Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PARASITOLOGI

EKTOPARASIT PADA SAPI

Oleh:

Kelompok E2 Semester I 2019/2020

Anggi May Istiana, SKH B94191008


Andi Bahtiar, SKH B94191039
Irfan Prasetia Eka Putra, SKH B94191059
Thenmoli Rajan, SKH B94191807

Dosen Penanggung Jawab:


Dr Drh H. Akhmad Arif Amin

BAGIAN PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI KESEHATAN


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Peternakan merupakan salah satu usaha yang menjadi penopang hidup sebagian besar
masyarakat di Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang bermata
pencaharian sebagai peternak. Proses budidaya peternakan yang ideal adalah yang mampu
menerapkan praktik manajemen peternakan yang baik. Salah satu hewan ternak yang umum
dipelihara oleh masyarakat di pedesaan adalah sapi. Sapi yang dipelihara biasanya
dimanfaatkan untuk diambil daging, susu, dan tenaganya dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat. Selain itu, sapi juga menghasilkan feses yang biasanya digunakan pupuk oleh
masyarakat setempat.
Lingkungan peternakan biasanya terdapat organisme yang menguntungkan ataupun
merugikan yang dapat hidup dan berkembangbiak di iklim tropis seperti di Indonesia. Salah
satu organisme yang bersifat merugikan adalah parasit. Peternak dapat mengalami beberapa
kendala dalam merawat sapi, salah satu kendala yang umum terjadi adalah keberadaan dari
parasit. Infestasi parasit dapat menyebabkan penurunan produksi ternak. Parasit adalah
organisme yang hidup menumpang pada organisme lain (inang). Inang yang ditumpangi
parasit akan dirugikan karena parasit akan menyerap nutrisi yang berasal dari inang, sehingga
parasit dapat menimbulkan gangguan pada inangnya berupa penurunan berat badan,
penurunan kualitas hidup, serta dapat menimbulkan kematian apabila jumlah infeksi parasit
yang tinggi.
Parasit terbagi atas dua jenis, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah
parasit yang hidup di luar tubuh inang contohnya lalat, caplak, tungau, pinjal, kutu, semut dan
nyamuk. Sedangkan endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh inang seperti
cacing dan protozoa yang dapat menimbulkan penyakit pada inangnya (Natadisastra dan
Agus 2009). Ektoparasit dibagi menjadi dua berdasarkan sifatnya, yaitu ektoparasit obligat
dan ektoparasit fakultatif. Ektoparasit obligat merupakan ektoparasit yang seluruh stadium
hidupnya bergantung pada inang. Ektoparasit fakultatif merupakan ektoparasit yang sebagian
besar stadium hidupnya di luar inang (Hadi dan Soviana 2010).
Infestasi parasit dapat menyebabkan penurunan produksi ternak. Parasit adalah
organisme yang hidup menumpang pada organisme lain (inang). Inang yang ditumpangi
parasit akan dirugikan karena parasit akan menyerap nutrisi yang berasal dari inang, sehingga
parasit dapat menimbulkan gangguan pada inangnya berupa penurunan berat badan,
penurunan kualitas hidup, serta dapat menimbulkan kematian apabila jumlah infeksi parasit
yang tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan pada hewan yang mengalami
gangguan parasit sebagai langkah pengobatan dan pencegahan. Pemeriksaan dapat dilakukan
dengan pengambilan sampel secara langsung pada kasus ektoparasit, serta pemeriksaan feses
dan darah untuk kasus endoparasit. Dari hasil pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan
identifikasi jenis parasit yang menyerang kemudian menentukan cara pengendalian yang baik
dan tepat.
Gangguan yang ditimbulkan akibat ektoparasit sebaiknya harus segera dikendalikan.
Pengendalian yang efektif diperlukan untuk menghindari penyebaran yang luas dan
mengurangi kerugian yang lebih tinggi.
Tujuan

Tujuan dari kegiatan yang telah dilakukan adalah mempelajari, mengidentifikasi dan
mendiagnosa kasus yang disebabkan oleh ektoparasit yang menginfeksi ternak sapi serta
permasalahannya sehingga dapat dilakukan pencegahan dan pengendalian.

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel ektoparasit dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Unit


Pengelola Hewan Laboratorium FKH IPB dan Rumah Doa Anak Yatim, Desa Cibuntu,
Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, dan dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Agustus 2019.

Ektoparasit

Teknik Koleksi dan Pengambilan Sampel


Ektoparasit yang diperoleh dikoleksi secara manual dengan menggunakan pinset dan
dimasukkan dalam botol koleksi yang berisikan alkohol 70%. Koleksi lalat diperoleh dengan
menggunakan sweeping net yang kemudian dipingsankan dengan killing jar dan dimasukkan
dalam tabung koleksi

Prosesing, Preservasi dan Identifikasi Ektoparasit


Ektoparasit yang diperoleh dibuat preparat yang terdiri atas preparat kering (pinning),
preparat kaca (slide) dan preparat basah. Preparat kering dibuat dengan cara menusukkan
jarum pada badan serangga seperti lalat yang telah dimatikan. Lalat dimatikan dengan
menggunakan killing jar yang berisi sianida kemudian diberi label berisikan klasifikasi,
lokasi dan kolektor lalu diletakkan pada kotak ektoparasit yang berisi kamper.
Preparat kaca dibuat untuk ektoparasit caplak yang dikoleksi dalam botol berisikan
alkohol 70%. Caplak dibilas menggunakan air bersih kemudian dimasukan dalam tabung
reaksi yang telah berisikan KOH 10% dan dipanaskan sampai lapisan kulit ektoparasit
tersebut menipis. Lapisan yang telah menipis dicuci dengan air bersih dan direndam dengan
alkohol bertingkat dimulai dari 70% sampai 100%. Masing-masing tingkat direndam selama
10 menit. Setelah direndam alkohol dilakukan perendaman dengan minyak cengkeh selama
15-30 menit dan pembilasan dengan xylol sebanyak dua kali masing-masing selama lima
menit sampai bersih dan selanjutnya dilakukan penempelan caplak tersebut pada gelas objek
dengan menggunakan entelan yang diteteskan pada gelas objek sebanyak 1-2 tetes dan
ditutup dengan gelas penutup yang telah diberikan sedikit xylol. Pembuatan preparat basah
dilakukan dengan memasukan koleksi ektoparasit dalam botol kaca berisikan alkohol 70%
kemudian diberikan label.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Musca domestica

Taksonomi Musca domestica


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Cyclorrhapha
Famili : Muscidae
Genus : Musca
Spesies : Musca domestica

Gambar 1 Musca domestica

Musca domestica merupakan serangga yang tersebar di seluruh dunia. Tubuh terbagi
menjadi tiga bagian yaitu kepala, thoraks dan abdomen. Ciri morfologi dari lalat Musca, yaitu
ukuran panjang tubuh jantan berkisar antara 5.8-6.5 mm dan betina 6.5-7.5 mm. Thoraks
berwarna kelabu dengan empat ban hitam longitudinal di dorsal (Carvalho dan Mello-Patiu
2008). Lalat ini memiliki probosis tipe penghisap dengan bagian ujung (labela) melebar dan
memiliki struktur seperti spons yang berfungsi untuk menyerap makanan. Antena pendek
dengan arista yang berambut (plumose) pada bagian ventral dan dorsal. Sayap jernih dengan
vena sayap M1+2 sangat khas membentuk lengkungan sudut yang tajam dan sel R5 agak
tertutup di bagian distal (Hadi dan Soviana 2006). Venasi sayap dapat digunakan untuk
membedakan Musca dengan genus lalat lainnya.

Gambar 2 Venasi sayap Musca domestica (www.poultryhub.org)


Lalat Musca domestica mempunyai metamorfosis lengkap (complete metamorfosis
holometabolous) mulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Telur M. domestica berwarna putih
dan berbentuk seperti pisang dan biasanya diletakkan pada sampah organik yang membusuk
seperti bangkai binatang, sampah rumah tangga maupun kandang, terutama pada manur sapi,
ayam, babi, atau kuda dalam jumlah sekitar 75-150 butir. Telur lalat ini mempunyai panjang
sekitar 1.2 mm, produksi telur maksimum pada suhu menengah (25-30 ⁰C). Selanjutnya,
sekitar 10-20 jam telur akan menetas menjadi larva yang berwarna putih dan tidak memiliki
kaki. Larva mempunyai panjang 3-9 mm. Larva melengkapi perkembangannya dengan
memakan semua bahan organik dalam waktu 4-13 hari pada suhu optimal (17-32 ⁰C).
Kemudian, larva berubah menjadi pupa yang memiliki panjang sekitar 8 mm dan berwarna
kuning, merah, coklat, hingga hitam. Perkembangan pupa berlangsung dalam 2-6 hari pada
suhu 32-37 ⁰C. Pupa berubah menjadi lalat dewasa yang biasanya hidup 15 hingga 25 hari,
bahkan beberapa mampu hidup hingga dua bulan (Arroyo dan Capinera 2017).

Gambar 3 Siklus hidup lalat M. domestica

M. domestica bertindak sebagai vektor penyakit, bukan sebagai parasit pada hewan
hidup. Vektor penyakit yaitu lalat bersifat sebagai pembawa atau memindahkan penyakit dari
satu tempat ke tempat lain. Hal ini dikarenakan kebiasaan dari lalat Musca yang sering
hinggap pada feses dan bahan-bahan organik. Agen penyakit (bakteri, virus, cacing dan
protozoa) dapat terbawa karena tertempel pada rambut-rambut yang ada pada tubuh lalat
Musca (Taylor et al. 2007). Penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat ini antara lain, disentri
(Entamoeba hystolitica, E.coli, Giardia lamblia), salmonellosis (Salmonella thypi, S.
Pullorum, S. Gallinarum), cholera (Vibrio cholera), helminthiasis, shigellosis (Shigella) dan
beberapa penyakit lainnya (Hadi dan Soviana 2010).
Pengendalian M. domestica dapat dilakukan melalui pengelolaan lingkungan. Sampah
atau feses yang berada di sekitar rumah atau kandang, tidak dibiarkan menumpuk terlalu
lama. Sampah dan feses merupakan tempat perkembangbiakan serta sumber makanan bagi
lalat. Pengendalian kimiawi juga dapat dilakukan yaitu menggunakan larvasidal, repelen,
spray atau pengumpanan. Pengendalian non kimiawi menggunakan alat pengusir lalat berupa
jebakan sederhana dengan lem perekat, perangkap lampu yang dapat membunuh lalat dewasa
dengan aliran listrik. Pengendalian menggunakan insektisida sebaiknya dihindari karena tidak
ramah lingkungan, residu yang ditinggalkan akan memberikan dampak yang negatif bagi
lingkungan.

Tabanus sp.

Taksonomi Tabanus sp.


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Tabanidae
Genus : Tabanus
Spesies : Tabanus sp.

Gambar 4 Tabanus sp.

Tabanus sp. merupakan jenis lalat yang berperan sebagai vektor mekanik dari agen
penyakit pada kuda. Lalat ini berperan penting dalam dunia medik dan veteriner karena
termasuk dalam lalat pengisap darah. Tabanus sp. merupakan lalat besar yang memiliki
ukuran panjang 13-20 mm. Mulut pada lalat ini terdiri atas probosis yang pendek dengan
maksila yang berfungsi sebagai pisau untuk merobek, serta labrum-epifaring dan hipofaring
sebagai penusuk dan pengisap (Hadi dan Soviana 2010). Kepala berbentuk setengah
lingkaran dan mata yang dominan. Bentuk antena pendek dan memiliki tiga ruas dengan
berbagai modifikasi pada ruas terakhirnya (El-Hassan et al. 2010). Lalat betina membutuhkan
darah untuk perkembangan telur, lalat menghisap darah dari mamalia. Pada jumlah besar,
lalat ini dapat menyebabkan kehilangan darah pada ternak. Lalat jantan memakan nektar,
madu, dan getah tanaman (Queensland Government 2016).

Gambar 5 Siklus hidup lalat Tabanus sp.

Siklus hidup Tabanus mengalami metamorfosis sempurna dari telur, larva, pupa hingga
dewasa. Telur yang berbentuk lonjong biasanya diletakkan pada daun tanaman seperti padi.
Lalat betina dapat menghasilkan telur sekitar 25-1000 telur. Telur akan menetas setelah satu
minggu dan berubah menjadi larva yang berbentuk silinder. Larva Tabanus memiliki 12
segmen dan sifon untuk bernafas. Kepala larva terdapat 2 mandibula tajam yang
menimbulkan gigitan (Long 2014). Larva akan berpindah ke tanah yang lembab atau
berlumpur dan menjadi predator akuatik. Stadium larva berlangsung selama 6 minggu hingga
satu tahun tergantung oleh cuaca. Setelah mendapat nutrisi yang cukup, larva akan berubah
menjadi pupa selama 1-3 minggu dan menempel pada daun padi atau tanaman lain (Hadi dan
Soviana 2010). Selama fase pupa, terjadi perkembangan sayap, kaki dan lainnya. Lalat
dewasa akan keluar dari pupa dan siap bersiklus kembali. Lalat ini aktif pada siang hari dan
menghisap darah bukan hanya pada hewan ternak namun juga satwa liar hingga manusia
(Townsend 2016). Selama musim dingin lalat berada pada fase larva, pupa pada musim semi
dan dewasa di akhir bulan Juni pada negara empat musim (Encyclopaedia Britannica 2016).
Tabanus dapat berperan sebagai vektor berbagai penyakit pada hewan seperti tularemia,
anthraks, dan trypanosomiasis (Encyclopaedia Britannica 2016). Gigitan yang sakit dapat
mengganggu tingkat konsumsi dari ternak dan transfer darah infeksius ke hewan sekitar
(Defra 2011). Lalat ini menghisap darah sebanyak tiga sampai empat kali sehari.
Trypanosoma evansi yang merupakan parasit darah dapat bertahan selama 15 menit pada
probosis Tabanus. Selain itu, Tabanus juga berperan sebagai vektor mekanik bagi penyebaran
Anaplasma marginale dengan rata-rata jumlah agen penyakit tersebut menurun pada probosis
Tabanus yang dibedah 20 menit setelah lalat selesai menghisap darah. Sapi yang terkena
anaplasmosis dapat mengalami anemia, kehilangan bobot badan dan kematian dalam
beberapa kasus (Baticados et al. 2011).
Pengendalian vektor lalat Tabanus secara kimiawi dapat menggunakan insektisida yaitu
carbasil dan malanthion yang bersifat sistemik, diclorovos, serta comouphos. Insektisida
tersebut diaplikasikan dengan penyemprotan atau dipping induk semang. Pengendalian lain
yang dapat dilakukan yaitu dengan teknik pengasapan untuk mengusir Tabanus sp. Selain itu,
perbaikan manajemen dan sanitasi kandang, serta penerapan biosecurity maupun biosafety
juga diperlukan untuk mengurangi atau membasmi Tabanus sp.

Chrysomya sp.

Taksonomi Chrysomya sp.


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Cyclorrhapha
Famili : Calliphoridae
Genus : Chrysomya
Spesies : Chrysomya sp.

Gambar 6 Chrysomya sp.


Chrysomya sp. atau yang biasa disebut lalat hijau merupakan penyebab miasis pada
sapi, kuda dan hewan lain. Ukuran tubuh lalat ini sekitar 1.5 kali dari lalat rumah. Chrysomya
sp. berwarna hijau-biru metalik, biru kehijauan dengan banyak bulu-bulu pendek yang
menutupi tubuh. Struktur mulutnya sama seperti lalat rumah, yaitu tipe penjilat. Larva
Chrysomya sp. berbentuk silinder dengan deretan duri-duri pada keliling tiap ruas tubuhnya
(Hadi dan Soviana 2006).
Lalat ini dapat menyebabkan miasasis obligat (Chrysomya bezziana) dan miasis
fakultatif (Chrysomya megacephala). Chrysomya megacephala pupulasinya di Indonesia
lebih banyak dibandingkan Chrysomya bezziana. Chrysomya bezziana biasanya meletakkan
telur pada tepi luka terbuka yang membusuk dalam jumlah 150-500 butir dalam satu
kelompok. Telur akan menetas 23-30 jam kemudian, selanjutnya larva akan masuk semakin
dalam dan memakan jaringan yang luka. Stadium larva berlangsung selama 5-6 hari,
selanjutnya larva akan menjatuhkan diri dari luka untuk berubah menjadi pupa. Pupa
berlangsung selama 7-9 hari kemudian menjadi dewasa (Hadi dan Soviana 2010). Chrysomya
megacephala bertindak sebagai vektor mekanik berbagai penyakit seperti cholera,
salmonellosis dan escerichiasis.

Gambar 7 Siklus hidup Chrysomya sp.

Pengendalian lalat ini dapat dilakukan dengan cara kimiawi dan non kimiawi.
Pengendalian kimiawi dengan menggunakan larvasida, repelen, spray atau dengan
pengumpanan yang mengandung zat insektisida. Pengendalian non kimiawi dengan
pengelolaan lingkungan seperti, menjaga sanitasi, pemasangan penghalang berupa kasa atau
kawat pada pintu, jendela, atau lubang ventilasi, atau menggunakan perangkap cahaya yang
dapat membunuh lalat dewasa dengan aliran listrik.

Nyamuk

1.1 Culex sp.

Taksonomi Culex sp.


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Culex
Spesies : Culex sp.

Nyamuk Culex sp. mempunyai ukuran kecil sekitar 4-13 mm dan tubuhnya rapuh.
Nyamuk Culex sp. dewasa memiliki tubuh langsing dengan tiga bagian yaitu kepala, thoraks
dan abdomen. Kepala nyamuk Culex sp. berbentuk bulat oval atau spheric, memiliki satu
probosis dan dua palpus sensorik. Probosis nyamuk Culex sp. terdiri dari labrum, mandibula,
hipofarinx, maxilla dan labium. Probosis pada nyamuk betina digunakan sebagai alat untuk
menghisap darah, sedangkan pada nyamuk jantan digunakan untuk menghisap zat-zat seperti
cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga keringat. Kepala nyamuk memiliki sepasang
mata holoptic untuk nyamuk jantan dan mata dichoptic untuk nyamuk betina serta sepasang
antena yang terdiri dari 15 segmen. Antena nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan
antena nyamuk betina berambut jarang (pylose) (Sutanto et al. 2008).
Sebagian besar thoraks yang terlihat (mesonotum) dilingkupi bulu-bulu halus. Bagian
belakang dari mesonotum ada skutelum yang terdiri dari tiga lengkungan (trilobus). Sayap
nyamuk berbentuk panjang akan tetapi ramping dan permukaannya mempunyai vena yang
dilengkapi sisik-sisik sayap (wing scales) yang letaknya menyesuaikan vena. Terdapat juga
beberapa barisan rambut atau yang biasa disebut fringe yang terletak pada pinggir sayap.
Abdomen nyamuk ini memiliki sepuluh ruas dan bentuknya menyerupai tabung dimana dua
ruas terakhir mengalami perubahan fungsi sebagai alat kelamin. Kaki nyamuk berjumlah tiga
pasang, letaknya menempel pada thoraks, setiap kaki terdiri atas lima ruas tarsus, seruas
femur dan seruas tibia. Pada stadium dewasa palpus nyamuk jantan setinggi probosis dan
ujungnya tidak menebal. Nyamuk betina mempunyai palpus yang lebih pendek daripada
probosisnya. Nyamuk Culex sp. memiliki tipe mulut piercing dan sucking (Susanna dan
Sembiring 2011).

Gambar 8 Culex sp.

Culex sp. merupakan Arthropoda yang mempunyai empat stadium siklus hidup yaitu
telur, larva, pupa dan dewasa. Nyamuk betina dewasa meletakkan telur sebanyak 50-200 butir
secara tunggal langsung di atas air. Telur bersifat tidak tahan terhadap pengeringan dan akan
menetas dalam waktu 2-3 hari, namun waktu penetasan dapat mencapai 2-3 minggu pada saat
iklim dingin. Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperatur,
tempat perindukan dan ada tidaknya hewan predator. Setelah berkembang melalui empat
tahapan atau instar, larva bermetamorfosis menjadi pupa. Pupa merupakan stadium terakhir
dari nyamuk yang berada di dalam air, pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan
terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih
kurang satu sampai dua hari. Pada akhir setiap instar, larva akan melepaskan eksoskeleton
atau kulit untuk memungkinkan pertumbuhan pada stadium lebih lanjut. Pada fase ini spesies
ini membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk dan nyamuk mulai menghisap darah pada
dua hari setelah muncul dari pupa dan bertelur 2-5 hari kemudian.
Darah merupakan sumber protein yang esensial untuk mematangkan telur.
Perkembangan telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari. Siklus
hidup nyamuk Culex sp. dari telur sampai dewasa umumnya antara 13-16 hari. Waktu yang
dibutuhkan dari munculnya nyamuk dewasa sampai bertelur yang pertama berkisar antara 4-8
hari, sedang peletakan telur berikutnya terjadi paling cepat dua hari dan paling lama lima hari
setelah menghisap darah.

Gambar 9 Telur nyamuk Culex sp.

Potensi penularan cacing, nyamuk dewasa adalah ukuran yang paling sesuai yang
banyak ditemukan maka potensi penularan cacing tinggi. Larva bisa tinggal dan hidup di
dalam air dengan tingkat pencemaran organik tinggi dan lokasinya tidak jauh dari tempat
tinggal manusia. Pada malam hari nyamuk betina akan terbang menuju rumah-rumah dan
melakukan aktivitas menggigit manusia dan juga kemungkinan untuk mamalia lain
(Mulyatno 2010). Nyamuk-nyamuk Culex sp. ada yang aktif saat pagi, siang dan ada yang
aktif saat sore atau malam. Nyamuk ini meletakkan telur dan berbiak di selokan yang berisi
air bersih ataupun selokan air pembuangan domestik yang kotor (organik), serta di tempat
penggenangan air domestik atau air hujan di atas permukaan tanah. Larva nyamuk Culex sp.
sering kali terlihat dalam jumlah yang sangat besar di selokan air kotor. Jenis nyamuk seperti
Culex pipiens dapat menularkan penyakit filariasis (kaki gajah), ensefalitis dan virus
chikungunya (Medeiros 2015). Berdasarkan tempat bertelur, habitat nyamuk dapat dibagi
menjadi container habitats dan ground water habitats (genangan air tanah). Container
habitats terdiri dari wadah alami dan wadah artifisial. Genangan air tanah adalah genangan
air yang terdapat tanah di dasarnya.
Pengendalian nyamuk dapat dibagi menjadi tiga menurut CDC (2011), yaitu
pengendalian secara mekanik, pengendalian secara biologi dan pengendalian secara kimia.
Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan mengubur kaleng-kaleng atau tempat-
tempat sejenis yang dapat menampung air hujan dan membersihkan lingkungan yang
berpotensial dijadikan sebagai sarang nyamuk misalnya got dan potongan bambu.
Pengendalian mekanis lain yang dapat dilakukan adalah pemasangan kelambu dan
pemasangan perangkap nyamuk baik menggunakan cahaya lampu dan raket pemukul.
Pengendalian secara biologi merupakan intervensi yang didasarkan pada pengenalan
organisme pemangsa, parasit dan pesaing untuk menurunkan jumlah nyamuk. Ikan pemangsa
larva misalnya ikan kepala timah, gambusia, ikan mujaer dan nila di bak dan tempat yang
tidak bisa ditembus sinar matahari misalnya tumbuhan bakau sehingga larva itu dapat
dimakan oleh ikan tersebut. Keuntungan dari tindakan pengendalian secara biologis
mencakup tidak adanya kontaminasi kimiawi terhadap lingkungan. Selain dengan
penggunaan organisme pemangsa dan pemakan larva nyamuk, pengendalian dapat dilakukan
dengan pembersihan tanaman air dan rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan
nyamuk, penimbunan, pengeringan atau pengaliran genangan air sebagai tempat perindukan
nyamuk dan pembersihan semak-semak di sekitar rumah. Adanya ternak seperti sapi, kerbau
dan babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia apabila kandang ternak
diletakkan jauh dari rumah.
Pengendalian secara kimia dilakukan dengan penggunaan insektisida secara tidak tepat
untuk pencegahan dan pengendalian infeksi dengue harus dihindari. Selama periode sedikit
atau tidak ada aktifitas virus dengue, tindakan reduksi sumber larva secara rutin, pada
lingkungan dapat dipadukan dengan penggunaan larvasida dalam wadah yang tidak dapat
dibuang, ditutup, diisi atau ditangani dengan cara lain.

1.2 Anopheles sp.

Taksonomi Anopheles sp.


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Sub famili : Anophelini
Genus : Anopheles
Spesies : Anopheles sp.

Gambar 10 Anopheles sp.

Nyamuk Anopheles sp. mempunyai ukuran tubuh yang kecil yaitu sekitar 4-13 mm dan
bersifat rapuh. Tubuhnya terdiri dari beberapa segmen yaitu kepala, bagian thoraks serta
abdomen yang ujungnya meruncing. Bagian kepala mempunyai ukuran relatif lebih kecil
dibandingkan dengan ukuran pada bagian thoraks dan abdomen. Pada bagian kepala ada
sepasang antena berada dekat mata sebelah depan. Antena ini terdiri dari beberapa ruas
berjumlah 14-15 ruas. Antena pada nyamuk jantan mempunyai rambut yang lebih panjang
dan lebat (tipe plumose) dibandingkan nyamuk betina yang lebih pendek dan jarang.
Pada bagian mulut memanjang ke depan membentuk probosis. Anopheles sp. betina
mempunyai struktur bagian mulut yang dapat berkembang dengan baik sehingga dapat
mengisap darah dan berperan langsung dalam penyebaran penyakit malaria. Pada nyamuk
jantan probosis hanya berfungsi untuk mengisap bahan-bahan cair seperti cairan dari
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan serta keringat. Bagian posterior abdomen agak sedikit
lancip. Kosta dan vena 1 atau sayap pada bagian pinggir ditumbuhi sisik-sisik yang
berkelompok sehingga membentuk belang-belang hitam putih (Safar 2010).
Anopheles sp. mengalami metamorfosis sempurna yaitu stadium telur, larva, pupa dan
dewasa yang berlangsung selama 7-14 hari. Tahapan ini dibagi ke dalam dua perbedaan
habitatnya yaitu lingkungan air (aquatic) dan di daratan (terrestrial). Nyamuk dewasa
muncul dari lingkungan air ke lingkungan terresterial setelah menyelesaikan daur hidupnya.
Oleh sebab itu, keberadaan air sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup nyamuk,
terutama masa larva dan pupa. Nyamuk Anopheles betina dewasa meletakkan 50-200 telur
satu persatu di dalam air atau bergerombol tetapi saling lepas. Telur Anopheles mempunyai
alat pengapung dan untuk menjadi larva dibutuhkan waktu selama 2-3 hari, atau 2-3 minggu
pada iklim-iklim lebih dingin. Pertumbuhan larva dipengaruhi faktor suhu, nutrien, ada
tidaknya hewan predator, yang berlangsung sekitar 720 hari bergantung pada suhu. Pupa
merupakan stadium terakhir di lingkungan air dan tidak memerlukan makanan. Pada stadium
ini terjadi proses pembentukan alat-alat tubuh nyamuk seperti alat kelamin, sayap dan kaki.
Lama stadium pupa pada nyamuk jantan antara satu sampai dua jam lebih pendek dari pupa
nyamuk betina, karenanya nyamuk jantan akan muncul kira-kira satu hari lebih awal daripada
nyamuk betina yang berasal dari satu kelompok telur. Stadium pupa ini memakan waktu lebih
kurang dua sampai dengan empat hari (Rinidar 2010).
Nyamuk Anopheles mempunyai jarak terbang maksimum 1.5-4.5 km. Nyamuk ini
tertarik pada cahaya, pakaian warna gelap, manusia serta hewan. Hal ini disebabkan oleh
perangsangan bau zat-zat yang dikeluarkan hewan terutama CO 2 dan beberapa asam amino
dan lokasi yang dekat dengan suhu hangat serta kelembaban (Hadi dan Soviana 2013). Jenis
nyamuk seperti Anopheles aconitus dapat menularkan penyakit malaria dengan patogen
Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum (Hadi dan Soviana 2013).
Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan penggunaan larvasidal untuk
membunuh jentik nyamuk, fogging dan penggunaan repelan. Pengendalian non kimia
dilakukan dengan pembersihan lingkungan dari sarang nyamuk, menjaga kerbersihan dan
sanitasi kandang dan penggunaan light trap (DITJENNAK 2012).

Periplaneta americana

Taksonomi Periplaneta americana


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Blattodea
Famili : Blattidae
Genus : Periplaneta
Spesies : Periplaneta americana

Periplaneta americana memiliki panjang berkisar 35-40 mm dengan warna tubuh


mengkilat kemerahan hingga kecokelatan (WHO 2018). Kulit telur mempunyai ukuran 8-10
mm dan berisi 16 telur. Periplaneta americana memiliki tiga regio tubuh yaitu kepala yang
terdiri dari mata dan mulut, thoraks (tiga segmen) yang terdiri dari tiga pasang kaki dan dua
pasang sayap, serta abdomen (10-11 segmen). Kecoa P. americana umum ditemukan di
rumah dan gedung-gedung terutama pada tempat yang lembab dan hangat seperti septic tank
dan saluran sanitasi.

Gambar 11 Periplaneta Americana

Kecoa adalah serangga dengan metamorfosa tidak lengkap, hanya melalui tiga stadium
yaitu stadium telur, stadium nimfa dan stadium dewasa yang dapat dibedakan jenis jantan
dan betinanya. Nimfa biasanya menyerupai yang dewasa, kecuali ukurannya, sedangkan
sayap dan alat genitalnya dalam taraf perkembangan. Kecoa jenis Periplaneta Americana
memiliki siklus hidup sebagai berikut:

1) Kecoa betina menghasilkan hingga 14 ootheka (kantung telur), setiap kantung telur
memuat 14-18 telur
2) Ootheka lipas ini berwarna cokelat merah terang, panjangnya 4-5 mm dan biasanya
ootheka menempel di bagian dasar dan tersebar luas
3) Menetas selama 1-2 bulan
4) Telur menetas menjadi lipas muda atau nimfa yang kemudian menyilih atau molting
sebanyak 6-8 kali (instar)
5) Nimfa membutuhkan waktu 55 hari untuk tumbuh menjadi dewasa
6) Pada kondisi suhu ideal (30 °C), kecoa dewasa hidup selama 90-115 hari.
Perkembangan dari telur hingga dewasa adalah 90-276 hari dengan rata-rata 161 hari.
Dalam setahun seekor betina dan keturunannya dapat menghasilkan lebih dari 600
ekor lipas

Kecoa kebanyakan terdapat di daerah tropika yang kemudian menyebar kedaerah sub-
tropika atau sampai ke daerah dingin. Pada umumnya tinggal di dalam rumah-rumah makan
segala macam bahan, mengotori makanan manusia dan juga berbau tidak sedap. Kebanyakan
kecoa dapat terbang, tetapi mereka tergolong pelari cepat “cursorial“, dapat bergerak cepat,
aktif pada malam hari dan metamorfosis tidak lengkap.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh kecoa relatif sedikit, tetapi adanya kecoa
menunjukkan bahwa sanitasi di lingkungan terdebut kurang baik. Kecoa dewasa lebih sering
ditemukan di tempat hunian manusia dari pada gedung-gedung komersil. Kecoa dewasa dan
muda lebih menyukai bersembunyi di tempat yang hangat dan lembab, daerah yang tinggi
dekat atap, di belakang dekorasi dinding dan wallpaper yang longgar, di kloset, di bawah atau
bagian dalam perabot rumah tangga, dan peralatan listrik seperti televisi, stereo dan
alat pemanggang roti. Kecoa ini bisa memasuki ruangan-ruangan sempit di dalam rumah.
Akibatnya kecoa ini seringkali lebih sulit dikendalikan daripada kecoa lainnya (Kesumawati
2011). Kecoa juga merupakan vektor dari bermacam-macam virus partogen, bakteri, protozoa
dan helmintes. Beberapa jenis penyakit yang diperantarai oleh kecoa antara lain adalah
TBC, cholera, amubiasis, disentri dan tifoid.
Metode pengendalian kecoa dengan menggunakan pengasapan (fogging) dan umpan
yang menggunakan insektisida dinilai masih kurang efektif dan kurang praktis, karenannya
membutuhkan alternatif pengendalian lainnya. Dalam hubungannya untuk menemukan
metode alternatif pengendalian kecoa, digunakan cat tembok berinsektisida. Pada penelitian
ini cat tembok berinsektisida menggunakan bahan aktif Deltametrin 100 EC, Permetrin 100
EC dan Zetametrin 25 EC. Pertama, dibuat campuran dari cat tembok berinsektisida dalam
berbagai konsentrasi, kemudian diaplikasikan pada tembok kayu. Setelah mengering dalam
waktu sekitar satu hari, kemudian dilakukan uji bioassay terhadap kecoa (Periplaneta
americana) dengan mengkontakkan pada dinding yang telah dicat dengan campuran
insektisida. Hasil dari penelitian ini menunjukkan insektisida dengan dosis minimal
(Permetrin 100 EC dosis 7.344%, Deltametrin 100 EC dosis 0.484%, Zetametrin 25 EC dosis
1.366%) efektif untuk membunuh kecoa sampai dengan 95% (Susanti dan Boesri 2011).

Haematopinus tuberculatus

Taksonomi Haematopinus tuberculatus


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Phthiraptera
Sub Ordo : Anoplura
Famili : Haematopinidae
Genus : Haematopinus
Spesies : Haematopinus tuberculatus

Genus Haematopinus adalah kutu besar berukuran sekitar 4 mm dengan titik mata
menonjol tetapi tanpa mata. Populasi kutu menumpuk selama periode musim dingin ketika
rambut hewan lebih panjang dan lebih tebal. Infestasi berat berhubungan dengan anemia dan
penurunan berat badan. Infestasi kutu pada kerbau dikenal dibanyak negara dan biasanya
disebabkan oleh satu spesies yaitu Haematopinus tuberculatus, spesies dari ukuran tubuh
yang relatif besar sekitar 5.5 mm, terlihat dengan mata telanjang dan karenanya mudah
didiagnosis (Cotter 2009). Berdasarkan kutu yang diidentifikasi hanya diperoleh satu jenis
kutu yang ditemukan pada peternakan kerbau di Desa Sukamaju Kecamatan Ciampea
Kabupaten Bogor termasuk dalam famili Haematopinidae yaitu Haematopinus tuberculatus.

Gambar 12 Haematopinus tuberculatus

Haematopinus tuberculatus lebih dikenal dengan kutu hidung pendek (istilah diambil
dari ukuran kepala), berwarna kekuningan atau abu-abu kecokelatan. Tubuh kutu terdiri atas
tiga bagian, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen jelas terpisah (Gambar 13). Bentuk
kepala memanjang dan menyudut setelah antena, tidak memiliki mata, tetapi dibawah antena
ada titik mata. Kepala dilengkapi dengan 3-5 ruas antena berbentuk filiform yang menonjol
keluar. Kutu tidak memiliki sayap dan sebagian besar tidak bermata. H. tuberculatus
merupakan kutu pengisap yang memiliki tiga stilet penusuk yang terdapat pada bagian dorsal,
tengah, dan ventral. Bagian mulut memiliki rostrum pendek pada ujung anterior kepala.
Bagian mulut kutu disesuaikan untuk menusuk, menghisap atau mengunyah. Kutu memiliki
tipe mulut penusuk atau pengisap dan probosis halus dan kecil (haustellum). Bagian dalam
mulut dilengkapi dengan gigi-gigi kecil yang diarahkan ke luar untuk ditancapkan pada kulit
inangnya. Selain itu, terdapat tiga buah organ penusuk seperti jarum (stilet) keluar untuk
mengisap darah dan menyuntikkan kelenjar ludah ke tubuh inang (Hadi dan Soviana 2010).

Gambar 13 Morfologi kutu ektoparasit kerbau

Thoraks kutu memiliki sternal plate yang khas pada masing-masing jenis kutu. Bagian
abdomen kutu terdiri atas 8-10 ruas. Abdomen dilengkapi paratergal plate yang berfungsi
sebagai tempat spirakel. Tungkai pada kutu H. tuberculatus berkembang sangat baik dan
kokoh yang terdiri atas enam tungkai dengan kuku berukuran besar pada ujung tarsus dengan
tonjolan tibia yang berfungsi untuk merayap dan memegangi bulu atau rambut inangnya. Ciri
lain dari kutu ini yaitu diakhiri dengan cakar yang sama ukurannya disetiap kakinya dan pada
tibia ditemukan sebuah taji “spurs” dan sebuah bantalan tibia. Bagian abdomen, pada setiap
segmennya terlihat adanya sepasang lempeng paratergal dan satu baris bulu tepi abdomen
sebelah lateral berbentuk kurva. Organ penis pada kutu jantan dapat dikeluarkan secara
permanen, sedangkan kutu betina tidak memiliki ovipositor, tetapi terdapat sepasang gonopod
(Hadi dan Soviana 2010).

Gambar 14 Paratergal plate kutu ektoparasit kerbau dengan lima rambut (tanda panah)

Telur kutu menetas menjadi nimfa (kutu muda) setelah 5 sampai 18 hari tergantung
jenis kutu. Nimfa kutu dewasa berwarna keputih-putihan, dan makin tua umurnya akan
berwarna gelap. Kutu dewasa bisa hidup selama 10 hari hingga beberapa bulan (Hadi dan
Soviana 2010). Seluruh stadium dalam siklus hidup kutu H. tuberculatus membutuhkan darah
untuk menyelesaikan siklus reproduksi. Kutu betina dewasa meletakkan satu telur per hari
dan menempelkan ke batang rambut dekat dengan kulit. Telur menetas dalam 1-2 minggu.
Setiap nimfa mengalami tiga tahap, masing-masing tahap membutuhkan waktu 10 hari.
Siklus hidup lengkap membutuhkan waktu antara tiga sampai enam minggu (Cotter 2009).
Pengukuran kutu betina yang diteliti sekitar 4.8 mm sedangkan ukuran kutu jantan
sekitar 3.9 mm. Ukuran tubuh betina relatif besar dibandingkan dengan jantan (Cotter 2009).
Ciri morfologi pada H. tuberculatus memiliki rambut berjumlah lima atau lebih pada
paratergal plate (Gambar 14). Sternal plate pada bagian ventral H. tuberculatus yang khas
seperti lempeng yang terdapat penonjolan ke arah kranial.
Perbedaan kutu jantan dan betina H. tuberculatus terdapat pada bagian kaudal. Bagian
kaudal H. tuberculatus betina seperti penjepit (Gambar 16), sedangkan H. tuberculatus jantan
berbentuk lancip (Gambar 15). Peternakan kerbau tersebut terletak pada dataran tinggi
sehingga kutu H. tuberculatus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya di peternakan kerbau di negara lain juga hanya ditemukan satu spesies
kutu yaitu H. tuberculatus. Selain itu, Desoky (2014) melaporkan jenis kutu yang ditemukan
pada salah satu peternakan kerbau di Mesir paling banyak terinfestasi kutu H. tuberculatus.
Gambar 15 H. tuberculatus jantan. A = dorsal; B = ventral

Gambar 16 H. tuberculatus betina. A = dorsal; B = ventral

Haematopinus tuberculatus adalah ektoparasit berbahaya yang ditemukan pada kerbau


(Bubalus bubalis) di Asia dan kepulawan pasifik, juga menginfestasi onta dan sapi di
Australia. Akibat dari infestasi kutu ini sering menyebabkan iritasi kulit disertai gatal dan
menimbulkan eritematosa, anemia, anoreksia, kaheksia, kegelisahan dan berkurangnya
produktivitas (penurunan produksi susu) daripada hewan ternak tersebut, dan
ketidaknyamanan kerbau dengan menggaruk yang berlebihan (Kakar dan Kakarsulemankhel
2009). Kerbau yang diserang oleh H. tuberculatus muncul tanda-tanda klinis dengan rambut
acak-acakan, berminyak dan kusam, kulit mengelupas dan membran mukosa pucat terutama
pada hewan muda. Prevalensi serangan kutu pada kerbau dengan kejadian terutama di musim
terdingin. H. tuberculatus kemungkinan dapat bertindak sebagai vektor untuk Anaplasma
marginale antara kerbau (Da Silva et al. 2013).
Kutu merupakan serangga ektoparasit yang dapat ditemukan pada burung, mamalia dan
bahkan manusia. Kutu seringkali ditemukan hanya pada bagian tubuh tertentu induk
semangnya. Kutu memakan cairan tubuh termasuk darah. Induk semang antara lain kutu
kepala (Pediculus humanus capitis) dan kutu kerbau (H. tuberculatus). Kutu penggigit pada
umumnya memakan bulu dan serpihan kulit induk semang. Kutu ini biasanya berkumpul di
bagian dada, paha dan sayap unggas.
Kutu menjalani proses metamorfosa yang tidak sempurna, yaitu telur-nimfa-
individu dewasa. Seluruh siklus hidup terjadi di tubuh induk semang. $elur kutu akan
menempel pada rambut induk semang dengan bantuan zat perekat yang dihasilkannya.
Sedangkan siklus hidup yang dijalani pinjal merupakan metamorfosa sempurna yaitu telur-
larva-pupa dewasa. Larva yang baru menetas tidak memiliki kaki. Fase pupa adalah fase yang
tidak memerlukan makanan (Kadarsan et al. 1983).
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kedisiplinan
dalam menjaga sanitasi baik ternak dan kandang. Seringkali banyaknya infestasi ektoparasit
ini berkorelasi lurus dengan buruknya sanitasi dan higiene peternak. Usaha pencegahan ini
akan lebih efektif karena akan memerlukan biaya lebih minim dibandingkan pengobatan.
Pencegahan juga termasuk meminimalisir dampak kerugian sebelum benar-benar terjadi.
Tindakan pencegahan lainya yang dapat dilakukan misalnya isolasi terhadap ternak baru
sampai benar-benar dipastikan ternak telah bebas ektoparasit sehingga tidak menjadi ternak
pembawa (carrier).
Sedangkan pilihan pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan
beberapa insektisida seperti organopospat (chlorfenvinphos, chlorpyrifos, coumaphos,
diazinon, amitraz atau sintetik pyrethroid (deltamethrin, cypermethrin,
flumethrin), amitraz, coumaphos atau permethrin). Obat injeksi yang dapat juga
dipilih misalnya ivermectin. Beberapa teknologi baru juga dapat dilakukan misalnya dengan
pengendalian populasi atau pemutusan siklus hidup ektoparasit. Beberapa tindakan
pengobatan dapat dilakukan dengan metode dipping atau spraying (Aston 2012).

Columbicola columbae

Taksonomi Columbicola columbae


Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Bilateria
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Phthiraptera
Sub Ordo : Mallopaga
Famili : Philopteridae
Genus : Columbicola
Spesies : Columbicola columbae

Columbicola columbae Linnaeus merupakan kutu merpati yang sering ditemukan


terutama pada bulu di bagian bawah dan sayap atas (Kummer 2013). Columbicola columbae
betina berpotensi bertelur hingga sembilan butir per hari setiap 3-5 hari. Proses ini
berlangsung selama tiga instars nymphal untuk mencapai tahap dewasa terakhir dalam waktu
satu bulan. Masa hidup C. columbae dewasa adalah 47 minggu. Columbicola columbae
makan dengan cara mengunyah bulu inang merpati. Meskipun demikian, kutu-kutu ini juga
memiliki kemampuan untuk bergerak dari sayap ke tubuh inang untuk memakan bulu-bulu
yang berada di bagian dasarnya.
Columbicola columbae merupakan kutu merpati yang memiliki bentuk tubuh ramping
dan panjang dengan dua rambut yang bentuknya mirip seperti pisau di dekat bagian depan
kepalanya. C. columbae memiliki mata kecil yang kurang berkembang, tubuh berwarna hitam
dan cokelat, antena yang mirip seperti benang dibagi lima. Panjang dari kutu ini berkisar
0.078-0.120 in atau 2-3 mm.
Gambar 17 Columbicola columbae

Seperti mallofaga lainnya, C. columbae juga dapat menusuk atau menggaruk kulit inang
sehingga terbentuk tetesan darah kecil yang keluar dari kulit yang akhirnya dijilat oleh
mallofaga. Bekas tusukan ini dapat memicu lesi di kulit dan menjadi tempat infeksi sekunder.
Infestasi berat oleh mallofaga sering menunjukkan perubahan perilaku burung, seperti
penurunan produksi telur, 10-20% dan pertumbuhan daging serta kematian, terutama pada
burung muda (Jacob et al. 2012).
Seperti namanya (kutu merpati ramping), merpati adalah inang yang paling umum dari
kutu ini (terlibat dalam empat spesies merpati). C. columbae hanya ditemukan di antara bulu-
bulu di sisi atas dan bawah dari sayap (baik di permukaan bawah sayap atau di dasar bulu
sekunder). Kutu ini memakan bagian bulu halus, dengan bentuknya yang ramping
memungkinkan kutu hidup di antara duri bulu. Tepi duri digenggam dengan kaki dan tangan,
melindunginya dari kegiatan inang ketika bersolek.
Columbicola columbae betina menyimpan telur mereka di bagian bawah bulu sayap, di
sebelah tubuh merpati. Mereka bertelur hingga sembilan butir per hari di bulu inang. Telur
dilekatkan ke bulu di ruang antara bulu duri dan menetas antara tiga dan lima hari pada suhu
98.6 ° F (37 ° C). Bentuk nimfa dari kutu ini menyerupai bentuk tubuh orang dewasa
dan berkembang melalui tiga instar sebelum mereka mencapai kematangan seksual (Saif
2008).
Kutu adalah ektoparasit yang bersifat permanen. Akibatnya, kontrol mereka jauh lebih
mudah daripada kontrol ektoparasit yang bersifat sementara lainnya. Sebagian besar
insektisida kimia berdampak buruk bagi kesehatan unggas dan menginduksi residu
insektisida dalam daging dan telur. Selain itu, resistensi dari kutu semakin berkembang
terhadap pemberian insektisida. Tidak bijaksana apabila dilakukan penggunaan pestisida pada
bulu burung karena burung saat sedang membersihkan tubuhnya sekaligus memakan kutu-
kutu mereka. Akibatnya, efek samping dari insektisida kimia telah mendorong pencarian
alternatif baru (Chosidow et al. 1994).
Salah satu pestisida alami yang lebih direkomendasikan yaitu penggunaan piretroid
sintetik, seperti d-fenotrin, dan deltametrin, adalah pestisida yang berasal dari piretrin yang
terbentuk secara alami, diambil dari piretrum bunga krisan yang dikeringkan. Pestisida ini
secara kimiawi dirancang untuk menjadi lebih toksik dengan waktu jeda yang lebih rendah
dan diformulasikan dengan sinergis yang meningkatkan potensi dan mengkompromikan
kemampuan tubuh untuk mendetoksifikasi produk pestisida itu sendiri (Khater et al. 2009).
Selain itu, penggunaan minyak atsiri telah lama digunakan untuk aktivitas insektisida
terhadap banyak spesies serangga, termasuk kutu. Camphor, Cinnamomum camphora
(Keluarga: Lauraceae), telah lama dihargai karena kegunaan obatnya yang luar biasa. Ini
digunakan sebagai penyegar ruangan dan desinfektan makanan. Beberapa minyak esensial
Mesir, termasuk kapur barus, menunjukkan potensi dalam pengembangan insektisida baru,
termasuk cepat dan aman (Ullah et al. 2005).

Ctenocephalides felis

Taksonomi Ctenocephalides felis


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Siphonaptera
Famili : Pulicidae
Genus : Ctenocephalides
Species : Ctenocephalides felis

Gambar 18 Hasil pemeriksaan pinjal pada kucing (Ctenocephalides felis)

Morfologi tubuh pinjal terdiri atas kepala, thoraks dan abdomen. Bentuk pinjal dewasa
berbentuk pipih bilateral. Ctenocephalides felis merupakan pinjal yang berada pada kucing.
Pinjal ini mempunyai panjang 1.5 hingga 4 mm dengan warna kuning terang hingga cokelat
tua. Bagian thoraks terdiri tiga ruas yaitu prothoraks, mesothoraks dan metathoraks (Bowman
et al. 2002; Hadi dan Soviana 2010).
Pinjal memiliki tiga pasang tungkai yang panjang dan berkembang baik yang berfungsi
untuk lari dan melompat. Kepala pinjal berukuran kecil dan memiliki lekuk di belakang mata
yang berfungsi menyimpan antena bersegmen. Terdapat tiga segmen antena pada lekuk
tersebut. Sisi posterior protoras memiliki sederet duri besar yang disebut sisir pronotum
(pronotal ctenidium). Pinjal betina mempunyai organ yang disebut spermateka yang
berbentuk seperti kantung terletak di antara segmen enam sampai delapan. Organ ini
berfungsi untuk menyimpan sperma. Pinjal jantan memiliki organ penis berkhitin yang
disebut aedeagus. Pinjal jantan dan betina memiliki pigidium pada bagian ruas dorsal
abdomen ke delapan, yang fungsinya belum diketahui (Hadi dan Soviana 2010).
Gambar 19 Morfologi pinjal (Wall dan Shearer 2001)

Pinjal mengalami metamorfosis sempurna yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Pinjal
betina meletakkan telur-telurnya pada tempat yang dekat dengan inangnya. Telurnya menetas
dalam waktu 2 sampai 24 hari. Siklus hidup pinjal tergantung pada kondisi lingkungan. Larva
pinjal memakan sisa protein organik seperti rambut, bulu dan kotoran pinjal dewasa. Larva
terdiri dari sampai empat instar yang akan mengalami dua sampai tiga kali pergantian kulit
instar berkisar antara 10 sampai 21 hari. Setelah itu akan berubah menjadi pupa. Tahap
dewasa akan berkembang setelah 7-14 hari terbentuknya pupa. Pinjal dewasa senang
menghindari cahaya. Pinjal jantan dan pinjal betina sama-sama mengisap darah. Pinjal tidak
memiliki kekhususan inang (Hadi dan Soviana 2010; Levine 1994).
Pinjal menghisap darah dengan langsung menggigit inangnya. Efek gigitan pinjal
bergantung dari kepekaan inang. Apabila pinjal menghisap darah dalam jumlah banyak dapat
menyebabkan anemia. Saat sedang mengisap darah, pinjal juga menyekresikan saliva yang
dapat mengiritasi inang dan menimbulkan reaksi hipersensitifitas. Reaksi hipersensitif
tersebut dikenal sebagai Flea Alergic Dermatitis (FAD) (Noli 2009). Dermatitis dapat
diperparah dengan infeksi sekunder yang berlanjut menjadi alopecia (kebotakan). Selain
gangguan langsung, pinjal juga berperan secara tidak langsung dalam penularan beberapa
penyakit berbahaya bagi hewan dan manusia, misalnya pinjal berperan sebagai inang antara
D. caninum, selain itu juga sebagai vektor virus dan bakteri (Wall dan Shearer 2001).
Kucing yang mengalami gejala klinis kegatalan dan alopecia tidak dapat langsung
diartikan bahwa kucing tersebut mengalami alergi akibat gigitan pinjal, hal tersebut dapat
terjadi juga pada kasus alergi makanan ataupun dermatitis oleh agen yang lain. Untuk
mengetahui hewan terinfeksi Ctenocephalides dengan cara mengambil ektoparasit di kulit
hewan kemudian diidentifikasi di bawah mikroskop. Selain itu, uji yang dapat dilakukan
adalah uji serologis dengan menggunakan ELISA dan ekstrak pinjal atau saliva pinjal untuk
menilai konsentrasi alergen spesifik IgE pada serum darah (Noli 2009).

Rhipicephalus sanguineus

Taksonomi Rhipicephalus sanguineus


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Sub filum : Chelicerata
Kelas : Arachnida
Sub kelas : Acari
Ordo : Parasitiformes
Sub ordo : Metastigmata
Super famili : Ixodoidea
Famili : Ixodidae
Genus : Rhipicephalus
Spesies : Rhipicephalus sanguineus

Anggota dari famili Ixodidae memiliki shield atau disebut dengan scutum. Scutum
pada caplak jantan menutupi seluruh bagian dorsal dari caplak. Sedangkan pada caplak betina
scutum hanya melapisi sebagian bagian dari dorsal tubuh caplak (Bowman 2014). Tubuh
caplak dibagi menjadi dua bagian yaitu, gnatosoma dan idiosoma (abdomen). Pada bagian
gnatosoma dapat dijumpai kapitulum (kepala) dan bagian mulut yang terletak dalam suatu
rongga disebut kamerostom. Alat-alat mulut tersebut adalah hipostom, kelisera dan
pedipalpus. Nimfa dan caplak memiliki empat pasang tungkai, sedangkan larva caplak hanya
memiliki tiga pasang tungkai. Organ sensori caplak terdapat pada pasangan tungkai pertama
yang disebut dengan organ haller. Organ haller berfungsi sebagai reseptor kelembaban, kimia,
olfaktori dan mekanis (Hadi dan Soviana 2010).

A B
Gambar 20 Hasil pemeriksaan mikroskopis, (A) Rhipicephalus sanguineus pada anjing; (B)
larva Rhipicephalus sanguineus pada anjing (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Larva berkaki enam mengisap darah hingga kenyang, kemudian jatuh ke tanah dan
molting menjadi tahap nimfa berkaki delapan. Nimfa kemudian mencari inang untuk
menghisap darah, baru kemudian jatuh ke tanah dan berkembang menjadi caplak dewasa.
Caplak dewasa kawin pada tubuh inang, kemudian hidup pada tubuh inang selama satu
sampai tiga minggu untuk menghisap darah. Setelah tubuh nya menjadi sangat besar jatuh ke
lantai atau tanah baru kemudian bertelur dengan mengeluarkan 2000 sampai 4000 telur
beberapa minggu kemudian. Secara keseluruhan siklus tersebut membutuhkan waktu dua
sampai tiga bulan (Bowman 2014).

Gambar 21 Kapitulum larva Rhipicephalus sanguineus


Berdasarkan jumlah inang selama siklus hidupnya, caplak dibagi menjadi tiga yaitu
caplak berumah satu, caplak berumah dua, dan caplak berumah tiga.caplak berumah satu
merupakan jenis caplak yang semua stadiumnya larva, nimfa dan dewasa) tinggal dalam satu
inang yang sama. Misalnya adalah Boophilus microplus. Caplak berumah dua merupakan
larva dan nimfa tinggal dalam satu inang, sedangkan pada tahap dewasa tinggal pada inang
yang lain. Contohnya adalah Haemaphysalis dan Hyalomma. Caplak berumah tiga
merupakan caplak yang tiga tahap daur hidupnya masing-masing memerlukan inang yang
berbeda. Contohnya adalah Amblyomma (Hadi dan Soviana 2010).
Selain sebagai vektor dari berbagai penyakit caplak juga menyebabkan anemia dan rasa
gatal serta nyeri pada inangnya. Timbulnya rasa gatal akibat caplak dapat menyebabkan inang
menjadi tidak nyaman dan stress sehingga mengurangi nafsu makan dan menyebabkan luka
akibat di garuk oleh inang itu sendiri.

Sarcoptes scabiei

Taksonomi Sarcoptes scabiei


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Sub kelas : Acari (Acarina)
Ordo : Sarcoptiformes
Famili : Sarcoptidae
Genus : Sarcoptes
Spesies : Sarcoptes scabiei

Gambar 22 Hasil pemeriksaan mikroskopis Sarcoptes scabiei

Beberapa tungau sarcoptid yang bersifat obligat parasit pada kulit antara lain
Sarcoptidae (mamalia), Knemidokoptidae (burung/unggas) dan Teinocoptidae (kelelawar).
Famili sarcoptidae yang mampu menular ke manusia, yaitu Sarcoptes Scabiei, Notoeders cati
(kucing) dan Trixacarus caviae (marmut) (McCarthy et al. 2004).
Morfologi dari tungau S. scabiei berwarna putih krem dan berbentuk oval yang
cembung pada bagian dorsal dan pipih pada bagian ventral. Tungau betina dewasa berukuran
300-500 x 230-340 µm sedangkan yang jantan berukuran 213-285 x 160-210 pm. Permukaan
tubuhnya bersisik dan dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel
yang berjalan transversal (Gambar 22). Stadium larva mempunyai tiga pasang kaki
sedangkan dewasa dan nimfa mempunyai empat pasang kaki.
Siklus hidup dari telur hingga menjadi tungau dewasa memerlukan waktu 10-14 hari
sedangkan tungau betina mampu hidup berkisar 30-60 hari (Wendel dan Rompalo 2002).
Tungau betina mengeluarkan telur sebanyak 40-50 butir dalam bentuk kelompok-kelompok,
yaitu dua-dua atau empat-empat. Telur akan menetas dalam waktu tiga sampai empat hari dan
hidup sebagai larva di lorong-lorong lapisan tanduk kulit. Larva akan meninggalkan lorong,
bergerak ke lapisan permukaan kulit, membuat saluran-saluran lateral dan bersembunyi di
dalam folikel rambut. Larva berganti kulit dalam waktu dua sampai tiga hari menjadi
protonimfa dan tritonimfa yang selanjutnya menjadi dewasa dalam waktu tiga sampai enam
hari.
Umumnya, gejala klinis yang ditimbulkan akibat infestasi S. scabiei pada hewan
hampir sama, yaitu gatal-gatal, hewan menjadi tidak tenang, menggosok-gosokkan tubuhnya
ke dinding kandang dan akhirnya timbul peradangan kulit. Bentuk eritrema dan papula akan
terlihat jelas pada daerah kulit yang tidak ditumbuhi rambut. Apabila kondisi tersebut tidak
diobati, maka akan terjadi penebalan dan pelipatan kulit disertai dengan timbulnya kerak
(Walton et al. 2004). Gejala tersebut timbul kira-kira tiga minggu pasca infestasi tungau atau
sejak larva membuat terowongan di dalam kulit.
Selain zoonosis S. sacabiei juga menyebabkan penurun produksi daging dan kulit pada
hewan ternak dikarenakan hewan menjadi stres dan adanya rasa sakit serta peradangan.
Selain itu bagian tubuh dari hewan yang terkena skabies tidak layak untuk dikonsumsi karena
adanya penebalan kulit dan kerak kulit.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil identifikasi ektoparasit, dapat disimpulkan bahwa parasit


Haematopinus tuberculatus yang berhasil diperoleh berasal dari hewan kerbau yang berasal
dari Rumah Doa Anak Yatim. Pada hewan anjing dan merpati dari RSHP menunjukkan
adanya infestasi ektoparasit dari spesies Rhipicephalus sanguineus dan Columbicola
columbae. Sedangkan pada kucing liar yang diperoleh dari daerah Dramaga terinfestasi oleh
Ctenocephalides felis. Adapun parasit Sarcoptes scabiei ditemukan pada hewan pengerat
yaitu marmut dari kandang marmut UPHL.

DAFTAR PUSTAKA

Arroyo HS, Capinera JL. 2017. House fly, Musca domestica linnaeus
(insecta:diptera:muscidae). Florida (US). University of Florida. hlm 1-8.
Aston PO. 2012. Livestock Veterinary Entomologi. [Internet]. [diakses 2019 Agt 19]. Tersedia
pada: http://livestockvetento.tamu.edu/insectspests/mites/
Baticados WN, Fernandez CP, Baticados AM. 2011. Molecular detection of Trypanosoma
evansi in cattle from Quirino Province, Philippines. Vet archiv. 81(5): 635-646.
Bowman DD. 2014. Georgis` Parasitology for Veterinarians. Ed ke-10. Missouri (US):
Elseviers Saunders.
Carthy C, Kemp DJ, Walton SP, Currie BJ. 2004. Scabies: More than just an irritation.
Postgrad. Med J. 80: 382-387.
Carvalho CJB, Mello-Patiu CA. 2008. Key to the adult of the most common forensic species
of diptera in South America. Revista Brasileira de Entomologia. 52(3): 390-406.
[CDC] Centers for Disease Control and Preventive. 2011. Japanese encephalitis vaccine.
What you need to know. [Terhubung berkala]. [diakses 2019 Agt 18]. Tersedia pada:
http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/vis/downloads/vis-je-ixiaro.pdf
Chosidow O, Brue C, Chastang C, Bouvet E, Izri MA, Rousset JJ, Monteny N, Bastuji-Garin
S, Revuz J. 1994. Controlled study of malathion and d-phenothrin lotions for Pediculus
humanus var capitis infested schoolchildren. The Lancet. 344(8939-8940): 1724-1727.
Cotter J. 2009. Lice Infestation on Cattle. Western Australia (AU): Western Australian
Agriculture Authority.
Da Silva AS, Lopes LS, Diaz JDS, Tonin AA, Stefani LM, Araújo DN. 2013. Lice outbreak in
buffaloes: Evidence of Anaplasma marginale transmission by sucking lice
Haematopinus tuberculatus. J Parasitology. 99(3): 546-547.
Defra. 2011. Tabanus bromius. [Terhubung berkala]. [diakses 2019 Agt 18]. Tersedia pada:
http://influentialpoints.com/Gallery/Tabanus_bromius_band-eyed_brown_horsefly.htm
Desoky AESS. 2014. The relationship between sex and age of buffalo’s infestation with
ectoparasites in Sohag Governorate, Egypt. J Sci. 31-33.
[DITJENNAK] Direktorat Jenderal Peternakan. 2012. Manual Penyakit Unggas. Jakarta
(ID): Direktorat Jenderal Peternakan.
El-Hassan GMMA, Badrawy HBM, Mohammad AK, Fadl HH. 2010. Cladistic analysis of
Egyptian horse flies (Diptera: Tabanidae) based on morphological data. Egypt Acad J
Biolog Sci. 3(2): 51-62.
Encuclopaedia Britannica. 2016. Horse fly. [Terhubung berkala. [diakses 2019 Agt 18].
Tersedia pada: https://www.britannica.com/animal/horse-fly#ref156421
Hadi UK, Soviana S. 2006. Ektoparasit Pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya.
Bogor (ID): IPB Pr.
Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit Pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya.
Bogor (ID): IPB Pr.
Hadi UK, Soviana S. 2013. Ektoparasit : Pengenalan identifikasi dan pengendaliannya. Ed-
3. Bogor (ID): IPB Pr. Hlm 30.
Jacob JP, Wilson HR, Miles RD. 2012. Factors Affecting Egg Production in Backyard
Chicken Flocks Publication. Florida (US): Florida Cooperative Extension Service,
Institute of Food and Agricultural Sciences, IFAS, University of Florida. [Internet].
[diakses 2019 Agt 20]. Tersedia pada: http://edis.ifas.ufl.edu/ps029
Kakar MN, Kakarsulemankhel JK. 2009. Prevalance of endo (trematodes) and ectoparasites
in cows and buffaloes of Quetta, Pakistan. Pakistan Vet J. 28(1): 34-36.
Kesumawati U. 2011. Lipas Berpita Coklat (Periplaneta americana). [Terhubung berkala].
[diakses 2019 Agt 18]. Tersedia pada: http://upikke.staff.ipb.ac.id/files/2011/05/Lipas-
berpita-coklat-S-longipalpa-ok.pdf
Khater HF, Ramadan MY, El-Madawy RS. 2009. Lousicidal, ovicidal and repellent efficacy
of some essential oils against lice and flies infesting water buffaloes in Egypt. Vet
Parasitol. 164(2009): 257-266.
Kummer A. 2013. “Columbicola columbae” (On-line), animal diversity web. [Internet].
[diakses 2019 Agt 20]. Tersedia pada:
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Columbicola_columbae/
Long W. 2014. Tabanus atratus. [Terhubung berkala]. [diakses 2019 Agt 18]. Tersedia pada:
http://animaldiversity.org/accounts/Tabanus_atratus/
Mulyatno, Cahyo K. 2010. Morfologi, Siklus Hidup, Habitat dan Penyakit yang Ditularkan
oleh Nyamuk Culex sp. Malang (ID): ITD Airlangga Univ Pr.
Natadisastra D, Agoes R. 2009. Parasitolgi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang
Diserang. Jakarta (ID): EGC.
Noli C. 2009. Flea allergy in cats clinical signs and diagnosis. EJCAP. 19: 248-253.
Queensland Government. 2016. Horse flies (family tabanidae). [Terhubung berkala]. [diakses
2019 Agt 18]. Tersedia pada:
http://www.qm.qld.gov.au/Find+out+about/Animals+of+Queensland/Insects/Flies/Com
mon+species/Horse+flies#.V-ER1PCLTIU
Rinidar. 2010. Pemodelan kontrol malaria melalui pengelolaan terintegrasi di Pemukiman
Lamteuba, Nangroe Aceh Darussalam [tesis]. Medan (ID): Sekolah Pascasarjana
Program Doktor Universitas Sumatera Utara.
Safar R. 2010. Parasitologi Kedokteran: Protozoologi, Entomologi dan Helmintologi. Ed ke-
1. Bandung (ID): Yrama Widya.
Saif YM. 2008. Diseases of Poultry. Ed ke-12. Arnes (US): Iowa State University Pr.
Sousa ARM, Júnior WC, de Carvalho GC, Nardi MS, Araujo AB, Vendrami DP. 2015.
Diversity and abundance of mosquitoes (Diptera: Culicidae) in an urban park: Larval
habitats and temporal variation. Acta Tropica. 150: 200-209.
Susanna, Sembiring. 2011. Entomologi Kesehatan. Jakarta (ID): Univ Indonesia Pr.
Susanti L, Boesri H. 2011. Efektifitas cat tembok berinsektisida dalam upaya pengendalian
lipas (Periplaneta americana). J Ekol Kes. 10(4).
Sutanto, Inge, Ismid IS. 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta (ID): Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran UI.
Townsend L. 2016. Horse flies and deer flies. [Terhubung berkala]. [diakses 2019 Agt 18].
Tersedia pada: https://entomology.ca.uky.edu/ef511
Tyalor MA, Coop R, Wall R. 2007. Veterinary Parasitology. Ed ke-3. Oxford (UK):
Blackwell Publishing.
Ullah A, Khan MS, Khan JA, Pervez K, Avais M, Maqbool A. 2005. Effect of dilution and
route of ivermectin on lice infested domestic pigeons. Int J Agri Biol. 7(5): 855-856.
Wall R, Shearer D. 2001. Veterinary Ectoparasites: Biology, Pathology and Control. Ed ke-2.
Iowa (US): Iowa State Univ Pr.
Wall R, Shearer D. 2012. Veterinary Ectoparasites. London (UK): Blackwell Sciences Ltd.
Walton SF, Mckinnon M, Pizzutro S, Dougall A, Williams E, Currie BJ. 2004. Acaricidal
activity of Melaleuca alternifolia (tea tree) oil. In vitro sensitivity of Sarcoptes scabiei
var hominis to Terpinen-4-ol. Arch Dematol. 140(5): 563-566.
Watson DW, Denning S, Calibeo-Hayes DI, Stringham SM, Mowreya RA. 2007. Comparison
of two fly trap for the capture of horse flies (Diptera: Tabanidae). J Entomol Sci. 42(2):
123-132.
Wendel J, Rompam A. 2002. Scabies and pediculosis pubis: an update of treatment regimens
and general review. CID. 35(2): 146-151.
[WHO] World Health Organization. 2018. Chapter 5: Cockroaches. [Internet]. [diakses 2019
Agt 18]. Tersedia pada: http://www.who.int/water_sanitation_health/resources/vector
288to301.pdf