Anda di halaman 1dari 13

ACARA 1

ASAM BASA

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum Teknik Laboratorium Acara 1 “Asam Basa” adalah sebagai
berikut :
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan mempelajari penggunaan hand pH meter dan pH
paper universal (kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru)
2. Mahasiswa mampu menguji sifat asam dan basa dari suatu larutan

B. TINJAUAN PUSTAKA
Pada 1923, J.N. Bronsted di Denmark dan T.M Lowry di Inggris Raya
mengajukan sebuat teori asam-basa (Herring, dkk. 2007). Yang pertama adalah asam.
Asam berasal dari bahasa Latin “acer” yang berarti “kecut” (Hidrogen). Asam dapat
diartikan sebagai senyawa kimia yang apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan
ion H+ (ion hidrogen) yang memberikan sifat tertentu pada asam dalam bentuk
larutannya dengan pH kurang dari 7. Asam juga didefinisikan sebagai zat yang memberi
proton kepada basa atau menerima pasangan elektrron bebas dari suatu basa (Ishak,
dkk, 2016).
Larutan yang bersifat asam memiliki sifat berasa masam bila di dimakan,
bersifat korosif atau merusak jika mengenai bagian tubuh, semakin kuat sifat asamnya
maka semakin korosif dan dan semakin mudah terurai membentuk ion hydrogen,
selanjutnya adalah asam bisa bereaksi dengan logam menghasilkan gas H2 dan garam,
asam juga dapat bereaksi dengan karbonat yang akan menghasilkan gas garam, air dan
karbon dioksida yang ditandai dengan adanya gelembung pada saat reaksi, dan yang
terakhir adalah asam dapat bereaksi dengan basa membentuk garam dan air(Sulami,
2018).
Asam dibagi menjadi dua yaitu asam kuat dan asam lemah. Asam kuat adalah
zat asam yang terurai sempurna dan ada yang membentuk ion-ion yang membentuk
disosiasi dari asam kuat tersebut dengan ciri daya hantar listrik kuat dan banyak
gelembung gas. Asam lemah adalah asam yang teruarai sebagian dan sebagian besar
masih dalam bentuk molekul yang sebagian kecil berbentuk ion hasil disosiasi asam
lemah. Ciri-cirinya adalah daya hantar listriknya lemah dan sedikit gelembung
(Mulyani, dkk, 2017).
Kedua adalah basa, zat yang apabila dilarutkan dalam air akan terdisosiasi
menghasilkan ion OH- (Mulyani, dkk, 2017). Basa dapat menetralkan sifat-sifat
keasaman dari larutan asam. Larutan yang bersifat basa berasa pahit bila di masuk ke
dalam mulut, terasa licin jika dipegang, basa dapat bereaksi dengan garam ammonium
yang akan menghasilkan gas ammonia, dan juga dapat bereaksi dengan asam yang
disebut dengan netralisasi menghasilkan air dan garam(Sulami, 2018). Basa dibagi
menjadi dua jenis yaitu basa kuat dan basa lemah. Basa kuat adalah zat basa yang terurai
sempurna dan ada yang membentuk ion-ion yang membentuk disosiasi dari basa kuat
tersebut dengan ciri daya hantar listrik kuat dan banyak gelembung gas. Basa lemah
adalah zat basa yang teruarai sebagian dan sebagian besar masih dalam bentuk molekul
yang sebagian kecil berbentuk ion hasil disosiasi asam lemah. Ciri-cirinya adalah daya
hantar listriknya lemah dan sedikit gelembung (Mulyani, dkk, 2017).
pH pertama kali ditemukan oleh Sorensen (1839-1865). pH “Power of
Hydrogen” adalah ukuran konsentrasi ion hydrogen di dalam suatu larutan. Skala nilai
Ph memiliki nilai berkisar 0-14(Sulami, 2018). Dimana pH normal memiliki nilai 6,5-
7,5, pH asam memiliki nilai <6,5, dan pH basa memiliki nilai >7,5. pH 0 menunjukkan
derajat keasaman yang tinggi sedangkan pH 14 menunjukkan derajat kebasaan yang
tinggi (Ishak, dkk, 2016).
Indikator asam basa adalah senyawa organik yang dapat berubah warna dengan
berubahnya pH yang biasanya digunakan untuk membedakan larutan asam dan basa.
Setiap indikator memiliki karakteristik berupa trayek pH yang ditunjukkan dengan
berubahnya warna kertas pada kondisi asam atau basa. (Rahmawati, 2016). Indicator
asam basa yang biasa digunakan antara lain lakmus, indicator universal,ph
meter,indicator alami, dan indicator buatan. Kertas lakmus terdiri dari kertas lakmus
biru dan lakmus merah. Pada larutan yang bersifat asam, kertas lakmus biru akan
berubah warna menjadi merah dan lakmus merah tidak mengalami perubahan.
Sedangkan pada larutan basa, kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru dan
kertas lakmus biru tidak mengalami perubahan. Indikator universal merupakan
indicator yang dapat menunjukkan ph larutan berdasarkan perubahan warna.penentuan
nilai ph dilakukan dengan mencelupkannya ke dalam larutan yang diuji, warna yang
sesuai dengan kertas indicator setelah pencelupan dengan warna kemasan menunjukkan
besarnya ph larutan. Selanjutnya adalah pH meter, alat yang digunakan untuk
mengetahui nilai pH dengan tepat (Sulami, 2018).
Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukkan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap
standar ukur yang mampu tertelusur pada standar nasional maupun internasional. Hasil
yang diperoleh dari kegiatan kalibrasi adalah mendapatkan kesalahan penunjukkan,
nilai pada tanda skala, dan faktor kalibrasi lainnya (Tirtasari, 2017).

C. METODOLOGI PENELITIAN
1. Alat
a. Gelas beker
b. Kertas lakmus biru (pH paper universal)
c. Kertas lakmus merah (pH paper universal)
d. Pipet tetes
e. Plat tetes
f. pH meter
2. Bahan
a. Air gula
b. Air pasta gigi
c. Air sabun
d. Air shampoo
e. Air soda (sprite)
f. Air SPAM
g. Air sumur
h. Yakult
3. Cara Kerja
1. Pengujian larutan dengan menggunakan pH paper universal.
Larutan Sabun dan Yakult

Penimbangan kalorimeter+termometer

50 mL air mendidih Pemasukan kedalam gelas beaker

Pengukuran suhu larutan

Pemasukan kedalam kalorimeter

Pemasukan kedalam gelas beaker

Pengukuran suhu (60°C,70°C,80°C)

Pengadukan

Pemasukan kedalam kalorimeter

Pengukuran suhu larutan campuran

Pengulangan percobaan sebanyak 2 kali

Gambar 1.1 Cara Kerja Kalorimeter


/;KCEFH RDEWLAV6TESQ3
2. Pengujian larutan dengan menggunakan pH meter
Larutan Sabun dan Yakult

Pengkalibrasian PH meter dengan larutan


buffer

Pengujian sampel dengan PH meter

Pembacaan skla atau angka pada PH meter

Pencatatan hasil

Gambar 1.2 Diagram Alir Pengujian Larutan Menggunakan Ph Meter


D. HASIL DAN PENGAMATAN
Tabel 1.1 Pengujian Larutan Menggunakan Paper Universal Kelas A

Sifat Larutan
Kelompok Larutan Keterangan
Asam Basa Netral
Mengubah lakmus merah menjadi
Air Soda 
merah
Kelompok 1
Air Sumur  Mengubah lakmus biru menjadi biru

Yakult   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 2
Mengubah lakmus merah menjadi
Air sabun  
merah
Larutan
  Mengubah lakmus biru menjadi biru
Shampo
Kelompok 3
Larutan Gula   Mengubah lakmus biru menjadi biru

Larutan Pasta
  Mengubah lakmus biru menjadi biru
Gigi
Kelompok 4
Mengubah lakmus merah menjadi
Air Sspam  
merah
Larutan
 Mengubah lakmus biru menjadi biru
Garam
kelompok 5
Mengubah lakmus merah menjadi
UC 1000  
merah

Air Cuka   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 6
Mengubah lakmus merah menjadi
Air Kopi  
merah
Sumber : Hasil pengamatan
Table 1.2 Pengujian Larutan Menggunakan Paper Universal Kelas B

Sifat Larutan
Kelompok Larutan Keterangan
Asam Basa Netral
Mengubah lakmus merah menjadi
Cuka 
merah
Kelompok 7
Larutan Kopi   Mengubah lakmus biru menjadi biru

Larutan Garam   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 8
Mengubah lakmus merah menjadi
UC 1000  
merah

Air SPAM   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 9
Larutan Pasta
  Mengubah lakmus biru menjadi biru
Gigi

Larutan Gula   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 10
Larutan Mengubah lakmus merah menjadi
 
Shampo merah

Larutan Sabun   Mengubah lakmus biru menjadi biru


kelompok 11
Mengubah lakmus merah menjadi
Yakult  
merah

Air Sumur   Mengubah lakmus biru menjadi biru


Kelompok 12
Mengubah lakmus merah menjadi
Sprite  
merah
Sumber : Hasil pengamatan
Pada 1923, J.N. Bronsted di Denmark dan T.M Lowry di Inggris Raya mengajukan
sebuat teori asam-basa. Menurut teori mereka, asam adalah donor proton dan basa adalag
akseptor elektron(Herring, dkk. 2007). Asam dapat diartikan sebagai senyawa kimia yang
apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ (ion hidrogen) yang memberikan sifat
tertentu pada asam dalam bentuk larutannya dengan pH kurang dari 7. Asam juga didefinisikan
sebagai zat yang memberi proton kepada basa atau menerima pasangan elektrron bebas dari
suatu basa (Ishak, dkk, 2016). Asam dibagi menjadi dua yaitu asam kuat dan asam
lemah(Mulyani, dkk, 2017). Basa adalah zat yang apabila dilarutkan dalam air akan
terdisosiasi menghasilkan ion OH- (Mulyani, dkk, 2017). Basa juga didefinisikan sebagai zat
yang menerima proton dari asam atau memberi pasangan elektrron bebas ke asam, basa
memiliki ph lebih dari 7(Ishak, dkk, 2016). Basa dibagi menjadi dua jenis yaitu basa kuat dan
basa lemah(Mulyani, dkk, 2017).
Indikator asam basa adalah senyawa organik yang dapat berubah warna dengan
berubahnya pH yang biasanya digunakan untuk membedakan larutan asam dan basa. Setiap
indikator memiliki karakteristik berupa trayek pH yang ditunjukkan dengan berubahnya warna
kertas pada kondisi asam atau basa. (Rahmawati, 2016).
Indikator asam basa yang biasa digunakan antara lain lakmus, indicator universal,ph
meter,indicator alami, dan indikator buatan. Kertas lakmus terdiri dari kertas lakmus biru dan
lakmus merah. Pada larutan yang bersifat asam, kertas lakmus biru akan berubah warna
menjadi merah dan lakmus merah tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada larutan basa,
kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru dan kertas lakmus biru tidak mengalami
perubahan. Indicator universal merupakan indicator yang dapat menunjukkan ph larutan
berdasarkan perubahan warna.penentuan nilai ph dilakukan dengan mencelupkannya ke dalam
larutan yang diuji, warna yang sesuai dengan kertas indicator setelah pencelupan dengan warna
kemasan menunjukkan besarnya ph larutan. Selanjutnya adalah pH meter, alat yang digunakan
untuk mengetahui nilai pH dengan tepat (Sulami, 2018).
Larutan yang bersifat asam memiliki sifat berasa masam bila di dimakan, bersifat
korosif atau merusak jika mengenai bagian tubuh, semakin kuat sifat asamnya maka semakin
korosif dan dan semakin mudah terurai membentuk ion hydrogen, selanjutnya adalah asam bisa
bereaksi dengan logam menghasilkan gas H2 dan garam, asam juga dapat bereaksi dengan
karbonat yang akan menghasilkan gas garam, air dan karbon dioksida yang ditandai dengan
adanya gelembung pada saat reaksi, dan yang terakhir adalah asam dapat bereaksi dengan basa
membentuk garam dan air. Pada indicator kertas lakmus, larutan yang bersifat asam, kertas
lakmus biru akan berubah warna menjadi merah dan lakmus merah tidak mengalami
perubahan. Sedangkan larutan yang bersifat basa berasa pahit bila di masuk ke dalam mulut,
terasa licin jika dipegang, basa dapat bereaksi dengan garam ammonium yang akan
menghasilkan gas ammonia, dan juga dapat bereaksi dengan asam yang disebut dengan
netralisasi menghasilkan air dan garam. Pada larutan basa, kertas lakmus merah akan berubah
menjadi biru dan kertas lakmus biru tidak mengalami perubahan. (Sulami, 2018).
Pada praktikum acara 1 “Asam Basa” indikator yang digunakan untuk menguji larutan
asam basa adalah kertas lakmus merah dan lakmus biru. Kertas lakmus adalah salah satu
indicator yang digunakan untuk mengukur ph secara konvensional. Apabila kertas lakmus biru
dicelupkan ke suatu larutan dan ternyata berubah warna menjadi merah, berarti larutan tersebut
bersifat asam. Sebaliknya, apabila kertas lakmus merah dicelupkan ke suatu larutan dan
ternyata berubah warna menjadi biru, berarti larutan tersebut bersifat basa. Dan jika kertas
lakmus merah maupun biru dicelupkan ke suatu larutan dan tidak mengalami perubahan warna
itu berarti larutan tersebut bersifat netral. Cara menggunakan kertas lakmus sebagai indicator
asam basa yang pertama yaitu menyiapkan sample yang akan diuji, tempatkan sample tersebut
ke gelas ukur, kemudian masukkan kertas lakmus merah. Setelah siap sample ujinya,
masukkan/celupkan kertas lakmus biru/merah ke sample larutan uji, kemudian amati
perubahan warna yang terjadi. Pada percobaan ini sample uji yang digunakan adalah larutan
sabun dan yakult. Larutan sabun bersifat basa dibuktikan pada kertas lakmus merah berubah
warna menjadi biru dan lakmus biru tidak mengalami perubahan(netral). Sedangkan yakult
bersifat asam dibuktikan pada kertas lakmus biru yang berubah warna menjadi merah dan
lakmus biru tidak mengalami perubahan/netral (Sulami, 2018).
Tabel 1.3 Pengujian Larutan Menggunakan Ph Meter Kelas A

Sifat Larutan
Kelompok Larutan PH
Asam Basa Netral

Air Soda  3.43


Kelompok 1
Air Sumur   6.46

Yakult   3.57
Kelompok 2
Larutan
  10.32
Sabun
Larutan
  6.01
Shampo
Kelompok 3
Larutan Gula   7.35

Larutan Pasta
  7.62
Gigi
Kelompok 4
Air Spam   6.94

Larutan
  7
Garam
Kelompok 5
UC 1000   3.42

Air Cuka   1.8


Kelompok 6
Larutan Kopi   5.57

Sumber : Hasil pengamatan


Tabel 1.4 Pengujian Larutan Menggunakan Ph Meter Kelas B

Sifat Larutan
Kelompok Larutan PH
Asam Basa Netral

Cuka  1.8
Kelompok 7
Larutan Kopi   6.08

Larutan
  6.35
Garam
Kelompok 8
UC 1000   3.7

Air SPAM   6
Kelompok 9
Larutan Pasta
  7.13
Gigi

Larutan Gula   6.24


Kelompok
10 Larutan
  6.37
Shampo

Larutan Sabun   7.29


kelompok
11
Yakult   3.46

Air Sumur   6
Kelompok
12
Sprite   3.05
Sumber : Hasil pengamatan
pH pertama kali ditemukan oleh Sorensen (1839-1865). pH “Power of
Hydrogen” adalah ukuran konsentrasi ion hydrogen di dalam suatu larutan. Skala nilai
Ph memiliki nilai berkisar 0-14(Sulami, 2018). Dimana pH normal memiliki nilai 6,5-
7,5, pH asam memiliki nilai <6,5, dan pH basa memiliki nilai >7,5. pH 0 menunjukkan
derajat keasaman yang tinggi sedangkan pH 14 menunjukkan derajat kebasaan yang
tinggi (Ishak, dkk, 2016).
pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur pH larutan menggunakan
system pengukuran secara potensimetri. pH berisi elektroda kerja dan elektroda
referensi. Perbedaan potensial antara dua elektroda tersebut sebagai fungsi dari pH dari
larutan yang diukur. Sinyal tegangan yang dihasilkan pada pengukuran dengan
elektroda pH berada pada kisaran mV, sehingga perlu diperkuat dengan penguat
operasional. Perancangan sistem pH meter meliputi pembuatan rancangan perangkat
keras dan perangkat lunak. Sistem kerja dari pH meter yaitu membaca nilai pH larutan
dengan sensor pH dan mengubahnya menjadi besaran listrik. Sinyal keluaran dari
sensor pH memiliki nilai tegangan yang sangat kecil sehingga perlu diperkuat dengan
rangkaian pengkondisian sinyal. Hasil keluaran dari rangkaian pengkondisian sinyal
yang masuk ke makrokontroler arduinouno diolah dan selanjutnya ditampilkan pada
PC (Susilo, dkk, 2017).
Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukkan alat ukur dengan cara membandingkan terhadap
standar ukur yang mampu tertelusur pada standar nasional maupun internasional. Hasil
yang diperoleh dari kegiatan kalibrasi adalah mendapatkan kesalahan penunjukkan,
nilai pada tanda skala, dan faktor kalibrasi lainnya (Tirtasari, 2017). Kalibrasi
dugunakan untuk mengindikasikan penyesuaian dan keakuratan suatu pengukuran.
Biasanya digunakan untuk analisi fisika kimia dan membutuhkan prnyesuaian nol atau
rentang tertentu sebelum digunakan (Chowdhury, 2012).
Kalibrasi dengan menggunakan pH meter dilakukan dengan cara mengukur
nilai pH buffer yang sama menggunakan dua alat dan memvariasikan pH buffer yang
digunakan. Sebelum pengujian dilakukan, kedua alat tersebut dikalibrasikan
menggunakan larutan buffer pH 4 dan pH 7 untuk menentukan ketepatan hasil
pengukuran nilai pH. Pengukuran pada larutan asam menghasilkan tegangan sensor
bernilai positif, sedangkan larutan netral menghasilkan tegangan sensor mendekati nol
dan untuk larutan basa menghasilkan tegangan sensor bernilai negatif (Susilo, 2017).
Berdasarkan tabel 1.2 hasil pengamatan pengujian larutan menggunakan pH
meter kelas B didapatkan hasil bahwa cuka, larutan kopi, larutan garam, you c 1000,
larutan pasta gigi, larutan gula, larutan shampoo, yakult, air SPAM, dan air sumur
bersifat asam karena memiliki pH kurang dari 7. Larutan sabun memiliki sifat basa
karena memiliki pH lebih dari 7.
Berdasarkan perbandingan data tabel 1.1 dan 1.2 didapatkan perbedaan yaitu
perbedaan sifat larutan pada larutan garam yang disebabkan karena kelebihan pada saat
kalibrasi larutan yang mana kurang bersihnya pembersihan pada pH meter sehingga
masih terkontaminasi larutan sebelumnya. Kemudian pada pembersihan gelas ukur
kurang bersih dan masih mengandung larutan atau zat sebelumnya yang menyebabkan
perbedaan sifat larutan yang diperoleh.
Aplikasi asam basa dalam bidang pangan adalah pemanfaatan akn tumbuh
tumbuhan oleh masyarakat tertentu seperti penggunaan obat tradisional, racun,
pewarna, dan lain lain. Seiring dengan adanya pengembangan penelitian di bidang
bahan alam di masa ini pemanfaatan tumbuh tumbuhan semakin luas cakupannya, salah
satu kajian yang cukup menarik adalah pemanfaatan beberapa jenis tumbuhan sebagai
indicator asam basa. Jika suatu bahan pangan sudah di ketahui sifatasam basanya akan
lebihh mudah dalam penanganan atau pemanfaatannya dalam kehidupan sehari hari
pH adalah jumlah konsentrasi ion hidrogen (H+)pada larutan yang menyatakan
tingkat keasaman dan kebasaan larutan (Sunarno, 2017). Dimana pH normal memiliki
nilai 6,5-7,5, pH asam memiliki nilai <6,5 dan pH basa memiliki nilai >7,5(Ishak, dkk,
2016). Ph meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur nilai ph suatu larutan.
Sebuah ph meter terdiri dari sebuah elektroda yang terhubung ke sebuah akat elektronik
yang mengukur dan menampilkan nilai ph. Prinsip kerjanya terletak pada sensor probe
berupa elektrode kaca dengan jalan mengukur jumlah ion h3o+ di dalam larutan
Berdasarkan hasil pengamatan, larutan sabun termasuk jenis larutan basa. Hal
ini dibuktikan dengan terukurnya Ph 7,29. Sedangkan yakult termasuk jenis larutan
asam. Hal ini dibuktikan dengan terukurnya pH 3,46.
E. KESIMPULAN
Kesimpulan dari hasil praktikum “Asam Basa”adalah sebagai berikit :
1. Kertas lakmus adalah salah satu indicator yang digunakan untuk mengukur ph
secara konvensional. Apabila kertas lakmus biru dicelupkan ke suatu larutan dan
ternyata berubah warna menjadi merah, berarti larutan tersebut bersifat asam.
Sebaliknya, apabila kertas lakmus merah dicelupkan ke suatu larutan dan ternyata
berubah warna menjadi biru, berarti larutan tersebut bersifat basa. Dan jika kertas
lakmus merah maupun biru dicelupkan ke suatu larutan dan tidak mengalami
perubahan warna itu berarti larutan tersebut bersifat netral. Indicator lain yang
digunakan untuk mengetahui nilai ph suatu larutan adalah ph meter tetapi harus
melalui proses kalibrasi terlebih daulu untuk mengindikasikan penyesuaian dan
keakuratan suatu pengukuran. dengan cara mengukur nilai pH buffer yang sama
menggunakan dua alat dan memvariasikan pH buffer yang digunakan
2. Sample yang diuji memiliki sifat asam dan basa. Beberapa ada yang sesuai teori,
namun ada juga yang menyimpang dari teori. Penyimpangan tersebut terjadi karena
adanya kontaminasi dengan sample lain.
F. LAMPIRAN

Gambar 1.1 Hasil Percobaan Menggunakan pH Paper Universal

Gambar 1.2 Percobaan Menggunakan Ph Meter Gambar 1.3 Pengkalibrasi


DAFTAR PUSTAKA

Bahadori and Maroufi NG. 2016. Volumetric Acid-Base Tirtation by Using Natural
Indicators and Effect of Ssolvent and Temperatur. Austin Chromatologr. Vol
3. No. 2, Page : 14

Cheng, K. L., and DA-Ming Zhu. 2005. On Calibration of Ph Meters. Journal sensors
Vol. 5 No. 1, Page : 209-219

Chowdhury, Raihan Mohammed. 2012. General Concept of Calibration. International


Journal of Pharmaceitical and Life Sciences Vol. 1 No. 5, Page : 1.

Emi, Sudami 2018. Asam, Basa, Garam dan Identifikasinya. Jakarta : Intan Pariwara

Maulika, Fhany., Rizmahardia A.K., dan Kurniasih Dedeh. 2019. Pengembangan


Media Pembelajaran Indikator Asam Basa Alami Berbasis Bioselulosa. Al-
Razi Jurnal Ilmiah Vol. 7 No. 1, Hal : 56.

Mulyanti, Sri dan Nurkhozin Moh. 2017. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung : Alfabet

Natl, Res J. 2001. A Careful Consideration of the Calibration Concept. Journal of


Research of the National Institute of Standards and Technology Vol. 106 No.
2, Hal : 371-379.

Petrucci, H. R., Harwood, S. W., Herring, G. F., dan Madura, D. J. 2008. Kimia Dasar
Prindip-Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta : Erlangga

Pohan, Ariyanti Lisa., Situmorang Manihar., dan Jahro Siti Hs. 2010. Pengembangan
Bahan Ajar Inovatif Berbasis Multimedia Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Mahasiswa Pada Pembelajaran pH Larutan. Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 8
No. 2, Hal : 112-119.

Rahmawati, Siti Nuryanti dan Ratman. 2016. Indikator Asam-Basa Dari Bunga Dadap
Merah (Erybrian crista-galli L.). Jurnal Akademik Kimia Vol. 5 No. 1, Hal
:29-30.