Anda di halaman 1dari 15

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Model Penelitian dan Pengembangan


Pengembangan Booklet Decapoda dalam penelitian ini menggunakan model
ADDIE yang dikemukakan oleh Branch (2009), terdiri atas 5 tahapan yaitu
Analyse (menganalisis), Design (merancang), Development (mengembangkan),
Implementation (menerapkan), dan Evaluation (mengevaluasi). Setiap tahapan
penelitian dan pengembangan dapat dijabarkan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Tahapan Model Penelitian dan Pengembangan ADDIE
No Tahap Langkah
1 Analyze a. Validasi kesenjangan kondisi nyata dan Kondisi ideal
b. Menentuka tujuan instruksional
c. Menentukan konfirmasikan sasaran pengembangan
d. Mengidentifikasi komponen yang dibutuhkan
e. Menentukan sistem pengantar yang potensial
f. Membuat rencana pelakasanaan
2. Design a. Penyusunan daftar komponen dalam produk
b. Menyusun tujuan pengembangan produk
c. Menyusun strategi pengujian
d. Menghitung keuntungan atau investasi
3. Develop a. Menghasilkan konten
b. Mengembangkan produk sesuai rancangan
c. Mengembangkan petunjuk penggunaan untuk penyuluh
d. Mengembangkan petunjuk penggunaan untuk masyarakat
e. Melakukan revisi formatif
f. Melakukan uji coba
4. Implementation a. Menyiapkan penyuluh
b. Menyiapkan masyarakat
5. Evaluation a. Menetukan kriteria evaluasi
b. Memilih alat evaluasi
c. Melakukan evaluasi
Sumber : Branch, 2009.

36
37

B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan


Prosedur penelitian dan pengembangan yang dilakukan disesuaikan
dengan dengan model pengembangan ADDIE. Berikut merupakan prosedur
penelitian dan pengembangan.

1. Menganalisis (Analyze)
Tahap analasis ini mengidentifikasi adanya kesenjangan antara harapan
dan kenyataan yang ada di masyarakat. Hasil identifikasi permasalahan yang ada
di masyarakat dapat dijadikan sebagai bukti empiris untuk mendukung penelitian
dan pengembangan produk yang akan dilakukan. Tahapan yang dilakukan adalah
sebagai berikut.

a. Validasi Kesenjangan Kondisi Nyata dan Kondisi Ideal (Validate the


Performance Gap)
Tahap ini untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dilapangan yaitu
dilakukan dengan observasi awal, kegiatan wawancara terstruktur kepada
masyarakat pulau Poteran dan Gili Labak. Berdasarkan hasil identifikasi
permasalahan, telah diperoleh informasi bahwa ada permasalahan yang ditemukan
yaitu tidak adanya media yang berisikan informasi mengenai decapoda yang dapat
digunakan oleh masyarakat untuk mengetahui tentang decapoda dan
pelestariannya.
Hasil wawancara dengan masyarakat ditemukan bahwasanya selama ini
nelayan yang menangkap decapoda tidak mengetahui tentang aturan dalam
penangkapan decapoda yang diatur oleh pemerintah . Hal ini menunjukkan bahwa
tidak adanya sosialisasi atau informasi pada masyarakat khusunya para nelayan
tentang aturan penangkapan decapoda. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan
menunjukkan sikap dan perilaku masyarakat jauh dari pelestarian decapoda yaitu
ditemukan banyak spesies decapoda yang ditangkap tidak memperhatikan umur,
alat tangkap yang digunakan dapat mengancam keberlangsungan decapoda pada
khususnya dan ekosistem laut lainnya dan aktivitas penduduk dapat menggangu
ekosistem laut seperti limbah dan sampah rumah tangga yang dibuang ke laut.
38

b. Menentukan Tujuan Pengembangan (Determine instructional goal)


Tahap ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ditemukan
di lapangan. Penentuan tujuan pengembangan ini dilakukan agar produk yang
dihasilkan dari kegiatan pengembangan ini dapat digunakan untuk membantu
masyarakat dalam melakukan pelestarian decapoda dengan meningkatkan sikap
dan perilaku pelestrian terhadap decapoda.

c. Menentukan Konfirmasi Sasaran Pengembangan (Confirm the intended


audience)
Tahap ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakter yang dimiliki oleh
masyarakat sehingga produk yang dikembangkan sesuai dengan keadaan yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Sasaran yang dituju yaitu masyrakat pulau Poteran
dan Gili Labak yang berasal dari beranekaragam latar belakang pendidikan
sehingga produk yang dikembangakan harus mudah dipahami sesuai dengan
karakter subjek yang dituju sehingga mampu menutup kesenjangan atau sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai pada pengembangan tersebut.

d. Komponen yang Dibutuhkan (Identify required resources)


Tahap ini untuk mengidentifikasi semua jenis sumber daya yang akan
dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh proses dalam kegiatan pengembangan
ini. Produk yang akan dikembangakan berupa media booklet yang dapat
digunankan untuk penyuluhan pelesatarian decapoda. Booklet peletarian decapoda
bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pelestarian decapoda
pada masyarakat pulua Poteran dan Gili Labak.
Berdasarkan paparan sebelumnya dapat dirumuskan komponen isi yang
dibutuhkan dalam produk booklet diantarnya adalah pengenalan decapoda dan
cara hidup decapoda untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat tentang apa
itu decapoda dan bagaimana cara hidupnya, Jenis-jenis decapoda yang dapat di
temukan di pulau Poteran dan Gili Labak, peraturan mengenai penangkapan
decapoda sehingga masyarakat mengetahui aturan yang ada tentang penangkapan
untuk dapat diterapkan dalam melakukan aktivitas penangkapan decapoda yang
dilakukan, penjelasan mengenai perlunya pelestarian decapoda, Penyebab
39

terjadinya penurunan populasi decapoda dan cara menjaga pelesatarian decapoda


untuk memberikan petunjuk pada masyarakat tentang pelestarian decapoda dan
gambaran decapoda yang terdapat di pulau Poteran dan Gili Labak, sehingga
dengan paparan materi tersebut diharapakan dapat memberikan kesadaran sikap
dan prilaku dalam melakukan pelestarian decapoda.

e. Hasil Penentuan Sistem Pengantar yang Potensial


Tahap ini dilakukan untuk menganalisis produk yang akan dikembangkan
guna mengatasi masalah yang ada, selanjutnya dipilih produk yang memiliki
potensi besar untuk mengatasi masalah yang ada. Berdasarkan permasalahan yang
ada dilapangan dan disesuakan dengan karakter masyarakat, maka dapat
ditentukan bentuk produk yang sesuai. Produk yang akan dikembangakan adalah
booklet pelesatarian decapoda untuk membantu dan membelajarkan masyarkat
dalam membangun kesadaran pelestarian decapoda.
Pemilihan media booklet peletarian decapoda untuk masyarakat didasarkan
pada beberapa faktor, pertama booklet merupakan media yang praktis dan mudah
disimpan, kedua dengan adanya booklet pelestarian decapoda masyarakat dapat
belajar secara mandiri sehingga menambah wawasan dan pengetahuan
masyarakat terhadap decapoda, di dalam booklet terdapat jenis-jenis decapoda
yang ditemukan di lapangan dan gambran keberadaan decapoda yang ada di pulau
Poteran dan Gili Labak sehingga informasi yang ada kontekstual dan menambah
daya tarik. Booklet juga memuat informasi mengenai peraturan penangkapan
decapoda sehingga masyarkat tidak hanya memahami tetang karakter decapoda
saja, tetapi juga dapat mengetahui aturan yang ada tentang penangkapan,
dilengkapi dengan pengenalan, pelestarian serta faktor-faktor penyebab
kepunahan suatu komunitas khususnya decapoda

f. Menetukan Perencanaan Pengembangan (Compose a project management


plan)
Tahap ini adalah melakukan perencanacana dari seluruh kegiatan
pengembangan yang dilakukan. Perencanaan kegiatan pengembangan dapat
dilihat pada Tabel 3.2.
40

Tabel 3.2. Rancangan pelaksanaan pengembangan


2018
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November
Seluruh
kegitan
Analisis
Design
Develop
Implementasi
Evaluasi

2. Merancang (Design)
Tahap design dilakukan dengan kegiatan perancangan booklet. Langkah-
langkah kegiatan yang akan dikembangkan. Kegiatan yang dilakukan dalam
merancang booklet pelesetarian decapoda sebagai berikut.

a. Penyusunan Daftar Komponen Dalam Produk


Tahap ini dilakukan mengatur konten sehingga dapat membangun
kesadaran masyarakat terhadap pelestarian decapoda dan ketrampilan sesuai
tujuan instruksional. Penyusunan komponen booklet yang meliputi komponen isi
dan konstruk. Komponen dalam booklet meliputi : (a) bagian awal booklet
meliputi : cover, sub judul, penyusun dan kata pengantar, (b) bagian inti meliputi :
Mengenal decapoda, Jenis-jenis decpoda yang di temukan di Pulau Poteran dan
Gili Labak peraturan pemerintah dalam penangkapan decapoda, mengapa
decapoda perlu di lestarikan, penyebab terjadinya penurunan populasi decapoda,
upaya pelestraian atau cara menjaga populasi decapoda, cara pengukuran
decapoda berdasarkan peraturan yang temuat dalam PERMENKP No. 56 tahun
2016, dan peta persebaran decapoda di pulau Poteran dan Gili Labak.

b. Menyusun Tujuan Pengembangan


Penyusunan tujuan dari pengembangan produk dengan cara meilihat tiga
komponen yaitu, pertama melihat bagaimana kemampuan (pengetahuan) dari
masyarakat yang akan di terapkannya produk, kedua melihat kondisi yang ada
atau fakta lingkungan, dan ketiga melihat kriteria yang seharusnya kemudian
dibandingkan dengan kondisi dilapangan sehingga dapat di tentukan tujuan dari
41

pengembangan yang dilakukan. Berdasarkan permasalahan yang ada dilapangan


maka tujuan pengembangan produk berupa booklet pelestarian decapoda sebagai
bahan untuk membelajarkan masyarakat dalam membangun kesadaran untuk
melakukan pelestarian decapoda, dengan harapan dapat meningkatkan sikap dan
perilaku masyarakat terhadap pelestarian decapoda.

c. Menyusun Strategi Pengujian


Tahap ini dilakukan untuk menyusun strategi dalam pengujian produk
yang dikembangkan. Pengujian yang dilakukan merupakan bagian integral dari
penerapan produk pengembangan ini yang akan memberikan umpan balik apakah
produk yang dikembangkan mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun
strategi yang digunakan dalam tahap ini yaitu ada tiga macam diantaranya :
lembar validasi booklet pelestarian decapoda; yang tediri dari lembar validasi ahli
materi dan lembar validasi ahli media, lembar angket tanggapan masyarakat.

3. Mengembangkan (Develop)
Tahap ini adalah untuk mengembangkan produk yang telah dirancang
sebelumnya dan kemudian dilakukan kegiatan validasi oleh ahli kemudian hasil
dari validasi digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan produk menjadi
lebih baik. Beberapa tahapan yang dilakukan yaitu sebagai berikut.

a. Menghasilkan Konten
Tahapan ini menyusun dan menggali konten yang dibutuh dalam produk
booklet pelestarian decapoda. Penyajian isi dan gambar dalam booklet bersifat
kontekstual dengan menyajikan decapoda yang ditemukan di pulau Poteran dan
Gili Labak atau decapoda yang menjadi mata pencaharian masyarakat dan
gambaran decapoda yang terdapat di pulau Poteran dan Gili Labak, maka
dilakukan kajian penelitian deskripsi eksploratif dengan tahapan sebagai berikut.

1) Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk
memberikan gambaran atau mendeskripsikan keadaan obyek atau permasalahan
42

tanpa ada maksud untuk membuat kesimpulan dan generalisasi. Penelitian ini
dilakukan untuk mengidentifikasikan jenis-jenis Decapoda yang ada di pulau
Poteran dan Gili labak Madura

2) Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan 31 Mei - 7 juni 2018 di daerah pasang
surut pantai Pulau Poteran desa Palasa dan Gili Labak. Penentuan titik
pengamatan berdsarkan kondisi pasang surut dari surve yang telah dilalukan.

3) Pengambilan Sampel
Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan ordo
Decapoda yang ditemukan dalam penelitian di daerah pasang surut pantai di pulau
poteran dan Gili Labak. teknik pengambilan sampel dengan system transek
dengan penentuan ukuran petak transek berdasarkan hasil pengamatan dan
perhitungan kurva spesies area, maka didapkan ukuran petak 4 x 4 meter dengan
langkah-langkah selanjkutnya sebagai berikut.
a. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, maka pembuatan transek
dilakukan sesuai dengan garis surut pantai terjauh dan garis pasang terdekat
yaitu ± 100 m
b. Pada daerah pengamatan dibuat 4 transek dalam setiap transek terdiri dari
beberapa plot yang berukuran 4x4 m2. jarak antara masing-masing transek 100
m dan jarak antara masing-masing plot dalam stasiun 10 m.
c. Mengukur kondisi lingkungan abiotik dan mencatat
d. Mencatat, mengidentifikasi dan memotret Decapoda yang ditemukan pada
setiap plot.
e. Mengambil sampel decapoda untuk diawetkan dan diidentifikasi lebih lanjut
dan diberi kode.
43

DAERAH PENGAMATAN
----------------------------------Garis Tepi Pantai---------------------------------------
--------------------------------Batas Surut Terdekat------------------------------------
---100 m--- ---100 m--- ---100 m---
TRANSEK 1 TRANSEK 2 TRANSEK 3 TRANSEK 4

Plot 1 Plot 1 Plot 1 Plot 1

10 m 10 m 10 m 10 m

Plot 2 Plot 2 Plot 2 Plot 2

10 m 10 m 10 m 10 m

Plot 3 Plot 3 Plot 3 Plot 3

10 m 10 m 10 m 10 m

Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4

---------------------------------Batas Surut Terjauh -----------------------------------


Gambar 3.1 Denah Transek Pengambilan Sample Penelitian
Sumber : Metode sampling bioekolgi, fachrul (2012).
4) Alat dan Bahan
a. Penggaris i. Buku tulis
b. Rolmeteran j. Jaring net
c. Tali raffia k. Ember
d. Kamera DSLR l. Kertas label
e. Pasak berukuran 1 meter m. Termometer
f. Kantong plastic ukuran 1 Kg n. Refragtometer
g. Pisau o. PH meter
h. Alat tulis p. Alkohol 70%
44

5) Analisi Data
 Keanekaragaman
Untuk pengolahan data keanekaragaman digunakan rumus Shanon Wiener
(Koesoebiono, (1987) dalam facrul 2012), yaitu;
𝒏𝒊 𝒏𝒊
𝑯′ = −∑ 𝒍𝒏
𝑵 𝑵
Keterangan :
H’ : Nilai Indek keanekaragaman
ni : Proporsi jumlah individu spesies ke –i (ni) terhadap total individu
(N) : (ni/N).
N : Jumlah Individu total semua spesies
Nilai indeks keanekaragaman (Shanon-Wiener) mempunyai beberapa
kategori menurut (Hardjosuwarno (1990) dalam Darojah, 2005), dibagi
menjadiempat kriteria berdasarkan kondisi diversitas fauna bentik dengan kisaran:
H’ > 3,0 : Keanekaragaman sangat tinggi.
H’ 1,6–3,0 : Keanekaragaman tinggi.
H’ 1,0–1,5 : Keanekaragaman sedang.
H’ < 1 : Keanekaragaman rendah.

 Kemerataan
Indeks kemerataan dapat diketahui dengan cara membandingkan
keanekaragaman dengan nilai maksimum (Fachrul 2012), yang dinyatakan
sebagai berikut:
𝑯′ 𝑯′
𝑬= = =
𝑯′ 𝒎𝒂𝒌𝒔 𝒍𝒏 (𝒔)
Keterangan :
E : Indeks kemerataan
H’ : Indeks keanekaragaman
S : Jumlah keseluruhan spesies
45

Nilai indeks berkisar antara 0–1


E=0 : kemerataan antara spesies rendah, artinya kekayaan individu
yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda.

E=1 : kemerataan antarspesies relatif merata atau jumlah individu


masing-masing spesies relatif sama.

 Dominansi
Metode indeks dominansi ‘Simpson’s’ digunakan untuk mengetahui
adanya spesies jenis tertentu yang mendominansi habitat tertentu (Fachrul 2012),
dengan rumus:
(𝒏𝒊(𝒏𝒊 − 𝟏))
𝑫=∑
(𝑵(𝑵 − 𝟏)
Keterangan ;
D : Indeks dominansi Simpson.
ni : Jumlah individu spesies ke-i.
N : Jumlah total individu.
Indeks Dominansi antara 0–1
D = 0, berarti tidak terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya atau
struktur komunitas dalam keadaan stabil.
D = 1, berarti terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya atau
struktur komunitas labil, karena terjadi tekanan ekologis.

b. Mengembangkan Produk Sesuai Rancangan


Produk yang dikembangkan disesuaikan dengan rancangan yang telah
disusun sebelumya. Pengembangan dengan booklet pelestarian decapoda harus
mampu membangun dan meningkatkan kesadaran sikap, dan perilaku pelestarian
pada masyarakat tentang decapoda.

c. Mengembangkan Petunjuk Penggunaan


Tahapan ini menyusun langkah bagaimana produk pengembangan
digunakan atau disampaikan. Dengan demikian, ini merupakan sarana intervensi
46

dari produk booklet pelestarian decapoda terhadap kesadaran sikap, dan perilaku
masyarakat. pengembangan panduan dalam penggunaan booklet pelestarian
decapoda untuk masayarakat, dilakukan agar produk booklet yang dikembangkan
dapat digunakan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapakan.

d. Melakukan Revisi Formatif


Revisi formatif dilakukan untuk memperbaiki produk yang telah
dikembangkan sehingga produk menjadi layak untuk diimplementasikan. Revisi
formatif dilakukan setelah booklet divalidasi oleh validator, yaitu ahli materi dan
ahli media. Ahli materi dipilih untuk menilai validitas booklet adalah yang sudah
berpengalaman dalam bidang ilmu lingkungan. Ahli yang menilai kelayakan
booklet adalah ahli media, yaitu seorang yang berpengalaman dalam
pengembangan media, dan menilai keterbacaan booklet adalah subyek uji coba
yaitu masyarakat di pulau Poteran dan Gili Labak. Revisi dilakukan untuk
memperbaiki produk sesuai dengan saran dan komentar yang berikan oleh para
ahli validator dan subjek uji coba yaitu masyarakat.
Ada tiga Tahapan yang dilakukan dalam revisi formatif pada subjek uji coba,
yaitu diantaranya, uji coba perorangan atau secara individu yaitu pada ketua suku
masyakat, hal ini dilakukan untuk melihat ada tidaknya kesalahan atau perbaikan
yang paling dasar, kemudian dilanjutkan ketahap uji coba kelompok kecil yaitu
pada 6 orang kelompok masyarakat, dan selanjutnya uji coba lapangan yang
merupakan tahap akhir dari evaluasi formatif hal ini bertujuan untuk menentukan
apakah produk pengembangan dapat dimanfaatkan.

e. Melakukan Uji Coba Pendahuluan


Uji coba pendahuluan ini merupakan uji coba lapangan yang dilakukan
dengan skala kecil untuk mengetahui keterbacaan dari produk booklet yang telah
direvisi sebelumnya dan memberikan masukan untuk perbaikan. Uji keterbacaan
produk booklet dilakukan dengan pengisian angket validasi oleh masyarakat.

4. Menerapkan (Implementation)
Tahap ini peneliti menerapkan produk yang telah dikembangkan dan telah
direvisi untuk digunakan. Pada tahapan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat
47

keefektifan produk booklet yang dilihat dari ada tidaknya peningkatan sikap dan
manifestasi perilaku masyarakat Pulau Poteran dan Gili Labak tentang decapoda
dan pelestariannya. Hal ini merupakan sarana intervensi dari produk booklet
terhadap masyarakat yaitu dengan strategi penyampaiannya melalui penyuluhan
dengan teknik Rembuk warga (forum Grup Discussion).

5. Mengevaluasi (Evaluation)
Tahap evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahap pengembangan untuk
menjamin kualitas produk yang telah dikembangkan. Evaluasi akhir dilakukan
untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan dari pengembangan booklet yaitu
membelajarkan masyakat melalui penyuluhan dalam membangun kesadaran
pelestarian untuk meningkatkan sikap, dan manifestasi perilaku terhadap
decapoda dan pelesatriannya. Evaluasi kelayakan produk booklet yaitu pada
validator ahli materi dan media dilakukan dengan pemberian media dan lembar
validasi secara langsung untuk dinilai validitas produk booklet pelestarian
decapoda, sedangkan evaluasi keterbacaan oleh masyarakat dilakukan dengan
tatap muka langsung mendatangi secara perorang pada masyarakat.
Pelaksanaan evaluasi untuk melihat keefektifan produk booklet pelestarian
decapoda yaitu dengan pretes dan posttes. Pemberian angket pretes sikap dan
manifestasi prilaku pelestarian diberikan secara langsung sebelum dilakukan
penyuluhan mengggunakan booklet pelestarian decapoda. Pemberian angket
posttes dilakukan secara perorang dengan mendatangi satu-persatu masyarakat
yang ikut serta dalam penyuluhan yang telah dilakukan. Tahapan yang dilakukan
dalam tahap evaluasi sebagai berikut.
a. Menentukan Kriteria Evaluasi
Penentuan evaluasi dilakukan dengan kriteria kelayakan, keterbacaan dan
keefektifan. Kelayakan dari produk yang dikembangakan di nilai oleh validator
yaitu ahli materi dan media yang berupa data kualitatif dan kauantif. Data
kualitatif berupa saran dan komentar sedangkan data kuantitatif berupa hasil
perhitungan skor skala likert dengan menggunakan lembar validasi. Keterbacaan
dari produk yang dikembangkan ditentukan dari hasil angket respon masyarakat.
48

Keefektifan produk dilihat dari hasil tes evaluasi berupa angket tanggapan sikap
dan manifestasi prilaku sesudah dan sebelum diberikan produk booklet serta
melalui observasi langsung atau temuan positif terhadap pelestarian.
Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan,
dan keterbacaan, booklet pelestaraian decapoda dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.

1) Kriteria Kelayakan Booklet Pelestarian Decapoda


Kelayakan booklet yang dikembangakan berdasarkan hasil validasi oleh
validator berupa data kualitatif dan kauntitatif. Tingkat kelayakan produk booklet
dari hasil perhitungan disimpulkan dengan kriteria pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3.Penilaian Kualifikasi Validitas atau Kelayakan pada Booklet
Persentase Keputusan
100,00 % Sangat valid, dapat digunakan perlu perbaikan sangat
kecil
85,01% - 99,00% Valid, dapat digunakan namun perlu perbaikan kecil
70,01% - 85,00% Cukup valid, dapat digunakan namun perlu perbaikan
50,01% - 70,00% Kurang valid, perlu perbaikan besar
01,00% - 50,00% Tidak valid, tidak dapat digunakan
(Sumber: dimodifikasi dari Akbar, 2013)

2) Kriteria Keterbacaan Booklet pelestarian decapoda


Keterbacaan booklet pelestarain decapoda yang dikembangkan ditentukan
dari hasil angket. Data keterbacaan booklet berupa data kualitatif dan data
kuantitatif. Tingkat kelayakan produk booklet dari hasil perhitungan disimpulkan
dengan kriteria pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4. Penilaian Kualifikasi Keterbacaan Booklet
Persentase Keputusan
100,00 % Sangat Praktis, dapat digunakan pelu perbaikan sangat
kecil
81,00% - 99,00% Praktis, dapat digunakan namun perlu perbaikan kecil
61,00% - 80,00% Cukup praktis, dapat digunakan namun perlu perbaikan
41,00% - 60,00% Kurang Praktis, perlu perbaikan besar
21,00% - 40,00% Tidak Praktis, tidak dapat digunakan
00,00% - 20,00% Sangat tidak Praktis, tidak boleh digunakan
(Sumber: dimodfikasi dari Akbar, 2013)
49

3) Keefektifan Booklet pelestarian decapoda


Keefektifan booklet pelestaraiann decapoda yang dikembangkan dilihat
dari hasil peningkatan sikap dan manifestasi prilaku masyrakat terhadap decpoda
dan pelestariannya. Sikap dan perilaku masyakat diperoleh dari nilai angket sikap
dan observasi perilaku masyarakat sebelum dan sesudah diterapkannya produk
booklet yang telah dikembangkan yaaitu dari hasil pre-test dan post-test angket
sikap dan manifestasi prilaku One Group Prtest-Postest Desaign. Gain Score
yang diperoleh diinterpretasikan menjadi data kuantitatif deskriptif yang
menggunakan kriteria N Gain Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Kriteria Tingkat N Gain
G Keterangan
0,70 < g ≤ 1,00 Tinggi
0,30 < g ≤ 0,70 Sedang
0,00 < g ≤ 0,30 Rendah
(Sumber : Hake, 1999)

b. Memilih Alat Evaluasi


Evaluasi dilakukan dengan data kualitatif dan kuantatif. Data kualitatif berupa
saran dan komentar dari validator untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dalam memperbaiki produk booklet agar menjadi lebih baik dan layak digunakan
dalam membelajarkan masyarakat tentang decpoda dan pelestariannya. Data
kuantitatif dari validator diperoleh dari hasil perhitungan skor skala Likert yang
terdapat pada lembar validasi dan dianalisis dengan menggunakan rumus
persentase sebagai berikut.
∑𝑥
𝑃= 𝑋 100%
∑𝑥𝑖
Keterangan
P = Persentase kevalidan
∑X = jumlah skor keseluruhan jawaban per item
∑Xi = jumlah skor maksimal per item
100% = konstanta

Analisis data keefektifan booklet pelestarian decpoda dianalisis


menggunakan an Gain Score dengan rumus sebagai berikut:
50

g= %(Sf) - % (Si)
100 - %(Si)

Keterangan:
g : Gain
% Si : Persentase skor pre-test
% Sf : Persentase skor post-test
100 : Skor maksimal

c. Melakukan Evaluasi
Tahap ini dilakukan untuk melakukan evaluasi dengan menggunakan
instrumen dalam penelitian pengembangan booklet pelestarian decapoda ini, yang
terdiri dari lembar validasi, dan lembar angket tanggapan masyarkat dijelaskan
sebagai berikut.
1) Lembar validasi booklet pelestarian decapoda
Penyusunan instrumen lembar validasi akan digunakan dalam mengevaluasi
produk booklet yang dikembangkan. Lembar validasi terdapat dua macam yaitu
lembar validasi ahli materi dan ahli media. Instrumen validasi materi memiliki 3
aspek penilaian yaitu kesesuai isi, kriteria kelayakan isi, dan keterbacaan.
Instrumen validasi media memiliki aspek penilaian, desain sampul, keterbacaan,
penyajian dan desain sampul dan isi.
2) Lembar angket tanggapan masyarakat
Lembar angket tanggapan masyarakat digunakan untuk mengetahui
keterbacaan booklet pelestarian decapoda berdasarkan tanggpan masyarakat.
Angket tesebut memiliki 8 aspek penilaian topik, gambar dan warna, bahasa,isi,
pesan, Kegiatan dipelajari dengan mudah, menimbulkan keinginan dan penerapan
dapat mengatasi masalah.
3) Lembar tes keefektifan
Lembar tes keefektifan digunakan untuk mengetahui keefektifan booklet
pelestarian decapoda yag dikembangkan. Lembar tes sikap pelestrian berisi soal
pertanyaan dalam bentuk angket, dan perilaku pelestarian dalam bentuk angket
manifestasi perilaku pelestarian terhadap decapoda.