Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

SISTEM HUKUM INDONESIA

OLEH :
LALU YAYAT HARJAN S.
TIARA PUTRI
SRI WAHYUNINGSIH
YULI PURNAMAWATI
PPKN REGULER SORE A
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita
nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga mampu untuk menyelesaikan pembuatan
makalah dari mata kuliah Sistem Hukum Indonesia

Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, mengharapkan kritik serta saran
dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang
lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Mataram, 2019

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i


Daftar Isi.................................................................................................. ii

BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 1

1.3 Tujuan ........................................................................ 1

BAB 2. PEMBAHASAN ........................... .................... .................... .................... 2

2.1 Sistem Hukum indonesia .........................................................................2

2.2 Unsur – Unsur bangunan system hukum indonesia.................................14

2.3 sistem hukum yang dianut diindonesia ...................................................16

BAB 3. PENUTUPAN .................................................... ..................... ..................... 17

3.1 Kesimpulan ............................................................. ....................... 17

3.2 Saran........................................................... ........................ ...................17

DAFTAR PUSTAKA ...................................... .................. .................. .................. 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
• Sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan beberapa sistem hukum. Sistem
hukum Indonesia merupakan perpaduan dari hukum agama, hukum adat, dan hukum
negara eropa terutama Belanda sebagai Bangsa yang pernah menjajah Indonesia.
Belanda berada di Indonesia sekitar 3,5 abad lamanya. Maka tidak heran apabila banyak
peradaban mereka yang diwariskan termasuk sistem hukum.
Pengertian sistem hukum sendiri yaitu Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem
adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu
totalitas. Hukum merupakan peraturan didalam negara yang bersifat mengikat dan memaksa
setiap warga Negara untuk menaatinya. Jadi, sistem hukum adalah keseluruhan aturan tentang
apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh manusia yang
mengikat dan terpadu dari satuan kegiatan satu sama lain untuk mencapai tujuan.

B. Rumusan Masalah

1. Penjelasan system hokum Indonesia


2. Unsur – unsur bangunan system hokum di Indonesia
3. System hukum yang dianut di Indonesia

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui penjelasan mengenai system hokum Indonesia


2. Untuk mengetahui unsur-unsur bangunan system hokum di Indonesia
3. Untuk mengetahui system hokum yang dianut di indonesia

1
BAB II

PEMBAHASAN

SISTEM HUKUM INDONESIA

Sistem hukum agama

Hukum Agama adalah hukum yang mengatur keseluruhan persoalan dalam kehidupan
berdasarkan atas ketentuan agama tertentu. Agama sendiri merupakan prinsip atau sebuah
kepercayaan kepada Tuhan. Jika seseorang tidak memiliki iman atau kepercayaan yang
kuat maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut telah melanggar norma atau hukum
agama.

Sistem hukum adat/kebiasaan

Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di
Indonesia dan negara-negara lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Hukum adat
adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak
tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum
masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka
hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula
masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya
sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal
ataupun atas dasar keturunan.

Hukum pidana

Hukum pidana termasuk pada ranah hukum publik. Hukum pidana adalah hukum yang
mengatur hubungan antar subjek hukum dalam hal perbuatan - perbuatan yang diharuskan
dan dilarang oleh peraturan perundang - undangan dan berakibat diterapkannya sanksi berupa
pemidanaan dan/atau denda bagi para pelanggarnya.

2
Dalam hukum pidana dikenal 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran.

 Kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan peraturan perundang
- undangan tetapi juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan
masyarakat. Pelaku pelanggaran berupa kejahatan mendapatkan sanksi berupa
pemidanaan, contohnya mencuri, membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya.
 Pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh peraturan perundangan namun
tidak memberikan efek yang tidak berpengaruh secara langsung kepada orang lain,
seperti tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam
berkendaraan, dan sebagainya.

Di Indonesia, hukum pidana diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP), yang merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda, sebelumnya bernama
Wetboek van Straafrecht (WvS). KUHP merupakan lex generalis bagi pengaturan hukum
pidana di Indonesia di mana asas-asas umum termuat dan menjadi dasar bagi semua
ketentuan pidana yang diatur di luar KUHP (lex specialis)

Hukum perdata

Salah satu bidang hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara individu-individu dalam
masyarakat dengan saluran tertentu. Hukum perdata disebut juga hukum privat atau hukum
sipil. Salah satu contoh hukum perdata dalam masyarakat adalah jual beli rumah atau
kendaraan .

Hukum perdata dapat digolongkan antara lain menjadi:

1. Hukum keluarga
2. Hukum harta kekayaan
3. Hukum benda
4. Hukum perikatan
5. Hukum waris

3
Hukum acara

Untuk tegaknya hukum materiil diperlukan hukum acara atau sering juga disebut hukum
formil. Hukum acara merupakan ketentuan yang mengatur bagaimana cara dan siapa yang
berwenang menegakkan hukum materiil dalam hal terjadi pelanggaran terhadap hukum
materiil. Tanpa hukum acara yang jelas dan memadai, maka pihak yang berwenang
menegakkan hukum materiil akan mengalami kesulitan menegakkan hukum materiil. Untuk
menegakkan ketentuan hukum materiil pidana diperlukan hukum acara pidana, untuk hukum
materiil perdata, maka ada hukum acara perdata. Sedangkan untuk hukum materiil tata usaha
negara, diperlukan hukum acara tata usaha negara. Hukum acara pidana harus dikuasai
terutama oleh para polisi, jaksa, advokat, hakim, dan petugas Lembaga Pemasyarakatan.

Hukum acara pidana yang harus dikuasai oleh polisi terutama hukum acara pidana yang
mengatur soal penyelidikan dan penyidikan, oleh karena tugas pokok polisi menurut hukum
acara pidana (KUHAP) adalah terutama melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan.
Yang menjadi tugas jaksa adalah penuntutan dan pelaksanaan putusan hakim pidana. Oleh
karena itu, jaksa wajib menguasai terutama hukum acara yang terkait dengan tugasnya
tersebut. Sedangkan yang harus menguasai hukum acara perdata termasuk hukum acara tata
usaha negara terutama adalah advokat dan hakim. Hal ini disebabkan di dalam hukum acara
perdata dan juga hukum acara tata usaha negara, baik polisi maupun jaksa (penuntut umum)
tidak diberi peran seperti halnya dalam hukum acara pidana. Advokatlah yang mewakili
seseorang untuk memajukan gugatan, baik gugatan perdata maupun gugatan tata usaha
negara, terhadap suatu pihak yang dipandang merugikan kliennya. Gugatan itu akan diperiksa
dan diputus oleh hakim. Pihak yang digugat dapat pula menunjuk seorang advokat
mewakilinya untuk menangkis gugatan tersebut.

4
Tegaknya supremasi hukum itu sangat tergantung pada kejujuran para penegak hukum itu
sendiri yang dalam menegakkan hukum diharapkan benar-benar dapat menjunjung tinggi
kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Para penegak hukum itu adalah hakim, jaksa, polisi,
advokat, dan petugas Lembaga Pemasyarakatan. Jika kelima pilar penegak hukum ini benar-
benar menegakkan hukum itu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah disebutkan di
atas, maka masyarakat akan menaruh respek yang tinggi terhadap para penegak hukum.
Dengan semakin tingginya respek itu, maka masyarakat akan terpacu untuk menaati hukum.

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

Pengertian dan istilah HAN Istilah yang dahulu dipakai adalah:

• Hukum Tata Pemerintahan atau Hukum Tata Usaha Negara (indonesia)

• Administratief Rechts atau Bestuur Rechts (Belanda)

Pengertian HAN adalah seperangkat aturan yang mengatur :

a. Hubungan hukum istimewa antara para pejabat negara

b. Dalam melakukan tugasnya secara khusus.yaitu:

• sebagian tugas pemerintah

• tidak termasuk tugas-tugas pengadilan

• Tidak termasuk tugas-tugas dalam pembuatan UU3.

Sumber HAN Sumber HAN terdiri dari

1. sumber hukum dalam arti formil yaitu:

5
a. Tap MPR III/MPR/ 2000 tentang Sumber Tertib Hukum di Indonesia, yaitu:

• UUD 1945

• Tap MPR

• UU/ Perpu = UU Nomor 5 tahun 1986

• PP

• Keppres

• Inppres

• Permen

2. Sumber Hukum dalam pengertian Sosiologis

3. Sumber Hukum dalam pengertian Sejarah.

Asas-asas HAN

a. Asas yang tertulis antara lain:

• Asas Legalitas artinya bahwa perbuatan administrasi negara harus berdasarkan atas hukum
bukan kekuasaan.

• Asas Persamaan Hak- Equality before the law artinya bahwa setiap orang mempunyai
kedudukan yang sama dan sederajat dihadapan hukum dan pemerintahan jadi tidak boleh
dibeda-bedakan.

• Asas kebebasasn atau Non intervensi bahwa tidak boleh ada campurtangan antara para
petugas administrasi negara

6
b. Asas yang tidak tertulis antara lain:

• Asas tidak boleh menyalahgunakan wewenang (deteournement de pouvoir)

• Asas tidak boleh menyerobot wewenang badan administrasi negara yang satu dengan yang
lain (Exes de pouboir)

• Asas upaya pakas atau asas bersanksi

HUKUM INTERNASIONAL

Pengertian dan Istilah Istilah yang dikenal dalam perkembangannya adalah :

• Ius Gentium (Romawi); Istilah ius gentium muncul sejak 4 abad yang sekaligus
membuktikan awal mula perkembangan Hukum Internasional yaitu dengan sudah adanya
hubungan antara orang Romawi dengan orang bukan Romawi, sekalipun hubungan tersebut
masih bersifat “religius” (keagamaan) artinya tidak bisa dibedakan antara urusan keagamaan
dengan kenegaraan.

• Ius Inter Gentes (Romawi); Istilah ius inter gentes merupakan pengembangan dari istilah ius
gentium, pada saat itu sudah muncul istilah “nations” atau bangsa untuk pertama kalinya,
sehingga ketika raja Romawi berhubungan dengan Raja Bukan Romawi sudah dapat
dibedakan secara jelas antara urusan keagamaan dengan urusan bangsa.

• International Law, Trans National, Law Of Mankind, International Public Law (Inggris)

• Droit Degens (Perancis)

• Voelkenrecht (Belanda)

7
• Hukum Bangsa-bangsa, Hukum Antar Negara, dan Hukum Internasional (Indonesia).
Perbedaan antara istilah hukum bangsabangsa, hokum Antar Negara dan Hukum
Internasional adalah bahwa hokum bangsa-bangsa adalah istilah yang dipakai pada jaman
kolonisasi yang pada saat itu belum terdapat istilah “Negara” (state) dalam pengertian
moderen. Istilah hokum antar Negara muncul sejak jaman dekolonialisme sehingga muncul
banyak Negara merdeka (state) dalam pengertian yang sesungguhnya namun istilah ini
kurang tepat jika digunakan karena dewasa ini hukum internasional tidak hanya mengatur
hubungan antara Negara yang satu dengan Negara yang lain tetapi juga mengatur hubungan
antara Negara dengan subyek hokum internasional bukan Negara dan mengatur hubungan
antara subyek hokum bukan Negara yang satu dengan yang lain. Jadi dalam hal ini Istilah
Hukum Internasional adalah istilah yang paling tepat.

Alasan yang paling mendasar mengapa istilah “Hukum Internasional” adalah istilah yang
paling tepat adalah:

1. Bahwa istilah Hukum Internasional adalah istilah yang paling lengkap untuk memeberikan
pengertian hokum Internasional sebagai keseluruhan kaidah yang mengatur hubungan antara
Negara dengan subyek hokum internasional bukan Negara dan mengatur hubungan antara
subyek hokum bukan Negara yang satu dengan yang lain;

2. Bahwa dengan menggunakan istilah “Hukum Internasional” sekaligus menunjukan tingkat


perkembangan dari Hukum Internasional itu sendiri yaitu mulai dari ius gentium-isu inter
gentes-hukum bangsabangsa-hukum antar Negara-dan hokum internasional.

3. Bahwa dengan penggunaan istilah hokum internasional ternyata tidak ada keberatan bagi
Para Sarjana Hukum Internasional.

Pengertian HI4 adalah : seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara negara dengan
negara, negara dengan subyek hukum internsional bukan negara yang lain serta subyek
hukum internasional bukan negara satu dengan yang lain yang meliwati batas wilayah suatu
negara.

8
Jadi terdapat tiga unsur:

• Hubungan antara negara dengan negara

• Hubungan antara negara dengan subyek hukum internasional bukan negara yang lain;
artinya hubungan antara Negara dengan :

- Organisasi Internasional (OI)

- Vatican atau Tahta Suci

- Pemberontak (Belligerent) atau Pihak Yang bersengketa

- Penjahat Perang (Genocide)

- Palang Merah Internasional

- Individu

• Hubungan antara subyek hukum Internasional bukan negara satu dengan yang lain; artinya
antara

- organisasi internasional dengan OI yang lain atau.

- OI dengan subyek hokum Internasional bukan Negara yang lain

9
Sumber Hukum Internasional

A Sumber Hukum Primer

a. Perjanjian Internasional

Perjanjian Internasional merupakan sumber hukum yang paling utama bagi HI. Perjanjian
tersebut dapat berbentuk bilateral maupun multilateral. Misalnya saja:

- Konvensi DenHaag 1907 tentang Hukum Perang dan Penyelesaian Sengketa secara Damai.

- Konvensi PBB tentang Hukum Laut, 1982.

- Piagam PBB, 1945. dsb

b. Kebiasaan Internasional Kebiasaan Internasional berasal dari praktek-pratek negara


melalui sikap dan tindakan yang diambil dalam menghadapi suatu persoalan dan diikuiti oleh
negara lain. Misalnya:

- Konvensi tentang hubungan diplomatik dan konsuler, 1958.

- Penghormatan pada penyambutan kepala negara.

c. Prinsip Hukum Umum Prinsip ini berlaku hampir diseluruh sebagaian besar hukum
nasional negara-negara. Antar lain:

- Pacta Sunt Servanda

- Presumption of Innosence

10
B Sumber Hukum Subsider

a. Keputusan Mahkamah Internasional

b. Keputusan Hakim-hakim Nasional

c. Keputusan Arbitrase Internasional

Jadi sumber hokum yang berupa Keputusan hakim pengadilan baik di tingkat nasional
maupun Internasional serta Pendapat para pakar Hukum Internasional tergolong dalam
sumber Hukum yang bersifat Subsider

Subyek Hukum Internasional Pengertian subyek hokum di depan sudah dijelaskan bahwa
subyek hokum adalah pendukung hak dan kewajiban, jadi pengertian subyek hokum
internasional adalah pendukung hak dan kewajiban dalam hokum internasional. Pendukung
hak dan kewajiban dalam hokum internasional dewasa ini ternyata tidak terbatas pada Negara
tetapi juga meliputi subyek hokum internasional lainnya. Hal ini dikarenakan dewasa ini
sering dengan tingkat kemajuan di bidang teknologi, telekomunikasi dan ransportasi dimana
kebutuhan manusia semakin meningkat cepat sehingga menimbulkan interaksi yang semakin
kompleks. Munculnya organisasi-organisasi Internasional baik yang bersifat bilateral,
regional maupun multilateral dengan berbagai kepentingan dan latar belakang yang
mendasari pada akhirnya mampu untuk dianggap sebagai subyek hokum internasional.
Begitu juga dengan keberadaan individu atau kelompok individu (belligerent) yang pada
akhirnya dapat pula diakui sebagai subyek hokum Internasional. Jadi subyek hokum
Internasional meliputi:

11
1. Negara

2. Organisasi Internasional (OI) baik yang Bilateral, Regional maupun Multilateral

3. Vatican atau Tahta Suci

4. Palang Merah Internasional

5. Pemberontak (Belligerent) atau Pihak Yang bersengketa

6. Penjahat Perang atau Genocide

7. Individu.

Asas-asas Hukum Internasional Bahwa prinsip-prinsip ini telah berlaku secara universal dan
dimuat dalam Deklarasi Mengenai Hubungan Bersahabat dan Bekerjasama Antar Negara,
1970 dan Deklarasi Manila mengenai Penyelesaian Sengketa secara Damai, 1982.

• Prinsip bahwa negara tidak akan menggunakan kekerasan yang bersifat mengancam
integritas teritorial atau kebebasan politik suatu negara atau menggunakan cara-cara lainya
yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan PBB; • Prinsip non-intervensi dalam urusan dalam
negeri dan luar negeri suatu negara;

• Prinsip persamaan hak dan menentukan nasib sendiri bagi setiap bangsa;

• Prinsip hukum internasional mengenai kemerdekaan, kedaulatan dan integritas teritorial


suatu negara;

• Prinsip etiket baik dalam hubungan internasional;

12
• Prinsip Ex Aeqou Et Bono atau prinsip keadilan artinya bahwajika dalam suatu kasus
hokum internasional diselesaikan oleh Mahkamah Internasional maka Mahkamah
Internasional bisa mencari hukumnya dari sumber hokum Internasional Primer maupun
subsider, Namun sesuai dengan ketentuan Pasal 38 Keputusan Mahkamah Internasional maka
hakim boleh mengabaikan sumber hokum yang ada dengan memutuskan berdasarkan pada
rasa keadilan yang ada dalam hati nurani para hakim di Mahkamah Internasional.

13
UNSUR – UNSUR BANGUNAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA

1. Pengertian Sistem Hukum

Sistem adalah seperangkat unsur-unsur yang mempunyai hubungan fungsional secara


teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas

Ada dua system hokum besar, yaitu


1. System hokum common Law atau Anglo Saxon
2. System hokum civil law atau continental

System hokum common law adalah suatu system hukum yang didasarkan pada yurisprudensi,
yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim –
hakim selanjutnya. System hukum ini diterapkan di irlandia, inggris, Australia, selandia baru,
afrika selatan, kanada dan amerika serikat.

Negara Indonesia menganut system hukum campuran dengan system hukum utama yaitu
system hokum eropa continental, system hukum adat dan system hokum agama , khususnya
hokum syariat islam.

2. System hukum di Indonesia


System Hukum positif Indonesia adalah hukum yang berlaku saat ini di Indonesia,
hukum positif Indonesia menurut lapangan hukumnya adalah sebagai berikut:

a. System hukum adat dan hokum kebiasaan. Hokum adat adalah hukum asli
masyarakat Indonesia, yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia
sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
b. System hokum perdata , yakni hukum perdata yang diberlakukan di Indonesia
oleh pemerintah colonial berdasarkan asas konkordasi. Hukum perdata adalah
hukum yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain
yang menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan.

14
c. System hokum acara perdata, yakni hukum yang mengatur tentang tata cara
bagaimana tentang mempertahankan hukum materil. Hukum acara sering disebut
juga hukum formal, hukum acara perdata berarti mengatur tata cara bagaimana
mempertahankan hukum perdata, atau merupakan hokum proses.
d. System hukum pidana, hukum pidana adalah serangkaian peraturan yang memuat
tentang kejahatan dari pelanggaran
e. System hukum acara pidana yakni hukum acara atau hukum proses atau hukum
formal adalah bagaimana cara mempertahankan hukum pidana materill
f. System hukum tata negara, adalah hukum yang menyangkut organisasi- organisasi
kenegaraan yakni yang menyangkut struktur , wewenang dan tanggung jawab
organisasi kenegaraan tersebut.
g. System hukum administrasi negara, yakni hukum yang merupakan serangkaian
peraturan-peraturan hukum yang mengatur cara bagaimana badan-badan
pemerintah melaksanakan tugas pemerintah.

15
SISTEM HUKUM YANG DIANUT INDONESIA

Sistem hukum Eropa Kontinental

Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai
ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan
lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di
negara yang menganut sistem hukum ini.

Sistem hukum umum adalah suatu sistem hukum yang digunakan di Inggris yang mana di
dalamnya menganut aliran frele recht lehre yaitu di mana hukum tidak dibatasi oleh undang-
undang tetapi hakim diberikan kebebasan untuk melaksanakan undang-undang atau
mengabaikannya.

Sistem hukum eropa kontinental ini berkembang di Eropa daratan seperti Perancis dapat
dikatan sebagai negara yang terlebih dahulu menerapkan sistem hukum tersebut. Sebenarnya
sistem hukum ini berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di Kekaisaran Romawi pada
masa pemerintahan Kaisar Justisianus abad ke VI sebelum masehi.

Sistem hukum Anglo-Saxon

Sistem Anglo-Saxon adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada yurisprudensi, yaitu
keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim
selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru,
Afrika Selatan, Kanada (kecuali Provinsi Quebec) dan Amerika Serikat (walaupun negara
bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistem hukum Eropa
Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan
sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang
menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, tetapi juga memberlakukan hukum
adat dan hukum agama.

Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat
pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para
ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh hakim, dalam memutus perkara.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hukum adalah sekumpulan peraturan yang terdiri dari perintah dan larangan yang bersifat
memaksa dan mengikat dengan disertai sanksi bagi pelanggarnya yang bertujuan untuk
mengatur ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat. Untuk mencapai ketentraman dan
ketertiban dalam masyarakat dibutuhkan sikap masyarakat yang sadar hokum. Selain
masyarakat pemerintahpun juga harus sadar hokum. Maka tercapailah ketentraman dan
ketertiban itu. Untuk mengantisipasi berbagai pelanggaran hokum yang terjadi maka di
Indonesia telah ada berbagai macam Pengadilan. Dari yang mengadili masyarakat sampai
dengan pemerintah dan para pejaba

B. Saran

Sebagai Negara hukum sudah sepatutnya hukum itu harus dipatuhi dan ditaati agar terciptalah
Negara yang sejahtera, agar demikian masyarakat yang ada didalam dapat terlendungi hukum
dari hal-hal yang meresahkan dan tidak mengenakan, sebagai Negara hukum Indonesia adalah
salah satu Negara yang menjunjung hukum agar ketentraman dinegara Indonesia senantiasa
terjaga dan terpelihara agar terciptalah kesejahteraan dan ketentraman dalam bermasyarakat,
oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah juga turut turun langsung meninjau apakah
seluruh masyarakat sudah mendapatkan hak-nya dilindungi oleh hukum tanpa pandang bulu
apa dia masyarakat yang mampu ataukah tidak mampu. Karena hukum itu adalah bagian dari
masyarakat juga dan masyarakatlah yang berhak dijamin atas hukum.
Dalam penyusunan Makalah ini penulis tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan dan
kehilafan oleh sebab itu penulis berharap untuk diberi kritikan dan saran yang membangun
guna kesempurnaan makalah ini dan pembuatan makalah selanjutnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum, Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Cet. II, Penerbit
Gunung Agung, Jakarta, 2002.

Daniel S. Lev, Hukum Dan Politik di Indonesia, Kesinambungan dan Perubahan, Cet I,
LP3S, Jakarta, 1990.

Lili Rasyidi & Ira Rasyidi, Pengantar Filsafat dan Teori Hukum, Cet. ke VIII, PT Citra
Adtya Bakti, Bandung 2001.

18