Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak dahulu kala kebutuhan akan pangan atau pakaian telah menjadi sebuah
kebutuhan yang diprioritaskan. Hal ini dikarenakan pakaian mempunyai manfaat bagi
manusia dalam mepertahankan kelangsungan hidupnya. Dimana saat cuaca dingin pakaian
dapat menghangatkan tubuh, pakaian itu juga menunjukan kepribadian seseorang untuk
dikatakan baik atau tidak, kesopansantunan.
Zaman dahulu dengan keterbatasan alat maupun bahan serta tingkat sumber daya
manusia yang rendah, manusia membentuk sebuah pakaian dari kulit kayu. Karena merasa
kurang nyaman mengenakan pakaian dari kulit kayu, pasalnya pakaian dari kulit kayu ini
dapat menimbulkan gatal dan merusak kulit maka nenek moyang kala itu mulai mencari
alternatif lain yaitu membuat pakain dari bahan dasar kapas. Sehingga sejak saat itu
muncullah pakaian dari tenun ikat dari berbagai wilayah.
Seiring berjalannya waktu, muculnya berbagai tenun dengan beragam motif dan hias
yang bervariasi dengan arti – arti yang berbeda. Arti – arti inilah yang menunjukan latar
belakang kebudayaan suatu daerak atau ciri khas dari suatu daerah. Berbagai peneltian telah
membuktikan hal ini, salah satunya adalah Marie Jeanne Adams yang dalam tulisannya
khusus membahas seni tenun ikat di Kabupaten Sikka di Wilayah Kewapante sebuah
kecamatan di Sikka Nusa Tenggara timur (NTT).
Sekitar sistem dan motif tenun ikat, beliau tandaskan adanya kemungkinan bahwa
struktur kebudayaan masyarakat Kewapante pada umumnya didasarkan pada prinsip
berpasangan laki – laki dan perempuan.
Berpedoman pada ide ini, dipelajari motif – motif dan ragam hias geometris dari
tenun ikat, di daerah Kewapante justru motif dan ragam hias geometris mendasari aspek
kebudayaan ini yaitu seni tenun ikat. Sebagai dua unsur terpadu menjadi satu organis. Dari
adanya sistem partner ini tersimpul kebenarannya bahwa suku bangsa Sikka sebagai bagian
dari integral Bangsa Indonesia terarah kepada rekan, sebagai teman hidup dan lawan kerja.
Jelas pula bahwa motif – motif tenun ikat justru menampilkan kepribadian atau identitas diri.

B. Rumusan Masalah
berdasarkan isi dari makalah ini maka ada beberapa permasalahan yang perlu di bahas. Agar
kita dapat mengetahui dan memahami tentang kerajinan tenun. Diantaranya adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan tenun ?
2. Apa yang dimaksud dengan tenun Ikat dan Tenun Songket ?
3. Bagaiamana cara pembuatan tenun Ikat dan Tenun Songket ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini karena :
1. Ingin mengetahui jenis tenun baik tenun Ikat ataupun tenun Songket.
2. Memberikan pengetahuan mengenai kerajinan Tenun
3. Sebagai suatu media untuk menambah wawasan dan pengetahuan
4. Menambah Kepustakaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerajinan Tenun
Tenun merupakan salah satu seni budaya kain tradisional lndonesia yang diproduksi
di berbagai wilayah di seluruh Nusantara (Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, lombok,
Sumbawa, dan lainya. Tenun memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi
warna, motif, dan jenis bahan serta benang yang digunakan dan tiap daerah memiliki ciri khas
masing-masing. Tenun sebagai salah satu warisan budaya tinggi (heritage) merupakan
kebanggaan bangsa Indonesia, dan mencerminkan jati diri bangsa. Oleh sebab itu, tenun baik
dari segi teknik produksi, desain dan produk yang dihasilkan harus dijaga dan dilestarikan
keberadaannya, serta dimasyarakatkan kembali penggunaannya.
Mungkin selama ini kita lebih mengenal batik sebagai wakil bangsa atas keelokan
Indonesia dalam menciptakan kain. Padahal masih ada satu lagi kain hasil karya perajin
Indonesia yang tidak kalah cantik dan menawan, yaitu tenun.
Terkait dengan banyaknya daerah yang menjadi produsen tenun,
keberagaman motif tidak perlu dipertanyakan. Adanya perbedaan latar belakang budaya dan
lingkungan, akan menciptakan keunikan hasil tenun pada setiap daerah.
Teknik pembuatan yang menggunakan ATBM [Alat Tenun Bukan Mesin] membuat
kualitas dari kain tenun Indonesia tidak perlu dipertanyakan. Dari sana dapat dipastikan pada
tahun-tahun ke depan, respon pasar untuk tenun Indonesia akan bersaing dengan batik.

JENIS – JENIS TENUNAN


A. Tenun Ikat
Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari
helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam
zat pewarna alami. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun bukan mesin. Kain ikat dapat
dijahit untuk dijadikan pakaian dan perlengkapan busana, kain pelapis mebel, atau penghias
interior rumah.
Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus (diikat) dengan tali plastik sesuai
dengan corak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan
tali plastik tidak akan terwarnai. Tenun ikat ganda dibuat dari menenun benang pakan dan
benang lungsin yang keduanya sudah diberi motif melalui teknik pengikatan sebelum dicelup
ke dalam pewarna.
Teknik tenun ikat terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang
terkenal dengan kain ikat di
antaranya: Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor. Kain
gringsing dari Tenganan, Karangasem, Baliadalah satu-satunya kain di Indonesia yang dibuat
dari teknik tenun ikat ganda (dobel ikat).
Bahan dasar kain tenun ikat
Pembuatan kain tidak terlepas dari bahan baku yang digunakan. Bahan utama kain
adalah serat. Pada zaman purba,masyarakat menggunakan serat kayu, untuk memperoleh
serat menggunakan akar beringin. Karena perkembangannya menggunakan serat kapas,kapas
ditanam di perkebunan atau di pekarangan. Setelah ditanam dan dirawat sambil menunggu
sampai berbuah. Sesetelah itu dipetik lalu dijemur sampai kering. Setelah itu kupas,dipijat
dan terakhir dibersihkan kapas harus dijemur agar mudah berkembang sehingga mudah
dipisahkan bijinya . setelah kapas dijemur kapas dipisahkan dari bijinya dengan
menggunakan alat yang disebut KEHO. Alat ini dipergunakan sampai batas 1970 an. Massa
sekarang sudah punah lantaran orang menggunakan busur penghapus atau WETING. Kini
kapas yang sudah halus siap dipintal.

*Masyarakat menggunakan dua cara pemintalan yaitu


- menggunakan puter atau peto kapa
- menggunakan kincir pemintal benang atau jata kapa .
Alat ini terbuat dari kayu . setelah dipintal benang digulung dalam bentuk gumpalan
atau bola dengan alat yang disebut REONG . benang yangberbentuk gumpalan-gumpalan
direntangkan lagi pada alat yang disebut PLAPAN. Benang yangsudah direntangkan diikat
menggunakan tebuk untuk dibuatkan motif-motif.setelah diikat,benang dicelup sesuai selera.
Lalu dijemur sampai kering dan dibuka ikkatan tebuknya setelah itu DI GAIN. Sesudah di
gain benang tersebut dicelup kedalam air yang sudah tercampur biji asam atau kanji. Benang
kemudian dijemur hingga kering dan dimasukan antara dua plapan lalu digoang sesuai warna
sarung yang kemudian dirakit untuk memisahkan lirang atas dan bawah dengan benang
khusus yang disebut benang perakit atau HAWEN setelah itu benang siap ditenun.

Alat dan perlengkapan yang di gunakan dalam teknik tenun ikat


Beberapa alat yang digunakan dalam membuat benang antara lain:
Keho : alat untuk memisahkan biji kapas dan serat-serat.
Weting : alat untuk menyamak serat kapas hasil proses dari alat keho agar menjadi halus. Alat ini
dibuat dari bilahan-bilahan bambu yang diiris kemudian di beri tali menyerupai busur.alat
kedua adalah ranting bambu yang bercabang yang digunakan sebagai penyentil atau pemetik
tali busur.
Dasa : alat untuk memintal kapas menjadi benang. Alat ini digunakan terbuat dari balok kayu.
Reong : alat untuk menggulung benang
Laen : alat untuk menguraikan benang. Alat ini terbuat terbuat dari sepotong kayu yang agak panjang
dari pada ujung –ujungnya diberi berpalang yang agak pendek dan bentuknya menyerupai I
besar
Seler : alat yang digunakan untukn menguraikan benang –benang agar digulung kembali dalam
gumpalan –gumpalan. Alat ini terdiri atas potongan- potongan kayu yang dibuat dalam
bentuk segu empat`atau segi enam
Papan : alat untuk merentangkan kembali benang – benang yang berbentuk gumpalan – gumpalan
untuk dibuatkan motif – motif alat ini berbentuk segi empat bahannya terbuat dari kayu dan
juga bambu
Ai ler : alat yang diletakan pada pinggang penenun dan diikat pada kayu
Pine : alat yang digunakan sebagai pemegang benang –benang pada waktu ditenun.
Ai gemer : alat yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk menjepiit sarrung
Ai tuan : alat untuk merentangkan benang tenunan,alat ini terbuat dari kayu.
Tuun : alat tempat penenunmenyandarkan kaki pada saat menenun
Pati : alat tenun untuk merapatkan benang pakan (lodon) . alat ini terbuat dari kayu yang keras .
Ekur : alat untuk mengatur barang “lungsi” (GERAN).EKUR terbuat dari belahan pinang,bentuknya
sebesar jari kelingking.
Bolen : alat untuk mengatur bentuk LUNGSI yang biasanya terbuat dari satu ruas bambu bulu dan
menjadi tempat membulatkan benang –benang
Sipe : alat untuk mengatur posisi benang sehingga benang – benang tersebut terbagi atas dua jalur
yaitu jalur atas dan bawah. Alat ini terbuat dari irisan atau bilah pelepah enau dan jumlahnya
dua buah.
Legun : alat yang terdiri atas setengah ruas bambu buluh tempat dimasukan gulungan benang tenunan
“ lodon “ atau “pakan”
Tunger : belahan batang pinang / bambu yang berguna untuk menahan tuun.

Ragam hias /motif kain tenun ikat


- Sejarah Ragam Hias Tenun Ikat
Motif adalah ungkapan ide setiap orang yang mengerjakanyamotiof pada masing –
masing daerah pada dasarnya diambil berdasarkan suatu kisah atau kejadian menggambarkan
kejadian para leluhur jaman dahulu. Misalnya motif burung dan ular, kalajengking kemudian
berkembang menjadi motif ragam hias, misalnya bela ketupat dan bunga.
Corak Ragam Hias Tenun Ikat antara lain :
§ Hura Inang atau motif induk
§ Buen atau motif kecil yang mengapiti Hura Inang
§ Lorang atau tengah yang terdapat diantara Buen.
Warna Ragam Hias Tenun Ikat
Biasanya menggunakan dua warna, warna dasar tetap menjadi ikatan yang pertama,
warna dasar tiga ragam hias biasanya berwarna merah bur yakni campuran warna merah dan
coklat, selain warna merah dan coklat ditambah lagi warna hitam.

Fungsi Kain Tenun Ikat


- Fungsi Sosial dan Budaya
Menggambarkan kekhasan budaya setempat, Menjadi bahan seremoni (dalam upacara
kebudayaan) misalnya adat kawin dan penyerahan hak.
- Fungsi Ekonomi
Misalkan Sarung dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup

MACAM-MACAM TENUN DI INDONESIA


1. Tenun sederhana.

(tenun sederhana, Kediri).


Tenun yang dihasilkan dari benang pakan masuk keluar kedalam benang lungsi dengan
ritme yang sama, sehingga menghasilkan tenun polos tanpa corak atau dengan corak
garis-garis, kotak-kotak sesuai dengan warna dan jenis benang yang dipakai, sehingga
menghasilkan tenunan yang disebut tenun lurik (garis-garis).Tenun ini banyak dijumpai
di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Tenggara.

2.Tenun ikat lungsi


(tenun ikat lungsi, ntt)
Tenun ikat lungsi adalah produk tenun dengan desain yang terjadi dari kumpulan
benang lungsi yang dibentangkan pada alat perentang diikat dengan tali rafia berbagai
warna yang disesuaikan dengan ragam hias dan warna yang diinginkan, kemudian
dicelup. Setelah mengering pada bagian yang ditandai oleh warna rafia tertentu
dibuka ikatannya dan dicolet dengan warna yang diinginkan, dilakukan seterusnya
pada ikatan warna rafia yang lain dicolet dengan warna-warna yang diinginkan.
Setelah kering, kemudian ditata pada alat tenun dan ditenun dengan benang pakan
warna tertentu sesuai dengan warna yang diinginkan secara keseluruhan. Hasil tenun
ikat lungsi banyak dijumpai dari daerah NTB, NTT, Maluku, Kalimantan Timur,
Kalimantan Barat, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Papua Barat.
3.Tenun ikat pakan

(tenun prada,bali)
Tenun ikat pakan proses pembuatannya sama dengan tenun ikat lungsi, tetapi yang diikat
adalah kumpulan benang pakan sesuai dengan ragam hias dan warna yang diinginkan,
kemudian ditenun pada bentangan benang lungsi yang sudah tertata pada alat tenun
dengan warna yang yang diinginkan secara keseluruhan.
Hasil tenun ikat pakan banyak dijumpai dari daerah Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah.

4.Tenun ikat ganda (ikat lungsi dan pakan)

(tenun ikat bunga lontar,rote)


Kedua teknik tersebut diatas digabungkan dalam proses penenunannya, sehingga corak
akan terbentuk dari persilangan benang lungsi dan benang pakan yang bertumpuk pada
titik pertemuan corak yang dikehendaki.
Hasil tenun ikat ganda dapat dijumpai dari Bali (Tenganan),Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Tenggara.

5.Tenun songket

(songkok,palembang)
Tenun songket adalah tenun dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan, yaitu
dengan menyisipkan benang perak, emas, tembaga atau benang warna diatas benang
lungsi. Tenun songket banyak terdapat

di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan,
Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku Utara.

B. Tenun Songket
Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu di Indonesia,Malaysia,
dan Brunei. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan
tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi.
Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang.
Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang
berarti "mengait" atau "mencungkil". Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya;
mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas.
Selain itu, menurut sementara orang, kata songket juga mungkin berasal dari kata
songka, peci khas Palembang yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan
benang emas dimulai. Isitilah menyongket berarti ‘menenun dengan benang emas dan perak’.
Songket adalah kain tenun mewah yang biasanya dikenakan saat kenduri, perayaan atau
pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau
sebagai destar atau tanjak, hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi hiasan kepala
yang terbuat dari kain songket yang lazim dipakai oleh sultan dan pangeran serta
bangsawan Kesultanan Melayu. Menurut tradisi, kain songket hanya boleh ditenun oleh anak
dara atau gadis remaja; akan tetapi kini kaum lelaki pun turut menenun songket. berapa kain
songket tradisional sumatra memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Peralatan dan Bahan


Peralatan tenun songket, Peralatan itu pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi
dua, yakni peralatan pokok dan tambahan. Keduanya terbuat dari kayu dan bambu. Peralatan
pokok adalah seperangkat alat tenun itu sendiri yang oleh mereka disebut sebagai “panta”.
Seperangkat alat yang berukuran 2 x 1,5 meter ini terdiri atas gulungan (suatu alat yang
digunakan untuk menggulung benang dasar tenunan), sisia (suatu alat yang digunakan untuk
merentang dan memperoleh benang tenunan), pancukia (suatu alat yang digunakan untuk
membuat motif songket, dan turak (suatu alat yang digunakan untuk memasukkan benang
lain ke benang dasar). Panta tersebut ditempatkan pada suatu tempat yang disebut
pamedangan (tempat khusus untuk menenun songket), di depannya diberi dua buah tiang
yang berfungsi sebagai penyangga kayu paso. Gunanya adalah untuk menggulung kain yang
sudah ditenun.
Sedangkan, yang dimaksud dengan peralatan tambahan adalah alat bantu yang
digunakan sebelum dan sesudah proses pembuatan songket. Alat tersebut adalah penggulung
benang yang disebut ani dan alat penggulung kain hasil tenunan yang berbentuk kayu bulat
dengan panjang sekitar 1 meter dan berdiameter 5 cm.
Bahan dasar kain tenun songket adalah benang tenun yang disebut benang lusi atau
lungsin. Benang tersebut satuan ukurannya disebut palu. Sedangkan, hiasannya (songketnya)
menggunakan benang makao atau benang pakan. Benang tersebut satuan ukurannya disebut
pak. Benang lusi dan makaoitu pada dasarnya berbeda, baik warna, ukuran maupun bahan
seratnya. Perbedaan inilah yang menyebabkan ragam hias kain songket terlihat menonjol dan
dapat segera terlihat karena berbeda dengan tenun latarnya. Di Silungkang dan Pandai Sikek
tenunan dasar atau latar biasanya berwarna merah tua (merah vermillion), hijau tua, atau biru
tua.
Proses Pembuatan Tenun Songkat
Proses pembuatan melalui beberapa tahapan, pertama yaitu pencelupan, Benang
Sutera yang masih putih dicelup sesuai warna yang dikehendaki, setelah itu dijemur dengan
bambu panjang di terik matahari untuk membuat kain dan selendang (ukuran lebar kain 90
cm untuk selendang 60 cm, sedangkan panjangnya 165 hingga 170). Setelah benang kering
maka akan dilakukan proses desain (pencukitan) dengan menggunakan lidi sesuai dengan
motif yang dikehendaki.

Setelah proses pencukitan selesai maka akan dilakukan proses penenunan yang
memerlukan waktu mulai 2 hingga 3 bulan. Didalam proses penenunan ini benang lungsi
sutera dimasukkan kealat tenun melalui sisir tenun dan henddle utama pada rangkaian kain
yang membentuk pola simetris dan diisi oleh benang sutra dan benang emas tambahan. Alat
yang digunakan untuk proses penenunan ini selain 1 (satu) set alat tenun, digunakan juga
baliro yang digunakan untuk menyentak benang di lungsi dengan benang pakan. Benang
pakan dimasukkan dengan menggunakan alat yang bernama peleting. Sedangkan untuk
mempermudah benang pakan yang ada di peleting masuk ke lungsi teropong didorong
melewati benang lungsi. Setelah benang di peleting lewat, baik benang sutera maupun benang
emas ataupun benang limar, maka dilakukan penenunan dengan menyentak benang dengan
beliro yang dibantu dengan sisir tenun. Proses penenunan dimulai dari ujung kain, dilanjutkan
sesuai dengan motif kain. Setiap songket mempunyai tumpal kain. Tumpal kain biasanya
diletakkan di bagian depan ketika kain dipakai.

C. Rincian Anggaran Pembuatan Tenun


v Rincian Pembuatan Tenun Ikat
Pembuatan Tenun Ikat tidak memakan biaya yang mahal bahkan para pengrajin
Tenun Ikat membuat Bahan dan Alat Tenunan itu sendiri. ContohnyaTenun ikat Doyo
yang merupakan salah satu kerajinan khas Dayak Benuaq, suku Dayak yang tinggal
di Tanjung Isuy, Kalimantan Timur. Tenun ikat Doyo terbuat dari serat Doyo yang ditenun
menggunakan alat tenun tradisional dari kayu. Doyo merupakan tanaman yang menyerupai
palem dan tumbuh subur di daerah Tanjung Isuy. Karena serat daunnya cukup kuat, warga
Dayak Benuaq mengolah serat Doyo ini menjadi benang. Dengan menggunakan alat tenun
tradisional, benang itu kemudian ditenun menjadi tenun ikat Doyo. Jamnah, salah seorang
pengrajin tenun ikat Doyo dari Kalimantan Timur mengatakan untuk membuat selembar kain
tenun ikat Doyo tidaklah mudah dan membutuhkan proses yang cukup panjang. Pertama,
daun Doyo yang panjangnya mencapai satu hingga satu setengah meter terlebih dahulu
dipotong dan direndam di dalam air bersih selama beberapa waktu.
Setelah daging daun Doyo itu hancur, barulah serat daunnya diambil dan dikeringkan.
Setelah kering, barulah serat Doyo itu dipelintir menjadi benang kemudian ditenun dengan
menggunakan alat tenun tradisional. Warga Dayak Benuaq di Tanjung Isuy menyebut alat
tenun itu dengan nama Pemanyu. Satu persatu benang dari serta itu ditenun mengikuti motif
tenun yang diinginkan. Biasanya, motif ikat Doyo berbentuk bunga, daun, serta hewan yang
hidup di alam sekitar Tanjung Isuy, “Jadi proses pembuatan tenun ikat Doyo ini khan dari
serat daun Doyo, mirip seperti daun palem. Proses pembuatan tenunan ini lama banget sekitar
20 hari untuk satu tenunan.
Untuk pewarnaan, tenun ikat Doyo menggunakan pewarna alami dari kulit pohon,
tumbuhan, serta buah. Suku Dayak Benuaq mengolah kulit durian hingga menjadi warna
kuning. Sementara untuk membuat warna hijau, mereka memanfaatkan zat hijau daun dari
dedaunan yang tumbuh di sekitar Tanjung Isuy. Biasanya, tenunan kain Doyo memiliki tiga
warna, antara lain merah, hitam, serta warna cokelat muda. Harga Tenun Ikat bekisar Rp.
500.000 – Rp. 1.500.000,-.

v Rincian pembuatan Songket

No Nama Barang Harga Jumlah Total


1. Benang Emas (Sutera) Rp. 800.000/kg 1 kilo Gram Rp. 800.000
2. Pewarna Tekstil (Zat Pewarna) Rp. 100.000/liter 1 liter Rp. 100.000
3. Upah Karyawan Rp. 600.000/Songket 2 karyawan Rp. 1.200.000
Rp. 2.100.00
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses pembuatan karya tenun ikat dan songket ini membutuhkan waktu yang lama
dan proses yang sangat rumit. Namun bagi kita sebagai seorang pelajar harus tahu cara dan
proses pembuatasn bila perlu harus belajar agar kita sebagai generasi penerus yang dapat
melanjutkan karya tenun ikat dan tenun songket.
Berbagai macam motif yang dihasilkan dari kerajinan tenun tersebut dan juga
berbagai daerah yang memproduksinya. Dari berbagai daerah memiliki keunikan dan
keragaman tersendiri sesuai dengan kebudayaan atau tradisi suatu daerah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

(Antonius Anton Moa Nurak (62 tahun) Desa Watuliwung. Penulis Siswa/I SMA Negeri I
Maumere (SMANSA) : Agustinus H. L. Gudipung, Libertino Agusto Diaz, Laurensia E.
Lero, Maria A. Asi dan Maria Eufrasia Lidia Etu).
tenunindonesia.com
www.farizcraft.com
news.okezone.com/.../tenun-indonesia-perlu-direvitalisasi
\