Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

SEJARAH PERBANKAN SYARIAH


Ditujukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Manajemen Operasional

Bank Syariah

Dosen Pengampu : Dr. Abdul Aziz, M.Ag

Disusun Oleh :

1. Eka Lia Nurfauziyah NIM. 1708203089


2. Nisa Lili Agustin NIM. 1708203120
3. Ellina Nopidia NIM. 1708203117

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON

TAHUN 2019 M / 1440 H


ABSTRAK

Perbankan syariah merupakan satu sistem perbankan yang dibangun berdasarkan


syariat Islam. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, pengembangan
perbankan syariah memiliki ruang yang cukup lebar di Indonesia. Keberhasilan eksistensi
ekonomi Islam di Indonesia diukur dengan sejauh mana perkembangan perbankan syariahnya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana sejarah
perbankan syariah, apa saja tujuan perbankan syariah, apa saja landasan hukum perbankan
syariah di Indonesia, dan bagaimana perbedaan bank syariah dan bank konvensional.
Dalam pembahasan tersebut maka dapat dipahami bahwa bank syariah pertama di
Indonesia yang didirikan pada tanggal 1 November 1991 adalah Bank Muamalat Indonesia.
Tujuan didirikannya bank syariah adalah untuk mengenalkan dan mengembangkan penerapan
prinsip-prinsip Islam, syariah, dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan
serta bisnis lain yang terkait. Pemerintah mengesahkan UU No. 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah pada tanggal 16 Juli 2008. UU tersebut diharapkan dapat menjamin
kepastian para pihak yang berkepentingan. Tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa
antara bagi hasil dengan pemberian/pengambilan bunga tidak ada bedanya sehingga mereka
beropini bahwa bank syariah dan bank konvensional ialah sama haya istilah yang
membedakan.
Kata kunci : Sejarah, Prinsip, Fungsi, Landasan Hukum, Perbankan Syariah
A. Pendahuluan

Terdapat dua lembaga keuangan, yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan
non bank. Bank syariah merupakan lembaga keuangan bank dimana kegiatan operasionalnya
berlandaskan prinsip syariah yaitu Al-Quran dan Hadits. Adanya bank syariah tidak lain
merupakan kebutuhan yang mendasar bagi umat islam, dikarenakan bank syariah terlepas dari
praktik ribawi. Menurut Aziz dan Sedjati (2015: 1) Aktifitas ribawi merupakan aktivitas dari
kegiatan yang mengeksploitasi kebutuhan orang lemah, penimbunan kekayaan berlebih atas
modal ekonomi lemah. Di dalam bank syariah tidak terdapat bunga, melainkan bagi hasil,
dimana jelas keduanya sangat berbeda melihat akad-akad yang ada dalam perbankan syariah.

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia merupakan suatu perwujudan dari


permintaan masyarakat yang membutuhkan suatu sistem perbankan alternatif yang selain
menyediakan jasa perbankan/keuangan yang sehat, juga memenuhi prinsip-prinsip syariah.
(Syukron, 2013: 28).

B. Sejarah Perbankan Syariah Secara Umum

Perbankan Syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel


Islam, karena adanya kekwatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai
gerakan fundamentalis. bank simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota
Mit Ghamr pada tahun 1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu
sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut
maupun menerima bunga, sebagian besar berinvestasi pada usaha - usaha perdagangan masih
di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan dan mendeklarasikan diri
sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan
rujukan kepada agama mau pun syariat Islam. Islamic Development Bank (IDB) kemudian
berdiri pada tahun 1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam organisasi
konferensi Islam, walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang
bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara
anggotanya. IDB menyediakan jasa pinjaman berbasis fee dan profit sharing untuk negara-
negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah Islam. Dibelahan
negara lain pada kurun 1970-an, sejumlah bank berbasis Islam kemudia munjul di uni emirat
arab, baru tahun 1975 dengan berdiri Dubai Islamic Bank. Kemudian di kuwait pada tahun
1977 berdiri kuwait finance house yang beroperasi tanpa bunga. Selanjutnya kembali di mesir
pada tahun 1978 berdiri Bank syariah yang di beri nama Faisal Islamic Bank. Langkah ini

1
kemudian di ikuti oleh islamic international bank for Invesment and Developmen bank.
(Harahap, 2014).

Di Iprus tahun 1983 berdiri Faisal Islamic Bank of Kibris. Kemudian di Malaysia bank
syariah lahir tahun 1983 dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan pada
tahun 1999 lahir pula Bank Putera Muamalah.

Di Iran sistem perbankan syariah mulai berlaku secara nasional pada tahun 1983 sejak
dikeluarkannya Undang-Undang perbankan islam. Kemudian di Turki negara yang beridiologi
sekuler bank syariah lahir tahun 1984 dengan hadirnya Daar al-Maal al-Islami serta Faisal
Finance Institution dan mulai beroperasi tahun 1985.

Salah satu negara yang menjadi pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan
syariah secara nasional adalah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonversi seluruh sistem
perbankan di negaranya pada tahun 1985 menjadi sistem perbankan syariah. Sebelumnya pada
tahun 1979 beberapa institusi keuangan terbesar di Pakistan telah menghapus sistem bunga
dan mulai dari tahun itu juga pemerintah Pakistan mensosialisasikan pinjaman tanpa bungan.
Terutama pada petani dan pelayan. (Kasmir, 2008 : 188)

Kehadiran bank yang berdasarkan syariah di Indonesia masih relatif baru yaitu “pada
18-20 agustus 1990, yang kemudian di lanjutkan dengan musyawarah nasional (MUNAS) IV
Majelis Ulama Indonesia (MUI) di hotel Sahid Jakarta pada 22-25 pada tahun yang sama.
Atas dukungan pemerintah dan masyarakat, bank syariah pertama dengan nama PT bank
muamalat indonesia (BMI) berdiri pada 1 November 1991 di jakarta berdasarkan akta
pendirian oleh notaris Yudo Paripurno, S.H. Atas surat izin menteri kehakiman NO.C2.2413
HT.01.01. Berdirinya BMI tidak langsung diikuti pendrian bank syariah lainnya sehingga
perkembangan perbankan syariah setabil sampai tahun 1998.

Di latar belakangi oleh krisis ekonomi dan moneter tahun 1998 dan keluarnya undang-
undang nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang nomer 7 tahun 1992
tentang perbankan, yang isinya mengatur peluang usaha syariah bagi bank konvensional,
perbankan syariah mulai mengalami perkembangan dengan berdirinya bank syariah mandiri
pada tahun 1999 dan unit usaha syariah (UUS) bank bni pada tahun 2000 serta bank-bank
syariah dan uus lain pada tahun-tahun berikutnya. Sepuluh tahun setelah UU Nomer 10
tersebut terbit, pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia mengeluarkan UU
Nomer 20 tentang sukuk dan UU Nomer 21 tentang perbankan Syariah pada Tahun 2008.
Kedua UU tersebut telah ikut mendorong perkembangan perbankan syariah.Sampai akhir

2
Desember 2013, terdapat 11 bank syariah dan 24 UUS dengan perkembangannya yang baik.
(Ikatan Bankir Indonesia, 2014 : 5)

C. Perkembangan Bank Syariah di Indonesia

Pada dasarnya, entitas bank syariah di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1983
dengan keluarnya Paket Desember 1983 (Pakdes 83) yang berisi sejumlah regulasi di bidang
perbankan, dimana salah satunya ada peraturan yang memperbolehkan bank memberikan
kredit dengan bunga 0% (zero interest). Perkembagan dimaksud diikuti oleh serangkaian
kebijakan di bidang perbankan oleh Menteri Keuangan Radius Prawiro yang tertuang dalam
Paket Oktober 1988 (Pakto 88). Pakto 88 intinya merupakan deregulasi perbankan yang
memberikan kemudahan bagi pendirian bank-bank baru, sehingga industri perbankan pada
waktu itu mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Baru pada tahun 1991 berdirilah Bank
Muamalat Indonesia (BMI) sebagai bank umum satu-satunya yang melaksanakan kegiatan
usaha berdasarkan prinsip bagi hasil. Namun, eksistensi bank syariah di Indonesia secara
formal telah dimulai sejak tahun 1992 dengan diberlakukannya UU No.7 Tahun 1992 tentang
Perbankan. Namun, harus diakui bahwa UU tersebut belum memberikan landasan hukum
yang cukup kuat terhadap pengembangan bank syariah karena masih belum secara tegas
mencantumkan kata-kata “prinsip syariah” dalam kegiatan usahanya hanya menggunakan
istilah bank bagi hasil. Pengertian Bank Bagi Hasil yang dimaksudkan dalam UU tersebut
belum sesuai dengan cakupan pengertian bank syariah yang relatif lebih luas dari bank bagi
hasil. Dengan tidak adanya pasal-pasal dalam UU tersebut yang mengatur bank syariah, maka
hingga tahun 1998 belum terdapat ketentuan operasional yang secara khusus mengatur
kegiatan usaha bank syariah. Diamandemennya UU No. 7 tahun 1992 yang kemudian
melahirkan UU No. 10 tahun 1998 secara eksplisit menetapkan bahwa bank dapat beroperasi
berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Era Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, kebijakan
hukum perbankan di Indonesia menganut sistem perbankan ganda (dual banking system).
Kebijakan ini intinya memberikan kesempatan bagi bank-bank umum konvensional untuk
memberikan layanan syariah melalui mekanisme islamic window dengan terlebih dahulu
membentuk Unit Usaha Syariah (UUS). Akibatnya pasca undang-undang ini memunculkan
banyak bank konvensional yang ikut andil dalam memberikan layanan syariah kepada
nasabahnya. Kemudian, pada tahun 1999 disahkan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank
Indonesia. Dalam UU ini menetapkan bahwa Bank Indonesia dapat melakukan pengendalian
moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Keberadaan kedua UU tersebut telah
mengamanahkan Bank Indonesia untuk menyiapkan perangkat ketentuan dan fasilitas
penunjang lainnya yang mendukung operasional bank syariah sehingga memberikan landasan

3
hukum yang lebih kuat dan kesempatan yang lebih luas bagi pengembangan perbankan
syariah di Indonesia. Kedua UU tersebut selanjutnya menjadi dasar hukum bagi keberadaan
dual banking sistem di Indonesia, yaitu adanya dua sistem perbankan (konvensional dan
syariah) secara berdampingan dalam memberikan pelayanan jasa perbankan bagi masyarakat.
Upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia tidak semata hanya merupakan
konsekuensi dari UU No. 10/1998 dan UU No. 23/1999 tetapi juga merupakan bagian dari
upaya penyehatan sistem perbankan yang bertujuan meningkatkan daya tahan perekonomian
nasional. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan 1997 membuktikan bahwa bank yang
beroperasi dengan prinsip syariah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat
suku bunga yang tinggi. Kenyataan tersebut ditopang oleh karakteristik operasi bank syariah
yang melarang bunga (riba), transaksi yang bersifat tidak transparan (gharar) dan spekulatif
(maysir). Dengan kenyataan tersebut, pengembangan perbankan syariah diharapkan dapat
meningkatkan ketahanan sistem perbankan nasional yang pada gilirannya juga diharapkan
dapat meningkatkan ketahanan ekonomi nasional di masa mendatang. Ketahanan ekonomi
nasional yang sedemikian rupa dapat menciptakan perekonomian yang tangguh, yaitu
perekonomian yang pertumbuhan sektor keuangannya sejalan dengan pertumbuhan sektor riil.
Dalam upaya pengembangan perbankan syariah tersebut, Bank Indonesia sebagai otoritas
perbankan nasional mulai bergerak maju dengan memperkenalkan instrumen moneter syariah
pertama yaitu Sertifikat Wadiah BI (SWBI) di tahun 1999 dan Pasar Uang Antar-bank
berdasarkan prinsip Syariah (PUAS) pada tahun 2000. Kemudian, pada tahun 2006 pemberian
layanan syariah semakin dipermudah oleh Bank Indonesia dengan diperkenalkannya office
channeling dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 8/3/PBI/2006. Office chaneling
intinya adalah bahwa untuk memberikan layanan syariah Bank Umum Konvensional yang
sudah memiliki UUS di kantor pusatnya, tidak perlu lagi membuka Kantor Cabang/Kantor
Cabang Pembantu baru melainkan cukup membuka counter syariah dalam Kantor
Cabang/Kantor Cabang Pembantu konvensional. Hal ini tentu saja akan menghemat keuangan
bank, karena tidak lagi memerlukan infrastruktur baru seperti gedung, alat-alat kantor,
karyawan, dan teknologi informasi. Selanjutnya, industri perbankan syariah telah mengalami
perkembangan yang pesat semakin memiliki landasan hukum yang memadai yakni dengan
diterbitkannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dukungan
regulasi ini tentunya akan mendorong pertumbuhan industti perbankan syariah secara lebih
cepat lagi dan diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian
nasional akan semakin signifikan. (Syukron, 2013: 28-30).

Namun menurut Syukron (2013 : 35) juga dalam perkembangannya perbankan syariah
di Indonesia menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam
4
statistik perbankan Indonesia per Desember 2014 terdapat tidak kurang 12 Bank Umum
Syariah dan 22 Unit Usaha Syariah dari suatu bank konvensional dengan total keseluruhan
jaringan kantor 2.151 unit. Selain itu, Total aset bank umum syariah mencapai 272.343
(dalam miliar rupiah). Jumlah ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total aset
perbankan nasional secara umum yang mencapai 5.615.150 (dalam miliar rupiah). Artinya
pangsa pasar perbankan syariah masih sangat kecil hanya 4,85%, padahal target pangsa pasar
perbankan syariah adalah sebesar 15% pada akhir tahun 2015. Hal ini tentunya mendorong
bagi praktisi perbankan syariah agar sesegera mungkin mencari strategi pengembangan
perbankan syariah secara lebih massif.

D. Tujuan di dirikannya Bank Syariah

Keberadaan Perbankan Syariah sebagai bagian dari sistem Ekonomi Islam diharapkan
dapat mendorong perkembangan perekonomian suatu negara. Tujuan dan fungsi Perbankan
Syariah dalam perekonomian adalah kemakmuran ekonomi yang meluas, tingkat kerja penuh
dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum, keadilan sosial-ekonomi dan distribusi
pendapatan serta kekayaan yang merata, stabilitas nilai uang, mobilisasi dan investasi
tabungan yang menjamin adanya pengembalian yang adil dan pelayanan yang efektif.
(Husaeni, 2017).

Tujuan dari didirikannya perbankan syariah adalah untuk mengenalkan dan


mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam, syariah, dan tradisinya ke dalam transaksi
keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait agar umat terhindar dari hal-hal yang
melanggar syariat Islam. (Wirdyaningsih, Dewi, & Barlinti, 2005 : 38)

Menurut UU Republik Indonesia Tahun 2008, Perbankan Syariah bertujuan


menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan,
kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Tujuan perbankan syariah menurut Chapra (1985) dalam Jazil (2013) adalah
pelarangan riba, fokus pada kepentingan publik atau masyarakat luas, mempercepat
pertumbuhan, mencapai ekonomi yang sejahtera,pembentukan keadilan sosial dan ekonomi,
serta distribusi pendapatan yang seimbang. (Imansari & Harto: 2015).

E. Landasan Hukum Perbankan Syariah

Menurut Kasmir (2010: 11) Bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga
keuangan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan
menyalurkannya kembali ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya.

5
Untuk membahas landasan hukum perbankan syariah tidak lepas dari sejarah
perkembangan perbankan syariah di Indonesia. Perbankan syariah perkembangan di Indonesia
melalui beberapa tahap periode yaitu:

1. Periode sebelum tahun 1992

Sebelum tahun 1992 di Indonesia telah diberdiri bank syariah dalam bentuk BPR-
Syariah, yaitu BPRS Mardhatillah, BPRS Berkah Amal Sejahtera, Al Mukaromah
dimana sebagai pendiri adalah alumi ITB atau masjid Salman (masjid dalam
lingkungan kampus ITB Bandung). Pada periode ini BPRS didirikan sesuai dengan
perundang-undang perbankan yang berlaku saat itu (bank konvensional), dan tidak ada
ketentuan yang mengatur tentang bank syariah disamping masyarakat yang belum
memungkinkan untuk diajak untuk bertransaksi syariah, sehingga BPR-Syariah
tersebut mati secara pelan-pelan.

2. Periode tahun 1992 sampai dengan tahun 1998

Dalam periode ini lahir puluhan BPR Syariah dan satu Bank Umum Syariah, yaitu
Bank Muamalat Indonesia. Pada periode ini Bank Syariah didirikan berdasarkan
Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan. Dalam undang-undang
nomor 7 tahun 1992 ini tidak dibahas secara jelas atau secara langsung tentang bank
syariah, hanya dalam pasal 6 huruf m dan pasal 13 huruf c mengatur tentang usaha
bank syariah yaitu:

Usaha Bank Umum : ”Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan


prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah” (pasal 6 huruf m).

Usaha Bank Perkreditan Rakyat : ” menyediakan pembiayaan bagi nasabah


berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah” (pasal 13 huruf c).

Berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang


perbankan tersebut pemerintah mengeluarkan dua ketentuan perbankan syarian yaitu:

a. Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Bagi Hasil.
Sehingga undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dan Peraturan
Pemerintah tersebut sebagai landasan hukum berdirinya Bank Umum Syariah.

6
b. Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1992 tentang Bank Perkreditan rakyat
Berdasarkan Bagi Hasil. Sehingga undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang
perbankan dan Peraturan Pemerintah tersebut sbg landasan hukum berdirinya
Bank Perkreditan Rakyat dalam periode ini.

Pada periode ini tidak ada ketentuan lain kecuali ketentuan tersebut diatas, seperti
Peraturan Bank Indonesia, ketentuan tentang akuntansi dan sebagainya. Pada periode
ini masing-masing Dewan Pengawas Syariah mengeluarkan fatwa masing-masing
sehingga ketentuan syariah BPR Syariah yang satu berbeda dengan lain dan berbeda
pula dengan fatwa yang dikeluarkan oleh DPS Bank Muamalat Indonesia. Pada
periode ini Bank syariah dalam menjalankan kegiatan usaha dibidang syariah sesuai
kemampuan masing-masing, berdasarkan Fatwa masing-masing Dewan Pengawas
Syariah Bank yang bersangkutan.

3. Periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2008

Dari pengalaman dan kajian yang dilakukan ternyata bank syariah memiliki
karakteristik yang berdeda dengan bank konvensional, maka Undang-undang nomor 7
tentang perbankan disempurnakan dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998
tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 tentang Perbankan. Dalam Undang-
undang nomor 10 tahun 1998 tersebut telah dibahas ketentuan-ketentuan bank syariah
misalnya:

a. Dalam pasal 1 angka 13 disebutkan prinsip syariah adalah aturan perjanjian


berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana
dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan usaha lainnya yang dinyatakan
sesuai dengan syariah, antara lain, pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil
(mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah),
prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau
pembiayaan marang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah),
atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari
pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

b. Pasal 6 huruf m menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain


berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia”
Dalam penjelasan pasal ini disebutkan ”pokok-pokok ketentuan yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia memuat antara lain:
7
(1) kegiatan usaha dan produk-produk bank berdasarkan prinsip syariah

(2) pembentukan dan tugas Dewan Pengawas Syariah

(3) persyaratan bai pembukaan kantor cabang yang melakukan kegiatan usaha
secara konvensional untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsi
syariah

c. Masih banyak pasal pasal lain yang mengatur tentang perbankan syariah

Oleh karena dalam undang-undang nomor 10 tahun 1998 telah dibahas bank syariah,
pemerintah mencabut dua peraturan pemerintah tersebut diatas dengan peraturan
pemerintah nomor 30 tahun 1998. Sebagai peraturan pelaksanaannya Bank Indonesia
mulai tahun 1999 banyak mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia yang mengatur
bank syariah. Ketentuan-ketentuan ini yang merupakan landasan hukum berdirinya
Bank Perkreditan Rakyat Syariah dan Bank Umum Syariah seperti Bank Syariah
Mandiri, Bank Mega Syariah dan beberapa caban syariah dari bank konvensional,
seperti BRI Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah Bank Jabar Syariah dsb.

4. Periode setelah tahun 2008

Mulai tahun 2008 perbankan syariah di Indonesia memiliki Undang-undang tersendiri,


yaitu Undang-undang nomo 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Undang-
undang ini secara lengkap sebagaimana tercantum dalam lampiran buku ini. Bank
Syariah yang didirikan dan/atau menjalankan kegiatan usahanya mulai tahun 2008,
sudah tentu berdasarkan Undang-Undang nomor 21 dan seluruh peraturan
pelaksanaannya. Ketentuan-ketentuan yang diatur berdasarkan Undang-undang nomor
10 tahun 1998 dan peraturan pelaksanaannya tetap berlaku sepanjang tidak bertentang
dengan ketentuan Undang-undang nomor 21 tahun 2008. Hal ini sesuai ketentuan
dalam pasal 69 undang-undang tersebut yaitu:
”Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, segala ketentuan mengenai Perbankan
Syariah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790) beserta

8
peraturan pelaksanaannya dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan Undang-Undang ini”. (Harahap, Wiroso dan Yusuf, 2010: 6-9).

Menurut Anshori (2018 : 6) Apabila merujuk pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun


1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
eksistensi dari Perbankan Syariah di Indonesia telah diakui secara tegas. Hal ini tampak pada
kata-kata bank berdasarkan prinsip syariah.

UU No. 10 Tahun 1998 belum mengatur secara spesifik tentang operasional


perbankan syariah, maka pemerintah mengesahkan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah pada tanggal 16 Juli 2008. UU tersebut diharapkan dapat menjamin kepastian para
pihak yang berkepentingan. (Sayekti dan Mauleny, 2013: 29).

Jadi secara ringkas landasan hukum perbankan syariah yaitu :

1. UU No. 7 Tahun 1992


2. UU No. 10 Tahun 1998
3. UU No. 23 Tahun 2003
4. UU No. 21 Tahun 2008

Beberapa Peraturan Bank Indonesia Mengenai Perbankan Syariah:

1. PBI No.9/19/PBI/2007 tentang pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan


penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah.

2. PBI No.7/35/PBI/2005 tentang perubahan atas peraturan bank Indonesia No.


6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan
prinsip syariah.

3. PBI No.6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksnakan kegiatan usaha


berdasarkan prinsip syariah. (Redaksi Berita Transparansi, 2016).

F. Prinsip dan Fungsi Bank Syariah


Batasan-batasan bank syariah yang harus menjalankan kegiatannya berdasar pada
syariat Islam, menyebabkan bank syariah harus menerapkan prinsip-prinsip yang sejalan dan
tidak bertentangan dengan syariat Islam. Adapun prinsip-prinsip bank syariah adalah sebagai
berikut :

9
1. Prinsip Titipan atau Simpanan (Al-Wadiah)Al-Wadiah dapat diartikan sebagai
titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum,
yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.
2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)Sistem ini adalah suatu sistem yang meliputi
tatacara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.
(Yupitri dan Sari, 2012: 49).

Dalam paradigma akuntansi Islam, bank syariah memiliki fungsi sebagai berikut:

a) Manajemen Investasi, bank-bank Islam dapat melaksanakan fungsi ini


berdasarkan kontrak mudharabah atau kontrak perwakilan.
b) Investasi, bank-bank Islam menginvestasikan dana yang ditempatkan pada
dunia usaha (baik dana modal maupun dana rekening investasi) dengan
menggunakan alat-alat investasi yang konsisten dengan syariah. Misalnya
adalah kontrak almurabahah, al-mudharabah, al-musyarakah, bai’ as-salam,
bai’ al-ishtisna’, al-ijarah, dan lain-lain
c) Jasa-jasa keuangan, bank Islam dapat juga menawarkan berbagai jasa
keuangan lainnya berdasarkan upah (fee based) dalam sebuah kontrak
perwakilan atau penyewaan. (Maradita, 2016: 198).

G. Perbedaan Antara Bank Syariah Dan Bank Konvensional

Perbankan syariah dan perbankan konvensional memiliki perbedaan dalam sistem


yang digunakan. Dalam siastem perbankan syariah tidak hanya semata-mata bertujuan untuk
menghasilkan profit sebanyak-banyaknya, melainkan dituntut untuk mengimplementasikan
nilai-nilai syariah secara nyata. Sebab sistem keuangan dan perbankan syariah merupakan
subsistem dari suatu sistem ekonomi Islam yang memiliki cakupan yang luas.

Di dalam perbankan konvensional terdapat kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh


syariat Islam, seperti menerima dan membayar bunga (riba), membayai kegiatan produksi dan
perdagangan barang-barang yang diharamakan (haram), kegiatan yang sangat dekat dengan
gambling (maisir), untuk transaksi-transaksi tertentu dalam transaksi valuta asing, serta
memasukan transaksi sangat spekulatif (gharar) dalam investment banking.

Sedangkan prinsip utama yang dianut oleh perbankan syariah adalah : (1) larangan
riba (bunga) dalam berbagai bentuk transaksi; (2) menjalankan bisnis dan aktivitas
perdagangan yang berbasis pada memperoleh keuntungan yang sah menurut syariah; dan (3)
menumbuhkembangkan zakat. (Wirdyaningsih, Dewi, & Barlinti, 2005 : 39)
10
Perbankan syariah juga telah mengadopsi prosedur dan sistem dari perbankan
konvensional selama sistem dan prosedur tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
Islam. Kemudian untuk menghindari adanya penyimpangan dalam pelaksanaan sistem dan
prosedur dalam perbankan syariah, maka bank syariah memiliki dewan pengawas syariah
yang bertugas untuk memberikan masukan kepada perbankan syariah untuk memastikan
bahwa bank syariah tidak melakukan aktivitas yang bertentangan dengan betentangan dengan
prinsip Islam.

Tabel 5.1 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

KETERANGAN BANK SYARIAH BANK KONVENSIONAL


Akad dan Aspek Legalitas Hukum Islam dan Hukum Positif
Hukum Positif
Lembaga Penyelesaian BASYARNAS BANI
Sengketa
Struktur Organisasi Ada Dewan Syariah Nasional Tidak ada DSN dan DPS
(DSN) dan Dewan
Pengawas Syariah (DPS)
Investasi Halal Halal dan Haram
Prinsip Operasional Bagi hasil, jual beli, sewa Perangkat bunga
Tujuan Profit and falah oriented Profit oriented
Hubungan Nasabah Kemitraan Debitor dan Kreditor

Perbedaan pokok antara sistem bank konvensional dengan bank syariah secara ringkas
dapat dilihat dari empat aspek berikut : (Machmud, & Rukmana, 2010 : 11)

a. Falsafah : Pada bank syariah tidak berdasarkan atas bunga, spekulasi, dan
ketidakjelasan, sedangkan pada bank konvensional berdasarkan atas bunga.
b. Operasional : Pada bank syariah, dana masyarakat berupa titipan dan investasi
baru akan mendapatkan hasil jika diusahakan terlebih dahulu, sedangkan pada
bank konvensional, dana masyarakat merupakan simpanan yang harus dibayar
bunga pada saat jatuh tempo. Pada sisi penyaluran, bank syariah menyalurkan
dananya pada sektor usaha yang halal dan menguntungkan, sedangkan pada bank
konvensional, aspek halal tidak menjadi pertimbangan utama.

11
c. Sosial : Pada bank syariah, aspek sosial dinyarakan secara eksplisit dan tegas yang
tertuang dalam visi dan misi perusahaan, sedangkan pada bank konvensional tidak
tersirat secara tegas.
d. Organisasi : Bank syariah harus memiliki DPS. Sementara itu bank konvensional
tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah.

Pembeda yang sangat signifikan antara bank syariah dan bank konvesnional ialah
sistem bagi hasil pada bank syariah sedangan bank konvensional menggunakan sistem bunga.
Namun tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa antara bagi hasil dengan
pemberian/pengambilan bunga tidak ada bedanya sehingga mereka beropini bahwa bank
syariah dan bank konvensional ialah sama haya istilah yang membedakan. Untuk meluruskan
hal tersebut, perbedaan bagi hasi dan bung akan dijelaskan dalam tabel berikut :

Tabel 5.2. Perbandingan Bagi Hasil dan Bunga

Bagi Hasil Bunga


Penentuan bagi hasil dibuat sewaktu Penentuan bunga dibuat sewaktu perjanjian
perjanjian dengan berdasarkan kepada tanpa berdasarkan kepada untung/rugi.
untung/rugi.
Jumlah nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah Jumlah persenan bunga berdasarkan jumlah
keuntungan yang telah dicapai. uang (modal) yang ada.
Bagi hasil tergantung pada hasil proyek. Jika Pembayaran bunga tetap seperti perjanjian
proyek mendpat keuntungan atau mengalami tanpa diambil pertimbangan apakah proyek
kerugian, risikonya ditanggung kedua belah yang dilaksanakan pihak kedua untung atau
pihak. rugi.
Jumlah pemberian hasil keuntungan Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat
meningkat sesuai dengan peningkatan walaupun jumlah keuntungan berlipat ganda.
keuntungan yang didapat.
Penerimaan/pembagian keuntungan adalah Pengembalian/pembayaran bunga adalah
halal haram.
(Machmud, & Rukmana, 2010 : 12).

H. Kesimpulan

Perbankan Syariah pertama kali muncul di Mesir. Islamic Development Bank (IDB)
kemudian berdiri pada tahun 1974 disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam
organisasi konferensi Islam, walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah

12
yang bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara
anggotanya.

Tujuan dari didirikannya perbankan syariah adalah untuk mengenalkan dan


mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam, syariah, dan tradisinya ke dalam transaksi
keuangan dan perbankan serta bisnis lain yang terkait.

Apabila merujuk pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan eksistensi dari Perbankan Syariah
di Indonesia telah diakui secara tegas. Hal ini tampak pada kata-kata bank berdasarkan prinsip
syariah.

Pembeda yang sangat signifikan antara bank syariah dan bank konvesnional ialah
sistem bagi hasil pada bank syariah sedangan bank konvensional menggunakan sistem bunga.
Namun tidak sedikit masyarakat beranggapan bahwa antara bagi hasil dengan
pemberian/pengambilan bunga tidak ada bedanya sehingga mereka beropini bahwa bank
syariah dan bank konvensional ialah sama haya istilah yang membedakan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Albadri, A. A. M., dan Sedjati, R. S. 2015. Riba dalam Perspektif Fiqih Muamalah dan Teori
Bunga atas Produk Lembaga Keuangan Konvensional.

Ashori, Abdul Ghofur. 2018. Perbankan Syariah di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Harahap, D. (2014). Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Kpr Di Bank
Muamalat Medan (Doctoral dissertation, Pascasarjana IAIN-su).

Harahap, Sofyan S, Wiroso, dan Yusuf Muhammad. 2010. Akuntansi Perbankan Syariah.
Jakarta: Penerbit LPFE Usakti.

Husaeni, U. A. (2017). Determinan Pembiayaan Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di


Indonesia. Esensi: Jurnal Bisnis dan Manajemen, 7(1), 49-62.

Ikatan Bankir Indonesia dan Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan. Cet. Pertama 2014. Cet.
kedua 2018. Mengelola Bank Syariah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Imansari, A. D., & HARTO, P. (2015). Analisis Perbandingan Kinerja Perbankan Syariah
berdasarkan Konsep Al-Maqashid Al-Syariah di Indonesia dan Malaysia (Doctoral
dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis).

Kasmir. (2008). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi 2008. Jakarta: PT.
RAJAGRAFINDO PERSADA.

Kasmir. 2010. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Machmud, A., Rukmana, Hayati, Y. S., Sallama, N. I., & Hardani, W. (2010). Bank syariah:
teori, kebijakan, dan studi empiris di Indonesia. Erlangga.

Maradita, Aldira. 2016. “Karakteristik Good Corporate Governance pada Bank Syariah dan
Bank Konvensional.” https://e-journal.unair.ac.id/YDK/article/view/366 (akses 9 April
2019).

Redaksi Berita Transparansi. 2016. “Peraturan Mengenai Perbankan Syariah di Indonesia”.


https://www.beritatransparansi.com/peraturan-mengenai-perbankan-syariah-di-
indonesia/ (akses 9 April 2019).

14
Sayekti, Nidya Waras dan Mauleny, Ariesy Tri. “Analisis Kinerja Perbankan Syariah di
Indonesia: Pra dan Pasca Undang-undang no 21 tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah,” Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, Vol. 4 No. 1, Juni 2013.

Syukron, Ali. 2013. “Dinamika Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia”, Jurnal


Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 3 No. 2.

Wirdyaningsih, K. P., Dewi, G., & Barlinti, D. Y. (2005). Bank dan Asuransi Islam di
Indonesia. Jakarta: Kencana.

Yupitri, Evi dan Sari, Raina Linda. “Analisis yang Mempengaruhi faktor-faktor Non Muslim
menjadi Nasabah Bank Syariah Mandiri di Medan”, Jurnal Ekonomi dan Keuangan,
Vol. 1 No. 1, Desember 2012.

15