Anda di halaman 1dari 16

LANDASAN ILMU PENDIDIKAN

KEBUDAYAAN SEBAGAI ISI PENDIDIKAN

OLEH :

KELOMPOK I
ANDRIANI DOTIMINELI
DESRI WATI
HIDAYATI KARDENA
HAFIZATUL BAHRI
ILHAM

DOSEN PEMBIMBING:
Prof. Dr. ELIZAR, M.Pd
Dr. YERIMADESI, S.Pd, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI ............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN ...................................... Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang ............................................ Error! Bookmark not defined.
B. Rumusan Masalah .........................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ....................................... Error! Bookmark not defined.
A. Pengertian dan Scope Kebudayaan ............. Error! Bookmark not defined.
B. Ilmu sebagai Unsur Kebudayaan ..................................................................8
BAB III PENUTUP ............................................. Error! Bookmark not defined.3
A. Kesimpulan ............................................... Error! Bookmark not defined.3
KEPUSTAKAAN ................................................ Error! Bookmark not defined.4

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak ada catatan sejarah, umat manusia hidup di dalam dan dengan suatu
kebudayaan tertentu bagaimanapun sederhananya taraf kebudayaan mereka,
lebih-lebih bila diukur dengan pandangan ilmu pengetahuan sekarang.
Kebudayaan manusia prasejarah, kebudayaan manusia purba dan kebudayaan
manusia modern sekarang merupakan perwujudan kehidupan dunia manusia,
kodrat manusiawi. Artinya hanya manusialah yang rnemiliki kebudayaan di
dalam tata kehidupannya sebagai manifestasi potensi dan martabat
kemanusiaannya. Bahkan ada proposisi yang menyatakan manusia sebagai
makhluk budaya, karena itu setiap manusia purba atau modern termasuk
kategori makhluk budaya ini. Yang berbeda ialah tingkatan dan
kompleksitasnya setelah manusia mengalami perkembangan yang luar biasa
dalam zaman modern ini.
Sepanjang sejarah tiap masyarakat, tiap bangsa berada di dalam
proses perkembangan kebudayaan, baik dalam arti menerima warisan sosial
dari generasi sebelumnya, maupun mengembangkannya, menciptakan yang
baru. Bahkan tidak mustahil pula membuang unsur kebudayaan lama yang
tidak sesuai dengan kemajuan berpikir atau kebutuhan zamannya. Manusia
sebagai makhluk budaya secara alamiah (kodrat) dengan potensi
kemanusiaannya itu hidup di dalam alam budaya secara kontinue. Manusia
tak terpisahkan dengan kebudayaan karena kebudayaan inilah yang
membedakan secara prinsipil tata kehidupan manusia daripada kehidupan
alaimiah makhluk lainnya.
Manusia sebagai mikrosmos meskipun rnerupakan bagian daripada
makrokosmos (alam semesta), tetapi manusia hidup tidak secara mutlak
tenggelam dalam “kekuasaan” dan “kebutaan” alam semesta. Dengan potensi
kemanusiaannya, manusia mengelolah alam semesta itu menjadi alam

1
budaya sesuai dengan kebutuhan dan kemampun manusia. Atau, meskipun
manusia belum mampu menundukkan alam, tetapi paling tidak manusia
mampu bersahabat, menjinakkan dan rnemanfaatkan alam. Manusia sebagai
subyek di dalam alam semesta bahkan menikmati alam semesta ini karena
potensi manusia yang melahirkan kebudayaan. Sepanjang sejarah ada
manusia generasi demi generasi, tidak saja sebagai proses regenerasi subyek
(manusia), melainkan juga sebagai suatu proses estafet, pengoveran
kebudayaan secara terus-menerus. Lembaga yang paling efektif
rnelaksanakan fungsi tersebut terutama pendidikan. Karena itu kebudayaan
dan pendidikan adalah aspek-aspek kehidupan manusia yang tak
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana scope kebudayaan?
2. Mengapa ilmu disebut sebagai unsur kebudayaan?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dan ruang lingkup kebudayaan.
2. Mengetahui ilmu sebagai ilmu kebudayaan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Scope Kebudayaan


Istilah kebudayaan yang disamakan dengan culture (Inggris), kultur
(Jerman), dan cultuur (Belanda) mengandung pengertian yang amat luas.
Menurtu Prof. Dr. H. A. Enno van Gelder, “culture” bersal dari kata Latin
“colore” yang berarti mengerjakan, memelihara dan memuja.
Dr. K. Kuypers, seorang staf penulis ENSIE berpendapat bahwa
etimologi kata culture ialah “culture animi” (Latin), yang berarti: memelihara,
dan mengembangkan jiwa. Seorang antropolog Inggris Edward B. Taylor
(1832-1917) mengatakan bahwa kultur adalah keseluruhan yang kompleks
termasuk didalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum
adat dan segala kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia
sebagai seorang anggota masyarakat (William, 1985 : 332)
Pengertian kebudayaan (culture) sebagian sarjana Anglo Saxon
mempersamakan dengan pengertian peradaban (civilization) yang dilakukan
oleh Dr. Edward B. Taylor yang rnenulis dalam buku “Primitive Culture”:
Kebudayaan atau peradaban ialah suatu keutuhan yang kompleks yang
meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istisdat,
dan setiap kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai warga
masyarakat.
Meskipun juga bangsa Amerika, namun Dr. Roucek dan Dr. Warren
dalam buku mereka “Sociology an lntroduction” membedakan kedua
pengertian tersebut sebagai nyata dalam uraian tentang definisi masing-
masing sebagai berikut: Kebudayaan ialah cara hidup yang dikembangkan
oleh suatu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuban pokok mereka
demi tetap survive, dan kekalnya kehidupan jenis meliputi akumulasi obyek-
obyek materiil, pola-pola organisasi sosial, bentuk-bentuk tingkah laku yang
dipelajari (berlaku), ilmu pengetahuan. kepercayaan, dan semua aktivitas lain

3
yang dikembangkan dalam antar hubungan manusia. Kebudayaan merupakan
sumbangan nunusia kepada lingkungan hidupnya.
Sedangkan pada bagian lain buku itu kedua sarjana tersebut memberi
definisi peradaban sebagai berikut: Peradaban berarti suatu tingkat
perkembangan kompleksitas kebudayaan yang dicapai suatu masyarakat.
Meskipun kriteria yang dipakai berbeda untuk menetapkan suatu peradaban,
barangkali yang terpenting sebagai kriteria itu ialah bahasa tertulis. Melalui
pelengkapan komunikasi lisan, bahasa tertulis memungkinkan akumulasi
kebudayaan ke tingkat yang lebih besar, dan dalam hal inilah pengertian
peradaban sering dipakai.
Untuk definisi sebagai perbandingan, beberapa definisi kebudayaan
yang dikutip lebih lanjut ialah: Istilah kebudayaan dipakai untuk
menunjukkan keseluruhan jumlah ciptaan umat manusia, hasil-hasil yang
tersusun daripada pengalaman kolektif manusia hingga sekarang.
Kebudayaan rneliputi semua yang telah dibuat rnanusia dalam bentuk alat-
alat, senjata, tempat tinggal, bahan baku barang-barang dan prosesingnya, dan
semua yang telah dihasilkan sikap dan kepercayaan, cita-cita dan keputusan
(pertimbangan), hukum dan lembaga-lembaga, seni dan ilmu pengetahuan,
filsafat dan organisasi sosial. Kebudayaan meliputi juga antar hubungan
semua bidang di atas dan aspek-aspek lain yang membedakan kehidupan
manusia daripada hewani. Segala sesuatu, baik materil atau nonmateriil, yang
diciptakan manusia di dalarn proses kehidupan, termasuk dalam pengertian
kebudayaan.
Dr. Henry S. Lucas dalam buku “A Short History of Civila zation”
menyatakan: Kebudayaan ialah suatu cara yang umum bagaimana manusia
hidup, berpikir dan bertindak. Kebudayaan meliputi (1) suatu penyesuaian
umum terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi atau kepada lingkungaan
geografis, (2) organisasi yang lazim dibentuk untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan sosial dan politik yang ada dalam kehidupan, dan (3) lembaga
yang umum dalam pemikiran dan usaha-usaha pencapaiannya. Semuanya itu
meliputi seni, sastra, ilmu pengetahuan, penensuan-penemuan, filsafat dan

4
agama. Suatu kebudayaan ialah suatu pencapaian yang khas dalarn bidang
sosial politik, ekonomi, intelek, seni dan agama- dari suatu kelompok
manusia.
Pendapat Dr. Ki Kajar Dewantara seorang ahli kebudayaan dan
pendidik Indonesia rnenulis: “Menschecultuer” (adab, Ar. ) itu lebih terang
artinya jika diterjemahkan ke dalam bahasa kita dengan perkataan
“kebudayaan”. Perkataan ini berasal dari “budaya” dan ini berarti buah dari
budi manusia. Lalu teranglah sekarang bahwa arti kebudayaan atau kultur
kemanusiaan itu ialah semua benda buatannya manusia, baik benda batin
maupun benda lahir, yang dapat timbul karena kemasakan budi manusia. Dan
pekerjaan kultur yaitu semua usaha untuk mempertinggi derajat kemanusiaan,
sedangkan pokoknya ialah veredelan budi manusia………. Menurut
pengertian wetenschap, maka kultur itu dibagi rnenjadi tiga jenis ke I, yang
mengenai rasa kebatinan atau moral agama, adat istiadat, tatanegara,
kesosialan dan sebagainya yang bermaksud memberi hidup yang tertib serta
damai. Ke II, yang mengenai kemajuan angan-angaun : pengajaran ilmu
bahasa, wetenschap dan sebagainya. Ke III, yang mengenai kepandaian:
pertanian, industri, perniagaan, pelayaran, kesenian dan lain-lain. Pendek kata
segala perbuatan manusia yang berguna atau bersifat indah serta dapat
bermanfaat bagi hidupnya manusia bersama. Teranglah di situ, bahwa usaha
kulturil itu ialah segala perbuatan manusia, yang timbul dan kemasakkan
budinya yaitu buah dari kecerdasan pikirannya serta buah dari kekuatan
kehendaknnya yaitu segala tenaganya. Jadi kultur atau kebudayaan itu
nyatalah buah dan ‘trisakti’nya manusia
Sebagai penutup kutipan-kutipan definisi kebudayaan itu marilah kita
ikuti uraian Drs. Sidi Gazalba dalarn buku “Pengantar Kebudayaan sebagai
Ilmu,” antara lain sebagai berikut: “Kebudayaan ialah cara berpikir dan cara
merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dan segolongan
manusia yang rnembentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan suatu
waktu”.

5
Dari semua batasan kebudayaan yang dikutip itu agak jelas pengertian
kebudayaan sekaligus scope kebudayaan. Pada pokoknya, kebudayaan itu
ialah semua ciptaan manusia yang berlangsung di dalam kehidupan.
Kebudayaan menampakkan diri pula dalam kepribadian dan tingkah laku
manusia di dalam antar hubungan dan antar aksinya.
Sebagai makhluk budaya manusia rnerubah unsur-unsur alam menjadi
benda-benda kebudayaan dengan potensi kemanusiaannya. Sedikit catatan
dan batasan kebudayaan menurut Dr. Henry S. Lucas, yang memandang
religion (agama) sebagai termasuk kebudayaan. Jika diakui, bahwa
kebudayaan ialah semua ciptaan manusia (human creation), barangkali timbul
pertanyaan: apakah agama itu ciptaan manusia. Umat beragama percaya
bahwa agama itu diturunkan, diwahyukan oleh Tuhan melalui nabi/ rasul
untuk umat manusia. Karena itu agama bukan ciptan manusia, sebab agama
bersumber dari Maha Pencipta, Tuhan sendiri. Agama yang bersifat universal
itu melampaui alam pikiran yang rasional, agama sebagai wujud kepercayaan
bersifat supernatural superrasional.
Batasan kebudayaan di atas dalam arti umum kebudayaan universal.
Tetapi tiap-tiap bangsa mempunyai kebudayaan sendiri yang sesuai dengan
kondisi-kondisi lingkungan alamnya, berdasarkan sosiologis dan
sosiopsikologis bangsa itu. Kebudayaan suatu bangsa itu disebut kebudayaan
nasional.
Untuk batasan kebudayaan nasional ini, Drs. Sidi Gazaiba menulis:
Berpijak atas definisi kebudayaan dapat dirumuskan definisi kebudayaan
nasional sebagai berikut: Cara berpikir/merasa nasion yang menyatakan diri
dalam seluruh segi kehidupannya dalam suatu ruang dan suatu waktu. Secara
singkat: manisfestasi cara berpikir/ merasa nasion dalam kehidupannya.
Dengan kata sederhana: cita, dan laku- perbuatan nasion dalarn lapangan-
lapangan sosial, ekonomi, politik, ilrnu teknik, kesenian, filsafat dan agama .
Tiap bangsa sejalan dengan kesadaran nasionalisme memiliki
kebanggaan nasional atas kebudayaan nasional masing-masing. Kebudayaan
nasional ini merupakan perwujudan kepribadian nasional suatu bangsa.

6
Secara teoritis ada ahli yang membedakan kebudayaan nasional itu atas
kebudayaan-formal dan kebudayaan-material. Yang pertama yaitu hakekat,
watak, sikap mental, pola pikir dan nilai-nilai spiritual. Sedangkan yang
kedua meliputi semua produk dan perwujudan kebudayaan formal itu.
Ada pula yang menganalisa kebudayaan nasional itu dengan membeda-
bedakannya secara teoritis sebagai berikut:
1) Kebudayaan nasional yang bersifat spiritual, psikologis yakni manifestasi
sosio-psikologis yang menunjuk identitas-subyek seperti: filsafat hidup,
karakter nasional, sikap mental
2) Kebudayaan nasional yang bersifat rasional-intelektual berupa karya-
karya pikir seperti science/ilmu, yang lebih bersifat obyektif universal
3) Kebudayaan nasional yang bersifat material-konkrit sebagai produk
berupa: pola-pola/design tertentu dalam bidang teknologi, arsitektur,
mode, seni dan sebagainya
Dalam rangka rnemajukan kebudayaan nasional ini, di antara
kebudayaan bangsa-bangsa, antar pemerintah diadakan kerjasama
kebudayaan, tukar menukar missi kebudayaan, termasuk tukar menukar
mahasiswa.
Politik pembinaan kebudayaan nasional ada baiknya kita selalu
berpegang patuh asas Tri-con dari Dr. Ki Hadjar Dewantara yaitu:
1) Asas konsentrasi, bahwa pengembangan kebudayaan harus berpusat
(consentrasi) pada kebudayaan nasional, Social Jenitage yang diwarisi
dan generasi sebelumnya.
2) Asas convergensi, bahwa hukum perkembangan itu ialah kerja sama
antara factor dalam dan factor luar. Faktor dalam ialah sosio-kultural
yang sudah berakar, sedang faktor-luar ialah rnenerima unsur-unsur
kebudayaan-luar (asing) dengan prinsip selektif. Politik “pintu terbuka”
dengan “sensor” ini baik dengan komunikasi aktif, maupun karena
pengaruh-pengaruh antar hubungan pergaulan bangsa kita dengan
bangsa-bangsa lain yang kurang disadari (pasif).

7
3) Asas kontinuitas bahwa perkembangan yang terpusat pada kebudayaan
nasional itu, dengan menerima kebudayaan luar secara selektif akan
berlangsung terus rnenerus. Kebudayaan yang terdahulu merupakan
dasar dan modal bagi pembinaan kebudayaan seterusnya. Bahkan
kebudayaan sekarang tak mungkin berkembang sepesat adanya sekarang
tanpa asas-asas yang telah dirintis oleh pendahulunya
Kenyataan dalam kehidupan bangsa-bangsa dan negara moderen
sekarang, komunikasinya yang efektif amat dimungkinkan oleh teknologi.
Maka prinsip trikon itu cukup bijaksana utuk mengambil jalan tengah antara
politik pintu-terbuka sama sekali atau politik isolasi, yang keduanya tidak
realistis, tidak berrnanfaat.
B. Ilmu Sebagai Unsur Kebudayaan
Mempelajari unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kebudayaan
sangat penting untuk memahami kebudayaan manusia, Kluckhon dalam
bukunya yang berjudul Universal Categories of Culturemembagi kebudayaan
yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang
sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang
kompleks seperti masyarakat perkotaan (Tasmuji, 2011 : 160)
Dari uraian tentang definisi kebudayaan di muka, jelas bahwa ilmu
merupakan unsur kebudayaan. Pendidikan dan kehudayaan adalah suatu
hubungan antara proses dengan isi pendidikan ialah proses pengoperan
kebudayaan dalam arti membudayakan manusia. Proses pendidikan dalarn
arti demikian,sangat umum. Dalam mesyarakat modern dimana kebudayaan
itu amat kompleks, agaknya fungsi dan tanggungjawab pendidikan rnakin
besar dan sukar. Mampukah pendidikan mewarisi semua aspek kebudayaan
kepada manusia dalam waktu yang amat relative terbatas?
Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi,
artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan
yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad
sebelumnya. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam
segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta

8
sumberdaya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-
lembaga yang dikelola secara profesionalsehingga membuahkan hasil
unggulan. Tuntutan-tuntutan yang serba baru tersebut meminta berbagai
terobosan dalam berfikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Dengan
kata laindiperlukan suatu paradigm baru dalam menghadapi tantangan-
tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun. Menurut filsuf Khunapabila
tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm
lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru
menuntut proses terobosanpemikiran (breakthroughthinking process)apabila
yang diinginkan adalah outputyang bermutu yang dapat bersaing dengan hasil
karya dalam dunia yang serba terbuka (Tilaar, 1998:245).
Abad ke-21 juga dikenal dengan masa pengetahuan (knowledge age),
dalam era ini, semua alternative upaya pemenuhan kebutuhan hidup
dalamberbagaikontekslebihberbasispengetahuan. Upaya pemenuhan
kebutuhan bidangpendidikan berbasis pengetahuan (knowledge based
education),pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan(knowledgebased
economic),pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis
pengetahuan(knowledgebased social empowering),dan pengembangan dalam
bidangindustri pun berbasis pengetahuan(knowledge based
industry)(Mukhadis, 2013:115)
Abad ke-21 baru berjalan satu dekade, namun dalam dunia pendidikan
sudah dirasakan adanya pergeseran, danbahkanperubahan yang bersifat
mendasar pada tataran filsafat, arah serta tujuannya. Tidaklah berlebihan bila
dikatakan kemajuan ilmu tersebut dipicu oleh lahirnya sains dan teknologi
komputer. Denganpiranti mana kemajuan sains dan teknologi terutama dalam
bidangcognitive science, bio-molecular, information technologydannano-
sciencekemudian menjadi kelompok ilmu pengetahuan yang mencirikan abad
ke-21. Salah satu ciri yang palingmenonjol pada abad ke-21 adalah semakin
bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi
semakin cepat. Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi di dunia pendidikan, telah terbukti semakin menyempitnya dan

9
meleburnya faktor “ruang dan waktu” yang selama ini menjadi aspek penentu
kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia
(BSNP:2010).
Pendidikan, terutama pendidikan tinggi memusatkan program
aktivitasnya pada pengoperan, pengembangan atau pembinaan ilmu dan
research (penelitian). Atau di negara Indonesia tersimpul dalam tridharma
perguruan tinggi pendidikan, pengajaran, penelitian, pengembangan, dan
pengabdian pada masyarakat.
Wujud kebudayaan yang menjadi isi (curriculum) pendidikan dikenal
sebagai ilmu pengetahuan (knowledge). Karena luasnya scope kebudayaan
dibandingkan dengan keterbatasan waktu, maka demi suksesnya fungsi
pendidikan harus ada ketetapan unsur kebudayaan apa yang urgen dididikkan.
Program pendidikan dibatasi oleh tujuan yang hendak dicapai sebagai target.
Demikian pula kernarnpuan dan rninat individual, mernbatasi bidang apa
yang hendak dipiih seseorang sebagai lapangan pendidikannya. Faktor-faktor
inilah yang melahirk an bidang-bidang atau jurusan-jurusan pendidikan atau
keahlian seseorang. Sejalan dengan hal-hal tersebut di atas berkembanglah
apa yang dikenal sebagai ilrnu pengetahuan.
Secara teknis dapat dikemukakan pada bagian mi apakah def inisi ilmu
(knowledge) yang amat erat hubungannya dengan pendidikan.
1) Menurut Webster’s new World Dictionary
“Ilmu pengetahuan : semua yang telah diamati atau dimengerti oleh jiwa
(pikiran) belajar dan sesuatu yang telah jelas” (26:809).
2) Menurut “Dictionary of Philosophy” oleh Runes
Pengetahuan : Berhubungan dengan tahu (yang diketahui). Kebenaran
yang dimengerti. Lawan dari pendapat. Ilmu pengetahuan tertentu lebih
daripada pendapat, tetapi di bawah tarafnya jika dibandingkan dengan
kebenaran.
3) Menurut “American Peoples Encyclopedia.”
Ilmu pengetahuan, suatu kesadaran penuh dan terbutikan dan suatu
kebenaran mengenai sesuatu : bersifat praktis, suatu kesadaran yang

10
teratur, tersusun tentang apa pun yang secara definitif dapat diterima
sebagai realita.
Pengertian knowledge (ilmu pengetahuan) di atas ialah meliputi semua
ilmu, apakah ilmu sosial, ilmu eksakta, ilmu filsafat, dan sebagainya.
Sedangkan istilah science (kadang-kadang diartikan ilmu pengetahuan juga),
telah mempunyai arti isu tertentu, sebagai dijelaskan oleh “American Peoples
Encyclopedia” sebagai berikut; ………apa yang disebut science moderen
terdiri atas beberapa cabang ilmu pengetahuan, tiap cabang mempunyai suatu
kelompok obyek atau dengan subyek khusus, yang semua itu dapat
dikatagorikan dalam tiga bidang utama penyelidikan : mathematika, ilmu
alam dan ilmu biologi.
Dewasa ini istilah science dipakai dalam arti ketiga bidang pokok di
atas. Sedangkan social-science para ahli berbeda pendapat tentang scope dan
rnaksudnya. Ada ahli yang berpendapat bahwa social-science meliputi :
sejarah, jurisprudence, linguistik dan filsafat. Ada pula ahli lain yang
menganggap social-science itu anthropologi-budaya, psikologi sosial,
ekonomi., geografi (khususnya demography), ilmu politik, hukum
internasional, ilmu perbandingan agama, archeology, business adrninistration,
public sociology dan sebagainya (28: l7 - 068).
Ada baiknya jika kita tetapkan, bahwa social science ialah ilmu-ilmu
selain yang tersimpul di dalam ilmu-ilmu eksakta.
Pembedaan istilah, pengertian dan scope ilmu pengetahuan seperti
diuraikan di atas mengarahkan pada pengertian tentang sistematika ilmu
pengetahuan. Para ahli juga berbeda dalam menetapkan sistematika ilmu
pengetahuan. Auguste Comte (1798-1875) menetapkan sistematika ilmu
berdasarkan tingkat abstaraksinya dan bagairnana kedudukan ilrnu itu
terhadap ilmu yang lain.
Pengetahuan dan penguasaan suatu ilmu harus dapat membantu
penelitian dan studi bagi ilmu yang lain dalam rangka seluruh program
pendidik untuk menetapkan kurikulum, urutan-kurikulum harus berorientasi
pada interdependensi antar-ilmu dalam jurusan atau departemen tertentu.

11
Dengan dernikian skala priroritas dalam kurikulurn (sequence of curricu1m)
harus menjamin efisiensi studi. Urutan materi (isi) pendidikan bukanlah
semata-mata berdasarkan pada tingkat kesukaran bahan pelajaran, melainkan
juga peranan dan daya guna ilmu itu bagi tingkat studi selanjutnya, khususnya
antar huhungan ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Di samping orientasi
pada tujuan pendidikan dan potensi kernatangan murid.
Menurut Brubacher, masalah kurikulum menyangkut baik teori-nilai
rnaupun teori ilrnu. Untuk tujuan kurikulum maka knowledge dimaksud
meliputi dua kategori:
1) Knowledge about things, yang dapat diinterpretasikan sebagai ilmu
secara teoritis.
2) Knowledge of how to do things, yang dapit ditafsirkan sebagai
pengetahuan yang menitikberatkan pada segi praktisnya, pengalaman-
pengalaman empiris, atau pengalaman berdasaskan experiment.
Ilmu sebagai bagian atau unsur kebudayaan adalah merupakan isi
pendidikan di samping nilai-nilai, pembinaan skill yang praktis, pembinaan
jasmani yang kuat dan sehat, sikap sosial dan tanggungjawab, kepemimpinan
dan sebagainya.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kebudayaan rneliputi semua yang telah dibuat rnanusia dalam
bentuk alat-alat, senjata, tempat tinggal, bahan baku barang-barang
dan prosesingnya, dan semua yang telah dihasilkan sikap dan
kepercayaan, cita-cita dan keputusan (pertimbangan), hukum dan
lembaga-lembaga, seni dan ilmu pengetahuan, filsafat dan
organisasi sosial. Kebudayaan meliputi juga antar hubungan semua
bidang di atas dan aspek-aspek lain yang membedakan kehidupan
manusia daripada hewani. Segala sesuatu, baik materil atau
nonmateriil, yang diciptakan manusia di dalarn proses kehidupan,
termasuk dalam pengertian kebudayaan.
2. Ilmu merupakan unsur kebudayaan. Pendidikan dan kehudayaan
adalah suatu hubungan antara proses dengan isi pendidikan ialah
proses pengoperan kebudayaan dalam arti membudayakan manusia.
Proses pendidikan dalarn arti demikian,sangat umum. Dalam
mesyarakat modern dimana kebudayaan itu amat kompleks,
agaknya fungsi dan tanggungjawab pendidikan rnakin besar dan
sukar.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mukhadis,Amat.2013.Sosok Manusia Indonesia Unggul dan Berkarakter dalam


Bidang Teknologi Sebagai Tuntutan Hidup di Era
Globalisasi.(online),(http://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/
1434),diakses tanggal 1 November 2019
Syam, M. Noor. 1987. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan
Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.
Tasmuji, Dkk. 2011. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar.
Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press
William A. Haviland. 1985. Antropologi Jilid 1.Jakarta: Erlangga

14