Anda di halaman 1dari 25

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA CIREBON


MELALUI PENINGKATAN INFRASTRUKTUR
PELABUHAN CIREBON

Disusun Oleh:

Nama : Amsor Chairuddin


NPM : 93218003
Jurusan : Teknik Sipil – Manajemen Rekayasa Insfrastruktur
Dosen : Dr. Agus Dharma

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah


Manajemen Pengembangan Wilayah

JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun sebagai bentuk tanggung
jawab mahasiswa dalam memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Pengembangan
Wilayah – Pasca Sarjana jurusan Manajemen Rekayasa Infrastruktur.
Penyusunan makalah ini kami mendapatkan banyak bantuan dari berbagai
pihak. Maka, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma.
2. Dr. Agus Dharma, selaku Dosen Pengajar
3. Orang Tua Penulis dan Semua pihak yang telah membantu penulis menyusun
makalah ini.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan tugas
akhir ini, namun penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan koreksi, kritik, dan saran dari pembaca sebagai masukkan
untuk penyusunan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan penulis serta dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi para
pembaca yang hendak menyusun makalah berikutnya.

Jakarta, November 2019


Penulis

(Amsor Chairuddin)

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................1
1.2 TUJUAN ............................................................................................2
1.3 METODE PENELITIAN ..................................................................2

BAB 2 KAJIAN TEORI


2.1 PENGEMBANGAN WILAYAH ......................................................4
2.2 INFRASTRUKTUR DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH ....5
2.3 PELABUHAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH .............6

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 PROFIL KOTA CIREBON ...............................................................7
3.2 PROFIL PELABUHAN CIREBON ................................................13
3.3 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA CIREBON
DENGAN PENINGKATAN INFRASTRUKTUR PELABUHAN
CIREBON ........................................................................................16

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 KESIMPULAN ................................................................................20
5.2 SARAN ............................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................22

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Indonesia memiliki 17.504 pulau menjadikan Indonesia sebagai Negara
Kepulauan terbesar di dunia, terletak pada geografis yang sangat strategis diantara
dua benua (Benua Asia dan Benua Australia) dan dua samudera (Samudera Hindia
dan Samudera Pasifik). Sebagai Negara Kepulauan, luas wilayah laut Indonesia
lebih besar sekitar 3 kali lipat dibandingkan dengan wilayah darat Indonesia dan
memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Letak geografis yang strategis
menjadikan wilayah laut Indonesia sebagai jalur perdagangan dunia sejak abad ke-
13, termasuk wilayah laut Cirebon, pada abad ke-14 Cirebon menjadi jalur
perdagangan sutra pedagang dari Tiongkok, Perisa, India, Arab dan lainnya.
Kitab Caruban Purwaka Nagari menjelaskan Armada Cina yang dipimpin
oleh Laksamana Te Ho dan Kun Wei Ping mengawali perlabuhannya di Muara Jati
(Pelabuhan Cirebon sekarang) pada tahun 1415 Masehi untuk transit dan membeli
perbekalan air bersih maupun makanan dalam perjalanannya menuju majapahit.
Para tokoh sepuh Cirebon berhasil membangun kerja sama dengan Te Ho dalam
pembuatan mercusuar. Setelah pembangunan mercusuar, banyak pedagang yang
berlabuh di Muara Jati dari berbagai bangsa diantaranya Cina, Arab, Persia, India,
Malaka, Tumasik, Pasai. Hingga pada puncaknya, Kota Cirebon mengalami
perkembangan pesat saat kemunculan tokoh besar Syarif Hidayatullah atau biasa
disebut Sunan Gunung Jati (1470 M). Sunan Gunung Jati melakukan perbaikan
pada berbagai bangunan yang menunjang aktivitas perdagangan dan pelayaran,
dengan demikian, pelabuhan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pedagang
pribumi atau pedagang asing yang sudah banyak bertempat tinggal di sekitar
pelabuhan.
Berdasarkan catatan sejarah tersebut, pelabuhan memiliki peran yang sangat
penting dalam pengembangan peradaban di wilayah Kota Cirebon dan sekitarnya.
Sampai saat ini peningkatan infrastruktur pelabuhan masih dibutuhkan untuk
menunjang pengembangan wilayah Kota Cirebon sehingga rencana peningkatan
infrastruktur Pelabuhan Cirebon masuk kedalam rencana strategis pemerintah
Provinsi Jawa Barat dan didukung oleh Keputusan Menteri Perhubungan Republik
Indonesia Nomor KP 629 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pelabuha Cirebon
Provinsi Jawa Barat.

1
1.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah Pengembangan Wilayah Kota Cirebon
Melalui Peningkatan Infrastruktur Pelabuhan Cirebon adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui profil umum, kependudukan, profil sosial dan ekonomi di Kota
Cirebon
2. Mengetahui profil Pelabuhan Cirebon
3. Mengetahui strategi dan dampak peningkatan insfrastruktur pelabuhan
dalam pengembangan wilayah di Kota Cirebon.

1.3 METODE PENELITIAN


Metode yang digunakan dalam analisis ini akan digambarkan dengan bagan
alur/flowchart untuk memudahkan analisis. Adapun bagan alur/flowchart
penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

Gambar 1.1 Bagan Alur Penyusunan Makalah

2
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang terjadi pada potensi pengembangan wilayah Kota
Cirebon yang memiliki lokasi geografis laut strategis tetapi pelabuhan laut yang ada
belum dapat dimaksimalkan potensinya.
2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan pengumpulan dan mempelajari peraturan
peraturan, pedoman yang berlaku, publikasi seperti jurnal ilmiah, textbook, surat
kabar, media daring, proceeding seminar/kolokium dan lain-lain terkait dengan
analisa. Termasuk juga mempelajari studi terdahulu yang dapat menunjang analisa.
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data statistik yang
diperlukan untuk mengetahui pembangunan wilayah. Berdasarkan sumber datanya
yaitu data primer dan data sekunder. Data yang dipakai dalam penyusunan makalah
ini adalah data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), berbagai laporan yang diterbitkan
oleh instansi yang berwenang, publikasi (textbooks, jurnal ilmiah dan sejenisnya)
termasuk laporan studi terkait lainnya.
4. Profil Kota Cirebon
Profil Provinsi Papua didapat dengan menjelaskan secara umum kondisi
pemerintahan dan wilayah di Kota Cirebon
5. Profil Pelabuhan Cirebon
Profil Provinsi Papua didapat dengan menjelaskan secara umum kondisi
sarana dan prasarana, data teknis dan non teknis pada Pelabuhan Cirebon
6. Implikasi
Hubungan dan pengaruh peningkatan infrastruktur Pelabuhan Cirebon
terhadap pengembangan wilayah di Kota Cirebon, ditinjau dari aspek Ekonomi,
Sosial, dan Budaya.
7. Penarikan Kesimpulan dan Saran

3
BAB 2
KAJIAN TEORI

2.1 PENGEMBANGAN WILAYAH


Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur yang terkait kepadanya yang batas sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan atau aspek fungsional (UU No. 26 Tahun 2007). Konsep wilayah
yang paling klasik (Hagget, Cliff dan Frey, 1977 dalam Rustiadi et al., 2011)
mengklasifikasikan konsep wilayah ke dalam tiga kategori, yaitu: wilayah homogen
(uniform/homogenous region), wilayah nodal (nodal region), dan wilayah
perencanaan (planning region atau programming region). Wilayah dapat dibedakan
berdasar kategori sebagai berikut:
1. Berdasar wilayah administrasi pemerintahan, seperti Kabupaten/Kota,
Kecamatan, Desa/Kelurahan dan Dusun/Lingkungan.
2. Berdasarkan kesamaan kondisi, yang paling umum adalah kesamaan
kondisi fisik.
3. Berdasarkan ruang lingkup pengaruh ekonomi. Perlu ditetapkan terlebih
dahulu beberapa pusat pertumbuhan yang kira-kira sama besarnya,
kemudian ditetapkan batas-batas pengaruh dari setiap pusat pertumbuhan.
4. Berdasarkan wilayah perencanaan/program. Dalam hal ini, ditetapkan
batas-batas wilayah ataupun daerah-daerah yang terkena suatu program atau
proyek dimana wilayah tersebut termasuk dalam suatu perencanaan untuk
tujuan khusus.
Pengembangan wilayah pada dasarnya merupakan suatu instrument
potensial untuk integrasi dan promosi dari usaha pengembangan sosial dan ekonomi
untuk mengurangi kesenjangan dan menjaga kelestarian hidup. Zen dalam Alkadri
(2001) menggambarkan tentang pengembangan wilayah sebagai hubungan yang
harmonis antara sumber daya alam, manusia, dan teknologi dengan
memperhitungkan daya tampung lingkungan dalam memberdayakan masyarakat.
Pengenalan potensi sumber daya dari sebuah wilayah menjadi sangat
penting untuk mendukung pengembangan wilayah sehingga dapat menghasilkan
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat, termasuk
pengentasan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah proses
kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk
kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara disebut mengalami pertumbuhan
ekonomi jika terjadi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) rill di negara

4
tersebut. Sedangkan Pembangunan ekonomi (economic development) adalah suatu
proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan
memperhitungkan adanya pertambahan penduduk disertai perubahan fundamental
dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerantaan pemerataan pendapatan bagi
penduduk di suatu negara. Pengembangan wilayah sangat dipengaruhi oleh
komponen- komponen tertentu seperti (Friedman and Allonso, 2008): sumber daya
lokal, Pasar, tenaga kerja, investasi, kemampuan pemerintah, transportasi dan
komunikasi, serta teknologi.

2.2 INFRASTRUKTUR DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH


Menurut Neil S. Grigg (1998), pengertian infrastruktur adalah sistem fisik
yang menyediakan sarana drainase, pengairan, transportasi, bangunan gedung dan
fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk dapat memenuhi berbagai macam
kebutuhan dasar manusia baik itu kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan infrastruktur sebagai
prasarana, prasarana tersebut diartikan sebagai fasilitas publik seperti jaringan
jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, jaringan telekomunikasi, dan
sebagainya. Infrastruktur dapat dikatakan sebagai tulang punggung pengembangan
wilayah. Hal ini disebabkan karena pengembangan wilayah dan pertumbuhan
ekonomi dan sosial budaya sebuah peradaban sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
infrastruktur.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dalam mewujudkan
amanat bangsa pada Undang-undang Dasar 1945 untuk mencapai keadilan sosial
bagi seluruh rakyatnya, memerlukan pembangunan infrastruktur yang merata
sehingga dapat menghubungan antar pulau-pulau di wilayahnya sehingga dapat
tercipta keadilan ekonomi bagi setiap daerah. Sebagai contoh warga desa yang ingin
menjual hasil perkebunannya di kota, sebelum dibangun jaringan jalan mereka
sukar untuk menuju ke kota atau harus berjalan kaki berjam-jam bahkan berhari-
hari, namun sesudah dibangun jaringan jalan mereka dapat menggunakan
kendaraan untuk menuju ke kota. Hal ini tentu lebih efektif dan efisien
dibandingkan dengan berjalan kaki.
Pembangunan infrastruktur menjadi kesatuan dan bagian dari pembangunan
nasional yang diharapkan dapat menjadi trigger/pemantik perekonomian nasional
dan mendukung daya saing dengan negara-negara lain. Melalui pembangunan
infrastruktur jaringan transportasi, komunikasi dan informatika memungkinkan
pergerakan orang, barang, dan jasa dari suatu tempat ke tempat lain secara efektif
dan efisien. Pembangunan infrastruktur dalam pelaksanaannya dibatasi oleh
keterbatasan dana dan sumberdaya lain, oleh karena itu dalam membangun
infrastruktur diperlukan strategi dan kajian yang matang agar prasarana yang
dibangun tepat sasaran untuk menunjang proses pengembangan suatu wilayah.

5
2.3 PELABUHAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
Kesenjangan antar wilayah dapat diatasi salah satunya dengan mendorong
pengembangan transportasi. Transportasi yang dikembangkan dapat berupa
transportasi darat berbasis jalan dan rel, transportasi laut, serta transportasi udara.
Transportasi laut memegang peranan penting dalam transportasi bahkan sebelum
ada jaringan jalan karena dengan biaya yang relatif lebih murah sudah dapat
menunjang perdagangan dan lalu lintas muatan. Sarana utama yang paling penting
bagi transportasi laut adalah pelabuhan. Pelabuhan dapat digunakan sebagai tempat
kapal bersandar dan melakukan bongkar muat barang atau orang lalu
didistribusikan ke daerah lain melalui transportasi darat.
Suranto (2004), mengatakan pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari
daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat
kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat
kapal bersandar, berlabuh, naik-turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang
yang dilengkapi dengan faslitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang
pelabuhan dan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.
Menurut R. Bintarto (1968), dalam pengembangan bidang ekonomi,
pelabuhan memiliki beberapa fungsi yang sama-sama dapat meningkatkan ekonomi
suatu negara. Pelabuhan bukan hanya digunakan sebagai tempat merapat bagi
sebuah kapal melainkan juga dapat berfungsi untuk tempat penyimpanan stok
barang, seperti contohnya sebagai tempat penyimpanan cadangan minyak dan peti
kemas (container), karena biasanya selain sebagai prasarana transportasi manusia
pelabuhan juga kerap menjadi prasarana transportasi untuk barang – barang.
Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan penanganan (handling) Petikemas di
Pelabuhan, yang terdiri dari:
1. Mengambil Petikemas dari Kapal dan meletakkannya di bawah portal
gantry crane
2. Mengambil dari Kapal dan langsung meletakkannya di atas bak truk/trailer
yang sudah siap dibawah portal gantry, yang akan segera mengangkutnya
keluar Pelabuhan
3. Memindahkan Petikemas dari suatu tempat penumpukan untuk ditumpuk
ditempat lainnya diatas Container yard yang sama.
4. Melakukan shifting Petikemas, karena Petikemas yang berada ditumpukan
bawah akan diambil sehingga Petikemas yang menindihnya harus
dipindahkan terlebih dahulu.
5. Mengumpulkan (mempersatukan) beberapa Petikemas dari satu shipment
ke satu lokasi penumpukan (tadinya terpencar pada beberapa lokasi /
kapling.

6
Indonesia sebagai negara dengan garis pantai sepanjang sekitar 81.000
kilometer dan 17.504 pulau memiliki potensi pemanfaaat jalur transportasi laut
yang sangat tinggi. Begitu berpengaruhnya pelabuhan sebagai pemantik
pengembangan wilayah, kota-kota besar di Indonesia juga berkembang pesat
diawali karena adanya pelabuhan di Kota tersebut. Sebagai contoh nyata adalah
DKI Jakarta, Surabaya, Semarang, Cirebon, hingga Jayapura. Transportasi laut jika
dibandingkan dengan moda transportasi lainnya memiliki efesiensi yang tinggi dari
segi kapasitas, biaya, dan ramah lingkungan.

Gambar 2.1 Kelebihan Transportasi Laut dibading Truck dan Kereta


Sumber: PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero), 2016

Perencanaan fasilitas pelabuhan, baik fasilitas darat maupun laut, digunakan


pedoman standar perencanaan sebagai berikut:
1. UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
2. Pedoman Teknis Rencana Induk Pelabuhan yang disusun oleh Direktorat
3. Pelabuhan dan Pengerukan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,
Departemen
4. Perhubungan, Tahun 2009
5. Port Development; handbook for planners in developing countries, 1985
6. Technical Standards for Ports and Harbour Facilities in Japan JICA, 1995.
7. Comments on Technical Standards for Ports and Harbour Facilities in Japan,
2002.
Konsep pengembangan pelabuhan dalam hal ini mereferensi kebijakan
hirarki pelabuhan yang telah ditetapkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional
(RIPN), sesuai Permenhub
no 414/2013.

7
BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 PROFIL KOTA CIREBON


Kota Cirebon berada di garis pantai utara Provinsi Jawa Barat sebelah timur
pada koordinat 108,33o BT dan 6,42o LS, daerah ini berada pada jalur utama
trasnportasi strategis serta menjadi pertemuan pergerakan transportasi antara Jawa
Barat dan Jawa Timur. Secara geografis kota Cirebon termasuk kedalam wilayah
dataran rendah dengan ketinggian 5 meter diatas permukaan air laut. Secara
administratif, Kota Cirebon memiliki luas wilayah sekitar 37,36 km2 yang terbagi
menjadi 5 kecamatan, 22 kelurahan, 248 rukun warga, dan 1366 rukun tetangga.

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kota Cirebon


Sumber: Bappeda Kota Cirebon, 2019.

8
Tabel 3.1 Jumlah Kelurahan, RW, dan RT Menurut Kecamatan
di Kota Cirebon
Luas
No. Kecamatan Kelurahan RW RT
Wilayah
1 Harjamuktu 17.615 5 76 454
2 Lemahwungkuk 6.507 4 42 232
3 Pekalipan 1.561 4 39 189
4 Kesambi 8.059 5 55 307
5 Kejaksaan 3.616 4 35 183
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2019.

4.2.1 Demografi
Jumlah Penduduk Kota Cirebon Tahun 2018 Sesuai Keputusan Walikota
Cirebon Nomor 470/Kep.68.DISDUKCAPIL/2019 berdasarkan database
kependudukan per kelurahan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
sebagai data dasar kependudukan Kota Cirebon, jumlah penduduk Kota Cirebon
per tanggal 31 Desember 2018 adalah 337.586 jiwa. Jumlah penduduk tersebut
terdiri dari 169.139 laki-laki dan 168.447 perempuan yang menempati wilayah
Kota Cirebon seluas 37,358 km2, sehingga tingkat kepadatan penduduk di Kota
Cirebon adalah sebanyak 79,11 jiwa/km2.

Tabel 3.2 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Cirebon Tahun 2018
Kecamatan Luas Jumlah Jumlah Kepadatan
Wilayah Kelurahan Penduduk Penduduk
2
(km ) (Jiwa) (Jiwa/km2)
Harjamukti 17.615 5 120.486 6,83
Lemahwungkuk 6.507 4 59.136 9,08
Pekalipan 1.561 4 31.680 20,29
Kesambi 8.059 5 77.322 9,59
Kejaksaan 3.616 4 48.962 33,32
Jumlah 37.358 22 337.586 79,11
Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2019.

Penduduk Kota Cirebon lebih didominasi oleh kelompok umur produktif


(15-64 tahun), yaitu sebanyak 232.805 orang atau 68,96 persen dan kelompok umur
yang tergolong tidak produktif sebanyak 18.749 orang atau 5,55 persen. Dengan
adanya demografi ini, Kota Cirebon diuntungkan dan memiliki peluang untuk dapat
meningkatkan pertumbuhan produktifitas masyarakatnya. Bonus demografi
diartikansecara sederhana adalah peluang (window of opportunity) yangdinikmati
suatu wilayah sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif.

9
4.2.2 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Nilai PDRB Kota Cirebon berdasarkan harga konstan 2010 (ADHK 2010)
menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. PDRB ADHK pada tahun 2017 tercatat
sebesar Rp14,88 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp14,06 triliun.
Secara kumulatif peningkatan PDRB ADHK 2010 dari tahun 2013 ke tahun 2017
mencapai Rp3,02 triliun rupiah. Angka PDRB dari tahun ke tahun mengalami
kenaikan dengan berbagai variasi. Hal ini dapat dimaklumi karena ada kebijakan-
kebijakan yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi
perekonomian yang ada. Laju pertumbuhan ekonomi dalam 5 (lima) tahun terakhir
terus menunjukan peningkatan. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 mencapai
4,90 persen dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 5,79 persen.
Indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat salah satunya
adalah pendapatan per kapita. Nilai Pendapatan per kapita diperoleh dari
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dibagi dengan jumlah penduduk
pada pertengahan tahun. Selengkapnya, pendapatan per kapita dapat dilihat pada
tabel berikut:

Tabel 3.2 PDRB Perkapita Kota Cirebon dan Laju Pertumbuhannya


No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017
1 PDRB Per Kapita (Juta Rp) 45,11 49,37 54,32 58,37 63,00
2 Pertumbuhan PDRB Per Kapita 9,74 9,44 10,02 4,96 4,83
Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, 2019.

Tabel 3.2 memperlihatkan bahwa PDRB per Kapita Kota Cirebon terus
mengalami kenaikan selama kurun waktu tahun 2013-2017. Pada tahun 2013
mencapai 45,11 juta rupiah dan angka ini terus meningkat menjadi 49,37 juta rupiah
tahun 2014, pada tahun 2015 tumbuh menjadi 54,32 juta rupiah, pada tahun 2016
tumbuh menjadi 58,37 juta rupiah dan pada tahun 2017 tumbuh menjadi 63,00 juta
rupiah. Pertumbuhan PDRB kota Cirebon mengalami peningkatan sebesar 4,63
persen pada tahun 2017.

4.2.3 Potensi Pengembangan Wilayah Kota Cirebon


Kota Cirebon dalam Penataan Ruang Nasional menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 26
Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) adalah
sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang merupakan salah satu pengembangan
kawasan metropolitan, serta merupakan bagian dari kawasan andalan yaitu
Ciayumajakuning (Cirebon – Indramayu – Majalengka – Kuningan) dengan sektor
unggulan pertanian, industri, perikanan, dan pertambangan.

10
Penggunaan lahan sebagai Kawasan Strategis Kota dengan sudut
kepentingan ekonomi meliputi:
1. Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Sekitaran
Gunung Sari, Jalan Cipto Mangunkusumo, dan Ciremai Raya;
2. Kawasan Strategis Kota dengan sudut kepentingan sosial budaya meliputi:
Keraton Cirebon, Gua Sunyaragi, Majasem dan Argasunya-Kalijaga.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 8 Tahun 2012 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cirebon Tahun 2011-2031, struktur
ruang Kota Cirebon dibagi menjadi 4 Sub Wilayah Kota, yaitu:
1. Sub Wilayah Kota (SWK) I merupakan kawasan dengan fungsi utama
pelayanan pelabuhan dan perikanan dengan struktur ruang yang ditetapkan:
a. Sub Pusat Pelayanan Kota (S-PPK) yaitu Kawasan Pelabuhan Cirebon
yang berada di kelurahan Panjunan.
b. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) melayani skala lingkungan wilayah
kota sebagai fungsi perdagangan dan jasa meliputi kelurahan
Pegambiran, Panjunan, Kebon Baru, Kesenden, dan Lemahwungkuk,
sedangkan sebagai fungsi pariwisata dan budaya meliputi kelurahan
Lemahwungkuk dan Kesepuhan.
2. Sub Wilayah Kota (SWK) II dengan prioritas penanganan meliputi:
a. Kawasan Prioritas Pertumbuhan Ekonomi yaitu Gunung Sari - Cipto
kelurahan Pekiringan kecamatan Kesambi, Kawasan Grage Mall 2
kelurahan Pegambiran kecamatan Lemahwungkuk.
b. Kawasan Prioritas Sosial Budaya adalah kawasan keraton Cirebon yang
terletak di kelurahan Kesepuhan, Lemahwungkuk, Panjunan,
kecamatan Lemahwungkuk.
c. Kawasan Prioritas Sarana Umum adalah kawasan sekitar goa sunyaragi
dengan fungsi pusat pendidikan, olahraga, dan wisata, kawasan sekitar
rumah sakit Ciremai sebagai fungsi kesehatan dan mitigasi bencana.
3. Sub Wilayah Kota (SWK) III merupakan kawasan yang diprioritaskan
penganannya meliputi kawasan strategis Ciremai Raya sebagai fungsi
perumahan, kawasan strategis Majasem, Kalijaga dan Argasunya sebagai
fungsi pendidikan.
4. Sub Wilayah Kota (SWK) IV sebagai pelayanan pertanian campuran,
pendukung wisata, area pemakaman, agrobisnis, wilayah Kelurahan
Argasunya dengan fungsi utama pelayanan pertanian campuran dan fungsi
pendukung wisata, pemakaman, agrobisnis, fasilitas sosial, ruang terbuka
hijau dan hankam.

11
Gambar 3.2 Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cirebon
Sumber: Bappeda Kota Cirebon, 2019.

12
4.2 PROFIL PELABUHAN CIREBON
Pelabuhan Cirebon merupakan pintu gerbang kegiatan usaha bagi
hinterland yang luas, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah di lintasan jalur
jalan raya dan rel kereta api ke seluruh kota di Pulau Jawa merupakan keuntungan
utama bagi pelabuhan Cirebon. Secara administratif Pelabuhan Cirebon masuk ke
dalam wilayah Kota Cirebon letaknya berada pada: 06°42'55,6" Lintang Selatan;
108°34'13,89" Bujur Timur dengan luas lahan pelabuhan 51 Ha. Pelabuhan Cirebon
dapat dicapai dengan mudah melalui jalan darat, baik dari arah Jakarta, Provinsi
Jawa Barat maupun dari Jawa Tengah. Kemudahan ini mendukung kelancaran
distribusi barang dari dan ke Pelabuhan Cirebon. Pelabuhan Cirebon didukung oleh
kedalaman kolam -7 meter LWS. Sedangkan kapal yang memiliki draft diatas 7
meter dapat dilayani di daerah lego jangkar kurang lebih 10 km lepas pantai.
Keberadaan Pelabuhan Cirebon dipandang sebagai salahsatu fasilitas yang
sangat strategis karena hanya satu-satunya di wilayah pantai Utara khususnya Jawa
Barat bagian timur. Diharapkan dengan berkembangnya Pelabuhan Cirebon pelaku
industri bias memangkas biaya Rp 2,5-3,0 juta per kontainer jika tak harus
mengapalkan produk mereka lewat Tanjung Priok dengan rata-rata ekspor 1.200
kontainer per bulan, pelaku industry rotan Cirebon saja bisa menghemat biaya
transportasi sampai Rp 3,6 miliar per bulan atau Rp 43,2 miliar per tahun.

Gambar 3.3 Lokasi Pelabuhan Cirebon


Sumber: Google Earth Pro, 2019.

13
4.2.1 Gambaran Umum Kondisi Eksisting Pelabuhan
1. Status Pelabuhan
Status Pelabuhan Cirebon sendiri adalah Pelabuhan Pengumpul sesuai
dengan Rencana Induk Pelabuhan Nasional. Berdasaran "Keputusan
Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan No. 58 tahun
1988 dan Nomor: KP 25/AL 108/PHB-88 tentang Batas-batas Daerah
Lingkungan Kerja dan Derah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan
Cirebon", menetapkan, bahwa Pelabuhan Cirebon mempunyai luas 51 ha
Daerah Lingkungan Kerja dan 25 ha Daerah Lingkungan Kepentingan, serta
perairan Pelabuhan seluas 8.410,91 ha. Pelabuhan Cirebon didukung oleh
kedalaman kolam sampai -6,5 m LWS. Sedangkan kapal yang memiliki
draft lebih dapat dilayani di daerah lego jangkar kurang lebih 5 - 10 km lepas
pantai.

2. Hinterland Pelabuhan
Secara topografis, sebagian besar wilayah Kota Cirebon merupakan dataran
rendah dan sebagian kecil merupakan wilayah perbukitan yang berada di
wilayah selatan kota. Kondisi wilayah kota yang sebagian besar berupa
dataran rendah menjadi kendala tersendiri karena kecepatan aliran air hujan
yang terbuang ke laut menjadi lambat dan sangat berpotensi menimbulkan
genangan banjir di beberapa tempat. Namun kondisi lahan yang relative
datar dapat mendukung bagi perkembangan kota dan peningkatan
infrastruktur kewilayahan, seperti misalnya pengembangan jalan poros,
pengembangan terminal peti kemas. Selain itu juga posisi geografis yang
strategis (akses ke Jakarta dan Bandung serta akses ke Semarang dan
Yogyakarta).

3. Kondisi Jalan Akses Dari dan Ke Pelabuhan


Jalan akses utama adalah jalan arteri primer kelas 1 yang menhantar keluar
Kota Cirebon menuju Pantura. Jarak Pantura dengan Pelabuhan Cirebon
hanya berkisar 3 km dan untuk mencapai jalan Tol yang menghantarkan ke
Bandung dan sekitarnya dalam kisaran jarak 10 km

4. Kondisi Bathymetri
Kondisi Batimetri di alur Pelabuhan Cirebon cukup landai, sehingga untuk
kepentingan alur pelayaran sangat tidak menguntungkan karena hanya kapal
dengan draft dangkal yang dapat merapat menuju dermaga.

14
5. Kondisi Topografi
Wilayah kegiatan kepelabuhan secara geologi mempunyai litologi endapan
alluvial pantai yang terdiri dari perselang-selingan endapan lempung dan
pasir serta merupakan alluvial dasar laut perairan dangkal. Keadaan bentang
alam di lokasi Pelabuhan Cirebon ditandai dengan kemiringan kurang dari
2%. Satuan bentang alam didaerah ini merupakan satuan bentang alam
dataran pantai. Ketinggian dataran di lokasi Pelabuhan Cirebon berkisar
antara 1-2 m diatas permukaan laut. Kemudian keadaan dataran pantai ini
ditandai dengan kelandaian yang jauh menjorok ke laut, yaitu sekitar jarak
1.000 m dari garis pantai.

6. Kondisi Pasang Surut


Pasang surut di muka pelabuhan Cirebon hampir sama dengan kondisi di
wilayah perairan pantura pada umumnya baik tunggang pasang surut
maupun tipe pasang surutnya. Hasil pengamatan yang telah dilakukan
dimuka pelabuhan Cirebon pada High Water Surface (HWS) +1,21 meter,
pada Low Water Surface (LWS) +0,00 meter, dan rata-rata/Mean Sea Level
(MSL) +0,59 meter.

4.2.2 Kelebihan dan Kekurangan Pelabuhan Cirebon


Sebagai infrastruktur, kondisi eksisting Pelabuhan Cirebon tentu memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan utama pelabuhan Cirebon antara lain:
1. Terletak di lokasi yang strategis dekat dengan jalan nasional, stasiun,
terminal, kawasan wisata dan kawasan perdagangan.
2. Kondisi angin, gelombang, dan pasang surut yang stabil. Jarang terjadi
kondisi ekstrim.

Sedangkan kekurangan Pelabuhan Cirebon yaitu:


1. Kedalaman kolam hanya berkisar 6,5 - 7,0 meter pada Low Water Surface
hal ini menyulitkan kapal dengan draft yang lebih dari itu harus berhenti
jauh dari dermaga sehingga membutuhkan bantuan kapal kecil untuk
bongkar muat barang. Hal ini diperparah dengan tingginya sedimentasi di
daerah pelabuhan yang menyebabkan pendangkalan kolam.
2. Jalur kereta yang masuk langsung ke pelabuhan sudah sangat lama tidak
aktif sehingga tidak dapat digunakan
3. Sempitnya lahan yang dimiliki dan ketiadaan lahan untuk pengembangan,
disamping alur pelayaran yang dangkal dan panjang

15
4.3 STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA CIREBON
DENGAN PENINGKATAN INFRASTRUKTUR PELABUHAN
CIREBON

Pelabuhan Cirebon diarahkan pada pencapaian tujuan dan sasaran


pengembangan sumberdaya alam baik berupa tambang maupun agro Industri
Adapun tujuan dan sasaran pengembangan Pelabuhan dapat dikemukakan sebagai
berikut. Terdapat 5 (lima) tujuan pokok sebagai berikut:
1. Meningkatkan laju pergerakan barang dan penumpang;
2. Meningkatkan Pendapatan masyarakat di daerah hinterland Pelabuhan pada
umumnya
3. Meningkatkan pendapatan Daerah;
4. Mengembangkan dan mengeksplore potensi yang ada;
5. Menunjang pembangunan daerah.
Pelabuhan Cirebon diharapkan dapat menjadi gerbang utama dalam
mendukung perkembangan perekonomian Jawa Barat yang merupakan sasaran
penanaman modal paling besar baik modal asing maupun modal dalam negeri,
mengingat Provinsi ini memiliki ragam jenis indrustri yang sangat banyak mulai
dari indrusti makanan sampai indrusti tekstil, indrustri barang, pertanian, logam
mulia, kimia mesin, peralatan, pabrik semen, pupuk. Selain itu juga di sekitar
Cirebon sendiri terdapat pabrik semen, pabrik tekstil, makanan ternak, pabrik jala,
dan yang paling utama adalah pengrajin rotan. Mayoritas arus barang di Pelabuhan
Cirebon saat ini adalah batu bara yang akan digunakan untuk memasok kebutuhan
batu bara di kota-kota di Jawa Barat, utamanya seperti Bandung, Bogor, maupun
beberapa kota di Jawa Tengah bagian barat. Seiring dengan kenaikan harga BBM
beberapa industri di Jawa Barat mengubah bahan bakarnya dari BBM ke batu bara,
sehingga potensi kenaikan arus barang terutama batu bara masih terbuka.
Skala Pelabuhan Cirebon secara Nasional merupakan Pelabuhan
Pengumpul, dimana pelabuhan ini harus mempunyai kedalaman minimal -10 dan
lahan darat lebih dari 50 ha mengingat pelabuhan ini harus bisa didarati oleh kapal
besar untuk tujuan eksport. Sesuai dengan peraturan yang ada KP 901 tahun 2016
Pelabuhan ini harus memenuhi kriterian sebagai berikut:
1. Kedekatan secara geografis dengan tujuan pasar internasional;
2. Berada dekat dengan jalur pelayaran internasional ± 500 mil dan jalur
pelayaran nasional ± 50 mil;
3. Memiliki jarak dengan pelabuhan utama lainnya minimal 200 mil;
4. Memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang
5. Kedalaman kolam pelabuhan minimal - 10 m - lws;
6. Berperan sebagai tempat alih muat peti kemas/curah/general
cargo/penumpang internasional;

16
7. Melayani Angkutan petikemas sekitar 300.000 teus/tahun atau angkutan
lain yang setara;
8. Memiliki dermaga peti kemas/curah/general cargo minimal 1 (satu)
tambatan, peralatan bongkar muat petikemas/curah/general cargo serta
lapangan penumpukan/gudang penyimpanan yang memadai.
9. Berperan sebagai pusat distribusi peti kemas/curah/general
cargo/penumpang ditingkat nasional dan pelayanan angkutan peti kemas
internasional;

Penyusunan rencana kebutuhan pengembangan pelabuhan didasarkan pada


pendekatan penilaian kapasitas pelabuhan dan memperhatikan skema
pembangunan pelabuhan. Selain kebijakan pemerintah, juga telah diperhatikan
program pembangunan pelabuhan strategis di Indonesia. Pelabuhan Cirebon
mempunyai wilayah hinterland yang paling luas di antara pelabuhan yang ada di
Provinsi Jawa Barat. Potensi yang ada dapat dikelompokkan menjadi 4 Kelompok
besar antara lain: peti kemas, curah cair, curah kering dan general cargo. Potensi
inilah yang dilakukan bongkar muatnya di Pelabuhan Cirebon. Dari hasil analisis
potensi bongkar muat barang yang perlu pengapalan melalui Pelabuhan Cirebon
dan hasil analisis kemampuan dan daya tampung pelabuhan Cirebon terlihat bahwa
kondisi pelabuhan yang ada sudah tidak lagi mampu melayani tuntutan bongkar
muat dimasa mendatang. Dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan akan
sarana dan prasarana bongkar muat barang diperlukan ringkasan eksekutif
pengembangan wilayah darat maupun perairannya

4.2.1 Pengerukkan Kolam dan Reklamasi Daratan


Pelabuhan Cirebon perlu melakukan pengembangan ke arah laut dengan
melakukan reklamasi dan pengerukan kolam dan alur pelabuhan. Untuk dermaga
yang ada akan ditingkatkan kekuatannya sesuai dengan kebutuhan pemanfaatannya
dengan menambah perkuatan dermaga di depan dermaga yang ada untuk menahan
kapal yang lebih besar dari desain semula yaitu hingga kapal dengan bobot mati
10.000 DWT atau dengan kedalaman kolam hingga -10.00 m LWS. Sedangkan
untuk daerah reklamasi diperlukan dermaga yang lebih besar khususnya di dermaga
peti kemas sehingga mampu menampung kapal peti kemas dengan bobot mati
40.000 DWT atau dengan kedalaman kolam dan alur hingga -12.00 m LWS.
Terbatasnya lahan darat ditambah dengan adanya permintaan daerah untuk
menjadikan sebagian wilayah pelabuhan sebagai Heritage dan perlu diadakannya
terminal penumpang, maka dipandang perlu untuk melakukan rekonfigurasi
pemanfaatan lahan yang ada. Dalam kerangka besar rekonfigurasi ini Pelabuhan
Cirebon dikondisikan sebagai pelabuhan yang mempunyai porsi seimbang untuk
memenuhi kebutuhan yang ada. Minimal masih terdapat 4 Terminal yang perlu

17
dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan sarana bongkar muat barang dan naik
turunnya penumpang, empat terminal tersebut adalah Terminal Penumpang,
Terminal Peti Kemas, Terminal Curah Kering, dan Terminal Multipurpose. Untuk
mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan sedikit perubahan tata kelola dalam
pelaksanaan bongkar muatnya, kebutuhan terminal yang ada tidak dipisahkan
dengan jelas pada peruntukan dermaga dan daerah yang ada di belakangnya. Akan
tetapi dibuat lebih fleksibel dengan merencanakan dermaga yang ada menjadi
dermaga multipurpose termasuk di dalamnya adalah dermaga curah cair, alih fungsi
dock yard yang ada menjadi terminal penumpang, yang lain seperti peti kemas,
curah kering dan relokasi dock yard memanfaatkan penambahan lahan darat dengan
reklamasi laut.

4.2.2 Re-aktifasi Jalur Kereta Api di Pelabuhan Cirebon


Kereta api sempat menjadi sarana transportasi unggulan untuk mengangkut
barang dari Pelabuhan Cirebon untuk didistribusikan ke daerah lain. Seperti
diketahui, jalur KA Cirebon erat kaitannya dengan bisnis gula yang ketika itu
tengah menggeliat. Apalagi setelah tahun 1878 Gubernur Jenderal Hindia Belanda
menghapuskan sistem tanam paksa untuk tebu sekaligus membebaskan batasan
ekspor gula ke Eropa. Karena letaknya yang strategis, para pengusaha perkebunan
menjadikan Cirebon sebagai basis gudang, kantor dagang, dan pabrik. Tidak
ketinggalan sekelompok pengusaha Belanda ikut mencoba peruntungan dalam
urusan jasa angkutan gula melalui perusahaan kereta api swasta Semarang-
Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Gambar 3.3 Jalur Kereta Tidak Aktif di Pelabuhan Cirebon


Sumber: radarcirebon.com, 2019.

18
Pada 1897 sampai 1899 dibangun jalan trem dari Semarang menuju Cirebon
berdasarkan konsesi yang diperoleh sejak 1893. Rute tersebut melalui beberapa
pabrik gula di sepanjang Cirebon-Semarang, seperti pabrik gula Soerawinangoeng,
Gempol, Paroeng Djaya, Djatiwangie, dan Kadipaten. Dari sana gula diangkut
menuju pelabuhan Muara Jati di Cirebon, melewati gudang-gudang SCS yang ada
di area Stasiun Cheribon SCS (Prujakan lama). Dari pelabuhan, gula diekspor ke
luar negeri atau ke wilayah lain di Hindia Belanda. Stasiun Cheribon SCS dibangun
pada 1897. Dalam rangka mengantisipasi jumlah orderan yang terus meningkat
setiap tahun, direksi SCS mulai mempertimbangkan perluasan stasiun untuk
memisahkan pelayanan penumpang dan barang. Apalagi ketika eksploitasi
perusahaan kereta api negara Staatspoorwegen (SS) sudah menjangkau Cirebon
pada 1911, para direksi juga harus memikirkan kenyamanan penumpang. Saat ini
truk-truk besar mengangkut barang dari Pelabuhan Cirebon mengakibatkan
kemacetan dan polusi udara yang cukup signifikan di daerah Pelabuhan. Re-aktifasi
jalur kereta api di Pelabuhan Cirebon diharapkan dapat membantu mempercepat
arus distribusi barang dan mengurangi kemacetan yang terjadi.

19
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah Pembangunan Ekonomi Regional Studi Empiris
di Provinsi Papua Tahun 2014-2018 adalah sebagai berikut:
1. Kota Cirebon memiliki luas wilayah sekitar 37,36 km2 yang terbagi menjadi
5 kecamatan, 22 kelurahan, 248 rukun warga, dan 1366 rukun tetangga.
Jumlah penduduk Kota Cirebon per tanggal 31 Desember 2018 adalah
337.586 jiwa. Jumlah penduduk tersebut terdiri dari 169.139 laki-laki dan
168.447 perempuan yang menempati wilayah Kota Cirebon seluas 37,358
km2, sehingga tingkat kepadatan penduduk di Kota Cirebon adalah
sebanyak 79,11 jiwa/km2. PDRB ADHK pada tahun 2017 tercatat sebesar
Rp14,88 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp14,06 triliun.

2. Pelabuhan Cirebon berada pada: 06°42'55,6" Lintang Selatan;


108°34'13,89" Bujur Timur dengan luas lahan pelabuhan 51 Ha. Secara
administratif Pelabuhan Cirebon masuk ke dalam wilayah Kota Cirebon
Pelabuhan Cirebon mempunyai luas 51 ha Daerah Lingkungan Kerja dan
25 ha Daerah Lingkungan Kepentingan, serta perairan Pelabuhan seluas
8.410,91 ha. Pelabuhan Cirebon didukung oleh kedalaman kolam sampai -
6,5 m LWS.
a. Kelebihan utama pelabuhan Cirebon antara lain terletak di lokasi yang
strategis dekat dengan jalan nasional, stasiun, terminal, kawasan wisata
dan kawasan perdagangan. Selain itu memiliki kondisi angin,
gelombang, dan pasang surut yang stabil. Jarang terjadi kondisi ekstrim.
b. Kekurangan Pelabuhan Cirebon yaitu kedalaman kolam hanya berkisar
6,5 - 7,0 meter pada Low Water Surface (LWS) hal ini menyulitkan
kapal dengan draft yang lebih dari itu harus berhenti jauh dari dermaga
sehingga membutuhkan bantuan kapal kecil untuk bongkar muat
barang. Hal ini diperparah dengan tingginya sedimentasi di daerah
pelabuhan yang menyebabkan pendangkalan kolam. Kekurangan
lainnya adalah tidak aktifnya jalur kereta yang masuk ke pelabuhan dan
sempitnya lahan yang dimiliki hingga menyulitkan pengembangan

20
3. Strategi dan dampak pengembangan wilayah kota cirebon dengan
peningkatan infrastruktur Pelabuhan Cirebon dapat disebutkan sebagai
berikut:
a. Pengerukkan kolam dan reklamasi daratan, hal ini akan berdampak pada
kapasitas tampungan dermaga yang menjadi lebih besar dan dapat
menampung kapal besar.
b. Re-aktifasi jalur kereta api di Pelabuhan Cirebon, diharapkan dapat
membantu mempercepat arus distribusi barang dan mengurangi
kemacetan yang terjadi.

4.2 SARAN
1. Perhatian khusus terutama pencemaran oleh debu batu bara dan kerusakan
jalan oleh tonase danfrekuensi kendaraan pengangkut batu bara.
2. Prakiraan dampak penting yang timbul akibat kegiatan Pelabuhan Cirebon
yaitu:
a. Penurunan kualitas udara (baik oleh BM batu bara maupun yang
lainnya)
b. Peningkatan kebisingan
c. Penurunan kualitas air laut
d. Timbulnya kerusakan jalan
e. Timbulnya limbah domestik
f. Peningkatan kebutuhan air bersih
g. Timbulnya kemacetan lalu lintas
h. Timbulnya limbah B3
i. Perubahan kelimpahan jenis biota darat
j. Gangguan biota air
k. Interaksi sosial
l. Peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat
m. Penggunaan tenaga kerja lokal
n. Gangguan aktivitas nelayan
o. Pola penyakit
p. Kesehatan lingkungan

21
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Raharjo, 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Jakarta: Graha Ilmu

Adris A, Susanti, 2016. Pengembangan Infratstruktur Pelabuhan dalam


Mendukung pembangunan Berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Media Engineering
Vol. 6.

Bappenas. 2019. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.


Pemerintah Republik Indonesia.

Bappeda Provinsi Jawa Barat. 2008. Rencana Pembangunan Jangka Panjang


Daerah (RPJPD) Tahun 2005-2025. Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Bappeda Provinsi Kota Cirebon. 2011. Rencana Pembangunan Jangka Menengah


Daerah (RPJMD) Tahun 2014-2019. Pemerintah Kota Cirebon.

Badan Pusat Statistik. 2018. Jumlah Penduduk Kota Cirebon. Pemerintah Republik
Indonesia.

Badan Pusat Statistik. 2018. Jawa Barat Dalam Angka. Pemerintah Republik
Indonesia.

Direktorat Pengembangan Kawasan Ditjen Penataan Ruang Departemen


Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2002. Pendekatan dan Program
Pengembangan Wilayah. Bulletin Kawasan. Jakarta.

Gurning, Raja Oloan Saut dan Budiyanto, Eko Hariyadi. 2007. Manajemen Bisnis
Pelabuhan. PT Andhika Prasetya Ekawahana.

Triatmodjo,B. 2009. Perencanaan Pelabuhan. Beta Offset. Yogyakarta.

22