Anda di halaman 1dari 18

TUGAS INDIVIDUAL MATA KULIAH

MANAJEMEN KEUANGAN STRATEJIK


Widiananda Prabowo (196020200111027)

1. Soal : Berikan contoh skema pendanaan pemberian kredit !


Jawaban :
Disini akan dibahas tentang Corporate Credit Card atau kartu kredit di instansi pemerintahan
sebagai salah satu aspek yang memerlukan pendanaan dalam kredit.

Tentu anda sebagai pegawai pemerintah maupun sebagai masyarakat umum masih
sering mendengar adanya keluhan atas masalah ketersediaan atau kesiapan uang di bendahara
instansi pemerintah. Misalnya kas lagi kosong, uang masih di bank, uang belum cair dari kas
negara, dan sebagainya. Hal inilah yang acap kali menyebabkan rencana pengadaan barang/
jasa atau perjalanan dinas bermasalah dan mengganggu kegiatan kantor. Bahkan dalam skala
yang material dapat menjadi masalah besar kalau itu terjadi di kantor instansi penting,
misalnya Kantor Sekretariat Kepresidenan, Mabes Polri , KPK dan kantor/satker besar yang
membutuhkan operasional dan biaya perjalanan dinas besar. Itulah yang melatar belakangi
inisiasi pelaksanaan pembayaran melalui Kartu Kredit Pemerintah.
Selain itu, penggunaan kartu kredit dalam transaksi keuangan negara dilaksanakan
juga dengan tujuan untuk meminimalisasi penggunaan uang tunai dalam transaksi keuangan
Negara, mengurangi cost of fund/idle cash dari penggunaan uang persediaan (UP) satuan
kerja pemerintah yang nilainya sekitar Rp 9 Triliun per bulan, sekaligus meningkatkan
keamanan dalam bertransaksi dan mengurangi potensi fraud dari transaksi secara tunai seperti
kasus-kasus penggelapan uang kas oleh pengelola keuangan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa Penggunaan kartu kredit
pemerintah Ini akan memudahkan pelaksanaan kegiatan tanpa membuat pejabat satker
terburu-buru mencairkan anggaran atau mendapatkan uang persediaan sekaligus lebih
akuntabel karena tiap pengeluaran ada catatannya, demikian disampaikan pada saat membuka
Rapat Koordinasi Nasional Pelaksanaan Anggaran Kementerian/Lembaga Tahun 2018 di
Kementerian Keuangan, Jakarta belum lama ini.
Kartu kredit pemerintah adalah sejenis kartu korporat (corporate card). Mungkin ada
sebagian dari anda yang telah mengenal istilah kartu kredit korporasi. Kartu kredit ini
diterbitkan oleh pihak penerbit kepada nasabah korporasi mereka.
Apa yang berbeda dengan kartu plastik jenis ini? Kartu kredit korporasi membantu biaya
kegiatan/bisnis yang terpisah dari pengeluaran pribadi. Selain itu, kartu ini memungkinkan
perusahaan/badan usaha/kantor/satker untuk melacak semua pengeluaran yang terkait dengan
kegiatan/bisnis. Kartu plastik ini juga memungkinkan pemegang kartu untuk menggunakan
kredit berulang untuk melunasi biaya operasional dan biaya lainnya. Selain manfaat diatas,
kartu kredit pemerintah juga memperbolehkan nasabah untuk mencantumkan logo atau
identitas kantor atau satker. Kartu kredit pemerintah diterbitkan Bank HIMBARA (Himpunan
Bank Milik Negara yakni BNI, Mandiri, BRI dan BTN) untuk kepentingan satuan kerja
dalam rangka belanja barang atas beban APBN.
Pimpinan satker juga berhak menentukan spend limit sesuai dengan batas kemauan
kantor/satker. Itu berarti kartu kredit pemerintah memungkinkan pegawai lebih mudah
menggunakannya, karena ini bisa lebih tinggi limitnya dibandingkan kartu kredit individual.
Namun perlu diketahui pengguna kartu kredit pemerintah tidak dapat melakukan penarikan
tunai. Plafon tiap kartu kredit pemerintah dipatok antara Rp 20 - 200 juta untuk masing-
masing pemegang kartu. Plafon atau limit yang dimiliki oleh pemegang kartu pada satker di
kementerian atau lembaga, disesuaikan dengan uang persediaan pada masing-masing satker.
Kartu kredit pemerintah memberi kemudahan bagi para pejabat pengadaan / pelaksana
kegiatan. Dalam memenuhi kebutuhan barang atau jasa kantor maka Pejabat pengadaan/
pelaksana kegiatan bila rekanannya yang telah memiliki alat EDC dari bank, ketika
bertransaksi terjadi tinggal gesek. Tidak perlu bawa uang tunai. Termasuk untuk belanja
online. Maraknya situs e-commerce dengan menawarkan berbagai produk, yang dapat
diakses melalui komputer maupun telepon pintar (smartphone) memudahkan pemegang kartu
kredit pemerintah memenuhi kebutuhan dengan waktu yang relatif cepat. Lantaran situs
belanja online menyediakan fasilitas pembayaran dengan kartu kredit. Pembayaran dengan
cara ini akan memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk transaksi belanja barang keperluan
operasional kantor sehari-hari yang nilainya dibawah Rp.50 juta dalam satu transaksi.
Pembayaran dengan UP secara teknis dapat digantikan dengan alat pembayaran non
tunai berupa Kartu Kredit Pemerintah. Pemegang kartu kredit pemerintah adalah pejabat yang
berwenang melakukan pembayaran atas beban APBN. Kartu kredit pemerintah ini dapat
digunakan untuk memenuhi belanja keperluan operasional: pembayaran belanja keperluan
perkantoran, belanja pengadaan bahan makanan, belanja bahan, belanja barang persediaan
barang konsumsi, belanja sewa, belanja barang persediaan pemeliharaan gedung dan
bangunan, belanja bahan bakar minyak dan pelumas (BMP) dan pelumas khusus non
pertamina, belanja barang persediaan pemeliharaan peralatan dan mesin. Untuk permulaan,
kartu kredit pemerintah dapat digunakan untuk transaksi terkait pelaksanaan perjalanan dinas,
misalnya untuk pembayaran tiket, penginapan di hotel atau tempat menginap lainnya dan
sewa kendaraan dalam kota.
Dengan skema kartu kredit pemerintah ini, pejabat satker tidak terburu-buru
mencairkan anggaran atau mendapatkan uang persediaan dari bendahara. Penggunaan kartu
kredit diharapkan lebih akuntabel karena tiap pengeluaran ada catatannya. Struk (bukti
pembayaran) dari mesin EDC, Daftar pesanan, Invoice dari belanja online dan tagihan kartu
kredit dapat digunakan sebagai data sumber SPJ atas pembebanan anggaran. Bukti transaksi
tersebut akan dibandingkan dengan tagihan dari bank yang disampaikan melalui email.
Tagihan/billing beserta struk dan bukti transaksi lainnya disampaikan kepada Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) untuk dilakukan pengujian. Apabila disetujui untuk dibayar maka
akan diterbitkan Surat Perintah Bayar (SPBy) kepada bendahara. Pembayaran kepada pihak
bank akan dilakukan dengan cara online menggunakan CMS yang disediakan bank.
Penerapan transaksi pembayaran dengan menggunakan kartu kredit ini sejalan dengan
Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor 17/PB/2017 tentang Uji Coba Pembayaran Dengan
Kartu Kredit Dalam Rangka Penggunaan Uang Persediaan. Dalam pelaksanaannya Satker
melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan meminta penerbitan kartu kredit pemerintah
kepada bank tempat rekening Bendahara pengeluaran dibuka (bank mitra).
Kartu kredit pemerintah cara pembayaran yang baru. Sesuatu yang baru selalu
memerlukan penyesuaian dalam menerimanya. Dibutuhkan kerjasama antara pembuat
kebijakan dan pelaksana kebijakan. Tidak kalah penting, perlu kehati-hatian saat persetujuan
penerbitan bagi para pemegang kartu terutama dalam memastikan penggunaannya. Peran
perbankan tidak sebatas menarik nasabah namun juga harus gencar melakukan pengawasan
agar kartu tersebut tidak disalahgunakan. Berikut ini adalah skema implementasi kartu kredit
pemerintah:
2. Soal : Jelaskan Pernyataan “Manajemen Kredit Sebagai Salah Satu Strategi
Perusahaan” !
Jawaban :

Dibawah ini akan dijelaskan fungsi bank sebagai salah satu lembaga pendanaan kredit di
Indonesia

Banyak perusahaan penyalur kredit kepada masyarakat yang tumbuh di Indonesia saat
ini, bahkan kadang pelayanannya jauh lebih baik dari pernbankan.Apakah bank tidak
melakukan hal yang tepat untuk memberikan pelayanan kredit kepada masyarakat sehingga
banyak lembaga keuangan lain yang tumbuh seperti jamur? Sebenarnya, hampir semua bank
menerapkan manajemen kredit untuk mengatur penyaluran kredit kepada masyarakat yang
membutuhkan. Kredit merupakan kegiatan penyediaan uang dari pihak bank kepada
masyarakat atau pihak yang membutuhkan dengan perjanjian dan kesepakatan kedua belah
pihak, dimana pihak peminjam harus melunasi hutang tersebut dengan ketentuan dan jangka
waktu yang telah ditetapkan bersama. Dalam hal kredit, bank harus memberiikan jangka
waktu pelunasan yang telah disepakati oleh peminjam. Sebelum bank menyerahkan uang
kepada peminjam, bank harus melakukan beberapa tindakan atau yang sering dilakukan bank
harus melakukan survey terlebih dulu tentang tingkat kelayakan calon nasabah yang akan
diberikan pinjaman dana. Jika dana yang akan disalurkan tersebut dalam jumlah yang besar,
bank harus menetapkan manajemen kredit yang benar-benar efektif dan aman. Lalu,
bagaiman jika bank tidak menerapkan manajemen yang baik untuk kredit atau penyaluran
dana mereka? Sebelumnya, mari kita mengenal lebih dekat tentang manajemen kredit bank,
manajemen kredit perbankan merupakan pengaturan penyaluran dana kepada masyarakat
agar tidak merugikan bank dan juag tidak membebani penerima kredit. Manjemen kredit
bank ini meliputi pengaturan berbagai macam jenis kredit yang disediakan oleh bank. Bank
bukan hanya menyediakan fasilitas saru jenis kredit, tapi banyak sekali jenis kredit yang
diberikan bank dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan perusahaan. Beberapa jenis
kredit yang disalurkan oleh bank diantaranya adalah kerdit investasi, kredit modal kerja, jika
dilihat dari waktunya, bank jugaa menerapkan jenis kredit yang berbeda. Dilihat dari segi
waktu jenis kredit yang disediakan oleh bank diantaranya adalah kredit jangka pendek, kredit
jangka menengah dan juga kredit jangka panjang. Semua jenis kredit tersebut harus diatur
dan dikontrol agar nanti tidak menimbulkan namanya kredit macet. Jika kemacetan kredit
terlalu banyak, perputaran uang bank akan terhambat dan ini akan berdampak buruk bagi
pendapatan bank. Dalam hal manajemen kredit bank bank harus menerapkan prinsip
pemberian kredit yang tepat dan aman.
Beberapa prinsip pemberian kredit perbankan diantaranya:

 Character
Untuk memberikan pinjaman kepada calon nasabah, bank harus mengetahui karakter atau
latar belakang mereka. Latar belakang ini bisa dilihat dari pekerjaan calon nasabah yang akan
diberikan kredit dan juga bisa dilihat dari latar belakang pribadi mereka.
 Capital
Bank juga harus melihat dan meneliti dengan benar tentang posisi keungan calon debitur,
apakah mereka memiliki modal sendiri yang besar atau mereka memiliki analisa rasio yang
baik. Analisa modal yang dilakukan oleh bank kepada calon debiturnya meliputi struktur
modal yang disetor, cadangan-cadangan dan juga laba ditahan.
 Capacity
Untuk mengetahui apakah calon nasabah mampu membayar kewajiban utang mereka pada
bank,bank harus melakukan analisa terhadap cash flow dan juga likuiditas calon nasalah
bersangkutan. Dengan mengetahui terlebih dulu tingkat kemampuan calon nasabah dalam
membayar kewajiban pada bank, bank akan lebih mudah memberikan besarnya pinjaman
pada mereka.
 Condition
Kondisi ekonomi calon debitur juga perlu diketahui oleh bank, hal ini merupakan bagian dari
manajemen kredit dalam rangka untuk mencegah kemacetan.
 Collateral
Bank harus menilai jaminan yang diberikan oleh calon nasabah saat mengajukan pinjaman.
Penilaian yang dilakukan oleh bank diantaranya adalah dengan menilai tingkat nilai jaminan
calon nasabah di masa depan dan juga tingkat kemudahan mengkonversikan jaminan tersebut
menjadi uang tunai.

Dari keenam prinsip pemberian kredit tersebut bank bisa menghindarkan dari NPL yang
terlalu tinggi.
Pada prinsipnya manajemen kredit perbankan memberikan kemudahan bagi bank
untuk mengelola kredit nasabah. Tanpa adanya manajemen kredit, pemberian kredit kepada
nasabah tidak akan berjalan dengan lancar. Pengaturan kredit ini juga meliputi bagaimana
perusahaan melakukan penyelidikan tentang berkas yang diajukan oleh calon nasabah,
apakah persyaratan kredit yang diajukan tersebut layak ataukah tidak. Kelayakan jaminan
calon nasabah harus benar-benar diperhatikan bank agar nantinya bisa menjadi jaminan saat
terjadi kemacetan pada nasabah bersangkutan.

3. Soal : Apakah Strategi Pemberian Kredit ini Layak Jika Didanai Dengan
Pinjaman (a. Pinjaman untuk Kredit . b. Kredit untuk Kredit)?
Jawaban :

a. Layak (menurut penulis), dikarenakan masih banyak masyarakat Indonesia yang


membutuhkan sistem pendanaan kredit, entah untuk memenuhi kebutuhan pribadinya,
maupun untuk menjalankan usaha bisnis yang dimilikinya. Lembaga pemberi pinjaman
sendiri juga menggunakan kredit sebagai salah satu strategi pemasaran dan strategi bisnis
yang digunakan dalam menjalankan usaha bisnisnya. Dikarenakan tidak semua orang
mempunyai modal dan biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu usaha maupun
memenuhi kebutuhannya, maka sistem kredit ini masih sangat dibutuhkan di Indonesia.
b. Layak (menurut penulis), dikarenakan kredit merupakan suatu keharusan yang harus
dibayarkan oleh pihak terhutang kepada pihak pemberi kredit. Jika hingga tenggat waktu
yang dijanjikan jumlah dana yang tersedia masih belum memenuhi jumlah tagihan kredit
yang ada, maka salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh perusahaan/perorangan adalah
membuka kredit baru untuk membayar tagihan kredit yang lama. Namun hal itu tentu harus
dipikirkan dengan sangat matang, mengingat hal tersebut akan menambah jumlah tagihan
yang dimiliki oleh perusahaan/perorangan tersebut dan apabila perusahaan/perorangan
tersebut hanya memiliki dana yang terbatas, tentunya hal ini akan menjadi beban di masa
depan. Ketersediaan dana, durasi pembayaran cicilan, tingkat suku bunga yang ditetapkan
oleh pihak pemberi kredit, dan besaran jaminan merupakan beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan jika akan membuka sebuah kredit yang baru. Di satu sisi, lembaga pemberi
kredit membutuhkan pelanggan untuk keberlangsungn bisnis mereka, dan di satu sisi,
masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan dana (yang biasanya berjumlah tidak
sedikit) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun untuk menjalankan usahanya. Jadi
sistem kredit di Indonesia masih sangat dibutuhkan oleh semua elemen, seperti apapun
bentuknya.
Strategi Bank dalam Memenangi Persaingan Bisnis melalui
Penguasaan Fintech
Pada era modern saat ini, manusia memiliki kehidupan dengan segala aktivitas yang
tidak pernah lepas dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi telah menyebabkan perubahan baik bidang sosial,ekonomi,maupun budaya yang
berlangsung dengan cepat. Dengan perkembangan teknologi yang sangat maju,bidang
financial juga memiliki perkembangan kearah yang lebih efisien dan modern. sistem
informasi teknologi ini berperan penting di dalam keberhasilan persaingan organisasi dengan
strategi yang mereka gunakan untuk bersaing. Strategi persaingan bisnis berbasis teknologi
informasi harus memiliki keselarasan dengan bisnis yang dijalankan oleh suatu perusahaan.
Penyelarasan strategi bisnis ini digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan
mengurangi biaya dalam proses kegiatan perusahaannya. Saat ini, hampir semua aspek
industri bisnis maupun jasa sudah menggunakan teknologi informasi secara kreatif untuk
mendapatkan keunggulan dalam persaingan. Perusahaan bersaing dengan produk atau
pelayanan pesaing dimana akan memberikan nilai yang lebih kepada pelanggan . Salah
satunya adalah dengan hadirnya FinTech. FinTech ini adalah singkatan dari Financial
Technologi, dimana teknologi ini merupakan salah satu bentuk penerapan teknologi
informasi dalam bidang keuangan. Dengan berkembang pesatnya FinTech saat ini, perbankan
pun tidak ingin kalah dan mulai meningkatkan sistemnya melalui penerapan FinTech ini,
sehinnga perbankan dapat bersaing dengan bisnis lainnya. Nah, disini kita akan membahas
lebih dalam mengenai perbankan, pengertian FinTech dan ruang lingkupnya, bagaimana
peranan FinTech dalam bisnis perbankan, serta bagaimana strategi bank dalam memenangi
persaingan bisnis melalui penguasaan FinTech.

A. Fungsi Bank
Kegiatan yang ada dalam bank ditentukan oleh fungsi -- fungsi yang melekat pada
bank tersebut. Menurut Undang -- Undang RI Nomor 10 tahun 1998 fungsi bank tersebut
diuraikan sebagai berikut :
 Fungsi pengumpulan dana, adalah dana dari masyarakat yang disimpan di bank yang
merupakan sumber dana untuk bank selain dana bank.
 Fungsi pemberian kredit, dana yang dikumpulkan dari masyarakat dalam bentuk tabungan,
giro dan deposito harus segera diputarkan sebab dari dana tersebut bank akan terkena beban
bunga, jasa giro bunga deposito, bunga tabungan, dan biaya operasional seperti gaji, sewa
gedung dan penyusutan.
 Fungsi penanaman dana dan investasi, biasanya mendapat imbalan berupa pendapatan modal
yang bisa berupa bunga,laba dan deviden.
 Fungsi pencipta uang, adalah fungsi yang paling pokok dari bank umum jika dilihat dari
sudut pandang ekonomi makro. Tetapi dari sudut pandang manajer bank, bahwa dengan
melupakan sama sekali fungsi ini tidak akan berpengaruh terhadap maju mundurnya bank
yang dipimpinnya.
 Fungsi pembayaran, transaksi pembayaran dilakukan melalui cek, bilyet giro, surat wesel,
kupon dan transfer uang.
 Fungsi pemindahan uang, kegiatan ini biasanya disebut sebagai pentransferan uang, yang bisa
dilakukan antar bank yang sama, dan antar bank yang berbeda.

B. Produk dan Jasa Bank


 Produk Bank Pada Sisi Passiva
Produk Bank pada sisi Pasiva adalah pengerahan dana. Dana-dana yang termasuk produk
bank pada sisi passiva adalah Giro, Tabungan, Deposito.
 Produk Bank Pada Sisi Aktiva
Produk bank pada sisi Aktiva adalah Perkreditan. Kredit-kredit yang termasuk produk bank
pada sisi aktiva adalah Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, Kredit Off Shore, Kredit On
Shore Kredit Cash Collateral, Kredit Profesi, Kredit Konsumsi, Kredit Sindikasi, Kredit-
kredit Program
 Jasa Bank
Selain menawarkan produk, bank juga menawarkan berbagai macam jasa yang mencakup
jasa perbankan dalam negeri dan jasa perbankan luar negeri. Pertama untuk Jasa Bank dalam
Negeri adalah Kiriman Uang dalam Negeri, Delegasi Kredit, Inkaso , Bank Guarantee, Surat
Keterangan Bank, Safe Deposit Box, Letter of Credit dalam Negeri , Kliring, Automated
Teller Machine, Kartu Bank, Fasilitas Online. Kedua untuk Jasa Bank Luar Negeri adalah
Transfer Luar Negeri, Draft, Collection, Garansi Bank, Traveller Cheks, Transaksi Ekspor/
Impor .
C. Kegiatan Usaha Bank
o Menghimpun dana dari Masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka,
sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
o Memberi kredit.
o menerbitkan surat pengakuan hutang.
o Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas
nama perintah nasabahnya.
o Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah.
o Menempatkan dana pada, meminjamkan dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank
lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wessel unjuk,
cek atau sarana lainnya.
o Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan
atau antar pihak ketiga.
o menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.
o melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak.
o Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat
berharga yang tidak tercatat dibursa.
o Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat.
o Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
o Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan
dengan Undang Undang tentang Perbankan dan peraturan perundangundangan yang berlaku.
o Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
o Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan,
seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring
penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
o Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit
atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik
kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
o Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.
o Melakukan kegiatan usaha bank berupa Penitipan dengan Pengelolaan/Trust.
D. Lingkungan Perbankan
Bank-bank beroperasi pada skala nasional maupun internasional. Dalam operasinya,
bank akan berinteraksi dengan sesama bank didalam negeri. Interaksi ini membentuk
lingkungan tersendiri menurut tingkat interaksinya. Lingkungan tersebut adalah lingkungan
internal, lingkungan eksternal, dan lingkungan internasional.
Pemahaman terhadap lingkungan perbankan sangat penting, sebab persaingan bank
akan terjadi pada masing-masing lingkungannya. Maksudnya adalah bila dalam lingkungan
internal, bank akan menghadapi persaingan antar bank, bila pada lingkungan eksternal maka
bank akan menghadapi persaingan dengan lembaga-lembaga keuangan non bank dan
merchant yang menjual secara kredit.
Sedangkan pada lingkungan internasional, bank akan menghadapi persaingan
internasional terutama dengan bank-bank luar negeri yang memberikan pinjaman kepada
debitur domestik, bank bersaing dengan lembaga keuangan non bank dari luar negeri yang
memberikan kredit kepada penduduk serta bank juga akan bersaing dengan pihak merchant
dari luar negeri yang menjual produk secara kredit.

E. Tantangan Perbankan Kedepan


 Kapasitas Pertumbuhan Kredit Perbankan yang Masih Rendah
untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam waktu lima tahun kedepan,
diperlukan pertumbuhan kredit perbankan yang cukup besar. Sementara itu, kemampuan
permodalan perbankan Indonesia saat ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit yang
cukup tinggi tersebut sulit dicapai jika perbankan nasional tidak memperbaiki kondisi
permodalan. Selain hambatan dalam hal permodalan bank, penyaluran kredit dalam banyak
hal juga terhambat oleh keengganan sebagian bank untuk menyalurkan kredit karena
kemampuan manajemen risiko dan core banking skills yang relatif belum baik, dan biaya
operasional yang relatif tinggi.

 Struktur Perbankan yang Belum Optimal


Belum optimalnya struktur perbankan di Indonesia ditandai oleh terkonsentrasinya struktur
perbankan hanya pada 11 bank besar (yang menguasai 75% aset perbankan Indonesia) namun
demikian bank-bank kecil dalam hal ini perlu mendapat perhatian karena selain jumlahnya
relatif banyak, bank-bank kecil tersebut juga memiliki cakupan usaha yang relatif sama
dengan bank-bank besar namun dengan kemampuan operasional manajemen risiko, dan
corporate governance yang relatif lebih terbatas. Demikian pula, dibandingkan dengan negara
lain, kepemilikan pemerintah Indonesia dalam perbankan Nampak cukup tinggi, bahkan
tertinggi dikawasan asia. Hal ini juga merupakan persoalan tersendiri terhadap struktur
perbankan karena dapat menimbulkan konflik kepentingan yang akan mengganggu efesiensi
pasar

 Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat Terhadap Pelayanan Perbankan Yang Dinilai


Oleh Masyarakat Masih Kurang
Kurangnya pemenuhan kebutuhan masyarakat atas pelayanan perbankan ditandai dengan
seringnya terdengar keluhan dari masyarakat mengenai kurangnya akses terhadap kredit dan
tingginya suku bunga kredit serta masih banyaknya praktik penyediaan jasa keuangan
informal. Pandangan masyarakat semacam ini cukup beralasan, karena walaupun kredit
korporasi dan UKM sudah mulai tumbuh, tingkat penetrasi kredit masih relatif rendah.
Selain itu , meningkatnya kompleksitas jasa dan produk keuangan sebagai akibat dari
globalisasi sektor keuangan juga memerlukan respon yang memadai dari berbagai pihak yang
terkait. Hal ini semakin penting mengingat masyarakat pengguna jasa keuangan khususnya
perbankan semakin menuntut kualitas pelayanan dan akses perbankan yang semakin tinggi.

 Pengawasan Bank Yang Masih Perlu Ditingkatkan


Pengawasan bank juga merupakan bidang yang memerlukan peningkatan dan
penyempurnaan. Hal ini disebabkan karena masih terdapatnya beberapa prinsip-prinsip
prudensial yang masih belum diterapkan secara baik, koordinasi pengawasan yang masih
perlu ditingkatkan, kemampuan sdm pengawasan yang belum optimal, dan pelaksanaan law-
enforcement pengawasan yang belum efektif. Secara keseluruhan, upaya peningkatan
kapabilitas pengawasan ini sejalan dengan usaha Bank Indonesia untuk menerapkan 25 bassel
core principles for effective banking supervision, termasuk meningkatkan sarana teknologi
pengawasan. Mengingat pengawasan bank merupakan bidang yang sangat dinamis dan luas
cakupannya, maka peningkatakan kualitas pengawasan merupakan upaya yang patut
dilaksanakan secara terus-menerus oleh bank Indonesia maupun oleh lembaga lainnya seperti
OJK pada saatnya nanti

 Kapabilitas Perbankan Yang Masih Lemah


Lemahnya kapabilitas perbankan ditandai dengan kurangnya corporate governanance dan
core banking skills pada sebagian besar perbankan sehingga diperlukan yang cukup mendasar
pada dua hal tersebut. Meskipun kapabilitas beberapa bank besar sudah cukup kuat, namun
kapabilitas perbankan secara umum masih dibawah internasional best practices. Demikian
pula kemampuan bank dalam merespons meningkatnya risiko operasional masih perlu terus
diperbaiki, terutama penekanannya pada pentingnya internal control dan kepatuhan terhadap
prinsip-prinsip prudensial

 Profitabilitas Dan Efisiensi Operasional Bank Yang Tidak Sustainable


Tingkat profitabilitas dan efisiensi operasional yang dicapai oleh perbankan pada umumnya
bukan merupakan profitabilitas dan efisiensi yang sustainable. Hal ini disebabkan oleh
lemahnya struktur aktiva produktif bank-bank. Margin yang diperoleh bank-bank semakin
mengecil karena adanya kecenderungan suku bunga yang menurun.

 Perlindungan Nasabah Yang Masih Harus Ditingkatkan


Perlindungan terhadap nasabah merupakan tantangan perbankan yang berpengaruh secara
langsung terhadap sebagian besar masyarakat kita. Oleh karena itu, menjaadi tantangan yang
sangat besar bagi perbankan dan Bank Indonesia serta Masyarakat luas untuk secara bersama-
sama untuk menciptakan standar yang jelas dalam membentuk mekanisme pengaduan
nasabah dan transparansi informasi produk perbankan.

 Perkembangan Teknologi Informasi


Kemajuan teknologi informasi ikut menambah tantangan yang dihadapi oleh perbankan.
Perbankan teknologi informasi menyebabkan semakin pesatnya perkembangan jenis dan
kompleksitas produk dan jasa bank sehingga risiko-risiko yang muncul menjadi lebih besar
dan bervariasi. Disamping itu, persaingan industry perbankan yang cenderung bersifat global
juga menyebabkan persaingan antar bank menjadi semakin ketat sehingga bank-bank
nasional harus mampu beroperasi secara lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi
informasi.

F. Pengertian FinTech dan Ruang Lingkup Fintech


Pengertian FinTech
Menurut definisi yang dijabarkan oleh National Digital Research Centre (NDRC),
FinTech adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi di bidang jasa finansial.
Kata FinTech sendiri berasal dari kata financial dan technology yang mengacu pada inovasi
finansial dengan sentuhan teknologi modern.
Konsep FinTech yang mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan
bidang finansial diharapkan bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis,
aman serta modern. Ada banyak hal yang bisa dikategorikan ke dalam bidang FinTech,
diantaranya adalah proses pembayaran, transfer, jual beli saham, proses peminjaman uang
secara peer to peer dan masih banyak lagi.

Mengapa Perlu Adanya Fintech :


Masyarakat tidak dapat dilayani industri keuangan tradisional:
 Perbankan terikat aturan yang ketat.
 Keterbatasan industri perbankan dalam melayani masyarakat di daerah tertentu.

Masyarakat mencari alternatif pendanaan selain jasa industri keuangan tradisional:


 Masyarakat memerlukan alternatif pembiayaan yang lebih demokratis dan transparan.
 Biaya layanan keuangan yang efisien dan menjangkau masyarakat luas.

Perkembangan FinTech di Indonesia Berdasarkan Sektor

Sumber: asosiasi Fintech Indonesia dan OJK


 Pelaku FinTech Indonesia masih dominan berbisnis payment (43%), pinjaman (17%), dan
sisanya berbentuk agregator, crowdfunding dan lain-lain.
 Besarnya potensi yang dimiliki membuat FinTech Perlu diberikan ruang untuk bertumbuh.
 Perlu pengaturan yang memadai mengingat risiko yang mungkin ditimbulkan.

Peran FinTech di Indonesia


 Mendorong pemerataan tingkat kesejahteraan penduduk.
 Meningkatkan Inklusi keuangan nasional.
 Mendorong kemampuan ekspor UMKM yang saat ini masih rendah.
 Membantu pemenuhan kebutuhan pembiayaan dalam negeri yang masih sangat besar.
 Mendorong distribusi pembiayaan Nasional masih belum merata di 17.000 pulau Indonesia.

Sinergi Bisnis FinTech


Untuk mengoptimalkan peran FinTech di Indonesia, maka perlu dibangun sinergi
bisnis FinTech dengan Industri Incumbents (Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank).
Upaya ini dapat ditempuh dalam beberapa bentuk antara lain : Pertama, kolaborasi jalur
informasi antara FinTech dan lembaga keuangan yang ada dengan memanfaatkan data
nasabah yang banyak dan jalur distribusi (distribution channel) yang sudah dibangun.
Pemanfaatan fungsi FinTech diharapkan dapat meningkatkan efisiensi bisnis bank dan
lembaga keuangan. Kedua, kolaborasi produk yang menjadi solusi bagi konsumen. Untuk
ini, pelaku FinTech bersama bank dan lembaga keuangan perlu melakukan proses desain
(desain thinking) untuk membuat produk (bundling product) yang bermanfaat bagi kedua
pihak. Sinergi ini bisa dilakukan oleh bank yang berbisnis inti di UMKM dengan FinTech
yang menyediakan platform UMKM digital.

Risiko yang Terdapat di Industri Fintech


Perlindungan Konsumen:
 Perlindungan dana pengguna (Potensi kehilangan maupun penurunan kemampuan finansial
baik yang diakibatkan oleh penyalahgunaan, penipuan, maupun forcemajeurdari kegiatan
FinTech).
 Pelindungan data pengguna Isu privasi pengguna FinTech yang rawan terhadap
penyalahgunaan data baik yang disengaja maupun tidak sengaja (serangan
hacker,malware,dll).
Kepentingan Nasional:
 Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT) (Kemudahan dan
kecepatan yang ditawarkan oleh FinTech menimbulkan potensi penyalahgunaan untuk
kegiatan pencucian uang maupun pendanaan terorisme).
 Stabilitas Sistem Keuangan (Perlu manajemen risiko yang memadai agar tidak berdampak
negatif terhadap stabilitas sistem keuangan).
Adapun tantangannya yaitu :
 Ratifikasi Peraturan dalam Mendukung Pengembangan FinTech (Adopsi peraturan terkait
tanda tangan (digital signature), E-Know Your Customer (E-KYC), E-rating dan penggunaan
dokumen secara digital sehingga dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh industri
FinTech).
 Koordinasi antar Lembaga dan Kementerian Terkait (Untuk mengoptimalkan potensi
FinTech dengan lingkungan bisnis (business environment) yang kompleks, maka perlu juga
dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga terkait. Dalam hal ini, OJK berinsiatif
untuk membentuk FinTech Advisory Committee).

G. Penguasaan Fintech Sangat Penting Dalam Bisnis Perbankan


Perkembangan Fintech di Indonesia
Saat ini dunia perbankan sedang menghadapi tantangan yang dipicu oleh
perkembangan teknologi dan tingginya ekspektasi konsumen sehingga perbankan
membutuhkan inovasi digital. Sebuah gelombang baru teknologi, seperti blockchain, API
(Application Programming Interface), hingga robo-advice merevolusi cara kita dalam
mengelola, mengontrol, dan mendistribusikan uang. Kita tidak perlu datang ke bank untuk
melakukan transaksi. Cukup dengan menggunakan aplikasi mobile banking melalui
smartphone, kita sudah dapat melakukan berbagai aktivitas perbankan.
Hampir setiap bidang industri keuangan merasakan disruption oleh teknologi baru ini,
sehingga memaksa sektor perbankan tradisional untuk mengevaluasi dan berinvestasi dalam
inovasi digital. Perubahan ini diharapkan mampu mendobrak anggapan klasik bahwa bisnis
perbankan adalah industri yang kaku karena terbentur sistem dan regulasi yang ketat.
Perubahan cara bisnis perbankan menjadi digital juga didorong munculnya
perusahaan rintisan teknologi finansial atau yang dikenal dengan fintech. Pertumbuhan
fintech mendorong indutsri perbankan untuk gesit dalam bertransformasi, karena jika industri
bisnis perbankan tidak gesit bertransformasi dalam penguasaan fintech, bukan tidak mungkin
bisnis perbankan akan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan rintisan teknologi
finansial (Fintech) yang telah banyak bermunculan.

H. Strategi Bank dalam Penciptaan Produk-Produk Perbankan Berbasis Fintech untuk


Memenangkan Persaingan Bisnis
Kolaborasi antara perbankan dan fintech menjadi esensi penting dalam kesuksesan
transformasi. Untuk menstimulasi lahirnya ide serta inovasi dalam teknologi keuangan,
perbankan membentuk beberapa program seperti program Finhacks yang diinisiasi PT. Bank
Central Asia (BCA).
Finhacks (Financial Hackathon) merupakan suatu program yang berbekal ide-ide
terbaru dan kerja sama antara pelaku industri dan developer TI. Melalui Finhacks ini
diharapkan akan hadir inovasi-inovasi digital yang menjadi solusi bagi dunia keuangan,
khususnya perbankan. Finhacks sendiri telah diselenggarakan sejak tahun 2016 lalu. Hampir
500 ide inovasi developer TI di seluruh Indonesia telah berhasil dijaring Finhacks dan
menghasilkan inovasi-inovasi sistem pembayaran menggunakan e-wallet.
Bank menyelenggarakan kompetisi bisnis bagi perusahaan startup fintech untuk
mempresentasikan produk-produk terkait fintech dengan harapan bank mendapatkan deal
flow berkualitas yang siap untuk dipasarkan. Contoh bank Mandiri mengadakan " Finspire"
Industri bank harus bisa menciptakan atau menghasilkan inovasi fintech yang dapat
menjawab tantangan. Diharapkan dapat tercipta inovasi teknologi layanan perbankan yang
lebih mudah, aman, dan menyenangkan bagi gaya hidup nasabah sehari-hari. Contoh :
BRIsat, Cimb Niaga ( One platform ), BNI kredit Digital. Dari sisi produk, Industri bank
mesti menciptakan produk-produk yang mampu bersaing dengan Produk-produk yang
ditawarkan fintech. Inovasi perbankan mesti menghadirkan branchless atau lembaga
keuangan tanpa kantor yang mampu menjangkau semua lapisan masyarakat.

ThinkLikeFintech
Salah satu alasan mengapa startup fintech terlihat gesit dan relevan adalah
keberaniannya untuk melakukan inovasi. Mereka tidak terpaku dengan caraberpikir
tradisional sehingga cepat tanggap menangkap dinamika yang terjadi di konsumen.
Keberanian ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh bank. Salah satu contohnya adalah yang
dilakukan salah satu bank asal Singapura yang mendirikan unit khusus dan fokus bergerak di
ranah digital. Yang menarik, unit dibangun di atas cara berpikir ala Silicon Valley dan bukan
Wall Street. Mereka lebih fokus menyediakan solusi perbankan yang user-oriented tanpa
terpaku dengan cara berpikir perbankan tradisional. Dengan begitu, solusi yang hadir pun
bisa lebih segar dan cerdas, seperti memanfaatkan machine learning untuk customer service.

I. Strategi Bank dalam Memenang Persaingan Selain dari Penciptaan Produk Berbasis
Fintech
 Focus on Engagement
Keterikatan nasabah dengan bank terbukti memberikan manfaat yang besar. Survei
yang dilakukan Gallup menunjukkan, nasabah yang memiliki keterikatan dengan bank akan
menyimpan 37% lebih besar dananya dibanding nasabah yang tidak memiliki keterikatan.
Karena itu, sangat penting bagi bank untuk bisa menjalin keterikatan tersebut.Bank pun
sebenarnya sudah memiliki modal bagus untuk itu, yaitu data nasabah.Dengan melakukan
analisa data yang lebih komprehensif, bank bisa mengetahui profil dari tiap nasabah.Berbekal
informasi tersebut, bank pun bisa menawarkan produk perbankan yang lebih personal.
Contoh Konkritnya:
Salah satu strategi yang dilakukan oleh bank BCA dalam meningkatkan kepuasan
nasabah dan membangun Engagement dengan nasabah yaitu dengan cara membina Customer
engagement dengan lebih baik. Artinya, Customer Service bisa lebih mengenal nasabah dan
berusaha menggali kebutuhan nasabah dengan cermat, sehingga pada saat menawarkan
produk bank BCA, dapat sesuai dengan kebutuhan nasabah.

 Safety First
Modal lain yang dimiliki bank dan tidak dimiliki fintech adalah kepercayaan yang
tinggi dari konsumen.Modal ini harus dimanfaatkan dengan terus menunjukkan kompetensi
dalam melindungi data nasabah.Investasi di sistem fraud detection, misalnya, adalah hal yang
bisa dilakukan bank untuk semakin meningkatkan kepercayaan tersebut.
Peningkatan keamanan pun bisa sejalan dengan kenyamanan konsumen yang menjadi
tuntutan masa kini.Saat ini sudah tersedia mobile apps yang memungkinkan pemilik kartu
kredit untuk mengaktifkan maupun menonaktifkan kartunya dalam jeda waktu
tertentu.Dengan begitu, konsumen yang sangat perhatian dengan keamanan mendapatkan
rasa nyaman karena kontrol selalu berada di tangannya.
Contoh Konkritnya:
DCard Mobile aplikasi smartphone untuk pemegang kartu kredit yang di luncurkan
oleh bank Danamon yang berguna untuk memudahkan pemegang kartu kredit Danamon
dalam mengendalikan kartu kredit miliknya.Antara lain untuk memantau transaksi kartu
kredit yang belum tertagih dan melakukan pemblokiran kartu jika hilang atau
disalahtempatkan (misplaced) selain menghubungi call center Hello Danamon.

J. Kesimpulan
 Timbulnya Fintech dalam sistem keuangan di Indonesia begitu menunjukan perkembangan
yang significant. Karena hadirnya fintech dalam sistem keuangan dapat meningkatkan daya
beli masyarakat terhadap produk-produk finansial. Selain menimbulkan peluang usaha bisnis,
bisnis fintech ini juga dapat menjangkau masyarakat yang selama ini belum bisa merasakan
dan dijangkau oleh berbagai macam lembaga keuangan. Dengan adanya bisnis fintech maka
peran lembaga keuangan bank atau non bank bisa terganggu bahkan bisa kekurangan
pelanggan nya, sehingga perlu adanya strategi dari perbankan dalam menghadapi
perkembangan Fintech ini.
 Strategi yang dapat dilakukan bank yaitu bisa dari meningkatkan investasi inovasi dari
perbankanserta melakukan kolaborasi-kolaborasi yang membangun antara fintech dengan
lembaga keuangan (bank). Hadirnya fintech dalam dunia teknologi dan keuangan ini juga
membuat bank dan lembaga keuangan lainnya, menjadi lebih bersaing dalam era digital, ke
persaingan lebih modern bukan konvensional.
 Karena tergolong baru dan masih sedang hangat dibicarakan bisnis fintech ini, begitu banyak
peningkatan terutama orang-orang yang ingin menciptakan fintech, namun bagi para
pengusaha, sistem fintech ini memiliki sisi negatif dan positif nya, salah satu positifnya
memang dapat menjangkau orang yang belum terjangkau dengan lembaga keuangan, dan
negatifnya ialah masih kurangnya regulasi yang belum jelas terkait dengan bisnis fintech ini.

Adapun saran yang diberikan penulis terhadap pembahasan fintech dalam perbankan adalah
sebagai berikut:
 Agar pemerintah dapat mengkoreksi terkait kejelasan regulasi fintech dalam salah satu alat
keuangan. Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
 Agar lembaga keuangan tidak menganggap perusahaan fintech lebih baik, sehingga bersaing
secara tidak sehat. Ada baiknya lembaga keuangan mau berkolaborasi dengan perusahaan-
perusahaan fintech agar dapat bertahan dalam pasar dan tidak kalah bersaing dengan
perusahaan perusahaan finctech lain.