Anda di halaman 1dari 15

A.

LAPORAN PENDAHULUAN
I. Konsep Teori
A. Definisi
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140
mmHg atau tekanan diastolic sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya
berresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain
seperti saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah, makin
besar resikonya (Amin, 2015).
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih
tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).Tekanan darah kurang dari
120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal".Pada tekanan darah tinggi, biasanya
terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.Hipertensi biasanya terjadi pada
tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam
jangka beberapa minggu (Kusuma, 2013).

B. Etiologi
Penyebab hipertensi pada sebagian besar kasus, tidak diketahui sehingga
disebut hipertensi esensial. Namun demikian, pada sebagian kecil kasus hipertensi
merupakan akibat sekunder prosespenyakit lainnya, seperti ginjal; defek adrenal;
komplikasi terapi obat.
Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Hipertensi esensial atau primer
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui.Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas
(keturunan).Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer
sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara
lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid),
penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain. Karena golongan

1
terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, maka penyelidikan
dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial.

C. Patofisilogi

Pada ibu hamil normal plasenta menghasilkan progesteron yang bertambah hal
ini menyebabkan ekresi natrium lebih banyak karena progesteron berfungsi sebagai
diuretik ringan.Kehilangan natrium menyebabakan penyempitan dari vilume darah
kompartemen vaskuler, pada kehamilan dengan pre eklamsi menunjukan adanya
peningkatan resistensi perifer dan vasokontriksi pada ruang vaskuler, bertanbahnya
protein serum (albumin dan globulin ) yang lolos dalam urine disebabkan oleh
adanya lesi dalam glomerolus ginjal, sehimgga terjadi oliguri karena menurunya
aliran darah ke ginjal dan menurunya GFR (glomerulus filtrat rate ) kenaikan berat
badan dan oedema yang disebabka penambahan cairan yang berlebiha dalam ruang
intrestisial mungkin berhubungan dengan adanya retensi air dan garam, terjadinya
pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke intertisialdiikuti oleh adanya kenaikan
hematokrit, peningkatan protei serum menambah oedem dan menyebabkan volume
darah berkurang, visikositas darah meningkat dan waktu peredaran darah teri
menjadi lama.

2
D. Patoflow Diagra Aliran darah semakin
Faktor predisposisi usia,merokok,stres,kurang Beban cepat keseluruh tubuh
0lahraga,genetik,alcohol,konsentrasi kerja sedangkan nutrisi
garam,obesitas jantung dalam sel sudah
mencukupi kebutuhan
Kerusakan HEPERTENSI Tekanan sistemik
vaskuler darah
pembuluh darah Kerusakan vaskuler pe

Perubahan situasi Krisis Metode koping


Perubahan situasional tidak efektif
struktur
Informasi yang Defisiensi
pengetahunan Ketidak
Kerusakan efektifan
vaskuler pembuluh darah
minim
Penyumbatan koping
ansietas
pembuluh darah
Resistensi
pembuluh darah ke
Vasokonstriksi Kerusakan vaskuler pembuluh darah
otak
Resiko
Gangguan Suplai O2 ke ketidakefektifan
Otak otak perfusi jaringan
sirkulasi
otak
Kerusakan vaskuler pe
Ginjal Retina Pembuluh darah

Vasokontriksi Spasme
pembuluh darah arteriol Sistemik Koroner Kerusakan vaskuler pemb
ginjal
Resiko cedera Vasokontriksi Iskemia
Blood flow darah miokrad
Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Penurunan Afterload
Respon RAA curah jantung Nyeri
Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Kelebihan fatigue
Merangsang
aldosteron volume cairan Kerusakan vaskuler pembuluh darah
Intoleransi aktifitas
Retensi Na Edema Kerusakan vaskuler pembuluh darah
Kerusakan vaskuler p
E. Manifestasi Klinis

3
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri
tidak teratur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gelaja terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan poasien yang mencari pertolongan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:
1. Mengeluh sakit kepala, pusing
2. Lemas, kelelahan
3. Sesak nafas
4. Gelisah
5. Mual
6. Muntah
7. Epistaksis
8. Kesadaran menurun

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Hemoglobin/hematokrit: mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti
hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
3. Glukosa: Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).
4. Kalium serum: hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
5. Kalsium serum: peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan
hipertensi.

4
6. Kolesterol dan trigeliserida serum: peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiofaskuler).
7. Pemeriksaan tiroid: hipertiroidisme dapat mengakibatkan vasikonstriksi dan
hipertensi.
8. Kadar aldosteron urin dan serum: untuk menguji aldosteronisme primer
(penyebab).
9. Urinalisa: darah, protein dan glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
10. VMA urin (metabolit katekolamin): kenaikan dapat mengindikasikan adanya
feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat digunakan untuk
pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
11. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko
terjadinya hipertensi.
12. Steroid urin: kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme,
feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushing’s; kadar renin dapat
juga meningkat.
13. IVP: dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi, seperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal dan ureter.
14. Foto dada: dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub; deposit
pada dan/ EKG atau takik aorta; perbesaran jantung.
15. CT scan: mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau feokromositoma.
16. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Non Farmakologis.
1. Diet
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam.Penurunan BB dapat
menurunkantekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam
plasma dankadar adosteron dalam plasma.
2. Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging,bersepeda atau berenang.
Penatalaksanaan Farmakologis.

5
Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian
atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
a. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
b. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
d. Tidak menimbulakn intoleransi.
e. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
f. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan
penghambat konversi rennin angitensin.

H. Komplikasi
Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata berupa
perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan,gagal jantung,
gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.

II. Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Pengumpulan data
Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :
a. Identitas pasien
b. Keluhan utama
c. Riwayat penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat penyakit keluarga
f. Riwayat psikososial
g. Riwayat maternal
2. Pengkajian sistem tubuh
a. B1 (Breathing)

6
Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan atau tanpa
sputum, riwayat merokok, penggunaan obat bantu pernafasan, bunyi nafas
tambahan, sianosis.
b. B2 (Blood)
Gangguan fungsi kardiovaskular pada dasarnya berkaitan dengan meningkatnya
afterload jantung akibat hipertensi. Selain itu terdapat perubahan hemodinamik,
perubahan volume darah berupa hemokonsentrasi. Pembekuan darah terganggu
waktu trombin menjadi memanjang. Yang paling khas adalah trombositopenia
dan gangguan faktor pembekuan lain seperti menurunnya kadar antitrombin III.
Sirkulasi meliputi adanya riwayat hipertensi, penyakit jantung coroner,
episodepalpitasi, kenaikan tekanan darah, takhicardi, kadang bunyi jantung
terdengar S2 pada dasar , S3 dan S4, kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari
karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena
jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin.
c. B3 (Brain)
Lesi ini sering karena pecahnya pembuluh darah otak akibat hipertensi.
Kelainan radiologis otak dapat diperlihatkan dengan CT-Scan atau MRI. Otak
dapat mengalami edema vasogenik dan hipoperfusi. Pemeriksaan EEG juga
memperlihatkan adanya kelainan EEG terutama setelah kejang yang dapat
bertahan dalam jangka waktu seminggu.Integritas ego meliputi cemas, depresi,
euphoria, mudah marah, otot muka tegang, gelisah, pernafasan menghela,
peningkatan pola bicara. Neurosensori meliputi keluhan kepala pusing,
berdenyut , sakit kepala sub oksipital, kelemahan pada salah satu sisi tubuh,
gangguan penglihatan (diplopia, pandangan kabur), epitaksis, kenaikan terkanan
pada pembuluh darah cerebral.
d. B4 (Bladder)
Riwayat penyakit ginjal dan diabetes mellitus, riwayat penggunaan obat diuretic
juga perlu dikaji. Seperti pada glomerulopati lainnya terdapat peningkatan
permeabilitas terhadap sebagian besar protein dengan berat molekul tinggi.
Sebagian besar penelitian biopsy ginjal menunjukkan pembengkakan endotel

7
kapiler glomerulus yang disebut endoteliosis kapiler glomerulus. Nekrosis
hemoragik periporta dibagian perifer lobulus hepar kemungkinan besar
merupakan penyebab meningkatnya kadar enzim hati dalam serum.
e. B5 (Bowel)
Makanan/cairan meliputi makanan yang disukai terutama yang mengandung
tinggi garam, protein, tinggi lemak, dan kolesterol, mual, muntah, perubahan
berat badan, adanya edema.
f. B6 (Bone)
Nyeri/ketidaknyamanan meliputi nyeri hilang timbul pada tungkai,sakit kepala
sub oksipital berat, nyeri abdomen, nyeri dada, nyeri ulu hati. Keamanan
meliputi gangguan cara berjalan, parestesia, hipotensi postural.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokontraksi, hopertrofi/rigitasi ventrikuler, iskemia miokard.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral dan
iskemia.
3. Kelebihan volume cairan
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen.
5. Ketidakefektifan koping
6. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
7. Resiko cidera
8. Defisiensi pengetahuan

8
C. Intervensi dan Rasional
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokontraksi, hopertrofi/rigitasi ventrikuler, iskemia miokard.
Tujuan :
- Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
- Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang dan
pasien
Kriteria Hasil :
- Tanda-tanda vital dalam rentang normal (TD, nadi, respirasi)
- Dapat menteloransi aktivitas, tidak ada kelelahan.
- Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
- Tidak ada penurunan kesadaran
Intervensi : Pantau tekanan darah
Rassional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
Intervensi : Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
Rasional : Denyutan karotis, jugularis, radialis, dan femoralis mungkin
diamati atau tekanan palpasi. Denyutan pada tungkai mungkin menurun:efek
dari Vasokontraksi
Intervensi :Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas
Rasional : Bunyi jantung IV umum terdengar pada hipertensi berat dan
kerusakan fungsi adanya kraleks mengi dapat mengindikasi kongesti paru
sekunder terhadap atau gagal jantung kronik.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral dan
iskemia.
Tujuan :
- Melaporkan nyeri/ ketidaknyamanan hilang/ tidak terkontrol
- Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
Kreteria Hasil :

9
- Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik nonfarmokologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
- Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Intervensi : Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi atau menurunkan relaksasi
Intervensi : Bantu pasien dengan ambulasi sesuai dengan kebutuhan
Rasional : Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit
kepela.
Intervensi : Kolaborasi dalam pemberian alalgesik dan antiancietas.
Rasional : Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang
diperbuat oleh
stress
3. Kelebihan volume cairan
Tujuan :
- Cairan tubuh dalam batas normal
Kriteria Hasil :
- Cairan tubuh pasien normal
- Tidak terjadi udema
Intervensi : Auskultasi bunyi nafas terhadap adanya kreleks
Rasional : Indikasi terjadinya udema paru sekunder akibat dekompesensasi
jantung
Intervensi : Pertahankan asupan cairan total 200 ml/ 24jam dalam batas
toleransi kardiovaskuler
Rasional : Keseimbangan cairan positif vyang ditunjang gejala lain
(peningkatan BB yang tiba-tiba menunjukan kelebihan volume cairan/gagal
jantung.
Intervensi : Kolaborasi pemberian diet rendah natrium
Rasional : Natrium mengakibatkan retensi cairan sehingga harus dibatasi

10
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen.
Tujuan :
- Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
- Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
- Menunjukan penurunan dalam tanda-tanda toleransi fisiologis
Kriteria Hasil :
- Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi, an respirasi
- Mampu melakukan aktivitas sehati-hari (ADLS) secara mandiri
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi : Kaji respon pasien terhadap aktivitas frekuensi nadi, peningkatan
tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktivitas
Rasional : Menyebutkan parameter membantu daklam mengkaji respon
fisiologis stress terhadap aktivitas dan bila ada merupkan indicator dari
kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas
Intervensi : Instruksikan teknik penghematan energy (menggunakan kursi saat
mandi, duduk, menyisir rambut atau menyikat gigi, lakukan aktivitas dengan
perlahan)
Rasional : Dapat mengurangi penggunaan energy dan membantu
keseimbangan antara ssuplai dan kebutuhan oksigen
Intervensi : Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri
terhadap jika dapat ditoleransi, berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional : Kemajuan aktivitas bertahap mencegah penurunan kerja jantung
tiba
5. Ketidakefektifan koping
Tujuan :
- Mengidentifikasi kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi
- Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk
menghindari/mengubahnya

11
- Mendemostrasikan penggunaan keterampilan/ metode koping efektif
Kriteria Hasil :
- Mengidentifikasi pola koping yang efektif
- Mengungkapkan secara verbal tentnag koping yang efektif
- Mengatakan penurunan stress
- Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
Intervensi : Kaji keefktifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku
misalnya: kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan
berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang,
mengatasi hipertensi kronik, dan mengintregrasikan terapi yang diharuskan
kedalam kehidupan sehari-hari
Intervensi : Libatkaan pasien dalam perencanaan perawatan dan berikan
dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
Rasional : Memperbiki keterampilan koping dan tempat meningkatkan
kerja sama dalam rigamen terapeutik
Intervensi : Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup
Rasional : Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative
terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.
6. Resiko ketidakefektifan perfusi jarinagn otak
Tujuan :
- Setalah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x30 menit
diharapka perfusi jaringan otak adekuat
Kriteria Hasil :
- Mendemostrasikan status sirkulasi
- Sistol dan diastole dalam rentang yang diharapkan sitol <130,dan diastole
<85
- Tidak ada ortostastik hipertensi
- Berkomunikasi dengan jelas sesuai kemampuan

12
Intervensi : pantau adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
panas/dingin/tajam/tumpul
Rasional : Memantau adanya perubahan pada tingkat kesadaran atau respon
pasien terhadap rangsangan
Intervensi : Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung
Rasional : Kepala yang mirting pada salah satu sisi menekan vena jugularis
dan menghambat aloran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan
TIK.
7. Resiko cedera
Tujuan :
- Resiko injuri/cedera berkurang
Kriteria Hasil :
- Pasien terasa tenang dan tidak takut jaatuh
Intervensi : Atur posisi pasein agar aman
Rasional : Menurunkan resiko injuri
Intervensi : Perhatikan tirah baring secara ketat
Rasional : Pasien mungkin tidak dapat beristirahat atau perlu untuk
bergerak
Intervensi : Atur kepala dan taruh diatas daerah yang empuk/lunak
Rasional : Menurunkan resiko trauma secara fisik
8. Difiensi pengetahuan
Tujuan :
- Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan rigamen pengobatan
- Mempertahankan tekanan darah dalamn parameter normal
Kriteria Hasil :
- Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan
- Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehata lainnya

13
Intervensi : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termassuk orang
gterdekat
Rasional : Mengidentifikasi kemampuan klien dalam menerima
pembelajaran
Intervensi : Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberian perawatan
sebelum menggunakan obat
Rasional : Menghindari terjadinya resiko overdosis obat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Amin & Hardhi, 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
Nanda Nic-Noc, Edisi Revisi, Penerbit Mediaction Jogja, Jogjakarta.

Kusuma Hardi dan Nurain Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. jilid 2. Yogyakarta : Media Action Publishing

15