Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

SISTEM BINER FENOL-AIR

OLEH

NI PUTU ASTINI 1713031004

I GUSTI AYU AGUNG MAS ROSMITA 1713031013

APLIANA PRISKILA MONE 1713031017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2019
PERCOBAAN VII
SISTEM BINER FENOL-AIR

I. TUJUAN
Menentukan suhu kritis kelarutan timbal balik sistem fenol-air melalui kurva
komposisi pada sistem fenol-air terhadap suhu pada tekanan tetap.
II. DASAR TEORI
Kata fase berasal dari bahasa Yunani yang berarti pemunculan. Fase adalah
keadaan materi yang seragam di seluruh bagiannya, bukan hanya dalam komposisi
kimianya, melainkan juga dalam keadaan fisiknya. Jadi kita berbicara mengenai fase
padat, fase cair, dan gas suatu zat. Sedangkan yang dimaksud dengan komponen
adalah spesies yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam larutan
biner.
Dalam kimia fisik, mineralogi, dan teknik material, diagram fase adalah sejenis
kurva yang digunakan untuk menunjukkan kondisi kesetimbangan antara fase-fase
yang berbeda dari suatu zat yang sama. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk
menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. Dalam diagram fasa,
diasumsikan bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang
masuk atau keluar sistem. Pemahaman tentang diagram fasa akan terbantu dengan
pemahaman hukum fasa Gibbs, hubungan yang diturunkan oleh fisikawan-matematik
Amerika Josiah Willard Gibbs (1839 – 1903) di tahun 1876. Aturan ini menyatakan
bahwa untuk kesetimbangan apapun dalam sistem tertutup, jumlah variabel bebas-
disebut derajat kebebasan F, yang sama dengan jumlah komponen C ditambah 2
dikurangi jumlah fasa P, yakni.
F=C + 2 – P
Jadi, dalam titik tertentu di diagram fasa, jumlah derajat kebebasan adalah 2 yakni
suhu dan tekanan; bila dua fasa dalam kesetimbangan-sebagaimana ditunjukkan
dengan garis yang membatasi daerah dua fasa hanya ada satu derajat kebebasan yaitu
suhu atau tekanan. Pada titik tripel ketika terdapat tiga fasa tidak ada derajat
kebebasan lagi. Dari diagram fasa, dapat dikonfirmasi apa yang telah diketahui, dan
lebih lanjut, dapat mempelajari apa yang belum diketahui.
Sistem dua komponen mempunyai derajat kebebasan, F = 4 – P. Jika sistem ada
dalam satu fasa, maka F = 3. Artinya sistem mempunyai tiga varians atau tiga derajat
kebebasan. Keadaan sistem digambarkan dengan ruang. Karena diagram ruang sulit
untuk dibuat dan dipelajari maka untuk lebih menyederhanakan, salah satu variabel
dibuat konstan sehingga tinggal 2 variabel bebas. Dengan penyederhanaan ini
diagram dapat digambarkan dalam dua dimensi.
Sistem biner fenol-air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat kelarutan
timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap. Disebut sistem
biner karena jumlah komponen campuran terdiri dari dua zat yaitu fenol dan air. Fenol
dan air kelarutanya akan berubah apabila dalam campuran itu ditambahan salah satu
komponen penyusunnya yaitu fenol atau air. Jika komposisi campuran fenol air
dilukiskan terhadap suhu akan diperoleh kurva yang ditunjukan pada gambar berikut.

T daerah 1 fasa L0
L1

A2 B2
T2
Suhu A1 B1
T1

To
XA = 1 XC XF = 1

Gambar 1.Diagram fasa sistem biner fenol-air


Keterangan:
L1 = fasa fenol dalam air
L2 = fasa air dalam fenol
xA = mol fraksi air mol
xF = mol fraksi fenol
xC = mol fraksi komponen pada titik kritis (T C)
L1 adalah fasa fenol dalam air, L2 adalah fasa air dalam fenol, XA dan XF masing-
masing adalah mol fraksi air dan mol fraksi fenol sedangkan X C adalah mol fraksi
komponen pada suhu kritis (TC). Sistem ini mempunyai suhu kritis (T C) pada tekanan
tetap yaitu suhu minimum pada saat dua zat bercampur secara homogen dengan
komposisi XC. Pada T1 dengan komposisi diantara A2 dan B2, sistem berada pada dua
fasa (keruh). Sedangkan di luar daerah kurva (atau di atas suhu kritisnya T C) sistem
berada pada satu fasa (jernih).
Pada daerah di dalam kurva terdapat dua fasa. Titik-titik pasangan komposisi
temperatur di dalam kurva selalu menggambarkan dua fasa. Komposisi tiap fasa
terletak pada kurva. Di luar kurva hanya terdapat satu fasa. Titik maksimum kurva
disebut titik kritis maksimum atau temperatur konsulat atas. Di atas temperatur titik
kritis tidak mungkin terdapat dua fasa. Sistem ini mempunyai suhu kritis (T C) pada
tekanan tetap yaitu suhu maksimum pada saat dua zat bercampur secara homogen
dengan komposisi CC. Kurva kelarutan akan bertemu disatu titik yaitu titik kritis (TC).
Pada T1 dengan komposisi diantara A2 dan B2. Sistem pada satu fasa, campuran
berubah dari keruh menjadi jernih (bening). Jika percobaan dilakukan pada suhu yang
lebih tinggi akan diperoleh batas kelarutan yang berbeda. Semakin tinggi suhu
kelarutan masing-masing komponen satu sama lain meningkat sehingga daerah dua
fasa semakin menyempit.

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Tabung reaksi diameter 4 cm 1 buah
2. Batang pengaduk - 1 buah
3. Gelas kimia 500 mL 1 buah
4. Gelas kimia 100 mL 1 buah
5. Pemanas listrik - 1 buah
6. Buret 50 mL 1 buah
7. Statif dan klem - 1 set
8. Pipet tetes - 2 buah
9. Pipet volumetri 5 ml 1 buah
10. Termometer 100℃ 1 buah

Tabel 2. Daftar Bahan


No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Fenol - 5 gram
2. Aquades - 100 mL
IV. PROSEDUR PRAKTIKUM

Fenol ditimbang sebanyak 5 gram Aquades dimasukkan ke dalam buret

Keduanya dimasukkan ke tabung reaksi

Fenol 4,67 mL + aquades (sedikit demi sedikit hingga larutan keruh)

Alat disusun seperti gambar


Langkah diulangi pada penambahan aquades seperti pada tabel pengamatan

Dipanaskan (suhu penangas ± 90oC) sambil diaduk

Larutan mulai menjadi bening (catat suhu T 1)

Biarkan suhu menjadi T1 + 4oC

Tabung dikeluarkan dan dinginkan pada suhu


ruang sambil diaduk

Larutan mulai menjadi keruh (catat suhu T 2)

Suhu dicatat dan dihitung rerata (T)


V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3. Hasil pengamatan
No. Aquades Suhu (oC)
(mL) T1 T2 T
1 2 44 45 45,5
2 2,1 45 45,5 45,25
3 2,2 47 48 47,5
4 2,3 48 48,5 48,25
5 2,4 51 52 51,5
6 2,5 52 51,5 51,75
7 2,6 54 55 54,5
8 2,7 55 56 55,5
9 2,8 57,5 59 58,25
10 3,3 61,5 63 62,25
11 4,3 63 65 64
12 12,5 66 67 66,5
13 13,3 65 65 65
14 14 64 65 64,5
15 17 63 63 63
16 20 60 62 61
17 25 55 54 54,5
18 30 44 46 45

VI. ANALISIS DATA


1. Menentukan Massa dan mol Fenol
Massa fenol yang ditimbang : 5,02 gram (persentase fenol 99,5%)
99,5
× 5,02 𝑔 = 4,994 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎
nfenol = 𝑀𝑟
4,994 𝑔
nfenol =94,11𝑔 𝑚𝑜𝑙 −1

nfenol = 0,053 mol


2. Menentukan Massa, mol, dan Fraksi mol Air
𝑚
Massa air dapat ditentukan melalui: ρ = , sehingga m = ρ x V
𝑣

ρ air = 1 gram/mL
m=ρxV
m = 1 gram/mL x 2 mL
m = 2 gram
massa air
mol air =
massa molar air
2
mol air = 18 𝑔 𝑚𝑜𝑙−1

mol air = 0,11 mol


mol air
Xair=
mol fenol  mol air

0,11 mol
Xair=
0,053 mol  0,11mol
Xair= 0,667
Dengan cara yang sama dihitung masaa, mol, dan fraksi mol untuk setiap
penambahan air dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil analisis data

Aquades Suhu (T) mol


No. Fraksi mol Air
(mL) (oC) Fenol Air
1 2 44,5 0,053 0,11 0,677
2 2,1 45,25 0,053 0,116 0,686
3 2,2 47,5 0,053 0,122 0,698
4 2,3 48,25 0,053 0,127 0,706
5 2,4 51,5 0,053 0,133 0,715
6 2,5 51,75 0,053 0,138 0,723
7 2,6 54,5 0,053 0,144 0,731
8 2,7 55,5 0,053 0,15 0,738
9 2,8 58,25 0,053 0,156 0,745
10 3,3 62,25 0,053 0,183 0,775
11 4,3 64 0,053 0,238 0,818
12 12,5 66,5 0,053 0,694 0,929
13 13,3 65 0,053 0,738 0,933
14 14 64,5 0,053 0,778 0,936
15 17 63 0,053 0,94 0,946
16 20 61 0,053 1,11 0,954
17 25 54,5 0,053 1,388 0,963
18 30 45 0,053 1,667 0,969

Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat kurva hubungan antara suhu
(T) dengan fraksi mol air. Pada kurva tersebut akan diperoleh bentuk parabola, yang
mana titik puncaknya merupakan suhu kelarutan kritis sistem biner fenol-air.

Kurva Hubungan Suhu terhadap Fraksi Mol air


70
65
60
55 R² = 0.7793
Suhu (oC)

50
45
40
35
30
0.65 0.7 0.75 0.8 0.85 0.9 0.95 1
Fraksi mol air (x)

VII. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan suhu kritis kelarutan timbal balik
sistem fenol-air melalui kurva komposisi pada sistem fenol-air terhadap suhu pada
tekanan tetap. Praktikum ini diawali dengan menimbang larutan fenol sebanyak 5,02
gram yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Selanjutnya ke dalam
tabung reaksi, ditambahkan 0,1 mL aquades secara terus menerus sampai larutan
menjadi keruh. Pada penambahan 0,1 mL sampai 1 mL tidak terjadi perubahan pada
larutan fenol. Namun setelah ditambahkan aquades sebanyak 1,2 mL larutan mulai
keruh tetapi kekeruhan tersebut hilang setelah dikocok Hal ini menunjukkan bahwa
sistem fenol-air mulai memasuki keadaan dua fase. Kemudian ditambahkan kembali
aquades hingga 2 mL larutan fenol berubah menjadi keruh yang menandakan larutan
sudah berada dalam keadaan dua fase.
Setelah campuran menjadi keruh akibat penambahan aqudes, selanjutnya
dilakukan pemanasan pada penangas air dengan suhu ± 90 oC dan diukur suhunya saat
sistem mulai menjadi bening kembali. Hal ini bertujuan untuk untuk mengamati suhu
pada saat sistem mulai memasuki keadaan 1 fase (T1). Setelah diperoleh data suhu T 1
larutan dipanaskan kembali hingga suhu menjadi T 1 + 4 oC. Hal ini bertujuan untuk
memastikan bahwa seluruh campuran sudah berada dalam keadaan 1 fase. Setelah itu
tabung reaksi dikeluarkan dari penangas dan didinginkan dalam suhu kamar sambil
diaduk kemudian dicatat suhu ketika larutan mulai menjadi keruh (T 2). Hal ini
bertujuan untuk mengamati suhu pada saat perubahan campuran dari 1 menjadi 2 fase.
setelah diperoleh data T1 dan T2, kemudian dihitung suhu rerata (T). Kegiatan ini
dilakukan berulang dengan penambahan aquades secara berkala. Pada percobaan ini
dilakukan penambahan aquades sebanyak 18 kali dengan total volume aquades yang
ditambahkan sebanyak 30 mL. Adapun data T 1, T2 dan T yang diperoleh sudah tertera
pada analisis data. Setelah selesai melakukan penambahan aquades, kemudian
dihitung fraksi mol air disetiap penambahannya. Setelah didapat data fraksi mol air
(Xair), dibuat kurva komposisi atau fraksi mol sistem biner fenol-air (X) terhadap suhu
(T) pada tekanan tetap.
Berdasarkan data yang diperoleh kurva yang terbentuk berupa parabola yang
puncaknya merupakan suhu kritis yang dicapai pada saat komponen mempunyai
fraksi mol tertentu. Pada percobaan ini suhu kritisnya adalah 66,5 ºC. Berdasarkan
kurva yang diperoleh dapat dilihat bahwa, jika temperatur dinaikkan melewati
kesetimbangan fenol-air maka sistem berada dalam 1 fasa. Jika temperatur diturunkan
hingga di bawah kurva kesetimbangan fenol-air maka sistem berada dalam 2 fasa.
Sistem berada dalam 2 fasa karena hanya sebagian komponen yang
tercampur. Komponen yang berada pada satu fase pada saat campuran larut atau
homogen yang ditandai dengan larutan bening, sedangkan komponen berada pada dua
fase ketika dilakukan penambahan air yang menghasilkan dua lapisan yang ditandai
dengan larutan keruh.
Berdasarkan data hasil percobaan, suhu kritis kelarutan timbal balik sistem biner
fenol-air adalah 66,5oC, sedangkan secara teori suhu kritisnya adalah 65,85oC. Untuk
mengetahui kesalah relatif (KR) dalam percobaan dapat ditentukan dengan persamaan
berikut.
𝑛𝑝 − 𝑛𝑡
𝐾𝑅 = | | 𝑥100%
𝑛𝑡
66,5 − 65,85
=| | 𝑥100% = 0,98%
65,85

Berdasarkan perhitungan didapatkan harga KR sebesar 0,98%. Adanya kesalahan


pada praktikum ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kesulitan dalam mangamati
suhu pada saat sistem berubah dari keruh ke bening dan sebaliknya dari bening ke
keruh sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan ketika melakukan pengamatan
suhu. Selain itu tidak ada patokan yang jelas untuk mengetahui tingkat kekeruhan
campuran pada saat pengukuran T2 dan sebaliknya pada saat pengamatan suhu T1
ketika larutan berubah dari keruh menjadi bening, angka yang ditunjukkan
termometer cenderung dipengaruhi oleh suhu penangas air sehingga sulit ditentukan
suhu pada kedua keadaan ini yang menyebabkan kesalahan pengamatan suhu pada
saat perubahan fase. Hal ini berdampak pada perolehan titik kritis dari sistem fenol-air
yang dilakukan. Faktor lainnya yaitu pada saat penambahan aquades, penambahan
dilakukan dengan tidak konstan yang mana mula-mula penambahan dilakukan
sebanyak 0,1 mL hingga volume menjadi 2,8 mL dan selanjutnya dilakukan
penambahan 0,5 mL, 1 mL, 8,2 mL, 0,8 mL, 0,7 mL, 3 mL, dan 5 mL. Hal ini
mempengaruhi bentuk kurva yang dihasilkan tidak simetris.
VIII. SIMPULAN

Berdasarkan data hasil percobaan dan setelah dilakukan analisis data dan kurva
yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan bahwa suhu kritis kelarutan timbal
balik sistem biner fenol-air adalah 66,5 oC

IX. DAFTAR PUSTAKA


Suardana, I Nyoman dan Nyoman Retug. 2003. Kimia Fisika III. Singaraja: IKIP
Negeri Singaraja.
Retug, Nyoman., dan Ni Made Wiratini. 2014. Buku Penuntun Praktikum Kimia
Fisika. Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia, FakultasMIPA, Undiksha
Singaraja.
LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1. Pengukuran massa fenol Gambar 2. Fenol sebelum ditambah air

Gambar 3. Campuran fenol-air mulai keruh Gambar 4. Pemanasan campuran fenol-air

Gambar 5. Pendinginan campuran fenol-air