Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

GANGGUAN BENIGN PROSTAT HIPERPLASIA


BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) yaitu suatu penyakit perbesaran atau hipertrofi dari
prostat. Hipertrofi bermakna bahwa dari segi kualitas terjadi suatu perbesaran sel, namun
tidak diikuti oleh jumlah kuantitas. Namun hiperplasia merupakan pembesaran ukuran sel dan
di ikuti oleh penambahan sel. Penyebab dari gangguan BPH sering kali menyebabkan
eliminasi urine karena pembesaran prostat yang cenderung kearah depan. (Prabowo &
Pranata, 2014, hal. 130)

Benigna prostat hiperplasia (BPH) adalah pembesaran pada jaringan selular kelenjar
prostat dan sel-sel epitel mengakibatkan prostat menjadi membesar. Ketika prostat cukup
besar akan menekan saluran uretra menyebabkan obstruksi uretra baik secara parsial maupun
total. Hal ini dapat menimbulkan gejala-gejala urinary hesitancy,sering berkemih,
peningkatan resiko infeksi sluran kemih dan retensi urin. (Suharyanto, 2013, hal. 248)

1. Batasan Masalah

Studi pada asuhan keperawatan ini di fokuskan pada konsep penyakit Benigna Prostat
Hiperplasia(BPH) dan konsep asuhan keperawatan Benigna Prostat Hiperplasia(BPH)

1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien penderita BPH

1. Tujuan
2. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menganalisis asuhan keperawatan pasian yang mengalami BPH

2. Tujuan Khusus
3. Memahami konsep penyakit Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)
4. Memahami konsep asuhan keperawatan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Dasar Benigna Prostat Hiperplasia


2. Definisi

Benigna prostat hyperplasia (BPH) adalah suatu penyakit perbesaran atau hipertrofi dari
prostat. Kata – kata hipertrofi seringkali menimbulkan kontroversi dikalangan klinik karena
sering rancu dengan hiperplasia.Hipertrofi bermakna bahwa dari segi kualitas terjadi
pembesaran sel, namun tidak diikuti oleh jumlah (kuantitas).Namun, hyperplasia merupakan
pembesaran ukuran sel (kualitas) dan diikuti oleh penambahan jumlah sel (kuantitas). BPH
seringkali menyebabkan gangguan dalam eliminasi urine karena pembesaran prostat yang
cenderung kearah depan/menekan vesika urinaria. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 130)

Benigna Prostat Hipertropi (BPH) adalah pembesaran kelenjar dan jaringan seluler kelenjar
prostat yang berhubungan dengan perubahan endokrin berkenaan dengan proses penuaan.
Prostat adalah kelenjar berlapis kapsula dengan berat kira-kira 20 gram, berada di sekeliling
uretra dan dibawah leher kandung kemih pada pria. Bila terjadi pembesran lobus bagian
tengah kelenjar prostat akan menekan dan uretra menyempit.

Hiperplasia dari kelenjar prostat dan sel-sel epitel mengakibatkan prostat menjadi membesar.
Ketika prostat cukup besar akan menekan saluran uretra menyebabkan obstruksi uretra baik
secara parsial maupun total. Hal ini dapat menimbulkan gejala-gejala urinary
hesitancy,sering berkemih, peningkatan resiko infeksi sluran kemih dan retensi
urin. (Suharyanto, 2013, hal. 248)

2. Etiologi

Secara pasti penyebab prostat hiperplasia belum diketahui. Tetapi ada beberapa hipotesis
menyebutkan bahwa hiperplasia prostate erat kaitannya dengan peningkatan kadar
dihidrotesteron (DHT) dan proses menjadi tua (aging). Beberapa hipotesis yang diduga
sebagai penyebab timbulnya hyperplasia prostate adalah :

1. Teori DHT

Pembesaran prostate diaktifkan oleh testosteron dan DHT. Testosteron dikonversi menjadi
dihydrotestosteron oleh enzim 5-alpha reduktase yang dihasilkan oleh prostat. DHT jauh
lebih aktif dibandingkan dengan testosteron dalam menstimulus pertumbuhan poliferasi
prostat.

1. Faktor Usia

Peningkatan usia akan membuat ketidakseimbangan rasio antara estrogen dan testosteron.
Dengan meningktanya kadar estrogen diduga berkaitan dengan terjadinya hiperplasia stroma,
sehingga timbul dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya poliferasi sel
tetapi kemudian estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma.

1. Faktor Growth

Cuncha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostate secara
tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator(growth factor) tertentu.
Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma
mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri
secara intrakrin dan atuokrim, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu
menyebabka terjadinya proliperasi sel-sel epitel maupun sel stroma.

1. Meningkatnya masa hidup sel-sel prostate

Program kematian sel(apoptosisi) pada sel prostate adalah mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostate. Pada apoptosisi terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh
sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada jaringan normal terdapat
keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan
prostate baru dengan yang mati dengan keadaan yang seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel
secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan pertambahan masa
prostate. (Wijaya, 2013, hal. 98)

3. Tanda dan gejala

BPH merupakan yang diderita oleh klien laki – laki dengan usia rata – rata lebih dari 50
tahun. Gambaran klinis dari BPH sebenarnya sekunder dari dampak obstruksi saluran
kencing, sehingga klien kesulitan untuk miksi. Berikut ini adalah beberapa gambaran klinis
pada klien BPH:

1. Gejala prostatismus (nokturia, urgency, penurunan daya aliran urine).

Kondisi ini dikarenakan oleh kemampuan vesika urinaria yang gagal mengeluarkan urine
secara spontan dan regular, sehingga volume urine masih sebagai besar tertinggal dalam
vesika.

1. Retensi urine

Report this ad

Pada awal obstruksi, biasanya pancaran urine lemah, terjadi hesistansi, intermitensi, urine
menetes, dorongan mengejan yang kuat saat miksi, dan retensi urine.Retensi urine sering
dialami oleh klien yang mengalami BPH kronis.Secara fisiologis, vesika urinaria memiliki
kemampuan untuk mengeluarkan urine melalui kontraksi otot detrusor. Namun, obstruksi
yang berkepanjangan akan membuat beban kerja detrusor semakin berat dan pada akhirnya
mengalami dekompensasi.

1. Pembesaran prostat

Hal ini diketahui melalui pemriksaan rektal toucher (RT) anterior, biasanya didapatkan
gambaran pembesaran prostat dengan konsistensi jinak.

1. Inkontinesia

Inkontinesia yang terjadi menunjukkan bahwa detrusor gagal dalam melakukan kontraksi.
Dekompensasi yang berlangsung lama akan mengiritabilitas serabut syaraf urinarius,
sehingga control untuk miksi hilang . (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 132)
4. Patofisiologi

Prostat sebagai kelenjar ejakulat memiliki hubungan fisiologis yang sangat erat dengan
dihidrotestosteron (DHT). Hormon ini merupakan hormone yang memacu pertumbuhan
prostat sebagai kelenjar ejakulat yang nantinya akan mengoptimalkan fungsinya. Hormon ini
sintesis dalam kelenjar prostat dari hormone testosterone dalam darah. Proses sintesis ini
dibantu oleh enzim reduktase tipe 2. Selain DHT yang sebagai precursor, estrogen juga
memiliki pengaruh terhadap pembesaran kelenjar prostat. Seiring dengan penambahan usia,
maka prostat akan lebih sensitive dengan stimulasi androgen, sedangkan estrogen mampu
memberikan proteksi terhadap BPH. Dengan pembesaran yang sudah melebihi normal, maka
akan terjadi desakan pada traktus urinarius. Pada tahap awal, obstruksi traktus urinarius
jarang menimbulkan keluhan, karena dengan dorongan mengejan dan kontraksi yang kuat
dari detrusor mampu mengeluarkan urine secara spontan.Namun, obstruksi yang sudah
kronis membuat dekompensasi dari detrusor untuk berkontraksi yang akhirnya menimbulkan
obstruksi saluran kemih.

Keluhan yang biasanya muncul dari obstruksi ini adalah dorongan mengejan saat miksi yang
kuat, pancaran urine lemah/ menetas, dysuria (saat kencing terasa terbakar), palpasi rektal
toucher menggambarkan hipertrofi prostat, distensi vesika.Hipertrofi fibromuskuler yang
terjadi pada klien BPH menimbulkan penekanan pada prostat dan jaringan sekitar, sehingga
menimbulkan iritasi pada mukosa uretra. Iribilitas inilah nantinya akan menyebabkan keluhan
frekuensi, urgensi, inkontinensia, urgensi, dan nokturia. Obstruksi yang berkelanjutan akan
menimbulkan komplikasi yang lebih besar, misalnya hidronefrosis, gagal ginjal, dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, kateterisasi untuk tahap awal sangat efektif untuk mengurangi
distensi vesika urinaria.

Pembesaran pada BPH (hyperplasia prostat) terjadi secara bertahap mulai dari zona
periuretral dan transisional.Hiperplasia ini terjadi secara nodular dan sering diiringi oleh
proliferasi fibromuskular untuk lepas dari jaringan epitel.Oleh karena itu, hyperplasia zona
transisional ditandai oleh banyaknya jaringan kelenjar yang tumbuh pada pucuk dan cabang
dari pada duktus. Sebenarnya proliferasi zona transisional dan zona sentral pada prostat
berasal dari turunan duktus wolfii dan proliferasi zona perifer berasal dari sinus urogenital.
Sehingga, berdasarkan latar belakang embriologis inilah bias diketahui mengapa BPH terjadi
pada zona transisional dan sentral, sedangkan kanker prostat terjadi pada zona perifer
(Prabowo & Pranata, 2014, hal. 133)
5.

Degeneratif

 Pathway(Prabowo & Pranata, 2014, hal. 134)

Aliran visual urine


Kerusakan Integritas Kulit
Estrogen meningkat

Testosterone turun
Dehidrotestosteron meningkat
Hiperplasia epitel & stroma prostat
Peningkatan sel stem
Proliferasi sel
BPH
Obstruksi sel kencing bawah
kronis
Secondary Effect
Residual urine tinggi
Iritabilitas N. Urinarius
Kehilangan control miksi
Fungsi seksual turun
Disfungsi seksual
Tekanan intravesika meningkat
Inkontinensia Urinarius Fungsional
Reflex berkemih meningkat
urgensi
Retensi Urine
Sensitifitas meningkat
Nyeri Akut
Hambatan
Dekompensasi vesika urinaria
Peningkatan Epidermal Growth Factor
Penurunan Transforming Growth Factor Beta
Report this ad
6. Komplikasi

Report this ad

Komplikasi yang dapat terjadi pada hiperplasia prostate adalah :

1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis,


gagal ginjal
2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi
3. Hernia/ hemoroid
4. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu
5. Hermaturia
6. Sistitis dan pielonefritis(Wijaya, 2013, hal. 102)
7. Klasifikasi

Derajad BPH dibedakan menjadi 4 stadium

1. Stadium l

Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urin sampai habis.

1. Stadium ll

Ada retensi urin tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai
habis. Masih tersisa kira-kira 60-150cc. Ada rasa tidak enak BAK disuria dan menjadi
nocturia.

1. Stadium lll

Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150cc.

1. Stadium lV

Retensi urine total. Buli-buli penuh pasien tampak kesakitan. Urine menetes secara periodik
(over tiowin kontinen). (Wijaya, 2013, hal. 100)
1. Konsep Asuhan Keperawatan Benign Prostat Hiperplasia
2. Pengkajian
3. Identitas

BPH(benigna prostat hyperplasia)biasanya terjadi pada usia lebih dari 50 tahun, hanya
dialami oleh laki-laki, pada semua suku bangsa . (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 131)

1. Status kesehatan saat ini:

 Keluhan utama

Biasanya client mengeluh nyeri pada saaat miksi, client juga mengeluh sering bak berulang
ulang,.(anyang-anyangan), terbangu untuk miksi pada malam hari, perasaan ingin miksi yang
sangat mendesak, kalau mau miksi harus menunggu lama, harus mengedan, kencing terputus-
putus. (Wijaya, 2013, hal. 103)

 Alasan masuk Rumah sakit


 Pasien mengeluh sakit pada saat miksi dan harus menunggu lama dan harus
mengedan.
 Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual
 Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
 Pasien mengeluh sering BAK berulang-ulang
 Pasien mengeluh sering terbangun untuk miksi pada malam hari.(Wijaya, 2013, hal.
103)

1. Riwayat kesehatan terdahulu

 Riwayat penyakit sebelumnya

Apakah pasien pernah menderita BPH sebelumnya dan apakah pasien pernah di rawat di
Rumah Sakit sebelumnya. (Wijaya, 2013, hal. 103)

 Riwayat penyakit keluarga

Mungkin diantara keluarga pasien sebelumnya ada yang menderita penyakit yang sama
dengan penyakit pasien yang sekarang. (Wijaya, 2013, hal. 103)

1. Pemeriksaan fisik

 Keadaan umum

1. Tanda – tanda Vital

Sirkulasi terdapat peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal).Adanyapeningkatan


nadi. Hal ini merupakan bentuk kompensasi dari nyeri yang timbul akibat obstruksi meatus
uretralis dan adanya distensi bladder.Terjadi peningkatan akibat retensi urin berlangsung
lama sering ditemukan adanya tanda gejala urosepsis.Terjadi peningkatan frekuensi nafas
akibat nyeri yang dirasakan pasien. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

 Pemeriksaan body sistem


1. Sistem pernapasan

Inspeksi:biasanya klien terjadi sesak nafas,frekuensipernapasan meningkat.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan, ekspansi dada sinetris, getaran tactil fremitus normal.

Perkusi:perkusi paru normal (resonan)

Auskultasi:biasanya terdengar suara nafas tambahan seperti ronchi, wheezing, suara nafas
mnurun, dan perubahan bunyi nafas. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem kardiovaskuler

Inspeksi:Tidak terdapat sianosis, tidak terdapat tanda – tanda perubahan letak maupun
kelainan pada pemeriksaan inspeksi

Palpasi:Biasanya denyut nadi meningkat akral hangat CRT detik

Perkusi :Pada manusia normal pemeriksaan perkusi yang didapatkan pada thorax adalah
redup. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem persyarafan

Inspeksi:Klien menggigil, kesadaran menurun dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis
berat (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem perkemihan

Inspeksi:terdapat masssa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih)

Palpasi:pada palpasi bimanual ditemukan adanya rabaan pada ginjal dan pada palpasi supra
simfisis akan teraba distensi bladder dan terdapat nyeri tekan (Prabowo & Pranata, 2014, hal.
137)

1. Sistem pencernaan

Mulut dan tenggorokan : hilang nafsu makan, mual dan muntah.

Abdomen

Inspeksi:bentuk abdomen datar (simetris), tidak terdapat masa dan benjolan

Auskultasi:biasanya bising usus normal ( 5-35)

Palpasi:tidak terdapat nyeri, tekan dan tidak terdapat pembesaran, permukaan halus.
Perkusi:tympani. (Wijaya, 2013, hal. 104)

1. Sistem integument

Palpasi :Kulit terasa panas, peningkatan suhu tubuh karena adanya tanda gejala urosepsis,
klien menggigil, kesadaran menurun. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem Muskuluskeletal

Traksi kateter direkatkan dibagian paha klien. Pada paha yang direkatkan kateter tidak boleh
fleksi selama traksi masih diperlukan. (Wijaya, 2013, hal. 105)

1. Sistem endokrin

Inspeksi:adanyaperubahan keseimbangan hormone testosterone dan estrogen pada usia


lanjut. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem reproduksi

Laki – laki:Pada pemeriksaan penis, uretra dan skrotum tidak ditemukan adanya kelainan,
kecuali adanya penyakit penyerta seperti stenosis meatus. Pemeriksaan RC (rectal toucher)
adalah pemeriksaan sederhana yang paling mudah untuk menegakkan BPH.Tujuannya adalah
untuk menentukan konsistensi system persyarafan unit vesiko uretra dan besarnya
prostat. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 137)

1. Sistem penginderaan

Inspeksi : pada pasien BPH biasanya pada sistem ini tidak mengalami gangguan pada
penglihatan. (Wijaya A. S., 2013, hal. 105)

1. Sistem imun

Tidak terjadi kelainan imunitas pada penderita BPH. (Wijaya A. S., 2013, hal. 106)

1. Pemeriksaan penunjang

Menurut (Pranata, 2014, hal. 100) Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin.
Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :

 Flow rate maksimal > 15 ml / dtk= non obstruktif.


 Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
 Flow rate maksimal < 10 ml / dtk= obstruktif.

Urinalisa untuk melihat adanya infeksi, hematuria. Ureum, creatinin, elektrolit untuk melihat
gambaran fungsi ginjal.

1. Penatalaksanaan
2. Observasi
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan, yang diberikan yaitu mengurangi
minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, mengurangi minum kopi dan tidak
diperbolehkan minum alkohol supaya tidak selalu sering miksi. Setiap tiga bulan dilakukan
kontrol keluhan, sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.

1. Mengurangi volume prostat sebagai komponen static dengan cara menurunkan kadar
hormon testosteron atau dihidrotestosteron(DHT) melalui penghambat 5a-reductase.

 Penghambat enzim

Obat yang dipakai adalah Fiasteride dengan dosis 1X5 mg/hari, obat golongan ini dapat
menghambat pembendukan dehate sehingga prostat dapat membesar akan mengecil. Tetapi
obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan bloker dan manfaatnya hanya jelas pada
prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido,
ginekomastio, dan dapat menurunkan nilai PSA.

 Filoterapi

Pengobatan filoterapi yang ada di Indonesia yaitu Eviprostat. Efeknya diharapkan terjadi
setelah pemberian selama 1-2bulan.

 Terapi bedah

Waktu penanganan untuk tiap klien bervariasi tergantung beratnya gejala dan komplikasi,
indikasi untuk terapi bedah yaitu retensio urin berulang, batu saluran kemih. (Wijaya, 2013,
hal. 101)

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang muncul menurut SDKI edisi 1 tahun 2016

1. Retensi Urine

Definisi : pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap

Penyebab

 Peningkatan tekanan uretra


 Kerusakan arkus refleks
 Blok springter
 Disfungsi neurologis(misalnya trauma penyakit syaraf)
 Afek agen fermakologis

Gejala dan tanda mayor

Subjektif :

Sensasi penuh pada kandung kemih

Objektif :
 Disuria atau anoria
 Distensi kandung kemih

Gejala dan tanda minor

Subjektif :

Dribbling

Objektif :

 Inkontinensia berlebihan
 Residu urine 150ml atau lebih

Kondisi klinis terkait :

 Benigna prostat hiperplasia


 Pembengkakan perineal
 Cedera medula spinalis
 Rektokel
 Tumor di saluran kemih
1. Nyeri akut

Definisi : pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan
aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berinteraksi ringan hingga
berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Penyebab :

 Agen pencedera fisiologis


 Agen pencedera kimiawi
 Agen pencedera fisik

Gejala dan tanda mayor :

Subjektif :

Mengeluh nyeri

Objektif :

 Tampak meringis
 Bersikap protektif
 Gelisah
 Frekuensi nadi meningkat
 Sulit tidur

Gejala dan tanda minor :

Objektif :
 Tekanan darah meningkat
 Pola nafas berubah
 Nafsu makan berubah
 Proses berfikir terganggu
 Menarik diri
 Berfokus pada diri sendiri
 Diaforesis

Kondisi klinis terkait :

 Kondisi pembedahan
 Cedera traumatis
 Infeksi
 Syndrome koroner akut
 Glaukoma
1. Inkontinensia fungsional

Definisi : pengeluaran urin tidak terkendali karena kesulitan dan tidak mampu mencapai
toilet pada waktu yang tepat.

Penyebab :

 Ketidakmampuan atau penurunan mengenali tanda-tanda berkemih


 Penurunan tonus kandung kemih
 Hambatan mobilisasi
 Faktor psikologis, penurunan perhatian pada tanda-tand akeinginan berkemih(
depresi, bingung, delirium)
 Hambatan lingkungan
 Kehilangan sensorik dan motorik pada geriatri
 Gangguan penglihatan

Gejala dan tanda mayor :

Subjektif :

Mengompol sebelum mencapai atau selama usaha mencapai toilet

Gejala dan tanda minor :

Subjektif :

 Mengompol waktu dipagi hari


 Mampu mengosongkan kandung kemih lengkap

Kondisi klinis terkait :

 Cedera kepala
 Neuropati alkoholik
 Penyakit parkinson
 Penyakit dimielinisasi
 Sklerosis multipel
 Stroke
 Dimensi progresif
 Depresi
1. Disgungsi seksual

Definisi :Perubahan fungsi seksual selama fase respon seksual berupa hasrat, terangsang,
orgasme, dan relaksasi yang dirasa tidak memuaskan, tidak bermakna atau tidak adekuat.

Penyebab :

 Perubahan fungsi atau struktur tubuh


 Perubahan biopsikososial seksualitas
 Ketiadaan model peran
 Model peran tidak dapat mempengaruhi
 Kurang privasi
 Ketiadaan pasangan
 Kesalahan informasi
 Kelainan seksual
 Konflik nilai
 Penganiayaan fisik
 Kurang terpapar informasi

Gejala dan tanda mayor :

Subjektif :

 Mengungkapkan aktivitas seksual berubah


 Mengungkapkan eksitasi seksual berubah
 Merasa hubungan seksual tidak memuaskan
 Mengungkapkan peran seksual berubah
 Mengeluhkan hasrat seksual
 Mengungkapkan fungsi seksual berubah
 Mengeluh nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)

Kondisi klinis terkait :

 Mengungkapkan ketertarikan pada pasangan berubah


 Mengeluh hubungan seksual terbatas
 Mencari informasi tentang kemampuan mencapai kepuasan seksual
1. Kerusakan integritas kulit

Definis :Kerusakan kulit dermis atau epidermis atau jaringan membran mukosa, kornea, fasia,
otot , tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi atau ligamen

Penyebab :

 Perubahan sirkulasi
 Perubahan status nutrisi
 Kekurangan atau kelebihan volume cairan
 Penurunan mobilitas
 Bahan kimia iritatif
 Suhu lingkungan yang ekstrim
 Efek samping terapi radiasi
 Kelembaban
 Proses penuaan
 Neuropati periver

Gejala dan tanda mayor :

Objektif :

Kerusakan jaringan atau lapisan kulit

Gejala dan tanda minor :

Objektif :

 Nyeri
 Perdarahan
 Kemerahan
 Hematoma

Kondisi klinis terkait :

 Imobilisasi
 Gagal jantung kongestif
 Gagal ginjal
 Diabetes melitus
 Imunodefisiensi
1. Ansietas

Definisi :Kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas
dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan
untuk emnghadapi ancaman.

Penyebab :

 Krisis situasional
 Kebutuhan tidak terpenuhi
 Krisis maturasional
 Ancaman terhadap konsep diri
 Ancaman terhadap kematian
 Kekhawatiran mengalami kegagalan
 Disfungsi sistem keluarga
 Hubungan orangtua anak tidak memuaskan
 Faktor keturunan
 Penyalahgunaan zat
 Terpapar bahaya lingkungan
 Kurang terpapar informasi
Gejal dan tanda mayor :

Subjektif :

 Merasa bingung
 Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
 Sulit berkonsentrasi

Objektif :

 Tampa gelisah
 Tampak tegang
 Sulit tidur

Gejala dan tanda minor :

Subjektif :

 Mengeluh pusing
 Anoreksia
 Palpitasi
 Merasa tidak berdaya

Objektif :

 Frekuensi nafas meningkat


 Frekuensi nadi meningkat
 Tekanan darah meningkat
 Diaforesis
 Tremor
 Muka tampak pucat
 Suara bergetar
 Kontak mata buruk
 Sering berkemih
 Berorientasi pada masa lalu

Kondisi klinis terkait :

 Penyakit kronis progresif ( misalnya kanker, penyakit autoimun)


 Penyakit akut
 Hospitalisasi
 Rencana operasi
 Kondisi diagnosis penyakit belum jelas
 Penyakit neurologis
 Tahap tumbuh kembang

3. Intervensi

Berikut ini adalah intervensi yang dirumuskan untuk mengatasi masalah keperawatan pada
klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) (Wilkinson, 2015)
1. Retensi Urine(470)

Tujuan: menunjukan eliminasi urine, yang dibuktika oleh indikator berikut (sebutkan 1-5:
selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak mengalami gangguan): pola eliminasi,
mengosongkan kandung kemih secara tuntas

Kriteria hasil:

1. Residu pasca perkemih>100-200 ml


2. Mendeskripsikan rencana perawat dirumah
3. Tetap bebas dari infeksi saluran kemih
4. Melaporkan penurunan spasme kandung kemih
5. Mempunyai keseimbangan asupan dan haularan 24 jam
6. Mengosongkan kandung kemih secara tuntas

Aktivitas keperawatan :

Pengkajian :

 Identifikasi dan dokumentasi pola pengosongan kandung kemih


 Perawatan retensi urine (NIC) :

Pantauan pengunaan agens non-resep dengan anti kolinergik atau agonis alfa, pantau efek
obat resep, pantau asupan dan haluaran dan pantau derajat distensi kandung kemih melalui
palpasi dan perkusi

Penyuluhan untuk pasien atau keluarga :

 Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang harus
dilaporkan(misalnya, demam menggigil, nyeri pinggang, hematuria, serta perubahan
konsistensi dan bau urine)
 Perawatan retensi urine(NIC): instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat
haluaran urine, bila diperlukan

Aktivitas kolaboratif :

 rujuk ke perawat terapi enterostoma untuk instruksi kateterisasi intermiten mandiri


menggunakan prosedur bersih setiap 4-6jam pada saat terjaga.
 Perawatan retensi urine(NIC) : rujuk pada spesialis kontinensia urine jika diperlukan

Aktivitas lain :

 lakukan program pelatihan pengosongan kandung kemih


 bagi cairan dalam sehari untuk menjamin asupan adekuat tanpa menyebabkan
kandung kemih over distensi
 anjurkan pasien mengonsumsi cairan per oral
 perawatan retensi urine (NIC) :
1. berikan privasi untuk eliminasi
2. gunakan kekuatan sugesti dengan mengalirkan air atau membilas toilet
3. berikan cukup waktu untuk pengosongan kandung kemih(10 menit)
4. gunakan spirtus dari wintergreen pada pispot atau urinal
5. lakukan manuver Crede, jika perlu

1. Nyeri akut berhubungan dengan tekanan intravesika meningkat (298-299).

Tujuan: menunjukan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan
1-5: sangat berat, berat, sedang, ringan, atau tidak ada): ekspresi nyeri pada wajah, gelisah
atau ketegangan otot, durasi episode nyeri, merintih dan mengangis, dan gelisah

Kriteria hasil :

 Pasien akan memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk
mencapai kenyamanan.
 Mempertahankan tingkat nyeri pada atau kurang (dengan skala 0 – 10).
 Melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologi.
 Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi faktor
tersebut.
 Melaporkan nyeri kepada penyediaan layanan kesehatan.
 Menggunakan tindakan meredakan nyeri dengan analgesik dan non analgesik tekanan
darah.
 Mempertahankan selera makan yang baik.
 Melaporkan pola tidur yang baik.
 Melaporkan kemampuan untuk mempertahankan performa peran dan hubungan
interpersonal.

Aktivitas keperawatan :

Pengkajian :

 Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama mengumpulkan


informasi pengkajian.
 Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaran nyeri oleh analgesik dan
kemungkinan efek sampingnya.
 Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata – kata yang sesuai usia dan tingkat
perkembangan pasien.

Penyuluhan untuk pasien atau keluarga :

 Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus diminum,
frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan interaksi obat,
kewaspadaan khusus saat mengonsumsi obat tersebut (misalnya pembatasan aktivitas
fisik, pembatasan diet), dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri
membandel.
 Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika perbedaan nyeri
tidak dapat dicapai.
 Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan
tawarkan strategi koping yang dirasakan.
 Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau opioid (misalnya risiko
ketergantungan atau overdosis).
Aktivitas kolaboratif :

 Kelola nyeri pascabedah awal dengan pemberian opiate yang terjadwal (misalnya,
setiap 4 jam selama 36 jam).
 Manajemen nyeri (NIC) : gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri
menjadi lebih berat, laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika
keluhan, saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien
di masa lalu.

Aktivitas lain :

 Sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi mengenai pengkajian nyeri dan efek
samping.
 Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu, seperti
distraksi, relaksasi atau kompres hangat / dingin.
 Gunakan pendekatan yang positif untuk mengoptimalkan respon pasien terhadap
analgesic (misalnya obat ini akan mengurangi nyeri anda).
 Manajemen nyeri (NIC) : libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri jika
memungkinkan, pastikan pemberian analgesic terapi atau strategi non farmakologi
sebelum melakukan prosedur yang menimbulkan nyeri.

1. Inkontinensia urine fungsional (460-461)

Tujuan: menunjukan kontinensia urine, yang dibuktikan oleh indikator berikut (sebutkan 1-5:
tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):

Mengidentifikasi keinginan berkemih

Berespon tepat waktu terhadap dorongan berkemih

Mencapai toilet antara waktu dorongan berkemih dan pengeluaran urine

Menatalaksana pakaian secara mandiri

Melakukan eliminasi secara mandiri

Mempertahankan pola eliminasi yang dapat diduga

Kriteria hasil: pasien akan menggunakan peralatan adaptif untuk membantu memanipulasi
pakaian (melepas adan mengenakan kembali pakaian untuk eliminasi) dan berpindah jika
inkontinensia berhubungan dengan hambatan mobilitas.

Aktivitas keperawatan :

Pengkajian :

 Kaji eliminasi urine, termasuk frekuensi, konsitensi, bau, volume, dan warna jika
perlu.
 Kumpulkan specimen urine porsi tengah untuk urinalis jika perlu.
Penyuluhan untuk pasien atau keluarga :

 Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang cara memodifikasi lingkungan guna
mengurangi episode mengompol.
 Anjurkan pasien dan keluarga untuk menetapkan rutinitas berkemih pada waktu
tertentu berdasarkan pola eliminasi pasien untuk menurunkan episode mengompol.
 Anjurkan pasien dan keluarga untuk melakukan perawatan kulit dan hygene untuk
mencegah kerusakan kulit.
 Lakukan strategi manajemen kandung kemih selama melakukan aktivitas ditempat
yang jauh dari rumah
 Ajarkan pasien dan pemberi asuhan tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
 Jelaskan perlunya untuk berespons terhadap keinginan berkemih

Aktivitas kolaboratif :

 Konsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk bantuan ketangkasan
manual.
 Management eliminasi urine (NIC) : rujuk kedokter jika tanda dan gejala infeksi
saluran kemih terjadi.

Aktivitas lain :

 Beri pakaian perlindung atau pengalas.


 Modifikasi pakaian yang mudah yang cepat dilepas.
 Pelatihan kebiasaan berkemih (NIC) : tetapkan interval jadwal eliminasi awal
berdasarkan pola berkemih dan rutinitas yang biasanya, bantu pasien untuk eliminasi
dan berkemih tepat waktu pada interval yang diprogramkan, gunakan kekuatan
sugesti untuk membantu pasien berkemih, hindari meninggalkan pasien ditoilet
selama lebih dari 5 menit, kurangi interval eliminasi selama setengah jam jika terjadi
lebih dari dua episode inkontinensia dalam 24 jam, tingkatkan interval eliminasi
selama setengah jam jika pasien tidak mengalami episode inkontinensia selama 48
jam hingga interval optimal setiap 4 jam dicapai.

1. Disfungsi seksual ( 392-393)

Tujuan: menunjukan fungsi seksual, yang dibuktikan oleh indikator (sebutkan 1-5: tidak
pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):

Mencapai rangsangan seksual

Mencapai rangsangan seksual melalui orgasme

Mengekskresikan kemampuan untuk berhubungan intim

Mengekspresikan penerimaan terhadap pasangan

Mengungkapkan keinginan untuk menjadi seksual

Kriteria hasil :
 Pasien dan pasangan akan menunjukkan keinginan untuk mendiskusikan perubahan
fungsi seksual.
 Meminta informasi yang dibutuhkan tentang perubahan fungsi seksual.
 Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang pembatasan atas indikasi medis.
 Beradaptasi dengan model ekspresi seksual untuk mengakomodasi perubahan fisik
akibat usia atau akibat penyakit.
 Mengungkapkan secara verbal cara – cara untuk menghindari penyakit menular
seksual.

Aktivitas keperawatan :

Pengkajian :

 Pantau adanya indicator resolusi Disfungsi Seksual (misalnya, peningkatan kapasitas


keintiman).
 Konseling seksual (NIC) : awali pertanyaan tentang seksualitas dengan suatu
pernyataan pada pasien bahwa banyak orang mengalami masalah seksual.

Penyuluhan untuk pasien atau keluarga:

 Beri informasi yang diperlukan untuk meningkatkan fungsi seksual (misalnya


bimbingan antisipasi, materi pendidikan kesehatan, latihan pereda stress, latihan
meningkatkan sensasi, prostetik, konseling terfokus).
 Konseling seksual (NIC) :diskusikan pentingnya modifikasi dalam aktivitas seksual,
jika diperlukan dan diinformasikan secara dini kepada pasien bahwa seksualitas
merupakan bagian penting dari kehidupan dan bahwa penyakit, obat dan stress (atau
masalah lain yang dialami pasien) sering kali mengubah fungsi seksual.

Aktivitas kolaboratif :

 Dukung kelanjutan konseling setelah pemulangan.


 Konseling seksual (NIC) : lakukan perujukan atau konsultasikan dengan anggota tim
layanan kesehatan lain jika perlu. Dan rujuk pasien kepada ahli terapi seks jika
diperlukan.

Aktivitas lain :

 Anjurkan pengungkapan keluhan seksual melalui peran pemberi asuhan yang telah
membina hubungan saling percaya dengan pasien dan merasa nyaman mendiskusikan
keluhan seksual. Sebutkan siapa emberi asuhan tersebut.
 Beri waktu dan privasi untuk membahas permasalahan seksual pasien.
 Konseling seksual (NIC) : anjurkan pasien untuk mengungkapkan ketakutan –
ketakutan dan menganjurkan pertanyaan. Dan libatkan pasangan seksual dalam
konseling seoptimal mungkin jika diperlukan.

1. Kerusakan integritas kulit (398-399)

Tujuan: menunjukan integritas jaringan ; kulit dan membran mukosa, yang dibuktikan oleh
indikator berikut (sebutkan 1-5: gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
Suhu, elastisitas, hidrasi, dan sensasi

Perfusi jaringan

Keutuhan kulit

Kriteria hasil :

 Drainase purulen(atau lainnya) atau bau luka minimal


 Tidak ada lepuh atau maserasi pada kulit
 Nekrosis,selumur lubang, perluasan luka ke jaringan dibawah kulit atau pembentukan
saluran sinus berkurang atau tidak ada
 Eritema kulit dan eritema disekita luka minimal

Aktivitas keperawatan :

 Untuk aktivitas keperawatan yang spesifik, lihat pada diagnosis keperawatan berikut
ini : infeksi dan resiko.
 Integritas kulit, kerusakan
 Integritas kulit, resiko kerusakan.

Pengkajian :

 Kaji fungsi alat-alat seperti alat penurunan tekanan meliputi kasur udara statis, terapi
low-air loss, terapi udara yang di cairkan,
 Perawatan area insisi (NIC) : infeksi adanya kemerahan, pembengkakan, atau tanda-
tanda dehisensi atau eviserasi pada area insisi

Penyuluhan untuk pasien atau keluarga :

Ajarkan perawatan luka insis pembedahan, termasuk tanda dan gejala infeksi, cara
mempertahankan luka insisi tetap kering saat mandi, dan mengurangi penekanan pada insisi
tersebut.

Aktivitas kolaborativ :

 Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein, mineral, kalori, dan
vitamin
 Rujuk ke perawat terapi untuk mendapatkan bantuan dalam pengkajian, penentuan
derajat luka, dan dokumentasi perawatan luka atau kerusakan kulit.
 Perawatan luka(NIC) : gunakan unit TENS untuk peningkatan proses penyembuhan
luka, jika perlu

Aktivitas lain :

 Evaluasi tindakan pengobatan atau pembalutan topikal yang dapat meliputi balutan
hidrokoloit, balutan hidrofilik, balutan absorben, dan sebagainya
 Lakukan perawatan luka kulit secara rutin seperti: ubah dan atur posisi pasien secara
sering, pertahankan jaringan sekitar terbebas dari drainase dan kelembapan yang
berlebihan dan lindungi pasien dari kontaminase feses atau urine.
1. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan.

Tujuan: menunjukan pengendalian diri terhadap ansietas, yang dibuktikan oleh indikator
sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):

Merencanakan strategi koping untuk situasi penuh tekanan

Mempertahankan performa peran

Memantau ditorsi, persepsi sensori

Memantau manifestasi perilaku ansietas

Menggunakan teknik relaksasi untuk meredakan ansietas

Kriteria hasil :

 Pasien akan meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun mengalami kecemasan.


 Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada pengetahuan dan keterampilan yang
baru.
 Mengidentifikasi gejala yang merupakan indicator ansietas pasien sendiri.
 Memiliki tanda – tanda vital dalam batas normal.

Aktivitas Keperawatan :

Pengkajian :

 Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik.


 Kaji untuk faktor budaya yang menjadi penyebab ansietas.
 Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan tidak berhasil menurunkan
ansietas dimasa lalu.
 Reduksi ansietas (NIC) : menentukan kemampuan pengambilan keputusan pasien.

Penyuluhan untuk pasien atau keluarga :

 Membuat rencana penyuluhan dengan tujuan yang realistis, termasuk kebutuhan


untuk pengulangan, dukungan, dan pujian terhadap tugas – tugas yang telah dipelajari.
 Informasikan tentang gejala ansietas.
 Penurunan ansietas (NIC) : sediakan informasi faktual menyangkut diagnosis, terapi
dan prognosis serta instruksikan pasien tentang penggunaan tekhnik relaksasi.

Aktivitas Kolaboratif :

Penurunan ansietas (NIC) : berikan obat untuk menurunkan ansietas, jika perlu.

Aktivitas lain :

 Pada saat ansietas berat, damping pasien, bicara dengan tenang, dan berikan
ketenangan serta rasa nyaman.
 Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan
perasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas.
 Bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai cara untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas.

DAFTAR PUSTAKA

PPNI, T. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Nasional. Jakarta: DPP PPNI.

Prabowo, E., & Pranata, A. E. (2014). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan. Jogjakarta:
Nuha Medika.

Suharyanto, T. (2013). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem


Perkemihan. Jakarta: CV.TRANS INFO MEDIA.

Wijaya, A. S. (2013). Keperawatan Medikal Bedah 1( Keperawatan Dewasa). Yogyakarta:


Nuha Medika.

Wilkinson, J. M. (2016). Buku saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

Anda mungkin juga menyukai