Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN

A. Identitas Jurnal

Ju MEMAHAMI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK BAGI


dul PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI
Pe H.M. Taufik amrillah STAI Ma’arif Jambi
nulis
T Desember 2017
ahun
Ju Jurnal An-Nahdhah, Vol. 11 No. 2 Juli
rnal dan
Vol
IS -
SN
B. Review Jurnal

N Aspe Keterangan
k
1 Penda Paradigma pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada
huluan pengembangan dan kinerja otak kiri saja. Hal ini terlihat dari
sistem pembelajaran yang dipakai cenderung menuntut siswa dapat
mengikuti seluruh pelajaran yang sudah distandarisasi. Pendidikan
anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang bertujuan kepada
anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian stimulus pendidikan untuk membantu
perkembangan dan pertumbuhan jasmani maupun rohani anak
sehingga mereka memiliki kesiapan ketika memasuki pendidikan
yang lebih lanjut. Secara umum “Program kegiatan bermain dapat
dimaknai sebagai seperangkat kegiatan belajar sambil bermain
yang sengaja direncanakan untuk dapat dilaksanakan dalam rangka
menyiapkan dan meletakan dasar-dasar bimbingan diri anak usia
dini lebih lanjut.

Latar Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan


belakang (golden age) yang merupakan masa dimana anak mulai
peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka
pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju
pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. lam proses
perkembangan unik. Dikatakan unik, karena proses
perkembangannya (tumbuh dan kembang) terjadi bersamaan
dengan golden age (masa peka/masa keemasan). Begitu pentingnya
sehingga sangat mempengaruhi apa dan bagaimana mereka di masa
yang akan datang.
Pemb 1. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK
ahasan Perkembangan anak (khususnya usia dini) penting dijadikan
perhatian khusus bagi orangtua dan guru. Sebab, proses tumbuh
kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa
mendatang. Anakusia dini sendiri merupakan kelompok yang
berada dalam proses perkembangan unik. Dikatakan unik, karena
proses perkembangannya (tumbuh dan kembang) terjadi bersamaan
dengan golden age (masa peka/masa keemasan). Begitu pentingnya
sehingga sangat mempengaruhi apa dan bagaimana mereka di masa
yang akan datang.
2. Perkembangan sosial emosional
Perkembangan sosial mengandung makna pencapain suatu
kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan harapan sosial yang
ada. Proses menuju kesesuaian tersebut paling tidak mencakup tiga
komponen, yaitu belajar berperilaku dengan cara yang disetujui
secara sosial, bermaian dalam peranan yang disetujui secara sosial,
dan perkembangan sikap sosial.
Anak dilahirkan belum bersifat sosial untuk mencapai
kematangan dalam hubungan sosial anak belajar tentang cara-cara
menyesesuikan diri dengan orang lain, norma-norma kelelompok,
dan teradisi. Dalam arti anak belajar meleburkan diri dalam satu
kesatuan dan saling kermunikasi dan kerjasama dengan orang lain.
Kemampuan ini di peroleh anak melalui berbagai kesempatan atau
pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik
orang tua, saudara,teman sebaya,teman bermain atau orang dewasa
lainya.permainan adalah salah satu bentuk aktivitas pentuk yang
dominan pada masa anak-anak, sebab anak-anak menghabiskan
waktunya lebih banyak di luar lumah bermain dengan teman-
temannya di banding te rlibat aktifitas lain.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecerdasan emosi
Faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional
seseorang yaitu: (1) Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga
merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Kecerdasan
emosi dapat diajarkan pada saat masih bayi dengan cara contoh-
contoh ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi pada masa anak-
anak akan melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa
kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna
bagi anak kelak dikemudian hari. (2) Lingkungan non keluarga.
Hal ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan.
Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan
fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditujukan dalam
suatu aktivitas bermain peran sebagai seseorang diluar dirinya
dengan emosi yang menyertai keadaan orang lain.
4. Aspek-aspek kecerdasan emosi
Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional
memperluas kecerdasan emosional tersebut menjadi 5 aspek
kemampuan utama, yaitu :
a. Mengenali emosi diri, mengenali emosi diri
sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali
perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini
merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli
psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood,
yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.
b. Mengelola emosi, mengelola emosi
merupakan kemampuan individu dalam menangani
perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras,
sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu.
c. Memotivasi diri sendiri. Presatasi harus
dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu,
yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri
terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta
mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu
antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.
d. Mengenali emosi orang lain, kemampuan
untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati.
e. Membina hubungan. Kemampuan dalam
membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang
menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan
antar pribadi.
4 Teori Teori memahami psikologi perkembangan anak bagi
pengembangan sosial emosional ank usia dini
5 Penelitian ini didasarkan pada
Metode kondisi objektif di lapangan dan beberapa teori yang
melandasinya. Oleh karena itu, penelitian ini lebih tepat
menggunakan metode deskriptif alasan nya adalah karena peneliti
akan mengeksplorasi atau memontret situasi sosial yang akan
diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam
Hasil Berdasarkan pengamatan (observasi ) peneliti di TK dan
PAUD sejak pagi sampai dengan pulang ada beberapa catatan
penting yang tentang perilaku sosioemosional anak-anak dalam
mengikuti pembelajaran di sekolah. Perilaku sosioemosional mulai
teramati sejak pagi hari sebelum proses pembelajaran di mulai
beberapa anak yang diantar orang tuanya sebagian besar terlihat
senang dan langsung meyapa teman- temannya. Mereka terlihat
bersemangat dan menikmati sekali bermain di mainan luncuran
secara bergantian dan selalu berlari menunggu giliran, beberapa
anak bahkan terlihat sangat berani dengan tertawa lepas berdiri di
atas sebelum meluncur diluncuran.
Anak-anak ini telah menunjukan kemampuan bersosialisasi
dengan memahami aturan ketika bermain luncuran bersama teman
yang mau menunggu giliran dan sudah bisa mengendalikan
emosinya secara baik. Anak-anak ini merasakan kegembiaraan
dalam berinteraksi maka emosi yang muncul adalah kegembiraan
dan menebarkan keramahan pada teman-temannya.
Situasi seperti ini gambaran dari perkembangan psikososial
Erikson yang mengatakan bahwa pada anak usia Karakteristik anak
usia dini yang bersekolah bila ditinjau dari perkembangan
psikososial dari Erikson berada dalam tahap Initiative vs Guilt
(berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.Pada masa ini anak dapat
menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat
bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi
lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif,
sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah Pada tahap ini
perkembangan sosioemosional dapat berkembang dengan baik atau
mengalami gangguan-gangguan sehingga tidak dapat berkembang
dengan optimal.
Pembelajaran di dalam kelas diawali dengan membaca doa
belajar, anak-anak duduk melingkar dengan ibu guru di samping
anak-anak. Hari ini anak-anak memulai pembelajaran dengan
mendengarkan dongeng sebuah cerita tentang serigala dan kancil.
Anak-anak mendengarkan sambil sesekali tertawa, atau terdiam
saat diceritakan bagaimana serigala yang akan mulai menerkam
kancil. Dari semua reaksi yang muncul yang paling mendominasi
adalah reaksi keceriaan karena anak-anak menyukai kecerdikan
kancil.
Kesi Kesimpulan jurnal: Perkembangan sosial anak sangat
mpulan jurnal dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak
dan keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya (teman
kesimpulan bermainnya). para pendidik yang berada di lembaga, lingkungan
individu masyarakat atau di ranah keluarga untuk mengetahui bagaimana
proses perkembangan yang terjadi pada keluarga, khususnya pada
anak usia dini. Agar dapat menentukan sikap ataupun tindakan agar
menstimulasi perkembanagan sosial emosional dan seluruh aspek
perkembangan pada anak usia dini.
Kesimpulan individu: Setiap karya tulis pastinya memiliki
ciri-ciri yang berbeda-beda antar satu dengan yang lain,baik itu dari
segi bahasanya, kelebihannya, dan kekurangannnya. Jurnal pasti
mengandung informasi yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh
penulisnya terlepas dari kekurangan yang terkandung dalam setiap
jurnal, namun sudah dapat dipastikan setiap jurnal akan membawa
keuntungan bagi pembaca dalam hal pendapatan informasi lebih.

Keleb - Penulis menggunakan metode penelitian


ihan yaitu dengan observasi langsung
- Penulis melampirkan Kerangka Pemikiran
Teoritis
- Bahasa yang digunakan mudah dipahami.
- Di jurnal tersebut dapat dijelaskan adanya
tabel

Kekur - Karena penulis kurang memperjelas isi


angan jurnal tersebut dan menggunakan metode penelitian dan
tak semua pembaca mampu menelaah hasil penelitian
tersebut.
- Di jurnal tersebut tidak dijelaskan mengenai
contohnya
- Jurnalnya tidak lengkap
Saran Sebaiknya didalam jurnal tersebut ada terkandung informasi
yang sangat melimpah dan kalimat yang jelas dan dapat dimaknai
oleh pembaca yang mana membuat pembaca menjadi tertarik untuk
membaca atau menganalisis jurnal ini.
Daftar Goleman, Kecerdasan Emosional, terjemahan Hermaya T.
pustaka Jakarta: PT Gramedia,1997. J.William Chester E Bennet et al, The
Educated Child : a parent”s guide, New York:The Free
Press. 1999.
Jeanne Segal, Melejitkan kepekaan Emosional, Bandung:
Mizan Media utama, 1997.
Marsyah, What We Can Learn from the Early Awakening
Child', Terjemahan: Soesanto Budidarmo, Kecerdasan Spritual:
Belajar dari Anak yang Mempunyai Kesadaran Dini, Elex Media
Komputindo, 2001.
Martinis Yamin dan Jamilah Sabri Sanan, Panduan
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Jakarta: Gaung Persada Pres,
2010.

Anda mungkin juga menyukai