Anda di halaman 1dari 5

Nama Dosen :…

Tanggal Praktikum : 13 Februari 2019

Laporan Praktikum Farmakologi II

ANESTESI LOKAL

Kelompok / Paralel

Rivangga Yuda H. B04160098


Shila Rahmafia Putri B04160181
Jonathan Ho Kah Keat B04168014
Gan Li Yan B04168024

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemakaian anestesi lokal atau anestesi regional semakin berkembang dan meluas. Hal ini
sebagai dampak dari keuntungan yang diberikan oleh anestesi lokal, diantaranya harga yang
relative lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal, analgesik yang diberikan lebih kuat, dan
kemampuan pencegahan respon stress yang lebih sempurna (Samodo et. al. 2011). Anestesi lokal
secara luas digunakan untuk mencegah dan mengurangi rasa nyeri, mengurangi reaksi inflamasi
seperti pada kanker dan nyeri kronis, serta untuk tujuan diagnostik dan prognostik. Penggunaan
anestesi lokal tidak sedikit pula yang menimbulkan efek samping. Untuk memastikan
penggunaannya tetap aman, pemilihan jenis anestesi lokal harus dikonsultasikan untuk melihat
riwayat pasien untuk mempertimbangkan kesehatan pasien dan rencana perawatan kedepannya
(Heavner 2007).

Anestesi lokal adalah hilangnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa disertai dengan
hilangnya kesadaran. Anestesi lokal merupakan aplikasi atau injeksi obat anestesi pada daerah
spesifik di tubuh (Hasanah 2015). Secara kimiawi, obat anestesi lokal dibagi menjadi dua golongan
besar, yaitu golongan ester dan golongan amide. Obat anestesi lokal yang umum digunakan di
Indonesia untuk golongan ester adalah prokain, sedangkan untuk golongan amide adalah lidocaine
dan bupivakain (Samodo et. al. 2011). Anestesi lokal akan memblok secara reversibel pada sistem
konduksi saraf pada daerah tertentu sehingga terjadi kehilangan sensasi dan aktivitas motorik
(Howe 1998).

Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui prinsip kerja dari obat anestesi lokal dan gejala klinis
yang menyertainya.

METODE

Alat dan Bahan


Langkah Kerja

HASIL DAN PEMBAHASAN

Anestesi lokal didefinisikan sebagai kehilangan sensasi pada daerah tubuh tertentu yang
disebabkan oleh depresi eksitasi pada ujung saraf atau adannya penghambatan proses konduksi
saraf perifer (Hasanah 2015). Percobaan pemberian anestesi lokal pada praktikum dengan hewan
coba tikus putih memberikan hasil

Tabel 1 Hasil pemberian procain 0.05mL pada tikus putih

Menit ke- Reflek


0 Ada
2 Tidak Ada
4 Tidak Ada
6 Tidak Ada
8 Tidak Ada
10 Ada

Procain merupakan anestetik lokal suntikan yang pertama kali diciptakan dengan nama
dagang Novocaine. Prokain memiliki efek vasodilatasi yang kuat. Oleh karena itu, prokain 2%
tanpa vasokonstriktor hanya memberikan anesthesia jaringan selama15-30 menit (Marsaoly 2015).
Percobaan pemberian obat anestesi lokal procain 0.05mL pada tikus putih menunjukkan jika
procain memiliki onset selama dua menit dan durasi selama delapan menit. Pada menit ke-2,
bagian tubuh tikus yang disuntikkan lidokain mulai kehilangan reflek. Hal ini terjadi hingga menit
ke-8. Pada menit ke-10, reflek pada tubuh tikus kembali muncul. Menurut Mardjono 2007,
pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 800mg akan memberikan durasi
selama 30-45 menit, sedangkan pemberian dengan anestesi epidural dosis 300-900mg akan
memberikan onset selama 5-15 menit dan durasi selama 30-90 menit.

Tabel 2 Hasil pemberian kombinasi procain dan adrenalin 0.05mL pada tikus putih

Menit ke- Reflek


0 Ada
2 Tidak Ada
4 Tidak Ada
6 Tidak Ada
8 Tidak Ada
10 Tidak Ada
12 Tidak Ada
14 Tidak Ada
16 Tidak Ada

Tabel 3 Hasil pemberian lidocaine 0.05mL pada tikus putih

Menit ke- Reflek


0 Ada
2 Ada
4 Tidak Ada
6 …
8 …

Tabel 4 Hasil pemberian campuran lidocaine dan adrenalin 0.05mL pada tikus putih

Menit ke- Reflek


0 Ada
2 Tidak Ada
4 Tidak Ada
6 Tidak Ada
8 Tidak Ada
10 Tidak Ada
12 Tidak Ada
16 Tidak Ada
18 Tidak Ada
20 Tidak Ada
22 Tidak Ada
24 Ada
Lidocain merupakan obat yang baik untuk anaestesi lokal karena memberikan efek mula
kerja (onset) yang cepat dan lebih aman dibanding Procain dan Tetracain. Pada praktikum
ditambahkan vasokonstriksor (adrenalin), penambahan vasokontriktor berguna untuk
mengurangi kecepatan absorpsi anaestesi lokal sehingga dapat mengurangi toksisitas
sistemiknya tetapi akan memperpanjang dan memperkuat kerja anaestesi local (Hasanah 2015)

Pada data praktikum menunjukkan onset pada menit ke 2 dan durasi bertahan hingga
menit ke 24, hal ini sesuai dengan literatur dimana lidokain memiliki onset yang sangat cepat,
dan jika ditambahkan dengan vasokontriktor seperti adrenalin akan memperpanjang durasi dari
anastesi tersebut. Penambahan adrenalin pada larutan anaestetika lokal akan memberikan
rangsangan pada saraf adrenergic yang ada pada otot polos pembuluh darah kulit dan
menyebabkan vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah) sehingga berkurangnya kecepatan
absorpsi dalam darah (Mardjono 2007).

PENUTUP

Kesimpulan

Obat anestesi lokal memiliki mekanisme kerja yang menghambat transmisi impuls saraf
(blokade konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium
selektif pada membrane saraf sehingga ambang batas potensial tidak tercapai sehingga potensial
aksi tidak disebarkan (rasa sakit hilang), anestesi lokal juga memblok kanal kalsium dan
potasium dan reseptor Nmethyl-D-aspartat (NMDA). Dengan penambahan vasokonstriktor
seperti adrenalin akan memperlama durasi anastesi walaupun onsetnya tidak bertambah.

DAFTAR PUSTAKA

Hasanah AH. 2015. Pertimbangan Pemilihan Anestesi Lokal pada Pasien dengan Penyakit
Sistemik [Skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanuddin.

Heavner JE. 2007. Local anesthetic. Current Opinion in Anesthesiology. 20(3): 336-342.

Howe GL. 1998. Pencabutan Gigi Geligi. Jakarta (ID): EGC.

Mardjono M. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta (ID): EGC.

Marsaoly SH. 2015. Perbandingan Efektifitas Aplikasi Dua Golongan Amida yang Digunakan
pada Pencabutan Gigi [Skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanuddin.

Samodro R, Sutiyono D, Satoto HH. 2011. Mekanisme kerja obat anestesi lokal. Jurnal
Anestesiologi Indonesia. 3(1).