Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu olah raga yang banyak digemari oleh masyarakat adalah senam. Senam

ada berbagai macam, diantaranya senam lantai, senam hamil, senam aerobik, senam

pramuka, senam kesegaran jasmani (SKJ), dll. Biasanya pada waktu di sekolah dasar,

guru-guru mengajarkan senam-senam yang mudah dicerna oleh murid, seperti SKJ

dan senam pramuka. Namun ketika beranjak remaja, banyak orang melakukan senam

aerobik, ataupun senam lain termasuk meditasi (Wikipedia, 2008). Senam aerobik

merupakan gabungan gerakan-gerakan yang energik dan kreatif, beriramakan cepat

dengan gerakan dasar kaki jalan-loncat sesuai dengan fungsi senam aerobik itu

sendiri. Manfaat senam aerobik adalah meningkatkan kesehatan jantung dan stamina

tubuh. Tapi bila dilakukan secara tidak benar bisa menimbulkan cedera (Sriwijaya

Post, 2004).

Pada saat senam selalu ada seorang instruktur yang bertugas mengawasi dan

memberi contoh gerakan – gerakan senam pada pesertanya. Instruktur senam

memiliki kemampuan senam yang lebih baik. Hal ini diperoleh karena instruktur

senam melakukan latihan senam secara tertatur dan terukur, serta frekuensi perminggu

yang sangat tinggi yaitu 5-7 kali dan lama latihan minimal 1 jam.

Senam aerobik dimulai dengan pemanasan selama 10 menit, dilanjutkan dengan

latihan inti selama 40 menit dan kemudian dilanjutkan dengan pendinginan selama 10

menit yang diiring musik sesuai dengan iramanya. Latihan inti yang dilakukan sampai

dapat menaikkan denyut jantung 150 kali permenit atau maksimalnya dihitung

berdasarkan rumus (220 – umur dalam tahun). Latihan yang cukup tinggi ini semula
dapat menaikkan kesegaran jasmaninya sehingga instruktur ini mempunyai

kemampuan menggunakan energi yang sangat efisien. Namun latihan dengan

intensitas yang sangat tinggi dan juga frekuensi melakukan senam perminggunya

lebih dari 7 kali di duga menjadikan beban yang berat bagi instruktur. Beban fisik

yang sangat berat atau tergolong latihan dengan intensitas yang tinggi dapat memacu

keluarnya hormon androgen.

Disebutkan pada artikel WebMD newsletter bahwa latihan seharusnya menjadi

bagian dari aktifitas normal. Akan tetapi, terlalu banyak melakukan latihan itu

berbahaya, terutama bagi pelari jarak jauh. Pada wanita, dapat menimbulkan

terganggunya siklus ovulasi, mengalami keadaan tidak menstruasi atau keguguran.

Sebuah penelitian mengindikasikan bahwa latihan dapat menyebabkan

abnormalitas pada sistem reproduksi termasuk amenorrhea sekunder (keadaan tidak

menstruasi dalam 3 bulan atau lebih) dan oligomenorrhea (siklus menstruasi yang

irregular), yang bisa saja merupakan efek dari disfungsi hipotalamus (Warren dan

Periroth, 2001). Dari jurnal Emerald, Nutrition & Food Science menyebutkan bahwa

penelitian Emma Derbyshire tentang “Aktifitas Fisik dan Ketidaksuburan”

menemukan hasil abnormalitas sistem reproduksi banyak terjadi pada wanita yang

energinya tidak seimbang yakni pada wanita yang beraktifitas tinggi atau kekurangan

intake energi.

Intensitas tinggi dan durasi yang lama dari aktivitas fisik sudah lama dikait-

kaitkan dengan perubahan sekresi hormone reproduksi (Baker, 1981). Perubahan

endokrinologi wanita mungkin bisa secara tidak langsung, atau secara langsung

mempegaruhi perubahan fungsi reproduksi dan kemungkinan paling buruk dapat

menyebabkan ketidaksuburan. Perubahan rasio hormon-hormon dan pengerahan

energi yang terjadi pada atlet senam intensitas tinggi diduga juga mempengaruhi
proses kehamilan. Perubahan ratio estrogen terhadap progesteron akan mempengaruhi

proses kehamilan. Kadar progesteron yang kurang dominan atau kadar estrogen

/androgen yang dominan akan merangsang kontraksi uterus, melemahkan kehamilan

(Greenspan, 1991). Kondisi ini ditunjukkan dengan gejala perdarahan hingga aborsi.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dalam pendahuluan, maka dapat

dirumuskan masalah : Berapa banyak wanita beraktivitas intensitas tinggi yang

mengalami gangguan kesuburan dan apakah intensitas latihan berpengaruh terhadap

timbulnya gangguan kesuburan?

Batasan masalah:

1. Wanita yang beraktivitas tinggi adalah wanita pelatih senam aerobik di wilayah

Yogyakarta.

2. Gangguan kesuburan dibatasi pada panjang siklus menstruasi, ovulasi, perdarahan

saat hamil dan aborsi.

C. Tujuan Penelitian

1. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa bermakna

implikasi aktivitas senam intensitas tinggi terhadap gangguan kesuburan instruktur

senam perempuan di wilayah Yogyakarta.

2. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui :

a. Frekuensi aktifitas senam perminggu pada instruktur perempuan

b. Siklus menstruasi pada instruktur perempuan

c. Persentase instruktur perempuan yang tidak mengalami ovulasi


d. Persentase instruktur perempuan yang tidak mengalami perdarahan

saat kehamilan

e. Persentase instruktur perempuan yang tidak mengalami aborsi

f. Persentase instruktur perempuan yang mengalami perdarahan dan atau

aborsi selama kehamilan.

g. Perbedaan persentase ovulasi pada instruktur perempuan yang

memiliki aktifitas senam yang rendah dan tinggi

h. Perbedaan persentase perdarahan saat hamil pada instruktur perempuan

yang memiliki aktifitas senam yang rendah dan tinggi

i. Perbedaan persentase aborsi pada instruktur perempuan yang memiliki

aktifitas senam yang rendah dan tinggi

D. Manfaat Penelitian

a. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi sumbangan pengembangan ilmu

pengetahuan biomedis yang berkaitan dengan penatalaksanaan kesehatan

reproduksi.

b. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber pustaka untuk penelitian

lebih lanjut.

c. Hasil penelitian diharapkan memberi manfaat praktis dasar ilmiah bukti nyata

pengaruh aktivitas fisik tinggi terhadap kesehatan reproduksi dan upaya-upaya

promotif-preventif.
E. Ruang Lingkup

1. Ruang lingkup subyek : wanita usia subur yang aktif menjadi

instruktur senam aerobik di sanggar senam di wilayah Yogyakarta.

2. Ruang lingkup lokasi : sanggar senam di wilayah Yogyakarta.

3. Ruang lingkup waktu : Mei 2008 – Juli 2008


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Senam Aerobik

a. Definisi

Salah satu jenis olahraga yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk

menjaga kebugaran tubuh, menyenangkan dan tentu saja memiliki banyak

manfaat lain adalah senam aerobic. Senam aerobic merupakan bagian dari

aktivitas ritmik, diartikan sebagai aktivitas gerak yang dilakukan perorangan

maupun kelompok orang secara berirama, dengan menggunakan otot-otot

besar, serta penggunaan energi dengan oksigen, yang bertujuan untuk

pemeliharaan dan peningkatan kebugaran tubuh serta tujuan lain yang relevan,

dan penggalian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya

b. Manfaat

Olahraga senam aerobic yang dilakukan secara dan dengan takaran yang

tepat, dapat memberikan manfaat :

(1) Dapat meningkatkan fungsi sistem tubuh, peningkatan kekuatan, daya

tahan otot dan kardiovaskuler, serta peningkatan fleksibilitas dan

komponen kebugaran lainnya.

(2) Dapat meningkatkan keharmonisan fungsi saraf dan otot, melalui

berbagai latihan koordinasi di dalamnya.


(3) Dapat meningkatkan kemampuan menerima, membedakan dan

menerjemahkan isyarat, karena dalam melakukan senam aerobic terutama

yang diiringi dengan musik seseorang harus tetap mengikuti musik

tersebut.

(4) Dapat meningkatkan kecerdasan, peserta senam pada suatu kelas

senam aerobic harus tetap mengikuti koreografi yang diberikan oleh

instruktur.

(5) Dapat meningkatkan kepekaan terhadap kondisi lingkungan sehingga

mampu beradaptasi dengan mudah dan menjaga keharmonisan dalam

hidup bersama.

(6) Dapat meningkatkan kemampuan kontrol emosi, pelepasan

ketegangan, meningkatkan kreativitas, serta peningkatan pengalaman

estetis.

Jadi sebenarnya senam aerobic ternyata tidak hanya mampu meningkatkan

kebugaran jasmani, tetapi juga mampu memberikan hal yang lebih.

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa senam aeobik yang dilakukan

secara benar dan dengan takaran yang tepat, dapat memberikan manfaat

seperti yang diharapkan, tetapi nyatanya tidak banyak yang secara efektif

mengambil manfaat dari aktivitas tersebut. Hal ini dimungkinkan karena,

pesenam tidak memiliki pengetahuan definisi gerak yang cukup, bekal teknik

yang pas-pasan, tidak menguasai sistematika pelatihan yang benar, pemilihan

musik pengiring yang cocok, tidak mampu memanfaatkan alat bantu secara

optimal, serta ketidakcukupan pengetahuan dan pengalaman lain yang dapat

digunakan sebagai pendukung.


Pemahaman definisi gerak bagaimana harus memutar anggota tubuh,

menekuk, meluruskan, membentangkan, mengayun, serta gerakan lain yang

mungkin dilakukan sungguh sangat diperlukan, jika tidak, bukan tidak

mungkin gerak akan mengakibatkan cidera.

2. Kesuburan

a. Definisi

Yang dimaksud dengan masa subur adalah masa dimana terjadinya ovulasi

pada pertengahan siklus haid. Ovulasi mengeluarkan sel telur yang sudah

matang dan siap dibuahi oleh sperma. Jadi, bila pada saat masa subur, seorang

wanita melakukan hubungan seks dengan suaminya, dan bila sperma bagus,

maka bisa terjadi pertemuan antara sel telur dengan sel sperma sehingga

terjadi konsepsi. Hasil konsepsi inilah yang kemudian akan tumbuh menjadi

janin (Iskandar, 2007).

Masa subur sangat besar artinya bagi mereka yang menginginkan hamil

dan bagi yang ingin menunda kehamilan. Bagi yang menginginkan kehamilan,

masa subur bisa dijadikan patokan untuk melakukan hubungan seksual karena

saat ini ovulasi sedang terjadi sehingga kemungkinan hamil sangat besar.

Sedangkan bagi yang mau menunda kehamilan, masa subur merupakan masa

yang harus dihindari untuk mencegah terjadinya kehamilan.

b. Cara Menentukan Masa Subur

Cara - cara menentukan masa subur yang umum digunakan yakni sistem

kalender, metoda lendir serviks, dan metoda suhu tubuh. Cara yang paling

sederhana adalah system kalender. System kalender dibagi menjadi 2 cara

berdasarkan siklus haidnya, Jika siklus haidnya teratur, masa subur


berlangsung 14 +/- 1 hari haid berikutnya. Artinya masa subur berlangsung

pada hari ke 13 sampai hari ke 15 sebelum tanggal haid yang akan datang.

Sedangkan apabila siklus haidnya tidak teratur maka pertama tama harus

dicatat panjang siklus haid sekurang kurangnya selama 6 siklus. Dari jumlah

hari pada siklus terpanjang, dikurangi dengan 11 akan diperoleh hari subur

terakhir dalam siklus haid tersebut. Sedangkan dari jumlah hari pada siklus

terpendek dikurangi 8, diperoleh hari subur pertama dalam siklus haid

tersebut. Misal : siklus terpanjang = 31, sedangkan siklus terpendek = 26,

maka masa subur dapat dihitung, 31 - 11 = 20, dan 26 - 8 = 18, jadi masa

subur berlangsung pada hari ke 18 sampai hari ke 20.

Dalam metoda lender serviks, yang dinilai adalah sifat dari lendir atau

cairan yang dihasilkan oleh leher rahim atau serviks. Saat ovulasi atau masa

subur, lendir serviks akan bertambah jumlahnya dengan warna yang jernih dan

elastis. Saat ini wanita akan merasakan basah saluran kelaminya. Untuk

memeriksa elastisitas cairan serviks bisa dilakukan dengan cara memasukan

jari telunjuk ke vagina sampai menyentuh serviks, lalu setelah jari terisi cairan

serviks itu dikeluarkan dari vagina, dengan bantuan ibu jari, cairan itu ditarik

sedemikian rupa (pelan pelan) sampai putus. Bila terputus kurang dari 10 cm

maka si wanita bukan dalam masa subur, bila sampai kira kira 10 cm maka si

wanita sedang dalam masa subur.

Sedangkan pada metoda suhu tubuh agak sedikit lebih rumit, tapi masih

bisa dikerjakan oleh pasangan usia subur. Pertama-tama, kita harus mengukur

suhu tubuh wanita tersebut sejak siklus pertama haid sampai haid berikutnya

pada pagi hari (baru bangun tidur). Suhu harian itu kemudian dicatat dan
dihubungan dengan garis (seperti membuat grafik). Saat ovulasi/masa subur,

suhu tubuh akan meningkat 0.05 sampai 0.2 derajat Celcius.

Identifikasi lainnya adalah adanya rasa nyeri pada perut bagian bawah

(mittelschmerz) karena pecahnya folikel (sel telur yang membesar, siap untuk

ber-ovulasi). Atau dengan pemeriksaan urine untuk mengukur hormon lutein

(luteinizing hormone). Bila hasilnya positif, berarti wanita sedang dalam masa

subur. Tes ini seperti tes kehamilan, tapi yang diukur adalah hormon beta

HCG, tapi hormon lutein yang ada di air kencing.

Cara yang lebih canggih adalah dengan USG. Pada hari ke-12 haid

dihitung dari hari pertama haid, folikel diukur. Jika pada hari ke-12 terdapat

folikel yang ukurannya hampir mencapai 18 mm (mengindikasikan waktu

untuk ovulasi), berarti wanita sedang dalam masa subur.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesuburan

Wanita

(1) Faktor fisik

Jika fisik wanita optimal, tentu kesuburan dan siklus hormonal akan

juga optimal, sehingga memengaruhi kesuburan. Jika fisik lemah,

misalnya menderita penyakit kronis atau kondisi tubuh sedang sangat

kurang, sulit untuk ovulasi, untuk memenuhi kebutuhan sel-sel tubuh

sehari-hari saja tidak cukup. Akibatnya, tentu juga akan memengaruhi

kesuburan. Terlalu gemuk atau terlalu kurus juga bisa memengaruhi

kesuburan(Iskandar, 2007). Adanya penyakit tertentu, misalnya policystic

ovarii (PCO) yang mempersulit terjadinya sel matang, juga akan

memengaruhi masa subur seseorang.


(2) Faktor psikis

Wanita yang mengalami gangguan psikis berat, seperti stres hebat atau

depresi, biasanya juga akan mengalami gangguan hormonal. Siklus haid

jadi kacau, tidak ada ovulasi dan sebagainya. Hal itu sangat berpengaruh

pada proses pematangan sel telur dan gangguan transportasi sel telur

ataupun embrio.

(3) Usia

Pada wanita puncaknya adalah umur 21-24 tahun, sebelum usia

tersebut kesuburan belum benar matang dan setelahnya berangsur

menurun. Kesuburan wanita yang menurun disebabkan karena cadangan

sel telur yang dimiliki semakin lama semakin menipis. Cadangan sel telur

wanita paling banyak sekitar enam hingga tujuh juta dan pada saat usia

makin tua, jumlah tersebut terus menurun. Keadaan seperti ini

menyebabkan sel telur sulit untuk dibuahi dan kalau dibuahi akan

menyababkan abortus dan cacat bawaan.

(4) Gangguan siklus menstruasi

Siklus haid yang terlalu pendek (polimenorhae, di bawah 21 hari) atau

siklus haid yang terlalu panjang (oligomenorhae, lebih dari 35 hari)

biasanya tidak menghasilkan ovulasi (unovulasi).

(5) Gizi dan nutrisi

Antioksidan diketahui memperbaiki kinerja sel, bukan cuma sel yang

menunjang kesuburan (sel-sel kelamin), tapi juga seluruh sel-sel di seluruh

tubuh. Oleh karena itu, konsumsi antioksidan (makanan yang mengandung

vitamin E dan vitamin C tinggi) bisa membantu memacu atau


mengoptimalkan kesuburan. Kekurangan zat-zat tadi bisa menurunkan

kesuburan. Tapi, kalau asupan makanan baik, tidak ada penyakit, aliran

darah lancar, dan lain-lain, maka kesuburan pun akan optimal.

(6) Lingkungan

Baik fisik, kimis maupun biologis (panas, radiasi, rokok, narkotik,

alcohol) dapat mempengaruhi kesuburan pada wanita. Wanita perokok

berat tidak saja sulit hamil, tapi juga memiliki resiko abortus dan

mendapatkan anak cacat. hasil penelitian menunjukkan bahwa pria yang

dilahirkan dari ibu perokok berat mempunyai jumlah sperma yang lebih

rendah. Karena itu dampak merokok berat tidak hanya pada dirinya tapi

juga pada keturunannya (Gatra.com, 2005). Merokok bagi wanita, sungguh

mengancam kesuburan. Pengaruhnya tergantung pada jumlah rokok yang

dihisap setiap harinya. Wanita perokok sedang yaitu yang merokok kurang

dari 20 batang per hari kesuburannya menurun hingga tinggal 75 %

dibanding dengan yang tidak merokok. Sedangkan pada wanita perokok

berat yaitu yang merokok lebih dari 20 batang setiap harinya,

kesuburannya jauh menurun hingga tinggal 57%. Kandungan nikotin pada

rokok berdampak pada meningkatnya amplitudo gelombang uterotuba

sehingga angka kejadian kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)

akan meningkat. Selain itu merokok juga menyebabkan meningkatnya

kejadian abortus dan kelainan kongenitas khususnya sindroma down. Pada

percobaan hewan coba, nikotin bisa mempengaruhi desidualisasi,

menghambat pembelahan sel, menghambat pembentukan blastocyst,

mengganggu masuknya buah kehamilan ke rongga rahim, bahkan


mencegah implantasi sehingga menurunkan angka keberhasilan bayi

tabung.

Alkohol menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta

meningkatkan prolaktin. Hal ini akan menghambat terjadinya proses

ovulasi (Farmacia, 2008). Pemakaian ganja, kokain, dan heroin ditengarai

menyebabkan gangguan sekresi gonadotropin dan prolaktin sehingga bisa

menghambat ovulasi.

Kafein yang banyak terkandung dalam kopi, teh dan soft drinks

merupakan stimulan yang dicurigai menurunkan kesuburan jika diminum

lebih dari 7 cangkir per hari. Hubungannya masih kontroversial (Farmacia,

2008).

Bahan kimia tertentu serta polutan yang terpapar secara terus menerus

selama bekerja dapat meningkatkan resiko infertilitas. Sebagai contoh,

bahan pestisida, solvent yang dipakai pada industri dry cleaning, thinner,

logam berat misalnya cadmium dan mercury, serta gas anestesi. Radiasi

dalam dosis besar serta jangka panjang atau berulang akan meningkatkan

kejadian infertilitas.

Obat-obatan yang paling sering dikonsumsi untuk meredakan sakit

kepala, nyeri haid, dan nyeri sendi yaitu golongan NSAID ternyata turut

pula mempengaruhi kesuburan. Pasalnya, obat-obat ini menyebabkan

luteinized unrupted follicle syndrome, yakni kegagalan folikel untuk

melepaskan sel telur. Lain lagi dengan obat untuk epilepsi, berdasarkan

penelitian menyebabkan wanita yang mengkonsumsinya mengalami

gangguan haid, polikistik ovari dan peningkatan kadar hormon testosteron.


Pada wanita yang mendapat terapi kanker khususnya obat-obatan

kemoterapi, dapat menyebabkan kerusakan ovarium sehingga kadar

hormon yang diperlukan untuk mengontrol siklus haid menjadi terganggu.

Sedangkan obat golongan dopamin agonist seperti metoclopramide (anti

mual), metil dopa (antihipertensi), cimetidine (H2 antagonist) dan

haloperidol menyebabkan peningkatan kadar prolaktin sehingga menekan

sekresi gonadotropin releasing hormon (GnRH). Dampaknya bisa tidak

terjadi ovulasi.

(7) Frekuensi dan Intensitas Olahraga

Olahraga penting artinya bagi kesehatan. namun olahraga yang

berlebihan akan mengganggu siklus haid berupa pemendekan siklus luteal

dan amenorhea sekunder. Olahraga yang berlebihan bisa menyebabkan

seorang wanita menjadi sulit hamil. Mekanismenya masih belum jelas.

Diduga karena penurunan produksi gonadotropin, peningkatan produksi

endorfin dan kortisol.

d. Tanda-tanda wanita subur dapat dilihat dari:

(1) Siklus menstruasi

Wanita yang mempunyai siklus haid teratur setiap bulan biasanya subur.

Satu siklus haid dimulai dari hari pertama keluar haid hingga sehari

sebelum haid datang kembali, yang biasanya berlangsung selama 28 hingga

35 hari. Oleh karena itu siklus haid dapat dijadikan indikasi pertama untuk

menandai seorang wanita subur atau tidak.

(2) Alat pencatat kesuburan


Kemajuan teknologi seperti ovulation thermometer juga dapat

dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi kesuburan seorang wanita.

Thermometer ini akan mencatat perubahan suhu badan saat wanita

mengeluarkan benih atau sel telur. Bila benih keluar, biasanya

thermometer akan mencatat kenaikan suhu sebanyak 0,2 derajat celsius

selama 10 hari. Namun jika wanita tersebut tidak mengalami perubahan

suhu badan pada masa subur, berarti wanita tersebut tidak subur.

(3) Tes darah

Wanita yang siklus haidnya tidak teratur, seperti datangnya haid tiga

bulan sekali atau enam bulan sekali biasanya tidak subur. Jika dalam

kondisi seperti ini, beberapa tes darah perlu dilakukan untuk mengetahui

penyebab dari tidak lancarnya siklus haid. Tes darah dilakukan untuk

mengetahui kandungan hormon yang berperan pada kesuburan seorang

wanita.

(4) Pemeriksaan fisik

Untuk mengetahui seorang wanita subur juga dapat diketahui dari

organ tubuh seorang wanita. Beberapa organ tubuh, seperti buah dada,

kelenjar tiroid pada leher, dan organ reproduksi. Kelenjar tiroid yang

mengeluarkan hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu proses

pelepasan sel telur. Sedangkan pemeriksaan buah dada ditujukan untuk

mengetahui hormon prolaktin di mana kandungan hormon prolaktin yang

tinggi akan mengganggu proses pengeluaran sel telur. Selain itu,

pemeriksaan sistem reproduksi juga perlu dilakukan untuk mengetahui

sistem reproduksinya normal atau tidak.


(5) Track record

Wanita yang pernah mengalami keguguran, baik disengaja ataupun

tidak, peluang terjangkit kuman pada saluran reproduksi akan tinggi.

Kuman ini akan menyebabkan kerusakan dan penyumbatan saluran

reproduksi.

3. Trias Atlet Wanita

Trias atlet wanita adalah kombinasi dari tiga kondisi yang saling berkaitan dan

dihubungkan dengan latihan atletik, yakni gangguan makan, amenorrhea dan

osteoporosis. Pasien dengan gangguan makan kan memiliki banyak kebiasaan

yang tidak baik, mulai dari makan berlebih sampai membatasi makan guna

menurunkan berat badan atau menjaga bentuk tubuh.

Amenorrhea yang berhubungan dengan aktivitas atlet dan fluktuasi berat

badan disebabkan oleh gangguan di hipotalamus. Gangguan ini menyebabkan

menurunnya kadar estrogen. Amenorrhea pada atlet wanita diklasifikasikan

menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Pada pasien dengan amenorrhea primer,

tidak ada perdarahan uterine spontan pada kondisi: (1) wanita yang pada umur 14

tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kelamin sekunder, atau (2) wanita yang

pada umur 16 tahun mengalami pertumbuhan normal. Amenorrhea sekunder

didefinisikan sebagai keadaan tidak mengalami menstruasi selama 6 bulan pada

wanita yang sudah mengalami siklus menstruasi normal atau tidak mengalami

menstruasi selama 12 bulan dengan oligomenorrhea sebelumnya.

Osteoporosis adalah keadaan hilangnya densitas mineral pada tulang dan

formasi tulang yang inadekuat, yang dapat mengakibatkan tingginya kerapuhan

tulang dan resiko fraktur.


Meskipun prevalensi pasti dari trias atlet wanita ini tidak diketahui, suatu

penelitian melaporkan 15-62 persen atlet wanita mengalami gangguan makan.

Amenorrhea terjadi pada 3.4-66 persen atlet wanita, dibandingkan dengan

populasi wanita yang hanya menunjukkan angka 2-5 persen. Trias atlet wanita

sering tidak terdeteksi karena ganguan makan adalah hal yang biasa dan

amenorrhea dianggap sebagai konsekuensi normal dari latihan itu sendiri.

B. Penelitian yang berhubungan

1. Exercise and Female Adolescents: Effects on the Reproductive and Skeletal

Systems oleh MICHELLE P. WARREN, MD dan AMANDA L. STIEHL

(JAMWA. 1999;54:115-120) yang hasilnya menunjukkan bahwa latihan yang

terlalu banyak dapat berakibat negative yaitu : amenorrhea primer (keterlambatan

menarche/mengalami menstruasi pertama kali), amenorrhea sekunder (tidak

mengalami menstruasi), menstruasi yang irregular dan komplikasi yang

berhubungan pada tulang (densitas tulang rendah atau osteopenia dan scoliosis).

2. Longitudinal Changes in Reproductive Hormones and Menstrual Cyclicity in

Cynomolgus Monkeys during Strenuous Exercise Training: Abrupt Transition to

Exercise-Induced Amenorrhea oleh NANCY I. WILLIAMS, ANNE L. CASTON-

BALDERRAMA, DANA L. HELMREICH, DAVID B. PARFITT, CONNIE

NOSBISCH, AND JUDY L. CAMERON (Endocrinology 142: 2381–2389, 2001)

yang hasilnya menunjukkan bahwa efek dari latihan pada ovulasi dan karakteristik

siklus menstruasi adalah siklus menstruasi yang abnormal bukan tergantung pada

frekuensi latihan tetapi pada lamanya latihan.

3. Taking it a step too far? Physical activity and infertility oleh Emma

Derbyshire (Nutrition & Food Science 2007, Vol. 37 No. 5) menemukan bahwa

sekitar 446.113 wanita di Inggris infertil. Penelitian ini mengindikasikan


abnormalitas reproduksi terjadi pada wanita yang mempunyai aktivitas tinggi dan

rendah asupan energi. Asupan energi yang inadekuat dan intensitas aktivitas fisik

diketahui menekan fungsi reproduksi wanita. Dilaporkan bahwa disfungsi

reproduksi terjadi pada 6-79 persen atlet wanita.

4. The effects of intense exercise on the female reproductive system oleh M P

Warren and N E Perlroth (Journal of Endocrinology (2001) 170, 3–11)

mengemukakan bahwa keterlamabatan pubertas dan menarche pada atlet terjadi

karena kurangnya energy (energy-drain)i. Insidensi fase luteal yang inadekuat,

anovulasi dan oligomenorrhea lebih banyak terjadi pada atlet dibanding dengan

yang bukan atlet. Menstruasi yang tidak berkelanjutan (amenorrhea sekunder) dan

banyaknya aktivitas mendukung teori kurangnya energi.


C. Kerangka Konsep

Faktor fisik
Faktor psikis
Gaya hidup
Lingkungan

Wanita usia subur pelatih senam aerobik


(usia 18-35 tahun)

Frekuensi melatih tinggi

Gizi & Nutrisi


Frekuensi melatih rendah

Ovulasi/ Siklus Aborsi/


masa subur menstruasi Perdarahan pada saat hamil

KESUBURAN

Tabel I. Gambar 1. Kerangka Konsep


Keterangan : = variabel yang tidak diteliti

= variabel yang diteliti

D. Hipotesis

Pada instruktur senam wanita yang mempunyai intensitas melatih tinggi

mempunyai kecenderungan untuk mengalami gangguan reproduksi. Gangguan

reproduksi itu meliputi siklus menstruasi yang tidak normal atau pernah mengalami

keguguran yang dapat mempengaruhi kesuburan pada wanita itu sendiri.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat cohort

prospective longitudinal study. Dalam cohort study, sekelompok subyek yang belum

mengalami pajanan terhadap faktor resiko dan belum mengalami penyakit atau efek

yang diteliti diikuti secara prospektif. Sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi 2

kelompok, yaitu :

1. Kelompok I : kelompok aktivitas rendah, yaitu kurang dari atau sama dengan

5 kali perminggu.

2. Kelompok II : kelompok aktivitas tinggi, yaitu lebih 5 kali perminggu.

Dengan melakukan follow-up secara longitudinal dapat diketahui kejadian efek

pada kelompok dengan faktor resiko dan pada kelompok tanpa faktor resiko.

B. Tempat dan Waktu

Pengambilan data penelitian ini dilaksanakan pada Mei 2008 – Juni 2008 di

Daerah Istimewa Yogyakarta.


C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah instruktur senam aerobik wanita di Daerah Istimewa

Yogyakarta.

2. Sampel

Sampel adalah :

a. Instruktur senam aerobik wanita yang berusia 18 – 35 tahun melatih

lebih dari lima kali dalam satu minggu.

b. Instruktur senam aerobik wanita yang berusia 18 – 35 tahun melatih

kurang dari sama dengan lima kali dalam satu minggu.

c. Instruktur senam yang sudah melatih selama lebih dari satu tahun.

Sampel dalam penelitian ini adalah instruktur senam perempuan sebanyak 40

orang usia produktif yang ditentukan secara random. Sample penelitian dibagi

menjadi 2 kelompok berdasarkan frekuensi melatih senam yang dilakukan selama

satu minggu, yaitu kelompok 1 adalah peserta yang melatih senam kurang atau

sama dengan 5 kali perminggu, kelompok 2 adalah peserta yang melatih senam

lebih dari 5 kali perminggu. Selanjutnya peserta penelitian diminta dengan

kesungguhannya untuk bersedia mengikuti dan mentaati jalannya penelitian

dengan baik, setelah peserta diberikan penjelasan tentang keuntungan dan

kemungkinan risiko yang dapat terjadi selama penelitian. Kesanggupan ini

dibuktikan dengan kebersediaan peserta menandatangani informed consent.

D. Kriteria Inklusi dan Kriteria Ekslusi

Kriteria Inklusi :
1. Wanita berusia 18 – 35 tahun.

2. Makan minimal dua kali dalam satu hari.

Kriteria Ekslusi ialah wanita yang sedang mengikuti semua jenis program

Keluarga Berencana baik dengan metode suntik, pil, maupun spiral.

E. Variabel

1. Variabel dependen (tergantung)

a. Masa subur/ovulasi.

b. Panjang siklus menstruasi.

c. Aborsi/perdarahan pada saat hamil.

2. Variabel independent (bebas)

a. Frekuensi melatih senam dalam satu mingu.

b. Nutrisi.

F. Definisi Operasional

1. Masa subur/ovulasi

Masa subur dalam penelitian ini diukur dengan metoda suhu badan basal.

Pertama-tama, suhu tubuh wanita tersebut diukur pada pagi hari (baru bangun

tidur) sejak siklus pertama haid sampai haid berikutnya. Suhu harian itu

kemudian dicatat dan dihubungan dengan garis (seperti membuat grafik). Saat

ovulasi/masa subur, suhu tubuh akan meningkat 0.05 sampai 0.2 derajat

Celcius.

2. Siklus menstruasi

Siklus menstruasi adalah jarak waktu terjadinya satu menstruasi dengan

siklus berikutnya dihitung dari hari pertama menstruasi. Siklus normal


menstruasi ialah 28-35 hari. Jika siklus pendek atau kurang dari 28 hari

disebut polimenorhea dan jika siklus panjang atau lebih dari 35 hari disebut

oligomenorhea.

3. Aborsi/perdarahan pada saat hamil

Aborsi adalah keguguran pada saat hamil atau kehilangan janin dengan

sengaja atau tidak sengaja. Perdarahan pada saat hamil ialah terjadinya

perdarahan uterus yang abnormal pada saat hamil.

4. Frekuensi melatih senam

Frekuensi melatih senam adalah banyaknya jumlah melatih seorang

instrukstur senam aerobik wanita dalam satu minggu. Instrukstur senam

aeobik yang sudah lama mengajar mempunyai jam terbang cukup tinggi.

Kebanyakan dari mereka mengajar lebih dari lima kali dalam satu minggu,

bahkan beberapa ada yang mengajar lebih dari satu kali dalam sehari. Dalam

banyaknya frekuensi melatih senam aerobik dibagi menjadi dua, yaitu melatih

senam intensitas tinggi dan rendah. Jika dalam satu minggu instruktur senam

mengajar lebih dari lima kali maka dikategorikan sebagai melatih senam

intensitas tinggi, sedangkan jika kurang dari lima kali dikategorikan sebagai

melatih senam intensitas rendah.

5. Nutrisi

Parameter kecukupan nustrisi dilihat dari banyaknya konsumsi makan

setiap harinya. Jika konsumsi makan minimal dua kali dalam sehari maka

dianggap mencukupi nutrisi.

6. Gerakan melatih utuh


Gerakan melatih utuh atau tidak utuh pada instruktur senam aerobic diukur

dengan denyut nadi. Latihan inti dalam senam aerobik yang dilakukan dapat

sampai menaikkan denyut jantung 150 kali permenit atau maksimalnya

dihitung berdasarkan rumus (220 – umur dalam tahun). Jika denyut nadi yang

terukur setelah melalukan latihan mencapai 150 kali permenit atau denyut nadi

maksimal maka dapat dikatakan sebagai gerakan melatih utuh.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan adalah :

1. Termometer suhu badan. Termometer yang digunakan dapat berupa

termometer air raksa atau termometer automatis/digital.

2. Kuesioner dan lembar catatan data kegiatan.

H. Cara Kerja

Salah satu cara untuk mengetahui masa subur adalah dengan mengukur suhu

badan basal, yakni suhu badan pada saat bangun tidur dan sebelum melakukan

aktivitas apapun. Pada saat masa subur suhu badan naik kurang lebih 0,6 oC. Cara

mengukur suhu badan basal adalah :

1. Siapkan thermometer

2. Jika tanda pada thermometer berada lebih dari 35oC, kibaskan dahulu hingga

tanda berada kurang dari 35oC.

3. Letakkan thermometer pada ketiak.

4. Tunggu selama kurang lebih 3 menit.

5. Lihat tanda yang ditunjukkan pada termometer.


I. Cara Pengambilan Data

Pengambilan data dari sampel yang diperoleh dikelompokkan sebagai berikut :

1. Data frekuensi latihan dinyatakan sebagai data ordinal

Frekuensi latihan ≤ 5 kali perminggu diberi skor 0, dan frekuensi > 5 kali

perminggu diberi skor 1.

2. Panjang siklus menstruasi

Siklus pendek kurang dari 28 diberi skor 0, normal jika lama menstruasi 28-35

hari diberi skor 2, siklus panjang jika lebih dari 35 hari diber skor 1.

3. Ovulasi

Ovulasi tidak terjadi dalam 2 siklus di beri skor 0, jika mengalami 1 kali

ovulasi di beri skor 1, jika mengalami 2 kali ovulasi diberi skor 2

4. Gangguan kehamilan

Gangguan kehamilan tidak pernah terjadi diberi skor 0, diberi skor 1 jika

mengalami perdarahan , diberi skor 2 jika mengalami aborsi.

5. Nutrisi

Konsumsi makan < 2 kali sehari diberi skor 0, jika konsumsi makan ≥ 2 kali

sehari diberi skor 1, jika konsumsi makan ≥ 2 kali sehari dan mengandung 4 sehat

5 sempurna diberi skor 2.

J. Analisis Data

Data yang diperoleh ditabulasi dan di analisis dengan alat bantu program SPSS

15.0 menggunakan analisis yang sesuai yaitu X2 untuk uji beda dua kelompok dengan

data nominal yaitu ada tidaknya ovulasi. Beda nyata pada 2 kelompok pengamatan
beda subyek dengan data ordinal diuji dengan Kolmogorov-Smirnov, yang digunakan

untuk analisis siklus menstruasi, gangguan kehamilan (aborsi dan perdarahan pada

saar hamil) dengan tingkat kesalahan p< 0,05.

LAMPIRAN 1

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2004) Senam Aerobik Baik buat Mereka Usia 30-an Tahun. Sriwijaya Post.

Anonim (2005) Apa itu masa subur? medicastore.com

Anonim (2005) Infertility: Exercise, Age, Weight. WebMD newsletter.

Anonim (2005) Infertilitas. wrm-indonesia.org

Anonim (2007) Menentukan Masa Subur blogdokter.net

Anonim (2007) Siklus Haid Kunci Masa Subur indierepublic.com

Anonim (2008). Obsgin: Benarkah Infertilitas Akibat Gaya Hidup? majalah-farmacia.com.

Anonim (2008) Senam. dari id.wikipedia.org

Derbyshire, Emma. (2007). Taking it a step too far?Physical activity and infertility.

Manchester: Emerald Group Publishing Limited.

Guyton,A.C.& Hall,J.E. 2000. Textbook of Medical Physiology. 10th Ed. W.B. Saunders

Company USA.

Julie,A. H., Douglas R.,S. (2000). The Female Athlete Triad. Ohio: American Academy of

Family Physicians.

Michelle P. W, MD, & Amanda L. S. (1999). Exercise and Female Adolescents: Effects on

the Reproductive and Skeletal Systems. JAMWA 54:115-120.


Nancy I. Williams, Anne L. Caston-Balderrama, Dana L. Helmreich, David B. Parfitt, Connie

Nosbisch, AND Judy L. Cameron. (2001). Longitudinal Changes in Reproductive

Hormones and Menstrual Cyclicity in Cynomolgus Monkeys during Strenuous

Exercise Training: Abrupt Transition to Exercise-Induced Amenorrhea.

Endocrinology 142: 2381–2389.

Nurfahmi. (2008). Tanda Kesuburan Wanita. Wordpress.com.

Rini S.,E. (2005). Diktat Dasar-Dasar Latihan Aerobic Gymnastics. Yogyakarta: Pendidikan

Kepelatiahn Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugiharto,Gatot. Infertilitas.

Warren,M P, & Perlroth, N E. (2001) Hormones and Sport: The effects of intense exercise on

the female reproductive system. Pennsylvania: Journal of Endocrinology 170, 3–11.