Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan
yang ditujukan kepada anak sejak lahir maupun sampai dengan umur 6
tahun yang dilakukan melalui suatu pemberian rangsangan berupa
pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
serta rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan yang
lebih lanjut. (Permendikbud, 2015:2)
Dalam Permendikbud Nomo 146 Tahun 2014 pasal 5 menjelaskan
tentang struktur kurikulum PAUD yang memuat program-program
pengembangan yang mencakup beberapa program pengembangan, yaitu
pertama adalah nilai agama dan moral yang mencakup terbentuknya suatu
perwujudan suasana belajar yang dapat membuat perkembangnya perilaku,
baik yang bersumber dari nilai agama dan nilai moral maupun dari
kehidupan bermasyarakat dalam suatu bentuk permainan. Kedua, adalah
fisik motrik yang mencakup suatu perwujudan suasana kegiatan untuk
membuat berkembangnya suatu kematangan kinestetik dalam konteks
bermain. Ketiga, adalah kognitif yang mencakup suatu perwujudan yang
dapat membuat berkembangnya kematangan dalam proses berpikir dari
konteks bermain. Keempat, adalah Bahasa yang mencakup suatu
perwujudan suasana yang bertujuan untuk berkembangnya kepekaan, sikap
dan keterampilan social serta berkembangnya kematangan emosi dalam
konteks bermain. Keenam, yaitu seni kognitif yang mencakup suatu
perwujudan suasana yang bertujuan untuk berkembangnya suatu eksplorasi,
ekspresi, serta apresiasi seni dalam suatu konteks bermain. (Dinda, 2017)
Anak Prasekolah adalah anak yang berusia antara usia 3-6 tahun,
serta biasanya sudah mulai mengikuti program presschool (Dewi,
Oktiawati, Saputri, 2015). Pada masa ini anak sedang mengalami masa
keemasan (the golden age) karena pada masa ini anak prasekolah
mengalami perkembangannya disertai dengan terjadinya pematangan
fungsi-fungsi fisik dan psikis sehingga mereka dapat dengan cepat
merespon berbagai aktivitas maupun kejadian yang terjadi pada lingkungan
sekitarnya. Pada masa ini lah waktu yang tepat untuk mengembangkan
potensi anak maupun perkembangan dan kemampuan anak seperti motorik
kasar, halus, emosional serta psikis anak.Menurut Gardner dalam buku Yus
Anita (2012) masa anak prasekolah adalah masa dimana terjadinya
peningkatan kecerdasan dari 50% menjadi 80%. Pada masa ini peningkatan
kecerdasan dapat terjadi apabila lingkungan di sekitar anak mendukung
untuk memberikan rangsangan maupun stimulus kepada anak tersebut, jika
lingkungan sekitar anak tidak mendukung dalam pemberian rangsangan
maupun stimulus, maka otak anak tidak dapat berkembang secara optimal.
Berbagai masalah perkembangan anak, seperti keterlambatan
motorik, berbahasa, perilaku, austisme, hiperaktif dalam beberapa tahun
terakhir ini semakin meningkat, angka kejadian di Amerika Serikat berkisar
12-16%, Thailand 24%, Argentina 22%, dan di Indonesia antara 13-18%.
Melihat angka epidemiologi tersebut, maka diperlukan adanya deteksi dini
pada anak dengan gangguan perkembangan untuk mencegah terjadinya
keterlambatan penanganan. Apabila tidak ditangani dengan tepat, maka
gangguan ini dapat berlanjut hingga remaja atau dewasa (Ayu, 2013 dalam
Rizkia 2019).
Dilihat dari proporsi penduduk Indonesia sebesar 40% dari total
populasi yang ada, terdiri atas anak dan remaja yang berusia 0-16 tahun dan
sebanyak 13,5% anak Indonesia merupakan kelompok usia anak yang
beresiko tingggi mengalami gangguan perkembangan. Berdasarkan data
Ikatan Dokter Indonesia (IDAI, 2013) diperkirakan 5-15% anak mengalami
keterlambaatan perkembangan umum. (Setyaningsih, 2018)
Sesuai dengan profil data Kesehatan Indonesia pada tahun 2011
menyatakan bahwa di Indonesia jumlah anak prasekolah (3-5 tahun )
mencapai 8.269.856 anak dari jumlah penduduk sebesar 243.181.400.
sedangkan untuk wilayah Jawa Timur jumlah anak prasekolah mencapai
1.051.144 jiwa dari jumlah penduduk sebesar 37.742.356 jiwa. Berdasarkan
data dari dinas kependudukan kota Madiun jumlah anak prasekolah yang
berjenis kelamin perempuan sejumlah 530 (2,8%) dan yang berjenis
kelamin laki-laki sejumlah 557 (2,71%) dari jumlah penduduk 20.508 jiwa.
Dengan perkembangan kognitif anak terbagi menjadi 3 kelompok usia yaitu
2-3 tahun, 3-4 tahun dan 4-5 tahun. Rata-rata pencapaian skor
perkembangan kognitif anak usia 2-13 tahun yaitu sebesar 59%. Usia 3-4
tahun, rata-rata pencapaian skor perkembangan kognitif anak yaitu sebesar
56,4%. Dan rata-rata pencapaian skor perkembangan kognitif anak 4-5
tahun yaitu sebesar 57,2%. Secara keseluruhan sebanyak 61,1% anak usia
3-5 tahun mempunyai perkembangan kognitif rata-rata sebesar 50,6%
(Saputro, 2015)
World Health Organizations (WHO, 2009), melaporkan bahwa 5-
25% dari anak-anak usia prasekolah menderita disfungsi otak minor,
termasuk gangguan perkembangan motorik halus (Widati, 2012).
Sedangkan berdasarkan data dari Depkes RI (2006) menunjukkan bahwa
0,4 juta atau sekitar 16% usia prasekolah di Indonesia mengalami gangguan
perkembangan. Hal ini terjadi dipicu oleh kurangnya deteksi dini dan
kurangnya stimulasi yang diberikan untuk mendukung perkembangan
motorik halus. (dalam yuniarti, 2018)
Perkembangan kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu suatu
kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan
mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Ahmad Susanto (2011:
48). Jadi perkembangan kognitif adalah suatu proses yang melibatkan
kecerdasan (intelegensi) yang ditandai dengan kemampuan dalam
mengingat, berfikir serta mengembangkan ide-ide dalam hal belajar. Tujuan
perkembangan kognitif yaitu agar anak mampu mengembangkan persepsi
dalam hal mengingat, berfikir, mengenal simbol, dapat melakukan
penalaran serta memecahkan masalah yang ada.
Motorik halus yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan
anak untuk melakukan gerakan pada bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cepat.
(Lindya, 2008) Sedangkan menurut Yudha M, Saputra dan Rudiyanto
menjelaskan bahwa mottorik halus adalah kemampuan anak dalam
beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil) seperti menulis,
meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan
kelereng. (dalam Afandi, 2019)
Alat permainan Edukatif adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan
sarana bermain yang sekaligus bermanfaat bagi perkembangan anak. Dalam
istilah lain alat permainan edukatif yaitu segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk anak belajar melalui aktivitas bermain. (Fadhillah, 2019)
Menurut Ismail (2011:199) Puzzle adalah permainan yang
menyusun suatu gambar atau benda yang telah di pecah dalam beberapa
bagian. Cara memainkan Puzzle adalah memisahkan kepingan-kepingan
yang dipisahkan lalu digabungkan kembali dan terbentuk menjadi sebuah
gambar. Dengan memainkan Puzzle anak usia dini dapat melatih kecerdasan
inteligensi anak, sebab permainan ini anak benar- benar terpacu kemampuan
berfikirnya untuk dapat menyatukan kembali posisi gambar pada tempatnya
yang sesuai. Ada banyak jenis permainan Puzzle salah satunya yaitu Puzzle
logika, dengan menggunakan Puzzle logika guru dapat menstimulasi
perkembangan kognitif anak dengan cara mengajak anak bermain Puzzle .
Dengan demikina anak mampu mengembangkan kemampuan kognitif yang
berhubngan dengan posisi, warna dan arah, mampu menyusun Puzzle
dengan jumlah 7-12 kepingan secara acak, mampu menentukan letak
kepingan Puzzle secara benar dan sesuai, mampu menyelesaikan kepingan
Puzzle menjadi bentuk utuh, mampu menyusun kepingan Puzzle tiga tingkat
dengan benar dan sesuai. (dalam Dinda, 2017)
Untuk mengetahui tahap perkembangan anak diperlukan deteksi
dini tumbuh kembang (DDTK). Deteksi dini pada anak prasekolah
dilakukan dengan menggunakan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan
(KPSP)/ DDST. KPSP/ DDST dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
(Dokter, Bidan dan Perawat) sesuai dengan standar yang ada (Depkes RI,
2010, dalam Erni, 2018 ).
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan suatu
penelitian mengenai pengaruh terapi bermain : puzzle terhadap
perkembangan motorik halus dan kognitif anak pada Pendidikan Anak Usia
Dini

B. Identifikasi Masala
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Guru kurang menggunakan media pembelajaran.
2. Kemampuan kognitif anak belum berkembang.
3. Kurangnya alat permainan edukatif (APE) anak.
4. Metode yang digunakan belum variatif.
5. Anak sibuk dengan kegiatannya sendiri ketika belajar.
6. Guru cenderung hanya kepada anak yang bisa (berkembang).
7. Keadaan kelas kurang kondusif untuk kegiatan belajar.
8. Guru tampak kurang menguasai kelas.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini hanya
membatasi pada pengaruh permainan puzzle terhadap perkembangan
motorik halus dan kognitif pada Pendidikan Anak Usia Dini

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan
masalah dari penelitian ini ialah: Apakah ada pengaruh permainan puzzle
terhadap perkembangan motoric halus dan kognitif pada anak Pendidikan
Anak Usia Dini

E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh permainan puzzle terhadap
perkembangan motorik halus dan kognitif pada Pendidikan Anak Usia Dini
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini disusun dengan harapan dapat memberi manfaat antara lain:
1. Manfaat Teoritis
penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai
pengaruh permainan puzzle terhadap perkembangan motorik halus dan
kognitif pada Pendidikan Anak Usia Dini.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti: peneltian ini dapat dijadikan sarana dalam
meningkatkan pengetahuan metode penelitian dan sarana
menerapkan langsung teori yang didapat di bangku kuliah dalam
kegiatan pembelajaran nyata.
b. Bagi Orang tua: peneltian ini diharapkan agar orang tua dapat
menerapkan sekaligus menstimulasi anak didik secara tepat
sehingga seorang anak dapat memiliki kecerdasan yang optimal.
c. Bagi Guru: Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber
informasi untuk mengetahui pengaruh permainan puzzle terhadap
perkembangan motorik halus dan kognitif pada anak Pendidikan
Anak Usia Dini
d. Bagi Siswa: Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
perkembangan motorik halus dan kognitif melalui permainan puzzle
pada anak
e. Bagi sekolah: Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam upaya
pengadaan inovasi pembelajaran bagi guru-guru lain dan juga
memotivasi mereka untuk selalu melakukan inovasi untuk
menemukan permainan-permainan dalam pembelajaran yang paling
tepat dan afektif.
f. Bagi Pembaca: Skripsi ini dapat dijadikan sebagai penambahan
wawasan dan dapat menjadi bahan referensi atau acuan penelitian
bagi penulis selanjutnya, khususnye mahasiswa Pendidikan Anak
Usia Dini