Anda di halaman 1dari 2

REGULASI PENUTUPAN KARAOKE DAPAT MENGURANGI EKSPLOITASI TERHADAP Sebelumnya, juga terdapat tokoh ulama yang juga merupakan

lama yang juga merupakan pimpinan Pondok Pesantren


PEREMPUAN Al Hasani Kyai Sufyan Al Hasani yang tidak sepakat jika tempat hiburan karaoke ditutup.
Menurutnya, jika alasannya adalah mengundang kemaksiatan maka yang perlu di hilangkan
adalah maksiatnya bukan justru tempatnya ditutup. “Di sini yang diperlukan adalah
manajemen yang baik, serta adanya pengawasan dan pembinaan dari petugas dan
PRO
pemerintah,” paparnya.

Sedang menurut Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 16 tahun 2014
tentang Standar Usaha Karaoke, pasal 1 ayat (2) dijelaskan bahwa Usaha Karaoke adalah
usaha yang menyediakan tempat dan fasilitas menyanyi dengan atau tanpa pemandu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa usaha karaoke secara hukum adalah usaha yang
legal dan dilindungi oleh undang-undang. Usaha karaoke masuk kategori usaha hiburan
sebagai destinasi wisata. Sehingga di kota-kota besar di Indonesia banyak kita jumpai tempat-
tempat karaoke.

Dari tinjauan moral agama, Islam misalnya maka kita lihat disini ada dua fakta yang akan
dihukumi. Yaitu bernyanyi dan menyewakan tempat serta fasilitas menyanyi. Hukum
KONTRA bernyanyi dalam Islam adalah mubah, sebagaimana kaidah ushul berbunyi "Aal ashlu fil af'al
at taqayyud bi ahkamisy syar'i" (hukum asal perbuatan terikat dengan hukum syara'). Ada 5
hukum syara' yaitu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.
Pasalnya, hiburan itu perlu. Bahkan di negeri mana pun tak bisa dipungkiri adanya tempat
Di dalam literatur Islam tidak ada satu ulama pun yang mengharamkan bernyanyi atau yang
hiburan, kecuali di kota Madinah dan Makkah. Maka dari itu seharusnya cukup diatur
kadang disebut nasyid. Sementara menyewakan tempat dan fasilitas bernyanyi maka
lokasinya dan dibuat ketentuan operasionalnya serta dibatasi jumlah tempat karaoke agar
hukumnya pun mubah atau halal. Hasil dari penyewaan tempat dan fasilitas ini pun halal dan
tidak liar. “Menurut saya yang penting dibuat aturan yang melindungi semua kepentingan,”
thoyibah (baik).
tegasnya, Jumat (24/3/2017).
Jadi secara objektif dari tinjauan hukum negara dan agama, usaha karaoke adalah usaha yang
Dijelaskannya, Raperda seharusnya bukan untuk menutup usaha hiburan karaoke akan tetapi
halal dan legal. Setiap warga negara berhak dan boleh membuka usaha karaoke sesuai
mengatur agar terjaga keseimbangan kepentingan. Menurutnya kalau untuk menutup tempat
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagaimana usaha warung makan
usaha hiburan karaoke yang tidak berijin itu mungkin. Namun untuk menutup usaha karaoke
dan restoran, usaha kelontong dan sembako, usaha hotel dan penginapan serta usaha-usaha
yang berijin tentunya tidak ada alasan terkecuali terdapat pelanggaran terhadap ketentuan
halal lainnya.
yang ada. “Mengenai usaha hiburan karaoke perlu dibatasi saya setuju. Jangankan usaha
karaoke, pembangunan tempat ibadah saja diatur dan dibatasi,” katanya. Bahwa ada dampak positif dan negatif dalam sebuah perkara, itu adalah persoalan lain.
Kelompok yang menuntut ditutupnya usaha karaoke melihat dari dampaknya, tidak melihat
Pihaknya menegaskan Indonesia itu negara hukum (rechtstaat), bukan negeri kekuasaan
dari usaha inti dari karaoke. Disinilah kesalahan pertama dimulai. Jika hanya melihat dari
(machstaat). Indonesia juga juga bukan negara liberalis, atau pun negeri bebas bak negara
dampak negatif, maka semua usaha memiliki dampak negatif.
hukum rimba. “Untuk itu perlu duduk bersama antara legislatif, eksekutif, pakar hukum,
penegak hukum, pengusaha karaoke, tokoh agama dan tokoh masyarakat,” terangnya.
Usaha hotel dan penginapan berdampak penyalahgunaan untuk perselingkuhan dan prostitusi
terselubung. Usaha warnet dan game online berdampak pada pemborosan dan merusak waktu
belajar anak. Usaha mall dan tempat perbelanjaan berdampak pada gaya hidup konsumtif dan
hedonis. Usaha pariwisata berdampak pada penyalahgunaan sebagai tempat mesum dan
pemborosan.

Jika yang disalahkan adalah usahanya maka ini cara berpikir picik dan arogan. Seperti ada
oknum polisi yang nakal maka bubarkan institusi polisinya. Ada anggota DPR yang korup
maka bubarkan lembaga DPR-nya. Ada perselingkuhan di lingkungan sekolah maka tutup
sekolahnya. Sangat naif.

Tuduhan bahwa tempat karaoke sebagai pemicu penularan virus HIV AIDS maka ini adalah
salah besar. Penularan virus HIV AIDS hanya bisa terjadi jika ada hubungan seksual dan
melalui jarum suntik atau transfusi darah serta dari ibu menyusui kepada bayinya. Tempat
karaoke bukan tempat mesum, bukan tempat suntik menyuntik atau tempat donor darah,
apalagi tempat menyusui.

Tuduhan bahwa tempat karaoke menjadi penyebab perceraian dan perselingkuhan juga
merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Silakan datang ke Pengadilan Agama, minta data
pasangan yang bercerai untuk tahu sebabnya mereka berpisah, atau apakah yang bercerai itu
penggemar karaoke atau bukan.

Tuduhan bahwa tempat karaoke menjadi tempat pesta miras juga tidak benar. Seluruh tempat
karaoke di Kebumen tidak menjual minuman beralkohol, dan dengan tegas melarang
pengunjung nya mengkonsumsi miras. Sementara jika miras adalah alasannya, kenapa tidak
ditutup saja pabrik dan produsennya ?

Kemudian dari pada itu, bahwa tidak ada alasan hukum dan obyektif untuk menutup usaha
karaoke, maka tuntutan sekelompok orang tersebut adalah bentuk arogansi dan intimidasi
sosial.

Pemerintah dalam hal ini Bupati dan DPRD Kebumen harus obyektif dan tetap berpegang
pada koridor hukum serta moral, bukan hanya menurut pada sekelompok orang yang
memaksakan kehendak tanpa landasan yang jelas. Pemerintah dikelola untuk melindungi dan
menaungi seluruh lapisan masyarakat bukan hanya untuk memenuhi hasrat sekelompok orang
saja.