Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS

HIDRONEFROSIS
DI RUANG PANDAN II RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Oleh :
Elly Ardianti, S.Kep 131913143046

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan
Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di
kedua sisi columna vertebralis (Price dan Wilson, 2006). Kedua ginjal
terletak retroperitoneal pada dinding abdomen, masing– masing di sisi
kanan dan sisi kiri columna vertebralis setinggi vertebra T12 sampai
vertebra L3. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri
karena besarnya lobus hepatis dekstra. Pada orang dewasa, panjang ginjal
adalah sekitar 12 cm sampai 13 cm, lebarnya 6 cm, tebalnya 2,5 cm dan
beratnya sekitar 150 g. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan
ukuran tubuh. Perbedaan panjang dari kutub ke kutub kedua ginjal yang
lebih dari 1,5 cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting,
karena sebagian besar manifestasi penyakit ginjal adalah perubahan
struktur dari ginjal tersebut (Price dan Wilson, 2006).

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian korteks dan


medula ginjal. Di dalam korteks terdapat berjuta–juta nefron sedangkan di
dalam medula banyak terdapat duktuli ginjal. Nefron adalah unit
fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas tubulus kontortus
proksimal, tubulus kontortus distal, dan tubulus koligentes. Setiap ginjal
memiliki sisi medial cekung, yaitu hilus tempat masuknya syaraf, masuk
dan keluarnya pembuluh darah dan pembuluh limfe, serta keluarnya ureter
dan memiliki permukaan lateral yang cembung. Sistem pelvikalises ginjal
terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks major, dan pielum/pelvis
renalis.
a. Renal Pelvis
Renal pelvis merupakan bagian dari ureter pada ginjal yang berbentuk
seperti corong. Pada manusia, renal pelvis merupakan titik temu dua
atau tiga renal calyx Setiap renal papilla dikelilingi oleh cabang renal
pelvis yang disebut renal calyx. Fungsi utama renal pelvis adalah
sebagai saluran untuk mengalirkan urin dari ginjal menuju ke ureter.
Selaput lendir pada renal pelvis diselubungi oleh jaringan epitel, serta
jaringan ikat lapisan propria yang lembek sampai kental. Pelvis adalah
tempat bermuaranya tubulus yaitu tempat penampungan urin
sementara yang akan dialirkan menuju kandung kemih melalui ureter
dan dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
b. Kaliks
Kaliks bagian ujung pelvis berbentuk seperti cawan yang mengalami
penyempitan karena adanya duktus papilaris yang masuk ke bagian
pelvis ginjal. Fungsi kaliks pada ginjal adalah mengatur sistem
beliverdin dan bilirubin pada ginjal serta mengeluarkan zat amoniak
pada air seni yang dikeluarkan. Kaliks juga berperan dalam
penyaringan darah yang akan masuk ke tubulus
c. Fungsi Ginjal :
a. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme
tubuh.
b. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan
c. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan
oleh bagian tubulus ginjal
d. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh
e. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan
mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang
f. Hemostasis Ginjal, mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan
komposisi air dalam darah.
B. Definisi
Hidronefrosis merupakan keadaan dimana kaliks dan pelvis renalis
mengalami dilatasi sebagai akibat adanya penumpukan urine dalam kaliks
atau pelvis renalis yang diakibatkan oleh adanya obstruksi aliran urine di
bagian distalnya (Tanagho S, 2010). Hidronefrosis adalah perubahan
anatomis ginjal berupa dilatasi pada bagian pelvikokaliks ginjal akibat
penumpukan urin (Baskoro & Rodjani, 2013).
Hidronefrosis adalah pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi
aliran keluar urin oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter
sehingga pelvis membesar dan terdapat destruksi progresif jaringan ginjal
(Gibson, 2003). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan
menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis
yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga
secara perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
C. Klasifikasi
Menurut Beetz dkk (2001), terdapat 4 grade hidronfrosis dari hasil
pemeriksaan radiologis, yaitu :
1. Hidronefrosis Derajat 1
Hasil yang ditemukan berupa dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi
kaliks berbentuk blunting alias tumpul
2. Hidronefrosis Derajat 2
Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor, kaliks berbentuk flattening,
alias mendatar
3. Hidronefrosis derajat 3
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Tanpa adanya
penipisan korteks. Kaliks berbentuk clubbing, alias menonjol. Adanya
tanda minor atrofi ginjal (papilla datar dan forniks tumpul)
4. Hidronefrosis derajat 4
Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor. Serta adanya
penipisan korteks batas antara pelvis ginjal dan kaliks hilang. Tanda
signifikan adanya atrofi ginjal (parenkis tipis). Calices berbentuk
ballooning alias menggembung.
D. Etiologi
Menurut Parakrama & Clive (2005) penyebab yang bisa mengakibatkan
hidronefrosis adalah sebagai berikut:
1. Hidronefrosis Unilateral
Obstruksi pada salah satu sisi saluran kemih pada umumnya
disebabkan oleh proses patologik yang letaknya proksimal terhadap
kandung kemih. Keadaan ini berakibat hidronefrosis dan dapat
menyebabkan atrofi serta kehilangan fungsi salah satu ginjal tanpa
menyebabkan gagal ginjal. Penyebab obstruksi unilateral adalah:
a. Obstruksi sambungan ureteropelvik (sambungan antara ureter dan
pelvis renalis)
- Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam
pelvis renalis terlalu tinggi
- Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke
bawah
- Batu di dalam pelvis renalis
- Penekanan pada ureter oleh jaringan fibrosa, arteri atau vena
yang letaknya abnormal, dan tumor
b. Obstruksi adanya penyumbatan dibawah sambungan ureteropelvik
- Batu di dalam ureter
- Tumor di dalam atau di dekat ureter
- Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi
penyinaran atau pembedahan
- Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
- Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter
akibat pembedahan, rontgen atau obat-obatan (terutama
metisergid)
- Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung
kemih)
- Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ
panggul lainnya
- Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung
kemih ke uretra akibat pembesaran prostat, peradangan atau
kanker
- Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan
atau cedera
- Infeksi saluran kemih yang berat yang untuk sementara waktu
menghalangi kontraksi ureter
c. Penyakit ureter kongenital
d. Penyakit ureter yang didapat
2. Hidronefrosis Bilateral
a. Hyperplasia prostat pada usia lanjut
b. Adanya katup uretra posterior congenital
c. Pasien paraplegia dengan kandung kemih neurogenic
d. Fibrosis retroperitoneum dan keganasan
e. Disfungsi otot ureter yang timbul pada masa kehamilan
E. Patofosiologi
Obstruksi total akut ureter pada binatang percobaan menyebabkan
pelebaran mendadak dan peningkatan tekanan lumen bagian proksimal
tempat obstruksi. Filtrasi glomerulus tetap berlangsung dengan
peningkatan filtrasi pada tubulus dan penumpukan cairan di ruang
interstisium. Peningkatan tekanan interstisium menyebabkan disfungsi
tubulus. Kerusakan nefron ireversibel terjadi dalam waktu kira-kira 3
minggu. Pada obstruksi parsial, kerusakan ireversibel terjadi dalam waktu
yang lebih lama dan bergantung pada derajat obstruksi. Sebagian besar
penyebab obstruksi saluran kemih yang diuraikan diatas menyebabkan
obstruksi parsial lambat terhadap aliran urine. Keadaan ini menyebabkan
hidronefrosis dan atrofi korteks ginjal progresif akibat kerusakan nefron
yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Hanya
hidronefrosis bilateral yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Statis urine
akibat obstruksi meningkatakan insidensi pielonefritis akut dan
pembentukan batu saluran kemih yang keduanya dapat memperberat
obstruksi.
Obstruksi ureter akut oleh batu, bekuan darah, atau kerak papila
renalis akan menyebabkan kolik ureter akibat peningkatan peristalsis
ureter. Kolik ureter merupakan nyeri intermitten yang sering kali sangat
berat pada sudut ginjal posterior dan menjalar disekitar pinggang (flank)
menuju daerah pubis. obstruksi unilateral kronis biasanya asimtomatik
bahkan pada obstruksi total dan umumnya berlanjut dengan kerusakan
ginjal permanen sebelum terdeteksi. Obstruksi parsial bilateral kronis
memberikan gambaran gagal ginjal kronis progresif, meliputi hipertensi,
kegagalan fungsi tubulus (poliuria, asidosis tubulus renalis, dan
hiponatremia), dan timbulnya batu saluran kemih atau pielonefritis akut.
Sedangkan menurut Vinay Kumar, dkk (2007) Obstruksi bilateral total
menyebabkan anuria. Apabila obstruksi terletak dibawah kandung kemih,
gejala dominant adalah keluhan peregangan kandung kemih. Secara
paradoks, obstruksi bilateral inkomplit menyebabkan poliuria bukan
oliguria, akibat terganggunya kemampuan tubulus memekatkan urin dan
hal ini dapat menyamarkan sifat asli kelainan ginjal.
F. Manifestasi Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi
akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi
infeksi maja disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan
terjadi. Hematuri dan piuria mungkin juga ada.
Manifestasi klinis yang sering muncul pada hidronefrosis unilateral,
diantaranya (smeltzer dan Bare,2002) :
1) Aliran urin berkurang
2) Jika infeksi, gejala yang muncul yaitu disuria, menggigil dan nyeri
tekan serta pyuria
3) Nyeri kolik pada sisi ginjal yang terkena
4) Mual, muntah, abdomen terasa penuh
5) Nyeri hebat ginjal atau nyeri samar dibagian dipanggu dan pinggang
6) Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis
renalis
7) Air kemih dari 10% penderita mengandung darah
Jika kedua ginjal terkena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan
muncul, seperti:
a. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium);
b. Gagal jantung kongestif;
c. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi);
d. Pruritis (gatal kulit);
e. Butiran uremik (kristal urea pada kulit);
f. Anoreksia, mual, muntah, cegukan;
g. Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang;
h. Amenore, atrofi testikuler.(Smeltzer dan Bare, 2002)
G. WOC
Kongenital
Kehamilan Tumor, Batu ginjal Infeksi Refluk air
l
kanker saluran kemih
kemih
Pembesaran
uterus Dilatasi
Terbentuk ureter
Membentuk jaringan
masa di parut
saluran
kemih

Penyempitan saluran kemih

Obstruksi saluran
kemih

HIDRONEFROSIS

Akumulasi Penekanan Retensi Kegagalan Gangguan Tindakan


urin pada pada urin membuang fungsi pembedahan
kaliks saluran limbah ginjal
ginjal kemih metabolik
Oligirui Luka post
Ginjal tidak operasi
Kontamina Koliks Ureum bisa
si ginjal renalis meningkat memproduksi
MK :
oleh Gangguan eritropetin
bakteri Port de
MK : eliminasi Racun entry
urin dalam kuman
Nyeri D.0040 Eritrosit
Proses darah
Akut menurun
infeksi
D.0077
MK :
Menuju
Anemia Risiko
GI tract
Metabolis infeksi
me D.0142
meningkat Kelemahan
Asam
lambung
meningkat
Menggigil,
MK :
demam
Intoleransi
Mual Aktivitas
muntah D.0056
MK :
Hipertermia
D.0130
MK : Defisit
Nutrisi D.0019
H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisis Pyura menunjukkan adanya infeksi. Hematuria mikroskopik
dapat menunjukkan adanya batu atau tumor. Hitung jumlah sel darah
lengkap: leukositosis mungkin menunjukkan infeksi akut. Kimia
serum: hidronefrosis bilateral dan hidroureter dapat mengakibatkan
peningkatan kadar BUN dan kreatinin. Selain itu, hiperkalemia dapat
menjadi kondisi yang mengancam kehidupan.
2. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi adalah metode yang cepat, murah, dan cukup akurat
untuk mendeteksi hidronefrosis dan hidroureter, namun, akurasi dapat
bergantung pada pengguna. Ultrasonografi umumnya berfungsi
sebagai tes skrining pilihan untuk menetapkan diagnosis dan
hidronefrosis.
3. Pyelography Intravena (IVP)
Pyelography intravena berguna untuk mengidentifikasi keberadaan dan
penyebab hidronefrosis dan hidroureter. Intraluminal merupakan
penyebab paling mudah yang dapat diidentifikasi berdasarkan temuan
IVP
4. CT Scan
CT Scan memiliki peran penting dalam evaluasi hidronefrosis dan
hidroureter. Proses retroperitoneal menyebabkan obstruksi ekstrinsik
dari ureter dan kandung kemih dapat dievaluasi dengan sangat baik
pada CT Scan
I. Penatalaksanaan
a. Hidronefrosis akut
1) Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang
hebat, maka air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan segera
dikeluarkan(biasanya melalui sebuah jarum yang dimasukkan
melalui kulit).
2) Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau terdapat
batu, maka bisa dipasang kateter pada pelvis renalis untuk
sementara waktu
b. Hidronefrosis kronik
Hidronefrosis kronis diatasi dengan mengobati penyebab dan
mengurangi penyumbatan air kemih. Ureter yang menyempit atau
abnormal bisa diangkat melalui pembedahan dan ujung-ujungnya
disambungkan kembali.
1) Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membebaskanureter
dari jaringan fibrosa.
2) Jika sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka
dilakukan pembedahan untuk melepaskan ureter dan
menyambungkannya kembali di sisi kandung kemih yang berbeda.
3) Jika uretra tersumbat, maka pengobatannya meliputi:
- Terapi hormonal untuk kanker prostat
- Pembedahan dilakukan pembedahan untuk membebaskan
ureter dari jaringan fibrosa. Jika sambungan ureter dan
kandung kemih tersumbat, maka dilakukan pembedahan untuk
melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali di sisi
kandung kemih yang berbeda. Pembedahan pada hidronefrosis
akut biasanya jika infeksi dapat dikendalikan dan ginjal
berfungsi dengan baik.
- Pelebaran uretra dengan dilator
Adapun penanganan medis yang diberikan kepada klien hidronefrosisi,
diantaranya :
1) Nefrotomi
Hal ini dilakukan jika hidronefrosisyng disebabkan karena adnya
obstruksi saluran urin bagian atas yang tidak memungkinkan ginjal
mengalirkan urin ke system urinaria bagian bawah dikarenakan adanya
batu, infeksi, tumor, atau kelainan anatomi. Hidronefrosis yang terjadi
pada transplantasi ginjal. Tindakan ini dilakukan dengan memasukkan
sebuah kateter melalui kulit bagian belakang (panggul) ke dalam
ginjal. Tujuan dari tindakan ini untuk mengatasi penumpukan atau
pengumpulan urin pada ginjal yang terjadi karena obstruksi yang
menghalangi keluarnya urin.
2) Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Merupakan suatu tindakan medis yang menangani renal kalkuli yang
menghancurkan batu ginjal menggunakan getaran dari luar tubuh ke
area ginjal. ESWL bekerja melalui gelombang kejut yang dihantarkan
melalui tubuh ke ginjal. Gelombang ini akan memecahkan batu ginjal
menjadi ukuran lebih kecil untuk selanjutnya dikeluarkan sendiri
melalui air kemih. Gelombnag yang dipakai berupa gelombang
ultrasonic, elektrohidrolik atau sinar laser.
3) Nefrolitotomi
Perkutanaous Nephrolithotomi merupakan salah satu tindakan minimal
invasive dibidang urologi yang bertujuan mengangkat batu ginjal
dengan menggunakan akses perkutan untuk mencapai system
pelviokalises yang memberikan angka bebas batu yang tinggi.
4) Stent Ureter
Tindakan ini merupakan alat berbentuk pipa yang dirancang agar dapat
ditempatkan di ureter untuk mempertahankan aliran urin pada
penderita obstruksi ureter, memulihakan fungsi ginjal yang terganggu,
dan memperthankan caliber atau patensi ureter sesudah pembedahan.
Stent ini terbuat dari silicon yang bersifat lunak dan lentur.
J. Komplikasi
Menurut Kimberly (2011) penyakit hidronefrosis dapat menyebabkan
komplikasi sebagai berikut:
a. Batu ginjal. Adanya obstuksi dalam hidronefrosis menyababkan
pengeluaran urin terganggu atau bahkan menjadi statis. dengan adanya
kondisi tersebut, maka fungsi ginjal untuk mengekskresikan zat yang
dapat membentuk kristal secara berlebihan terganggu, hal itu
menyababkan zat tersebut mengendap dan mengkristal, dan lama-
kelamaan dapat mengakibatkan batu ginjal
b. Sepsis. dengan adanya hidronefrosis maka potensi untuk terjadinya
infeksi sangat dapat terjadi akibat kuman dapat masuk ke saluran
urinari, kemudian kuman teresbut dapat masuk ke pembuluh darah yang
dapat mengakibatkan septikemia
c. Hipertensi renovaskuler. Pada keadaan hidronefrosis yang parah yang
mengakibatkan perfusi renal yang buruk maka akan terjadi sekresi
sejumlah besar renin yang berfungsi dalam pelepasan angiostensin.
Angiostensin akan merangsang pengeluaran hormon adolsteron yang
membuat tubula menyerap banyak natrium dan air sehingga
meningkatkan volume dan tekanan darah. Akibat hidronefrosis maka
akan terjadi perubahan respon terhadap resitensi vaskular dan fungsi
renal yang mengakibatkan ginjal mengalami hipertensi renovaskular.
d. Nefropati obstruktif. Adanya hidronefrosis menyebabkan perubahan
stuktur anatomi disertai penurunan fungsi ginjal
e. Pielonefritis. Hidronefrosis bisa menyebabkan infeksi ginjal
(pionefritis). aliran balik urin yang membawa kuman dari saluran
urinari yang dapat mengkaibatkan infeksi pada ginjal
f. Ileus paralitik. hidronefrosis yang parah dapat mengakibatkan
ketidakseimbangan elektroli. Adanya ketidakseimabangan tersebut
dapat menimbulkan penurusan fungsi kerja peristaltik usus sehingga
usus dapat mengalami ilius paralitik.
K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas Klien
- Jenis kelamin (Jenis kelamin bisa untuk identifikasi
penyebab misalnya pada pria lansia penyebab tersering
ialah akibat obstruksi uretra pada pintu kandung kemih
akibat pembesaran prostat. Pada perempuan hamil bisa
terjadi akibat pembesaran uterus)
- Pekerjaan (Pekerjaan klien dapat berpengaruh terhadap
penyebab klien menderita hidronefrosis, misalnya sopir
atau sekretaris yang pekerjaannya banyak untuk duduk
sehingga meningkatkan statis urine)
2) Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan px biasnya nyeri pada daerah perut
bagian bawah tembus pinggang
3) Riwayat Kesehatan Dahulu Riwayat pasien terdahulu mungkin
pernah mengalami penyakit batu ginjal, tumor, pembesaran
prostat, ataupun kelainan kongenital.
4) Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ialah status kesehatan klien saat
ini seperti klien berkemih sedikit tergantung periode penyakit,
nyeri saat berkemih, nyeri panggul.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien ada yang menderita penyakit polikistik ginjal
herediter, diabetes mellitus, serta penyakit ginjal yang lain.
6) Pemeriksaan Fisik
- B1 (Breathing)
Tidak ada ketinggalan gerak, vokal fremitus kanan = kiri,
nyeri tekan tidak ada, sonor seluruh lapangan paru, suara
dasar vesikuler seluruh lapang paru, tidak ada suara
tambahan.
- B2 (Blood)
Jantung: Ictus cordis tidak tampak dan tidak kuat angkat,
batas jantung dalam batas normal, S1>S2, regular, tidak ada
suara tambahan, Peningkatan tekanan darah, kulit hangat
dan Sirkulasi pucat
- B3 (Brain)
Nyeri abdomen, nyeri tulang rusuk dan tulang panggul,
gelisah, distraksi tergantung derajat keparahan
- B4 (Bladder)
Penurunan frekuensi, oliguri, anuri, perubahan warna urin
- B5 (Bowel)
Penurunan berat badan karena malnutrisi, anoreksia, mual,
muntah
- B6 (Bone) : Kelelahan, kelemahan, malaise
7) Pemeriksaan penunjang
a) Laboratorium
- Urinalisis : Pyura menunjukkan adanya infeksi.
Hematuria mikroskopik dapat menunjukkan adanya
batu atau tumor, Volumenya <400 ml/ hari dalam 24-28
jam setelah ginjal rusak, Warna urin Kotor, terdapat
sedimen kecoklatan yang menunjukkan adanya darah,
mioglobin, dan porfirin.
- Hitung jumlah sel darah lengkap: leukositosis mungkin
menunjukkan infeksi akut.
- Kimia serum: hidronefrosis bilateral dan hidroureter
dapat mengakibatkan peningkatan kadar BUN dan
kreatinin. Selain itu, hiperkalemia dapat menjadi
kondisi yang mengancam kehidupan.
b) Radiodiagnostik
- USG abdomen : Berfungsi sebagai tes skrining pilihan
untuk menetapkan diagnosis dan hidronefrosis.
- IVP : Pyelography intravena berguna untuk
mengidentifikasi keberadaan dan penyebab
hidronefrosis dan hidroureter. Intraluminal merupakan
penyebab paling mudah yang dapat diidentifikasi
berdasarkan temuan IVP
2. Diagnosis Keperawatan
a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai
dengan tampak meringis, gelisah (D. 0077)
Kategori. Psikologis
Subkategori. Nyeri dan kenyamanan
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (mis. Infeksi)
ditandai dengan suhu tubuh diatas nilai normal (D.0130)
Kategori. Lingkungan
Subkategori. Keamanan dan proteksi
c. Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan tumor, infeksi ginjal
dan saluran kemih ditandai dengan distensi kandung kemih
(D.0040)
Kategori. Fisiologis
Subkategori. Eliminasi
d. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
makanan ditandai dengan nafsu makan menurun (D.0019)
Kategori. Fisiologis
Subkategori. Nutrisi dan cairan
e. Resiko infeksi (D.0142)
Kategori. Lingkungan
Subkategori. Keamanan dan proteksi
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai
dengan mengeluh lelah, merasa lemah, sianosis (D.0056)
Kategori. Fisiologis
Subkategori. Aktivitas/ istirahat
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosis Keperawatan SLKI SDKI
1. Nyeri akut Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Nyeri (I.08238)
selama 2x24 jam diharapkan nyeri akut Observasi
menurun dengan kriteria hasil : 1. Identifikasi lokasi, karakterisik,
Tingkat Nyeri ( L.08066)
durasi frekuensi, kualitas,
1. Keluhan nyeri menurun
2. Meringis menurun intensitas nyer
3. Gelisah menurun 2. Identifikasi skala nyeri
4. Frekuensi nadi membaik (60-100 3. Monitor efek samping
x/menit) penggunan analgetik
5. Pola napas membaik (12-20 x/menit)
Terapeutik
6. Tekanan darah membaik (11-120/60-
4. Berikan teknik nonfarmakologis
80 mmHg)
untuk mengurangi rasa nyeri
(mis. Terapi music, terapi pijat,
relaksasi napas dalam)
5. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
Edukasi
6. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
7. Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
2. Hipertermia Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Hipertermia (I.15506)
selama 2x24 jam diharapkan hipertermia Observasi
menurun dengan kriteria hasil : 1. Monitor suhu tubuh
Termoregulasi (L.14134) 2. Monitor kadar elektrolit
1. Menggigil menurun 3. Monitor kadar haluaran urin
2. Kejang menurun
Terapeutik
3. Suhu tubuh membaik (36,5-37,5oC)
4. Suhu kulit membaik 4. Longgarkan atau lepaskan
pakaian
5. Basahi dan kipasi permukaan
tubuh
6. Berikan cairan oral
7. Ganti linen setiap hari
8. Lakukan pendinginan eksternal
(mis. Kompres dingin pada dahi,
leher, dada, abdomen, aksila)
Edukasi
9. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
10. Kolaborasi pemberian cairan
dan elektrolit intravena, jika
perlu
3. Gangguan eliminasi urin Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen Eliminasi Urin (I.04152)
Observasi
selama 2x24 jam diharapkan gangguan
1. Monitor eliminasi urin (mis.
eliminasi urin menurun dengan kriteria
Frekuensi, konsistensi, aroma,
hasil :
volume dan warna)
Eliminasi Urine (L.04034)
1. Sensasi berkemih meningkat Terapeutik
2. Distensi kandung kemih menurun
2. Catat waktu-waktu dan haluaran
3. Dysuria menurun
4. Frekuensi BAK membaik berkemih
5. Karakteristik urin membaik 3. Ambil sampel urin tengah atau
kultur
Edukasi
4. Ajarkan tanda dangejala infeksi
saluran kemih
5. Anjurkan minum yang cuku,
jika tidak ada kontraindikasi
Kolaborasi
6. Kolaborasi pemberian obat
supositoria uretra, jika perlu
4. Risiko infeksi Setelah dilakukan intervensi keperawatan Pencegahan Infeksi (I.14539)
Observasi
selama 2x24 jam diharapkan risiko infeksi
1. Monitor tanda dan gejala infeksi
menurun dengan kriteria hasil :
local dan sistemik
Tingkat Infeksi (L.14137)
1. Demam menurun Terapeutik
2. Nyeri menurun
2. Batasi jumlah pengunjung
3. Pyuria menurun
3. Pertahankan teknik aseptic pada
4. Kadar sel darah putih membaik
5. Kultur darah membaik pasien berisiko tinggi
6. Kultur urin membaik
Edukasi
4. Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
5. Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
6. Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi
7. Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, C dan Rodjani A. 2013. Hubungan Antara Ukuran Batu Ureter dengan
Derajat Hidronefrosis pada Penderita Batu Ureter. Jurnal Kedokteran
Universitas Indonesia
Kumar, Vinay, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins, Vol. 2, ed. 7. Jakarta:
EGC.
Parakrama dan Clive. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta : EGC
PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi dan Tindakan
Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan. Jakarta : DPP PPNI
Price, S. A dan Wilson, L.M. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Edisi 6. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Ed. 8. Jakarta: EGC
Tanagho, A.E Smith. 2010. Urinary Obstruction and Stasis. New York : McGraw-
Hill