Anda di halaman 1dari 9

TUGAS SKORING & INTERPRETASI SSCT

Dosen Pengampu : Dra. Siti Waringah, M. Si

Disusun oleh :

NAFKHATUL

NINING KUSUMA

RIBKA MUTIARA

RIZKI RESTUNING TIYAS

ZUNAIDI

BIDANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN


PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
Evaluasi Proses Interpretasi hasil Tes SSCT

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahini:

1. Jelaskan pengalaman menginterpretasi blind case tes SSCT:

A. Sebelum presentasi

Pengalaman yang kami dapatkan saat sebelum menginterpretasi tes SSCT kami awali
dengan adanya memperlajari materi terlebih dahulu yang telah diberikan oleh dosen
pengampu (Bu. Siti Waringah). Kami harus memahami terkait apa itu SSCT, kegunaannya,
cara skoring, dan interpretasinya, termasuk aitem-aitem yang sesuai dengan aspek yang akan
diungkap.

Pada pembagian hasil tes, kelompok kami mendapatkan klien laki-laki dengan latar
belakang pendidikan yang tinggi dan pernah bekerja sebagai profesional (apoteker) hasil tes
SSCT. Dalam segi kognitifnya kami rasa dia mampu secara akademik, karena untuk dapat
menyelesaikan studinya hingga bergelar apoteker bukanlah perkara mudah karena
membutuhkan usaha dan daya juang yang tinggi.

Langkah selanjutnya kami langsung mengacu pada pengelompokkan aitem berdasarkan


aspek yang akan diungkap mengacu pada materi SSCT yang diberikan oleh dosen pengampu.
Kami fokus melihat:
1. Hubungan dengan keluarga: 12 aitem
A. terhadap ayah (aitem 1, 16, 31, 46)
B. terhadap ibu (aitem 14, 29, 44, 59)
C. terhadap seluruh keluarga (12, 27, 42, 57)
2. Permasalahan seks: 8 aitem
A. terhadap wanita (aitem 10, 25, 40, 55)
B. hubungan heteroseksual (aitem 11, 26, 41, 56)
3. Hubungan interpersonal: 16 aitem
A. terhadap teman, kenalan (aitem 7, 23, 38, 53)
B. terhadap teman kerja, sekolah (aitem 13, 28, 43, 58)
C. terhadap atasan (aitem 6, 21, 36, 51)
D. terhadap bawahan (aitem 4, 19, 34, 49)
4. Konsep diri: 24 aitem
A. Rasa takut (aitem 8, 22, 37, 52)
B. Cita-cita/tujuan (aitem 3, 18, 33, 48)
C. Pandangan terhadap kemampuan diri (aitem 2, 17, 32, 47)
D. Rasa bersalah (aitem 15, 30, 45, 60)
E. Masa lalu (aitem 9, 24, 39, 54)
F. Masa depan (aitem 5, 20, 35, 50)

Setelah itu dilakukannya skoring, pemberian skor 2 untuk penyataan yang bertendensi adanya
masalah dan gangguan yang berat hingga membutuhkan bantuan terapis. Skor 1 untuk
pernyataan yang mengandung adanya masalah, namun subjek masih mampu untuk mengatasinya
sendiri, dan skor 0 yang tidak mengindikasikan permasalahan apapun.

Dalam proses penskoran kami mendapatkan hasil sebagai berikut:


1) Hubungan dengan keluarga:
A. terhadap ibu (aitem 1, 16, 31, 46) Rating: 0, 1, 1, X → 1
B. terhadap ayah (aitem 14, 29, 44, 59) Rating: 1, 1, 1, 1, → 1
C. terhadap seluruh keluarga (12, 27, 42, 57) Rating: 2, 2, 2, 2 → 2
2) Permasalahan seks: 8 aitem
A. terhadap wanita (aitem 10, 25, 40, 55) Rating: 1, 2, 1, 1  2
B. hubungan heteroseksual (aitem 11, 26, 41, 56) Rating : 0, 1, 2, 2  2
3) Hubungan interpersonal: 16 aitem
A. terhadap teman, kenalan (aitem 7, 23, 38, 53) Rating: 2, 2, 2, X  2
B. terhadap teman kerja, sekolah (aitem 13, 28, 43, 58) Rating : 2, 2, 2, 1 2
C. terhadap atasan (aitem 6, 21, 36, 51) Rating : 1, 2, 1, 0  2
D. terhadap bawahan (aitem 4, 19, 34, 49) Rating : 0, 0, 0, 2) 2
4) Konsep diri: 24 aitem
A. Rasa takut (aitem 8, 22, 37, 52) Rating : 2, 2, 2, 1  2
B. Cita-cita/tujuan (aitem 3, 18, 33, 48) Rating : 2,1,0,1  2
C. Pandangan terhadap kemampuan diri (aitem 2, 17, 32, 47) Rating : 0,1,2,2  2
D. Rasa bersalah (aitem 15, 30, 45, 60) Rating: 1,2,1,1  2
E. Masa lalu (aitem 9, 24, 39, 54) Rating : 2,0,1,0 2
F. Masa depan (aitem 5, 20, 35, 50) Rating : 2, 1, 2, 0  2

Hasil skoring SSCT saja tidak dapat mengungkap gambaran subjek secara jelas karena kami
tahu SSCT tidak dapat berdiri sendiri, yaitu harus dengan pemberian tes lainnya untuk hasil yang
lebih menyeluruh dan meyakinkan.

B. Setelah presentasi
Pengalaman yang kami dapatkan setelah presentasi adalah adanya pengetahuan baru dari
saran yang diberikan oleh dosen pengampu pada saat kami memperesentasikan hasil diskusi
mengenai skoring dan interpretasi SSCT antara lain adalah pada hal :

 Penentuan skoring untuk tiap aitemnya terkadang berbeda karena kami berkelompok
(panel-judgement), kebingungan tersebut akhirnya mendapatkan insight dari koreksi
yang diberikan oleh dosen pengampu. Proses tersebut membuat kami belajar dan lebih
mengasah kepekaan terhadap tiap-tiap pernyataan untuk diberikan skor 2, 1, atau 0.
 Interpretater dituntut untuk berpikir logis dan kritis dalam menyikapi jawaban testee.

2. Apa sajakah yang dibutuhkan dalam menginterpretasi hasil tes SSCT ? Jelaskan

Beberapa hal yang dibutuhkan dalam interpretasi SSCT adalah:


 Penguasaan alat tes : Cara administrasi yang sesuai dengan standar dan aturan.
 Penguasaan cara skoring.
 Berpikir kritis dan logis untuk memahami tiap pernyataan testee
 Pengetahuan berbagai gangguan psikologi berdasarkan DSM-V dan PPDGJ.
 Kemampuan untuk menggali lebih dalam inquiry subjek agar didapatkan kejelasan
dalam tiap aitem jawabannya.
 Penguasaan teknik Wawancara sebagai cara penggalian lebih dalam mengenai SSCT dan
observasi untuk mengetahui jawaban non-verbal beserta gestur-gestur tubuh lainnya yang
bermakna tertentu.
 Penguasaan alat tes lainnya untuk mendapatkan gambaran kepribadian umum maupun
spesifik secara keseluruhan tentang subjek untuk penegakkan diagnosis dan perancangan
intervensi yang tepat atas gangguan yang dialami oleh subjek.

3. Apa manfaat data intake interview dan hasil asesmen yang lain (tes lain) ?
SSCT adalah alat pemeriksaan psikologis yang tidak dapat berdiri sendiri, sehingga
penggunaan metode interview dan tes psikologi yang lain akan dapat menambahkan informasi-
informasi mengenai subjek secara lebih mendalam. Selain itu, dapat dilakukan perbandingan
jawaban-jawaban pada wawancara dan hasil tes untuk dapat kita lihat kekonsistensian, adanya
faking bad/ good dalam pengerjaan tes, dan kekayaan data lainnya.

Contohnya adalah pada subjek M (apoteker), jika hanya menngandalkan hasil SSCT
maka data masih dangkal, sehingga hasil lebih maksimal datanya saat penggunaan intake
interview, BDI, dan BAI. Berdasarkan SSCT secara keseluruhan subjek memang memiliki suatu
permasalahan dan gangguan yang menyertainya, hal itu diperkuat dengan hasil wawancara
dengan ayahnya yang mengatakan bahwa anaknya memiliki banyak masalah dan keinginan
untuk bunuh diri, serta hasil tes BDI yang berat dan BAI dengan skor tinggi.

4. Dapatkah kita menginterpretasi tes hasil tes SSCT tanpa tahu data intake interviewnya?
Jelaskan beserta bukti riilnya.
Tidak bisa, hasil SSCT masih memerlukan hasil dari penggalian data lainnya, termasuk
wawancara. SSCT, seperti yang telah dijelaskan pada nomor selanjutnya, adalah tes yang
tidak bisa diberikan secara tunggal sehingga harus diberikan tes-tes lainnya pula.

Contoh riilnya adalah pada subjek M (laki,laki, apoteker). Pada saat data masih berupa
hasil jawaban SSCT saja, yang dapat kelompok kami lakukan adalah dengan melakukan
skoring dan interpretasi saja, sehingga data masih dangkal. Sulit bagi kami untuk membuat
suatu dinamika kepribadian subjek karena kami tidak pula mendapat keterangan/informasi
dari subjek maupun dari significant others. Setelah mendapatkan data intake yang telah
diberikan oleh dosen pengampu tentang hasil wawancaranya dengan ayahnya, maka kami
dapat mengetahui alur secara runtut tentang simptom-simptom yang menyertainya, bagaimana
dinamika permasalahan-permasalahan yang telah dialaminya, hubungannya dengan orang tua,
rekan, dan tetangga serta kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan yang pernah
dialaminya. Pada hasil SSCT dituliskan bahwa pendidikan dan pekerjaannya subjek M adalah
apoteker, namun tidak terdapat penjelasan secara rinci seperti dari hasil wawancara, yaitu saat
subjek diterima kerja BUMN lalu dikeluarkan, menjadi apoteker suatu apotek namun ingin
menjadi asisten apoteker saja, dan beserta cerita lainnya. Penting sekali memiliki data
wawancara yang dapat membantu untuk penegakkan diagnosis dan perancangan penanganan
yang tepat agar subjek yang bermasalah segera mendapatkan kesejahteraan mentalnya.
Dengan demikian, menyandingkan hasil SSCT dengan hasil wawancara, data semakin kaya,
valid, dan jauh dari kesalahan judgement.

5. Sama atau berbedakah hasil interpretasi hasil tes SSCT seseorang yang sudah
mengetahui data intake interview dengan yang belum mengetahui data intake interview?
Jelaskan dengan contoh.

Berbeda, hal ini dikarenakan hasil tes SSCT saat belum mengetahui data intake interview
hanya dapat diskor dan diinterpretasi dangkal saja berdasarkan jawaban pada tiap aitemnya
untuk diklasifikasikan pada penskoran 2 (berat), 1 (ringan), dan 0 (tak ada
gangguan/masalah). Ditemuinya jawaban yang menurut interpretator kurang jelas pula
menjadikan skoringnya kurang maksimal.

Dilain sisi, kondisi akan berbeda saat setelah mengetahui data interview. Proses
interpretasi akan dilakukan dengan pengintegrasian data antara hasil SSCT dan hasil
interview.

Sebagai contohnya adalah pada hasil SSCT subjek M didapatkan dinamika sebagai berikut:
Setelah didapatkan hasil intake wawancara, maka bertambahlah data yang didapatkan,
yaitu terkait :

1. Masalah percintaan dengan kakak kelas (merasa suka sama suka dengan kakak
tingkat, namun pada kenyataannya cinta bertepuk sebelah tangan)
2. Dipecat dari BUMN karena gaya kerja yang individualis
3. Dipecat dari apotek karena tidak memiliki kemampuan kinerja sesuai dengan
spesifikasi apoteker. Disaat telah memiliki ijazah apoteker, namun subjek meminta
untuk menjadi asisten apoteker yang dapat dilakukan oleh lulusan SMK farmasi. Hal
ini mengindikasikan ketidak-sesuaian antara realita dan harapannya yang tidak masuk
diakal.
4. Tidak diterima beasiswa LPDP (lolos syarat administrasi, namun tidak lolos
wawancara)
5. Masalah percintaan dengan adik tingkat (merasa ge-er karena diperhatikan oleh adik
tingkat, namun pada kenyataannya cinta bertepuk sebelah tangan)

Hubungan subjek dengan keluarganya:


Hubungannya lebih dekat dengan ibu dibandingkan dengan ayahnya, ia masih
senang tidur dengan ibunya dan adik bungsunya yang masih berusia 12 tahun daripada
dengan adik kedua yang berusia 22 tahun. Kedua adiknya laki-laki.

Hubungan subjek dengan lingkungannya:


Subjek selalu memiliki prasangka buruk dengan penilaian tetangganya terhadap
dia. Padahal, berdasarkan keterangan ayahnya yang menanyakan langsung pada tetangga,
mereka memaklumi kondisi subjek.

Dengan adanya integrasi data yang didapatkan dari hasil SSCT, wawancara
dengan significant-othersi (ayah), dan hasil BDI serta BAI, maka subjek memang
mengalami permasalahan yang masih dapt diatasi dengan Ibu, permasalahan yang berat
dengan ayah, dan kedekatan yang tidak kesemua adiknya atau hanya pada yang bungsu
saja.

Hubungannya dengan tetangga juga dibilang tidak harmonis karena subjek


cenderung berpikir negatif tentang penilaian tetangga terhadapnya. Hal ini muncul pada
SSCT yang menunjukkan bahwa ia kurang dapat berinteraksi sosial dengan baik dengan
orang lain, terutama dengan orang yang lebih tinggi posisinya atau usianya.

Kecenderungan salah tafsir atas perhatian lawan jenis terhadapnya membuat dia
sering patah hati karena dia merasa dibalas cintanya, namun sebenarnya perhatian yang
diberikan adalah rasa pertemanan saja. Konsep diri yang lemah, yaitu seorang lulusan
apoteker namun tak dapat bekerja didunia riil dengan kelompok, dan malah ingin bekerja
sebagai asisten apoteker saja. Seorang yang relijius namun seringnya berpikir kearah
yang tidak wajar seperti bekerjasama dengan malaikat, dll. Ia seorang yang bisa lulus
apoteker dengan beban tugas yang tinggi, namun untuk kemampuan interpersonal ia
kurang dan cenderung ia jadikan sebagai sumber masalah.

Jadi, subjek M memiliki permasalahan yang rumit karena akibat prasangka-


prasangka keliru yang ia yakini selama ini hingga menimbulkan gangguan seperti waham
sampai keinginan untuk bunuh diri. Ia sangat memerlukan pendampingan oleh
profesional untuk mengembalikan kembali kesehatan mentalnya atau minimal
mengurangi gangguan yang ia miliki.