Anda di halaman 1dari 3

manusiawi, dan bisa membuat pelaku kekerasan seksual sadar, misalnya rehabilitasi dan kerja

DEWAN INI SETUJU RUU PKS DISAHKAN SEBAGAI UNDANG-UNDANG sosial. Hukuman seperti itu sangat mungkin diterapkan dengan RUU ini. Nah, yang terakhir,
RUU PKS menekankan bahwa upaya penanggulangan kekerasan seksual adalah tanggung
jawab bersama, terutama negara.
PRO

Apa yang dimaksud dengan RUU PKS? Penting bagi kita, terutama perempuan untuk mengetahui urgensi pengesahan RUU PKS ini.
Sesuai namanya, RUU PKS adalah Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Kenapa? Ini alasannya.
Seksual. RUU ini dirancang oleh sekelompok masyarakat sipil yang berinisiatif dengan
Forum Pengada Layanan. Forum itu terdiri dari 128 organisasi yang selama ini menangani 1. Angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terus meningkat
kasus-kasus pelecehan seksual. Organisasi-organisasi tersebut seperti Rifka Annisa, beberapa
lembaga bantuan hukum aktif di Jakarta, dan lain sebagainya yang bekerja sama dengan Ada 15 bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan dalam kurun waktu 10 tahun
Komnas Perempuan. itu. Sebagian bisa ditangani dengan mengedukasi masyarakat tanpa pendekatan hukum, tapi
ada sebagian lainnya yang butuh pendekatan hukum. Jika tidak ada pendekatan hukum, kita
akan terus membiarkan korban tanpa pemulihan dan pelaku melenggang tanpa adanya tindak
RUU ini dirancang karena marak terjadinya kasus kekerasan seksual. Banyak kasus yang hukum.
dilaporkan ke lembaga pelayanan, tapi tidak diproses secara hukum karena beberapa faktor.
Salah satu faktornya adalah keterbatasan kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan 2. Penyelesaian kasus kekerasan seksual selama ini seringkali merugikan bagi
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dalam mengatur apa yang disebut perempuan korban
sebagai kekerasan seksual. Memang, di dalamnya mengatur perkosaan, pencabulan, Contohnya kasus pelecehan seksual yang dialami Agni (bukan nama sebenarnya), mahasiswi
pemaksaan aborsi, dan perdagangan anak. Namun, definisi dari setiap aturan sangatlah UGM saat kuliah kerja nyata (KKN) pada Juli 2017. Kasus ini berakhir dengan jalan damai
terbatas. atau lebih tepatnya menyepakati hak-hak yang harus diperoleh Agni dan hal-hal yang harus
dilakukan HS setelah kesepakatan dibuat. Hal itu dibenarkan oleh pihak Rektor Universitas
Mengapa RUU PKS penting? Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono yang mengatakan jika Agni dan HS (pelaku pelecehan
Pertama, RUU PKS berbicara soal pencegahan terhadap kasus kekerasan seksual. Kasus seksual), sepakat kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.
kekerasan seksual terus menerus sulit ditangani dan penanganannya sangat membuang-buang
3. Tidak adanya sistem pemidanaan dan penindakan terhadap beberapa jenis
waktu serta tenaga. Maka, seharusnya yang terpenting adalah menghentikan kekerasan
kekerasan seksual selama ini
tersebut. Pencegahan itu meliputi berbagai sektor dan pendidikan menjadi yang utama.
Kedua, RUU PKS memberikan perspektif untuk perlindungan korban karena selama ini Menurut Komnas Perempuan, terdapat sembilan jenis tindak pidana kekerasan seksual yang
hukum pidana tidak berperspektif korban. Selalu, yang dipersoalkan dalam hukum pidana tercakup dalam RUU PKS. Di antaranya adalah pelecehan seksual, eksploitasi seksual,
adalah hak tersangka, bukan hak korban. Nah, dalam RUU PKS, perspektif penanganan dan pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan
pemulihan korban menjadi yang utama. Ketiga, soal pemulihan yang tidak terbatas pada pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual.
waktu dibawanya kasus kekerasan seksual ke pengadilan dan diputuskan. Pemulihan
seharusnya sudah dilakukan sejak adanya kasus. Tidak adanya pengaturan sembilan jenis tindak pidana kekerasan seksual juga sama halnya
dengan tidak adanya pemidanaan dan penindakan terhadap pelaku, sehingga membuka ruang
bagi pelaku untuk bisa bebas tanpa jeratan hukum. Bahkan tanpa adanya aturan tersebut,
Keempat, berkaitan dengan hukuman yang manusiawi. Setiap pelaku kekerasan seksual tak korban tidak bisa memperoleh pemulihan atas hak-hak yang hilang dan kerugian yang
selalu harus mendapatkan hukuman penjara karena itu hukuman yang sangat klasik dan lebih dialami akibat kekerasan seksual.
mengarah kepada balas dendam. Hukuman yang diberikan seharusnya bersifat edukatif,
1
4. Korban dan keluarga akan mendapat dukungan proses pemulihan dari negara a. pelecehan seksual
Dalam RUU PKS, Komnas Perempuan mengusulkan agar tercipta bentuk payung hukum
yang lebih memperhatikan kebutuhan korban pasca mengalami pelecehan seksual. Karena Didefinisikan pada Pasal 12 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan
pada dasarnya kekerasan seksual tidak hanya membuat korban terluka secara fisik, tetapi juga fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan
psikis. Hal itu juga akan dialami oleh keluarga dan saksi korban. Mereka akan mengalami terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau
penderitaan yang berlapis dan bersifat jangka panjang akibat kekerasan seksual. dipermalukan.
"Definisi tidak jelas dan bisa berekses pada tafsir sepihak dan digunakan untuk mengkriminalisasi
“Sejauh ini kami telah memiliki Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan
kritik moral masyarakat atas perilaku menyimpang. (1) Bisa mengkriminalisasi misalnya kritik
Anak (P2TP2A) untuk membantu proses pemulihan korban kekerasan seksual. Di daerah masyarakat terhadap perilaku menyimpang LGBT. (2) Mengkriminalisasi kritik terhadap gaya
sudah banyak bertambah, itu tandanya masyarakat sudah mulai sadar akan isu tentang berpakaian muda-mudi bahkan seks di luar nikah yang sudah demikian parah datanya. Jangan hal-
kekerasan terhadap perempuan ini,” ungkap Azriana kepada kumparanSTYLE. hal tersebut sampai dikriminalisasi atas nama pelecehan seksual. Padahal sejatinya kritik tersebut
justru menjaga moralitas generasi bangsa sesuai nilai-nilai Pancasila dan agama. Bahkan
5. Pelaku kekerasan seksual akan mendapat akses untuk rehabilitasi semestinya RUU mengatur dengan tegas larangan perilaku menyimpang seperti LGBT," kata
RUU PKS mengusulkan pengaturan tindakan berupa rehabilitasi khusus yang hanya Jazuli.
diberikan bagi pelaku pelecehan seksual non-fisik dan pelaku berusia di bawah 14 tahun. b. pemaksaan aborsi
Ini sangat penting untuk perubahan pola pikir serta sikap dan mencegah untuk perbuatan yang Didefinisikan pada Pasal 15 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk memaksa
sama terulang di masa depan orang lain untuk melakukan aborsi dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat,
rangkaian kebohongan, penyalahgunaan kekuasaan, atau menggunakan kondisi seseorang yang
tidak mampu memberikan persetujuan.
"Definisi ini jangan sampai dipahami bahwa aborsi menjadi boleh selama tidak ada unsur
'memaksa orang lain'. Tingkat aborsi di luar nikah sangat tinggi, antara lain sebagai ekses perilaku
seks bebas/seks di luar nikah. Untuk mencegah hal itu maka aturan pelarangan aborsi (kecuali
alasan yang sah secara medis) harus diatur terlebih dahulu dalam RUU," kata Jazuli.

KONTRA c. pemaksaan perkawinan;


Didefinisikan pada Pasal 17 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk
menyalahgunakan kekuasaan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian
Jazuli lantas berbicara soal lingkup tindak pidana kekerasan seksual. Dengan nama RUU kebohongan, atau tekanan psikis lainnya sehingga seseorang tidak dapat memberikan persetujuan
Penghapusan Kejahatan Seksual seperti usulan mereka, PKS ingin fokus RUU tidak melebar ke yang sesungguhnya untuk melakukan perkawinan.
isu-isu di luar kejahatan seksual. Sehingga, lanjut dia, fokus hanya pada tindak kejahatan seksual,
yaitu pemerkosaan, penyiksaan seksual, penyimpangan perilaku seksual, pelibatan anak dalam "Definisi ini bisa ditafsirkan sepihak terhadap kearifan dalam kehidupan keluarga masyarakat
tindakan seksual dan inses. beradat/budaya timur (relasi orang tua dan anak) sehingga memungkinkan seorang anak
mengkriminalisasi orang tuanya yang menurut persepsinya 'memaksa' menikah. Padahal bisa jadi
Pembatasan tersebut, lanjut Jazuli, sekaligus memperjelas jenis tindak pidana dalam RUU permintaan/harapan orang tua itu demi kebaikan anaknya," sebut Jazuli.
sehingga tidak membuka tafsir bebas sebagaimana yang dikritik masyarakat luas saat ini. Jazuli
memerinci kritik-kritik sejumlah definisi seperti yang tertuang dalam draf RUU Penghapusan d. pemaksaan pelacuran;
Kekerasan Seksual: Didefinisikan pada Pasal 18 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan,
ancaman kekerasan, rangkaian kebohongan, nama, identitas, atau martabat palsu, atau
2
penyalahgunaan kepercayaan, melacurkan seseorang dengan maksud menguntungkan diri sendiri
dan/atau orang lain.
"Definisi tindak pidana harus dilengkapi dengan pengaturan bahwa pelacuran dan/atau perzinahan
atas alasan apapun secara prinsip Pancasila dan Agama dilarang di republik ini. Sehingga secara
otomatis pemaksaan pelacuran dan/atau perzinahan menjadi tegas terlarang," ucap Jazuli.
e. perbudakan seksual;
Didefinisikan pada Pasal 19 sebagai Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk membatasi
ruang gerak atau mencabut kebebasan seseorang, dengan tujuan menempatkan orang tersebut
melayani kebutuhan seksual dirinya sendiri atau orang lain dalam jangka waktu tertentu.
"Definisi harus diperjelas agar tidak merusak tatanan lembaga perkawinan yang memiliki
aturan/norma tersendiri secara agama, terutama dalam hal kewajiban serta adab-adab hubungan
seksual suami-istri yang sah," tegas Jazuli.

Solusi PKS, Syariat Islam Diterapkan


Kenapa syariat Islam? Karena Islam adalah satu-satunya agama yang memilki sistem hidup
yang lengkap. Islam memiliki solusi rinci menyelesaikan masalah pornografi. Mulai dari
perintah menutup aurat, menundukkan pandangan, larangan khalwat, ikhtilat, pemisahan
kehidupan laki-laki dan perempuan, larangan tayangan porno, larangan zina, perintah
melakukan amar ma'ruf nahi munkar bagi masyarakat, hingga sanksi tegas bagi pezina berupa
jilid atau rajam.
Islam melibatkan tiga pilar dalam pelaksanaan solusinya. Ketiga pilar tersebut adalah
ketaqwaan individu, pengawasan masyarakat dan ketegasan negara. Keseluruhan aturan
tersebut akan efektif mencegah dan menyelesaikan terjadinya kekerasan seksual. Sementara
ide kesetaraan jender justru akan membebaskan perempuan untuk mempertontonkan aurat
agar diakui setara dengan laki-laki. Hal ini akan memperparah kasus pelecehan seksual.