalam air.Tanah liat merupakan bahan dasar dalam pembuatan
Batu Bata yang memiliki sifat plastis dan susut kering. Sifat plastis pada tanah liat sangat
penting untuk mempermudah dalam proses awal pembuatan Batu Bata. Apabila tanah liat
yang dipakai terlalu plastis, maka akan mengakibatkan Batu Bata yang di bentuk mempunyai
sifat kekuatan kering yang tinggi sehingga akan mempengaruhi kekuatan, penyusutan, dan
mempengaruhi hasil pembakaran Batu Bata yang sudah jadi.Tanah liat yang dibakar akan
mengalami perubahan warna sesuai dengan zat-zat yang terkandung didalamnya. Warna tanah
liat bermacam-macam tergantung dari oxid-oxid yang terkandung dalam tanah liat, seperti
alumunium, besi, karbon, mangan, maupun kalsium.Senyawa-senyawa besi menghasilkan
warna krem, kuning, merah, hitam, dan coklat. Liconit merupakan senyawa besi yang sangat
umum menghasilkan warna krem, kuning dan coklat. Sedangkan hematite akan memberikan
warna merah pada tanah liat. Senyawa besi silikat member warna hijau, senyawa mangan
menghasilakan warna coklat, dan senyawa karbon memberikan warna biru, abu-abu, hijau,
atau coklat.

B. KOMPOSISI DAN PROSES PEMBUATAN BATU BATA


BAHAN BAKU UNTUK MEMBUAT BATU BATA
-Tanah Liat
-Air
-Abu

ALAT-ALAT UNTUK MEMBUAT BATU BATA


-Cangkul
-Pencetak Batu Bata
-Mesin Penggiling batu bata
-Mesin Pembakar / Tungku Pembakaran
-Kayu Bakar / batu bara

PROSES CARA MEMBUAT BATU BATA

1. Pertama-tama carilah lahan tanah merah yang berbentuk perbukitan dan tekstur tanah meranya
sangat liat, jangan terlalu banyak mengandung pasir, tanah yang bertektur tersebut akan
mengurangi kekuatan dari batu bata. Juga dekat dengan sumber air, sebagai bahan campuran
tanah merah.

2. Selanjutnya jika sudah didapat, bersihkan tanah liat tersebut dari sisa sampah yang ada seperti
rumput batu-batu kecil dan sebagainya

3. Rendam tanah liat ( lempung) tersebut kedalam suatu lubang yang sudah anda buat minimal
15 jam atau lebih tergantung tanah liat ditempat anda berasal

4. Lalu buang air tersebut sampai kering, setelah itu anda harus menghaluskan tanah liat
tersebut, bisa menggunakan cangkul. mengapa harus dengan cangkul? karena kali ini kita
membahas dan mengerjakannya dengan menggunakan teknik manual bukan dengan mesin,
nanti bisa anda kembangkan lagi

5. Hancurkan tanah tersebut dengan cara menginjak-injak tanah tersebut hingga menjadi lumpur.
kalau dengan skala yang cukup banyak bisa menggunakan bantuan hewan seperti kerbau.
jangan sampai terlalu lembek (seperti bubur) karena tidak akan bisa dicetak

6. Lalu taruh lumpur (lempung) diatas meja cetak

7. Setelah sudah bisa langsung di cetak jangan lupa menaruh sedikit abu dicetakan agar tidak
lengket

8. Bila tanah liat tersebut sudah berbentuk persegi seperti batu bata, anda sudah bisa melakukan
pengeringan

9. Tahap pendindingan tujuan nya agar batu bata cepat kering bisa dilakukan dengan cara
menumpukan bata yang masih berbentuk tanah tadi dengan memiringkannya
10. Lalu jika sudah kering, tahap selanjutnya menyusun batu bata dari kilang tempat produksi ke
dapur pembakaran

11. Tahap pembakaran batu bata ini adalah langkah penentuan dimana anda bisa dikatakan
berhasil atau kurang berhasil dikarenakan pada tahap ini akan dilakukan pembakaran didapur
tempat anda bekerja dan biasa nya memakan waktu cukup lama, tergantung banyaknya batu
bata yang anda bakar

C. SIFAT BATU BATA

 Sifat Fisis Batu Bata


Sifat fisis batu bata adalah sifat yang ada pada batu bata tanpa adanya pemberian beban atau
perlakuan apapun. Sifat fisis batu bata (Civil Engeneering Materials, 2001), antara lain adalah:

1. Densitas atau Kerapatan Batu Bata


Densitas adalah massa atau berat sampel yang terdapat dalam satu satuan volume. Densitas
yang disyaratkan untuk digunakan adalah 1,60 gr/cm3 –2,00 gr/cm3. Persamaan yang
digunakan dalam menghitung densitas atau kerapatan batu bata adalah :
D(density) = berat kering/volume (gr/cm)

2. Warna Batu Bata


Warna batu bata tergantung pada warna bahan dasar tanah, jenis campuran bahan tambahan
kalau ada dan proses berlangsungnya pembakaran. Standar warna batu bata adalah orange
kecoklatan.

3. Dimensi atau Ukuran Batu Bata


Dimensi batu bata yang disyaratkan untuk memenuhi hal diatas adalah batu bata harus
memiliki ukuran panjang maksimal 16 in (40 cm), lebar berkisar antara 3 in – 12 in (7,50 cm
– 30,0 cm) dan tebal berkisar antara 2 in –8 in (5 cm – 20 cm).

4. Tekstur dan Bentuk Batu Bata


Bentuk batu bata berupa balok dengan ukuran panjang, lebar, tebal yang telah ditetapkan.
Permukaan batu bata relatif datar dan kesat tapi tak jarang berukuran tidak beratur.
 Sifat Mekanis Batu Bata
Sifat mekanis batu bata adalah sifat yang ada pada batu bata jika dibebani atau
dipengaruhidengan perlakuan tertentu. Sifat teknis batu bata (Civil Engeneering Materials,
2001), antara lain adalah :

1. Kuat Tekan Batu Bata


Kuat tekan batu bata adalah kekuatan tekan maksimum batu bata per satuan luas
permukaan yang dibebani. Standar kuat tekan batu bata yang disyaratkan oleh ASTM C 67-03
adalah sebesar 10,40 MPa. Persamaan yang digunakan dalam menghitung kuat tekan batu
bata :

C = W/A (lb/in2)
2. Modulus of Rupture
Batu Bata Modulus of rupture adalah modulus kegagalan dari batu bata akibat diberi
beban maksimum. Standar modulus of rupture batu bata yang disyaratkan oleh ASTM C 67-
03 adalah sebesar 3,50 MPa. Persamaan yang digunakan dalam menghitung modulus of
rupture batu bata adalah:

S= 1.50W/bd2(lb/in2)

3. Penyerapan ( absorbtion) Batu Bata


Penyerapan (absorbtion) adalah kemampuan maksimum batu bata untuk menyimpan
atau menyerap air atau lebih dikenal dengan batu bata yang jenuh air. Standar penyerapan
(absorbtion) batu bata yang disyaratkan oleh ASTM C 67-03 adalah masing-masing
maksimum 13 % dan 17 %.

4. Initial Rate of Suction (IRS) dari Batu Bata


Initial Rate of Suction (IRS) adalah kemampuan dari batu bata dalam menyerap air
pertama kali dalam satu menit pertama. Hal ini sangat berguna pada saat penentuan kadar air
untuk mortar. Standar initial rate of suction (IRS) batu bata yang disyaratkan oleh ASTM C
67-03 adalah minimum 30 gr/mnt/30 in2. Persamaan yang digunakan dalam menghitung
initial rate of suction (IRS) batu bata adalah :
IRS = (m1 –m2) K (7)

Karena IRS memiliki satuan gr/mnt/30 in2 atau gr/mnt/193,55 cm2, maka harus
dikalikan dengan suatu faktor, yaitu : K = 30/ Luas area atau K= 193,55/ Luas area
5. Kuat Tekan Pasangan Batu Bata (Compressive Strength of Brick Prism)
Kuat tekan pasangan batu bata (compressive strength of brick prism) adalah
kemampuan maksimum dari pekerjaan pasangan batu bata dengan mortar. Standar prosedur
percobaan kuat tekan pasangan batu bata yang disyaratkan oleh ASTM C 1314-03, adalah
sebagai berikut : fc′ = Pu + W bh(Mpa atau Psi

6. Pemeriksaan Kegagalan Ikatan Pasangan Batu Bata ( Bond Flexure of Brick


Prism)
Pemeriksaan kegagalan ikatan pasangan batu bata (bond flexure of brick prism) adalah
kemampuan menerima beban maksimum dari ikatan antara mortar dan batu bata. Standar
prosedur percobaan kegagalan ikatan pasangan batu bata yang disyaratkan oleh ASTM E 518.
Pemeriksaan kegagalan ikatan pasangan batu bata akan menghasilkan nilai modulus of
rupture. Secara matematis dapat dihitung dengan rumus berikut : R = ( P + 0,75 Ps ) bd2 (Mpa
atau Psi)

7. Pemeriksaan Kuat Lentur Pasangan Batu Bata


Pemeriksaan kuat lentur pasangan batu bata adalah kemampuan menerima beban
lentur maksimum dari ikatan antara mortar dan batu bata. L = (Pu+W) lbd2 (Mpa atau Psi)

8. Pemeriksaan Kuat Geser Pasangan Batu Bata (Shear Strength of Brick and
Mortar)
Pemeriksaan kuat geser pasangan batu bata (shear strength of brick and mortar) adalah
kemampuan menerima beban geser maksimum dari ikatan antara mortar dan batu bata.
Standar prosedur percobaan pemeriksaan kuat geser pasangan batu bata yang disyaratkan oleh
ASTM E 519. (Oscar Fitrah Nur, 2008). Persamaan yang digunakan dalam menghitung kuat
geser pasangan batu bata adalah: fvh = Pu+W2bh (Mpa atau Psi)

D. SYARAT BATU BATA

Persyaratan batu bata atau bata merah menurut SII-0021-78 dan PUBI 1982 adalah
sebagai berikut :

1. Bentuk standar bata ialah prisma segi empat panjang, bersudut siku-siku dan tajam,
permukaan rata dan tidak retak-retak
2. Ukuran standar
Modul M-5a:190x90x65 mm
Modul M-5b:190x140x65 mm
Modul M-6:230x110x55mm
3. Bata dibagi menjadi 6 kelas kekuatan yang diketahui dari besar kekuatan tekan yaitu kelas
25, kelas 50, kelas 150, kelas 200 dan kelas 250. Kelas kekuatan in menunjukan kekutan tekan
rata-rata minimal dari 30 buah bata yang diuji
4. Bata merah tidak mengandung garam yang dapat larut sedemikian banyaknya sehingga
pengkristalanya (yang berupa bercak-bercak putih) menutup lebih dari 50% permukaan
batanya.

E. JENIS BATU BATA

1. Batu Bata Tanah Liat, terbuat dari tanah liat dengan 2 kategori yaitu bata biasa dan bata
muka. Bata biasa memiliki permukaan dan warna yang tidak menentu, bata ini digunakan
untuk dingding dengan menggunakan morta(campuran semen) Ssebagai pengikat. Bata jenis
ini sering disebut sebagai bata merah. Bata muka , memiliki permukaan yang baik dan licin
dan memupnyai warna dan corak yang sragam . Disamping dipergunakan sebagai dinding
juga digunakan sebagai penutup d dan sebagai dekoratif.

2. Batu Bata Pasir – Kapur, sesuai dengan namanya batu bata ini dibuat dari campuran
kapur dan pasir dengan perbandingan 1 : 8 serta air yang ditekankan kedalama campuran
sehingga membentuk batu bata.
F. JENIS PENGUJIAN BATU BATA
Untuk mengetahui baik buruk dan mutu bata harus dilakukan pengujian sebagai
berikut :
1. Uji serap air
Pengujian ini dilakukan dengan cara bata diambil acak dalam keadaan kering mutlak
kemudian direndam dalam air sampai semua porinya terisi dengan air. Maka persentase berat
air yang terserap dalam bata dibandingkan berat bata adalah indeks angka serap air pada
bata. Bata merah atau batu bata diangap baik jika penyerapan airnya kurang dari 20%.
Sepertinya kalau yang ini harus dilakukan di laboratorium ya…
2. Uji kekerasan
Uji kekerasan bata dilakukan dengan menggoreskan kuku pada permukaan bata, jika
goresan dengan kuku itu menimbulkan bekas goresan maka kekerasan bata anda kurang baik.
Nah yang ini mudah kan bisa anda lakukan sendiri
3. Uji bentuk dan ukuran
Semua permukaan bata harus rata dan bersudut siku-siku.
4. Uji bunyi
Uji bunyi dilakukan dengan memegang dua bata kemudian memukulkanya satu
dengan yang lainya dengan pukulan tidak terlalu keras. Bata yang baik akan mengeluarkan
bunyi yang nyaring. Uji bunyi ini merupakan salah satu parameter kekeringan dari batu bata
anda. Tentu saja bata akan berbeda jika dalam keadaan basah, walaupun bata yang baik dia
tidak akan mngeluarkan bunyi yang nyaring.

5. Uji kandungan garam


Uji kandungan garam dilakukan dengan cara merendam sebagian tubuh bata kedalam
air, air akan terserap bata sampai ke bagian bata yang tidak direndam. Selama proses
penyerapan air inilah garam-garam yang terkandung bata akan terlarut kea atas ke bagian
yang tidak direndam air. Nah garam-garam pada bata ini berupa bercak-bercak putih. Bata
dikatakan baik jika bercak-bercak putih yang menutup permukaan bata kurang dari 50%. Apa
yang terjadi jika kandungan garam di bata anda tinggi….?bat dengan kandungan garam yang
tinggi secara langsung akan berpengaruh pada lekatan antara bata dengan mortar pengisi,
dimana dengan terganggunya lekatan antara bata dan mortar pengisi akan menurunkan
kwalitas bata anda.

2. BATAKO

A. PENGERTIAN BATAKO
Batako merupakan bahan bangunan yang berupa bata cetak alternatif pengganti batu bata yang
tersusun dari komposisi antara pasir, semen Portland dan air dengan perbandingan 1 semen : 4
pasir. Batako difokuskan sebagai konstruksi-konstruksi dinding bangunan nonstruktural.
Supribadi (1986) mengatakan bahwa batako adalah “ semacam batu cetak yang terbuat dari
campuran tras, kapur, dan air atau dapat dibuat dengan campuran semen, kapur, pasir dan
ditambah air yang dalam keadaan pollen (lekat) dicetak menjadi balok-balok dengan ukuran
tertentu”. Bentuk dari batako/batu cetak itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu batu cetak yang
berlubang (hollow block) dan batu cetak yang tidak berlubang (solid block) serta mempunyai
ukuran yang bervariasi.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian batako adalah
salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan
bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat
ditambahkan dengan bahan tambah lainnya (additive). Kemudian dicetak melalui proses
pemadatan sehingga menjadi bentuk balok-balok dengan ukuran tertentu dan dimana proses
pengerasannya tanpa melalui pembakaran serta dalam pemeliharaannya ditempatkan pada
tempat yang lembab atau tidak terkena sinar matahari langsung atau hujan, tetapi dalam
pembuatannya dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai
bahan untuk pasangan dinding.

Karakteristik bata beton yang umum ada dipasaran adalah memiliki densitas rata-rata >
2000kg/m3. Ditinjau dari densitasnya batako tergolong cukup berat sehingga untuk proses
pemasangan sebagai konstruksi dinding memerlukan tenaga yang cukup kuat dan waktu yang
lama (Simbolon T. 2009).

B. JENIS BATAKO
Berdasarkan bahan pembuatannya batako dapat dikelompokkan ke dalam 3 jenis, yaitu :

1. Batako putih (tras).

Batako putih dibuat dari campuran tras, batu kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak. Tras
merupakan jenis tanah berwarna putih/putih kecoklatan yang berasal dari pelapukan batu –
batu gunung berapi, warnanya ada yang putih dan ada juga yang putih kecoklatan. Umumnya
memiliki ukuran panjang 25-3 cm, tebal 8-10 cm, dan tinggi 14-18 cm.

2. Batako semen/batako press.

Batako pres dibuat dari campuran semen dan pasir atau abu batu. Ada yang dibuat secara
manual (menggunakan tangan) dan ada juga yang menggunakan mesin. Perbedaanya dapat
dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Umumnya memliki panjang 36-40 cm dan
tinggi 18-20 cm.

3. Bata ringan
Bata ringan dibuat dari bahan batu pasir kuarsa, kapur, semen dan bahan lain yang
dikategorikan sebagai bahan-bahan untuk beton ringan. Berat jenis sebesar 1850 kg/m3 dapat
dianggap sebagai batasan atas dari beton ringan yang sebenarnya, meskipun nilai ini kadang-
kadang melebihi. Dimensinya yang lebih besar dari bata konvensional yaitu 60 cm x 20cm
dengan ketebalan 7 hingga 10 cm menjadikan pekerjaan dinding lebih cepat selesai
dibandingkan bata konvensional.

C. BAHAN PENYUSUSUN BATAKO

Dalam pembuatan batako pada umumnya bahan yang digunakan adalah pasir, semen dan air.
Berikut ini akan dijelaskan sekilas mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
batako.

1. Portland Cement (PC)

Semen adalah bahan yang mempunyai sifat adhesif dan sifat kohesif yang digunakan sebagai
bahan pengikat (bonding material) yang dipakai bersama dengan batu kerikil, pasir dan air.
Portland semen merupakan bahan utama atau komponen beton terpenting yang berfungsi
sebagai bahan pengikat anorganik dengan bantuan air dan mengeras secara hidrolik. Semen
Portland adalah material yang mengandung paling tidak 75 % kalsium silikat (3CaO. dan
2CaO, sisanya tidak berkurang dari 5% berupa Al silikat, Al ferit silikat, dan MgO. Pada
dasarnya dapat disebutkan 4 unsur yang paling terpenting dari Portland Cement adalah :
2SiO2SiO)

2. Pasir

Pasir merupakan bahan pengisi yang digunakan dengan semen untuk membuat adukan. Selain
itu juga pasir berpengaruh terhadap sifat tahan susut, keretakan dan kekerasan pada batako
atau produk bahan bangunan campuran semen lainnya. Pada pembuatan batako ringan ini
digunakan pasir yang lolos ayakan kurang dari 5 mm (ASTM E 11-70) dan harus bermutu
baik yaitu pasir yang bebas dari lumpur, tanah liat, zat organik, garam florida dan garam
sulfat. Selain itu juga pasir harus bersifat keras, kekal dan mempunyai susunan butir (gradasi)
yang baik.

3. Air

Air yang dimaksud disini adalah air yang digunakan sebagai campuran bahan bangunan, harus
berupa air bersih dan tidak mengandung bahan-bahan yang dapat menurunkan kualitas batako.

4. Sabut Kelapa

Sabut kelapa mengandung lemak yang dapat membuat ikatan antara semen, pasir dan air
dengan sabut kelapa menjadi tidak kuat sehingga dapat membentuk pori pada batako. Untuk
itu diperlukan cairan NaOH atau alkohol untuk dapat melepaskan lemak pada sabut kelapa
tersebut.

D. PROSES PEMBUATAN BATAKO

Ø Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat batako adalah :

- Semen

- Kerikil kasar

- Pasir halus (ukuran 5mm)

- Air

Bahan baku yang terdiri dari pasir, semen dan air harus memiliki perbandingan
75:20:5. Perbandingan komposisi bahan baku ini adalah sesuai dengan Pedoman Teknis yang
di keluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum tahun 1986.

Ø Peralatan yang diperlukan :

- Cetakan batako

- Ayakan pasir
- Kotak adukan

- Sendok semen

- Sekop

- Cangkul

- Ember dan ember penyiram

- Plastik (untuk menjaga kelembaban)

Ø Persiapan :

Siapkan perkakas, peralatan dan bahan. Ayak pasir pertama dengan ayakan pasir 1
cm2 untuk memisahkan batu-batu yang besar. Lalu ayak lagi dengan ayakan yang lebih kecil
untuk mendapatkan pasir halus. Pasir harus bersih dari kotoran, sampah dan lumpur.

Ø Mengaduk Beton :

1. Taburkan sejumlah pasir yang telah diukur setebal 10 cm di kotak adukan.

2. Tuang semen di atas pasir dan aduk keduanya secara bersama-sama sampai warna
keduanya tercampur.

3. Bentuk adukan menjadi gundukan, dan buat lubang seperti cekungan di tengah.

4. Siram dengan sedikit air secara perlahan dan aduk sampai terbentuk pasta yang merata.

5. Jika menggunakan kerikil, sekarang tambahkan dalam takaran yang sesuai kerikil dan aduk
hingga setiap kerikil terlapisi secara merata.

6. Periksa adukan: ambil segenggam penuh adukan dan bentuk seperti bola kecil. Jika bola
tersebut tidak retak, dan tangan sedikit basah, adukan siap untuk dicetak.

7. Untuk perbandingan adukannya digunakan 1 bagian semen bermutu baik + 2 bagian pasir
sungai yang bersih + 3 bagian kerikil + Air secukupnya.

Ø Langkah selanjutnya adalah siapkan alat cetakan:

1. Masukkan adukan beton kedalam ember.


2. Tempatkan bagian bawah cetakan ke tempat yang benar (di bawah atap atau tempat teduh
lainnya).

3. Beri oli dibawah cetakan.

4. Tuang adukan beton kedalam cetakan.

5. Letakkan alat tekan cetakan di atas bagian bawah cetakan.

6. Tekan alat tekan lurus ke bawah hingga “bagian kakinya” menyentuh lantai pada ke dua
sisi.

7. Injak dengan kaki ke atas “kaki” alat tekan cetakan, tekan cetakan, ambil pegangan bagian
bawah cetakan, perlahan – lahan angkat bagian atas cetakan.

8. Letakkan bagian bawah cetakan ke tanah secara perlahan.

9. Keluarkan peralatan tekan dari bagian bawah cetakan. pisahkan ke samping.

10. Perlahan-lahan angkat bagian bawah cetakan ke atas, dan tempatkan di samping batako
yang baru jadi.

11. Biarkan batako yang baru selama 1 hari, jangan kena sinar matahari langsung .

12. Setelah 1 hari, batako ditumpuk dan dilakukan curing selama seminggu.

E. Sifat dan Karakteristik Batako

Batako sebagai salah satu bahan penyusun dinding tentunya memiliki keunggulan dan
kekurangan jika dibandingkan dengan bahan penyusun dinding lainnya. Beberapa
keunggulan di antaranya adalah seperti berikut ini.

1. Dimungkinkan untuk tidak menggunakan plesteran apabila pekerjaan dilakukan dengan rapi.

2. Memiliki ukuran yang besar, sehingga dapat lebih menghemat waktu dan biaya untuk
pemasangannya.
3. Mudah dipotong untuk sambungan tertentu yang membutuhkan potongan.

Selain memiliki keunggulan, batako juga memiliki beberapa kekurangan seperti


berikut ini.

1. Dibutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatannya sebelum dipakai pada bangunan
yaitu batako harus berumur minimal 28 hari dalam proses pemeliharaannya bila tidak
dilakukan dalam ruang pemeliharaan khusus (PUBI-1982).
2. Mengingat ukurannya yang cukup besar dan proses pengerasannya cukup lama
mengakibatkan banyak terjadi pecah pada saat pengangkutan batako tersebut.
3. Kurang baik untuk insulasi panas dan suara.

Agar didapat mutu batako yang baik salah satu faktor yang mempengaruhi diantaranya
adalah faktor air semen (Darmono, 2009). FAS atau faktor air semen adalah perbandingan
antara berat air dan berat semen dalam campuran adukan. Kekuatan dan kemudahan
pengerjaan (workability) campuran adukan bata sangat dipengaruhi oleh jumlah air
campuran yang dipakai. Untuk suatu perbandingan campuran batako tertentu diperlukan
jumlah air yang tertentu pula.

Manap (1987) menyatakan bahwa pada dasarnya semen memerlukan jumlah air
sebesar 32% berat semen untuk bereaksi secara sempurna, tetapi apabila kurang dari 40%
berat semen maka reaksi kimia tidak selesai dengan sempurna. Disini tidak dipakai patokan
angka sebab nilai FAS sangat tergantung dengan campuran penyusunnya. Nilai FAS
diasumsikan berkisar 0,3 sampai 0,6 atau disesuaikan dengan kondisi adukan agar mudah
dikerjakan.

F. SYARAT BATAKO

Persyaratan mutu batako menurut PUBI 1982 adalah sebagai berikut.

1. Ukuran nominal batu cetak beton termasuk 1 cm tempat melekatkan adukan (spesi) adalah
sebagai berikut :

a. Panjang : 40 cm

b. Tinggi: 20 cm dan 10 cm

c. Tebal: 7,5 ; 10 ; 15 ; dan 20 cm.

2. Selain itu, dibuat pula batu cetak beton dengan ukuran masing masing ¼,

½ dan ¾ panjang.

3. Tebal minimum setiap dinding lubang dan sirip pada batu cetak beton berlubang tidak boleh
lebih tipis dari 20 mm.
4. Sisi-sisi kearah panjang, tebal dan tinggi dari batu cetak beton harus tegak lurus satu
dengan lainnya, tepi-tepi serta sudut-sudutnya harus cukup kuat sehingga tidak mudah
diserpihkan dengan tangan; pada badan batu cetak tidak boleh terdapat cacat yang
merugikan.

5. Kuat tekan rata-rata dari hasil pengujian 6 buah contoh yang diuji tidak boleh lebih kecil
dari harga yang tercantum dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kekuatan Tekan Batu Cetak Beton

Kekuatan Tekan Minimum, kg/f/𝐜��

Termasuk Luas Penampang Tidak Termasuk Luas


Klasifikasi Lubang Penampang Lubang
Batu cetak Rerata 6 Masing-Masing Rerata 6 Masing-Masing
Contoh Contoh Contoh Contoh

Kelas A 70 55 125

100
Kelas B 50 40 85

70
Kelas C 25 20 35

30
Sumber : PUBI (1982)

G. JENIS PENGUJIAN BATAKO

Pengujian Unit Batako-Kait

 Uji Tekan Material

Kuat tekan material beton dianalogikan dengan kuat tekan beton yaitu besarnya
beban maksimum yang dapat ditahan per satuan luas yang menyebabkan benda uji beton
hancur.

Menurut SNI 03-0349-1989 mengenai metode pengujian kuat tekan beton nilai
kuat tekan beton dapat dihitung dengan Persamaan 3.3 berikut.
� ′c = �


dengan:

� ′ c = kuat desak batako (kg/cm2 ),

P = beban maksimum (kg), dan

A = luas permukaan denda uji yang menerima beban (cm2).

 Uji Geser Lentur

Pada elemen balok terjadi arah beban yang terjadi akan tegak lurus sumbu
panjang/bentang balok. Menurut Prawirodikromo (2014), dalam suatu titik di dalam
balok akan terjadi beberapa gaya yang bekerja sekaligus seperti tegangan lentur dan
tegangan geser. Pengertian tegangan lentur batako dianalogikan dengan tegangan lentur
balok. Jika suatu balok dibebani gaya lintang atau tegak lurus sumbu- panjang, maka
balok akan berkecendurangan melentur kebawah. Pada kondisi seperti itu serat bawah
akan mengalami pertambahan panjang akibat tegangan tarik dan sebaliknya serat atas
akan memendek akibat tegangan desak. Tegangan tarik dan desak yang terjadi adalah
tegangan akibat peristiwa lentur. Tegangan-tegangan tersebut tidak saja dipengaruhi oleh
momen lentur, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh gaya geser tegangan kombinasi antara
lentur dengan geser (Pawirodikromo, 2014).

Terdapat dua tipe pembebanan yang dapat digunakan yaitu satu titik dan dua titik.
Pembebanan dua titik dilakukan untuk mengetehui tegangan lentur murni yaitu lentur
yang terjadi hanya karena momen lentur, tanpa adanya pengaruh geser. Pengujian pada
penelitian ini menggunakan pembebanan satu titik di tengah bentang seperti pada
Gambar berikut.
Pengujian Kuat Lentur dengan Pembebanan Satu Titik

Pengujian lentur dengan pembebanan satu titik dilakukan dengan meletakkan


beban P di tengah bentang. Pembebanan tersebut menyebabkan terjadinya tegangan
lentur yang bukan merupakan lentur murni. Hal tersebut ditunjukkan pada tengah
bentang, terjadi momen maksimal pada Gambar 3.4 (b) dan juga geser maksimal pada
seperti pada Gambar 3.4 (c), sehingga menghasilkan momen yang masih dipengaruhi
oleh gaya geser.

Menurut Prawirodikromo (2014) nilai tegangan lentur dapat dihitung dengan


Persamaan 3.4 berikut.

��� �
�=

dengan:

� = tegangan lentur (MPa),

M = momen maksimum (Nmm),

y = jarak terhadap garis netral (mm), dan

I = momen inersia penampang (mm4).

Selain terjadi tegangan lentur pada saat pembebanan, gaya yang timbul adalah
tegangan geser. Pada penampang balok simetris tegangan geser akan mencapai
maksimum pada garis netral seperti pada Gambar berikut.
Distribusi Tegangan Geser Lentur

Tegangan geser dipengaruhi oleh gaya lintang yang bekerja balok atau benda uji,
statik momen luas bidang geser yang ditinjau terhadap garis netral, momen inersia
terhadap sumbu-x dan lebar bidang geser pada tiap-tiap titik yang ditinjau. Untuk
mengetehui tegangan geser akibat lentur paling maksimum pada potongan maka ditinjau
pada beberapa titik seperti pada Gambar 3.6 berikut.

Titik Tinjauan untuk Perhitungan Geser Lentur Maksimum


Berdasarkan penjelasan tersebut, menurut Prawirodikromo (2014) tegangan geser
akibat lentur dapat dihitung dengan Persamaan 3.6 berikut.
�� � (3.5)
�=

���

dengan:

� = tegangan geser akibat lentur (MPa),

V = gaya lintang yang bekerja pada potongan yang ditinjau (N),

� = statik momen luas bidang geser yang ditinjau terhadap garis netral

(mm3),

� = inersia terhadap sumbu-x (mm4),

� = lebar bidang geser yang ditinjau (mm).

 Uji Geser Murni

Geser murni adalah keadaan yang terjadi pada suatu elemen yang hanya mengalami
tegangan geser saja tanpa terpengaruh adanya momen lentur. Tegangan ini timbul karena
adanya beban/gaya yang sejajar dengan potongan batang seperti tampak pada Gambar.

Tegangan Geser Murni


Pengujian Unit Dinding Pasangan Batako-Kait

Kait (interlocking) pada batako dalam penelitian ini berfungsi sebagai pengunci
dan penguat pada sambungan antar batako-kait agar batako menjadi satu- kesatuan yang
utuh apabila digunakan sebagai bahan penyusun dinding seperti tampak pada Gambar
3.8. Pengujian unit dinding pasangan batako-kait bertujuan untuk mengetahui pengaruh
dari interlocking batako-kait itu sendiri dalam peranannya sebagai pengunci dan penguat
pada sambungan antar batako dalam menahan gaya-gaya yang yang terjadi seperti
tegangan geser dan tegangan lentur.

Sambungan/kaitan

Sambungan/Kaitan Antar Unit Batako-Kait

Gaya-gaya tersebut timbul karena adanya pembebanan dengan teori yang sudah
dijelaskan pada subbab sebelumnya. Selain itu, pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui perbedaan kekuatan dari masing-masing tipe siar yang digunakan serta
untuk mengetahui pertambahan kekuatan dalam menahan tegangan geser dan lentur
berdasarkan jumlah susunan batako-kait. Pengujian ini dilakukan dengan melakukan
pembebanan baik secara searah bidang benda uji (in plane) maupun tegak lurus bidang
benda uji (out of plane) pada susunan batako-kait dan dengan variasi jenis siar dan
jumlah susunan batako-kait.

3. BATA RINGAN

A. PENGERTIAN BATA RINGAN


Beton ringan adalah beton yang memiliki berat jenis (density) lebih ringan daripada
beton pada umumnya. Beton ringan bisa disebut sebagai beton ringan aerasi (Aerated
Lightweight Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/
AAC) yang mempunyai bahan baku utama terdiri dari pasir silika, kapur, semen, air,
ditambah dengan suatu bahan pengembang yang kemudian dirawat dengan tekanan uap
air. Tidak seperti beton biasa, berat beton ringan dapat diatur sesuai kebutuhan. Pada
umumnya berat beton ringan berkisar antara 600 – 1600 kg/m3. Karena itu keunggulan
beton ringan utamanya ada pada berat, sehingga apabila digunakan pada proyek
bangunan tinggi (high rise building) akan dapat secara signifikan mengurangi berat
sendiri bangunan, yang selanjutnya berdampak kepada perhitungan pondasi.

B. SIFAT DAN KARAKTERISTIK

Bata Ringan adalah pilihan utama para kontraktor, pengembang dan arsitek di seluruh
dunia, dikarenakan kelebihannya dalam semua aspek.

1. Ringan: Dengan 1/3 beratnya bata merah, biaya angkutan dan konstruksi menjadi hemat.
2. Efisiensi Energi: Tingginya daya insulasi suhu sangat menghemat biaya listri A/C dan
membuat ruangan terasa nyaman sepanjang hari.
3. Tahan Api: Solusi paling tepat untuk keamanan api: tingkat tahanan kebakaran hingga 4
jam – tertinggi diantara semua macam material dinding.
4. Tahan Air: Tidak akan menyerap air – cirinya adalah mengapung diatas air. Ini akan
mencegah dinding dari penjamuran dan kebocoran.
5. Kedap Suara: Pori-pori didalamnya membuat dinding yang terbuat dari Bata Ringan
sangat meredam kebisingan.
6. Akuran dan Presisi: Sistem produksi berteknologi tinggi membuat dimensi dan ukuran
Bata Ringan sangat akurat dan presisi. Sehingga pembangunan akan cepat dan hemat
perekat dan acian.
7. Hemat Waktu: Keringanan dan kemudahan pengerjaannya mempercepat waktu
pembuatan dinding hingga lebih dari 3x lipat.
8. Mudah Pengerjaan: Bobot yang ringan dan kuat menjadikan Bata Ringan mudah
digergaji, dibor, dibentuk dan dikerjakan hanya dengan menggunakan peralatan kayu
biasa.
9. Tahan Lama: Dengan ciri yang kuat dan tahan terhadap perubahan cuasa, Bata Ringan
adalah produk yang stabil dan awet.
10. Ramah Lingkungan: Bata Ringan tidak mengandung bahan-bahan yang beracun maupun
berbahaya. Bata Ringan tidak dapat dijadikan tempat tinggal bagi kutu atau serangga.

Kekurangan Bata Ringan:

1. Harga material mahal. Untuk satu meter persegi bidang dinding dibutuhkan bata ringan
seharga 8 x Rp. 10.000,00 = Rp. 80.000,00
2. Perlu tukang dengan keahlian khusus untuk memasang bata ringan. Kalau dipasang asal-
asalan, kepresisian akan hilang.
3. Beberapa jenis bata ringan mesti dipasang memakai semen khusus (semen instan),
walaupun ada beberapa jenis yang dapat dipasang dengan semen biasa. Tanyakan hal ini
pada supplier bata ringan atau toko bangunan pada saat membeli.
4. Sulit dipaku sebab material bersifat perforated. Jika ingin menggantung lukisan atau
furniture di dinding dengan bata ringan, mesti memakai baut dengan fisher.

C. Pembuatan Beton Ringan


Pembuatan beton ringan ini pada prinsipnya membuat rongga udara di dalam beton. Ada
tiga macam cara membuat beton aerasi, yaitu :
- Yang paling sederhana yaitu dengan memberikan agregat/campuran isian beton ringan.
Agregat itu bisa berupa batu apung, stereofoam, batu alwa, atau abu terbang yang
dijadikan batu.
- Menghilangkan agregat halus (agregat halusnya disaring, contohnya debu/abu
terbangnya dibersihkan).
- Meniupkan atau mengisi udara di dalam beton. Cara ketiga ini terbagi lagi menjadi
secara mekanis dan secara kimiawi.

Proses pembuatan beton ringan atau Autoclaved Aerated Concrete secara kimiawi kini
lebih sering digunakan. Sebelum beton diproses secara aerasi dan dikeringkan secara
autoclave, dibuat dulu adonan beton ringan ini. Adonannya terdiri dari pasir kwarsa,
Semen, Kapur, Gypsum, Aluminium pasta (Zat Pengembang)dan Air. Untuk
memproduksi 1 m3 beton ringan hanya dibutuhkan bahan sebanyak ± 0,5 – 0,6 m3 saja,
karena nantinya campuran ini akan mengembang. Dalam komposisinya, secara umum
pasir kwarsa memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu berkisar 60%, kemudian
perekat yang terdiri dari semen dan kapur sebanyak 30%, dan sisanya sebanyak 10%
yaitu campuran gypsum, aluminium pasta dan air. Semen yang digunakan merupakan
semen tipe I. Semen tipe I merupakan yang biasanya digunakan untuk segala macam
jenis konstruksi. Untuk proses produksi, dalam 1 hari dapat dihasilkan beton ringan
sebanyak ± 300 – 400 m3. Pembuatan beton ringan ini sepenuhnya dikerjakaan dengan
mesin. Mesin yang digunakan seperti mesin penggiling, mesin mixxing, mesin cutting,
autoclaved chamber. Untuk proses awal semua bahan baku ditempatkan didalam tangki
masing – masing untuk mempermudah proses pencampuran. Khusus untuk pasir kuarsa
harus dimasukkan kedalam mesin penggiling terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke
dalam tangki, untuk menghaluskan butiran – butiran pasir. Kemudian melalui ruang
control, diatur kadar campuran yang akan dibuat. Kadar campuran dapat berubah – ubah
tergantung dari keadaan bahan baku yang ada. Kemudian campuran beton ringan
tersebut dituangkan kedalam cetakan yang memiliki ukuran 4,20 x 1,20 x 0,60 m.
Adonan tersebut diisikan sebanyak ½ bagian saja. Kemudian didiamkan sekitar ± 3 – 4
jam, sehingga adonan dapat mengembang.

Dalam proses pengembangan ini, terjadi reaksi kimia. Saat pencampuran pasir kuarsa,
semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan dicampur alumunium pasta ini terjadi reaksi
kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir
kwarsa dan air sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk
gelembung-gelembung udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung
udara ini menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di
akhir proses pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan
langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang terbentuk ini yang membuat
beton ini menjadi ringan. Meskipun hidrogennya hilang, tekstur beton tetap padat tetapi
lembut. Sehingga mudah dibentuk balok, atau palang sesuai kebutuhan. Setelah
mengembang, adonan dipotong untuk memperoleh ukuran yang persisi, karena pada
saat pengembangan ukurannya tidak dapat dikontrol sehingga dipotong setelah proses
pengembangan selesai. Setelah melalui proses pemotongan, beton ringan dimasukkan
kedalam autoclave chamber selama ± 12 jam. Didalam autoclaved ini pasir kwarsa
bereaksi dengan kalsium hidroksida menjadi kalsium hidrat silika. Dalam proses ini
beton ringan diberi tekanan sebesar 11 bar atau sebesar 264 psi ( = 1,82 Mpa) dengan
suhu setinggi 374 ⁰F.
Sehingga terbentuk kalsium silikat dan beton ringan berubah warna menjadi putih. Pada
saat didalam autoclaved ini, semua reaksi kimia dituntaskan dan dibersihkan pada suhu
tinggi, sehingga nantinya pada saat digunakan tidak mengandung reaksi kimia yang
berbahaya. Kenapa tidak dijemur saja? Karena kalau adonan ini dijemur di bawah terik
matahari hasilnya kurang maksimal, karena tidak bisa stabil dan merata hasil
kekeringannya. Setelah keluar dari autoclave chamber, beton ringan aerasi ini sudah siap
untuk dipasarkan dan digunakan sebagai konstruksi bangunan.
D. JENIS PENGUJIAN DAN SYARAT BATA RINGAN

Sl.No. Parameter CLC AAC


Autoclaved Aerated
Concrete
Cellular Lightweight Concrete
Contoh: Hebel, Siporex,
Ytong, dll
Semen, Kapur, Pasir, Lime,
1. Bahan Dasar Semen, Pasir, Busa senyawa, air
Aluminium Pasta
Hanya diproduksi di Pabrik
Proses Produksi Tidak Memerlukan Oven
2. yang mahal dilengkapi
& Set up Autoclave
dengan Oven Autoclaves
Kepadatan
400- 1200-
3. Kering 800-1000 650 750
600 1800
Kg/m 3
Kekuatan tekan
4. 10-15 25-35 60-250 40 40
(28 hari) Kg/m 3
Partisi
Beban Mengingat Diperkuat
5. Penggunaan Isolasi Non-beban
bantalan beban non-blok panel
bantalan
500x250x90/190mm
Ukuran Blok Setiap bentuk & ukuran dalam 625x250x100/200mm Tidak
6.
pracetak rentang kepadatan Layak
400-1800 Kg / m 3
Keuntungan kekuatan dengan
7. Penuaan Tidak ada
usia sebagai beton biasa
Konduktivitas 0,098 untuk 400 Kg / m 3
0132-0,151 untuk 650 Kg /
8. termal Unit 0,151 untuk 700 Kg / m 3
3
m3
(W/mk) 0,238 untuk 1000 Kg / m
9. Isolasi Suara Unggul Unggul
Dapat dipotong, dipaku, dibor Dapat dipotong, angsa,
10. Mudah bekerja
sebagai kayu dipaku, dibor sebagai kayu
11. Eco-ramah Bebas polusi dengan kebutuhan Bebas polusi proses dengan
Energi minimal kebutuhan energi tinggi
SNI TERKAIT STANDAR MUTU DAN SYARAT BATU
BATA, BATAKO, BATA RINGAN
No Judul Standar Nomor Ruang Lingkup
Standar
1 Tata cara perhitungan harga satuan Standar ini menetapkan
pekerjaan dinding untuk konstruksi indeks bahan bangunan dan
bangunan gedung dan perumahan SNI indeks tenaga kerja yang
6897:2008 dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan dinding yang
dapat dijadikan acuan dasar
yang seragam bagi para
pelaksana pembangunan
gedung dan perumahan
dalam menghitung besarnya
harga satuan pekerjaan
dinding untuk bangunan
gedung dan perumahan.
Jenis pekerjaan dinding yang
ditetapkan meliputi :
a) Pekerjaan dinding bata
merah dengan berbagai
ketebalan dan spesi;
b) Pekerjaan dinding hollow
block dengan berbagai
dimensi dan spesi;
c) Pekerjaan pemasangan
terawang (roster) atau bata
berongga.
2
Metode pengujian kuat ekan dinding SNI 03- Metode ini digunakan untuk
pasangan bata merah d ilaboratorium 4164-1996 memperoleh nilai kuat tekan
dinding pasangan bata merah
yang digunakan sebagai dinding
struktural bagi keperluan
perencana dan pelaksana
3 Metode pengujian kuat lentur dinding Metode ini digunakan untuk
pasangan bata merah di laboratorium memperoleh nilai kuat lentur
SNI 03 dinding pasangan bata merah
4165-1996 yang digunakan sebagai dinding
struktural bagi keperluan
perencana dan pelaksana
4 Metode pengujian kuat geser dinding pasangan SNI 03- Metode ini digunakan untuk
bata merah di laboratorium 4166-1996 memperoleh nilai kuat geser
dinding pasangan bata merah
yang digunakan sebagai dinding
struktural bagi keperluan
perencana dan pelaksana
5 Spesifikasi bata dan ubin pejal tahan kimia Spesifikasi ini mencakup bata dan
RSNI S- ubin pejal yang cocok digunakan
04-2002 sebagai komponen konstruksi
pasangan untuk bagian dalam dan
luar bangunan yang akan terkena
pengaruh zat kimia dan
lingkungannya
6 Tata cara pembuatan bata semen berlubang Pt T-06- Tata cara ini digunakan untuk
2000-C memenuhi efisiensi dan
meningkatkan mutu produk. Tata
cara ini mencakup persyaratan,
bahan dan cara pembuatan
7 Bata Beton untuk pasangan dinding SNI 03- Ruang lingkup yang telah meliputi
0349- definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara
1989 pengambilan contoh, cara uji, dan
syarat lulus uji bata beton untuk
pasangan dinding.
III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Batu Bata adalah suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan
dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup
tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi bila direndam dalam air. Bahan baku batu bata adalah
tanah liat, air, abu. Makalah ini juga membahas mengenai proses pembuatan batu bata.
Sementara itu, batu bata juga memiliki sifat mekanis dan fisis. Batu bata memiliki jenis
pengujian, syarat mutu, beserta SNI terkait dengan bata. Begitu pula dengan batako dan bata
ringan yang telah dibahas di dalam makalah ini terkait dengan pengertian, bahan penyusun,
proses pembuatan, sifat, jenis pengujian, syarat mutu, beserta SNI yang terkait.

B. SARAN
Demikian makalah tentang bahan batu bata, batako, dan bata ringan sebagai bahan bangunan
ini saya ketik. Adapun saran yang dapat di sampaikan oleh penulis yaitu:

1. Kepada tenaga pendidik, yaitu agar lebih menambah wawasan tentang bahan batu bata,
batako, dan bata ringan yang dipakai dalam konstruksi bangunan gedung sehingga dapat
mempermudah transfer informasi tentang bahan bangunan gedung.

2. Kepada pembaca, yaitu agar dapat lebih mengaitkan antara teori yang ada dengan
fenomena fenomena yang terjadi sehingga dapat memperdalam pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/10042000/LAPORAN_BATU_BATA

https://www.academia.edu/30958532/BAHAN_BAKU_UNTUK_MEMBUAT_BATU_BATA

http://piala-dunia-info.blogspot.com/2014/10/makalah-proses-pembuatan-batu-bata.html

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/5461/05.3%20bab%203.pdf?
sequence=7&isAllowed=y

http://bagiilmusipil.blogspot.com/2017/02/makalah-batako.html

https://www.academia.edu/16756934/karyailmiah_batako

https://yogoz.files.wordpress.com/2013/12/sni03-0349-1989-batabetonuntukpasangandinding.pdf

http://bestananda.blogspot.com/2015/01/bata-ringan-hebel.html

http://umarcivilengineering.blogspot.com/2013/07/beton-ringan-hebel_18.html