Anda di halaman 1dari 22

EKONOMI SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

KEBIJAKAN YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM MENGELOLA


SUMBERDAYA ALAM

Disusun Oleh:

Ezra Dane Kelvianto 135170071

Avrila Intan 135170072

Clara Emalia Silalahi 135170073

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” YOGYAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala
yang telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh Berbagai Variabel Ekonomi
Terhadap Konservasi Sumber Daya Alam” dengan baik tanpa ada halangan yang
berarti.
Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya sampaikan banyak terima kasih
kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam
penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa
masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa,
susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , kami
selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari
pembaca.
Dengan karya ini kami berharap dapat memberikan wawasan yang
bermanfaat bagi para pembaca.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat
menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk
masyarakat luas.

Yogyakarta, 13 Maret 2019

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Isu yang berkaitan dengan kebijakan sumber daya alam dan lingkungan
yang bertanggung jawab. Apakah produksi secara total dapat dipertahankan
bahkan ditingkatkan untuk menghadapi meningkatnya kebutuhan masyarakat
karena pertambahan penduduk dan pendapatan mereka serta apakah
lingkungan dimana kita tinggal dapat bertahan lama tanpa mengalami
gangguan pencemaran yang merugikan.
Dalam kaitannya dengan masalah ini kita dapat membuat definisi
sebagai berikut, suatu kebijakan sumber daya alam dan lingkungan yang
bertanggung jawab terhadap generasi saat ini maupun generasi yang akan
datang terdiri dari suatu himpunan peraturan serta tindakan yang berhubungan
dengan penggunaan sumber daya alam dan lingkungan yang membuat
perekonomian bekerja efesien serta bertahan dalam waktu yang tek terbatas ,
tidak menurunkan pola konsumsi agregat dan tidak membiarkan lingkungan
fisik menjadi rusak , maupun tidak menimbulkan risiko yang besar bagi
generasi yang akan datang, tetapi justru sebaliknya akan membuat generasi
yang akan datang lebih sejahtera .
Definisi kebijakan sumber daya alam dan lingkungan yang bertanggung
jawab itu tidak berhasil menjelaskan isu penting yang dihadapi oleh
pemerintah , misalnya tentang bagaimana distribusi sumber daya alam dan
distribusi penduduk antar daerah , lebih lebih antar Negara ; karena suatu
wilayah memilikiwarisan sumber daya alam yang berbeda dengan wilayah
lain , demikian pula mengenai kepadatan penduduknya .
Pada umumnya sulit untuk mengkoordinasi dan menentukan
kebijaksanaan secara global untuk semua daerah atau untuk aemua Negara,
sehingga pedoman kebijaksanaan pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan yang praktis dapat dilaksanakan seharusnya diarahkan pada
kebijaksanaan nasional namun akan lebih baik lagi kalau bersifat regional.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Kebijakan Yang Bertanggung Jawab Dalam
Pengelolaan Sumberdaya Alam Lingkungan?
2. Bagaimanakah pengaruh kebijakan terhadap pengelolaan sumberdaya
alam lingkungan?
C. Tujuan
1. Mendeskripsikan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam
lingkungan yang bertanggung jawab.
2. Mendeskripsikan pengaruh kebijakan terhadap penglelolaan sumberdaya
alam yang bertanggung jawab.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Kebijakan Sumber Daya Alam yang Bertanggung Jawab


Pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab
merupakan sesuatu keharusan bagi masyarakat suatu Negara bila
dikehendaki meningkatnya kualitas hidup masyarakat tersebut. Kualitas
hidup disini mencakup kenaikan produktivitas tiap jam kerja dan
perbaikan lingkungan. Dengna kebijakan pengelolaan sumber daya alam
yang bertanggung jawab menjamin kontinuitas produksi dan lingkungan
yang baik di masa sekarang dan yang akan datang. Untuk itu semua perlu
kerja sama antar para ahli dan para pengambil keputusan sehingga proses
pengambilan keputusan politik didasari oleh analisis data yang kuat.
Howe mengemukakan bahwa kebijakan sumber daya alam adalah
yang bertanggung jawab haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Kebijakan tersebut menjamin kontinuitas produksi serta lingkungan
yang baik diwaktu yang akan datang.
2. Kebijakan tersebut mengandung pedoman, rangsangan serta tindakan
yang bertalian dengan pemanfaatan sumber daya alam yang mampu
menggerakkan ekonomi kea rah konsumsiyang efisien terus menerus
dan selalu meningkat.
3. Kebijakan tersebut tid ak mengakibatkan perusakan lingkungan fisik
sehingga tidakdapat di pulihkan.
4. Kebijakan tersebut tidak menimbulkan resiko besar pada generasi
yang akan datang.
5. Kebijakan tersebut perlu didasarkan pada kenyataan bahwa neagara di
dunia itu saling tergantung sehingga kebijakan tersebut perlu dikaitkan
dengan kesejahteraan bagi seluruh dunia.
Penggarisan kebijakan ini didasarkan pada berbagai konsep dasra
pengelolaan sumber daya alam semenjak tahun 1990an dengan munculnya
tulisan Barnett dan Morse yang membicarakan tentang kesulitan-kesulitan
sehubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam namun hal tersebut
dapat diatasi dengan perubahan perkembangan teknologi sehingga dapat
memperbaiki kulitas hidup manusia. Bagaimanapun juga perkembangan
teknologi saja tidak cukup, perlu perbaikan prosedur penilaian sosial dan
pengembalian keputusan.
Selanjutnya Landsberg mencoba mengestimasi pola kebutuhan
serta tersedianya sumbeer daya alam amerrika serikat (air, lahan, energy
dan mineral bukan bahan bakar) dari tahun 1960 sampai dengan 2000. Dia
mengemukakan bahwa kebijakan akan sumber daya alam dan energy
haruslah dilaksanakan secara terus-meneris tidak boleh di panggah,
ditunjang oleh sistem perdagangan dunia yang bebas, serta pemikiran
tentang guna ganda lahan dan perairan yang mengelilingi suatu Negara.
Namun Club of Rome (1970an) menyaksikan tersedianya sumber
daya alam secara terus menerus. Sejalan dengan pendapat Malthus,
dikemukakan kekhawatiran akan terbatasnya sumber daya alam dan hal itu
terbukti dengan meningkatkan harga minyak bumi yang menimbulkan :
krisis energy”. Di Indonesia sendiri LIPPI bekerjasama dengan National
Academy of Sciences (NAS) Afrika selatan menerbitkan laporan loka
karya tentang sumber daya alam pada tahun 1972 (11-16 september di
jakarta). Dalam loka karya tersebut diinventarisasi sumber daya alam di
Indonesia serta kebutuhan untuk pembangunan nasional aspek lingkungan
belum terpikirka pada waktu itu.
Pada tahun 1977 Sumitro Djojohadikusumo mengemukakan
pentingnya kaitan antara ilmu pengetahuan, sumber daya alam, dan
pembangunan. Ekologi dan lingkungan sudah mulai berbicara.Selanjutnya
baik Katili maupun Zen menegaskan bahwa sumber daya alam memang
penting untuk pembangunan nasional dan perlu dikelola dengan baik
dengan memperhatikan lingkungan yang penting dan perlu dalam hal ini
adalah bagaimana cara memanfaatkan sumber daya alam untuk
pembangunan nasional tanpa merusak lingkungan. Kiranya syarat-syarat
yang dikemukakan di depan dapat dijadikan pedoman tentag pengelolaan
sumber daya alam yang bertanggung jawab.

2. Faktor-faktor Utama yang Mempengaruhi Tersedianya Sumberdaya


Alam Di Masa Datang
a. Faktor-faktor Teknologi
1) Keadaan fisik tersedianya sumberdaya mineral tampak semakin
sulit, yaitu bahwa untuk sumberdaya metal yang menjadi semakin
penting bagi teknologi baru justru menjadi semakin langka adanya
dan tersebar letaknya. Hal ini membutuhkan usaha dan biaya yang
besar,sehingga cenderung untuk tidak dieksploitasi lagi.
2) Kemampuan menggantikan masukan (input) atau sumber daya
buatan manusia yang dapat diperbaharui bagi sumberdaya alam
yang tak pulih tampaknya dimungkinkan di berbagai industri.
Namun perubahan teknologi telah seringkali menunjukkan pula
adanya subtitusi masukan sumberdaya alam yang tak pulih
terhadap sumberdaya yang pulih. Dengan menggunakan insentif
harga diharapkan adanya kebalikan arah yaitu sumberdaya yang tak
pulih disubtitusi dengan sumberdaya pulih. Barang-barang pabri
diharapkan menjadi lebih awet dan lebih banyak barang-barang
bekas yang dapat diolah kembali atau didaur ulang (recycling).
3) Pemanfaatan skala ekonomi. Perubahan teknologi yang ada telah
berulang kali membawa kearah efisiensi produksi yang lebih tinggi
dengan skala produksi yang lebih luas. Namun kesempatan ini
tampaknya sudah berkurang
4) Perubahan teknologi dimasa yang akan datang memang selalu
dapat diharapkan, tetapi perubahan itu hanya kecil saja sifatnya.
5) Lingkugan sebagai tempat hiburan dan batasan. Penilaian terhadap
lingkungan yang berkualitas tinggi selalu meningkat dari waktu ke
waktu, sedangkan dampak pengambilan sumber daya alam
yangsemakin memburuk tampak semakin serius pula. Di lain pihak
kemampuan teknplogi untuk menanggulangi pencemaran serta
teknologi untuk melindungi lingkungan tampak kurang pasti dan
mahal.
b. Faktor Konsumsi dan Gaya Hidup
1) Banyak kemungkinan penggantian konsumsi barang-barang dan
jasa-jasa yang kurang intensif sumberdaya alam (padat
sumberdaya alam) dengan barang-barang dan jasa-jasa yang lebih
intensif sumberdaya alam. Hal ini terjadi karena adanya
perubahan harga relatif.
2) Para ekonom tidak banyak mengetahui proses perubahan system
nilai individual maupun kelompok, sehingga sulit mengetahui
gaya hidup masyarakat. Dengan berubahnya gaya hidup
masyarakat akan berubah pula selera terhadap barang sumberdaya
alam.
c. Faktor Kelembagaan dan Keadilan
1) Lingkungan usaha yang kurang mendukung. Larangan atau
peraturan pemerintah untuk meningkatkan biaya dan mengurangi
keinginan untuk mengubah. Harga barang Sumber daya alam tidak
selalu mencerminkan kelangkaan Sumber daya alam, sehingga
sektor produksi swasta menjadi tidak tanggap terhadap perubahan
yang terjadi terhadap sumber daya alam tersebut.
2) Alokasi Sumber Daya alam oleh pasar telah menciptakan
kecenderungan ke arah Monopoli dan persaingan bebas sehingga
mengundang campur tangan pemerintah. Dalam hal ini, pasar
sering memberikan bobot terhadap eksternalitas lingkungan lebih
tinggi dalam ekstemalitas biaya. Apakah hal itu dapat dipecahkan
dengan campur tangan pemerintah baik fisik, menentukan harga,
perpajakan atau subsidi? Hal ini belum jelas benar apakah sektor
publik menimbulkan penyimpangan dari alokasi optimum yang
lebih Sedikit dari mekanisme pasar dalam hal jumlah pasar dalam
hal alokasi sumber daya alam.
3) Telah kita pahami bahwa "mengeluarkan risiko" sama artinya
dengan "memikul biaya. Banyak pola penggunaan sumber daya
saat ini yang tampak menambah risiko bagi generasi yang akan
datang. Menggunakan pencemaran Laut akan dapat mempengaruhi
cadangan oksigen di atmosfer, penebangan hutan akan
menyebabkan adanya erosi dan bahaya banjir.
4) Masih banyak bahan mentah dari alam yang terdapat di dunia ini
dan penemuan-penemuan baru yang terus terjadi di daerah yang
kurang membutuhkan, dan bukan di negara industri yang sangat
membutuhkannya. Apakah politik dunia selalu memungkinkan
penyebaran sumber daya melalui perdagangan? Memang dunia
menjadi saling bergantung, tetapi belum tentu menjadi stabil.
5) Tersedianya informasi mengenai sumber daya alam belum banyak
dikembangkan di negara yang kurang maju dibandingkan dengan
informasi mengenai kependudukan kesehatan, industri pengolahan
dan sebagainya.

3. Pedoman Bagi Kebijakan Sumber Daya Alam yang Bertanggung


Jawab
Sering orang mengutarakan tentang penting dan perlunya kebijakan
sumber daya alam yang bertanggung jawab. Sebelumnya telah dijelaskan
bahwa kebijakan yang bertanggung jawab itu harus dapat melestarikan
persediaan sumber daya alam sehingga baik generasi sekarang dan
mendatang dapat terus menikmatinya sehingga meningkat mutu hidupnya,
serta tidak boleh merusak ekologi lingkungan. Faktor faktor teknologi,
social , dan kelembagaan yang akan menentukan tersedianya sumber daya
alam dapat digolongkan kedalam dua kelompok yaitu;
a. kelompok faktor yang menunjang adanya rasa optimism untuk masa
depan
b. kelompok faktor yang menimbulkan rasa ketidak pastian dimasa datang.
Pengelompokan seperti ini akan cenderung lebih banyak menimbulkan
rasa pesimis daripada rasa optimis .Seringkali kita mengalami adanya
konflik tujuan dari setiap kebijakan , misalnya antara efisiensi dan
distribusi, atau antara efesiensi dan keindahan lingkungan. Oleh karena itu,
berbagai pedoman dasar bagi kebijakan sumber daya alam yang
bertanggung jawab perlu digariskan seperti:
a. Menghilangkan ‘’ ketidakpastian untuk pulih ‘’ bagi semua sumber
daya alam yang dapat pulih. Dalam hal ini kita mengenal apa yang
disebut standar minimum yang aman untuk semua system sumber
daya alam yang pulih, yaitu menghidari tindakan fisik yang akan
membuatnya tidak ekonomis untuk memanen dan membalik tindakan
deplesi. Dasar pemikirannya ialah bahwa untuk mempertahankan
standar minimum yang aman tidak memerlukan banyak biaya dalam
kaitannya dengan kemungkinan rugi yang telah timbul karena adanya
kepunahan sumber daya alam . standar minimum yang aman itu
merupakan dasar bagi pelestarian sumber daya alam diatas, dimana
optimism ekonomi bebas untuk menentukan tindakan terhadap sumber
daya alam.
b. Perlu dihindari tindakan yang berakibat sistem sumber daya alam
yang dapat diperbarui tak dapat dipulihkan kedalam keadaan
semula. Untuk itu perlu ditetapkan standar minimum yang aman
untuk setiap sistem agar orang tak terlanjur memanfaatkan sumber
daya alam secara berlebihan.
c. Perlu dihindari tindakan yang berakibat kondisi lingkungan sekitar tak
dapat dikembalikan ke asal mula. Penghindaran terhadap tidak dapat
dipulihkannya lingkungan yang rusak, seperti menumpuknya nitrat
dan pestisida dalam air tanah , serta penumpukan zat zat kimia
didalam danau, serta pemakaian pestisida dan insektisida yang
berlebihan. Misalnya perlu tindakan pencegahan kecelakaan reactor
atom seperti yang terjadi di Chernobyl yang debu radioaktifnya
menyebar ke seluruh dunia.
d. Perlu adanya rencana pengelolaan sumber daya alam yang baik. Data
dasar perlu diciptakan, analisis permintaan dan penawaran didasarkan
pada kebutuhan masa lalu, sekarang maupun yang akan datang,
sehingga dapat dilakukan tindakan penyediaan sumber daya alm tepat
waktu dan pengurangan kebutuhan sesuai dengan situasi dan kondisi
yang diharapkan.
e. Perlu menunjang usaha penelitian dan pengembangan teknologi serta
masyarakat. Teknologi dapat mengurangi kelangkaan sedang peran
serta masyarakat dapat mengekang kebutuhan yang tak terbatas.
f. Perlu adanya penentuan yang jelas mengenai perana pasar dan harga .
Peranan pasar telah banyak kelihatan dalam kebijakan sumber daya
alam , sedangkan efek samping yang tak diinginkan yang timbul dari
adanya persaingan pasar telah diperingan lewat system perpajakan dan
subsidi. Sedapat mungkin mendasarkan kegiatan ekonomi pada pasar
bebas, ditunjang sistem perpajakan dan penagihan penghasilan yang
baik.
g. Mengusahakan tersedianya informasi sumber daya alam dan
penggunaan melalui system sumber daya alam dan lingkungan .
h. Meningkatnya bantuan bagi penelitian social , penelitian teknologi
dan penelitian untuk pengembangan SDA dan lingkungan .

4. Syarat Yang Perlu Bagi Proses Pengambilan Keputusann Yang


Bertanggung Jawab

Dalam tahap awal pembanguna ekonomi suatu daerah terdapat


kecenderungan untuk meletakkan tekana utama pada maksimisasi manfaat
ekonomi bersih sebagai criteria pengembangan dan pengelolaan sumber
daya alam. Dengan meningkatnya pendapatan regional daerah tersebut,
criteria criteria lain memerlukan perhatian seperti perlindungan terhadap
lingkungan alam fisik, kesehatan , keamanan dan sebagainya .
Pada umumnya orang orang yang terlibat dalam perencanaan dan
evaluasi kebijakan adalah orang orang khusus tertentu yang mampu
memberikan informasi kepada pengambil keputusan untuk melakukan
pilihan . Pengambilan keputusan merupakan proses pilitik yang melibatkan
pertimbangan mengenai bermacam macam criteria baik secara regional,
nasional maupun internasional .
Sebagai misal keputusan untuk mengembangkan sumber daya alam
pada suatu daerah tidak harus didasarkan atas keuntungan ekonomi yang
maksimal saja, tetapi atas pertimbangan pemerataan atau atas
pertimbangan lingkungan. Pengambilan keputusan menginginkan
informasi mengenai pelaksanaan serta dampak dari alternative kebijakan
sumber daya alam. Pada saat yang sama penganalisis kebijakan
memerlukan pengertian mengenai bobot yang dikehendaki oleh pengambil
keputusan, sehingga mereka dapat menbatasi alternative kebijakan yang
diusulkan.pengambilan keputusan dapat pula tidak menyetujui atau tidak
senang dengan informasi yang diberikan oleh penganalisis kebijakan.

5. Kriteria Evaluasi Kebijakan Pemerintah


Hasil yang dapat dicapai oleh kebijakan pemerintah tergantung pada
kualitas dari pemerintah itu sendiri . Apabila pemerintah tidak efesien,
maka akan terjadi pemborosan dalam penggunaan sumber daya alam dan
faktor faktor produksi lainnya . Jika pemerintah terlalu berkuasa dan
banyak menjalankan fungsi ekonomi dalam perekonomian , maka peranan
swsata akan menjadi semakin kecil , para individu dan juga badan badan
usaha swasta tidak lagi dapat melatih diri dalam berinisiatif secara efektif
untuk mencapai keputusan yang rasional yang berguna bagi pencapaian
kepuasan ataupun keuntungan yang maksimal. Sebaliknya apabila
pemerintah terlalu sedikit tanggung jawabnya dalam perekonomian ,
kegiatan swasta akan dapat mengganggu kehidupan msayarakat, yaitu
dapat menimbulkan adanya kegiatan monopoli, distribusi pendapatan yang
tidak merata, serta tidak ada usaha usaha yang berguna untuk kepentingan
umum yang diusahakan.
Setiap kebijakan pemerintah mempunyai pengaruh terhadap alokasi
faktor prooduksi serta macam barang yang dihasilkan oleh suatu
perekonomian, disamping terhadap distribusi barang dan jasa yang
dihasilkan oleh perekonomian baik antar penerima manfaat saat ini
maupun antara penerima manfaat pada saat ini dan yang akan datang.
Criteria yang dipakai untuk menilai kebijakan pemerintah diantaranya
adalah :
a. Keadilan
Keadilan menghendaki agar kebijakan pemerintah mempunyai
pengaruh yang tidak berat sebelah .kriteria ini banyak digunakan ,
hanya saja sering terdapat kesulitan dalam mengukur atau menilai
keadilan . para ekonom dalam memahami keadilan sering sangat
dangkal, sehingga seringkali hanya dipertanyakan apakah yang akan
menerima manfaat dari kebijakan itu golongan kaya atau golongan
miskin, dan tidak melihat proses terjadinya dampak.
b. Efisiensi
Efesiensi ekonomi sering disebut juga sebagai “pareto optimal “
yaitu suatu criteria yang sangat banyak digunakan oleh para ahli
ekonomi untuk menilai kebijkan pemerintah disamping dari segi
distribusi. Secara kasar efesiensi itu dikatakan ada apabila kebijakan
pemerintah itu memberikan pengaruh ekonomi yang lebih baik dalam
bentuk kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi . selanjutnya
kebijakan itu dikatakan sudah efisien atau mencapai “ pareto
optimum” apabila dalam perekonomian itu tidak mungkin lagi untuk
mengadakan alokasi faktor produksi tanpa menyebabkan disatu puhak
ada yang dibuat lebih sejahtera, sedangkan dilain pihak ada yang
menjadi lebih menderita.
c. Kebapakan
Dalam beberapa kasus kebijakan pemerintah berguna adalah
untuk melarang dihasilkannya suatu barang karena dapat merusak
lingkungan atau demi penghematan untuk masa datang, walaupun
barang barang tersebut sangat diinginkan oleh masyarakat pada saat
ini. sekalipun pemerintah ingin melayani masyarakat sebagai
keseluruhan, tetapi pemerintah mempertimbangkan pula kebutuhan
setiap individu secara perorangan. Kebijakan seperti ini dapat
dilukiskan sebagai kebijakan paternalistic. Memang banyak orang
mendukung kebijakan pemerintah, bukan karena kebijakan ini
memberikan kepada masyarakat apa yang mereka inginkan, tetapi
karena mereka beranggapan bahwa pemerintah sebagai bapak lebih
mengetahui daripada masyarakat itu sendiri.
d. Kebebasan Perorangan
Pada umumnya orang member nilai yang tinggi terhadap
kebebasan perorangan . oleh karena itu pembatasan pemerintah yang
dikenakan terhadap kebebasan perorangan hendaknya sekecil
mungkin. Selanjutnya keempat criteria tersebut tidak mungkin dapat
dipenuhi secara serempak oleh setiap kebijakan. memang tidak
mungkin untuk memenuhi semua criteria tersebut secara simultan.
Misalnya suatu kebijakan dapat memenuhi criteria keadilan, tetapi
mungkin sekali tidak efisien; atau sebaliknya suatu kebijakan dapat
memenuhi criteria efisiensi, tetapi ternyata tidak sesuai dengan
kroteria keadilan. jadi dapat saja suatu criteria bersifat kontradiksi
dengan criteria keadilan.

6. Isu Kebijakan Sumberdaya Alam dan Lingkungan


Kalau kita amati lagi ternyata kebijakan dalam bidang sumber daya
alam dan lingkungan akan selalu menyangkut hal hal yang sangat luas
yang berhubungan dengan kebutuhan manusia pada umumnya . manusia
ditantang untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan secara
efektif guna memaksimumkan manfaat yang dapat diperoleh dari sumber
daya alam dan lingkungan tersebut. Apabila kita semua dapat menerima
keadaan semakin habisnya sumber daya alam dan penurunan kualitas
lingkungan , serta bersedia menderita dalam beberapa generasi yang akan
datang , maka kita boleh saja melanjutkan pengambilan sumber daya
alamyang ada dengan tanpa batasan. Pemanenan sumber daya alam yang
pulih dapat berlangsung melebihi tingkat keseimbangannya namun akan
membawa kepada kepunahan sumber daya alam pulih itu dikemudia hari.
a. Konflik Dalam Penggunaan Sumber Daya Alam
Disatu pihak limbah dapat dibuang ke geosfer, hydrosfer, dan
atmosfer pada laju yang melebihi kemampuan ekosistem untuk
berasimilasi dengannya, sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan
yang tidak dapat dipulihkan kembali. strategi yang demikian akan
meningkatkan konsumsi barang dan jasadalam jangka pendek, tetapi
akan segera menimbulkan kehancuran bagi kehidupan manusia
yang berlarut larut. Dipihak lain, ada pendekatan yang menginginkan
agar manusia terus berkembang yaitu dengan menggunakan ncara
pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berbeda.
pengambilan sumberdaya alam dipandang sebagai suatu cara
sementara yang kebijasana, kemudian menyempurnakan teknik
pemanfaatan sumber daya alam pulih agar terjamin kelestariannya,
dan mengkonversi sumber daya alam menjadi modal manusia dan
modal fisik .
Laju pengambilan sumber daya alam pulih dan pembuangan
limbah ke dalam lingkungan alami bentuknya dibatasi sampai derajat
tertentu sehingga tetap memelihara kondisi system biologis dengan
jangka panjang.
1) Sumber daya tanah
Tanah merupakan tempat bagi tanaman , bagi hewan , bagi
aliran air, bangunan, transportasi dan sebagainya . demikian pula
tanah berguna dalam mendukung kehidupan berbagai macam
makhluk. Tanah juga sebagai penimbun nilai seperti tempat
menyimpan persediaan mineral, minyak bumi dan sebagainya
.dengan banyaknya macam penggunaan tanah ini, maka dengan
digunakannya sebidang tanah akan mempengaruhi penggunaan
yang lain yang sifatnya potensial.
Hendaklah disadari bahwa bagaimanapun juga adalah tidak begitu
mahal untuk mengubah tanah pertanian menjadi tanah untuk
perkotaan daripada sebaliknya , karena mengubah tanah
perkotaan untuk pertanian berarti harus menghancurkan investasi
capital yang tak terhingga besarnya. Oleh karena itu keputusan
nuntuk mengubah tanah petani menjadi tanah perkotaan adalah
keputusan yang akibatnya tidaka akan dikembalikan ke keadaan
semula , karena sangat besar biayanya . Juga pertanian yang
intensif yaitu dengan menanami lahan terus menerus akan
mengakibatkan kesuburan tanah menjadi semakin memburuk dan
menimbulkan erosi sehingga membatasi produksi pertanian
dimasa yang akan datang. Terdapat pula penggunaan lahan yang
menimbulkan pencemaran udara ataupu air sehingga mengganggu
para pemakai yang lain, seperti misalnya penggunaan lahan untuk
memelihara ternak untuk babi ataupun sapi maupun ayam , jelas
akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan kondisi air
disekitarnya akan tidak sehat untuk diminum. Perternakan
menciptakan gas methan yang sangat berpengaruh terhadap
pemanasan global.
2) Sumber daya air
Mengenai sumber daya air juga tidak banyak ubahnya dengan
sumber daya tanah. Air dalam rumah tangga sangat berguna
untuk mandi dan minum, dalam kegiatan industry air juga
berguna untuk memanaskan, mendinginkan, membersihkan,
melarutkan, demikian pula air berguna untuk kegiatan pelayaran ,
rekreasi berenang, menangkap ikan , dan bersampan. Tetapi air
juga berguna untuk membuang limbah dan juga untuk
mendukung ekosistem disektor pertanian maupun bukan
pertanian. Terdapat kemingkinan adanya konflik antara berbagai
penggunaan dan pula antara orang orang yang menggunakan .
Penggunaan air untuk pendigin dipabrik akan meningkatkan
temperatur air sungai bila air yang panas dibuang kesana dan
dengan demikian akan dapat mempengaruhi penggunaannya
dalam mendukung ekosistem . selanjutnya dengan langkahnya
sumber daya air dibeberapa tempat akan dapat menimbulkan
pertengkaran karena para pemakai harus bersaing satu sama lain
baik untuk penggunaan yang sama ataupun untuk penggunaan
yang berbeda .
3) Sumber daya udara
Penggunaan udara sangat berarti dalam mendukung
kehidupan manusia dan kehidupan semua makhluk yang ada di
dunia . demikian udara memungkinkan adanya gerakan dari satu
tempat ke tempat yang lain ,juga untuk kenikmatan , transportasi ,
proses industry , maupun untuk membuang limbah. Dalam hal ini
penggunaan udara juga terdapat konflik antara penggunaan yang
satu dengan penggunaan yang lain . pembuangan limbah yang
berupa asap pabrik dan asap kendaraan keudara akan
mempengaruhi jarak pandang maupun mengurangi nilai udara itu
untuk kehidupan manusia . asap pabrik dan gas buang kendaraan
bermotor merupakan salah satu sumber utama dari gas rumah
kaca yang sangat mempengaruhi pemanasan global.
4) Sumber daya manusia
Sumber daya manusia yang sering kali menjadi pelengkap
dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan . tenaga
kerja , pengetahuan dan keahlian serta ketrampilan teknis manusia
banyak digunakan untuk memperoleh manfaat dari penggunaan
sumber daya alam dan lingkungan. masyarakat modern banyak
menanamkan modal untuk memperbaiki kualitas manusia (human
capital) agar dapat menjadi pelengkap atau bahkan menggantikan
peranan dari sumber daya alam. Dengan kemampuan nya yang
semakin tinggi dalam mempengaruhi ekosistem ,
mengorganisasikan, merencanakan dan mengambilkeputusan baik
secara perorangan ataupun secara bersama sama , maka peranan
SDA sangatlah dominan dalam menentukan kelangsungan hidup
manusia dibumi ini .
Dengan kemampuan itu , maka manusia diharapkan dapat
mengorganisasikan kekuatannya dan mengendalikan diri terhadap
kerusakannya maupun kepentingannya guna mengalokasikan
secara bijaksana sumber daya alam dan lingkungan yang ada
untuk generasi sekarang maupun yang akan datang . manusia
harus dapat memaksimumkan manfaat dalam penggunaan
sumber daya alam dan lingkungan , dan selalu mencari
keseimbangan antara saat ini dan saat yang akan datang.

b. Permasalahan Umum Dalam Pengambilan Kebijakan Pengelolaan


SDA
Sumber daya alam dan lingkungan di bumi ini merupakan
sesuatu system yang sangat luas , kompleks, dinamis, serta
berinteraksi astu sama lain. Usaha untuk mengubah salah satu
komponen dalam system itu akan menimbulkan perubahan dimana
mana dalam system tersebut. Lagi pula pengertian manusia terhadap
system itu maih sangat terbatas , sehingga sulit untuk meramalkan apa
yang akan terjasi dengan usaha untuk memanipulasi system tersebut.
Jadi hubungan sebab dan akibat masih sulit dimengerti. Suatu
tindakan belum tentu menimbulkan akibat seketika, dan baru
dirasakan akibatnya setelah melampaui beberapa waktu. Akibat dari
suatu tindakan tidak mudah diramalkan , padahal sekarang ini
kemajuan teknologi sangat cepat sehingga akan sering menimbulkan
adanya perubahan perubahan baru yang semakin sulit pula diramalkan
akibatnya.
Selanjutnya sebagian besar alternative tindakan memiliki dampak
yang kita pahami atas dasar pengetahuan kita yang terbatas , baik
dampak yang positif maupun dampak negative. Apa yang tampaknya
menguntungkan bagi seseorang , dapat berarti sebaliknya atau
merugikan bagi orang atau pihak lain .
Setiap keputusan akan menimbulkan dampak bagi banyak orang
dan kesejahteraan masing-masing akan terpengarh secara berbeda-
beda. Demikian pula kekuatannya untuk berperan serta dalam
pengambilan keputusan juga berbeda-beda. Oleh karena itu hanya
sedikit keputusan yang berkaitan dengan sumber daya alam dan
lingkungan sehingga dampaknya hanya terbatas pada orang-orang
yang menyetujui diambilnya keputusan tersebut.
Dalam setiap masyarakat, keputusan yang berhubungan dengan
sumber daya alam dan lingkungan , apakah itu dimulia oleh
perorangan ataupun kelompok perorangan maupun oleh suatu badan
pengambil keputusan , dibuat dalam suatu struktur kelembagaan yang
kompleks yang menimbulkan adanya suatu insentif . Struktur
kelembagaan itu sendiri dinamis sifatnya dan memiliki kemampuan
untuk menyesuaikan diri terhadap munculnya kelangkaan dan
kekuatan yang nyata . Dalam masyarakat yang menganut kebebasan
perorangan , keputusan keputusan yang berkaitan dengan sumber daya
alam dan lingkungan pada tingkat public seringkali mengubah
kelembagaan yang ada serta dorongan perorangan untuk mengambil
keputusan .
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa masalah kebijakan
alokasi sumber daya alam dan lingkungan adalah sangat kompleks,
karna kebijakan itu harus memperhatikan system fisik dan biologis
yang kompleks pula dan harus dipecahkan dengan system social dan
kelembaganan yang juga kompleks adanya . System fisik dan biologis
akan menghasilkan adanya suatu gentian misalnya jika kita
memutuskan untuk mencapai tujuan A, kita akan mengalami
kehilangan atau kerugian dalam kaitannya dengan tujuan B ;
sebaliknya kaluau kita ingin mencapai tujuan B, kita terpaksa
mengorbankan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari tujuan A .
Jadi walu sudah diketahui kemungkinan yang timbul akibat dari suatu
keputusan kebijakan , kita tetap sulit untuk mengambil kepurtusan
karena hal ini akan tergantung pada penilaian relative para individu,
berapa masing masing menberikan bobot kepada A dan berapa kepada
B. Lagi pula setiap orang memiliki pertimbangan pula setiap orang
memiliki pertimbangan i pula setiap orang memiliki pertimbangan i
pula setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda sehingga akan
memberikan bobot yang berbeda pula terhadap alternative tujuan
tersebut.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan
kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah
menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijakan dan program serta
kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan
lainnya.Pemerintah sebagai lembaga formal yang mengatur tata kelola
persediaan SDA yang ada di Indonesia menjadi hal yang penting sebagai
landasan menjaga keseimbangan dimasa yang akan datang, dengan
menetapkan kebijakan serta UU yang tepat agar tercapainya pengelolaan
SDA yang berkelajutan.
Menteri Negara Lingkungan Hidup (1997) sebagai pihak dari
pemerintah, membuat kebijakan daerah dalam mengatasi permasalahan
lingkungan hidup khususnya permasalahan kebijakan dan penegakan hukum
yang merupakan salah satu permasalahan lingkungan. Peran pemerintah
dalam hal ini, disamping membuat serta menetapkan kebijakan dan
pengawasan yang berkaitan dengan pengelolaan SDA yang berkelanjutan
untuk menjaga keseimbangan kapasitas persediaan SDA di masa yang akan
datang, sebaiknya juga menjadi aktor yang mengkampanyekan serta
mendukung, dalam hal ini memberikan dana bagi institusi atau individu yang
memperbaharui teknologi ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Suparmoko M, 1997. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Suatu


Pendekatan Teoritis). Edisi Tiga. Cetakan Pertama. Yogyakarta. BPFE.