Anda di halaman 1dari 15

TALITHA PROPERTY

STEP 3
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi saluran pernafasan? Gambar, tujuan, fungsi,
keistimewaan

Yokochi’s Color Atlas of Anatomy 7th Ed


TALITHA PROPERTY
TALITHA PROPERTY

Sherwood’s introduction to human physiology 8 th ed

2. Bagaimana mekanisme respirasi? Bagaimana kapasitas dn volume paru secara normal


Fisiologi
Respirasi mencakup dua proses yang terpisah tetapi berkaitan: respirasi selular dan
respirasi eksternal.
TALITHA PROPERTY

RESPIRASI SELULAR
Istilah respirasi selular merujuk pada proses-proses metabolik intrasel yang dilaksanakan
di dalam mitokondria, yang menggunakan O2 dan menghasilkan CO2 selagi mengambil
energi dari molekul nutrien. Kuosien resipirasi (respiratory quotient, RQ), rasio CO2 yang
dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi, bervariasi bergantung pada jenis makanan
yang dikonsumsi. Jika karbohidrat yang digunakan maka RQ adalah 1; yaitu, untuk setiap
molekul O2 yang dikonsumsi, satu molekul CO2 diproduksi. Untuk lemak, RQ adalah 0,7;
untuk protein, RQ adalah 0,8. Pada diet khas Amerika Serikat yang terdiri dari campuran
ketiga nutrien ini, konsumsi O2 istirahat adalah sekitar 250 ml/mnt, dan untuk RQ rerata
0,8:

RESPIRASI EKSTERNAL
Istilah respirasi eksternal merujuk ke seluruh rangkaian kejadian dalam pertukaran O2
dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh. Respirasi eksternal, topik bab ini,
mencakup empat langkah (Gambar 13-1):
Langkah 1
Udara secara bergantian dimasukkan ke dalam dan dikeluarkan dari paru sehingga udara
dapat dipertukarkan antara atmosfer (lingkungan eksternal) dan kantong udara
(alveolus) paru. Pertukaran ini dilaksanakan oleh tindakan mekanis bernapas, atau
ventilasi. Kecepatan ventilasi diatur untuk menyesuaikan aliran udara antara atmosfer
dan alveolus sesuai dengan kebutuhan metabolik tubuh terhadap ambilan O2 dan
pengeluaran CO2.

Langkah 2
O2 dan CO2, dipertukarkan antara udara di alveolus dan darah di dalam kapiler
pulmonal (pulmonal berarti "paru") melalui proses difusi.
Langkah 3
Darah mengangkut O2 dan CO2 antara paru dan jaringan.
Langkah 4
O2 dan CO2 dipertukarkan antara sel jaringan dan darah melalui proses difusi
menembus kapiler sistemik (jaringan). Sistem respirasi tidak melaksanakan semua
tahap atau langkah respirasi; sistem ini hanya berperan dalam ventilasi dan pertukaran
O2 dan CO2 antara paru dan darah (langkah 1 dan 2). Sistem sirkulasi terlibat dalam
langkah 2 dan melaksanakan langkah 3 dan 4

FUNGSI NON-RESPIRATORIK SISTEM RESPIRASI


Sistem respirasi juga melaksanakan fungsi-fungsi non-respiratorik berikut ini.
■Sistem respirasi merupakan rute untuk mengeluarkan air dan eliminasi papas. Udara
atmosfer yang dihirup (diins pirasi) dilembapkan dan dihangatkan oleh saluran napas
sebelum dihembuskan. Pelembapan udara yang masuk merupakan hal yang esensial
untuk mencegah dinding alveolus mengering. O2 dan CO2 tidak dapat berdifusi melalui
membran yang kering.
■Sistem respirasi meningkatkan aliran balik vena
TALITHA PROPERTY

■Sistem respirasi membantu mempertahankan kesimbangan asam- basa normal dengan


mengubah jumlah CO2 penghasil H+ yang dikeluarkan.
■ Sistem respirasi memungkinkan kita berbicara, menyanyi, dan vokalisasi lain
■Sistem respirasi merupakan sistem pertahanan terhadap benda asing yang terhirup.
Sistem respirasi mengeluarkan, memodifikasi, mengaktifkan, atau menginaktifkan
berbagai bahan yang mengalir melewati sirkulasi paru. Semua darah yang kembali ke
jantung dari jaringan harus melewati paru sebelum dikembalikan ke sirkulasi sistemik.
Karena itu, paru terletak secara unik untuk bekerja pada bahan-bahan spesifik yang
telah ditambahkan ke darah di tingkat jaringan sebelum bahan-bahan tersebut memiliki
kesempatan untuk mencapai bagian tubuh lain melalui sistem arteri. Sebagai contoh,
prostaglandin, suatu kumpulan caraka kimiawi yang dibebaskan di banyak jaringan untuk
memerantarai respons lokal tertentu, dapat tumpah ke dalam darah, tetapi bahan-
bahan ini diinaktifkan ketika mengalir melewati paru sehingga mereka tidak
menimbulkan efek sistemik. Sebaliknya, paru mengaktifkan angiotensin II, yaitu suatu
hormon yang berperan penting dalam mengatur konsentrasi Na+ di CES

Sherwood’s introduction to human physiology 8th ed hal. 483


3. Apa etiologi sesak nafas ?
- Ditemukan riwayat alergi
- Dipicu oleh pemajanan terhadap allergen
- Faktor genetic (kecenderungan memproduksi antibody jenis IgE yang berlebihan.
Seseorang yang mempunyai predisposisi memproduksi IgE berlebihan disebut
mempunyai sifat atopic, sedangkan keadaannya disebut atopi.)
Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 100

Pada asma, sumbatan saluran napas disebabkan oleh


(1) menebalnya dinding saluran napas, yang ditimbulkan oleh peradangan dan edema
yang dipicu oleh histamin
(2) tersumbatnya saluran napas oleh sekresi berlebihan mukus kental
(3) hiperresponsivitas saluran napas, yang ditandai oleh konstriksi hebat saluran napas
kecil akibat spasme otot polos yang diinduksi oleh pemicu di dinding saluran napas.
Pemicu yang menyebabkan peradangan, respons bronkokonstriksi yang berlebihan, atau
keduanya ini mencakup pajanan berulang ke alergen (misalnya, kutu debu rumah atau
serbuk sari tanaman), iritan (misalnya, asap rokok), infeksi pernapasan, dan olahraga
berlbihan. Semakin banyak penelitian yang menunjukan bahwa infeksi jangka-panjang
oleh Chlamydia pneumoniae, suatu kausa infeksi paru yang umum dijumpai, mungkin
mendasari hampir separuh dari kasus asma dewasa. Pada serangan asma yang berat,
penyumba- tan dan penyempitan hebat saluran napas dapat menghentikan ali- ran
udara dan menyebabkan kematian.

Sherwood’s introduction to human physiology 8th ed hal. 493

4. Apa saja factor resiko sesak nafas disertai mengi? (riwayat atopic keluarga)
a. Faktor pejamu (host)
- Predisposisi genetic
- Atopi
- Hiperesponsif jalan nafas
- Jenis kelamin
TALITHA PROPERTY

- Ras / etnik
b. Factor lingkungan yang mempengaruhi berkembangnya asma pada individu dengan
predisposisi asma
- Allergen di dalam ruangan (mite domestic, allergen binatang, kecoa, jamur)
- Allergen di luar ruangan (tepung sari Bungan, jamur)
- Bahan di lingkungan kerja
- Asap rokok (perokok pasif dan aktif)
- Polusi udara (didalam dan luar ruangan)
- Infeksi pernafasan, parasite
- Status sosioekonomi
- Besar keluarga
- Diet, obat obesitas
c. Factor lingkungan yang mencetuskan eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-
gejala asma menetap
- Allergen di dalam dan di luar ruangan
- Polusi di dalam dan di luar ruangan
- Infeksi pernafasan
- Exercise dan hiperventilasi
- Perubahan cuaca
- Sulfur dioksida
- Makanan, adiktif (pengawet, penyedap, pewarna makanan), obat-obatan
- Ekspresi emosi yang berlebihan
- Asap rokok
- Iritan (ex: parfum, bau-bauan merangsang, household spray)

Penatalaksanaan asma bronkial Dwi Yuliati, Susanthy Djajalaksana – hal. 5

5. Mengapa terdengar bunyi wheezing?


Mengi/wheezing adalah napas yang berbunyi seperti suling yang menunjukkan adanya
penyempitan saluran napas, baik secara fisiologik (karena dahak) maupun secara
anatomic (karena konstriksi). Wheezing dapat terjadi secara difus di seluruh dada seperti
pada asma atau secara local seperti pada penyumbatan oleh lendir atau benda asing.
Wheezing juga dapat timbul saat melakukan kegiatan agak berat (exercise induced). Jika
wheezing didahului oleh batuk di malam hari saat tidur, mungkin disebabkan oleh
aspirasi refluks esophagus. Wheezing juga dapat disebabkan oleh central venous pooling
akibat adanya gagal jantung.

Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 55

Pada saat insipirasi brongkus cenderung melebar sedangkan pada saat ekspirasi
diameter brongkus cenderung mengecil, sehingga nanti akan mengakibatkan aliran
turbelen pada saat ekspirasi.

Guyton & hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC.

6. Mengapa sesak terjadi saat bermain futsal udara dingin, marah marah, batuk pilek
secara terus menerus dan tidak berkurang saat istirahat?
Aktivitas gerak badan dapat memprovokasi saluran pernapasan yang heperreaktif
sehingga timbul bronkonstriksi. Hal yang berperan sebagai provokator adalah proses
pendinginan dan pengeringan saluran pernapasan. Pada orang melakukan kegiatan
olahraga, ventilasi-menitnya akan meningkat. Sebelum masuk ke paru, udara yang
TALITHA PROPERTY

dingin dan kering harus dipanasi dan dijenuhkan dengan uap air oleh epitel
trakeobronkial. Epitel trakeobronkial menjadi dingin dan kering sehingga menyebabkan
bronkokonstriksi saluran pernapasan. Pada percobaan, fenomena bronkokonstriksi
sperti exercise induced asthma dapat timbul jika seseorang menghirup udara dingin dan
kering sebanyak ventilasi-menit yang diperlukan untuk terjadinya exercise induced
asthma tanpa harus melakukan exercise

Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP

Kondisi cuaca yang berlawanan seperti temperatur dingin, tingginya kelembaban dapat
menyebabkan asma lebih parah, epidemik yang dapat membuat asma menjadi lebih
parah berhubungan dengan badai dan meningkatnya konsentrasi partikel alergenik.
Dimana partikel tersebut dapat menyapu pollen sehingga terbawa oleh air dan udara.
Perubahan tekanan atmosfer dan suhu memperburuk asma sesak nafas dan
pengeluaran lendir yang berlebihan. Ini umum terjadi ketika kelembaban tinggi, hujan,
badai selama musim dingin. Udara yang kering dan dingin menyebabkan sesak di saluran
pernafasan.

7. Mengapa pasien diberi edukasi untuk melakukan olah raga renang?


Air adalah media yang sangat ideal bagi program rehabilitasi, ketika berdiri pada
kedalaman sebahu maka terjadi pengurangan berat badan sebesar 90%, selain itu air
juga mngurangi tekanan musculoskeletal dan persendian. Contoh lainnya ialah terapi
kolam renang dengan air hangat yang memberi dampak kebebasan bergerak bagi pasien
dan mengurusi rasa sakit. Terapi di dalam kolam renang memungkinkan untuk berdiri
bebas tanpa pegangan sehingga memiliki manfaat tidak terjadi benturan dan tekanan
sebagaimana bila dilakukan di daratan. Artinya, terapi dengan media kolam renang
sangat banyak manfaatnya pada penderita dengan gangguan muskuloskalatal. Olahraga
renang adalah olahraga yang paling baik untuk penyembuhan asma, apalagi penderita
asma tersebut masih berusia muda.
Menurut Haller, David (2015, Hlm 16) Renang Gaya Dada adalah gaya yang pertama-
tama dipelajari oleh orang-orang pada waktu mereka mulai belajar berenang. Renang
Gaya Dada atau Gaya Katak adalah berenang dengan posisi dada menghadap ke
permukaan air, namun berbeda dari gaya bebas, batang tubuh selalu dalam keadaan
tetap. Kedua belah kaki menendang ke arah luar sementara kedua belah tangan
diluruskan di depan. Kedua belah tangan dibuka ke samping seperti gerakan membelah
air agar badan maju lebih cepat ke depan. Hydro Therapy atau terapy air adalah metode
perawatan dan penyembuhan air untuk mendapatkan efek-efek trafis (Chaiton, 2002,
Hlm 67). Hydro Therapy merupakan salah satu metode yang efektif dalam mengurangi
rasa nyeri dan dapat dilakukan dengan mudah.

Pengaruh Olahraga Renang Gaya Dada Sebagai Hydro Therapy Terhadap Penurunan
Intensitas Kambuh Pada Penyakit Asma - Ganjar Rulianto, Indra Safari M.Pd , Respaty
Mulyanto M.Pd
8. Mengapa sesak nafas sempat berkurang saat diberi salbutamol (bronkodilator),
kortikosteroid, mukolitik?
salbutamol adalah obat golongan agonis yang dapat merangsang akitivitas reseptor B2,
obat ini dapat menimbulkan relaksasi oto polos bronkus.
TALITHA PROPERTY

Farmakologi dan terapi. 2010. Edisi 5. FKUI


9. Apasaja manifestasi klinis sesak nafas disertai mengi?
Ciri- ciri yang sangat penting dari asma diantaranya dyspnea, suara mengi, obstruksi
jalan napas reversible terhadap bronkodilator, bronkus yang hiperresponsif terhadap
berbagai stimulus baik yang spesifik maupun nonspesifik, dan peradangan saluran
pernafasan.
Serangan asma ditandai dengan batuk, mengi, serta sesak napas. Gejala yang sering
terlihat jelas adalah penggunaan otot napas tambahan, timbulnya pulsus paradoksus,
serta timbulnya Kussmaul’s sign. Pasien akan mencari posisi yang enak, yaitu duduk
tegak dengan tangan berpegangan dengan sesuatu agar bahu tetap stabil, biasanya
berpegangan pada lengan kursi, dengan demikian otot napas tambahan dapat bekerja
dengan lebih baik.
Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 101

10. Bagaimana patofisiologi sesak nafas? Berhenti dn terus menerus (sesak nafas respi dan
non respi)

Sesak nafas:
- System kardiovaskular : gagal jantung
- System pernapasan : PPOK, penyakit parenkim paru, hipertensi pulmonal,
kifoskoliosis berat, factor mekanik diluar paru (asites, obesitas, efusi pleura)
- Psikologis (kecemasan)
- Hematologi (anemia kronik)

Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 55

11. Apa diagnosis dan DD serta klasifikasi pada sesak nafas disertai mengi?
Diagnosis : Asma
DD :

Dewasa
PPOK
Bronkitis kronik
Gagal jantung kongestif
Batuk kronik akibat lain lain
Disfungsi laring
Obstruksi mekanis
Emboli paru
Anak-Anak
Rinosinusitis
Refluks gastroesofageal
Infeksi respiratorik berulang
Displasia bronkopulmoner
TALITHA PROPERTY

TB
Malformasi kongenital
Aspirasi benda asing
Sindrom diskinesia silier primer
Defisiensi imun
PJB

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1023/MENKES/SK/XI/2008 tentang


Pedoman Pengendalian Penyakit Asma.

Klasifikasi asma
 Asma bronkial yang berkaitan dengan penderita yang mempunyai riwayat
pribadi/keluarga dengan kelainan atopic:
- Asma ekstrinsik / asma alergik
 Asma bronkial yang pada penderita yang tidak ada kaitannya dengan diatesis atopic
- Asma intrinsic / asma idiosinkratik

*atopi: suatu keadaan respons seseorang yang tinggi terhadap protein asing yang sering
bermanifestasi berupa rhinitis alergika, urtikaria, atau dermatitis

Asma ekstrinsik (alergik) Asma intrinsic (idiosinkratik)


Mulai terjadinya Saat kanak-kanak Saat dewasa
Kadar IgE serum Meningkat Normal
Mekanisme terjadinya Mekanisme imun Non-imun

Penamaan asma yang lain:

- Drug induced asthma


Serangan ini dapat terjadi pada penderita sma yang biasanya tahan terhadap
penggunaan aspirin selama bertahun-tahun tanpa menyebabkan serangan asma. Pada
keadaan ini, pretreatment dengan menggunakan antihistamin, teofilin ataupun
cromolyn tidak dapat mencegah terjadinya serangan bronkokontriksi. Kemungkinan
terjadinya drug induced asthma harus dicurigai pada penderita yang pengendalian
asmanya sulit dan yang pengendalian asmanya tergantung pada steroid
- Exercise-induced asthma
Aktivitas exercise sering memprovokasi saluran pernafasan yang hiperreaktif sehingga
timbul bronkokontriksi. Hal yang berperan sebagai provokator adalah proses
pendinginan dan pengeringan saluran pernapasan. Pada orang yang melakukan kegiatan
olahraga, ventilasi permenitnya akan meningkat. Sebelum masuk ke dalam paru, udara
yang dingin (temperature kamar) dan kering harus dipanasi dan dijenuhkan dengan uap
air oleh epitel trakeobronkial. Epitel trakeobronkial menjadi dingin dan kering sehingga
menyebabkan bronkokontriksi saluran pernapasan. Pada percobaan, fenomena
bronkokontriksi seperti exercise induced asthma dapat timbul jika seseorang menghirup
udara dingin dan kering sebanyak ventilasi permenit yang diperlukan untuk terjadinya
exercise induced asthma tanpa harus melakukan exercise. Hal yang demikian tidak
timbul jika orang tersebut menghirup udara hangat dan jenuh yang ventilasi
TALITHA PROPERTY

permenitnya sama dengan ventilasi permenit udara dingin dan kering yang
menimbulkan bronkokontriksi.
- Occupational asthma
Banyak zat yang terdapat di lapangan kerja yang berperan sebagai occupational
sensitizer. Tenaga kerja yang atopic lebih mudah dan lebih cepat mengalami serangan
occupational asthma, tetapi setelah terpajan oleh occupational sensitizer dalam jangka
waktu yang lama.

Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 103
TALITHA PROPERTY

12. Apasaja pemeriksaan fisik dan penunjang pada sesak nafas disertai mengi?
Pemeriksaan fisis:
- Keadaan umum pasien (pasien dengan kondisi sangat berat akan duduk tegak.
Penggunaan otot-otot tambahan untuk membantu bernapas juga harus menjadi
perhatian, sebagai indicator adanya obstruksi yang berat. Adanya retraksi otot
sternokleidomastoideus dan supra sternal menunjukkan adanya kelemahan fungsi paru)
- RR > 30x/menit ; takikardi > 120x/menit, pulsus paradoksus > 12 mmHg (tanda vital
adanya serangan asma akut berat)

Kunci dasar dari pemeriksaan fisis yang cepat adalah:

- penilaian semua status pasien (misalnya kewaspadaan, status cairan, distress


pernapasan)
- tanda vital ( termasuk oximetri nadi dan temuan di dada misalnya wheezing,
penggunaan otot tambahan)
TALITHA PROPERTY

- pemeriksaan juga harus focus terhadap identifikasi komplikasi yang mungkin (misalnya
pneumonia, pneumothorak, atau pneumomediastinum)

Pemeriksaan penunjang:

- Analisa Gas Darah (AGD) : untuk mendeteksi gagal napas impending atau actual
- Foto toraks : dilakukan hanya pada pasien dengan tanda dan gejala adanya
pneumotoraks (nyeri dada pleuritic, emfisema subkutis, instabilitas kardiovaskular atau
suara napas yang asimetris), pada pasien yang secara klinis dicurigai adanya pneumonia
tau pasien asma yang setelah 6-12 jam dilakukan pengobatan secara intensif tetapi tidak
respons terhadap terapi
- Spirometry

Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI jilid II - hal. 1600

13. Bagaimana penatalaksanaan untuk kasus pada sesak nafas disertai mengi?
Ada 2 macam terapi asma:
Terapi simtomatik menggunakan reliever yaitu bronkodilator (agonis β2 short acting,
teofilin) dan “disease-modifying therapy” atau “controller” yang menggunakan obat
antiinflamasi (agonis β2 kerja Panjang, kortikosteroid, kromolin, antileukotriene). Saat
terjadi serangan asma, obat yang digunakan adalah “reliever” dibantu dengan
“controller”. Setelah serangan dapat diatasi dan periode asimtomatik telah tercapai,
obat yang digunakan hanya “controller” atau bahkan tanpa obat lagi, terapi penderita
dibekali peak flow meter untuk memantau arus puncak.
- Pengobatan standar asma bronkial adalah pemberian agonis β2 yang menyebabkan
relaksasi otot polos saluran pernapasan dan menghambat kerja mediator yang dilepas
sel mast. Pemberian agonis β2 dilakukan secara inhalasi karena pemberian secara
parenteral tidak terlalu memberikan hasil berbeda. Pemberian parenteral diberikan jika
inhalasi tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Efek samping β2 yaitu takikardia, hypokalemia, aritmia, tremor, iskemia miokardial, dan
asidosis asam laktat. Itu sebabnya pemberian inhalasi menjadi pilihan utama
dibandingkan secara parenteral. Pemberian agonis β2 berupa adrenalin atau salbutamol.
- Antikolinergik bukan pengobatan lini pertama, tetapi dapat digunakan untuk menolong
serangan asma ringan maupun sedang. Pada serangan asma berat, pengobatan lini
pertama sebaiknya disertai dengan pemberian obat anti kolinergik. Antikolinergik yang
diberikan secara inhalasi adalah ipratropium bromide dengan MDI atau wet
nebulization. Jika diberikan secara parenteral, antikolinergik yang digunakan adalah
atropine sulfat.
- Kortikosteroid diberikan pada saat mulai tampak adanya serangan asma, yang diberikan
berupa metilprednisolon. Pada saat serangan asma, pemberian kortikosteroid melalui
inhalasi tidak banyak memberikan manfaat.
Aminofilin digunakan sebagai pengobatan lini kedua asma bronkial. Aminofilin
mempunyai sifat bronkodilator meski lemah, tetapi aminofilin dapat menambah
kontraktilitas diafragma, diuresis, dan sebagai antiinflamasi.
TALITHA PROPERTY

Respirologi (Respiratory Medicine) Dr. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP – hal. 106

14. Bagaimana interpretasi dari spirometry?

Spirometri merupakan suatu pemeriksaan yang menilai fungsi terintegrasi mekanik paru, dinding
dada dan otot-otot pernapasan dengan mengukur jumlah volume udara yang dihembuskan dari
kapasitas paru total (TLC) ke volume residu.

Indikasi spirometri dibagi dalam 4 manfaat, yaitu:

1. Diagnostik : evaluasi individu yang mempunyai gejala, tanda, atau hasil laboratorium yang
abnormal; skrining individu yang mempunyai risiko penyakit paru; mengukur efek fungsi paru pada
individu yang mempunyai penyakit paru; menilai risiko preoperasi; menentukan prognosis penyakit
yang berkaitan dengan respirasi dan menilai status kesehatan sebelum memulai program latihan.

2. Monitoring : menilai intervensi terapeutik, memantau perkembangan penyakit yang


mempengaruhi fungsi paru, monitoring individu yang terpajan agen berisiko terhadap fungsi paru
dan efek samping obat yang mempunyai toksisitas pada paru.

3. Evaluasi kecacatan/kelumpuhan : menentukan pasien yang membutuhkan program rehabilitasi,


kepentingan asuransi dan hukum.

4. Kesehatan masyarakat : survei epidemiologis (skrining penyakit obstruktif dan restriktif)


menetapkan standar nilai normal dan penelitian klinis. Kontraindikasi Spirometri Kontraindikasi
Spirometri terbagi dalam kontra indikasi absolut dan relatif. Kontraindikasi absolut meliputi:
Peningkatan tekanan intrakranial, space occupying lesion (SOL) pada otak, ablasio retina, dan lain-
lain. Sedangkan yang termasuk dalam kontraindikasi relatif antara lain: hemoptisis yang tidak
diketahui penyebabnya, pneumotoraks, angina pektoris tidak stabil, hernia skrotalis, hernia
inguinalis, hernia umbilikalis, Hernia Nucleous Pulposus (HNP) tergantung derajat keparahan, dan
lain-lain.

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN

Sebelum melakukan interprestasi hasil pemeriksaan terdapat beberapa standar yang harus dipenuhi.
American Thoracic Society (ATS) mendefinisikan bahwa hasil spirometri yang baik adalah suatu
usaha ekspirasi yang menunjukkan

(1) gangguan minimal pada saat awal ekspirasi paksa,

(2) tidak ada batuk pada detik pertama ekshalasi paksa, dan

(3) memenuhi 1 dari 3 kriteria valid end-of-test:

(a) peningkatan kurva linier yang halus dari volumetime ke fase plateau dengan durasi
sedikitnya 1 detik;

(b) jika pemeriksaan gagal untuk memperlihatkan gambaran plateau ekspirasi, waktu
ekspirasi paksa/ forced expiratory time (FET) dari 15 detik; atau

(c) ketika pasien tidak mampu atau sebaiknya tidak melanjutkan ekshalasi paksa
berdasarkan alasan medis. Setelah standar terpenuhi, tentukan nilai referensi normal FEV1 dan FVC
pasien berdasarkan jenis kelamin, umur dan tinggi badan (beberapa tipe spirometri dapat
menghitung nilai normal dengan memasukkan data pasien). Kemudian pilih 3 hasil FEV1 dan FVC
TALITHA PROPERTY

yang konsisten dari pemerikssan spirometri yang selanjutnya dibandingkan dengan nilai normal yang
sudah ditentukan sebelumnya untuk mendapatkan persentase nilai prediksi.

a. fungsi paru normal

Hasil spirometri normal menunjukkan FEV1 >80% dan FVC >80%.

b. Obstructive Ventilatory Defects (OVD)

Gangguan obstruktif pada paru, dimana terjadi penyempitan saluran napas dan gangguan aliran
udara di dalamnya, akan mempengaruhi kerja pernapasan dalam mengatasi resistensi nonelastik
dan akan bermanifestasi pada penurunan volume dinamik. Kelainan ini berupa penurunan rasio
FEV1 :FVC <70%. FEV1 akan selalu berkurang pada OVD dan dapat dalam jumlah yang besar,
sedangkan FVC dapat tidak berkurang. Pada orang sehat dapat ditemukan penurunan rasio
FEV1:FVC, namun nilai FEV1 dan FVC tetap normal. Ketika sudah ditetapkan diagnosis OVD, maka
selanjutnya menilai: beratnya obstruksi, kemungkinan reversibelitas dari obstruksi, menentukan
adanya hiperinflasi, dan air trapping.
TALITHA PROPERTY

d. Restrictive Ventilatory Defects (RVD)


Gangguan restriktif yang menjadi masalah adalah hambatan dalam pengembangan paru dan akan
mempengaruhi kerja pernapasan dalam mengatasi resistensi elastik. Manifestasi spirometrik yang
biasanya timbul akibat gangguan ini adalah penurunan pada volume statik. RVD menunjukkan
reduksi patologik pada TLC (<80%).

Spirometri Anna Uyainah ZN , Zulkifli Ami , Feisal Thufeilsyah


Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM
Divisi Respirologi dan Perawatan Penyakit Kritis, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM