Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PROSES DAN HASIL BELAJAR KIMIA


MATERI KOLOID MELALUI PEMBELJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS
GAMES TOURNAMENT) DILENGKAPI DENGAN TEKA-TEKI SILANG BAGI
SISIWA KELAS XI IPA 3 DI SMAN 9 KOTA BENGKULU

Disusun Oleh :

YESSI RAHMA OKTAVIA

A1F016034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENEGTAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDILAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Dalam proses belajar mengajar pemilihan dan penggunaan metode yang tepat
dalam menyajikan suatu materi dapat membantu siswa dalam mengetahui serta memahami
segala sesuatu yang disajikan guru, sehingga melalui tes hasil belajar dapat diketahui
peningkatan prestasi belajar siswa. Melalui pembelajaran yang tepat, siswa diharapkan
mampu memahami dan menguasai materi ajar sehingga dapat berguna dalam kehidupan
nyata. Salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi
belajar yang dicapai siswa. Prestasi belajar adalah cermin dari pengetahuan, keterampilan,
dan sikap (Wiyono, B.B., 2003: 29)

Keberhasilan proses belajar mengajar merupakan hal utama yang


didambakan dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. Komponen utama dalam
kegiatan belajar mengajar adalah siswa dan guru, untuk itu yang menjadi subyek belajar,
bukan menjadi obyek belajar. Oleh karena itu, paradigma pembelajaran yang berpusat
pada guru hendaknya dirubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa atau
Student Centered Learning (SCL). Namun pada kenyataannya, saat ini masih banyak
pendidik yang belum menerapkan pembelajaran yang mengacu pada KTSP. Pembelajaran
TCL (Teacher Centered Learning) masih banyak mendominasi dalam proses
pembelajaran di kelas dengan alasan pembelajaran TCL adalah praktis dan tidak banyak
menyita waktu. Guru hanya menyajikan materi secara teoritik dan abstrak sedangkan
siswa pasif, siswa hanya mendengarkan guru ceramah di depan kelas. Akibat dari
kebiasaan tersebut siswa menjadi kurang kreatif dalam memecahkan masalah, partisipasi
rendah, kerja sama dalam kelompok tidak optimal, kegiatan belajar mengajar tidak efisien
dan pada akhirnya hasil belajar menjadi rendah.

Peraturan pemerintah memberikan arahan tentang perlunya disusun dan


dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses,
standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana
dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Namun yang terjadi di SMA N 9 KOTA BENGKULU pelayanan perbaikan peserta didik
tidak dilaksanakan, di SMA tersebut hanya memperhatikan outputnya saja tetapi dalam
pelaksanaan berikutnya tidak ada perbaikan untuk peserta didik hal tersebut menyimpang
dalam standar isi. Dalam pengorganisasian di SMA N 9 Kota Bengkulu untuk kelas XI
dan XII tidak terdapat program bahasa, yang ada hanya program IPA dan IPS sehingga
menyalahi aturan struktur kurikulum. Jumlah jam pelajaran per minggu terkadang tidak
sampai 38-39 jam pelajaran, dikarenakan ada beberapa acara tertentu yang mengakibatkan
terganggunya pembelajaran sehingga merugikan peserta didik untuk memperoleh
pelajaran memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
pengembangan fisik serta psikologis peserta didik. (PP No.41 Tahun 2007)

Mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa Sekolah
Menengah Atas, khususnya yang mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Mata
pelajaran ini perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik
pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki
jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Hal ini
tidak menutup kemungkinan akan adanya kesulitan bagi siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran kimia. Bagi siswa SMA N 9 Kota Bengkulu, khususnya pada kelas XI Ilmu
Pengetahuan Alam pelajaran kimia merupakan pelajaran yang sulit dan terkadang
membosankan.

Dari hasil observasi di kelas, dalam kegiatan belajar mengajar, interaksi guru dan
siswa tidak berjalan dua arah, atau dengan kata lain proses belajar mengajar hanya berjalan
dari satu arah, yakni dari guru saja. Proses pembelajaran di dalam kelas terlihat menjadi
aktivitas guru. Hal ini mengakibatkan siswa kurang bersemangat dalam mengikuti proses
pembelajaran. Selain itu juga kurangnya minat dan motivasi siswa dalam mengikuti
pembelajaran kimia yang ditunjukkan dengan sikap siswa yang masih banyak mengobrol
dengan teman semeja, tiduran dan asyik bermain sendiri. Berdasarkan observasi yang telah
dilakukan peneliti, hasil belajar siswa masih rendah. Hal itu dapat dilihat dari prestasi
kognitif siswa pada materi koloid tahun pelajaran 2010/2011. Masih ada beberapa siswa
yang belum mencapai kriteria ketuntasan yaitu kira-kira 50%, sedangkan nilai batas
ketuntasan dari tiga tahun terakhir ini yakni 62, 65, dan tahun sekarang 70.

Dari data hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kimia, metode yang
digunakan dalam proses pembelajaran kimia yaitu metode konvensional atau ceramah dan
pemberian tugas. Metode ceramah praktis digunakan karena tidak menyita banyak
waktu. Metode ceramah ini kurang efektif dalam memicu keaktifan siswa,
disamping juga menyebabkan kebosanan dan kejenuhan pada diri siswa. Sebenarnya,
karakteristik dari siswa SMA N 9 Kota Bengkulu pada umumnya adalah siswa yang aktif,
namun karena metode yang digunakan tidak terlalu bervariasi, sehingga menyebabkan
siswa banyak yang tidak aktif.

Selain permasalahan-permasalahan di atas, terdapat permasalahan lain yang


bersifat relatif. Siswa SMA Negeri 9 Kota Bengkulu khususnya kelas XI IPA 4 merupakan
siswa yang cukup berpotensi untuk dapat belajar aktif, misalnya membudayakan
mengemukakan pendapatnya, bahkan untuk menanggapi materi yang disampaikan oleh
guru. Sehingga apabila potensi yang terpendam ini tidak dikelola dengan baik, maka yang
terjadi adalah mereka sering berbincang-bincang dengan temannya, ada beberapa siswa
yang menggambar bebas di buku tulisnya dengan posisi duduk yang menampakkan rasa
kemalasan. Dari hasil wawancara pada tanggal 02 Oktober 2019 dengan guru kimia kelas
XI SMA Negeri 9 Kota Bengkulu diketahui bahwa siswa lebih suka pembelajaran yang
menyenangkan dan tidak membuat tegang. Siswa lebih mudah menguasai materi dengan
pembelajaran yang menarik dan bukan hanya menuntut siswa untuk mendengarkan dari
penjelasan guru. Sedangkan hasil wawancara dengan siswa kelas XI IPA di SMAN 9 Kota
Bengkulu diketahui bahwa menurut mereka kimia merupakan pelajaran yang sulit, karena
konsep-konsepnya sulit dipahami terlebih bagi konsep-konsep abstrak, dan banyak
hafalan. Selain itu penggunaan media jarang sekali digunakan dan tidak ada variasi
metode pembelajaran, sehingga siswa bosan dengan pembelajaran yang itu-itu saja.

Materi koloid marupakan materi pelajaran kimia yang diberikan di kelas XI IPA
SMA semester genap. Materi ini berisi materi-materi yang sifatnya banyak hafalan.
Penyajian materi koloid dengan melibatkan siswa aktif dalam bermain bersama dalam
kelompoknya diharapkan mampu memberi kontribusi pada peningkatan motivasi siswa
untuk selalu belajar berprestasi.

Berangkat dari berbagai permasalahan di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu
penyebab rendahnya prestasi belajar kimia adalah karena proses belajar mengajar masih
berpusat dari guru, sehingga siswa belum ikut terlibat secara aktif dalam proses belajar
mengajar tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan peran guru untuk memberikan motivasi
dan memperkenalkan materi kimia yang lebih menarik, menyenangkan dan bersahabat
sehingga siswa akan termotivasi dalam mempelajari kimia. Ada dua faktor yang
mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu faktor internal dan eksternal. Metode
pembelajaran yang dipilih merupakan salah satu faktor eksternal yang menunjang
keberhasilan siswa.

Upaya dalam meningkatkan kualitas belajar siswa SMA N 9 Kota Bengkulu salah
satunya dapat ditempuh dengan metode pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran
kooperatif tersebut dipilih karena mempunyai keunggulan berdasarkan hasil penelitian
ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian oleh Muti’ah (2007) yang berjudul
”Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Strategi Pemecahan
Masalah untuk Mengatasi Kesalahan Konseptual pada Mata Kuliah Kimia Dasar I”
menyimpulkan bahwa aktivitas pembelajaran mahasiswa dalam mata kuliah kimia dasar
setelah diberi tindakan pembelajaran kooperatif dengan strategi pemecahan masalah
adalah meningkat serta dengan pembelajaran ini cukup memberikan motivasi belajar pada
mahasiswa. Penelitian lain oleh Nauli, Rahmat (2007) menemukan bahwa pembelajaran
kooperatif melalui diskusi kelompok dalam pokok bahasan struktur atom dengan bantuan
media peta konsep dan alat peraga dapat meningkatkan interaksi pembelajaran dan hasil
belajar siswa SMA Negeri 11 Medan. Sedangkan oleh Lago, R.G.M (2007) menunjukkan
bahwa metode pembelajaran kooperatif dengan model NHT (Numbered Head Together)
secara signifikan meningkatkan prestasi siswa dalam pelajaran kimia, selain itu dapat
meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran kimia dibandingkan dengan metode
ceramah-diskusi. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian-penelitian di atas
yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif dapat meningkatkan aktivitas,
interaksi, motivasi dan prestasi belajar dalam pembelajaran kimia.

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat berbagai tipe, yaitu Learning Together,


Student Teams Achievment Division (STAD), Teams Games Tournament (TGT), Jigsaw,
Jigsaw 2, Team Assited Individualization (TAI), CIRC dan Group Investigation (GI).
Pada penelitian ini digunakan metode kooperatif tipe Teams Games Toumamen (TGT).
Dalam penelitian ilmiah oleh Haetami, Aceng dan Supriadi (2008) menyimpulkan bahwa
penerapan metode tersebut dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa untuk setiap siklus.
Sedang penelitian oleh Titisari (2010) menunjukkan bahwa dengan metode pembelajaran
ini dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Pada penelitian lain oleh Aristia (2011)
menyimpulkan bahwa dengan metode tersebut dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar siswa. Jadi penggunaan metode kooperatif dapat meningkatkan aktivitas, keaktifan
dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran kimia.

Penggunaan metode kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) Wyk, M.M
(2007) menyimpulkan bahwa hasil dari penggunaan metode TGT dalam pembelajaran
lebih baik daripada metode ceramah. Sedang penelitian oleh Rahayu (2007)
menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode TGT lebih baik
daripada pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional pada materi perbedaan
unsur, senyawa dan campuran . Sedangkan pada penelitian oleh Rahayu (2007) juga
menyimpulkan tentang pembelajaran dengan menggunakan metode TGT lebih baik
daripada pembelajaran dengan metode konvensional pada materi ikatan kimia. Dan
penelitian oleh Prasetyaningsih (2010) menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan metode TGT dapat meningkatakan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada
materi hidrokarbon. Dari beberapa penelitian di atas metode kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament) digunakan pada pokok bahasan perbedaan unsur, senyawa dan
campuran, ikatan kimia dan hidrokarbon. Metode ini belum banyak digunakan pada
materi koloid, sehingga mendorong peneliti untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan
metode kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) jika diterapkan pada materi
koloid dalam upaya membantu siswa memahami mata pelajaran kimia. Dari jurnal oleh
Davis, T.M., Steperd, B. dan Zwiefelhofer, T (2009) menyatakan bahwa teka-teki silang
efektif untuk belajar siswa. Mengacu dari jurnal di atas maka untuk melengkapi
pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) digunakan media Teka-Teki Silang dalam penelitian ini.

2. Perumusan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah :

1. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)


yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dapat meningkatkan kualitas proses
belajar siswa pada materi koloid?
2. Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament) yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dapat meningkatkan kualitas
proses belajar siswa pada materi koloid?
3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)
yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dapat meningkatkan kualitas hasil belajar
siswa pada materi koloid?

2. Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games


Tournament) yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dapat meningkatkan kualitas
hasil belajar siswa pada materi koloid?

4. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games


Tournament yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dalam meningkatkan kualitas
proses belajar siswa pada materi koloid.
2. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament yang dilengkapi dengan Teka-Teki Silang dalam meningkatkan kualitas
hasil belajar siswa pada materi koloid.

5. Manfaat Penelitian

1). Manfaat Teoritis

Penelitian ini memberi informasi penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT


pada materi koloid.

2). Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini dapat dilihat dari hal-hal berikut

a. Manfaat Bagi Inovasi Pembelajaran


Meningkatkan kualitas atau memperbaiki proses pembelajaran serta dapat
meningkatkan pendekatan, metode, dan gaya pembelajaran yang sebelumnya telah
dilakukan oleh guru khususnya pada materi koloid.

b. Manfaat Bagi Pengembangan Kurikulum di Tingkat Sekolah/ Kelas


Hasil dari penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan salah satu masukan
penting dalam pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas. Dengan
melakukan penelitian tindakan kelas ini, guru akan memiliki pemahaman yang lebih
baik terhadap teori dan pemikiran yang melandasi reformasi kurikulum karena ia
mengalami secara empirik implementasi dari teori dan pemikiran yang abstrak itu di
dalam kelas.

c. Manfaat Bagi Pengembangan Profesi Guru


Penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam
proses pembelajaran. Melalui penelitian ini guru dituntut untuk memiliki keterbukaan
terhadap pengalaman dan proses pembelajaran yang baru.

d. Manfaat Bagi Siswa


Penelitian tindakan kelas ini dapat menambah pengalaman belajar siswa yang
menarik dan bermakna. Dengan penerapan strategi belajar aktif dan media interaktif,
dapat memotivasi siswa agar lebih aktif sehingga diharapkan prestasi belajar akan
meningkat.
BAB II

LANDASAN TEORI

1. Tinjauan Pustaka
A. Pembelajaran Kimia
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 2007: 17) mendefinisikan kata
“pembelajaran” berasal dari kata “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada
orang supaya diketahui atau diturut, sedangkan pembelajaran berarti proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut Kimble dan Garmezy
(1963), pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan
hasil praktik yang berulang-ulang. Pembelajaran memiliki makna bahwa subjek belajar
harus dibelajarkan bukan diajarkan. Subjek belajar yang dimaksud adalah siswa atau
disebut pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar. Siswa sebagai subjek belajar
dituntut untuk aktif mencari, menemukan, menganalisis, merumuskan, memecahkan
masalah, dan menyimpulkan suatu masalah (Thobroni, M., & Mustofa, A., 2011: 18).

Rombepajung (dalam Thobroni, M., & Mustofa, A., 2011: 18) juga berpendapat
bahwa pembelajaran adalah pemerolehan suatu mata pelajaran atau pemerolehan suatu
keterampilan melalui pelajaran, pengalaman, atau pengajaran. Brown (2007:8) merinci
karakteristik pembelajaran sebagai berikut:

a. Belajar adalah menguasai atau “memperoleh”.


b. Belajar adalah mengingat-ingat informasi atau keterampilan.
c. Proses mengingat-ingat melibatkan sistem penyimpanan, memori, dan organisasi
kognitif.
d. Belajar melibatkan perhatian aktif sadar dan bertindak menurut peristiwa-peristiwa
di luar serta di dalam organisme.
e. Belajar melibatkan berbagai bentuk latihan, mungkin latihan yang ditopang dengan
imbalan dan hukum.
f. Belajar adalah suatu perubahan dalam perilaku.
Pembelajaran membutuhkan sebuah proses yang disadari yang cenderung bersifat
permanen dan mengubah perilaku. Pada proses tersebut terjadi pengingatan informasi
yang kemudian disimpan dalam memori dan organisasi kognitif. Selanjutnya,
keterampilan tersebut diwujudkan secara praktis pada keaktifan siswa dalam merespons
dan bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri siswa ataupun
lingkungannya (Thobroni, M., & Mustofa, A., 2011:19).

B. Pengertian Belajar

Whittaker, J.O (dalam Aunurrahman, 2009: 35) mengemukakan belajar adalah


proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman
belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya (Susilo, 2007: 165). Belajar yaitu
keaktifan siswa dan motivasi untuk mengembangkan kompetensi, tata nilai, sikap dan
kemandirian. Dalam belajar diharapkan siswa mengalami perubahan tingkah laku,
termotivasi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai sikap dan memiliki
sikap mandiri yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir. Bell-Gredler berpendapat
bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan beraneka
ragam competencies skill and attitudes. Kemampuan (competence), ketrampilan (skill)
dan sikap (attitudes) diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan sepanjang hayat.
Rangkaian peoses belajar ini dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun non
formal.

Belajar merupakan proses yang bersifat internal (a purely internal event) yang
tidak dapat dilihat dengan nyata. Proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang
mengalami proses belajar. Good and Brophy dalam bukunya yang berjudul Educational
Psycology: A Realistic Approach mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang
singkat, yaitu “Learning is the development of new association as a result of experience.”
Jadi, yang dimaksud “belajar” menurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang
tampak, melainkan yang utama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam
individu dalam usahanya memperoleh hubungan- hubungan baru (new association).
Hubungan-hubungan baru tersebut dapat berupa antara perangsang-perangsang, antara
reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi (Purwanto, N.M., 2002: 85).

Adapun pengertian belajar menurut beberapa pakar dari barat. Menurut Hilgard
dan Bower, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap
sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang
dalam situasi itu.

Definisi belajar secara lengkap dikemukakan oleh Slavin dalam Trianto (2010:
16), yang mendefinisikan belajar sebagai :

“Learning is ussually defined as a change in an individual caused by experience.


Changes caused by development (such as growing taller) are not instances of learning.
Neither are characteristics of individuals that are present at birth (such as reflexes and
respons to hunger or pain). However, humans do so much learning from the day of their
birth (and some say earlier) that learning and development are inseparably linked”.

A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif


Metode yang akan digunakan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas harus
dipilih yang paling tepat untuk membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Salah satu metode yang dapat dipertimbangkan adalah belajar dengan
kerjasama (cooperative learning) dalam kelompok kecil yang heterogen. Kebanyakan
pelajaran dengan pembelajaran kooperatif mempunyai karakteristik sebagai berikut: siswa
bekerjasama dalam tim untuk menguasai materi akademik, tim dibuat heterogen dari
siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah, laki-laki dan perempuan, dan berasal
dari latar belakang etnik berbeda (Slavin,R.E, 2005: 8).

Zakaria, Effendi dan Iksan, Zanaton (2007: 1) dalam jurnalnya menjelaskan


bahwa pembelajaran kooperatif sebagai alternatif untuk menekan metode pembelajaran
tradisional. Pembelajaran kooperatif didasarkan pada kepercayaan bahwa pembelajaran
kooperatif adalah paling efektif, ketika siswa terlibat aktif dalam menyampaikan ide,
pendapat dan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas akademiknya.

Selanjutnya Jarolimerk dan Parker (1993) mengatakan keunggulan yang


diperoleh dalam pembelajaran kooperatif adalah :

a. Saling ketergantungan yang positif


b. Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu
c. Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas,
d. Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan
e. Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru
f. Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang
menyenangkan.
Slavin membedakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menjadi
beberapa tipe yaitu : Student Teams Achievement Division (STAD), Teams Games
Tournament (TGT), Jigsaw, Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC),
dan Team Assisted Individualization (TAI)

B. Metode TGT (Teams Games Tournament)


Slavin membedakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menjadi
beberapa tipe yaitu :

a. Student Teams Achievement Division (STAD)


b. Teams Games Tournament (TGT)
c. Jigsaw
d. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
e. Team Assisted Individualization (TAI)
Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), atau
Pertandingan Permainan Tim dikembangkan secara asli oleh David De Vries dan Keath
Edward (1995). Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim
lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka. Slavin menemukan bahwa
TGT dapat meningkatkan ketrampilan dasar, prestasi siswa, interaksi positif di antara
siswa, penerimaan terhadap ide teman sekelas dan penghargaan diri.

Menurut Sadiman, Arif S., dkk (1996: 6) media berasal dari bahasa latin dan
merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang berarti perantara atau pengantar
proses belajar dan pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan.
Menurut Sadiman, Arief S. dkk (2006: 16-17), secara umum media pembelajaran
mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai berikut :

a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas (dalam bentuk kata-
kata tertulis atau lisan belaka).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, biaya, dan indera.
c. Penggunaan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap
pasif siswa.
d. Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan
pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan
sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bila semuanya
itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa
juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran, yaitu dengan
kemampuannya dengan:
1. Memberikan perangsang yang sama
2. Mempersamakan pengalaman
3. Menimbulkan persepsi yang sama

C. Media Pembelajaran TTS (Teka-Teki Silang)


Teka-teki silang berasal dari kata teka-teki dan silang. Teka-teki dalam buku
kamus besar bahasa Indonesia berasal dari soal yang berupa kalimat (cerita, gambar, dsb)
sebagai permainan untuk pengasah pikiran atau tebakan. Selain itu bisa pula diartikan
sesuatu hal yang sulit untuk memecahkannya karena kurang terang/rahasia. Sedangkan
kata silang berarti bertumpuk (palang-memalang).

Berpapasan (berselisih jalan). Jadi bisa disimpulkan bahwasannya teka-teki silang

berarti soal yang berupackoamlim


miattto(cuersietra, gambar, dsb) sebagai permainan untuk pengasah
pikiran yang merupakan tebakan dan berbentuk petak-petak akibat saling bertumpuknya
garis-garis yang saling bersilangan, dengan pengisian huruf kedalaman petak yang telah
ditentukan (Poerwadarminta, 2007: 1033).

Teka-teki silang (TTS) merupakan permainan bahasa dengan cara mengisi kotak-
kotak dengan huruf-huruf sehingga membentuk kata yang dapat dibaca, baik secara
vertikal maupun horizontal. Manurut Tarigan permainan ini cocok untuk siswa SMU,
siswa SMP ataupun SD, asalkan disesuaikan dengan materinya. Pada umumnya media
permainan bahasa dihayati dan disenangi oleh siswa, karena media permainan
memperlihatkan unsur kesenangan, memberikan tantangan dan rangsangan dalam kelas
bahasa. Agar materi yang dikomunikasikan sesuai dengan sarana dan tujuan instruksional,
sebaiknya TTS disusun sendiri oleh guru.

Berdasarkan definisi di atas maka dapat dikatakan bahwa media teka- teki silang
adalah media mengajar dengan menggunakan soal yang berupa kalimat (cerita, gambar,
dsb) sebagai permintaan untuk mengasah pikiran yang berbentuk petakan/kotak-kotak
akibat saling bertumpuknya garis-garis silang yang saling bersilangan dengan cara
mengisikan huruf ke dalam petak-petak tersebut sehingga membentuk kata yang dapat
dibaca secara vertikal maupun horizontal.

Media teka-teki silang memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah sebagai


berikut:

1. Permainan bahasa merupakan salah satu strategi penyampaian yang berkadar CBSA
(Cara Belajar Siswa Aktif) tinggi. Dalam permainan bahasa siswalah yang aktif
sebagai pelakunya. Peranan guru hanyalah mengatur jalannya permainan tersebut.
Aktivitas yang dilakukan para siswa itu meliputi aktivitas fisik maupun aktivitas
mental. Karena strategi ini dapat menimbulkan kegembiraan, maka dapat
dimanfaatkan sebagai pengusir kebosanan dikala siswa mulai tampak lesu.
2. Permainan bahasa dapat pula membina hubungan kelompok dan menumpuk rasa
kesosialan jika dilakukan beregu. Dengan adanya sifat kompetetif dalam permainan,
hal tersebut dapat mendorong semangat siswa untuk lebih maju.
3. Materi yang dikomunikasikan dengan permainan bahasa sangat mengesankan dihati
siswa, sehingga sukar untuk dilupakan.
4. Media teka-teki silang meskipun memiliki banyak keuntungan juga memiliki
kelemahan yang perlu diperhatikan yaitu: Pada umunya jumlah siswa dalam satu
kelas terlalu besar, sehingga sukar untuk melibatkan seluruh siswa dalam permainan.
Siswa yang tidak terlibat itu kadang-kadang mengganggu permainan yang sedang
berlangsung.
5. Pelaksanaan permainan bahasa biasanya menimbulkan suara ramai dan gelak tawa.
Hal ini dapat mengganggu pelajaran di kelas sebelah.
6. Tidak semua materi dapat dikomunikasikan dengan permainan bahasa.
7. Permainan bahasa pada umumnya belum dianggap sebagai program pengajaran
bahasa, melainkan sekedar sebagai selingan saja.
I. Koloid
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara
larutan dan suspensi (campuran kasar). Contohnya yaitu lem, jeli, dan santan. Nama
koloid diberikan oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Istilah itu berasal dari bahasa
Yunani, yaitu “kolla” dan “oid”. Kola berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Dalam
hal ini, yang dikaitkan dengan lem adalah sifat difusinya, sebab sistem koloid mempunyai
nilai difusi yang rendah, seperti lem. Larutan biasa, misalnya larutan garam, yang
mempunyai nilai difusi lebih besar disebut kristaloid.
Sistem koloid perlu dipelajari karena berkaitan erat dengan hidup dan
kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah, adalah sistem koloid. Bahan
makanan, seperti susu, keju, dan roti adalah sistem koloid. Dalam bab ini akan dibahas
tentang pengertian, penggolongan dan sifat- sifat koloid, penerapan sifat koloid dalam
pengolahan air bersih, serta pembuatan koloid. Juga akan dibahas tentang polusi udara
yang disebabkan oleh koloid.

1. Sistem Koloid
Pengertian Sistem Koloid Seperti telah disebutkan di atas, koloid adalah suatu
bentuk campuran yang keadaannya antara larutan dan suspensi. Koloid merupakan sistem
heterogen, dimana suatu zat “didispersikan” ke dalam suatu media yang homogen.
Ukuran zat yang didispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) sampai satu micrometer
(µm). Untuk memahami sistem koloid, marilah kita membandingkan tiga jenis campuran
berikut, yaitu campuran gula dengan air, campuran tepung teriu dengan air, dan campuran
susu dengan air. Apabila kita campurkan gula dengan air, ternyata gula larut dan
diperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk partikel yang
sangat kecil, sehingga tidak dapat dibedakan lagi dari mediumnya walaupun
menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat kontinu dan merupakan sistem satu fase
(homogen). Ukuran partikel zat terlarut kurang dari 1 nm (1 nm = 10-9 m). Larutan
bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak dapat disaring.

Di lain pihak, jika kita mencampurkan tepung terigu dengan air, ternyata tepung
terigu tidak larut. Walaupun campuran ini diaduk, lambat laun tepung terigu akan
memisah (mengalami sedimentasi). Campuran seperti ini disebut suspensi. Suspensi
bersifat heterogen, tidak kontinu, sehingga marupakan sistem dua fase. Ukuran pertikel
tersuspensi lebih besar dari 100 nm. Suspensi dapat dipisahkan dengan peyaringan.
Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan
mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel- partikel lemak susu tersebar di
dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran partikel koloid berkisar
antara 1 nm – 100 nm. Jadi, koloid tergolong campuran heterogen dan merupakan sistem
dua fase. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang
digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat
diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran
susu dengan air, fase terdispersi adalah lemak, sedangkan medium dispersinya adalah air.
Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi disimpulkan dalam Tabel 1 berikut
ini.

Tabel 1. Perbandingan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi

Larutan Koloid Suspensi

(Dispersi Molekuler) (Dispersi Koloid) (Dispersi Kasar)

Contoh: Larutan gulaContoh: CampuranContoh: Campuran


dalam air susu dengan air tepung terigu dengan

air

Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol.
Sol biasanya dibentuk dengan pemecahan padatan menjadi partikel-partikel kecil
berdimensi koloid dan partikel-partikel tersebut terdispersi dalam fasa cairan. Sol
yang banyak digunakan adalah dalam pengecatan dimana zat pendispersi cairan
menguap setelah disemprotkan pada

seperti susu yang mengandung kolodial, namun karena waktu dan pemanasan
akhirnya akan menjadi endapan sesungguhnya kemudian AgCl mengendap. Selain itu
koloid jenis sol banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
industri. Contoh sol: air sungai (sol dari lempung dalam air), sol sabun, sol detergen,
sol kanji, tinta tulis, dan cat. (Sastrohamidjojo, Hardjono, 2001: 247-248)

a. Emulsi
Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi.
Syarat terjadinya emulsi ini adalah dua jenis zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi
dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air (M/A) dan emulsi
air dalam minyak (A/M). Dalam hal ini, minyak diartikan sebagai semua zat cair yang
tidak bercampur dengan air. Contoh emulsi minyak dalam air (M/A): santan, susu,
kosmetik pembersih wajah (milk cleanser) dan lateks. Contoh emulsi air dalam minyak
(A/M): mentega, mayones, minyak bumi, dan minyak ikan. Emulsi terbentuk karena
pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Contohnya adalah sabun yang dapat
mengemulsikan minyak ke dalam air. Jika campuran minyak dengan air dikocok, maka
akan diperoleh suatu campuran yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi, jika
sebelum dikocok ditambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang stabil
yang kita sebut emulsi. Contoh lainnya adalah kasein dalam susu dan kuning telur dalam
mayones. (Purba, Michael, 2007: 286)

Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti
halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih, misalnya sabun,
deterjen, dan protein. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat cair
yang mengandung pembuih. Buih digunakan pada berbagai proses, misalnya buih sabun
pada pengolahan bijih logam, pada alat pemadam kebakaran, dan lain- lain. Adakalanya
buih tidak dikehendaki. Zat-zat yang dapat memecah atau mencegah buih, antara lain eter,
isoamil alkohol, dan lain-lain.

a. Gel
Koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair) disebut gel. Contoh: agar-agar,
lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silika. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang
zat terdispersinya mengadsorpsi medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang agak
padat. Penggunaan Koloid Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan bahan-
bahan kimia berbentuk koloid. Bahan-bahan kimia tersebut dibuat oleh industri. Mengapa
harus koloid? Oleh karena koloid merupakan satu- satunya cara untuk menyajikan suatu
campuran dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara “homogen” dan stabil (pada
tingkat makroskopis atau tidak mudah rusak).

b. Industri Kosmetik
Bahan kosmetik, seperti foundation, pembersih wajah, sampo, pelembap badan,
deodoran umumnya berbentuk koloid yaitu emulsi.

c. Industri Tekstil
Pewarna tekstil berbentuk koloid karena mempunyai daya serap yang tinggi,
sehingga dapat melekat pada tekstil.

d. Industri Farmasi
Banyak obat-obatan yang dikemas dalam bentuk koloid agar stabil atau tidak mudah
rusak.

e. Industri Sabun dan Detergen


Sabun dan detergen merupakan emulgator untuk membentuk emulsi antara
kotoran (minyak) dengan air, sehingga sabun dan detergen dapat membersihkan kotoran,
terutama kotoran dari minyak.
f. Industri Makanan
Banyak makanan dikemas dalam bentuk koloid untuk kestabilan dalam jangka
waktu cukup lama. (Utami, Budi, dkk, 2009 : 223-225)

2. Sifat –Sifat Koloid


Sistem koloid mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan ataupun
suspensi. Pada bagian ini akan dibahas sifat khas sistem koloid.

a. Efek Tyndall
Bagaimanakah cara mengenali sistem koloid? Salah satu cara yang sangat
sederhana adalah dengan menjatuhkan seberkas cahaya (transparan), sedangkan koloid
menghamburkannya. Oleh karena itu, berkas cahaya yang melalui koloid dapat diamati
dari arah samping, walaupun partikel koloidnya sendiri tidak tampak. Jika partikel
terdispersinya juga kelihatan, maka sistem itu bukan koloid melainkan suspensi. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita sering mengamati efek Tyndall ini, antara lain:

1. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut.


2. Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap atau berdebu.
3. Berkas sinar matahari melalui celah daun pohon-pohon pada pagi hari yang berkabut.
(Purba, Michael, 2007 : 287)
Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan koloid dan suatu larutan biasa,
karena atom, molekul kecil, ataupun ion yang berada dalam suatu larutan tidak
menghamburkan cahaya secara jelas. Penghamburan cahaya Tyndall dapat menjelaskan
buramnya dispersi koloid. Misalnya, meskipun minyak zaitun dan air tembus cahaya,
dispersi kedua zat ini Nampak seperti susu. (Keenan, C.W., 1979: 458)

b. Gerak Brown
Telah disebutkan bahwa partikel koloid dapat menghamburkan cahaya. Jika
diamati dengan mikroskop ultra, di mana arah cahaya tegak lurus dengan sumbu
mikroskop, akan terlihat partikel koloid senantiasa bergerak terusmenerus dengan gerak
patah-patah (gerak zig-zag). Gerak zig-zag partikel koloid ini disebut gerak Brown, sesuai
dengan nama penemunya, seorang ahli biologi Robert Brown berkebangsaan Inggris.

Dalam suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup besar,
sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami
gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati. Makin tinggi suhu makin cepat gerak Brown
karena energi kinetik molekul medium meningkat, sehingga menghasilkan tumbukan
yang lebih kuat. Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang menstabilkan koloid.
Oleh karena bergerak terus-menerus, maka partikel koloid dapat mengimbangi gaya
gravitasi, sehingga tidak mengalami sedimentasi. (Purba, Michael, 2007 : 287-289)
Muatan Koloid

4. Elektroforensis
Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik. Apabila ke
dalam sistem koloid dimasukkan dua batang elektrode, kemudian dihubungkan dengan
sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak ke salah satu elektrode
bergantung pada jenis muatannya. Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke anode
(elektrode positif), sedangkan koloid yang bermuatan positif bergerak ke katode
(elektrode negatif). Dengan demikian, elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan
jenis muatan koloid.

5. Adsorbsi
Bagaimanakah partikel koloid mendapatkan muatan listrik? Partikel koloid
memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena
itu, partikel koloid menjadi bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut
adsorpsi (jika penyerapan sampai ke bawah permukaan disebut absorpsi). Sebagai
contoh, penyerapan air oleh kapur tulis). Sifat adsorpsi koloid ini telah dipergunakan
dalam bidang lain, misalnya pada proses pemurnian gula tebu, pembuatan obat norit, dan
proses penjernihan air minum.

2. Penelitian yang relevan


Hasil penelitian Afifah, I.R. (2007). Penerapan Model Pembelajaran TGT (Teams
Games Tournament) dan Program Remidi dengan Memperhatikan Modalitas Belajar pada
Materi Ikatan Kimia Kelas X di SMAN 12 Malang. Skripsi Tidak Dipublikasikan,
Universitas Negeri Malang, Malang.

3. Kerangka Berpikir
Kualitas belajar siswa dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Salah satu faktor
ekstern yang perlu diperhatikan diantaranya adalah pemilihan metode pembelajaran. Metode
pembelajaran yang efektif adalah metode yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran,
materi yang disampaikan, kondisi siswa, dan sarana yang tersedia.
Sebagian besar pembelajaran kimia yang dilakukan di SMA Negeri 9 Kota
Bengkulu masih menggunakan metode ceramah, sehingga siswa tidak ikut terlibat secara
aktif dalam proses pembelajaran tersebut. Guru kurang mengoptimalkan penggunaan
media dalam pembelajaran. Akibat dari kebiasaan tersebut siswa menjadi kurang kreatif
dalam memecahkan masalah, partisipasi rendah, kerja sama dalam kelompok tidak
optimal, kegiatan belajar mengajar tidak efisien dan pada akhirnya hasil belajar menjadi
rendah. Salah satu materi pelajaran kimia kelas XI semester genap SMA Negeri 9 Kota
Bengkulu adalah koloid. Materi ini merupakan salah satu materi yang penting untuk
dipelajari karena materi tersebut berhubungan erat dalam hidup dan kehidupan sehari-hari
yang memerlukan pemahaman yang cukup dari siswa dan banyak berisi hafalan. Dalam
penelitian ini metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) yang dilengkapi dengan teka-teki
silang.

Dari uraian di atas, diduga bahwa penggunaan metode kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament) yang dilengkapi dengan teka-teki silang dapat meningkatkan
kualitas belajar siswa yang mencakup kualitas proses dan hasil belajar. Skema kerangka
dapat dilihat pada Gambar 3.

guru Kondisi siswa


Kondisi
awal

Penerapan Metode Siklus I


Tindaka
n

Kualitas belajar dan


proses yang terjadi
Kondisi Diduga penerapan
akhir metode untuk
meningkatkan hasil
Siklus II
belajar