Anda di halaman 1dari 34
A A C C A A D D E E M M Y Y
A A C C A A D D E E M M Y Y
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC
A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC

MODULBASIC EXPERT

THE REAL TRAINING SAHAM

THE REAL TRAINING SAHAM

A A C C A A D D E E M M Y Y MODUL BASIC

MODULTRIKCUAN

THE REAL TRAINING SAHAM

Created By:
Created By:

A C A D E M Y

BAB 1

DAFTAR ISI

PENGETAHUAN TENTANG PASAR MODAL

1

1. Saham (stock)

1

2. Surat Utang (obligasi)

4

3. Reksa Dana

7

 

BAB 2

MINDSET BERBISNIS SAHAM

11

1.

Pasive Income

11

1.

Pasive Income

12

3.

Pendapatan Utama

12

4.

Trading For Living

12

BAB 3

SAHAM LAYAK BELI

13

1. Analisa Fundamental

13

2. Analisa Teknikal

16

 

BAB 4

WAKTU TERBAIK TRANSAKSI SAHAM

17

1. Fase market aktif

18

2. Fase market koreksi

19

3. Fase market sidway

19

4. Fase market koreksi

19

5. Fase market aktif

19

 

BAB 5

MONEY MANAGEMENT

20

1. Memilih Saham

20

2.

Pembagian Modal Untuk Membeli Saham

23

BAB 6

PSIKOLOGI TRADING

28

1. 14 Level psikologi trading saham

29

2. 3 Kategori Fase Saham

31

BAB 1

PENGETAHUAN TENTANG PASAR MODAL

PASAR MODAL Pasar Modal ialah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan kegiatan perdagangan yang berhubungan dengan modal perusahaan publik seperti jual beli efek, dimana efek merupakan instrumen yang diperjualbelikan. Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain- lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument. Instrument keuangan (produk) yang diperdagangkan di Pasar Modal Indonesia: Saham, Obligasi, dan Reksadana.

1. SAHAM (STOCK); Saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak

dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Keuntungan Saham Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham Dividen; merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham - atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut. Capital Gain; merupakan selisih antara harga beli dan harga jual.

Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Resiko Saham Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

Capital Loss; Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham. Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham. Resiko Likuidasi; Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari- hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

2. SURAT UTANG (OBLIGASI) Surat Utang (Obligasi) merupakan salah satu Efek yang tercatat di Bursa di samping Efek lainnya seperti Saham, Sukuk, Efek Beragun Aset maupun Dana Investasi Real Estat. Obligasi dapat dikelompokkan sebagai efek bersifat utang di samping Sukuk. Obligasi dapat dijelaskan sebagai surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan, yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi dapat diterbitkan oleh Korporasi maupun Negara. Keuntungan Membeli Efek Bersifat Utang Berikut adalah keuntungan membeli Efek Bersifat Utang, antara lain :

1. Mendapatkan kupon/fee/nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Pada umumnya tingkat kupon/fee/nisbah berada

di atas bunga Bank Indonesia (BI rate). 2. Memperoleh capital gain dari penjualan efek bersifat utang di pasar sekunder. 3. Memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen lain seperti saham, dimana pergerakan harga saham lebih berfluktuatif dibandingkan harga efek bersifat utang. Pada efek bersifat utang yang diterbitkan oleh pemerintah dapat dikatakan sebagai instrumen yang bebas risiko. 4. Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang dapat dipilih oleh investor di pasar sekunder.

Perdagangan Efek Bersifat Utang Pada umumnya, instrumen efek bersifat utang diperdagangkan melalui mekanisme over the counter (OTC). Bursa menyediakan sistem khusus untuk memfasilitasi perdagangan efek bersifat utang , yang dikenal dengan nama FITS (Fixed Income Trading System). FITS merupakan sistem (automated remote trading) yang dimiliki Bursa Efek Indonesia untuk memfasilitasi perdagangan efek bersifat utang di Indonesia. Disamping itu, juga terdapat sistem pelaporan untuk transaksi efek bersifat utang , yang dikenal dengan nama CTP-PLTE (Centralized Trading Platform – Pelaporan Transaksi Efek). CTP-PLTE merupakan sistem elektronik, yang dapat digunakan sebagai sarana perdagangan dan pelaporan transaksi efek bersifat utang . Dengan diperdagangkannya efek bersifat utang, maka akan terjadi pembentukan harga efek bersifat utang, yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran efek bersifat utang tersebut. Adapun

dasar-dasar yang dapat mempengaruhi harga wajar efek bersifat utang yang diperdagangkan di Bursa, sebagai berikut:

1. Interest Rates

Besarnya suku bunga menjadi acuan bagi pembeli efek bersifat utang sebagai perbandingan dasar tingkat pengembalian yang diharapkan. Tingkat suku bunga pasar dalam hal ini dapat berupa BI rate. Ketika suku bunga pasar berubah, maka akan mempengaruhi harga efek bersifat utang. Pada saat tingkat suku bunga pasar mengalami kenaikan, sementara besarnya tingkat pengembalian atas efek bersifat utang adalah tetap, maka return riil dari investor dianggap

menjadi relatif lebih kecil. Hal ini akan menyebabkan terjadi aksi jual efek bersifat utang, sehingga harga efek tersebut menjadi turun. Begitu pula sebaliknya.

2. Faktor Risiko

Risiko kredit menggambarkan kemampuan penerbit efek bersifat utang dalam melakukan pembayaran bunga atau pelunasan pokok secara tepat waktu sesuai jatuh temponya. Pada umumnya, efek bersifat utang diperingkat secara berkala oleh Lembaga Pemeringkatan Efek. Investor dapat memanfaatkan informasi pemeringkatan efek bersifat utang dari Lembaga Pemeringat Efek untuk mengukur risiko investasi pada suatu efek bersifat utang dan menilai tingkat kredibilitas suatu perusahaan, serta juga dapat memperlihatkan kinerja/prospek perusahaan. Ketika peringkat efek bersifat utang mengalami penurunan, mengindikasikan tingkat risiko Penerbit dalam memenuhi kewajibannya menjadi lebih rendah yang pada akhirnya dapat berpotensi gagal bayar. Kondisi tersebut akan menyebabkan harga efek bersifat utang tersebut mengalami

penurunan. Hal ini disebabkan permintaan atas efek bersifat utang juga mengalami penurunan karena efek bersifat utang tersebut dianggap tidak menarik bagi investor. 3. Jatuh Tempo Efek bersifat utang yang tercatat di Bursa memiliki periode jatuh tempo yang berbeda-beda. Pada saat jatuh tempo, Penerbit memiliki kewajiban untuk mengembalikan seluruh pokok efek bersifat utang kepada Investor. Pada umumnya, harga efek bersifat utang berbanding terbalik dengan jangka waktu obligasi. Semakin pendek jangka waktu efek bersifat utang, maka akan semakin kecil tingkat ketidakpastian (risiko) atas efek bersifat utang tersebut. Disamping itu, semakin efek bersifat utang tersebut mendekati tanggal jatuh temponya, maka harga efek tersebut akan semakin mendekati nilai nominalnya (par).

3. REKSA DANA Reksa Dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu Reksa Dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Umumnya, Reksa Dana diartikan sebagai Wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya

di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Ada tiga hal yang terkait dari definisi tersebut yaitu, Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio efek, dan Ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer investasi. Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.

Keuntungan dan Resiko Manfaat yang diperoleh pemodal jika melakukan investasi dalam Reksa Dana, antara lain:

1. Pemodal walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko. Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar. Dengan Reksa Dana, maka akan terkumpul dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang, artinya investasi dilakukan pada berbagai jenis instrumen seperti deposito, saham, obligasi. 2. Reksa Dana mempermudah pemodal untuk melakukan investasi di pasar modal. Menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memerlukan pengetahuan dan keahlian tersendiri, dimana tidak semua pemodal memiliki pengetahuan tersebut. 3. Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada Reksa Dana

dimana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional, maka pemodal tidak perlu repot-repot untuk memantau kinerja investasinya karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi tersebut. Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:

1. Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan

Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut.

2. Risiko Likuiditas

Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.

3. Risiko Wanprestasi

Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksa Dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana. Dilihat dari portfolio investasinya, Reksa Dana dapat dibedakan menjadi :

1. Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Funds) Reksa Dana jenis ini hanya melakukan investasi pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.

2. Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds) Reksa Dana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Utang. Reksa Dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari Reksa Dana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.

3. Reksa Dana Saham (Equity Funds) Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis Reksa Dana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.

4. Reksa Dana Campuran (Discretionary Funds) Reksa Dana jenis ini melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat Utang.

BAB 2

MINDSET BERBISNIS SAHAM

MINDSET BERBISNIS SAHAM Dalam bertransaksi di Pasar modal banyak karakter individu pelaku yang mempengaruhi cara pandangnya. maka hal pertama yang harus diperhatikan bagi setiap orang yang masuk atau terjun kedalam pasar modal adalah niatnya untuk apa? Sebagai bisnis/spekulasi/iseng /gaya-gayaan? Banyak orang bertransaksi di pasar modal justru menemui kebingungan ditengah jalan, alasannya pun beragam. Hal ini menunjukkan bahwa mereka kehilangan jatidiri sebagai pelaku industri pasar modal. Hal pertama yang harus dipahami adalah industri pasar modal sebagai lahan bisnis. Kenapa? Karena didalamnya terdapat potensi bisnis yang sangat luas dan belum banyak yang memanfaatkannya. Oleh karena itu, sebagai pebisnis pelaku pasar modal akan mampu membedakan mana peluang dan ancaman, potensi dan resiko, serta untung dan rugi. Dengan demikian, sebagai pebisnis pelaku pasar modal akan terbagi kedalam 4 jenis atau karakter pola pikir. Sebagai pebisnis pasive income, pendapatan tambahan, pendapatan utama, dan trading for living. Keempatnya memiliki keunggulan dan kelemahan masing- masing yang erat kaitannya dengan karakter pebisnis itu sendiri.

1. Pasive income Karakter pebisnis yang menjadikan transaksi saham sebagai tabungan

berjalan yang terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan nilai potofolio. Karena tujuannnya sebagai tabungan jangka panjang, maka kecenderungannya pebisnis ini melihat saham yang value investing atau saham-saham yang membagikan deviden cukup besar setiap tahunnya.

1. Pasive income

Pebisnis saham yang berorientasi kepada pencari penghasilan diluar pendapatan rutinnya setiap bulan. Tipikal pebisnis ini biasanya tidak terlalu “ngoyo” dalam melakukan transaksi saham sehari-hari karena sudah memiliki penghasilan tetap dari hal lain.

3. Pendapatan utama

Orang yang berbisnis saham dengan mengandalkan uang di portofolionya sebagai pendapatan utamanya. Dalam hal ini bisa jadi pebisnis ini tidak melakukan sendiri, namun juga menggunakan tenaga broker atau found manager. Prinsipnya adalah uang bekerja untuknya. Tidak peduli saat dia ada ataupun ketika dia tidur sekalipun.

4. Trading for living

Para pebisnis yang menggantungkan hidupnya dari pendapatan bertransaksi di industri pasar modal. Pendapatannya sebanding lurus dengan apa yang dihasilkan dalam bertransaksi. Adakalanya dia untung besar, ada moment tertentu dia tidak berpenghasilan.

BAB 3

SAHAM LAYAK BELI

Jumlah perusahan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek indonesi sangat banyak, total 610 perusahaan/emiten. Lantas apakah kesemua saham itu bisa kita jadikan sebagai lahan bisnis? Jawabannya adalah bisa. Bolehkah kita memperdagangkan semua saham itu? Tidak. Selalu ada perbedaan antara bisa dan boleh. Saham apa yang layak kita beli? Atau bagaimana cara kita memilih saham yang layak beli? Kriteria apa yang kita gunakan untuk memilih saham layak beli? Berikut adalah cara menentukan saham yang layak dibeli berdasarkan kriteria analisa. Analisa fundamental dan analisa teknikal.

1. ANALISA FUNDAMENTAL

Saat akan berbisnis saham, hal pertama yang harus dilakukan adalah Fundamental Analisis. Kenali dan pahami F.A secara mendalam agar tidak salah memilih saham. Ada enam pertimbangan yang biasa digunakan untuk melakukan F.A, yakni sebagai berikut.

A. EPS (Earning Per Share)/laba bersih per lembar saham

Laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang

diperoleh dalam satu periode untuk setiap lembar saham yang beredar.

- Bagi Dirut perusahaan, laba per lembar saham digunakan sebagai acuan untuk pembagian dividen.

- Bagi enterpreneur saham/investor, EPS digunakan untuk mengukur keberhasilan manajemen perusahaan dalam keuntungan.

B. PER (Price Earning Ratio) PER adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal yang digunakan untuk membeli saham. Seharusnya, semakin rendah PER maka akan semakin bagus, namun faktanya tidak demikian. Di pasar saham, saham yang memiliki PER tinggi juga mudah “melompat”. Kita bisa terkecoh dengan PER jika:

- Manajemen tidak melaporkan kerugian anak perusahan dalam laporan konsolidasi, mencatat sebagai aset, dan menunda pembebanan pengeluaran yang seharusnya dicatat sebagai biaya sehingga penghasilan menjadi tidak pasti.

- PER rendah, sehingga pendapatan diperoleh dari diskon pajak dan selisih bunga, bukan dari bisnis utama.

- PER perusahaan rendah, tapi saham tak kunjung naik. Biasanya hal ini terjadi karena saham yang berada di pasar tidak liquid dan pertumbuhan bisnisnya tak sebaik industri lain yang sejenis. C. PBV (Price Book Value) Nilai buku (book value) adalah nilai equitas dibagi dengan jumlah saham yang ada, atau bisa juga diartikan sebagai nilai buku (PBV) dibagi dengan nilai equitas per saham. Equitas adalah selisih jumlah aset dikurangi dengan liabilitas. Secara teori, nilai buku adalah nilai yang akan didapat bila perusahaan di-liquidasi-kan. Unsur equitas belum tentu didapat dari hasil kinerja perusahaan, tapi bisa didapat dari right issue, treasury saham, dan lain-lain. Selain itu, laba bersih juga bisa didapat dari penjualan aset.

Intinya, PER menjadi lebih akurat jika dihasilkan dari PBV atau dari hasil bisnis utamanya.

D. ROE (Return On Equity)

Menggambarkan kemampuan modal pribadi (ekuitas) yang

dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba bersih. ROE berfungsi sebagai indikator:

- potensi keuntungan perusahaan;

- aset management (seberapa efektif perusahaan dalam menjalankan aset);

- financial leverage, yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang seberapa besar pengaruh nilai hutang untuk membangun perusahaan.

Untuk menilai ROE sebuah perusahaan, dapat dilakukan dengan cara membandingkan ROE-nya dengan ROE perusahaan sejenis dari waktu kewaktu dengan kenaikan minimal 12%.

E. DY (Dividen Yield)

Terdapat dua jenis dividen yang dibagikan kepada pemegang

saham, yaitu berupa uang dan saham. Berikut beberapa manfaat pembagian dividen saham.

- Bagi perusahaan, struktur modal perusahaan akan lebih kuat karena ada laba yang ditahan untuk masuk ke pos akun equitas. Kemudian, likuiditas akan meningkat dan harga saham menjadi lebih murah sehingga menarik bagi pelaku pasar.

- Bagi pemegang saham, jumlah saham akan bertamba h banyak mirip dengan stocksplit dan tidak dikenakan pajak karena yang diterima dalam bentuk saham.

Rasio dividen yield adalah perbandingan nilai dividen terhadap harga saham. Sebelum menghitungnya, Anda harus mencermati tanggal pembagian dividen, jadwal cumdate, ex date tanggal pemegang saham yang tidak berhak atas pembagian dividen, hingga recording date dan payment date.

F. Management perusahaan

Management perusahaan merupakan analisis kualitatif terhadap direksi, sistem, marketing, dan produk yang memiliki reputasi bagus. Misalnya grup Ciputra yang merupakan perusahaan terbaik di bidang properti. Mereka dikenal baik karena tidak pernah membohongi customer dan tidak pernah gagal untuk membayar utang.

2. ANALISA TEKNIKAL

Fungsinya untuk menentukan timing pembelian dan penjualan saham dengan mencermati chart. Tentukan support dan resistant-nya dengan metode fibonacci. Support adalah area harga yang diyakini sebagai titik terendah pada suatu nmasa dan bisa dijadikan sebagai tanda revelsal (pembalikkan arah perdagangan). Resistance adalah area harga yang diyakini sebagai titik tertinggi pada suatu masa dan dapat dijadikan sebagai reversal point (pembalikkan arah perdagangan).

BAB 4

WAKTU TERBAIK TRANSAKSI SAHAM

Mekanisme perdagangan di pasar modal indonesia memberikan peluang bagi para pebisnis untuk mencari keuntungan sebesar- besarnya. Berdasarkan aturan yang telah ditetapkan, waktu

perdagangan adalah setiap hari senin sampai dengan jum'at, terbagi menjadi 2 sesi, sesi pertama dan kedua. Sesi pertama dimulai pukul

09.00 wib dan berakhir pada pukul 12.00 wib. Sedangkan sesi kedua

dimulai pada jam 13.30 wib dan diakhiri pada pukul 16.00 wib. Khusus

pada hari jum'at perdagangan relatif lebih pendek, yakni pukul 09.00 –

11.30 dan 14.00 – 16.00 setiap sesinya.

Diluar jadwal diatas ada beberapa hal tambahan yang belum banyak dipahami pelaku pasar modal, diantaranya adalah adanya masa tambahan waktu melakukan penawaran sebelum pasar buka atau tutup. Maka ada istilah pre-opening dan pre closing. Pre opening sudah dimulai dari pukul 08.45 – 08.55 wib dengan agenda Anggota Bursa Efek memasukan penawaran jual dan atau permintaan beli, kemudian pukul 08.55 – 08.59 wib JATS (Jakarta Automated Trading System yaitu sistem perdagangan efek yang berlaku di bursa untuk perdagangan yang dilakukan secara otomasi dengan menggunakan sarana komputer) melakukan proses pembentukan harga pembukaan dan memperjumpakan penawaran jual dengan permintaan beli pada harga pembukaan berdasarkan price dan time priority. Dengan pemaparan waktu diatas maka tidak heran kalau terjadi lompatan harga yang signifikan dari harga penutupan pada hari sebelumnya. Dari sinilah akhirnya ada istilah gap up atau gap down.

Sedangkan pre closing sudah dimulai sejak pukul 15.50 – 16.00 dengan agenda anggota bursa efek memasukan penawaran jual dan atau permintaan beli. Kemudian pukul 16.00 – 16.04 JATS melakukan proses pembentukan harga penutupan dan memperjumpakan penawaran jual dengan permintaan beli pada harga penutupan berdasarkan price dan time priority. Terakhir pada pukul 16.05 – 16.15 anggota bursa efek untuk memasukkan penawaran jual dan atau permintaan beli pada harga penutupan, dan JATS memperjumpakan secara berkelanjutan (continuous auction) atas penawaran jual dengan permintaan beli untuk Efek yang sama secara keseluruhan maupun sebagian pada harga penutupan berdasarkan time priority. Maka tidak mengherankan juga kalau akhirnya pada saat penutupan market terjadi perubahan harga yang signifikan atau penambahan volume transaksi yang signifikan. Hal-hal diatas sudah sepatutnya dipahami sepenuhnya oleh pelaku bisnis saham, mengapa? Karena hanya pebisnis yang paham “medan tempur” lah yang akan memenaangkan gelanggang. Lantas, kapankah waktu terbaik untuk memutuskan melakukan buy/sell saham? Jawabannya adalah dengan melihat fase transaksi saham dibawah ini. 1. Fase market aktif Fase ini terjadi ketika market baru dibuka, kecenderungannya pembeli dan penjual masih merasakan uforia, maka kerap kali mengalami kenaikan atau penurunan harga secara signifikan. Biasanya pada fase ini volume transaksi cenderung meningkat. Fase ini dimulai dari pukul 09.00 sampai dengan 10.00 WIB. Artinya, pebisnis saham bisa memanfaatkan momentum untuk mejual atau membeli saham.

2.

Fase market koreksi

Secara psikologis orang akan mulai tersadar bahwa sahamnya berada pada harga yang tepat atau tidak pada saat market sudah cenderung

berkurang secara volume transaksi. Maka, biasanya akan ada koreksi harga setelah harga pembukaan. Fase ini dimulai pada pukul 10.15 -

10.50 wib. Bagi trader harian bisa digunakan untuk membeli barang

murah tahap pertama pada sesi ini.

3. Fase market sidway

Pada pukul 11.00 - 14.00 market cenderung stabil, tidak ada pergerakan yang signifikan. Biasanya pada fase ini arahnya kenaikan atau penurunan harga pada titik-titik yang sama. Selama tidak ada

sentimen berarti, maka jarang ada transaksi dalam jumlah besar pada fase ini.

4. Fase market koreksi

Masa koreksi setelah fase yang membosankan terjadi pada pukul

14.15 sampai dengan 14.50. fase ini terjadi disebabkan oleh adanya

mekanisme forcesell dari sekuritas. Jual paksa karena penggunaan dana margin yang melampui tenggat waktu yang ditetapkan. Maka pada fase ini kecenderungannya volume besarnya adalah transaksi jual. Bagi pebisnis saham ini bisa digunakan sebagai momentum belanja sesi lanjutan untuk mendapatkan barang murah.

5. Fase market aktif

Fase terakhir sebagai penutup perdagangan dalam satu hari. Fase ini dimulai pukul 15.00 sampai dengan 16.00. kecenderunganya pada fase ini terjadi pelonjakan volume yang signifikan.

BAB 5

MONEY MANAGEMENT

Tujuan dari Money Management sebagai panduan untuk memperoleh keuntungan , dan membahas tentang bagaimana cara memilih saham, berapa jangka waktu yang diperlukan, bagaimana menentukan titik harga masuk dan keluar, serta bagaimana cara menghitung jumlah lot.

Ÿ Bagaimana memilih saham .

Ÿ Bagaimana pembagian modal yang digunakan untuk membeli saham.

1. MEMILIH SAHAM Dalam memilih saham berhubungan dengan karakter masing masing investor , ada yang membeli saham untuk berinvestasi , dan ada yang membeli saham untuk jangka pendek. Sehingga sangat disarankan sebelum memilih saham pahami dulu karakter Anda. Sebab karakter menjadi investor dan menjadi trader adalah dua hal yang berbeda . Walaupun begitu ada satu hal yang sangat di sarankan yaitu memilih saham berdasarkan Fundamental perusahaan. Fundamental merupakan analisis mendasar untuk menggali informasi meliputi kondisi ekonomi, industri secara keseluruhan, dan kondisi perusahaan. Sehingga sebelum membeli saham Investor sebaiknya mempertimbangkan Kinerja dan proyeksi untuk memperkirakan harga saham , dan Unsur finansial yang perlu diperhatikan, misalnya pendapatan per saham, nilai buku ekuitas, nilai buku saham, ataupun rasio pengeluaran. Semuanya itu nantinya akan dibutuhkan untuk

menilai apakah saham tersebut baik atau tidak baik. Dan dalam pasar modal ada namanya Kapitalisasi pasar / Market capital suatu emiten, yang di bagi menjadi 3 kategori , yaitu :

Saham Kapitalisasi Besar (Big Caps / Blue Chip) Saham-saham jenis pertama ini dikenal dengan sebutan blue chip. Saham kategori ini memiliki kapitalisasi pasar yang besar untuk ukuran saham di Indonesia, yaitu di atas Rp10 triliun. Perusahaan yang sahamnya tergolong blue chip adalah perusahaan besar yang dikenal luas oleh masyarakat dan memiliki penghasilan yang stabil. Contoh perusahaan ini adalah Astra, Bank BCA, Unilever, dan Telkom. Saham jenis blue chip menjadi saham pilihan favorit para investor jangka panjang yang memiliki profil risiko konservatif dan mengutamakan keuntungan dari dividen yang dibagikan secara rutin. Perusahaan blue chip ini biasanya memiliki fundamental yang kuat dan mencetak laba yang besar, dan produknya dibutuhkan oleh banyak orang.

Saham Kapitalisasi Sedang (Middle Caps / Second Liner) Saham tipe kedua adalah saham yang mempunyai kapitalisasi sedang, di antara Rp1 triliun hingga Rp10 triliun. Perusahaan yang berada di kategori ini tidak mempunyai kekuatan sebesar perusahaan blue chip, namun saham lapis dua ini juga menarik untuk diinvestasikan karena profit yang didapatkan pun biasanya tak kalah menjanjikan. Biasanya saham lapis dua (Second Liner) ini diisi oleh saham dari perusahaan yang sedang dalam fase berkembang. Pertumbuhan

kinerja emiten lapis dua pun biasanya lebih agresif daripada emiten blue chip. Harga sahamnya pun biasanya lebih murah daripada saham big caps, dan sering menjadi incaran investor dan mengharapkan keuntungan dari pertumbuhan kinerjanya.

Saham Kapitalisasi Kecil (Small Caps / Third Liner) Saham jenis ketiga ini adalah saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang kecil, biasanya berada di bawah Rp1 triliun. Meskipun harganya cukup murah, saham lapis ketiga ini biasanya cukup berisiko untuk dikoleksi karena pergerakan harganya dapat dimainkan dengan mudah oleh bandar yang memiliki modal besar. Istilah lain dari saham lapis tiga ini adalah saham gorengan, karena harganya seringkali digoreng oleh bandar saham.

Tips dalam memilih saham adalah dengan melakukan screening saham – saham yang memiliki Fundamental yang Baik , Perusahaan yang memiliki konsumen pasti , perusahaan yang memiliki prospek cerah dalam waktu 1/2/3/10 tahun kedepan.

2. PEMBAGIAN MODAL UNTUK MEMBELI SAHAM Dalam bertransaksi saham tentunya harus ada namanya Money Management , berapa besar dana yang akan Anda alokasikan untuk membeli saham .

besar dana yang akan Anda alokasikan untuk membeli saham . - Kategori HOLD Menggunakan 50% dari

- Kategori HOLD Menggunakan 50% dari Modal , artinya membeli saham dengan batas maksimal 50% dari modal , bisa 1 /2/3 jenis saham. Jenis – jenis saham yang masuk kategori HOLD adalah saham – saham yang memiliki Kapitalisasi pasar lebih dari 10 Triliyun ( Big caps / Bluechip ) / saham yang memiliki fundamental yang baik, perusahaan besar yang dikenal luas oleh masyarakat, yang memiliki profil risiko konservatif dan mengutamakan keuntungan dari dividen yang dibagikan secara rutin .

- Kategori AKTIF Menggunakan 20 % dari Modal, artinya membeli saham dengan batas maksimal 20% dari modal , bisa

1/ 2 jenis saham . Jenis jenis saham yang masuk kategori AKTIF adalah saham saham yang memiliki Kapitalisasi Pasar sedang diantara Rp 1 Triliyun – Rp 10 Triliyun ( Middle cap ) / perusahaan yang sedang dalam fase berkembang. Pertumbuhan kinerja emiten lapis dua pun biasanya lebih agresif daripada emiten blue chip. Harga sahamnya pun biasanya lebih murah daripada saham big caps, dan sering menjadi incaran investor dan mengharapkan keuntungan dari pertumbuhan kinerjanya.

- Kategori HYPERAKTIF menggunakan 10% dari Modal , artinya membeli saham dengan batas maksimal 10% dari modal , jenis jenis saham yang masuk kategori HYPERAKTIF adalah saham saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil diantaranya kurang dari Rp 1 Triliyun ( Small cap ) . Istilah lain dari saham lapis tiga ini adalah saham gorengan, karena harganya seringkali digoreng oleh bandar saham.

- CASH 20% dari Modal , Artinya sisakan uang cash sebagai dana cadangan sebesar 20% dari modal , yang akan digunakan untuk melakukan Avg buy jika saham mengalami koreksi namun masih berpotensi untuk kembali naik.

BAB 6

PSIKOLOGI TRADING

BAB 6 PSIKOLOGI TRADING Pemula di pasar modal, layaknya pelaut yang tidak bisa membaca rasi bintang,

Pemula di pasar modal, layaknya pelaut yang tidak bisa membaca rasi bintang, tidak tau dimana dia berada. Bahkan ketika kita sudah belajar analisis teknikal dengan sangat mendalam, menerapkan teori Darvas Box, kita menerapkan money management, menerapkan strategy trading atau apapun itu, pada akhirnya manusia akan menjadi manusia. Yang mau saya sampaikan disini adalah, manusia memiliki keunggulan berupa “ALARM”, melewati sentuhan-sentuhan saat trading saham. Pergerakan pasar saham sejatinya adalah ungkapan ALARM setiap trader, makanya ada istilah psikologi trading. Tetapi bila kita tidak mampu memahami psikologi diri sendiri, jangankan untung, tidak rugi saja sudah bagus. Apakah Anda sudah siap menguasai emosi diri? Sudah siap menguasai emosi pasar?

14 Level psikologi trading saham Titik puncak paling berbahaya adalah ketika orang berada di level euforia, sementara peluang terbaik ketika pasar berada di titik depresi. tapi sebagai manusia yang rasional, kita tidak akan pernah tahu kapan waktu tersebut datang dengan tepat.

1. Optimism; Diawali dengan kondisi pasar kondusif, market merasa

optimis akan terus naik seiring waktu. Pada level ini, Anda akan berfikir bahwa mencari duit di pasar modal sangat mungkin.

2. Excitement; Chart pasar modal di dominasi warna hijau, begitu pula

dengan portofolio Anda. Harapan semakin tumbuh, pikiran yang semula berpikir “mungkin” mendapat untung, berubah menjadi “mudah” mencari duit di pasar saham.

3. Thrill; Semangat karena nilai portofolio meningkat, hingga tidak

percaya karena hasilnya melebihi ekspektasi. Pasar saham sangat bergairah begitu pula dengan hormon para trader! Jika sampai memuji kepintaran Anda sendiri, berarti ada di level ini. Hati-hati, percaya diri perlu, tapi overconfidence bisa membunuhmu!

4. Euphoria; Pasar saham terlalu bersemangat, bahkan cenderung

tidak rasional. Ketika hampir semua orang berteriak “Buy! Buy!”, berarti itu alarm buat kita! Titik ini adalah risiko tertinggi dan tahukah

apa yang akan terjadi?

5. Anxiety; Untuk pertama kalinya pasar bergerak tidak sesuai

keinginan Anda! Keuntungan tergerus karena portofolio Anda menurun.

6. Denial; Anda yakin bahwa market akan rebound dan naik lagi,

sayangnya kenyataan berkata lain. Pasar saham tidak memantul sesuai harapan, dan pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Niat jadi investor jangka panjang berubah menjadi “yang penting rebound”.

7.

Fear; Realita pasar modal yang sesungguhnya menampar trader!

Dari kepercayaan diri yang tinggi, bergerak menjadi kebingungan. Para pemain saham tidak tahu harus berbuat apa, padahal seharusnya kalau niat mau jadi trader harus menenangkan diri dulu. Cabut dari pasar dengan profit sedikit lebih baik, dibanding terus menerus stres dan harga turun.

8. Desperation; Tidak punya exit strategy, buntu semua, sementara

keuntungan yang susah payah didapat! Saya pernah mengalaminya, percayalah! Kerugian investasi saham

adalah jadikan pengalaman.

9. Panic; Bingung di level terendah, sudah tidak paham mau

bagaimana lagi. sepertinya semua usaha sia-sia, karena portofolio

terus merosot.

Pernah begitu? Rasanya bukan kita yang bisa mendapat untung dari pasar modal, tapi justru market yang mengontrol si trader.

10. Capitulation; Akhirnya pasrah dan keluar dari market. Masalahnya

Anda sudah merugi terlalu dasar, dan sayangnya bisa jadi ini adalah titik balik pasar untuk mendaki lagi.

11. Despondency; Biasanya setelah keluar dari pasar modal, adalah

waktu yang tepat untuk istirahat sejenak. Tidak memikirkan apapun yang berhubungan dengan dunia saham.

12. Depression; Sayang hidup cuma sementara, tidak boleh dipercepat.

Pada tahap ini orang sudah mulai putus asa dengan portofolio masing

masing. Saran saya Mulai lakukan analisa lagi, mengevaluasi kegagalan trading. Masuk ke pasar modal dengan nominal sedikit- sedikit.

13. Hope; Berharap hari ini saham yang di portofolio naik.

Saran saya mulailah mengevaluasi peluang-peluang baru yang muncul di pasar saham, menelisik berita tentang perusahaan di Indonesia.

14. Relief; Market POSITIIIIF!

Dari harapan, para trader menjadi bersemangat lagi dan yakin akan memperoleh cuan dari pasar modal. Siklus berulang lagi deh ke awal tadi.

Bagaimana mengatasi psikologi ketika trading saham? Wajib hukumnya memiliki trading plan, mempelajari analisis teknikal dan fundamental, dan yang paling penting adalah memiliki eksekusi trading plan saham.

Pada saat Anda sudah membuka laptop sudah menyalakan Smartphone untuk login ke akun sekuritas maka Anda harus memiliki Trading Plan. Jika Anda tidak memiliki Trading Plan saham apa yang akan di beli sebaiknya tutup laptop dan Smartphone Anda. Karena tidak melakukan apa – apa adalah salah satu dari Trading Plan.

Maka kami sangat menyarankan Anda Mempelajari Fase suatu saham, Fase saham di bagi menjadi 3 kategori yaitu:

- Fase AKUMULASI

- Fase PARTISIPASI

- Fase DISTRIBUSI

1. Fase AKUMULASI

Adalah Fase saham yang pergerakannya berada di support – dan resistence terdekat. Pada umumnya saham yang masih dalam fase Akumulasi pergerakan naik dan turunnya terbatas. Sehingga kebiasaaan kebanyakan orang dalam fase ini adalah melakukan pembelian di level support dan melakukan penjualan di level resistence. maka muncul kata “Untung Dikit Jual“

2. Fase PARTISIPAN

Adalah Fase saham yang pergerakan support dan resistence

mengalami kenaikan atau di sebut Uptrend / Rebound / Bullish. Pada Fase PARTISIPAN semua Investor yang melakukan pembelian biasanya memliki persentase keuntungan yang lebih besar , sebab beli di harga berapapun harga saham masih melanjutkan kenaikan. Ciri Ciri perusahaan yang berada pada Fase Partisipan adalah

Ÿ Fase dimana bermunculan berita berita yang mendukung kenapa saham tersebut naik.

Ÿ Investor mencari Fakta pendukung bahwa saham tersebut wajar jika mengalami kenaikan.

Ÿ Munculnya lebih dari satu/dua/tiga/ analisa lebih banyak lagi yang mengulas saham yang sama. Maka jika saham dalam Fase ini saran saya mulailah berhati – hati jika sahamnya bergerak konsolidasi pada saat harga berada di puncak.

3. Fase DISTRIBUSI Adalah Fase saham yang pergerakannya Mulai konsolidasi berada di support – dan resistence dan sudah tidak uptrend lagi / harganya sudah tidak bisa lebih tinggi lagi . Pada umumnya saham yang dalam fase DISTRIBUSI pergerakannya cenderung kembali Turun / trend naik sudah berakhir. Maka dalam Fase ini Target Price menjadi tidak penting lagi, lupakan Target Price , berpikir objective bahwa saham ini sudah tidak bergerak naik lagi. Sebab banyak Orang yang terjebak pada fase ini. Maka muncul istilah. “ Untung Dikit Jual , Rugi Banyak Hold “ kenapa demikian, sebab kebanyakan orang cenderung lebih nyaman jika menyimpan saham yang sedang Rugi ketimbang saham yang sedang naik.

Catatan : Hindari saham saham yang berada dalam fase distribusi Modul Basic - Trikcuan Academy
Catatan : Hindari saham saham yang berada dalam fase distribusi Modul Basic - Trikcuan Academy

Catatan : Hindari saham saham yang berada dalam fase distribusi

DO THE BEST

GOD THE REST

TERIMAKASIH

DO THE BEST GOD THE REST TERIMAKASIH A C A D E M Y Modul Class

A C A D E M Y