Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Perekayasaan Budidaya Air Payau dan Laut No.

14 Tahun 2019
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

PENANGGULANGAN PENYAKIT BERAK PUTIH


PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
Yani Lestari Nur’aini1, Fatmawati2, Bambang Hanggono3, Arman Faries4

Abstrak

Penyakit berak putih telah menyerang ke beberapa negara produsen udang di Asia seperti
Thailand, Vietnam, India, Cina, Malaysia dan Indonesia. Apabila tidak ditangani secara cepat
dan tepat, penyakit berak putih dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi para petambak.
Perlu dilakukan kegiatan kerekayasaan tentang penanggulangannya pada udang vanamei
(Litopenaues vannamei). Uji coba dilakuakan dengan 4 perlakuan masing-masing dengan 3
ulangan. Perlakuan A udang diberi pakan pellet komersial tanpa penambahan suplemen
(kontrol). Perlakuan B pakan pellet ditambah denga tepung bawang putih. Perlakuan C pakan
pellet ditambah dengan probiotik PrtoFish Perlakuan D pakan pellet komersial yang sudah
mengandung probiotik. Udang diberi pakan perlakuan selama 30 hari, kemudian diuji tantang
dengan diberi pakan udang positif WFD. Parameter pengamtan meliputi Pertumbuhan, respon
imun berupa THC, Aktivitas Respiratory Brust (RB), Aktifitas Phenoloxydase(Pro PO) pada
hari H0, H30 dan 37 hari setelah uji tantang (H37). Udang yang moribund dianalisa PCR dan
dibuat preparat histologi. Penambahan suplemen pada pakan 1) tidak berbeda nyata antar
perlakuan terhadap laju pertumbuhan harian baik bobot maupun panjang mutlak tubuh udang.
2) Pemberian suplemen pada pakan dapat meningkatkan sistim imun (total hemocyte count,
aktivitas respiratory brust tetapi tidak mampu meningkatkan aktivitas pro phenoloxidase. 3)
Survival rate udang pemberian penambahan suplemen pada pakan udang pada semua
perlakuan tidak berbeda nyata dengan kontrol, namun demikian perlakuan D survival ratenya
relatif lebih tinggi 13,33 % dari kontrol. 4) EHP (Enterocytozoon Hepatopeneaid) terdeteksi
baik pada Hepatopankreas, feces, dan udang tambak yang mengalami White Feses Disease.
Pada akhir uji coba semua udang perlakuan positif EHP. 5) Patologi udang yang terserang
WFD adalah adanya massa bakteri pada lumen tubula HP dan adanya nodul yang terbentuk
pada lumen tubula HP

Kata Kunci: Kappaphycus alvarezii, Plantlet, Cahaya

Abstract: The Prevention of White Feces Disease on White Shrimp (Lithopenaeus


vannamei)

White feces disease has attacked several shrimp producing countries in Asia, such as
Thailand, Vietnam, India, China, Malaysia, and Indonesia. If it is not handled quickly and
precisely, white feces disease can cause huge losses for farmers. Therefore, it is necessary
to carry out a study of the prevent this disease on vannamei shrimp (Litopenaues vannamei).
The Study was carried out with 4 treatments each with 3 replications. A shrimp treatment is
given commercial pellet feed without supplement addition (control). The treatment of B pellet
feed is added with garlic flour. Treatment of pellet feed C coupled with PrtoFish probiotics
Treatment of commercial pellet feed containing probiotics. Shrimp were fed with the treatments
for 30 days, then challenged by WFD positive shrimp feed. Safety parameters include Growth,
immune response in the form of THC, Respiratory Brust Activity (RB), Phenoloxidase Activity

1 Perekayasa pada BPBAP Situbondo


2 Perekayasa pada BPBAP Situbondo
3 Perekayasa pada BPBAP Situbondo
4 Pengendali Hama dan Penyakit Ikan pada BPBAP Situbondo

108
109 NUR’AINI, ET AL. Jurnal Perekayasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

(Pro PO) on days H0, H30 and 37 days after challenge test (H37). Moribund shrimp were
analyzed by PCR and histological preparations were made. Addition of supplements to feed
1) was not significantly different between treatments for daily growth rates both the absolute
weight and the length of the shrimp body. 2) Supplementation in feed can increase the immune
system (total hemocyte count, respiratory burst activity but not able to increase pro
phenoloxidase activity. 3) Shrimp survival rate giving a supplement to shrimp feed in all
treatments was not significantly different from control, however, treatment D Its survival rate
is relatively 13.33% of the control. 4) EHP (Enterocytozoon Hepatopeneaid) was detected in
both the hepatopancreas, stool and pond shrimp that experienced White Fecal Disease. At
the end of the trial, all shrimp were treated positively with EHP. 5) Pathology of shrimp that is
attacked by WFD is the presence of a mass of bacteria in the lumen of the HP tubule and the
presence of nodules formed on the lumen.

Keywords: prevention, White Feces Disease, white leg shrimp

I. PENDAHULUAN permukaan air tambak dan diikuti oleh


penurunan nafsu makan (Somboon dkk, 2012).
1.1. Latar Belakang Apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat,
penyakit berak putih dapat menyebabkan
Budidaya udang telah tumbuh dengan
kerugian yang besar bagi para petambak.
pesat baik dari segi perkembangan jumlah
Sehingga perlu dilakukan usaha pencegahan
daerah pertambakan maupun produksi untuk
atau preventif serta pengobatan atau kuratif
ekspor terutama lima tahun terakhir. Hal ini
yang tepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan
ditandai dengan introduksi udang vaname ke
kegiatan kerekayasaan tentang
Indonesia pada tahun 2001. Udang vaname
penanggulangannya pada udang vanamei
mampu menggantikan posisi udang windu
(Litopenaues vannamei).
sebagai salah satu komoditas andalan
perikanan budidaya dalam memenuhi ekspor
1.2. Tujuan
perikanan. Udang vaname (Litopenaues
vannamei) dikenal sebagai udang yang tumbuh Tujuan dari perekayasaan ini adalah
cepat, dapat dibudidayakan dalam kondisi padat mendapatkan teknik penanggulangan penyakit
tebar yang tinggi, memiliki nilai ekspor yang berak putih pada udang vaname.
tinggi serta tahan terhadap penyakit.
Akhir-akhir ini, beberapa negara produsen 1.3. Sasaran
udang vanamei banyak mengalami penurunan Sasaran dari kegiatan perekayasaan ini
produksi dikarenakan serangan penyakit baik adalah didapatkannya teknik penanggulangan
patogen yang berasal dari virus, bakteri maupun penyakit berak putih pada udang vaname
parasit. Berbagai virus diketahui telah banyak
menyerang udang vaname antara lain WSSV,
IHHNV, TSV dan IMNV. Dari jenis bakteri adalah II. METODOLOGI
Vibrio harveyi dan terbaru adalah V.
parahaemolyticus atau lebih dikenal dengan 2.1. Alat dan Bahan
penyakit EMS (Early mortality disease). Selain Alat yang dibutuhkan dalamperekayasaan
itu, sindrom penyakit berak putih atau “white adalah:
feces syndrome” banyak menyerang udang • Thermal cycler
vaname yang dibudidayakan terutama setelah • Laminar flow
udang berumur dua bulan. • Heating block
Penyakit berak putih telah menyerang ke • Refrigerated centrifuge
beberapa negara produsen udang di Asia • Timbangan analitik
seperti Thailand (Somboon dkk., 2012;
• Elektroforesis
Sriurairatana dkk., 2014), Vietnam (Ha, 2011),
Indonesia (Tang dkk, 2016), India (Durai dkk., • UV gel documentation
2015), Cina (Cao dkk., 2015), Malaysia (Chu • Mikropipet
dkk., 2016). Gejala klinis udang yang terserang • Peralatan histologi
penyakit berak putih tidak tampak secara jelas. • Peralatan pemeliharaan udang
Adanya “kotoran putih” yang melayang di
No. 14 Tahun 2019 PENANGGULANGAN PENYAKIT BERAK PUTIH 110
PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Bahan yang dibutuhkan dalam sesuai dengan prosedur dari Bell dan Lightner
perekayasaan adalah: (1988) dan Lightner (1996).
• Udang vaname
• Lysis buffer • Pengendalian penyakit berak putih
• DNA master mix secara in vivo
• Agarose Uji pengendalian penyakit berak putih
• Primer Enterocytozoon hepatopenaei secara in vivo dilakukan Uji coba dilakukan
(EHP) dengan 4 perlakuan masing-masing dengan 3
• Bahan preparasi histologi ulangan.
• Bahan uji ekstrak bawang putih komersial, - Perlakuan A = kontrol, udang diberi pakan
Probiotik Pro Fish dan Pakan komersial komersial
yang mengandung probiotik - Perlakuan B = Udang diberi pakan pellet
• NBT yang diberi bawang putih
- Perlakuan C = Udang diberi pakan
• Methanol absolut (100%)
komersial ditambah dengan probiotik
• Metanol (70%)
FishGrow
• KOH (Potasium Hydroxide) - Perlakuan D = Udang diberi pakan
• DMSO komersial yang sudah mengandung
• cacodylate-citrate buffer probiotik
• cacodylate buffer Udang dipelihara pada fiber volume 500 –
• Trypsin 1000 liter dan diberi pakan perlakuan selama 1
• L-DOPA bulan. Parameter yang diamati adalah
pertumbuhan udang setiap 10 hari sekali.
2.2. Metode kerja Setelah satu bulan udang dipelihara dalam
kontainer volume 80 liter, masing- kontainer diisi
• Sampel Udang Vanamei
10 ekor udang. Udang kemudian direinfeksi
Sampel udang yang terindikasi terinfeksi
dengan diberi pakan udang yang sakit WFD.
penyakit berak putih diambil dari tambak di
Masing masing kontainer diberi pakan udang
Peleyan, Situbondo di Jawa Timur. Organ yang
sebanyak 10 gram dan pemberian pakan
diamati antara lain hepatopankreas, usus dan
kotoran udang. Organ-organ tersebut difiksasi dilakukan 3 hari berturut turut. Parameter yang
diamati adalah Uji imunologi udang (Total
dengan alkohol 96% untuk uji Polymerase chain
Haemocyt Count, Analisa Pro PO, dan
reaction (PCR). Sampel organ yang segar
Respiratory Burst menurut Song and Hesieh,
difiksasi dengan Davidson untuk uji
1994) yang diamati pada H0, H7 setelah
histopatologi. Selain itu, udang yang sakit
reinfeksi. Analisa PCR dan histologi dilakukan
digunakan untuk reinfeksi.
terhadap udang yang moribund pada saat
pertama kali terjadi.
• Preparasi DNA
Sampel uji berupa hepatopankreas, usus,
• Coating Pellet + tepung bawang putih +
kotoran udang serta bakteri dilakukan ekstraksi
progold
DNA dengan menggunakan kit Lysis Buffer (IQ
- 1 kg pelet kering disiapkan di nampan
2000)
- Menggunakan wadah mangkuk, timbang
tepung bawang putih sebanyak 20 g dan
• Uji PCR
progold sebanyak 5 g
Sampel hepatopankreas, usus dan kotoran
- Campurkan tepung bawang putih dan
udang akan diuji PCR untuk parameter
progold dengan air tawar sebanyak+ 20 ml
Enterocytozoon hepatopenaei atau EHP
- Cetak ulang pellet kemudian dikering
berdasarkan metode dari Tangprasittipap dkk
anginkan
(2013); Tang dkk (2015) serta Jaroenlak dkk
- Kemas dalam wadah tertutup untuk
(2016).
digunakan
- Simpan di refrigerator
• Histologi
Sampel udang yang memperlihatkan gejala
• Coating Pellet + Probiotik Petrofish +
penyakit berak putih diawetkan dengan larutan
Progold
Davidson dan kemudian diproses untuk histologi
- 1 kg pellet kering disiapkan di nampan
111 NUR’AINI, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

- Menggunakan wadah mangkuk, timbang pengukura OD dengan menggunakan


petrofish dengan dosis 4 mL/kg pakan microlate reader pada panjang gelombang
- Campurkan secara merata pada peletk 630 nm.
ering, diamkan semalam
- Kemas dalam wadah tertutup untuk • Aktifitas Phenoloxydase(Pro PO) (Liu
digunakan dan Chen 2004)
- Simpan di refrigerator Prosedur Kerja:
1. 1 mL campuran hemolim – antikoagulan
• Total Haemocyte Count (THC) disentrifugasi 1500 rpm selama 10 menit
Hemolim diambil dengan menggunakan 4˚C
jarum 26 gauge dan syringe 1 mL. Haemolimp 2. Buang supernatan
dihitung dengan antikoagulan (10mM ethylen 3. Pelet disuspensi kembali dengan
diamine tetraacetic acid, 340 mM sodium menambahkan 1 mL larutan cacodylate-
chloride, 30 mM trisodium citrate, pH7) yang citrate buffer (0.01 M sodium cacodylate,
telah didinginkan sebelumnya pada suhu 40C 0.45 M sodium chloride, 0.10 M trisodium
dengan perbandingan 1:2 (v/v). THC dihitung citrate pH 7)
dengan menggunakan Haemositometer sesuai 4. Sentrifugasi kembali 3000 rpm selama 10
dengan metode penghitungan Red Blood Cell menit 4˚C
(RBC) pada perbesaran 400x. 5. Buang supernatan kemudian ditambahkan
200 µL cacodylate buffer
• Aktivitas Respiratory Brust (RB) (Hsieh 6. Suspensi sel sebanyak 100 µL keudian
SL et al, 2008) inkubasi dengan 50 µL trypsin (1 mg/mL
Prosedur Kerja: cacodylate buffer) sebagai aktivator selama
1. 300 µL campuran hemolim-antikoagulan di 10 enit 25 – 26 ˚C
inkubasi selama 30 menit dalam suhu 7. Tambahkan 50 µL L-DOPA (3
ruang mg/mLcacodylate buffer) dan diamkan
2. Sentrifuse 3000 rpm selama 20 menit dan selama 5 menit kemudian tambahkan
supernatan dibuang cacodylate buffersebanyak 800 µL
3. Tambahkan 100 µL 0.3 NBT (1 kapsul 8. Densitas optikal (OD) diukur menggunakan
dilarutkan dalam 5 ml) yang telah dilarutkan microlate reader dengan panjang
dalam Hank’s Balanced Salt Solution gelombang 490 nm
(HBSS) dan diamkan selama 2 jam pada 9. Larutan standart digunakan untuk
suhu ruang mengukur background aktivitas PO pada
4. Sentrifuse 3000 rpm selama 10 menit semua larutan uji mengandung : 100
5. Supernatan dibuang µLcacodylate buffer, 50 µL trypsin, 50 µL L-
6. Tambahkan 100 µL metanol absolut DOPA
7. Sentrifuse 3000 rpm selama 10 menit
(supernatan dibuang) III. HASIL DAN PEMBAHASAN
8. Pellet yang terbentuk dibilas sebanyak 2
kali dengan metanol 70% Udang yang digunakan untuk uji coba
9. Tambah dengan 120 µL potassium adalah bebas virus IMNV dan EHP.
hydroxide (KOH) 2 M Pertumbuhan udang yang dipelihara selama 30
10. 140 µL dimethyl suphoxide (DMSO) hari disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
11. Pelet ang sudah terlarut kemudian
dimasukan ke dalam microplate untuk

Gambar 1. Kotoran Putih di tambak yang Gambar 2. Udang yang terserang WFD
Terserang WFD
No. 14 Tahun 2019 PENANGGULANGAN PENYAKIT BERAK PUTIH 112
PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Tabel 1. Pengamatan Pertambahan Bobot Udang pada H0 – H30 pada Masing-masing Perlakuan
Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D
Waktu Pengamatan
(gram) (gram) (gram) (gram)
H0 3,90 + 0,49 4,07 + 0,45 3,40 + 0,45 4,12 + 0,50
H10 5,25 + 0,71 5,79 + 0,82 5,80 + 0,67 5,22 + 1.00
H20 6,56 + 0,96 5,78 + 0,65 5,83 + 0,90 5,69 + 2,20
H30 10,65 + 0,82 9,69 + 2,98 9,75 + 1,73 9,92 + 1,49
Rata-Rata Bobot Mutlak 6.75 ± 0.560 5.62 ± 2.621 5.35 ± 1.995 5.80 ± 1.757
Laju Pertumbuhan
1.01 ± 0.003 1.01 ± 0.008 1.01 ± 0.010 1.01 ± 0.008
Bobot Harian

Tabel 2. Pengamatan Pertambahan panjang Udang pada H0 – H30 pada Masing-masing Perlakuan
Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D
Waktu Pengamatan
(cm) (cm) (cm) (cm)
H0 7,25 + 0,28 7,45 + 0,23 7,15 + 0,42 7,46 + 0,33
H10 9,2 + 0,33 8,3 + 0,6 8,91 + 0,42 8,55 + 0,58
H20 9,33 + 0,36 8,99 + 0,5 8,89 + 0,36 8,99 + 0,49
H30 10,25 ± 0,55 10,28 + 0,76 10,01 + 0,64 10,21 + 0,49
Rata-Rata Panjang Mutlak 3.00 ± 0.450 2.83 ± 0.720 2.86 ± 1.008 2.75 ± 0.689
Laju Pertumbuhan Panjang
0.98 ± 0.003 0.98 ± 0.005 0.98 ± 0.009 0.98 ± 0.006
Harian

Keterangan
Lane-1 : Marker
Lane-2 : Kontrol Negatif
Lane-3 : Kontrol Positif
Lane-6 : Sampel udang tidak terdeteksi IMNV
Lane-7 : Sampel faces putih tidak terseteksi
IMNV
1 2 3 4 5 6 7
Gambar 3. Deteksi IMNV pada sampel feses dan udang yang terserang WFD dengan metode PCR
(PCR-OIE chapter 2.2 03)

Lane-1 : Marker
Lane-2 : Kontrol Negatif
Lane-3 : Kontrol Positif
Lane-5: Sampel udang positif EHP
Lane-6: Sampel feces putih positif EHP
1 2 3 4 5 6

Gambar 4. Deteksi EHP pada sampel feses dan udang yang terserang WFD dengan metode PCR
(PCR-OIE Tang dkk, 2015)

Dari hasil uji bahwa laju pertumbuhan bobot perlakuan relatif sama yaitu 0,98 cm. Setelah 30
harian antar perlakuan relatif sama yaitu 1,01 hari perlakuan pemberian pakan, udang di
gram. reinfeksi dengan udang yang terserang WFD
Dari hasil uji statistik bahwa laju dari tambak di Peleyan Situbondo yaitu tambak
pertumbuhan panjang tubuh udang harian antar yang sedang mengalami serangan WFD dengan
113 NUR’AINI, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

Tabel 3. Total Haemocyte Count pada H0, H30 setelah Pemberian pakan perlakuan dan H37 (7 setelah
Reinfeksi) ( x 106 sel/mL)
Perlakuan
Waktu Pengamatan
A B C D
H0 8,30 10,10 12,20 14,55
H30 20,90 13,90 27,00 22,40
H37 2,30 1,95 12,55 2,50

Total Haemocyte Count


30
Total Haemocyte Count

25
( x 10⁶ sel/ml )

20
H0
15
H30
10
H37
5
0
A B C D

Gambar 5. Total Haemocyte Count H-0, H-30 dan H-77 pada Berbagai Perlakuan

gejala klinis hepathopancreas pucat dan usus 121 % kemudian perlakuan D sebesar 54 %
ada yang kosong dan ada yang berwarna disusul perlakuan B sebesar 37,62%.
kemerahan. Peningkatan THC pada udang byang diberi
Sedangkan udang yang digunakan untuk uji pakan perlakuan terjadi sebagai bentuk reaksi
reinfeksi diambil dari tambak di Peleyan respon imun tubuh udang dalam menanggapi
Situbondo yaitu tambak yang sedang benda asing yang masuk. Partikel asing yang
mengalami serangan WFD. Sampel Udang dan masuk ke dalam tubuh udang , akan dikenali
kotoran putih diambil untuk diuji PCR. Hasil PCR oleh reseptor sel hemosit hingga menghasilkan
hewan uji disajikan dalam gambar 3 dan 4 respon seluler seperti intracelluler signaling
cascada, fagositosis, enkapsulasi dan agregasi
Respon Imun nodular (Rodriguez dan Moullac, 2000).
Total Haemocyte Count (THC) Penurunan sel THC pasca uji tantang
Haemosit merupakan sel yang memainkan dapat disebabkan oleh bermigrasinya sel
peran sentral dalam pertahanan krustasea. hemosit dari sistim sirkulasi tubuh menuju
Perubahan jumlah hemosit merupakan salah jaringan dimana banyak sel yang terinfeksi (Yeh
satu indikator stres dan status kesehatan pada et al., 2009). Penurunan THC menandakan
udang, Selain itu, hemosit juga terlibat dalam bekerjanya sistim pertahanan tubuh pada
sintesis dan pelepasan molekul penting seperti daerah terinfeksi melalui aktivitas seperti
-2-macroglobulin (2M), aglutinin dan peptida penyembuhan luka seperti penggumpalan sel,
antibakteri sebagai reaksi pertahanan tubuh inisiasi proses koagulasi melalui pelepasan
pada krustasea (Rodriguez dan Moullac, 2000). faktor pembekuan plasma serta membawa dan
Pengukuran THC dilakukan sebelum dan melepaskan faktor-faktor dalam sistim pro
setelah pemberian pakan selama 30 hari 7 hari phenoloxidase (proPO) (Smith et al. 2003). You
serta pasca reinfeksi. et al (2010) menyebutkan bahwa THC pada
Dari Gambar 5. THC mengalami udang Marsupenaeus japonicus yang dipelihara
peningkatan setelah 30 hari pemberian pakan pada suhu 270C dan 310C mengalami
perlakuan. Peningkatan tertinggi pada perlakuan penurunan setelah diuji tantang denga WSSV.
C yaitu dengan pemberian probiotik Fish Grow
No. 14 Tahun 2019 PENANGGULANGAN PENYAKIT BERAK PUTIH 114
PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Tabel 3. Respiratory brust (RB) activity pada H0, H30 setelah Pemberian pakan perlakuan dan H37 (7
setelah Reinfeksi)
Waktu Perlakuan
Pengamatan A B C D
H0 0,4 1,1 1,15 0,65
H30 1,09 1,25 1,19 0,9
H37 2,19 0,99 0,99 0,41

Respiratory Brust (RB) Activity


2,5

2
Respiratory Brust
Activity

1,5 H0

1 H30
H37
0,5

0
A B C D

Gambar 6. Respiratory Brust (RB) pada H-0, H-30 dan H-77 pada berbagai perlakuan

Aktivitas Respiratory Brust (RB) perlakuan. Chang et al (2003) melaporkan hal


Salah satu respon imun seluler pada udang yang sama pada udang vanamei yang
dalam menanggapi benda asing adalah melalui disuplementasi dengan -1,3-glucan, dimana
mekanisme fagositosis. Selama fagositosis penurunan aktifitas RB memiliki pola yang sama
partikel atau mikroorganisme diinternalisasi ke dengan penurunan THC hingga hari ke-6 pasca
dalam sel yang kemudian membentuk fagosom. infeksi WSSV. Penurunan RB ini diduga
Penghapusan partikel dalam proses ini berkaitan dengan penurunan jumlah sel hemosit
melibatkan pelepasan enzim degradatif ke dimana penurunannya akan mengakibatkan
dalam fagosom dan menghasilkan reactive penurunan jumlah produk yang dihasilkan dari
oxygen itermediates (ROI). Proses ini dikenal proses fagositosis yaitu berupa oksigen radikal
denga istilah respiratory brust (RB) activity seperti anion seperoksida (O2-) yang bersifat
(Rodriquez dan Moullac 2000). toksik pada patogen.
Peningkatan RB setelah pemberian pakan
perlakuan (hari ke 30) menunjukkan adanya Aktifitas pro phenoloxidase (proPO)
apengaruh pemberian ekstrak bawang putih dan Aktifitas pro phenoloxidase (proPO) adalah
probiotik terhadap sistim imun udang vanamei salah satu bentuk respon imun humoral udang.
dimana peningkatan ini selaras dengan Aktivitas enzim Aktifitas pro phenoloxidase
peningkatan THC. Dalam perekayasaan ini (proPO) sebelum pemberian pakan, setelah
aktifitas RB diukur dengan banyaknya anion pemberian pakan (30 hari dan setelah infeksi
seperoksida (O2-). Selanjutnya proses RB akan (hari ke-37) disajikan pada Tabel 4.
menghasilakn hidrogen peroksida (H2O2), Dari Tabel 4 dan Gambar 7. Pemberian
radikal hidroksil (OH-) dan singlet oksigen (-O2). suplemen pada pakan pada semua perlakuan
Hidrogen peroksida dapat berubah menjadi ternyata tidak dapat meningkatkan aktifitas pro
asam hipokloride (HOCl -) melalui sistem PO, kecuali pada perlakuan D hanya dapat
myeloperoxidase (MPO)-H2O2Cl) membentuk mempertahankan aktifitas pro PO nya akan
sistim antibakteri (Rodriquez dan Moullac 2000). tetapi aktifitas pro PO meningkat pasca uji
Pasca infeksi WFD, aktifitas RB mengalami tantang, hal ini disebabkan peningkatan respon
penurunan yang signifikan pada semua imun dari datangnya patogen.
115 NUR’AINI, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

Tabel 4. Aktifitas pro phenoloxidase (proPO) pada H0, H30 setelah Pemberian pakan perlakuan dan
H37 (7 setelah Reinfeksi)
Waktu Perlakuan
Pengamatan A B C D
H0 0,32 0,46 0,38 0,31
H30 0,1 0,09 0,11 0,31
H37 0,23 0,26 0,16 0,22

Aktifitas Pro Phenoloxidase


0,5
Aktifitas Pro Phenoloxidase

0,4

0,3 H0

0,2 H30
H37
0,1

0
A B C D

Gambar 7. Aktifitas Pro Phenoloxidase pada H-0, H-30 dan H-77 pada berbagai perlakuan

Tabel 5. Survival Rate Udang 7 setelah Reinfeksi)


Waktu Perlakuan
Pengamatan A B C D
SR 62,5 62,5 56,25 70,83

Survival Rate
80
60
SR (%)

40
20
0
A B C D

Gambar 8. Survival rate (SR) pada akhir uji coba pada berbagai perlakuan

Penurunan beberapa variabel respon imun putih powder (B), probiotik PetroFish (C) dan
setelah uji tantang menyebabkan penurunan pakan komersial yang sudah mengandung
proteksi sistim imun sehingga mempengaruhi probiotik (D) relatif sama dengan kontrol, namun
tingkat kelangsungan hidup udang yang diinfeksi demikian perlakuan D survival ratenya relatif
patogen. lebih tinggi 13,33 % dari kontrol.
Dari Tabel 5 dan Gambar 8 penambahan Gejala klinis udang yang mati,
suplemen pada pakan udang berupa bawang hepatopancreas berwarna pucat dan usus
No. 14 Tahun 2019 PENANGGULANGAN PENYAKIT BERAK PUTIH 116
PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Keterangan
Lane-1 : Marker
Lane-2 : Kontrol Negatif
Lane-3 : Kontrol Positif
Lane-4: Sampel A positif terdeteksi EHP
Lane-5: Sampel B positif terdeteksi EHP
1 2 3 4 5 6 7 Lane-6: Sampel C positif terdeteksi EHP
Lane-7: Sampel D positif terdeteksi EHP

Gambar 9. Hasil Elektrophoresis Pada Akhir Uji Coba

Gambar 10. Gambaran histologi hepatopankreas Gambar 11. Gambaran histologi


udang yang terserang WFD dan positif EHP, hepatopankreas udang yang terserang WFD
Panah hitam : prespore yang terdapat pada sel dan positif EHP, Panah hitam: massa bateri
tubula HP, Panah merah : EHP dalam bentuk pada lumen tubula HP, Panah merah: nodul
plasmodium pada sel tubula HP yang terbentuk pada lumen tubula HP

kosong. Udang yang mati setelah reinfeksi


ternyata positif EHP. Pada akhir uji coba semua
udang perlakuan positif EHP.

Histologi
Udang yang moribund dibuat preparat
histology. Patologi udang yang terserang WFD
dapat dilihat pada Gambar 10 dan Gambar 11.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Dari hasil uji coba dapat disimpulkan
bahwa pemberian sumplementasi bawang putih
dan suplementasi probiotik dalam pakan
selama 30 hari :
1. Laju pertumbuhan bobot mutlak harian
Gambar 12. Gejala Klinis Udang Pada Akhir antar perlakuan relatih sama yaitu 1,01
Perlakuan gram
117 NUR’AINI, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

2. Laju pertumbuhan panjang mutlak harian Indoor. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
udang relatif sama yaitu 0,98 cm.. Kelautan. 2 (1).
3. Dapat meningkatkan sistim imun (total Darmawan, dan Baharsjah, 1983. Fisiologi
hemocyte count, aktivitas respiratory Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta.
brust tetapi tidak mampu meningkatkan Dwidjoseputro, 1984. Pengantar Fisiologi
aktivitas pro phenoloxidase. Tumbuhan. PT Gramedia, Jakarta.
4. Pemberian penambahan suplemen pada Erviani, L., 2012. Pengaruh Panjang Gelombang
pakan udang pada semua perlakuan Pada Fotosintesis.
survival ratenya relatif sama dengan http://ervianilestary.blogspot.com/v-
kontrol, namun demikian perlakuan D behaviorurldefaultvmlo.html, diakses pada
survival ratenya relatif lebih tinggi 13,33 hari minggu 11 mei 2014, pukul 10.43
% dari kontrol. WITA.
5. EHP (Enterocytozoon Hepatopeneaid) Kadi, A., dan Atmadja, W. S. 1988. Rumput Laut
terdeteksi baik pada Hepatopankreas, Jenis Algae. Reproduksi, Produksi,
feces, dan udang tambak yang Budidaya dan Pasca Panen. Proyek Studi
mengalami White Feses Disease. Potensi Sumberdaya Alam Indonesia.
6. Pada akhir uji coba semua udang Jakarta: Pusat penelitian dan
perlakuan positif EHP Pengembangan Oseanologi. Lembaga Ilmu
Patologi udang yang terserang WFD adalah Pengetahuan Indonesia.
adanya massa bateri pada lumen tubula HP dan Kadi, A. 2004. Rumput Laut, Jenis, Reproduksi,
adanya nodul yang terbentuk pada lumen tubula Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. Seri
HP Budidaya Alam.
Kadi, A. 2004. Rumput Laut Nilai Ekonomis dan
4.2. Saran Budidaya. Puslit Oseanologi_LIPI. Jakarta.
Nilai pertumbuhan plantlet rumput laut Kadji, A. 2006. Beberapa Catatan Kehadiran
Kappaphycus alvarezii pada perekayasaan ini Marga Sargassum di Perairan
menunjukan hasil yang linear sehingga dapat Indonesia.LIPI. Lampung.
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk Kimball, J.W., 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 1.
mengetahui lama pencahayaan yang maksimal. Erlangga, Jakarta.
Selain itu dimungkinkan penambahan pupuk Lakitan, B., 1993. Dasar-dasar Fisiologi
untuk untuk memenuhi kebutuhan nutrisi plantlet Tumbuhan. Raja Grafindo Persada,
rumput laut. Jakarta.
Latunra, A. Ilham, 2011. Penuntun Praktikum
DAFTAR PUSTAKA Struktur Perkembangan Tumbuhan II.
Universitas Hasanuddin Press, Makassar.
Putri, A. H., 2012. Pengaruh Panjang
Afrianto, E. dan E. Liviawati.1987. Budidaya Gelombang Terhadap Aktivitas
Rumput Laut dan Cara pengolahannya. PT. Fotosintesis. http://mimetakamine.
Bhatara Niaga Media. Jakarta. blogspot.com/2012/11/ pengaruh- panjang-
Afrianto, E. dan E. Liviawati.1993. Budidaya gelombang- pada.html, diakses pada hari
Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. minggu 11 mei 2014, pukul 10.46 WITA.
Bharatara. Jakarta. Salisbury, F. B., dan Cleon, W. Ross, 1995.
Afrianto, E. dan E. Liviawati.2001. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press,
BudidayaLautdan Cara Bandung.
Pengolahannya.Bharata: Jakarta Tina, 2009. Laju Fotosintesis Pada Berbagai
Ariwulan, D. R., 2012. Pengaruh Panjang Gelombang Cahaya http://
Gelombang Terhadap Aktivitas web.ipb.ac.id/~tpb/ files/materi /bio100/
Fotosintesis. http://nightray13-kuro. Materi/ fotosintesis. html, diakses pada hari
blogspot.com/2012/05/spt-2-perc8- minggu 11 mei 2011, pukul 11.52 WITA.
pengaruh-panjang-gelombang.html, Triyati, E., 1985. Spektrofotometer Ultra-Violet
diakses pada hari minggu 11 mei 2014, Dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya
pukul 10.44 WITA. Dalam Oseanologi. Jurnal Oseana, Vol. X
Ayuningtiaz, O. N., Alamsjah, M. A., dan Subekti, No. 1 (39 – 47).
S. 2010. Pengaruh Lama Penyinaran Rifai, M. A. 2002. Kamus Biologi. Cetakan ke-2.
Terhadap Pertumbuhan dan Klorofil a Jakarta: Balai Pustaka.
Gracilaria verrucosa Pada Sistem Budidaya