Anda di halaman 1dari 11

NAMA : RANDIANSAH

KELAS : TT-5B
NIM : 1317030069

ARSITEKTUR JARINGAN
1. Arsitektur Jaringan 3G (UMTS / W-CDMA)
WCDMA adalah singkatan dari Wideband Code Division Multiple Access, sebuah teknologi koneksi
data yang merupakan penyempurnaan untuk jaringan GSM yang sudah ada sebelumnya. Biasanya
teknologi ini disebut juga dengan '3G' atau 3rd Generation. Wideband Code Division Multiple Access
merupakan teknik multiple access yang berdasarkan spektral tersebar, dimana sinyal informasi disebar
pada pita frekuensi yang lebih besar daripada lebar pita sinyal aslinya (informasi). Sistem WCDMA
hanya memerlukan satu channel frekuensi radio untuk semua pemakainya, masing-masing pemakai
diberi kode yang membedakan antara pengguna satu dengan yang lain. Skema metode akses yang
digunakan untuk penyebaran sinyal WCDMA adalah direct sequence dimana code sequence
digunakan secara langsung untuk memodulasi sinyal radio yang dipancarkan dengan menggunakan
sinyal penebar.

Gambar 1. Topologi Jaringan 3G

1. UE (User Equipment)

User Equipment merupakan perangkat yang digunakan oleh pelanggan untuk dapat memperoleh
layanan komunikasi bergerak. UE dilengkapi dengan smart card yang dikenal dengan nama
USIM (UMTS Subscriber Identity Module) yang berisi nomor identitas pelanggan dan juga
algoritma security untuk keamanan seperti authentication algorithm dan algoritma enkripsi. Selain
terdapat USIM, UE juga dilengkapi dengan ME (Mobile Equipment) yang berfungsi sebagai
terminal radio yang digunakan untuk komunikasi lewat radio.
2. UTRAN (UMTS Terresterial Radio Access Network)

Di dalam UTRAN terdapat beberapa elemen jaringan yang baru dibandingkan dengan teknologi
2G yang ada saat ini, di antaranya adalah node B dan RNC (Radio Network Controller).
• RNC (Radio Network Controller)

RNC bertanggung jawab mengontrol radio resources pada UTRAN yang membawahi beberapa
Node B, menghubungkan CN (Core Network) dengan user, dan merupakan tempat berakhirnya
protokol RRC (Radio Resource Control) yang mendefinisikan pesan dan prosedur antara mobile
user dengan UTRAN.
• Node B

Node B sama dengan Base Station di dalam jaringan GSM. Node B merupakan perangkat
pemancar dan penerima yang memberikan pelayanan radio kepada UE. Fungsi utama node B
adalah melakukan proses pada layer 1 antara lain : channel coding, interleaving, spreading, de-
spreading, modulasi,
demodulasi dan lain-lain. Node B juga melakukan beberapa operasi RRM (Radio Resouce
Management), seperti handover dan power control
3. CN (Core Network)
Terdapat 2 buah frekuensi yang digunakan pada jaringan 3G di Indonesia, yaitu UMTS 2100Mhz,
dan UMTS 900Mhz

Core Network berfungsi sebagai switching pada jaringan UMTS, memanajeman jaringan serta
sebagai interface antara jaringan UMTS dengan jaringan yang lainnya. Komponen Core
Network UMTS terdiri dari :
 MSC (Mobile Switching Center)
MSC didesain sebagai switching untuk layanan berbasis circuit switch seperti video, video call.
 VLR (Visitor Location Register)
VLR merupakan database yang berisi informasi sementara mengenai pelanggan terutama mengenai
lokasi dari pelanggan pada cakupan area jaringan.
 HLR (Home Location Register)
HLR merupakan database yang berisi data-data pelanggan yang tetap. Data-data tersebut antara
lain berisi layanan pelanggan, service tambahan serta informasi mengenai lokasi pelanggan yang
paling akhir (Update Location)
 SGSN ( Serving GPRS Support Node)
SGSN merupakan gerbang penghubung jaringan BSS/BTS ke jaringan GPRS. Fungsi SGSN
adalah sebagai berikut :
• Mengantarkan packet data ke MS
• Update pelanggan ke HLR
• Registrasi pelanggan baru
 GGSN ( Gateway GPRS Support Node )
GGSN berfungsi sebagai gerbang penghubung dari jaringan GPRS ke jaringan paket data
standard (PDN). GGSN berfungsi dalam menyediakan fasilitas internetworking dengan eksternal
packet-switch network dan dihubungkan dengan SGSN via Internet Protokol (IP). GGSN akan
berperan antarmuka logik bagi PDN, dimana GGSN akan memancarkan dan menerima paket data
dari SGSN atau PDN.

Selain itu juga terdapat beberapa interface baru, seperti : Uu, Iu, Iub, Iur. Antara UE dan UTRAN
terdapat interface Uu. Di dalam UTRAN terdapat interface Iub yang menghubungkan Node B
dan RNC, Interface Iur yang menghubungkan antar RNC, sedangkan UTRAN dan CN
dihubungkan oleh interface Iu. Protokol pada interface Uu dan Iu dibagi menjadi dua sesuai
fungsinya, yaitu bagian control plane dan user plane .

Bagian user plane merupakan protocol yang mengimplementasikan layanan Radio Access
Bearer (RAB), misalnya membawa data user melalui Access Stratum (AS). Sedangkan control
plane berfungsi mengontrol RAB dan koneksi antara mobile user dengan jaringan dari aspek :
jenis layanan yang diminta, pengontrolan sumber daya transmisi , handover , mekanisme
transfer Non Access Stratum (NAS) seperti Mobility Management (MM), Connection
Management (CM), Session Management (SM) ,dan lain-lain.

2. Arsitektur Jaringan 4G (LTE)

1. E-UTRAN

E-UTRAN (Evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network) berfungsi untuk menghubungkan
antara mobile dengan EPC. E-UTRAN terdiri dari satu komponen yaitu evolved Node B (eNB).
Jika menilik ke teknologi sebelumnya (3G), di bagian ini terdiri dari dua komponen yaitu Node B
dan RNC. Di jaringan 4G, eNB memiliki fungsi keduanya, yaitu fungsi dari Node B dan RNC. Ini
semakin mempersingkat waktu komunikasi antara mobile dengan base station tersebut, sehingga
waktu yang dibutuhkan untuk Handover misalnya, akan jauh lebih cepat.
Dua fungsi utama dari E-UTRAN adalah :
Pertama, adalah sebagai pengirim transmisi radio ke semua mobile yang ada di jangkauannya.
Dengan pemrosesan signal analog dan signal digital.
Kedua, sebagai pemroses signalling messages yaitu untuk mengendalikan low level operation dari
sebuah mobile.
Diantara eNB, jaringan LTE memiliki interface yang dinamai dengan interface X2. Interface ini
bukan interface fisik, namun logical interface. Proses handover mobile dilakukan melalui interface
X2 ini, namun jika interface X2 ini tidak availabel, maka dapat juga menggunakan interface S1
yang juga merupakan logical interface. Namun tentunya jika menggunakan interface S1 ini data
yang ditukar lebih memakan banyak waktu dan menyebabkan latency semakin besar.
Mobile hanya bisa terhubung ke jaringan (eNB) dalam satu waktu dan satu cell. Artinya tidak ada
soft handover disini. eNB yang dimana mobile camp di jangkauannya, disebut dengan serving
eNB.
jadi disini LTE hanyalah interface atau penghubung berupa signall LTE ..setelah membaca
setengah artikel ini anda tidak tertipu lagi kan sama yang namanya LTE..

2. EPC (Evolved Packet Core)


disini akan mempelajari arsitektur EPC mungkin andda baru denger ini maka anda harus
menyimaknya dengan konsentrasi tinggi oke..dan boleh ditemani dengan secangkir kopi panas dan
roti wafer hehehehe biar konsen ......mulai kemateri
Beberapa komponen penting dari EPC adalah seperti MME, S-GW, P-GW, HSS. HSS (Home
Subscriber Server) adalah server yang menyimpan seluruh data subscriber network operator.
sampe sekarang mudah mudahan mudeng apa yang sedang dibicarakan ...oke lanjut
perhatikan gambar diatas ,,seteleah anda perhatikan maka pelajarilah artikel dibawah ini dengan
mencocokan yang ada di gambar + secangkir kopi panas untuk menemani anda tetapi artikel kali
ini akan lebih banyak maka siapkan 2 cangki kopi hehehehehehehe
Ada dua jenis interface yang menghubungkan antara E-UTRAN dan EPC (eNB ke MME dan S-
GW), yaitu interface S1-MME yang menangani signalling message (control plane), dan interface
S1-U yang menangani traffic (user plane). Kemudian S-GW dihubungkan dengan MME melaui
sebuah interface yang disebut dengan interface S10 (control plane), sedangkan interface yang
menghubungkan antara S-GW dan P-GW adalah S5/S8. Dimana S5 adalah jika S-GW dan P-GW
berada dalam satu network, ini hubungannya dengan Roaming network. Sedangkan S8 jika S-GW
dan P-GW berada di network yang berbeda. Interface yang menghubungkan network dengan dunia
luar adalah SGi yaitu antara PDN gateway dan internet atau server network operator atau IP
Multimedia Subsystem. Interface S6a menghubungkan antara MME dan HSS.

MME (Mobility Management Entity)


adalah komponen yang mengurus high-level operation dari mobile, menangani mobility mobile
(signalling message). Sebuah UE akan terhubung dengan sebuah MME yang disebut dengan
serving MME. Namun dapat saja berpindah MME jika UE tersebut berpindah cukup jauh.

S-GW (Serving Gateway)


berfungsi sebagai high-level router, yang mana meneruskan data antara eNB dan P-GW. Sebuah
UE akan terhubung dengan sebuah S-GW tapi dapat saja berpindah ke S-GW yang lain jika UE
tersebut berpindah cukup jauh.

P-GW (Packet Data Network Gateway)


adalah titik akhir dimana network berhubungan dengan komponen luar. Seperti halnya internet,
network operator server, dan IP Multimedia subsystem. Setiap P-GW diidentifikasi dengan APN
(Access Point Name). Sebuah operator biasanya menggunakan APN untuk masing-masing
layanan, misal untuk internet atau IP multimedia subsystem. Ketika UE pertama kali dinyalakan
akan langsung disambungkan ke default PDN Gateway seperti halnya internet untuk memberikan
layanan always on. Selanjutnya, akan dihubungkan ke PDN Gateway lain sebagai additional seperti
halnya IP multimedia subsystem atau private corporate network. Setiap PDN gateway akan tetap
sama selama masa waktu koneksi data.
Komparasinya dengan UMTS adalah PDN Gateway sebagai Gateway GPRS Support Node
(GGSN), sedangkan MME dan S-GW adalah Serving GPRS Support Node (SGSN). Memisahkan
antara traffic dan signalling dapat lebih mengontrol lalu lintas data yang ada. MME hanya
menangani masalah signalling, yang artinya jika jumlah UE bertambah/melebihi load maksimum
maka dapat ditambahkan MME pula, Sedangkan S-GW menangani traffic, dimana jika traffic data
bertambah/melebihi load maksimum dapat ditambahkan S-GW.
Frekuensi 4G di Indonesia
3. Arsitektur Jaringan 5G
Tujuan utama jaringan seluler generasi sebelumnya adalah menawarkan layanan data seluler yang
cepat dan andal kepada pengguna jaringan. 5G telah memperluas cakupan ini untuk menawarkan
berbagai layanan nirkabel yang disampaikan kepada pengguna di berbagai platform akses dan
jaringan multi-layer.
5G secara efektif merupakan kerangka kerja dinamis, koheren dan fleksibel dari berbagai teknologi
canggih yang mendukung berbagai aplikasi. 5G menggunakan arsitektur yang lebih cerdas, dengan
Radio Access Networks (RANs) tidak lagi dibatasi oleh kedekatan BTS atau infrastruktur yang
kompleks. 5G memimpin jalan menuju RAN terpilah, fleksibel, dan virtual dengan antarmuka baru
yang menciptakan titik akses data tambahan.

5G Architecture 3GPP
3GPP mencakup teknologi telekomunikasi termasuk akses radio,
jaringan transportasi inti, dan kemampuan layanan. 3GPP telah
menyediakan spesifikasi sistem lengkap untuk arsitektur jaringan 5G
yang jauh lebih berorientasi layanan daripada generasi sebelumnya3GPP
Layanan disediakan melalui kerangka kerja umum untuk fungsi-fungsi
jaringan yang diizinkan untuk menggunakan layanan ini. Modularitas, usabilitas ulang, dan
kemandirian fungsi jaringan adalah pertimbangan desain tambahan untuk arsitektur jaringan 5G
yang dijelaskan oleh spesifikasi 3GPP.

Spektrum dan Frekuensi 5G


Berbagai rentang frekuensi sekarang sedang didedikasikan untuk radio baru 5G (NR). Bagian dari
spektrum radio dengan frekuensi antara 30 GHz dan 300 GHz dikenal sebagai gelombang
milimeter, karena panjang gelombang berkisar 1-10 mm. Frekuensi antara 24 GHz dan 100 GHz
kini dialokasikan ke 5G di banyak wilayah di seluruh dunia.
Selain gelombang milimeter, frekuensi UHF yang kurang dimanfaatkan antara 300 MHz dan 3
GHz juga sedang dirancang ulang untuk 5G. Keragaman frekuensi yang digunakan dapat
disesuaikan dengan aplikasi unik mengingat frekuensi yang lebih tinggi dicirikan oleh bandwidth
yang lebih tinggi, meskipun jangkauannya lebih pendek. Frekuensi gelombang milimeter ideal
untuk daerah padat penduduk, tetapi tidak efektif untuk komunikasi jarak jauh. Dalam pita
frekuensi tinggi dan rendah yang didedikasikan untuk 5G ini, masing-masing operator telah mulai
mengukir sendiri masing-masing bagian terpisah dari spektrum 5G.
MEC
Multi-Access Edge Computing (MEC) adalah elemen penting dari arsitektur 5G. MEC adalah
evolusi dalam cloud computing yang membawa aplikasi dari pusat data terpusat ke tepi jaringan,
dan karenanya lebih dekat dengan pengguna akhir dan perangkat mereka. Ini pada dasarnya
menciptakan jalan pintas dalam pengiriman konten antara pengguna dan host, dan jalur jaringan
panjang yang pernah memisahkan mereka.
Teknologi ini tidak eksklusif untuk 5G tetapi tentu saja merupakan bagian integral dari
efisiensinya. Karakteristik MEC termasuk latensi rendah, bandwidth tinggi, dan akses waktu
nyata ke informasi RAN yang membedakan arsitektur 5G dari pendahulunya. Konvergensi RAN
dan jaringan inti ini akan membutuhkan operator untuk meningkatkan pendekatan baru terhadap
pengujian dan validasi jaringan.
Jaringan 5G berdasarkan spesifikasi 3GPP 5G adalah lingkungan yang ideal untuk penyebaran
MEC. Spesifikasi 5G menentukan enabler untuk komputasi tepi, memungkinkan MEC dan 5G
untuk secara kolaboratif mengarahkan lalu lintas. Selain manfaat latensi dan bandwidth dari
arsitektur MEC, distribusi daya komputasi akan lebih memungkinkan volume tinggi perangkat
yang terhubung yang melekat pada penyebaran 5G dan munculnya Internet of Things (IoT).
NFV and 5G
Network function Virtualization (NFV) memisahkan perangkat lunak dari perangkat keras
dengan mengganti berbagai fungsi jaringan seperti firewall, penyeimbang muatan, dan router
dengan mesin virtual yang dijalankan sebagai perangkat lunak. Ini menghilangkan kebutuhan
untuk berinvestasi dalam banyak elemen perangkat keras yang mahal dan juga dapat
mempercepat waktu pemasangan, sehingga memberikan layanan yang menghasilkan pendapatan
kepada pelanggan dengan lebih cepat.
NFV memungkinkan infrastruktur 5G dengan memvirtualisasi peralatan dalam jaringan 5G. Ini
termasuk teknologi pengiris jaringan yang memungkinkan beberapa jaringan virtual berjalan
secara bersamaan. NFV dapat mengatasi tantangan 5G lainnya melalui komputasi virtual,
penyimpanan, dan sumber daya jaringan yang disesuaikan berdasarkan aplikasi dan segmen
pelanggan.
5G RAN Architecture
Konsep NFV meluas ke jaringan akses radio (RAN) melalui misalnya dis-agregasi jaringan yang
dipromosikan oleh aliansi seperti O-RAN. Ini memungkinkan fleksibilitas dan menciptakan
peluang baru untuk kompetisi, menyediakan antarmuka terbuka dan pengembangan sumber
terbuka, pada akhirnya untuk memudahkan penyebaran fitur dan teknologi baru dengan skala.
Tujuan aliansi O-RAN adalah untuk memungkinkan penyebaran multi-vendor dengan perangkat
keras di luar rak untuk keperluan interoperabilitas yang lebih mudah dan lebih cepat. Dis-agregasi
jaringan juga memungkinkan komponen-komponen jaringan tervirtualisasi, menyediakan sarana
untuk meningkatkan dan meningkatkan pengalaman pengguna seiring dengan meningkatnya
kapasitas. Manfaat komponen virtualisasi RAN memberikan cara untuk menjadi lebih hemat
biaya dari sudut pandang perangkat keras dan perangkat lunak terutama untuk aplikasi IoT di
mana jumlah perangkat dalam jutaan.
eCPRI
Dis-agregasi jaringan dengan pemisahan fungsional juga membawa manfaat biaya lainnya
terutama dengan diperkenalkannya antarmuka baru seperti eCPRI. Antarmuka RF tidak efektif
biaya ketika menguji sejumlah besar operator 5G karena biaya RF meningkat dengan cepat.
Pengenalan antarmuka eCPRI menghadirkan solusi yang lebih hemat biaya karena lebih sedikit
antarmuka yang dapat digunakan untuk menguji beberapa operator 5G. eCPRI bertujuan untuk
menjadi antarmuka standar untuk 5G yang digunakan misalnya pada antarmuka pengangkutan
depan O-RAN seperti DU. CPRI berbeda dengan eCPRI dikembangkan untuk 4G, namun dalam
banyak kasus khusus vendor membuatnya bermasalah untuk operator.
Network Slicing
Mungkin bahan utama yang memungkinkan potensi penuh arsitektur 5G untuk direalisasikan
adalah pengirisan jaringan. Teknologi ini menambahkan dimensi ekstra ke domain NFV dengan
memungkinkan beberapa jaringan logis untuk secara bersamaan berjalan di atas infrastruktur
jaringan fisik bersama. Ini menjadi bagian integral arsitektur 5G dengan menciptakan jaringan
virtual ujung ke ujung yang mencakup fungsi jaringan dan penyimpanan.
Operator dapat secara efektif mengelola beragam kasus penggunaan 5G dengan permintaan
throughput, latensi, dan ketersediaan berbeda dengan mempartisi sumber daya jaringan ke
beberapa pengguna atau "penyewa".
Pengiris jaringan menjadi sangat berguna untuk aplikasi seperti IoT di mana jumlah pengguna
mungkin sangat tinggi, tetapi permintaan bandwidth keseluruhan rendah. Setiap vertikal 5G akan
memiliki persyaratannya sendiri, sehingga pengirisan jaringan menjadi pertimbangan desain yang
penting untuk arsitektur jaringan 5G. Biaya, pengelolaan sumber daya, dan fleksibilitas
konfigurasi jaringan semuanya dapat dioptimalkan dengan tingkat penyesuaian yang sekarang
memungkinkan. Selain itu, pengiris jaringan memungkinkan uji coba yang dipercepat untuk
layanan 5G baru yang potensial dan waktu ke pasar yang lebih cepat.
Beamforming
Teknologi terobosan lain yang tidak terpisahkan dari kesuksesan 5G
adalah beamforming. BTS konvensional memiliki sinyal yang
ditransmisikan dalam berbagai arah tanpa memperhatikan posisi pengguna
atau perangkat yang ditargetkan. Melalui penggunaan multi-input,
multiple-output (MIMO) array yang menampilkan puluhan antena kecil
digabungkan dalam satu formasi, algoritma pemrosesan sinyal dapat
digunakan untuk menentukan jalur transmisi yang paling efisien untuk
setiap pengguna sementara paket individu dapat dikirim dalam beberapa
arahan kemudian dikoreografi untuk mencapai pengguna akhir dalam
urutan yang telah ditentukan.
Dengan transmisi data 5G yang menempati gelombang milimeter, kehilangan propagasi ruang
bebas, sebanding dengan ukuran antena yang lebih kecil, dan kehilangan difraksi, yang melekat
pada frekuensi yang lebih tinggi dan kurangnya penetrasi dinding, secara signifikan lebih besar.
Di sisi lain, ukuran antena yang lebih kecil juga memungkinkan array yang jauh lebih besar untuk
menempati ruang fisik yang sama. Dengan masing-masing antena yang lebih kecil ini berpotensi
menugaskan kembali arah balok beberapa kali per milidetik, beamforming besar untuk
mendukung tantangan bandwidth 5G menjadi lebih layak. Dengan kepadatan antena yang lebih
besar di ruang fisik yang sama, balok yang lebih sempit dapat dicapai dengan MIMO masif,
sehingga memberikan sarana untuk mencapai throughput tinggi dengan pelacakan pengguna yang
lebih efektif.

5G Core Architecture
Arsitektur jaringan inti 5G adalah inti dari spesifikasi 5G baru dan memungkinkan peningkatan
permintaan throughput yang harus didukung oleh 5G. Inti 5G yang baru, seperti yang
didefinisikan oleh 3GPP, menggunakan arsitektur berbasis layanan cloud-aligned (SBA) yang
membentang di semua fungsi dan interaksi 5G termasuk otentikasi, keamanan, manajemen sesi,
dan agregasi lalu lintas dari perangkat akhir. Inti 5G lebih lanjut menekankan NFV sebagai
konsep desain integral dengan fungsi perangkat lunak tervirtualisasi yang dapat digunakan
menggunakan infrastruktur MEC yang merupakan pusat dari prinsip arsitektur 5G.

Perbedaan dari Arsitektur 4G


Perubahan pada tingkat inti adalah di antara segudang perubahan arsitektur yang menyertai
pergeseran dari 4G ke 5G, termasuk migrasi ke gelombang milimeter, MIMO masif, pengiris
jaringan dan pada dasarnya setiap elemen diskrit lain dari ekosistem 5G yang beragam. 4G
Evolved Packet Core (EPC) sangat berbeda dari inti 5G, dengan virtualisasi pengungkit inti 5G
dan desain perangkat lunak asli cloud pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di antara perubahan lain yang membedakan inti 5G dari pendahulunya 4G adalah fungsi pesawat
pengguna (UPF) untuk memisahkan kontrol paket gateway dan fungsi pesawat pengguna, dan
fungsi akses dan fungsi manajemen mobilitas (AMF) untuk memisahkan fungsi manajemen sesi
dari tugas koneksi dan tugas manajemen mobilitas .