Anda di halaman 1dari 20

TUBERCULOSIS

DEFINISI

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobakterium tuberkculosis sistemis


sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang
biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.
Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal,
tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru
(Smeltzer, 2001).

Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang hampir


seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (IPD,
FK, UI).

EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2013 sekitar 9 juta orang
menderita tuberkulosis dan 1,5 juta diantaranya meninggal dunia. Tahun 2013 diestimasikan
9 juta orang di dunia menderita tuberkulosis, dan lebih dari 56% tersebar di Asia Tenggara
dan Pasifi k Barat. Pada tahun yang sama Indonesia masuk dalam negara dengan beban tinggi
tuberkulosis dengan menduduki peringkat ke-4 sebagai negara penyumbang penyakit
tuberkulosis setelah India, Cina, dan Afrika Selatan (WHO, 2014).

Prevalensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 272 per 100.000 penduduk dan
angka insiden sebesar 153 per 100.000 penduduk dengan jumlah kematian akibat tuberkulosis
sebesar 25 per 100.000 penduduk (WHO, 2014). Jumlah kasus tuberkulosis baru BTA positif
pada tahun 2011–2014 di Provinsi Jawa Timur cenderung mengalami penurunan. Pada tahun
2014 jumlah kasus tuberkulosis baru BTA positif di Provinsi Jawa Timur sebanyak 21.036
orang menurun dari jumlah kasus baru BTA positif tahun 2013. Jumlah kasus tuberkulosis
baru BTA positif di Provinsi Jawa Timur sebagian besar terjadi pada penduduk usia produktif
antara usia 15 tahun hingga 65 tahun dan sebagian lagi menyerang anak-anak usia kurang
dari 15 tahun (Dinkes Jawa Timur, 2014). Prevalensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun
2013 sebesar 272 per 100.000 penduduk dan angka insiden sebesar 153 per 100.000
penduduk dengan jumlah kematian akibat tuberkulosis sebesar 25 per 100.000 penduduk
(WHO, 2014). Jumlah kasus tuberkulosis baru BTA positif pada tahun 2011–2014 di Provinsi
Jawa Timur cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2014 jumlah kasus tuberkulosis
baru BTA positif di Provinsi Jawa Timur sebanyak 21.036 orang menurun dari jumlah kasus
baru BTA positif tahun 2013. Jumlah kasus tuberkulosis baru BTA positif di Provinsi Jawa
Timur sebagian besar terjadi pada penduduk usia produktif antara usia 15 tahun hingga 65
tahun dan sebagian lagi menyerang anak-anak usia kurang dari 15 tahun (Dinkes Jawa Timur,
2014).

ETIOLOGI

Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,2 -
0,4 x 1 - 4 um. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam.
Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadang-
kadang setelah 6-8 rninggu. Suhu optimum 37°C, tidak tumbuh pada suhu 25°C atau lebih
dari 40°C. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein-Jensen. PH optimum
6,4- 7,0.
Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6°C selama 15-20 menit. Biakan dapat
mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30
jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8 – 10 hari. Biakan basil
ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu
o
20 C selama 2 tahun. Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan
antara lain phenol 5% asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan
oleh jodium tinetur dalam 5 menit, dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit.

Faktor Resiko

1. Faktor Umur.
Beberapa faktor resiko penularan penyakit tuberkulosis di Amerika yaitu umur, jenis
kelamin, ras, asal negara bagian, serta infeksi AIDS. Dari hasil penelitian yang
dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan
menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat
secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya
mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah
kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun.
2. Faktor Jenis Kelamin.
Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996
jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah
penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita.
Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak
2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru Iebih
banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian
besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru.
3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang
diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan
penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan
mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat
pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya.
4. Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu.
Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah
terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan
kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya
gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru.
Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang
akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi
makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap
kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan
dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang
kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru.
Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka
kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan
mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru.
5. Kebiasaan Merokok
Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk
mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik dan
kanker kandung kemih.Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB
paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per
tahun adalah 230 batang, relatif lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra
Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan
(Achmadi, 2005). Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih
dari 50% terjadi pada laki-laki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%.
Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya
infeksi TB Paru.
Merokok meningkatkan risiko infeksi pnemonia, ISPA dan juga Tb paru. Merokok
dapat meningkatkan risiko infeksi akut dengan beberapa mekanisme yang
memungkinkan. Merokok dapat mengganggu kejernihan mokosa silia yang mana
digunakan sebagai mekanisme pertahanan utama dalam melawan infeksi. Hal itu juga
dapat memperbaiki menempelnya bakteri pada sel epitel pernapasan yang hasilnya
adalah kolonisasi bakteri dan infeksi. Merokok dimungkinkan menghasilkan
penurunan fungsi T sel yang dimanifestasikan oleh penurunan perkembangbiakan
mitogen T sel. Polarisasi fungsi T sel dari respon TH-1 ke TH2 mungkin juga
mengganggu pertahanan pejamu dalam melawan infeksi akut. Merokok juga
mempunyai dampak negatif pada fungsi B-limposit membawa kepada menurunnya
produksi imunoglobulin. Secara ringkas merokok dapat meningkatkan risiko infeksi
melalui efek yang bersifat merugikan pada struktur dan fungsi jalan pernapasan dan
respon imunologis pejamu terhadap infeksi (Eisner, 2008). Pada asap rokok terdapat
4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan. Komponen tersebut antara lain
karbonmonoksida (CO), karbondioksida (CO2), oksigen (O2), hidrogen sianida,
amoniak, nitrogen, senyawa hidrokarbon, nikotin, tar, benzopiren, fenol dan kadmium
(Syahdrajat, 2007). Racun akibat rokok akan terakumulasi dalam tubuh seiring
dengan lamanya merokok, semakin lama semakin banyak dan menimbulkan akibat
yang lebih berbahaya (Wiryowidagdo, 2002). Menurut Wardhana (2001), asap rokok
mengeluarkan puluhan senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan dan pada
umumnya senyawa-senyawa kimia itu beracun. Pada asap rokok terdapat sekitar
4.000 bahan kimia berbahaya. Menurut Riyadina (1995), asap yang dihasilakan dari
perbahan asap rokok yang mengepul ke udara luar ditambah asap yang dihembuskan
oleh perokok, mengandung zat kimia lebih tinggi daripada yang dihisap oleh perokok
sendiri. Sebagian besar dari toksin asap tembakau kadarnya lebih tinggi di dalam asap
yang berkok dan asal dari ujung rokok dan asap ini tidak disaring oleh filter rokok,
mengurangi jumlah rokok yang dihisap, misalnya asap rokok dihisap sampai mulut
saja kemudian dihembuskan keluar. Saat ini sudah ada beberapa bukti dari perokok
pasif yang mengalami gangguan kesehatan yang kronis.
Menurut WHO lingkungan asap rokok adalah penyebab berbagai penyakit, dan juga
dapat mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap rokok yang dialami
terus menerus pada orang dewasa yang sehat dapat menambah risiko penyakit paru-
paru dan penyakit jantung 20-30%. Lingkungan asap rokok memperburuk kondisi
seseorang yang mengidap penyakit asma, menyebabkan bronkitis dan pnemonia
(Susanna dkk,2003).
Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK
UNSOED Purwokerto, 31 Maret 2012

6. Kepadatan hunian kamar tidur


Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya
luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya
agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan
kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit
infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam
m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan
dan fasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang.
Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah
penularan penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang
lainnya minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang,
kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara
yang cukup, di syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2,75 m.
7. Pencahayaan
Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca
minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa
maka dapat dipasang genteng kaca. Cahaya ini sangat penting karena dapat
membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu
rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup.
Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60
lux., kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup.
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses
mematikan kuman untuk setiap jenisnya..Cahaya yang sama apabila dipancarkan
melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat
dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan
pada sinar matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi
udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang.
8. Ventilasi
Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar
aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen
yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah, disamping itu kurangnya ventilasi
akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses
penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit,
misalnya kuman TB.
Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara
yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi
lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam
kelembaban (humiditiy) yang optimum.
Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar 10%
dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas
ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Udara segar juga
diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan.
Umumnya temperatur kamar 22° – 30°C dari kelembaban udara optimum kurang
lebih 60%.
9. Kondisi rumah
Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC. Atap,
dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman.Lantai dan
dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan
dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium
tuberculosis.
10. Kelembaban udara
Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan, dimana
kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22° – 30°C.
Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.
11. Status Gizi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai
resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status
gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap
kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit.
12. Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi
lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan
dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi
makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk
maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan
terkena infeksi TB Paru.
13. Perilaku
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru
yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh
terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber
penular bagi orang disekelilingnya.
Sumber:
Achmadi, Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, 2005
Depkes RI, Survei Kesehatan Rumah Tangga Tahun 2001
Depkes RI, Pelatihan Manajemen Tuberkulosis di Kabupaten, 1997
Soemirat, Kesehatan Lingkungan, 2000

Klasifikasi

A. Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang terkena:


1) Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk
pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

B. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DAHAK mikroskopis, yaitu pada


TB Paru:
1) Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS
pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan
C. Klasifikasi berdasarkan tingkat kePARAHan penyakit.
1) TB paru BTA negatif foto toraks positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran
kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan
umum pasien buruk.
2) TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis peritonitis,
pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran
kemih dan alat kelamin.
Catatan:
• Bila seorang pasien TB ekstra paru juga mempunyai TB paru, maka untuk
kepentingan pencatatan, pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru.
• Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat
sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.
D. Klasifikasi berdasarkan RIWAYAT pengobatan sebelumnya
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa
tipe pasien, yaitu:
1) Kasus Baru
Adalah pasien yang BELUM PERNAH diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

2) Kasus Kambuh (Relaps)


Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO)
Adalah pasien TB yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
4) Kasus Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok
ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif setelah selesai pengobatan ulangan.
Catatan:
TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal,
default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan
secara patologik, bakteriologik (biakan), radiologik, dan pertimbangan medis
spesialistik.

Progosis

Prognosis TB Paru

Prognosis umumnya baik jika infeksi terbatas di paru, kecuali jika infeksi disebabkan oleh
strain resisten obat atau pasien berusia lanjut dengan debilitas
atau mengalami gangguan kekebalan yang beresiko tinggi menderitatuberkulosis milier.

Pasien yang tidak diobati :

1.50 % meninggal

2. 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi

3. 25 % menjadi kasus kronis yg tetap menular.

Pasien yang diobati secara teratur :

1.95 % sembuh total

2. 5 % tidak sembuh Depkes, 2005


Prognosis TBC

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB


(Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
• Cara penularan
o Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
o Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak.
o Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama
beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
o Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut.
o Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh
konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
• Risiko penularan
o Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB
paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar
dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
o Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko Terinfeksi TB selama satu
tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk
terinfeksi setiap tahun.
o ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.
o Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif

• Risiko menjadi sakit TB


o Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.
o Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000
terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap
tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
o Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah
daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi
buruk).
o HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit
TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler
(cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti
tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka
jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat
akan meningkat pula.
Pasien TB yang tidak diobati, setelah 5 tahun, akan:
o 50% meninggal
o 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi
o 25% menjadi kasus kronis yang tetap menular

Patofisiologi

Manifestasi Klinis

Manifestasi TB sangat bervariasi pada masing-masing kasus karena TB kadang-kadang tidak


menimbulkan gejala (asimtomatik).

Manifestasi TB secara 10 klinis dapat terjadi dalam beberapa fase diawali dengan fase asimtomatik
dengan lesi yang hanya dapat dideteksi secara radiologic kemudian berkembang menjadi lisis yang
jelas kemudian semakin memburuk (Notoadmodjo, 2007).

Gejala klinis pasien tuberkulosis paru menurut Depkes RI (2008), adalah

1) batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih;

2) dahak bercampur darah;

3) batuk berdarah;

4) sesak napas;

5) badan lemas;

6) nafsu makan menurun;

7) berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik;


8) demam meriang lebih dari satu bulan.

Seseorang sudah dapat ditetapkan sebagai tersangka bila sudah memiliki keluhan-keluhan tersebut.
Pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan foto rontgen dan pemeriksaan dahak (pemeriksaan
mikroskopis) (Widoyono, 2008).

Gejala sistemik/umum TB anak menurut Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak (2013)

adalah sebagai berikut: a. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan tidak naik
dengan adekuat atau tidak naik dalam 1 bulan setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik.

b. Demam lama (≥2 minggu) dan atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi
saluran kemih, malaria, dan lain-lain). Demam umumnya tidak tinggi. Keringat malam bukan
merupakan gejala spesifik TB pada anak apabila tidak disertai dengan gejala-gejala umum lain.

c. Batuk lama ≥ 3 minggu, batuk bersifat non-remitting (tidak pernah reda atau intensitas semakin
lama semakin parah) dan sebab lain batuk telah dapat disingkirkan.

d. Nafsu makan tidak ada (anoreksia) atau berkurang, disertai gagal tumbuh kembang.

e. Lesu atau malaise, anak kurang aktif bermain.

f. Diare persisten/menetap (>2 minggu) yang tidak sembuh dengan pengobatan dasar diare.

g. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit. Biasanya bersifat multiple yaitu paling
sering muncul di daerah leher, ketiak, dan lipatan paha.

Tuberkulosis pada anak sulit untuk dilakukan diagnosis sehingga sering terjadi overdiagnosis ataupun
underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada
anak biasanya sulit, maka diagnosis tuberkulosis pada anak perlu kriteria lain dengan menggunakan
sistem skor yang dilakukan oleh dokter dengan parameter: uji tuberkulin, berat badan/ keadaan gizi,
demam tanpa sebab yang jelas, batuk, pembesaran kelenjar limfe, koli, aksila, inguinal,
pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut, falang, foto thoraks (Kemenkes RI, 2013).

Gejala sistemik/umum:
• Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
• Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul
• Penurunan nafsu makan dan berat badan
• Perasaan tidak enak (malaise), lemah
Pada Atelektasis terdapat gejala manifestasi klinik yaitu: Sianosis, Sesak nafas, Kolaps.
Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong kesisi yang
sakit. Pada Foto Torak tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diagfragma menonjol
keatas.
Gejala khusus:
• Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
• Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
• Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
• Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau
diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang
kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif.
Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru
dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah.

Pemeriksaan Diagnostik

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu
dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
* Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.

* Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan Klinis Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus
atau berat badan menurun.
Tempat kelainan lesi TB yang perlu dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai infiltrat
yang agak luas, maka akan didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi nafas bronkial. Akan
didapatkan juga suara nafas tambahan berupa ronkhi basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila
infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara nafasnya menjadi vesikular melemah (Amin,
2006).

* Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).


Pemeriksaan Lahoratorium
1. Bahan pemeriksaan.
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diperhatikan waktu pengambilan, tempat
pemampungan, waktu penyimpanan dan cara pengiriman bahan pemeriksaan. Pada
pemeriksaan laboraiorium tuberkulosis ada beberapa macam bahan pemeriksaan yaitu:
• Sputum (dahak), harus benar – benar dahak, ingus juga bukan ludah. Paling baik adalah
sputum pagi hari pertama kali keluar. Kalau sukar dapat sputum yang dikumpulkan
selama 24 jam (tidak lebih 10 ml). Tidak dianjurkan sputum yang dikeluarkan ditempat
pemeriksaan.
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk
penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan
berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):
• S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama
kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk
mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
• P(Pagi):
Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah
bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
• S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.

• Air Kemih, Urin pagi hari, pertama kali keluar, merupakan urin pancaran tengah. Sebaiknya
urin kateter.
• Air kuras lambung, Umumnya anak-anak atau penderita yang tidak dapat mengeluarkan
dahak. Tujuan dari kuras lambung untuk mendapatkan dahak yang tertelan. Dilakukan
pagi hari sebelum makan dan harus cepat dikerjakan.
• Bahan-bahan lain, misalnya nanah, cairan cerebrospinal, cairan pleura, dan usapan
tenggorokan.
Cara Pemeriksaan Laboratorium
a.Mikroskopik, dengan pewarnaan Ziehl-Nelsen dapat dilakukan identifikasi bakteri tahan
asam, dimana bakteri akan terbagi menjadi dua golongan:
• Bakteri tahan asam, adalah bakteri yang pada pengecatan ZN tetap mengikat warna
pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol, sehingga tidak mampu mengikat warna
kedua. Dibawah mikroskop tampak bakteri berwarna merah dengan warna dasar biru
muda.
• Bakteri tidak tahan asam, adalah bakteri yang pewarnaan ZN warna pertama yang
diberikan dilunturkan oleh asam dan alkohol, sehingga bakteri akan mengikat warna
kedua. Dibawah mikroskop tampak bakteri berwarna biru dengan warna dasar biru yang
lebih muda lagi.
b. Kultur (biakan), Media yang biasa dipakai adalah media padat Lowenstein Jesen. Dapat
pula Middlebrook JH11, juga satu media padat. Untuk perbenihan kaldu dapat dipakai
Middlebrook JH9 dan JH 12.
c. Uji kepekaan kuman terhadap obat-obatan anti tuberkulosis, tujuan dari pemeriksaan ini,
mencari obat- obatan yang poten untuk terapi penyakit tuberkulosis.

* Pemeriksaan patologi anatomi (PA).

* Rontgen dada (thorax photo).


Tidak dibenarkan mendiagnosis TB
hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas
penyakit.
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi
tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai
berikut:
• Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru
BTA positif. (lihat bagan alur di lampiran 2)
• Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT(non fluoroquinolon). (lihat bagan alur lampiran 2)
• Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan
penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis
atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk
menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).

* Uji tuberkulin.

Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan yang paling bermanfaat untuk
menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan sering
digunakan dalam “Screening TBC”. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC
dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita anak umur kurang dari 1
tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 1–2 tahun 92%, 2–
4 tahun 78%, 4–6 tahun 75%, dan umur 6–12 tahun 51%. Dari persentase tersebut
dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin
kurang spesifik.
Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux
lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian
atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit).
Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur
diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi:
1. Pembengkakan (Indurasi) : 0–4mm, uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.
2. Pembengkakan (Indurasi) : 5–9mm, uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan
Mycobacterium atypikal atau pasca vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis

Penatalaksanaan

Pengobatan
Pengobatan TB Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TB) dan
II (Terinfeksi TB/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TB (gejala TB tidak ada, radiologi
tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH
(Isoniazid) 5–10 mg/kgbb/hari.
1. Pencegahan (profilaksis) primer:
Anak yang kontak erat dengan penderita TB BTA (+) mendapat INH minimal 3 bulan walaupun
uji tuberkulin memberi hasil negatif. Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang
menjadi negatif atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
2. Pencegahan (profilaksis) sekunder:
Anak dengan infeksi TB yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit. Profilaksis diberikan
selama 6-9 bulan.

Obat yang digunakan untuk TB digolongkan atas dua kelompok yaitu :


i. Obat primer : INH, Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid. Memperlihatkan
efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita
dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
ii. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan
Kanamisin.
Pengobatan TB pada orang dewasa
1. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap
intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu
(tahap lanjutan). Diberikan kepada:
i. Penderita baru TB paru BTA positif.
ii. Penderita TB ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.
2. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3

Diberikan kepada:
i. Penderita kambuh.
ii. Penderita gagal terapi.
iii. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
3. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
Diberikan kepada:
i. Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

Pengobatan TB pada anak


1. 2HR/7H2R2 :
INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau
2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap
INH).
2. 2HRZ/4H2R2
INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin
setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada
resistensi terhadap INH). Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan
bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. TB tidak berat
INH : 5 mg/kgbb/hari
Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari
a) TB berat (milier dan meningitis TBC)
INH : 10 mg/kgbb/hari
Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari
Prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)
Komplikasi

1. Kerusakan tulang dan sendi


Nyeri tulang punggung dan kerusakan sendi bisa terjadi ketika infeksi kuman TB menyebar
dari paru-paru ke jaringan tulang. Dalam banyak kasus, tulang iga juga bisa terinfeksi dan
memicu nyeri di bagian tersebut.
2. Kerusakan otak
Kuman TB yang menyebar hingga ke otak bisa menyebabkan meningitis atau peradangan
pada selaput otak. Radang tersebut memicu pembengkakan pada membran yang menyelimuti
otak dan seringkali berakibat fatal atau mematikan.
3. Kerusakan hati dan ginjal
Hati dan ginjal membantu menyaring pengotor yang ada adi aliran darah. Fungsi ini akan
mengalami kegagalan apabila kedua organ tersebut terinfeksi oleh kuman TB.
4. Kerusakan jantung
Jaringan di sekitar jantung juga bisa terinfeksi oleh kuman TB. Akibatnya bisa terjadi cardiac
tamponade, atau peradangan dan penumpukan cairan yang membuat jantung jadi tidak efektif
dalam memompa darah dan akibatnya bisa sangat fatal.
5. Gangguan mata
Ciri-ciri mata yang sudah terinfeksi TB adalah berwarna kemerahan, mengalami iritasi dan
membengkak di retina atau bagian lain.
6. Resistensi kuman
Pengobatan dalam jangka panjang seringkali membuat pasien tidak disiplin, bahkan ada yang
putus obat karena merasa bosan. Pengobatan yang tidak tuntas atau tidak disiplin membuat
kuman menjadi resisten atau kebal, sehingga harus diganti dengan obat lain yang lebih kuat
dengan efek samping yang tentunya lebih berat.
Komplikasi berikut sering terjadi pada pasien lanjut:
Hemoptisis masif (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena sumbatan jalan napas, atau syok hipo¬volemik,
Kolaps lobus akibat sumbatan bronkus,
Bronkietasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada
proses pemulihan atau reaktif) pada paru,
Pneumotoraks (pnemotorak/ udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena
bula/ blep yang pecah,
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal dan sebagainya,
Insufisiensi kardio pulmoner (cardio pulmonary insufficiency).

PENCEGAHAN PENYAKIT TBC-PARU

Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderitaan, masayrakat dan petugas kesehatan.
A. Pengawasan Pederita, kontak dan lingkungan
1. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang
dahak tidak disembarangan tempat.
2. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus
diberikan vaksinasi BCG.
3. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang antara
lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.
4. Isolasi, pemeriksaan kepada orang–orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC.
Pengobatan mondok dirumah sakit hanya bagi penderita yang kategori berat yang
memerlukan pengembangan program pengobatannya yang karena alasan – alasan sosial
ekonomi dan medis untuk tidak dikehendaki pengobatan jalan.
5. Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga keberhasilan yang ketat, perlu perhatian
khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry, tempat tidur, pakaian) ventilasi
rumah dan sinar matahari yang cukup.
6. Imunisasi orang–orang kontak. Tindakan pencegahan bagi orang–orang sangat dekat
(keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasinya
dengan vaksi BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.
7. Penyelidikan orang–orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota keluarga dengan
foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara–cara ini negatif, perlu diulang
pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu penyelidikan intensif.
8. Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat obat–obat
kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter di minum dengan tekun dan teratur, waktu
yang lama (6 atau 12 bulan). Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan
pemeriksaaan penyelidikan oleh dokter.
B. Tindakan Pencegahan.
1. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan
hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan pnderita, kontak atau suspect gambas,
sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect,
perawatan.
3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif
dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.
4. BCG, vaksinasi diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan
keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat
pencegahan.
5. Memberantas penyakit TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi dan pasteurisasi
air susu sapi
6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karena menghirup udara yang tercemar
debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.
7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala TBC paru.
8. Pemeriksaan screening dengan tuberculin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para
emigrant, orang–orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru
disekolah, petugas foto rontgen.
9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang–orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin
test.
Ada beberapa tips untuk membantu menjaga dan pencegahan penyakit TB kepada teman dan
keluarga dari infeksi kuman :
1. Tinggal di rumah. Jangan pergi kerja atau sekolah atau tidur di kamar dengan orang lain
selama beberapa minggu pertama pengobatan untuk TB aktif
2. Ventilasi ruangan. Kuman TB menyebar lebih mudah dalam ruangan tertutup kecil di mana
udara tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan masih kurang, buka
jendela dan gunakan kipas untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.
3. Tutup mulut mengunakan masker. Gunakan masker untuk menutup mulut kapan saja ini
merupakan langkah pencegahan TB secara efektif. Jangan lupa
untuk membuang masker secara teratur.
4. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberikan desinfektan (air sabun).
5. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
6. Hindari udara dingin.
7. Usahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur.
8. Menjemur kasur, bantal, dan tempat tidur terutama pagi hari.
9. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak
boleh digunakan oleh orang lain.
10. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.

1. Jaga jarak dengan penderita


Cara yang bisa di lakukan adalah menjaga jarak dengan penderita. Sebab penderita TBC
akan menulari orang lain melalui udara. Untuk itu menjaga jarak agar tidak tertular menjadi
penting. Apalagi TBC di sebabkan karena pengaruh bakteri yang menginfeksi pada bagian
paru – paru penderita.
2. Jangan menggunakan alat makan yang sama dengan penderita
Untuk menghindari terkena virus yang di sebabkan karena TBC, sebaiknya anda menghindari
menggunakan alat makan yang sama dengan penderita. Bekas air liur yang di hasilkan
penderita bisa menulari anda. Untuk itu, cucilah bersih setiap alat makan yang sudah di
gunakan oleh penderita.
3. Gunakan masker untuk pencegahan
Selain itu, anda juga bisa menggunakan masker sebagai bentuk pencegahan yang di lakukan.
Masker ini di gunakan untuk menghindari kontak udara langsung yang bisa menyebabkan
virus dan bakteri TBC masuk ke dalam tubuh anda. Untuk pengamanan, anda bisa
menggunakan masker yang sekali pakai lalu di buang.
4. Makan makanan yang sehat dan bergizi
Cara lain yang bisa di lakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Penuhi
kebutuhan tubuh dan gizinya. Makanlah makanan yang mengandung karbohidrat, lemak,
protein, vitamin, dan mineral yang cukup. Hal ini akan membantu kesehatan organ tubuh
anda. Selain tu makan makanan sehat juga membuat tubuh anda semakin kebal dengan
penyakit.Berikut ada ciri ciri makanan sehat
5. Istirahat cukup
Usahakan anda selalu mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Tidak melakukan begadang
atau tidur larut malam untuk hal – hal yang kurang berguna. Bergegaslah tidur malam hari.
Penuhilah waktu tidur sekitar 6 jam sehari. Hal ini akan membuat tubuh anda menjadi lebih
fresh dan siap untuk menghadapi hari selanjutnya.
6. Jangan lakukan hal yang berat
Untuk merawat kesehatan tubuh anda, bisa melakukan aktivitas yang ringan. Hindari untuk
melakukan aktivitas yang berat. Hal ini bisa membuat tubuh anda lebiha awet. Apalagi untuk
kesehatan tulang dan persendian.
7. Jika merasa sakit, sebaiknya berada di dalam rumah
Jika anda merasa tubuh anda sakit atau kondisinya tidak enak, lebih baik untuk tetap berada
di dalam rumah. Jangan pergi keluar dahulu. Perbaiki kondisi badanmu agar membaik.
Lakukanlah kegiatan yang sederhana saja. Atau hanya melakukan aktivitas yang harus di
lakukan hari ini juga. Jika memang sudah baik, anda bisa keluar rumah lagi.
8. Hindari terkena bersin dan batuk penderita
Karena penularan dari TBC melalui udara, maka usahakan anda tidak terkena bersin dan
batuk – batuk yang berasal dari penderita. Sebab virus dan bakteri bisa menulari kita melalui
hal tersebut. Usahakan penderita juga bersin dan batuk di sebelah tempat yang tidak ada
orangnya. Atau batuk dan bersin dengan menutupi dengan menggunakan tissu.
9. Jaga kebersihan rumah dan lingkungan anda
Selain itu, ada juga cara yang bisa di lakukan untuk mencegah terinfeksi TBC. Yakni dengan
menjaga kebersihan rumah dan lingkungan anda. Karena TBC ini di sebabkan karena udara
yang kotor, sehingga paru – paru tidak mendapatkan udara yang bersih. Jika ingin mencegah
terkena infeksi ini, maka usahakanlah lingkungan anda tetap bersih selalu.
10. Jangan merokok
Merokok adalah aktivitas yang tidak baik untuk di lakukan bagi manusia. Rokok
mengandung beberapa senyawa yang tidak baik untuk tubuh. Misalnya karbon , nikotin, dan
lain sebagainya. Kebiasaan merokok mampu merusak paru – paru anda menjadi keropos.
Jika anda terkena TBC, maka sangat di larang untuk merokok. Karena bisa memperparah
sakit anda. Jika belum terkena TBC sebaiknya hindari rokok. Perlu anda tahu efek samping
rokok bagi kesehatan anda.
11. Jangan konsumsi alkohol
Selain rokok, anda juga harus menghindari alkohol. Kandungan yang ada dalam alkohol tidak
baik untuk kesehatan tubuh anda. Alkohol hanya akan merusak sistem tubuh anda.
Terutama pada bagian otak dan jantung. Selain itu, kebiasaan minum alkohol akan
membuat tubuh anda menjadi lebih lemah dan ringkih. Sehingga resiko tertular semakin
tinggi.
12. Segera periksa ke dokter jika anda sakt batuk tak kunjung sembuh
Jika anda sedang sakit batuk, sebaiknya periksakan ke dokter terlebih dahulu. Apalagi batuk
yang anda alami sampai membuat dada menjadi sesak. Kemudian batuk tersebut juga tak
kunjung smebuh. Bisa jadi batuk batuk yang anda alami ini adalah gejala awal anda terkena
TBC atau TB paru.
13. Waspadai jika batuk berdarah
Apabila batuk anda tidak kunjung sembuh, maka segera periksakan ke dokter. Apalagi jika
batuknya di jumpai bercak darah merah. Anda harus waspada. Segera konsultasikan ke
dokter agar anda mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bisa jadi TBC yang anda alami
masih gejala awal yang masih bisa di sembuhkan.
Itulah beberapa cara untuk melakukan pencegahan sakit TB paru. Jagalah kesehatan anda
selalu. Karena lebih baik mencegah dari pada mengobati. Salam sehat.