Anda di halaman 1dari 12

BAB I

LANDASAN TEORI

1.1 Definisi
Kolesterol merupakan masalah kompleks dalam tubuh manusia. Apabila
jumlah kolesterol jahat meningkat di dalam tubuh akan mendominasi beberapa penyakit
seperti diabetes, stroke, dan penyakit serangan jantung. Salah satu penyakit yang
diakibatkan karena kadar kolesterol berlebih yaitu hiperkolesterolemia.
Hiperkolesterolemia adalah salah satu faktor risiko dari Penyakit Jantung Koroner.
Hiperkolesterolemia adalah suatu kondisi jumlah kolesterol darah melebihi
batas normal. Kolesterol merupakan unsur penting dalam tubuh yang diperlukan untuk
mengatur proses kimiawi didalam tubuh, tetapi kolesterol dalam jumlah tinggi bisa
menyebabkan terjadinya ateroklerosis yang akhirnya akan berdampak pada penyakit
jantung koroner. (Rebecca, dkk 2014). Gangguan yang terjadi pada darah disebabkan
akibat rendahnya tingkat kolesterol plasma atau High-density lipoprotein pada darah, yang
dimana dapat menyebabkan terjadinya perkembangan peradangan pada darah dan
gangguan pada jantung. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol
total, Low Density Lipoprotein (LDL), dan trigliserida serta penurunan kadar High
Density Lipoprotein (HDL). (laily, 2015)
Lipid merupakan istilah yang merujuk pada minyak atau lemak di dalam tubuh.
Secara umum, lipid di dalam tubuh terdiri dari dua komponen utama, yaitu kolesterol dan
trigliserida. (Budiono, 2012). Trigliserida berasal dari pemecahan lemak dar makanan.
Kadar trigliserida sangat bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Sedangkan
kolesterol adalah bentuk lemak yang berada dalam sirkulasi darah manusia.
1.2 Klasifikasi Kolesterol
Klasifikasi kolesterol dibagi menjadi 2 yaitu kolesterol dan kadar kolesterol (Yovina,
2012).
a. Jenis Kolesterol
1. Low Density Lipoprotein (LDL)
LDL disebut dengan kolesterol jahat karena kandungan yang ada didalam tubuh
sekitar 60%-70%. LDL ini berperan membawa kolesterol ke seluruh tubuh yang
dibutuhkan melalui jaringan dinding arteri. Apabila LDL ini terlalu banyak maka
akan menimbun kolesterol pada arteri sehingga dapat menyebabkan plak.
Sehingga timbunan kolesterol tersebut akan menempel didalam dinding arteri dan
dapat terjadi penyempitan arteri dimana sebuah proses yang disebut dengan
ateroklerosis.
2. Kolesterol HDL
HDL disebut dengan kolesterol baik karena partikel kolesterol HDL mencegah
ateroklerosis dengan mengeluarkan kolesterol dari tembok arteti dan membuang
kolesterol ini melalui hati dan dapat melindungi terhadap penyakit jantung dan
stroke.
b. Kadar Kolesterol
Pengelompokan Kadar Kolesterol :
Kadar Kolesterol Total Kategori Kolesterol Total
Kurang dari 200 mg/dl Bagus
200-239 mg/dl Ambang batas atas
240 mg/dl dan lebih tinggi
Kurang dari 100 mg/dl Optimal
100-129 mg/dl Hampir optimal / diatas normal
130-159 mg/dl dan lebih Ambang batas atas
160-189 mg/dl Tinggi
190 mg/dl dan lebih Sangat tinggi
Sumber : National of Health, Detection, Evaluation, dan Treatment of High Blood
Cholestrol in Adults III (Mumpuni & Wulandari, 2011)
1.3 Etiologi
Dalam batasan ilmiah, hiperkolesterolemia menyebabkan akumulasi kolesterol dan
lipid di dinding pembuluh darah, sehingga menjadi faktor risiko utama penyakit
kardiovaskuler. Hiperkolesterolemia terjadi karena adanya akumulasi kolesterol dan lipid
pada dinding pembuluh darah. Penelitian mendukung bahwa hiperkolesterolemia
memiliki lebih dari satu penyebab, diantaranya :
1.3.1 Faktor Genetik
Hiperkolesterolemia cenderung terjadi dalam keluarga. Dalam dunia medis,
hiperkolesterolemia yang diturunkan (familial hypercholesterolemia FH)
merupakan penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal dominan. Didalam
sebuah penelitian menerangkan bahwa penyebab hiperkolesterolemia dari faktor
genetik yaitu bahwa 80% kolesterol didalam darah diproduksi oleh tubuh.
Meskipun hanya mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol atau lemak
jenuh sedikit, namun tubuh tetap saja memproduksi kolesterol dalam jumlah dan
banyak dapat menyebabkan penyakit hiperkolesterolemia.
1.3.2 Pola Makan
Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya
penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah oleh zat-zat lemak (kolesterol dan
trigliserida) adalah gaya hidup, khususnya pola makan. Penyakit jantung kerap
diidentikan dengan tingginya konsumsi konsumsi makanan yang mengandung
lemak dan kolesterol. Sebagai contoh misalnya, junkfood telah menjadi bagian
dari gaya hidup sebagian masyarakat di Indonesia dari beragam usia. Padahal,
junkfood mengandung banyak sodium, lemak jenuh dan kolesterol. Sodium dapat
meningkatkan kepekaan reseptor adrenergik sehingga meningkatkan denyut
jantung dan tekanan darah. Lemak jenuh berbahaya bagi tubuh karena
merangsang hati untuk memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol yang
berakumulasi lama-kelamaan menghambat aliran darah dan oksigen sehingga
dapat mengganggu metabolisme miokardium.
Untuk menghindari penimbunan lemak dalam pembuluh darah, individu
sebaiknya menghindari konsumsi lemak jenuh seperti lemak sapi, kambing,
makanan bersantanm dan gorengan karena dapat meningkatkan kadar kolesterol
darah. Lemak tak jenuh tunggal yang hanya mempunyai sedikit pengaruh
terhadap peningkatan kadar kolesterol darah terdapat pada minyak zaitun, minyak
biji kapas, minyak wijen dan minyak kelapa sawit.
Menggunakan minyak jelntah atau minyak yang telah digunakan berkali-kali
akan berakibat jelek karena asam lemak tak jenuh berubah menjadi asam lemak
trans yang dapat meningkatkan LDL dan menurunkan HDL. Konsumsi kacang-
kacangan, seperti kedelai, ikan dan biji bunga matahari yang mengandung asam
lemak, omega-3 dan omega-9 harus ditingkatkan, begitu pula dengan sayur, buah,
jagung dan ubi-ubian yang mengandung serat. Serat pada buah-buahan dapat
menurunkan kadar LDL secara efektif.
Berikut merupakan rincian makanan yang memiliki kadar kolesterol rendah
hingga tinggi:
Jenis Makanan Kolesterol Kategori
(mg/10 gram)
Putih telur ayam 0 Sehat
Ikan air tawar 0 Sehat
Daging ayam 50 Sehat
Daging kambing tanpa 70 Sehat
lemak
Udang 160 Hati-hati
Daging sapi 105 Sekali-kali
Susu sapi 250 Berbahaya
Coklat 290 Berbahaya
Cumi-cumi 1170 Pantang
Kuning telur ayam 2000 Pantang
1.3.3 Faktor Obestitas
Obesitas digunakan untuk memahami batasan sederhana dari kelebihan
berat badan akibat makan terlalu banyak dan aktivitas yang terlalu sedikit. Obesitas
merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik, perilaku, dan lingkungan
yang menyebabkan ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi.
Menurut National Institute of Health Amerika Serikat, peningkatan berat badan 20%
atau lebih di atas berat badan normal merupakan titik dimana kelebihan berat badan
berkembang menjadi gangguan kesehatan. Obesitas telah berkembang sebagai faktor
risiko diabetes, hipertensi, penyakit kardivaskular, dan beberapa kanker pada laki-
laki dan perempuan. Masalah kesehatan lain yang dapat terjadi termasuk kesulitan
bernapas saat tidur, osteoartrtis, infertilitas, hipertensi intrakaranial idiopatik,
penyakit stasis vena pada anggota gerak bawah, dan gangguan perkemihan.
Diperkirakan jumlah kematian tiap tahun terkait dengan obesitas pada
orang dewasa di Amerika Serikat mendekati 280.000 orang berdasarkan rasio kasar
relatif dari semua subjek dan 325.000 berdasarkan rasio kasar dari perokok dan non
perokok. Sepertiga dari seluruh kasus hipertensi terkait dengan obesitas dan 50%
lebih kasus obesitas menyebabkan peningkatan kadar kolesterol darah. Orang yang
memiliki kelebihan berat badan 40% berisiko dua kali lebih besar untuk meninggal
lebih awal dibanding orang dengan berat badan normal. Pengaruh ini dapat dilihat
setelah 10-30 tahun mengalami obesitas. Selain DM, hipertensi, dan penyakit
jantung, obesitas terkait dengan beberapa kondisi medis yang serius seperti stroke
dan tingginya angka kejadian jenis kanker tertentu, seperti kanker kolon, rektum, dan
prostat pada laki-laki dan kematian akibat kanker kandung kemih, payudara, uterus,
serviks, dan ovarium pada wanita.
Beberapa pengukuran yang berbeda digunakan untuk mengevaluasi status
berat badan pasien dan risiko kesehatan potensial pasien, termasuk pengukuran
tinggi dan berat badan, komposisi dan distribusi lemak, serta muncul atau tidaknya
masalah dan faktor risiko kesehatan lainnya. Ukuran terbaru untuk obesitas yang
telah berkembang popular di kalangan peneliti dan klinisi adalah Indeks Massa
Tubuh (IMT). IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan
dalam meter. Ukuran ini tidak secara actual mengukur lemak tubuh, tetapi secara
umum berhubungan secara tepat dengan tingkat obesitas.

Tabel 2. Kategori IMT Orang Indonesia


Individu dengan obesitas cenderung memiliki timbunan lemak berlebih dan kadar
kolestrol total serta LDL yang tinggi dalam darah yang akan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.10
1.3.4 Kebiasaan Merokok
Masyarakat awam sudah mengetahui bahwa merokok dapat menimbulkan
berbagai gangguan kesehatan, namun kebanyakan belum mengetahui bahwa rokok
ternyata juga bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh manusia. Zat-zat kimia
yang terkandung dalam rokok, terutama nikotin dapat menurunkan kadar HDL dan
meningkatkan kadar LDL dalam darah, sehingga pembentukan kolesterol baik yang
membawa lemak dari jaringan ke hati menjadi terganggu dan demikian pula
kebalikannya. Kadar LDL yang tinggi ditemukan pada individu yang merokok, berarti
lemak dari hati justru dibawa kembali ke jaringan tubuh.
Bahan dasar rokok mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.
Dalam satu batang rokok terdapat lebih kurang 4.000 jenis bahan kimia dan 40%
diantaranya beracun. Bahan kimia yang paling berbahaya terutama nikotin, tar,
hidrokarbon, karbon monoksida (CO), dan logam berat dalam asap rokok. Nikotin dapat
mempercepat proses penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah, terutama
pembuluh darah koroner. Selain memperburuk profil lemak dan kolesterol darah, rokok
juga dapat meningkatkan tekanan darah dan nadi.
Merokok juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, meningkatkan
konsentrasi darah sehingga lebih mudah terjadi koagulasi, mengganggu irama jantung,
dan menimbulkan kekurangan oksigen karena CO. Individu yang tetap merokok setelah
menerima pengobatan trombolitik dapat mengalami penyumbatan kembali dengan
kemungkinan dua sampai empat kali lebih tinggi dibandingkan individu yang berhenti
merokok. Masalah yang menonjol pada kebiasaan merokok di Indonesia adalah pada
jenis rokok yang diisap, yakni rokok kretek. Jenis rokok ini mempunyai kadar tar dan
nikotin tiga sampai lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan rokok filter.
Rokok juga bisa menimbulkan efek kecanduan karena memiliki efek yang sama
dengan morfin, yaitu efek adiksi (ketagihan) dan habituasi (ketergantungan). Perokok
aktif dapat dibedakan dalam beberapa tingkat menurut jumlah rokok yang diisap dalam
satu hari, yaitu:
1. Perokok ringan, 1-9 batang/hari
2. Perokok sedang, 10-19 batang/hari
3. Perokok berat, di atas 19 batang/hari
1.3.5 Faktor Kurang Keteraturan dalam Berolahraga
Olahraga merupakan bagian dari aktivitas fisik yang dilakukan dengan tujuan
untuk memperoleh manfaat kesehatan. Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh
tubuh dan sistem penunjangnya. Selama aktivitas fisik, otot membutuhkan energi luar
metabolisme untuk bergerak. Banyaknya energi yang dibutuhkan tergantung pada
seberapa banyak otot bergerak, berapa lama, dan seberapa berat aktivitas yang dilakukan.

Tabel 3. Pengeluaran Energi dalam Aktivitas Fisik


Aktivitas yang efektif menurunkan kadar kolesterol berupa olahraga
teratur yang dilakukan minimal tiga kali seminggu masing-masing dengan lama waktu
antara kurang lebih 45 menit. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga yang melibatkan
otot-otot besar tubuh, seperti paha, lengan atas serta pinggul, seperti senam, aerobik,
berjalan kaki, renang, jogging, dan bersepeda.2,11 Olahraga yang teratur bermanfaat untuk
meningkatkan kadar HDL, memperbaiki fungsi paru dan oksigenasi ke miokardium,
menurunkan berat badan, kadar LDL, dan tekanan darah, serta meningkatkan kesegaran
jasmani.
1.3.6 Faktor Stress
Secara sederhana stress dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
individu terganggu keseimbangannya. Stress terjadi akibat adanya situasi eksternal atau
internal yang memunculkan gangguan dan menuntut individu untuk berespon adaptif.
Stress merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, bahkan stress
seperti merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Setiap hari kita harus tergesa gesa bangun, membereskan pekerjaan rumah, tidak
sempat sarapan, lari mengejar kendaraan umum, sekolah atau menjalani aktivitas,
berkonflik dengan teman atau orang lain, kehabisan uang padahal harus membeli
keperluan harian, dan seterusnya, semua itu dapat memunculkan stress.
Stress menampilkan diri melalui berbagai gejala, seperti meningkatnya
kegelisahan, ketegangan dan kecemasan, sakit fisik (sakit kepala, mulas, gatal-gatal,
diare), adanya kelelahan, ketegangan otot, gangguan tidur, atau meningkatnya tekanan
darah dan detak jantung. Stress juga dapat tampil dalam perubahan pada perilaku,
individu jadi tidak sabar, lebih cepat marah, menarik diri, atau menampilkan perubahan
pola makan. Sebagian individu merasa frustasi, tak berdaya, menjadi lesu dan memiliki
penilaian diri rendah.
Sebuah penelitian menunjukkan orang yang stress 1,5 x lebih besar mendapatkan
resiko PJK daripada orang yang tidak stress, karena dengan adanya stress terjadi
peningkatan kadar kolesterol darah dalam tubuh.
1.4 Manifestasi Klinis
Penyempitan dan pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) apabila cukup
berat akan menyebabkan suplai darah ke otot jantung tidak memadai, maka menimbulkan
sakit atau nyeri dada yang disebut sebagai angina, bila berlanjut akan menyebabkan
matinya jaringan otot jantung yang disebut infark miokard, dan apabila meluas akan
menimbulkan gagal jantung.
Beberapa gejala penyakit jantung adalah :
a. Rasa tertekan (ditimpa beban, sakit, terjepit, diperas, terbakar) di dada yang dapat
menjalar ke lengan kiri, leher, dan punggung
b. Tercekik atau sesak berlangsung lebih dari 20 menit
c. Keringat dingin, lemah, berdebar dan bisa menyebabkan pingsan
d. Gejala akan bertambah berat dengan aktivitas dan akan berkurang dengan istirahat.
Jika aterosklerosis terjadi di dalam arteri yang menuju ke otak (arteri karotid)
maka akan menyebabkan stroke. Gejala serangan stroke tergantung dari derajat serangan,
mulai dari yang ringan sampai yang berat. Gejala stroke ringan: bicara tiba-tiba pelo,
gejala yang lebih berat berupa kelumpuhan anggota gerak badan, wajah menjadi
asimetris, jika terjadi perdarahan hebat akan menyebabkan kematian.
Hiperkolesterolemia juga berkaitan dengan penyakit DM. Pada penderita DM
kadar gula darah akan melebihi normal. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama
akan memicu terjadinya aterosklerosis pada arteri koroner dan akan meningkatkan kadar
kolesterol dan trigliserida. Bentuk LDL pada penderita DM lebih padat dengan ukuran
yang lebih kecil yang sering disebut Small Dense LDL, sehingga akan lebih mudah
masuk ke dalam lapisan pembuluh darah yang lebih dalam, ini akan lebih berbahaya
karena lebih bersifat aterogenik (lebih mudah menempel pada pembuluh darah dan lebih
mudah membentuk plak).
Dampak lain yang ditimbulkan oleh hiperkolesterolemia adalah disfungsi ereksi
atau ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang memadai untuk
melakukan hubungan seksual yang memuaskan. Proses aterosklerosis dapat terjadi pada
pembuluh darah penis (arteri dorsalis penis). Plak yang menyumbat pembuluh darah
penis akan menyebabkan penis tidak mendapatkan aliran darah sehingga mengganggu
terjadinya ereksi.
1.5 Patofisiolgi Penyakit Hiperkolesterolemia
Kelebihan kolesterol dalam darah mudah melekat pada dinding sebelah dalam
pembuluh darah, selanjutnya LDL akan menembus dinding pembuluh darah melalui
lapisan sel endotel, masuk ke lapisan pembuluh darah yang lebih dalam yang disebut
intima. LDL yang telah menyusup ke dalam intima akan mengalami oksidasi tahap
pertama sehingga terbentuk LDL yang telah teroksidasi dan akan memacu terbentuknya
zat yang dapat melekatkan dan menarik monosit menembus lapisan endotel dan masuk ke
dalam intima. LDL yang teroksidasi juga sering memacu terbentuknya zat yang dapat
mengubah monosit yang telah masuk ke dalam intima menjadi makrofag. LDL-teroksidasi
akan mengalami oksidasi tahap kedua menjadi LDL yang teroksidasi sempurna yang
dapat mengubah makrofag menjadi sel busa.
Sel busa yang terbentuk akan saling berikatan membentuk gumpalan yang makin lama
makin membesar sehingga membentuk benjolan yang akan menyebabkan penyempitan
lumen pembuluh darah. Keadaan akan makin memburuk karena LDL akan teroksidasi
sempurna akan merangsang sel-sel otot pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam
(media) untuk masuk kedalam intima dan kemudian akan membelah-belah diri sehingga
jumlahnya semakin banyak.
Timbunan lemak di dalam lapisan pembuluh dari (plak kolesterol) membuat saluran
pembuluh darah menjadi sempit dan aliran darah menjadi kurang lancar. Plak kolesterol
pada dinding pembuluh darah bersifat rapuh dan mudah pecah, meninggalkan “luka” pada
dinding pembuluh darah yang dapat mengaktivasi pembentukan bekuan darah. Pembuluh
darah dikarenakan sudah mengalami penyempitan dan pengerasan oleh plak kolesterol,
maka bekuan darah ini mudah menyumbat pembuluh darah secara total yang dikenal
sebagai aterosklerosis (proses pembentukan plak pada pembuluh darah).
1.6 Pathway
Kolesterol Dimetabolisme di Hati

Kolesterol Berlebihan, Terjadi Gangguan Metabolisme

Kolesterol Menumpuk di Hati

Kolesterol tidak dapat diangkut seluruhnya oleh lipoprotein menuju ke hati dari aliran darah
seluruh tubuh

Dalam waktu yang cukup lama, kolesterol akan menumpuk di dinding pembuluh darah
sehingga timbul plak kolesterol

Terjadi Hiperkolesterolemia
1.7 Penegakan Diagnosis
Kadar kolesterol dalam darah dapat diketahui dengan melakukan tes di
laboratorium setelah berpuasa kurang lebih antara 10-12 jam sebelum pengambilan
sampel darah. Darah diambil perintra vena yang biasanya terdapat pada bagian lengan
bawah, sebelum diambil darah tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat-obatan yang
mempengaruhi kolesterol.
Untuk menentukan kadar kolesterol seseorang tinggi atau rendah, semuanya harus
mengacu pada pedoman umum yang telah disepakati dan digunakan di seluruh dunia yaitu
pedoman dari National Cholesterol Education Program Adult Treatment III (NCEP ATP
III) yang menetapkan batasan pengukuran kolesterol seperti dalam di bawah ini:

Pengukuran Rendah Normal Perbatasan Tinggi Sangat


Tinggi Tinggi
Kolesterol <200 mg/dl 200-239 >240 mg/dl
Total mg/dl
Kolesterol <100 mg/dl 100-159 160-189 >190 mg/dl
LDL mg/dl mg/dl
Kolesterol <40 mg/dl 60 mg/dl
HDL
Trigliserida <150 mg/dl 150-199 200-499 >499 mg/dl
mg/dl mg/dl
Tabel 4. Kategori Batasan Kolesterol dalam Darah
Selain daripada tersebut di atas, pada pedoman tersebut juga sudah ditentukan batasan
nilai Kolesterol LDL berdasarkan banyaknya faktor risiko pada seseorang terhadap penyakit
jantung koroner, antara lain:
a. Seseorang yang memiliki faktor risiko 0-1 maka target penurunan Kolesterol LDL
yang harus dicapai adalah <160 mg/dl
b. Seseorang yang memiliki faktor risiko 2 maka target yang harus dicapai adalah <130
mg/dl
c. Seseorang yang telah mendapat PJK atau risiko PJK ekivalen seperti diabetes, maka
target yang harus dicapai adalah <100 mg/dl.

1.8 Penatalaksanaan Medis Penyakit Hiperkolesterolemia


Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar kolesterol dalam darah. Di
banyak apotek maupun klinik, sekarang sudah tersedia alat pemeriksaan kolesterol yang
sederhana, cepat dan mudah. Pemeriksaan kolesterol ini menggunakan metode dipstick
yang mengambil sample darahnya dari pembuluh darah kapiler yang terletak di ujung jari
tangan. Hanya dengan meletakkan beberapa tetes darah saja, kita bisa segera tahu berapa
kadar kolesterol dalam darah.
Setelah melakukan pemeriksaan awal, ada baiknya anda juga melakukan pemeriksaan
kolesterol yang diambil dari darah vena. Cara ini tentu saja jauh lebih akurat karena selain
kadar kolesterol total, kita juga bisa tahu berapa kadar HDL (kolesterol baik) dan LDL
(Kolesterol Jahat). Kadar kolesterol total yang diharapkan adalah tidak lebih dari 200
mg/dl, dengan komposisi LDL < 150 mg dan HDL>50 mg/dl.
Berikut ini uraian kadar kolesterol dalam darah manusia, yaitu :
1. Kurang dari 200 mg/dl = tingkat kolesterol yang sangat baik. Apabila kadar LDL,
HDL dan Trigliserida kurang dari 200 mg/dl, maka kita tidak beresiko untuk
terkena penyakit jantung.
2. 200-239 mg/dl = tingkat kolesterol yang cukup. Jika total kolesterol adalah sekitar
200-239 mg/dl, maka biasanya dokter akan memeriksa kadar LDL, HDL dan
Trigliserida
3. Lebih dari 240 mg/dl = tingkat kolesterol yang beresiko tinggi. Orang yang
mempunyai total kolesterol diatas 240 mg/dl beresiko 2 kali lebih besar terkena
serangan jantung.
4. Makin tinggi kadar HDL, semakin kecil resiko terkena penyakit jantung. Kadar
HDL yang normal untuk pria berkisar antara 40-50 gr/dL, wanita antara 20-60
mg/dL
5. Sebaliknya, semakin sedikit kadar DL dalam darah, maka semakin kecil resiko
terkena penyakit jantung. Pada umumnya, kadar LDL dalam kategori sebagai
berikut :
Kadar keterangan
<100 mg/dL Sangat baik
100-129 mg/dL Diatas rata-rata
130-159 mg/dL Cukup
160-189 mg/dL Buruk (resiko tinggi)
>190 mg/dL Sangat buruk (resiko sangat tinggi)
6. Kadar trigliserida, ini adalah sejenis lemak yang terdapat dalam darah dan
berbagai organ tubuh. Meningkatnya kadar trigliserida dalam darah juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi kadar
trigliserida dalam darah, misalnya kegemukan, konsumsi alkohol, gula dan
makanan berlemak.
kadar Keterangan
<150 mg/dl baik
150-199 mg/dl Cukup
200-499 mg/dl Tinggi
500 mg/dl Sangat tinggi

1.9 Komplikasi
Hiperkolesterolemia adalah salah satu faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular
(stroke, transient ischemic attack) dan penyakit jantung koroner (infark miokardium,
angina pektoris). Bila penderita memiliki faktor-faktor risiko kardiovaskular lain, angka
morbiditas dan mortalitas akan semakin meningkat akibat gangguan kardiovaskular
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Soeharto,I. 2001. Kolesterol dan lemak Jahat, kolesterol dan lemak Baik, dan Proses
Terjadinya Serangan Jantung dan Stroke. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Sudoyo, A.W. et al, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1 Cetakan
Kedua. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Williams. 2008. PT. Vigorous Exercise, Fitness and Incident Hypertension, High Cholesterol
and Diabetes.