Anda di halaman 1dari 2

RESUME CHAPTER 7

AUDIT EVIDENCE
( BUKTI AUDIT )

A. Sifat Bukti Audit


 Bukti audit digunakan oleh auditor untuk menentukan informasi yang diaudit telah
sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
 Penggunaan bukti audit adalah untuk menentukan laporan keuangan telah disajikan
dengan benar.
 Sifat bukti yang digunakan adalah berbagai jenis audit yang dihasilkan oleh auditor,
pihak ketiga dan klien.
B. Keputusan Bukti Audit
Keputusan penting yang dihadapi para auditor adalah menentukan jenis dan jumlah bukti
audit yang tepat, yang diperlukan untuk memenuhi keyakinan bahwa komponen laporan
keuangan klien dan kesseluruhan laporan telah disajikan secara wajar. Empat keputusan
mengenai bukti yang harus dikumpulkan yaitu:
1) Prosedur audit yang akan digunakan
2) Berapa ukuran sampel yang akan dipilih untuk prosedur tersebut
3) Item-item mana yang akan dipilih dari populasi
4) Kapan melaksanakan prosedur tersebut
C. Persuasivitas Bukti
 Persuasivitas bukti audit adalah ketepatan dan mencukupi.
 Ketepatan bukti adalah ukuran mutu bukti yang berarti relavansi dan reliabilitasnya
memenuhi tujuan audit untuk kelas transaksi, saldo akun dan pengungkapan yang
berkaitan.
 Relavansi bukti, sebuah bukti audit harus berkaitan atau relevan dengan tujuan audit
yang akan diuji oleh auditor sebelum bukti tersebut dianggap tepat.
 Reliabilitas bukti, mengacu pada tingkat dimana bukti tersebut dianggap dapat
dipercaya, dan sangat membantu dalam meyakinkan auditor bahwa laporan
keuangan telah disajikan secara wajar.
D. Jenis – Jenis Bukti Audit
Dalam memutuskan prosedur audit mana yang akan digunakan auditor dapat memilihnya
dari 8 jenis bukti dan setiap prosedur audit mendapat satu atau lebih jenis – jenis bukti ini :
1. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi atau perhitungan yang dilakukan auditor atas aktiva
berwujud, sering berkaitan dengan persediaan dan kas.
2. Konfirmasi, penerimaan respon tertulis atau lisan dari pihak ketiga yang independen
yang memverifikasi keakuratan informasi yang diajukan auditor.
3. Dokumentasi, inspeksi oleh auditor atas dokumen dan catatan klien untuk
mendukung informasi yang tersaji dalam laporan keuangan.
4. Prosedur analitis, perbandingan dan hubungan untuk menulai apakah saldo akun atau
data lainnya tampak wajar dibandingkan dengan harapan auditor.
5. Wawancara dengan klien, upaya untuk memperoleh informasi secara lisan dan
tertulis dari klien sebagai respon atas pertanyaan yang diajukan auditor.
6. Rekalkulasi, pengecekan ulang sampel yang dilakukan oleh klien. Pengecekan terdiri
dari pengujian atas keakuratan perhitungan klien.
7. Pelaksanaan ulang, pengujian independen yang dilakukan atas auditor atas prosedur
atau pengendalian akuntansi klien.
8. Observasi, penggunaan indra untuk menilai aktivitas klien.
E. Analytical Procedures
Merupakan evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan
logis antara data keuangan dan non keuangan termasuk perbandingan jumlah-jumlah yang
tercatat dengan ekspektasi auditor. Pelaksanaan prosedur analitis dapat dilakukan pada
seluruh tahap, baik tahap perencanaan, tahap pengujian dan tahap penyelesaian
Alasan yang terpenting penggunaan prosedur analitis :

 Memahami bidang usaha klien.


 Penetapan kemampuan satuan usaha untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
 Indikasi adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan.
 Mengurangi pengujian audit yang terinci.
F. Analisis Keuangan Umum
Analisis keuangan umum mungkin efektif untuk mengidentifikasi area masalah yang
mungkin, di mana auditor dapat melakukan analisis tambahan dan pengujian audit, serta
area masalah bisnis di mana auditor dapat memberikan bantuan lain.
G. Dokumentasi Audit
Merupakan catatan utama tentang prosedur auditing yang diterapkan, bukti yang diperoleh,
dan kesimpulan yang dicapai auditor dalam melaksanakan penugasan.