Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK ( Musa paradisiaca


forma typica ) PADA GAMBARAN LEUKOSIT TIKUS YANG DIINDUKSI
HIPERKOLESTEROLEMIA

BAGUS WIBISONO

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENGARUH EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa
paradisiaca forma typica ) PADA GAMBARAN LEUKOSIT TIKUS
YANG DIINDUKSI HIPERKOLESTEROLEMIA

BAGUS WIBISONO

Proposal Penelitian
sebagai salah satu syarat untuk dapat melakukan penelitian
dalam rangka penyelesaian tugas akhir di
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
Judul Penelitian : Pengaruh ekstrak kulit pisang kepok (Musa paradisiaca forma
typica) pada gambaran leukosit tikus yang diinduksi hiperkolesterolemia

Nama : Bagus Wibisono


NIM : B04160162

Disetujui oleh

Dr. Drh. Damiana Rita Ekastuti, MS Prof.Drh. Tutik Wresdiyati, Ph.D


Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof. Drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D, APVet


Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
Tanggal Disetujui

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hiperkolesterol ialah keadaan dimana kadar kolesterol dalam tubuh


melebihi keadaan normal. Menurut Indratni (2009), hiperkolesterol dapat
menyebabkan peningkatan risiko terkena aterosklerosis, penyakit jantung koroner,
pankreatitis (peradangan pada organ pankreas), diabetes melitus, gangguan tiroid,
penyakit hepar & penyakit ginjal. Faktor penyebab hiperkolesterol diantaranya,
faktor keturunan, konsumsi makanan tinggi lemak, kurang olahraga dan kebiasaan
merokok. Hiperkolesterolemia adalah keadaan dimana kadar kolesterol dalam
darah meningkat di atas batas normal. Hiperkolesterolemia menjadi salah satu
faktor penyebab terjadinya penyakit pada jantung dan pembuluh darah (Waloya,
2013). Risiko terjadinya penyakit pada jantung dan pembuluh darah lebih
mungkin terjadi jika kadar kolesterol dalam darah >200 mg/dl. Pada kejadian
hiperkolesterolemia terjadi kelainan metabolis yang disebabkan oleh peningkatan
konsentrasi plasma low-density lipoprotein (LDL) (Mu et al, 2017).
Kondisi hiperkolesterolemia juga dapat mempengaruhi jumlah leukosit
dalam darah. Ketika terjadi hiperkolesterolemia, kolesterol dalam darah dapat
mengendap dan teroksidasi pada lapisan subendotelial yang menyebabkan
terjadinya kerusakan atau disfungsi endotel pada dinding arteri (Ma’rufi dan
Rosita 2014). Ketika terjadi kerusakan ini ditandai dengan dikeluarkannya
berbagai protein plasma ke dalam darah, antara lain CRP (C-reaktif protein) serta
molekul adhesi seperti ICAM-1 (Intercellulare Adhesion Molecule 1) dan
VCAM-1 (Vascular Cell Adhesion Molecule 1). Zat ini akan merangsang
penempelan monosit pada dinding endotel (Ross, 1999). Selanjutnya monosit
akan menyusup di antara sel endotel dan mengambil tempat di daerah sub endotel
untuk kemudian berubah bentuk menjadi makrofag. Makrofag yang terbentuk
akan menelan dan membersihkan lemak terutama LDL teroksidasi. Ketika proses
fagositosis ini terjadi, monosit akan mengalami peningkatan (Happi et al. 2014).
Pisang merupakan salah satu jenis buah yang mengandung antioksidan,
vitamin dan mineral yang penting untuk tubuh, serta serat harian yang dibutuhkan
tubuh. Aktivitas antioksidan pada kulit pisang mencapai 94,25% pada konsentrasi
125 μg/ml, sedangkan pada bagia daging buah pisang hanya sekitar 70% pada
konsentrasi 50 mg/ml (Fatemeh et al.,2012; Canaleset al.,2008;Shodehinde dan
Oboh, 2013). Aktivitas antioksidan inilah yang menyebabkan kulit pisang
diprediksi dapat menurunkan kolesterol (Ratnawati dan Widowati,2011; Atun et
al., 2007). Pisang dengan nama Latin Musa paradisiaca forma typica merupakan
jenis buah-buahan tropis yang sangat banyak dihasilkan di indonesia. Pulau Jawa
dan Madura mempunyai kapasitas produksi sekitar 180.153 ton pertahun
(Anonymous, 1978). Dari keseluruhan jumlah tersebut terdapat jenis buah pisang
yang sering diolah dalam bentuk gorengan, salah satunya pisang kepok. Kulit dari
buah pisang kepok biasanya oleh masyarakat hanya dibuang dan hal itu menjadi
permasalahan limbah di alam karena akan meningkatkan keasaman tanah dan
mencemarkan lingkungan. Berdasarkan permasalahan itulah penelitian tentang
pengolahan limbah kulit pisang kepok ini dilakukan agar lebih berguna untuk
masyarakat.
Efek dari kulit pisang kepok terhadap profil leukosit masih belum diteliti
dengan seksama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek dari
kulit pisang kepok terhadap profil leukosit pada tikus yang diinduksi dengan
hiperkolesterolemia.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengetahui profil leukosit akibat ekstrak kulit


pisang kepok

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat dijadikan terapi alternatif untuk


mengatasi kasus hiperkolesterolemia pada hewan ataupun manusia, serta dapat
menambah informasi mengenai khasiat yang dimiliki oleh Musa paradisiaca
forma typica itu sendiri.

TINJAUAN PUSTAKA

Musa paradisiaca forma typica

Berdasarkan klasifikasi taksonomi pisang kepok kuning termasuk


kedalam family Musaceae yang berasal dari India Selatan. Kedudukan
taksonomi,tanaman pisang kepok adalah sebagai berikut:

KLASIFIKASI UMUM
Kerajaan:Plantae
Divisi:Magnoliophyta
Kelas:Liliopsida
Ordo:Zingiberales
Famili:Musaceae
Genus:Musa
Spesies:Musa paradisiaca formatypica
(Satuhu dan Supriyadi, 2008)

Pisang kepok (Musa paradisiaca forma typica) merupakan jenis pisang


olahan yang paling sering diolah terutama dalam olahan pisang goreng dalam
berbagai variasi, sangat cocok diolah menjadi keripik, buah dalam sirup, aneka
olahan tradisional, dan tepung. Buah pisang mengandung nilai gizi cukup
tinggi sebagai sumber karbohidrat, vitamin, dan mineral. Kandungan
karbohidratnya terutama berupa zat tepung atau pati (starch) dan macam-macam
gula. Kandungan gula dalam pisang terdiri atas senyawa-senyawa seperti
dextrosa 4,6%, levulosa 3,6%, dan sukrosa 2%. Ketiga jenis gula tersebut
mudah dicerna oleh tubuh manusia baik tua maupun muda bahkan bayi.
Daging buah pisang mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A,
vitamin B1, vitamin C, dan lainnya. Buah pisang juga mengandung
mineral seperti kalsium, fosfor, dan besi (Santoso, 1995). Buah pisang segar
ketika dipanen mengandung pati 20-30% berat basah dan kandungan gula sekitar
1-2%. Kandungan gula pisang hijau segar selama proses pematangan meningkat
sekitar 15-20%, sedangkan total pati menurun sekitar 1-2% (Simmonds,
1970).

Hiperkolesterolemia

Hiperkolesterolemia adalah suatu kondisi dimana meningkatnya


konsentrasi kolesterol dalam darah yang melebihi nilai normal (Guyton&Hall,
2008). Kolesterol telah terbukti mengganggu dan mengubah struktur pembuluh
darah yang mengakibatkan gangguan fungsi endotel yang menyebabkan lesi,
plak, oklusi, dan emboli. Selain itu juga kolesterol diduga bertanggung
jawab atas peningkatan stress oksidatif (Stapleton et al.,2010). Kolesterol yang
berada dalam zat makanan yang kita makan akan dapat meningkatkan kadar
kolesterol dalam darah yang berakibat hiperkolesterolemia (Soeharto, 2004).
Salah satu penyakit tersering yang disebabkan oleh meningkatnya kadar
kolesterol dalam darah adalah aterosklerosis (Guyton& Hall, 2008).
Faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol menurut American Heart
Association (2016), adalah sebagai berikut:
1.Faktor yang menjadi risiko utama atau langsung (major risk factor) yaitu
seperti factor genetic , radikal bebas, dan asupan makanan tinggi lemak jenuh.
Didapatkan hubungan antara kadar kolesterol darah dengan jumlah lemak di
dalam susunan makanan sehari-hari. Makanan orang Amerika rata-rata
mengandung lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi dibandingkan dengan
makanan orang Jepang yang umumnya berupa nasi,sayur-sayuran, dan ikan.
Asupan makan merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap tinggi
rendahnya kadar kolesterol.
2.Faktor risiko yang tidak langsung (contributing risk factor) yaitu obesitas,
kurang aktifitas fisik, dan stress. Penelitian yang dilakukan di Havard selama 10
tahun (1962-1972) terhadap 16.936 alumni Universitas Havard di Amerika Serikat
menyimpulkan bahwa orang dengan kebiasaan aktifitas fisik yang adekuat
menderita hiperkolesterolemia lebih kecil dibandingkan dengan yang kurang
melakukan aktifitas fisik.
3. Faktor lain yang memengaruhi kadar kolesterol yakni jenis kelamin,
factor usia, mengonsumsi alcohol berlebihan, kebiasaan minum kopi berlebihan,
dan merokok. Merokok merupakan salah satu factor risiko PJK dan
hiperkolesterolemia. Penelitian terdahulu mendapatkan pada perempuan perokok
peningkatan kadar kolesterol lebih tinggi dibandingkan perempuan yang tidak
merokok. Kolesterol yang tinggi menyebabkan darah menjadi mudah membeku,
sehingga memungkinkan terjadinya penyumbatan arteri (aterosklerosis), serangan
jantung, dan stroke.

Antioksidan
Antioksidan adalah substansi yang dalam konsentrasi rendah sudah
dapat menghambat atau menangkal proses oksidasi dan juga merupakan
senyawa pemberi elektron (elektron donor) atau reduktan. Antioksidan juga
merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan
mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Vaya dan Aviram,
2001; Winarsi, 2007). Antioksidan dibutuhkan untuk menunda atau
menghambat reaksi oksidasi oleh radikal bebas atau menetralkan dan
menghancurkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan
biomolekul seperti DNA, protein, dan lipoprotein didalam tubuh yang
akhirnya dapat memicu terjadinya penyakit dan penyakit degeneratif (Alfira,
2014). Antioksidan bekerja dengan melindungi lipid dari proses peroksidasi
oleh radikal bebas. Ketika radikal bebas mendapat elektron dari antioksidan,
maka radikal bebas tersebut tidak lagi perlu menyerang sel dan reaksi rantai
oksidasi akan terputus. Setelah memberikan elektron, antioksidan menjadi
radikal bebas secara definisi. Antioksidan pada keadaan ini berbahaya karena
mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan elektron tanpa
menjadi reaktif. Tubuh manusia mempunyai pertahanan sistem antioksidan.
Antioksidan yang dibentuk di dalam tubuh dan juga didapat dari makanan
seperti buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, daging, dan
minyak. Ada dua garis pertahanan antioksidan di dalam sel. Garis pertahanan
pertama, terdapat di membran sel larut lemak yang mengandung vitamin A
(betakaroten) E, dan koensim Q (Clarkson dan Thompson, 2000).
Antioksidan dapat dibedakan menjadi antioksidan enzimatik dan non
enzimatik. Antioksidan enzimatik contohnya : superoksid dismutase, catalase,
gluthathione peroksidase. Sedangkan antioksidan non enzimatik adalah
kofaktor enzim antioksidan, penghambat enzim oksidatif, pembentuk khelat
logam transisi, dan penagkap radikal bebas (Huang, et al 2005).

Radikal Bebas
Radikal bebas adalah suatu molekul atau atom yang mempunyai satu
atau lebih elektron tidak berpasangan. Radikal dapat berasal dari atom
hydrogen, molekul oksigen, atau ion logam transisi. Senyawa radikal bebas
sangat reaktif dan berusaha mencari pasangan elektron agar menjadi stabil.
Radikal dapat terbentuk secara endogen dan eksogen. Radikal endogen
terbentuk dalam tubuh melalui proses metabolisme normal di dalam tubuh.
Sedangkan radikal eksogen berasal dari bahan pencemar yang masuk ke
dalam tubuh melalui pernafasan, pencernaan, dan penyerapan kulit ( Alfira,
2014). Radikal bebas dalam jumlah normal bermanfaat bagi kesehatan
misalnya, memerangi peradangan, membunuh bakteri, dan mengendalikan tonus
otot polos pembuluh darah serta organ-organ dalam. Dalam jumlah berlebih
mengakibatkan stress oksidatif. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan
oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan, hingga ke organ tubuh. Oksigen reaktif
dapat merugikan molekul dalam sel, sehingga dapat menghancurkan
membran sel, asam nukleat dan protein. Peristiwa ini dapat mempercepat
terjadinya proses penuaan dan munculnya penyakit lain seperti penyakit
jantung dan kanker (Jacinto et al., 2011).
Sumber endogen
1) Autoksidasi :Adalah produk dari proses metabolisme aerob. Jenis
molekulnya dapat berasal dari hemoglobin, katekolamin, mioglobin,
sitkrom C yang tereduksi, serta thiol. Autoksidasi dari produk diatas
dapat menghasilkan kelompok oksigen reaktif.
2) Oksidasi enzimatikTerdapat beberapa jenis enzim yang dapat
menghasilkan radikal bebas seperti, xanthine oksidase, lipoxygenase,
aldehid oxidase, amino acid oxidase,dan prostaglandin synthase.
3) Respiratory burstMerupakan proses dimana sel fagositik
menggunakan oksigen dalam jumlah yang besar pada proses
fagositosis. Sekitar 70-90 % penggunaan oksigen tersebut berperan
dalam produksi superoksida yang merupakan bentukan awal dari
radikal bebas.

Sumber Eksogen
1) Obat-obatan :Obat-obatan dapat berperan dalam peningkatan produksi
radikal bebas dengan cara peningkatan tekanan oksigen. Jenis obat-
obatan tersebut dapat berupa obat golongan antibiotik quionoid, obat
kanker, serta penggunaan asam askorbat yang berlebih dapat
mempercepat peroksidasi lipid.
2) Radiasi :Pengunaan Radioterapi memungkinkan terjadinya kerusakan
jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas. Radiasi di bagi
menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi
elektromagnetik dapat berupa sinar X dan sinar gamma sedangkan
radiasi partikel dapat berupa partikel elektron, photon, neutron, alfa,
dan beta.
3) Asap rokok Tiap hisapan rokok mengandung jumlah senyawa oksidan
yang sangat besar, meliputi aldehid, proxida, epoxida, dan radikal
bebas lain yang bersifat reaktif dan destruktif. Pada perokok juga
ditemukan peningkatan netrofil pada saluran pernafasan bawah yang
berkontribusi dalam produksi radikal bebas.
LEUKOSIT

Leukosit merupakan sel darah putih yang diproduksi oleh


jaringan hemopoetik untuk jenis bergranula (polimorfonuklear) dan jaringan
limpatik untuk jenistak bergranula (mononuklear), berfungsi dalam sistem
pertahanan tubuh terhadap infeksi (Sutedjo, 2006).Leukosit paling sedikit dalam
tubuh jumlahnya sekitar 4.000-11.000/mm3. Berfungsi untuk melindungi tubuh
dari infeksi. Karena itu, jumlah leukosit tersebut berubah-ubah dari waktu ke
waktu, sesuai dengan jumlah benda asing yang dihadapi dalam batas-batas
yang masih dapat ditoleransi tubuh tanpa menimbulkan gangguan fungsi
(Sadikin,2002). Meskipun leukosit merupakan sel darah,tapi fungsi leukosit
lebih banyak dilakukan di dalam jaringan. Leukosit hanya bersifat sementara
mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila terjadi peradangan pada
jaringan tubuh leukosit akan pindah menuju jaringan yang mengalami radang
dengan cara menembus dinding kapiler (Kiswari,2014). Leukosit terdiri dari 2
kategori yaitu granulosit dan agranulosit, ada tidaknya granula dalam leukosit
serta sifat dan reaksinya terhadap zat warna, merupakan ciri khas dari jenis
leukosit. Selain bentuk dan ukuran, granula menjadi bagian penting dalam
menentukan jenis leukosit (Nugraha, 2015). Anggota dari kelompok granulosit
adalah basofil, eusinofil, dan neutrofil. Sedangkan anggota dari kelompok
agranukosit adalah limfosit dan monosit.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober tahun 2019
di Rumah Sakit Hewan Pendidikan dan Laboratorium Farmakologi-Fisiologi,
Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit pisang kepok, air,
ethanol 70%, shacker incubator, Heidolph Rotary Evaporator, penghalus, larutan
Hayem, HCl, ruang hitung Neubauer, mikroskop cahaya, cover slide, sentrifuse,
oven, tabung mikrohematokrit berisi antikoagulan, alat pembaca tabung
mikrohematokrit, penyegel tabung, peralata Sahli, pipet hemositometer, ketamin,
xylazin, tabung darah (EDTA), alat pencekok oral (gavage), tikus, kandang plastik

Prosedur Penelitian
Ekstraksi dan Identifikasi Sample
Kulit dari pisang kepok (Musa paradisiaca formatypica) yang sudah matang
didapatkan dari Sleman-Yogyakarta. Ekstraksi dari kulit pisang dilakukan dengan
cara maserasi. Penambahan air dan ethanol 70% dengan rasio 10:1, yang berguna
untuk menstabilkannya. Sample kemudian diletakan pada incubator shaker selama
24 jam dengan suhu 37oC. Pada proses maserasi, hasil filtrasi yang didapat di
ekstraksi lagi sebanyak dua kali menggunakan pengencer yang sama untuk
menstabilkannya. Rotatory evaporator digunakan untuk memadatkan hasil filtrasi
pada suhu 50oC hingga konsistensinya menjadi lebih padat (Nugroho et al. 2016).

Penanganan Hewan
Pada penelitian ini digunakan tikus putih (Rattus novergicus galur Sprague
dawley) sebanyak 28 ekor. Semua tikus jantan memiliki bobot badan 120-130g
dan berusia 5 sampai 6 minggu. Semua tikus tersebut dibiarkan beradaptasi
selama 2 hari di dalam kandang yang bersih pada kondisi lingkungan normal
dengan suhu 25-28oC dan kelembaban 35-60% dengan siklus cahaya 12 jam
terang dan 12 jam gelap. Hal ini dilakukan untuk membuat kondisi yang kondusif
bagi tikus.

Penginduksian Hiperkolesterolemia pada Tikus


Tikus-tikus tersebut dibagi dalam 4 grup :
Grup CH : Tikus diberikan aquades, diet standar AOAC (2005)
dengan tambahan 1% kolesterol pada diet selama 28 hari.
Grup CHE : Tikus diberikan hasil ekstraksi kulit pisang kepok (200
mg/kg BW), aquades, diet standar AOAC (2005) dengan
tambahan 1% kolesterol pada diet selama 28 hari.
Grup CHS : Tikus diberikan, diet standar AOAC (2005) dengan
tambahan 1% kolesterol pada diet selama 28 hari pertama,
lalu dilanjutkan dengan diet standar AOAC (2005) untuk 28
hari menggunakan aquades saja.
Grup CHSE : Tikus diberikan, diet standar AOAC (2005) dengan
tambahan 1% kolesterol pada diet selama 28 hari pertama,
lalu dilanjutkan dengan diet standar AOAC (2005) untuk 28
hari dengan hasil ekstraksi kulit pisang kepok
(mg/kg BW).
Keterangan : -Variabel CH dan CHE dievaluasi untuk grup preventif
-Variabel CHS dan CHSE dievaluasi untuk grup kuratif

Koleksi Sample Darah


Tikus-tikus yang akan digunakan terlebih dahulu di anastesi, sesuai dengan
prosedur yang disarankan untuk perihal kesejahteraan hewan tentang penggunaan
anastetika umum. Ketamin dan xylazine digunakan agar jantung tidak bergerak
menjauh dari jarum suntik. Pada prosedur ini, tikus di letakkan dengan posisi
dorsal recumbency dan jantung di tentukan dengan palpasi. Pengambilan darah
dilakukan dengan cara kardiosintesis, yaitu pengambilan langsung di ruang
jantung. Menurut Thrall et al. (2014), jarum ditusukkan sedikit ke arah kiri dan di
bawah manubrium lalu dilanjutkan dengan menusuk jantung yang sudah di fiksasi
menggunakan jempol dan jari telunjuk. Sampel darah dikoleksi menggunakan
ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA)-containers atau tabung EDTA dan
dihomogenkan.
Studi Hematologis

Penelitian lebih lanjut tentang profil leukosit menggunakan metode manual,


yaitu menggunakan counting chamber. Darah diambil sampai tanda 0.5 pada pipet
pengencer leukosit. Larutan Turk dihisap sampai tanda 101 pada ujung pipet.
Pipet diangkat dari cairan, pipet dikocok selama 30 detik. Kamar hitung
diletakkan mendatar di atas meja dengan kaca penutup. Pipet dikocok selama 3
menit dan buang cairan dalam batang kapiler sebanyak 3 tetes. Ujung pipet
disentuhkan dengan sudut 30 derajat pada permukaan hitung dengan
menyinggung pinggir kaca penutup. Leukosit dihitung pada 4 kotak kamar hitung.
Hasil penghitungan akhir yaitu jumlah seluruh sel leukosit dari 4 kotak (n butir)
dikalikan dengan 50 per mm3. Perhitungan Diferensial Leukosit (Kulisic et al.
2006). Sampel darah diteteskan pada kaca preparat dan diratakan menggunakan
kaca preparat lain di depan tetesan darah tersebut dengan sudut 40 derajat. Kaca
preparat kedua didorong ke depan hingga membentuk apus tipis. Setelah kering,
preparat apus tersebut difiksasi dengan metanol selama 3 menit dibiarkan
mengering di udara. Preparat kemudian diwarnai dengan larutan pewarna giemza
selama 30 menit. Selanjutnya preparat dicuci dengan akuades dan dibiarkan
mengering di atas rak. Setelah kering preparat diperiksa di bawah mikroskop
dengan perbesaran 100x dihitung setiap jenis leukosit menggunakan blood
counter tabulator. Sel yang dihitung paling sedikit 100 sel dan dilakukan
perhitungan persentase jenis leukosit. Angka yang diperoleh merupakan jumlah
relatif masing-masing jenis leukosit dari seluruh jenis leukosit.

DAFTAR PUSTAKA

Alfira, A. 2014. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Aktif Kulit Batang
Sintok. [Skripsi]. Jakarta(ID): UIN Syarif Hidayatullah.
Atun S, dkk. 2007. Identifikasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Kimia
dari Ekstrak Metanol Kulit Buah Pisang (Musa paradisiaca Linn.). Indo.
J. Chem. 7(1) pp. 83 – 87.
Canales A et al. 2008. Wound healing and antioxidant activities of extracts from
Musa paradisiaca L. Peel. Planta Medica. 74(08).
Clarkson PM, and Thompson HS. 2000. Antioxidants: what role do they play
in physical activity and health. J. Clin Nutr. Biochem. 72: 637-646
Fatemeh et al. 2012. Shortage on (Magnesium and Calcium) Dry Weight, Fresh
Weight, Root and Shoot Length, Leaf Relative Water Content (RWC),
Chlorophyll Content and Malondialdehyde Activity in Fenugreek
(Trigonella Foenum Graceum). Greener Journal of Agricultural
Sciences. Vol. 2 (7): 294-302.
Guyton AC, dan Hall JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi 11.
Jakarta(ID): EGC
Happi AN, Milner DAJ, Antia RE. 2014. Blood and tissue leukocyte apoptosis in
Trypanosoma brucei infected rats. J Neuroparasit. 3(2012):1-10
Huang D, Boxin OU dan Prior PL. 2005. The chemistry behind antioxidant
capacity assays.Journal of Agricultural and Food Chemistry. 55: 1841-
1856
Jacinto SD, Ramos EF, Siguan APT, Canoy RJC. 2011. Determining the
Antioxidant Property of Plant Extracts:A Laboratory Exercise. Asian
Journal of Biology Education. 5: 22-25.
Kiswari R. 2014. Hematologi dan Transfusi. Jakarta(ID) : Erlangga.
Ma’rufi R, dan Rosita L. 2014. Hubungan Dislipidemia dan Kejadian Penyakit
Jantung Koroner. JKKI. 6(1) : 47-53.
Nugraha G. 2015. Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar.
Jakarta(ID): CV Trans Info Medika.
Nugroho A, Rahardianingtyas E, Putro DBW, dan Wianto R. 2016. Pengaruh
Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) terhadap Daya
Bunuh Bakteri Leptospira sp. Media Litbangkes. 26(2) : 77-84.
Ratnawati H dan Widowati W. 2011. Anticholesterol Activity of Velvet Bean
(Mucuna pruriens L.) towards Hypercholesterolemic Rats. Sains
Malaysiana. 40(4):317-321
Ross R. 1999. Atherosclerosis-a problem of biology of arterial wall cells
and their interaction with blood components. Arteriosclerosis. 1(1):101-
109
Sadikin M. 2002. Biokimia Darah. Jakarta(ID): Widia Medika
Satuhu S dan Supriyadi A. 2008. Pisang, Budidaya, Pengolahan dan Prospek
Pasar. Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
Shodehinde SA, dan Oboh G. 2013. Antioxidant properties of aqueous extracts of
unripe Musa paradisiaca on sodium nitroprusside induced lipid
peroxidation in rat pancreas in vitro. Asian pacific Journal of tropical
biomedicine. 3(6): 449-457.
Soeharto .2004. Serangan Jantung dan Stroke Hubungannya dengan Lemak
dan Kolesterol, Edisi Ketiga. Jakarta(ID): Gramedia Pustaka Utama.
Stapleton PA, Goodwill AG, James ME, Brock RW, Frisbee J. 2010.
Hypercholesterolemia and microvascular dysfunction:
interventional strategies. Journal of Inflammation. 7:54.
Sutedjo AY. 2006. Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium.
Yogyakarta(ID): Amara Books
Vaya J, dan Aviram, M. 2001. Nutritional Antioxidants: Mechanisms of
Action, Analyses of Activities and Medical Applications. Curr. Med.
Chem.-Imm, Endoc. and Metab. Agents. 1(1).
Waloya T. 2013. Hubungan Antara Konsumsi Pangan Dan Aktivitas Fisik
Dengan Kadar Kolesterol Darah Pria Dan Wanita Dewasa Di
Bogor. JGP. 8 (1)
Winarsi H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta(ID):
Kanisius.