Anda di halaman 1dari 88

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M DAN TN.

S YANG
MENGALAMI PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS
DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN
BERSIHAN JALAN NAFAS DI IGD
RSUD KARANGANYAR

DISUSUN OLEH :

IGNATIA ERY PERMATA SARI


P.14023

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M DAN TN. S YANG
MENGALAMI PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS
DENGAN MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN
BERSIHAN JALAN NAFAS DI IGD
RSUD KARANGANYAR

Karya Tulis Ilmiah


Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma Tiga Keperawatan

DISUSUN OLEH:
IGNATIA ERY PERMATA SARI
P.14023

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017

i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Ignatia Ery Permata Sari

NIM : P.14023

Program Studi : D3 Keperawatan

Judul Karya Tulis Ilmiah : Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan

masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di

IGD RSUD Karanganyar

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang saya tulis

ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan

atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini

adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut

sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Surakarta, 26 Juli 2017

Yang membuat penyataan

Ignatia Ery Permata Sari

P.14023

ii
MOTTO

“Tidak Ada Kata Menyerah Sebelum Berhasil”

iii
LEMBAR PERSETUJUAN

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M DAN TN. S YANG

MENGALAMI PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS DENGAN

MASALAH KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS DI IGD

RSUD KARANGANYAR

Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep)

Oleh :

IGNATIA ERY PERMATA SARI

P.14023

Surakarta, 26 Juli 2017

Menyetujui,
Pembimbing

Erlina Windyastuti, S.Kep., Ns., M.Kep


NIK: 201 187 065

iv
LEMBAR PENETAPAN DEWAN PENGUJI

Telah Di Uji Pada Tanggal :


02 Agustus 2017

Dewan Penguji :

Ketua : ( )
1. Mellia Silvy Irdianty, S.Kep., MPH
NIK. 201690157

Anggota : ( )
1. Erlina Windyastuti, S.Kep., Ns., M.Kep
NIK: 201 187 065

v
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :


Nama : Ignatia Ery Permata Sari
NIM : P.14023
Program Studi : D3 Keperawatan
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang
Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan
masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD
RSUD Karanganyar

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan


Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi D3 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : STIKes Kusuma Husada Surakarta


Hari/Tanggal : Selasa, 02 Agustus 2017

DEWAN PENGUJI

Ketua : Mellia Silvy Irdianty, S.Kep., MPH ( )


NIK. 201690157

Anggota : Erlina Windyastuti, S.Kep., Ns., M.Kep ( )


NIK: 201187065

Mengetahui,
Ketua Program Studi D3 Keperawatan
STIKes Kusuma Husada Surakarta

Meri Oktariani, S.Kep., Ns., M.Kep.


NIK.200981037

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena

berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah Ketidakefektifan

Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar”.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat

bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada yang terhormat:

1. Wahyu Rima Agustin, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku Ketua STIKes Kusuma

Husada Surakarta yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis.

2. Meri Oktariani,S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Ketua Program Studi DIII

Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu

di Stikes Kusuma Husada Surakarta.

3. Erlina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.kep, selaku Sekretaris Program Studi DIII

Keperawatan yang telah memberikan kesempatan dan arahan untuk dapat

menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.

4. Erlina Widyastuti,S.Kep.,Ns.,M.kep, selaku dosen pembimbing sekaligus

sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan

masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta

memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

vii
5. Bapak Y. Edy Wahyono dan Ibu Katarina Yuli Setyarini selaku Orang Tua

yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam menyelesaikan Karya

Tulis Ilmiah.

6. Fransiscus Aries Hernawan yang selalu memberi dukungan dalam

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.

7. Agnes Linda Rosa Dewi selaku adik yang selalumemberi dukungan moral

dalam menyelesaikan Kaya Tulis Ilmiah.

8. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada

Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya

serta ilmu yang bermanfaat.

9. Suliatik, Shinta Tri Widya, Intan Sari dan teman-teman Mahasiswa Program

Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai

pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan

dukungan moril dan spiritual.

Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu

keperawatan dan kesehatan. Amin.

Surakarta, 26 Juli 2017

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ................................................ ii
MOTTO ........................................................................................................ iii
LEMBAR PERSETUJUAN. ....................................................................... iv
LEMBAR PENETAPAN DEWAN PENGUJI ......................................... v
LEMBAR PENGESAHAN. ........................................................................ vi
KATA PENGANTAR. ................................................................................. vii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR SKEMA ....................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Batasan Masalah................................................................... 3
1.3 Rumusan Masalah ................................................................ 3
1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum .......................................................... 3
1.4.2 Tujuan Khusus .......................................................... 3
1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis ......................................................... 4
1.5.2 Manfaat Praktis .......................................................... 5
1.5.2.1 Bagi Profesi Keperawatan .................................. 5
1.5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan .................................... 5
1.5.2.3 Bagi Penulis ........................................................ 5
1.5.2.4 Bagi Institusi Rumah Sakit ................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)
1.1.1 Definisi ..................................................................... 6

ix
1.1.2 Etiologi ..................................................................... 6
1.1.3 Patofisiologi dan Pathway ........................................ 10
1.1.4 Klasifikasi................................................................. 14
1.1.5 Manifestasi Klinis .................................................... 14
1.1.6 Komplikasi ............................................................... 15
1.1.7 Penatalaksanaan........................................................ 16
1.1.8 Pemeriksaan Penunjang............................................ 18
1.2 Asuhan Keperawatan
1.2.1 Pengkajian ............................................................... 18
1.2.2 Diagnosa Keperawatan ............................................ 24
1.2.3 Perencanaan ............................................................. 25
1.2.4 Implementasi ............................................................ 27
1.2.5 Evaluasi ................................................................... 28
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ................................................................. 29
3.2 Batasan Istilah ..................................................................... 29
3.3 Partisipan ............................................................................. 30
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................. 30
3.5 Pengumpulan Data .............................................................. 30
3.6 Uji Keabsahan Data ............................................................. 32
3.7 Analisis Data ....................................................................... 33
BAB IV HASIL
4.1 Hasil ........................................................................................ 35
4.1.1 Gambaran Lokasi pengambilan data ............................. 35

4.1.2 Pengkajian .................................................................... 35

4.1.3 Analisa data ................................................................... 40

4.1.4 Diagnosa keperawatan ................................................... 42

4.1.5 Perencanaan ................................................................... 42

4.1.6 Implementasi ................................................................. 44

4.1.7 Evaluasi ......................................................................... 45

x
BAB V PEMBAHASAN

5.1 Pengkajian ............................................................................... 46

5.1.1 Tahapan pengkajian primer ........................................ 46

5.1.2 Tahap pengkajian sekunder ........................................ 49

5.2 Diagnosa Keperawatan ......................................................... 50

5.3 Intervensi Keperawatan ........................................................ 51

5.4 Implementasi Keperawatan .................................................. 52

5.5 Evaluasi ................................................................................ 53

BAB VI KESIMPULAN SARAN

6.1 Kesimpulan .......................................................................... 55

6.2 Saran ................................................................................... 56

6.2.1 Bagi Rumah Sakit ....................................................... 56

6.2.2 Bagi Tenaga Kesehatan .............................................. 57

6.2.3 Bagi Pasien ................................................................ 57

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR SKEMA

Halaman

Skema 2.1 Pathway PPOK ......................................................................... 13

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Identitas Pasien ........................................................................... 35

Tabel 4.2 Riwayat Penyakit ........................................................................ 36

Tabel 4.3 Pengkajian Sekunder ................................................................... 36

Tabel 4.4.Riwayat Kesehatan Keluarga ...................................................... 38

Tabel 4.5 Hasil Pemeriksaan Diagnostik .................................................... 39

Tabel 4.6 Analisa Data ............................................................................... 39

Tabel 4.7 Diagnosa Keperawatan .............................................................. 41

Tabel 4.8 Perencanaan Keperawatan ......................................................... 41

Tabel 4.9 Implementasi Keperawatan ........................................................ 43

Tabel 4.10 Evaluasi Keperawatan .............................................................. 44

xiii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data ........................................... 35

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jurnal

Lampiran 2. Askep

Lampiran 3. Lembar Konsultasi

Lampiran 4. Daftar Riwayat Hidup

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut WHO yang dituangkan dalam Panduan Global Initiative

for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) tahun 2015, Chronic

Obstructive Pulmonary Disease (COPD) atau Penyakit Paru Obstruksi

Kronis (PPOK) didefinisikan sebagai suatu penyakit yang bisa dicegah dan

diatasi, yang biasanya bersifat progresif, dan terkait dengan adanya respon

inflamasi kronis saluran nafas dan paru-paru terhadap gas atau partikel

yang berbahaya. Serangan akut dan komordibitas berpengaruh terhadap

keparahan penyakit secara keseluruhan (Ikawati, 2016).

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru-paru

yang ditandai dengan penyumbatan terus menerus aliran udara dari paru-

paru. Ini adalah penyakit paru-paru yang mengancam kehidupan di

diagnosis yang mengganggu pernapasan normal dan tidak sepenuhnya

reversibel. Mencakup bronkitis kronis dan emfisema (WHO, 2016).

Di Indonesia prevalensi kasus PPOK menurut Riset Kesehatan

Dasar (RISKESDAS) menyebutkan di Indonesia tahun 2013 sebanyak

3,7%. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan

di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 3,4%.

Prevalensi PPOK meningkat dengan meningkatnya usia.

Prevalensi ini juga lebih tinggi pada pria daripada wanita, namun

1
2

demikian terdapat kecenderungan meningkatnya prevalensi PPOK pada

wanita, terkait dengan gaya hidup wanita yang merokok. Prevalensi PPOK

lebih tinggi pada negara-negara (Ukraina, Rusia, Yunani, Bulgaria, Serbia)

di mana merokok merupakan gaya hidup, yang menunjukan bahwa rokok

merupakan faktor resiko utama. Kematian akibat PPOK sangat rendah ada

pasien usia di bawah 45 tahun, dan meningkat dengan bertambahnya usia

(Ikawati, 2016).

Pada asuhan keperawatan pasien dengan diagnosa penyakit paru

obstruksi kronis akan muncul masalah ketidakefektifan bersihan jalan

nafas yang disebabkan oleh hipersekresi, pasien mengalami batuk

produktif kronik, sesak nafas, intoleransi aktivitas (Francis, 2008). Salah

satu intervensi keperawatan yang dilaksanakan pada pasien PPOK yaitu

mengeluarkan sekret agar saluran pernafasan kembali efektif. Salah

satunya yaitu tindakan mandiri yang bisa dilaksanakan klien untuk

mengeluarkan sekret yaitu dengan teknik terapi batuk efektif (Pranowo,

2008)

Teknik batuk efektif merupakan tindakan yang dilakukan untuk

membersihkan sekresi dari saluran nafas. Tujuan dari batuk efektif adalah

untuk meningkatkan ekspansi paru, mobilisasi sekresi, dan mencegah efek

samping dari retensi sekresi seperti pneumonia, atelektasis dan demam.

Dengan batuk efektif pasien tidak harus mengeluarkan banyak tenaga

untuk mengeluarkan sekret (Pranowo, 2008). Caranya adalah sebelum

dilakukan batuk klien dianjurkan untuk minum air hangat dengan

rasionalisasi untuk mengencerkan dahak. Setelah itu dianjurkan untuk


3

inspirasi dalam. Hal ini dilakukan selama dua kali. Kemudian setelah

inspirasi yang ke tiga, amjurkan klien untuk membatukkan dengan kuat

(Pranowo, 2008)

Berdasarkan latar belakang yang sudah tertulis di atas, penyakit

PPOK di RSUD Karanganyar termasuk kategori 10 besar kasus penyakit

yang sering terjadi di rumah sakit tersebut. Sehingga penulis tertarik

melakukan pengelolaan kasus keperawatan dalam bentuk Karya Tulis

Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar”.

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan

pada Tn. M dan Tn. S yang mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis

dengan masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD

Karanganyar

1.3 Rumusan Masalah

“Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar”

1.4 Tujuan Penulisan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar


4

1.4.2 Tujuan Khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian terhadap Tn. M dan Tn.

S yang Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan

masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas.

b. Penulis mampu merumuskan masalah diagonosa keperawatan

terhadap Tn. M dan Tn. S yang Mengalami Penyakit Paru

Obstruksi Kronis dengan masalah Ketidakefektifan Bersihan

Jalan Nafas.

c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan

terhadap Tn. M dan Tn. S yang Mengalami Penyakit Paru

Obstruksi Kronis dengan masalah Ketidakefektifan Bersihan

Jalan Nafas.

d. Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan terhadap

Tn. M dan Tn. S yang Mengalami Penyakit Paru Obstruksi

Kronis dengan masalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas.

e. Penulis mampu mengevaluasi terhadap Tn. M dan Tn. S yang

Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas.

1.5 Manfaat Penulisan

1.5.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat

memberikan sumbangan penelitian dalam memperkaya aplikasi


5

asuhan keperawatan khususnya pada klien dengan Penyakit Paru

Obstruktif Kronik (PPOK).

1.5.2 Manfaat Praktis

1.5.2.1 Bagi Profesi Keperawatan

Agar dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan

kedalam praktik pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.

1.5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai informasi kepada mahasiswa

keperawatan dalam mengaplikasikan asuhan

keperawatan pada klien Penyakit Paru Obstruksi Kronis

(PPOK).

1.5.2.3 Bagi Penulis

1) Mendapatkan pengetahuan tentang asuhan

keperawatan pada klien yang menderita Penyakit Paru

Obstruksi Kronis (PPOK)

2) Dapat menerapkan standart asuhan keperawatan untuk

pengembangan praktik keperawatan.

1.5.2.4 Bagi Instansi Rumah Sakit

1) Sebagai masukan untuk mengambil langkah-langkah

dalam melakukan dan melaksanakan Asuhan

Keperawatan pada pasien dengan Penyakit Paru

Obstruksi Kronis (PPOK). Untuk meningkatkan mutu

pelayanan Rumah Sakit.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)

2.1.1 Definisi

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit

paru-paru yang ditandai dengan penyumbatan terus menerus aliran

udara dari paru-paru. Ini adalah penyakit paru-paru yang

mengancam kehidupan didiagnosis yang mengganggu pernapasan

normal dan tidak sepenuhnya reversibel. Mencakup bronkitis

kronis dan emfisema (WHO, 2016).

Menurut Global Initiative for Chronic Obstructive Lung

Disease (GOLD), PPOK adalah penyakit dengan karakteristik

keterbatasan saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible.

Keterbatasan saluran napas tersebut biasanya progresif dan

berhubungan dengan respons inflamasi dikarenakan bahan yang

merugikan atau gas (Naser et al, 2016).

Dari penjelasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa

PPOK adalah penyakit paru-paru yang ditandai dengan

penyumbatan aliran udara dari paru-paru dengan karakteristik

keterbatasan saluran napas yang tidak semuanya reversible.

2.1.2 Etiologi

Menurut Ikawati (2016), ada beberapa faktor risiko utama

berkembangnya Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) ini, yaitu:

6
7

1) Merokok

Merokok merupakan penyebab utama terjadinya PPOK,

dengan risiko 30 kali lebih besar pada perokok aktif dibanding

dengan perokok pasif, dan merupakan penyebab dari 85%-90%

kasus PPOK. Kurang lebih 15-20% perokok aktif akan

mengalami PPOK. Kematian akibat PPOK terkait dengan

banyaknya rokok yang dihisap, umur mulai merokok, dan status

merokok yang terakhir saat PPOK berkambang. Namun, tidak

semua penderita PPOK adalah perokok. Kurang lebih 20%

orang yang tidak merokok juga mungkin menderita PPOK.

Perokok pasif (tidak merokok tetapi sering terkena asap rokok)

juga berisiko menderita PPOK.

2) Pekerjaan

Para pekerja tambang emas atau batu bara, industri gelas

dan keramik yang terpapar debu silika, atau pekerja yang

terpapar debu katun dan debu gandum, toluene diisosianat, dan

asbes, mempunyai risiko yang lebih besar daripada yang

bekerja di tempat selain yang disebutkan diatas.

3) Polusi udara

Pasien yang mempunyai disfungsi paru akan semakin

memburuk gejalanya dengan adanya polusi udara. Polusi ini

bisa berasal dari luar rumah seperti asap pabrik, asap kendaraan

bermotor dan lain lain, maupun polusi dari dalam rumah

misalnya asap dapur.


8

4) Infeksi

Kolonisasi bakteri pada saluran pernafasan secara kronis

merupakan suatu pemicu inflamasi neutrofilik pada saluran

nafas terlepas dari paparan rokok. Adanya kolonisasi bakteri

menyebabkan peningkatan kejadian inflamasi yang dapat

diukur dari peningkatan jumlah sputum, peningkatan frekuensi

eksaserbasi, dari percepatan penurunan fungsi paru, yang

semua ini meningkatkan risiko kejadian PPOK.

Menurut (Ikawati, 2016) faktor risiko yang berasal dari

host/ pasiennya antara lain:

1) Usia

Semakin bertambah usia, semakin besar risiko

menderita PPOK. Pada pasien yang didiagnosa PPOK

sebelum usia 40 tahun, kemungkinan besar dia menderita

gangguan generik berupa deisiensi a1-antitripsin. Namun

kejadian ini hanya dialami <1% pasien PPOK.

2) Jenis kelamin

Laki laki lebih berisiko terkena PPOK daripada

wanita, mungkin ini terkait dengan kebiasaan merokok

pada pria. Namun ada kecenderungan peningkatan

prevalensi PPOK pada wanita karena meningkatnya jumlah

wanita yang merokok. Selain itu, ada fenomena menarik

bahwa wanita lebih rentan terhadap bahaya merokok

daripada pria. Bukti bukti klinis menunjukkan bahwa


9

wanita dapat mengalami fungsi paru ynag lebih besar

daripada pria dengan status merokok yang relatif sama.

Wanita juga akan mengalami PPOK yang lebih parah

daripada pria. Hal ini diduga karena ukuran paru paru

wanita lebih kecil daripada pria, sehingga dengan paparan

rokok yang sama presentase paru yang terpapar pada wanita

lebih besar.

3) Adanya gangguan fungsi paru yang sudah terjadi

Adanya gangguan fungsi paru paru merupakan

faktor risiko terjadinya PPOK, misalnya defisiensi

Immunoglobulin A (IgA/ hypogammaglobulin) atau infeksi

pada masa kanak kanak seperti TBC dan bronkiektasis.

Individu denga gangguan fungsi paru paru mengalami

penurunan fungsi paru paru lebih besar sejalan dengan

waktu daripada yang fungsi parunya normal, sehingga lebih

berisiko terhadap berkembangnya PPOK. Termasuk di

dalamnya adalah orang yang pertumbuhan parunya tidak

normal karena lahir dengan berat badan rendah, ia

memilliki risiko lebih besar untuk mengalami PPOK.

4) Predisposisi genetik, yaitu defisiensi a₁ antitrisipan (AAT)

Defisiensi AAT ini terutama dikaitkan dengan

kejadian emfisema, yang disebabkan oleh hilangnya

elastisitas jaringan di dalam paru paru secara progresif

karena adanya ketidakseimbangan anatara enzim proteolitik


10

dan faktor protektif. Makrofag dan neutrofil melepaskan

enzim lisosomal yaitu elastase yang dapat merusak jaringan

di paru. Pada keadaan normal faktor protektif AAT

menghambat enzim proteolitik shingga mencegah

kerusakan. Karena itu, kekurangan AAT menyebabkan

berkurangnya faktor proteksi terhadap kerusakan paru.

AAT diproduksi oleh gen inhibitor protase (M). Satu dari

2500 orang adalah homozigot untuk gene resesif (2), yang

menyebabkan kadar AAT dalam darah rendah dan

berakibat emfisema yang timbul lebih cepat. Orang yang

heterozigot (mempunyai gen MZ) juga berisiko menderita

emfisema, yang makin meningkat kemumgkinanya dengan

merokok karena asap rokok juga dapat menginaktiasi AAT.

Wanita mempunyai kemungkinan perlindungan oleh

estrogen yang akan menstimulasi sintesis inhibitor protease

seperti AAT. Karenanya, faktor risiko pada wanita lebih

rendah daripada pria.

2.1.3 Patofisiologi dan pathway

Obstruksi jalan napas menyebabkan reduksi aliran udara

yang beragam bergantung pada penyakit. Pada bronkitis kronis,

terjadi penumpukan lendir dari sekret yang sangat banyak sehingga

menyumbat jalan napas. Pada emfisema, obstruksi pada pertukaran

oksigen dan karbondioksida terjadi akibat kerusakan dinding


11

alveoli yang disebabkan oleh overekstensi ruang udara dalam paru.

Pada asma, jalan napas bronkial menyempit dan membatasi jumlah

udara yang mengalir ke dalam paru. Protokol pengobatan tertentu

digunakan dalam semua kelainan ini, meski patofisiologi dari

masing-masing kelainan ini membutuhkan pendekatan spesifik.

PPOK dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan

interaksi genetik dengan lingkungan. Merokok, polusi udara, dan

paparan di tempat kerja (terhadap batu bara, kapas, dan padi

padian) merupakan faktor resiko penting yang menunjang

terjadinya penyakit ini. Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih

dari 20-30 tahun. PPOK juga ditemukan terjadi pada individu ynag

tidak mempunyai enzim yang normal untuk mencegah

penghancuran jaringan paru oleh enzim tertentu. PPOK merupakan

kelainan dengan kemajuan lambat yang membutuhkan waktu

bertahun tahun untuk menunjukkan awitan (onset) gejala klinisnya

seperti kerusakan fungsi paru. PPOK sering menjadi simptomatik

selama tahun-tahun usia muda, tetapi insidennya meningkat sejalan

dengan peningkatan usia. Meskipun aspek-aspek fungsi paru

tertentu seperti kapasitas vital (VC) dan volume ekspirasi paksa

(FEV) menurun sejalan dengan peningkatan usia. PPOK dapat

memperburuk keadaan fisiologi yang berakitan dengan penuaan

dan mengakibatkan obstruksi jalan napas misalnya pada bronkitis

serta kehilangan daya pengembangan (elastisitas) paru misalnya


12

pada emfisema. Oleh karena itu, terdapat perubahan tambahan

dalam rasio ventilasi-perfusi pada klien lansia dengan PPOK.


13

Bronkitis kronis Emfisema Asma bronkial

Penyumbatan lendir dan Obstruksi pada jalan napasbronkial


sekresi yang sangat pertukaran oksigen dan menyempit dan
banyak menyumbat jalan karbondioksida terjadi membatasi jumlah udara
akibat kerusakan yang mengalir ke dalam
napas
dinding alveoli paru-paru

Gangguan pergerakan udara dari


dan ke luar paru

Penurunan kemampuan Peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan,


batuk efektif pengguanaan alat bantu pernafasan.

Ketidakefektifan bersihan
Respon sistemis dan psikologis
jalan napas

Resiko tinggi infeksi


pernapasan

Keluhan sistemis, mual, keluhan psikososial,


intake nutrisi tidak adekuat, kecemasan, ketidaktahuan
malaise, kelemahan dan akan prognosis
Peningkatan kerja
pernapasan, hipoksemia keletihan fisik
secara reversibel
Kecemasan
Gangguan pertukaran gas
Perubahan Gangguan
Ketidaktahuan / pemenuhan
pemenuhan pemenuhan
kebutuhan
nutrisi kurang ADL
dari
kebutuhhan

Resiko tinggi gagal napas Kematian

Skema 2.1

Pathway PPOK (Muttaqin, 2008)


14

2.1.4 Klasifikasi

Menurut Ikawati (2016), GOLD 2015 mengelompokkan

pasien PPOK menjadi 4 golongan, sebagai berikut:

1) Pasien kelompok A: resiko rendah, gejala lebih sedikit

GOLD 1 atau GOLD 2, serangan akut 0-1/tahun dan tanpa

hospitalisasi, CAT < 10 atau mMRC 0-1.

2) Pasien kelompok B: resiko rendah, gejala lebih banyak

GOLD 1 atau GOLD 2, serangan akut 0-1/tahun dan tanpa

hospitalisasi, CAT ≥ 10 atau mMRC ≥ 2.

3) Pasien kelompok C: resiko tinggi, gejala lebih sedikit

GOLD 3 atau GOLD 4, serangan akut ≥ 2 x/tahun atau ≥ 1

dengan hospitalisasi, CAT <10 atau mMRC 0-1.

4) Pasien kelompok D: resiko tinggi, gejala lebih banyak

GOLD 3 atau GOLD 4, serangan akut ≥ 2 x/tahun atau ≥ 1

dengan hospitalisasi, CAT ≥ 10 atau mMRC ≥ 2

2.1.5 Manifestasi klinik

Menurut Ikawati (2016), gejala dari Penyakit Paru

Obstruksi Kronis (PPOK) adalah:

1) “smoker’s cough”, biasanya hanya diawali sepanjang pagi yang

dingin, kemudian berkembang menjadi sepanjang tahun.

2) Sputum, biasanya banyak dan lengket (mucoid), berwarna

kuning, hijau atau kekuningan bila terjadi infeksi.

3) Dispnea,terjadi kesulitan ekspirasi pada saluran pernafasan.


15

2.1.6 Komplikasi

Dalam Soemantri (2008), komplikasi yang dapat terjadi

pada pasien PPOK adalah:

1) Hiposemia

Hiposemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2

< 55 mmHg, dengan nilai saturasi O2 < 85%. Pada awalnya

pasien akan mengalami perubahan mood, penurunan

konsentrasi dan menjadi pelupa. Pada tahap lanjut timbul

sianosis

2) Asidosis Respiratori

Asidosis Respiratori timbul akibat dari peningkatan

nilai PCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain :

nyeri kepala, fatique, letargi, dizziness, dan takipnea.

3) Infeksi Saluran Pernapasan

Infeksi pernapasan akut disebabkan karena peningkatan

produksi mukus, peningkatan rangsangan otot polos bronkhial

dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan

meningkatkan kerja napas dan timbulnya dispnea.

4) Gagal jantung

Terutama cor pulmonal (gagal jantung kanan akibat

penyakit paru), harus diobservasi terutama pada klien dengan

dispnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan

bronkhitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga

dapat mengalami masalah ini.


16

5) Disritmia Jantung

Disritmia jantung timbul akibat dari hipoksemia,

penyakit jantung lain, dan efek obat atau terjadinya asidosis

respiratori.

6) Status Asmatikus

Status asmatikus merupakan komplikasi utama yang

berhubungan dengan asma bronkhial. Penyakit ini sangat berat,

potensial mengancam kehidupan, dan sering kali tidak

memberikan respons terhadap terapi yang biasa diberikan.

Penggunaan otot bantu pernapasan dan distensi vena leher

sering kali terlihat.

2.1.7 Penatalaksanaan (Medis dan Keperawatan )

Pengobatan terutama ditunjukan pada obstruksi jalan nafas

(sesak nafas) (Murwani, 2011)

1) Medis

a) Bronkodilator

b) Golongan adrenalin (emipatomemiatik)

Adrenalin, Isoprote Ncl, ossiprenalin

c) Golongan xantin

Aminopilin,teopilin

d) Kortekosteroid

Untuk edema mukosa dan bronkospasme


17

e) Antibiotika

Penicillin, tetraciklin, ampicillin

f) Ekspektoransia

Amnium karbonst, acetil sistein, bronheksin, bisolvon,

tripsin

g) Indikasi Oksigen

Pemberian Oksigen dilakukan pada hipoksia akut/menahun

yang tak dapat diatasi dengan obat

h) Serangan jangka pendek dengan ekserbasi akut, dan

serangan akut pada asma

2) Keperawatan

a) Istirahat di tempat tidur

b) Pemberian posisi semi fowler

c) Pengawasan dan perawatan pada sesak nafas

d) Perawatan demam

e) Memberikan minum untuk koreksi dehidrasi

f) Mengeluarkan mukus atau lendir

g) Mengurangi batuk

h) Pemberian makan

i) Pemberian obat

j) Perubahan pola hidup

k) Pembinaan mental

l) Pendidikan kesehatan sesuai dengan penyakit primernya


18

2.1.8 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang menurut (Alwi,dkk, 2016) anatara lain :

1) Uji spirometri (standart baku)

a) Volume Ekspirasi Paksa (VEP) / Kapasitas Vital Paru

(KVP) atau FEV1/FVC < 70%.

b) Meningkatnya kapasitas total paru-paru, kapasitas residual

fungsional, dan volume residual.

2) Rontgen Thorax: paru hiperinflasi, diafragma mendatar.

3) Analisis gas darah

4) Level serum a1 antitripsin sesuai indikasi

2.2 Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan

praktik keperawatan langsung pada klien di berbagai tatanan pelyanan

kesehatan yang pelaksanaanya berdasarkan kaidah profesi keperawatan

dan merupakan inti praktek keperawatan (Ali, 2009).

2.2.1 Pengkajian

2.2.1.1 Pengkajian Primer

1) Airway

Kaji kepatenan jalan napas, observasi adanya lidah jatuh,

adanya benda asing dalam jalan napas (darah, sekret yang

tertahan), adanya edema pada mulut, faring, laring, disfagia,

suara stridor, gurgling atau wheezing yang menandakan adanya

masalah pada jalan napas.


19

2) Breathing

Kaji keefektifan pola napas, Respiratory Rate, abnormalitas

pernapasan, pola napas, bunyi napas tambahan, penggunaan

otot bantu napas, adanya napas cuping hidung, saturasi

oksigen.

3) Circulatiaon

Kaji heart rate,tekanan darah, kekuatan nadi, capillary refill,

akral, suhu tubuh, warna kulit, kelembaban kulit, perdarahan

eksternal jika ada.

4) Disability

Berisi pengkajian kesadaran dengan GCS, ukuran, dan reaksi

pupil.

5) Exposure

Berisi pengkajian terhadap suhu serta adanya injury atau

kelainan lain. Atau kondidi lingkungan yang ada disekitar

klien.

2.2.1.2 Pengkajian Sekunder

1) Identitas

Beberapa komponen yang ada pada identitas meliputi

nama, jenis kelamin, umur, alamat, suku bangsa, agama,

no.registrasi, pendidikan, pekerjaan, tinggi badan, berat

badan, tanggal dan jam masuk Rumah Sakit.

2) Keluhan utama
20

Keluhan utama yang dirasakan oleh pasien Bronkhitis

biasanya mengeluh adanya sesak nafas.

3) Riwayat penyakit sekarang

sekarang berisi tentang perjalanan penyakit yang

dialami pasien dari rumah sampai dengan masuk ke Rumah

Sakit.

4) Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah pasien sebelumnya pernah

mengalami Bronkhitis atau penyakit menular yang lain.

5) Riwayat penyakit keluarga

Perlu ditanyakan pada keluarga apakah salah satu

anggota keluraga ada yang pernah mengalami sakit yang

sama dengan pasien atau penyakit yang lain yang ada di

dalam keluarga.

6) Pola fungi kesehatan

Pengorganisasian data berdasarkan pola fungsi

kesehatan menurut Gordon:

a) Persepsi terhadap kesehatan

Adanya tindakan penatalaksanaan kesehatan di RS

akan menimbulkan perubahan terhadap pemeliharaan

kesehatan.

b) Pola aktivitas dan latihan

Pola aktivitas perlu dikaji karena pada klien dengan

Bronkhitis mengalami keletihan, dan kelemahan dalam


21

melakukan aktivitas gangguan karena adanya dispnea yang

dialami.

c) Pola istirahat dan tidur

Gangguan yang terjadi pada pasien dengan

Bronkhitis salah satunya adalah gangguan pola tidur, pasien

diharuskan tidur dalam posisi semi fowler. Sedangkan pada

pola istirahat pasien diharuskan untuk istirahat karena untuk

mengurangi adanya sesak yang disebabkan oleh aktivitas

yang berlebih.

d) Pola nutrisi metabolik

Adanya penurunan nafsu makan yang disertai

adanya mual muntah pada pasien dengan Bronkhitis akan

mempengaruhi asupan nutrisi pada tubuh yang berakibat

adanya penurunan BB dan penurunan massa otot.

e) Pola eliminasi

Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya

perubahan ataupun gangguan pada kebiasaan BAB dan

BAK.

f) Pola hubungan dengan orang lain

Akibat dari proses inflamasi tersebut secara

langsung akan mempengaruhi hubungan baik intrapersonal

maupun interpersonal.
22

g) Pola persepsi dan konsep diri

Akan terjadi perubahan jika pasien tidak memahami

cara yang efektif untuk mengatasi masalah kesehatannya

dan konsep diri yang meliputi (Body Image, identitas diri,

Peran diri, ideal diri, dan harga diri).

h) Pola reproduksi dan seksual

Pada pola reproduksi dan seksual pada pasien yang

sudah menikah akan mengalami perubahan.

i) Pola mekanisme koping

Masalah timbul jika pasien tidak efektif dalam

mengatasi masalah kesehatannya, termasuk dalam

memutuskan untuk menjalani pengobatan yang intensif.

j) Pola nilai dan kepercayaan

Adanya kecemasan dalam sisi spiritual akan

menyebabkan masalah yang baru yang ditimbulkan akibat

dari ketakutan akan kematian dan akan mengganggu

kebiasaan ibadahnya.

k) Pemeriksaan Fisik

(1) Paru-paru : adanya sesak, retraksi dada, auskultasi

adanya bunyi ronchi, atau bunyi tambahan lain. tetapi

pada kasus berat bisa didapatkan komplikasi yaitu

adanya pneumonia.

(2) Kardiovaskuler : Tekanan darah menurun, diaforesis

terjadi pada minggu pertama, kulit pucat, akral dingin,


23

penurunan curah jantung dengan adanya bradikardi,

kadang terjadi anemia, nyeri dada.

(3) Neuromuskular : perlu diwaspadai kesadaran dari

composmentis ke apatis,somnolen hingga koma pada

pemeriksaan GCS, adanya kelemahan anggota badan

dan terganggunya aktivitas.

(4) Perkemihan : pada pasien dengan bronkhitis kaji

adanya gangguan eliminasi seperti retensi urine

ataupun inkontinensia urine.

(5) Pencernaan

(a) Inspeksi: kaji adanya mual, muntah, kembung,

adanya distensi abdomen dan nyeri abdomen,diare

atau konstipasi.

(b) Auskultasi: kaji adanya peningkatan bunyi usus.

(c) Perkusi: kaji adanya bunyi tympani abdomen

akibat adanya kembung.

(d) Palpasi: adanya hepatomegali, splenomegali,

mengidentifikasi adanya infeksi pada minggu

kedua,adanya nyeri tekan pada abdomen.

(6) Bone: adanya respon sistemik yang menyebabkan

malaise, adanya sianosis. Integumen turgor kulit

menurun, kulit kering.


24

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah pernyataan tertulis yang

tegas dan jelas tentang masalah kesehatan pasien, penyebabnya

dan faktor yang menunjang. Kegiatan yang dilakukan meliputi

memilih data, mengelompokkan data, mengenal masalah,

menyusun daftar masalah, menyusun referensi dan kesimpulan

serta menegakkan diagnosa (Nursalam, 2013).

Berdasarkan pada semua pengkajian, diagnosa keperawatan

utama yang dapat muncul adalah :

1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan

dengan adanya bronkhokonstriksi, akumulasi sekret jalan

napas, dan menurunnya kemampuan batuk efektif.

2) Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi

CO2, peningkatan sekresi, peningkatan pernapasan, dan proses

penyakit.

3) Resiko tinggi infeksi pernapasan (pneumonia) yang

berhubungan dengan akumulasi sekret jalan napas dan

meurunnya kemampuan batuk efektif.

2.2.3 Perencanaan

Perencanaan keperawatan adalah pedoman tertulis untuk

melaksanakan tindakan keperawatan dalam membantu pasien

dalam memecahkan masalah serta memenuhi kebutuhan

kesehatannya dan mengkoordinir staf perawatan dalam

(Nursalam, 2013).
25

1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan

dengan adanya bronkhokonstriksi, akumulasi sekret jalan

napas, dan menurunnya kemampuan batuk efektif

Tujuan: jalan napas kembali efektif ditandai dengan

berkurangnya kuantitas dan viskositas sputum untuk

memperbaiki ventilasi paru dan pertukaran gas dengan kriteria:

a) Dapat menyatakan dan mendemonstrasikan batuk efektif

b) Tidak ada suara napas tambahan

c) Wheezing (-)

d) Pernapasan klien normal tanpa menggunaka otot bantu

napas

Intervensi

a) Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum

b) Atur posisi semifowler

c) Ajarkan cara batuk efektif

d) Bantu klien latihan napas dalam

e) Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml /hari kecuali

tidak diindikasikan

f) Lakukan fisioterapi dada dengan teknik posturan drainase,

perkusi, dan fibrasi dada

2) Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi

CO2, peningkatan sekresi, peningkatan pernapasan, dan proses

penyakit.
26

Tujuan: memperbaiki pertukaran gas dengan kriteria:

a) Frekuensi napas 16-20 x/menit

b) Frekuensi nadi 70-90 x/menit

c) Warna kulit normal

d) Tidak ada dipsnea

e) GDA dalam batas normal

Intervensi

a) Kaji keefektifan jalan napas

b) Kolaborasi untuk pemberian bronkodilator secara aerosol

c) Lakukan fisioterapi dada

d) Kolaborasi untuk pemantauan analisis gas arteri

e) Kolaborasi pemberian oksigen via nasal

3) Resiko tinggi infeksi pernapasan (pneumonia) yang

berhubungan dengan akumulasi sekret jalan napas dan

meurunnya kemampuan batuk efektif.

Tujuan: bronkhopulmonal dapat dikendalikan untuk

menghilangkan edema inflamasi dan untuk memungkinkan

penyembuhan aksi siliaris normal. Infeksi pernapasan minor

yang tidak memberikan dampak pada individu yan memiliki

paru normal.

Kriteria hasil:

a) Frekuensi napas 16-20 x/menit

b) Frekuensi nadi 70-90 x/menit

c) Kemampuan batuk efektif dapat optimal


27

d) Tidak ada peningkatan suhu tubuh

Intervensi:

a) Kaji kemampuan batuk klien

b) Monitor adanya perubahan yang mengarah pada tanda-

tanda infeksi pernapasan

c) Ajarkan latihan bernapas dan training pernapasan

2.2.4 Implementasi

Implementasi keperawatan adalah melaksanakan tindakan

keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang telah disusun.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan tindakan

keperawatan yaitu mengamati keadaan bio-psiko-sosio-spiritual

pasien, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, mencuci tangan

sebelum dan sesudah melaksanakam kegiatan, menerapkan etika

keperawatan serta mengutamakan kenyamanan dan keselamatan

pasien. Kegiatan yang dilakukan meliputi melihat data dasar,

mempelajari rencana, menyesuaikan rencana, menentukan

kebutuhan bantuan, melaksanakan tindakan keperawan sesuai

rencana yang telah disusun, analisa umpan balik,

mengkomunikasikan hasil asuhan keperawatan (Nursalam, 2008).

2.2.5 Evaluasi

Evaluasi adalah mengkaji respon pasien terhadap standart

atau kriteria yang ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai.


28

Penuliasan pada tahap evaluasi proses keperawatan yaitu terdapat

jam melakukan tindakan, data perkembangan pasien yang mengacu

pada tujuan, keputusan apakah tujuan tercapai atau tidak, serta ada

tanda tangan atau paraf. Kegiatan yang dilakuakan meliputi

menggunakan standar keperawatan yang tepat, mengumpulkan dan

mengorganisasi data, membandingkan dan dengan kriteria dan

menyimpulkan hasil yang kemudian di tulis dalam daftar masalah

(Nursalam, 2008).
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain yang digunakan adalah studi kasus, yaitu studi yang

mengeksplorasi suatu masalah atau fenomena dengan batasan terperinci,

memiliki pengambilan data yang mendalam dan menyertakan berbagai sumber

informasi. Studi kasus dibatasi oleh waktu dan tempat, serta kasus yang

dipelajari berupa peristiwa, aktivitas atau individu. Studi kasus ini adalah studi

untuk mengekplorasi masalah Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S

yang Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar.

3.2 Batasan Istilah

Batasan istilah (atau dalam versi kuantitatif disebut sebagai definisi

operasional) adalah pernyataan yang menjelaskan istilah-istilah kunci yang

menjadi fokus studi kasus yaitu Asuhan Keperawatan Pada Tn. M dan Tn. S

yang Mengalami Penyakit Paru Obstruksi Kronis dengan masalah

Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas di IGD RSUD Karanganyar.

Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktik

keperawatan langsung pada klien di berbagai tatanan pelyanan kesehatan yang

pelaksanaanya berdasarkan kaidah profesi keperawatan dan merupakan inti

praktek keperawatan (Ali, 2009)

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru-paru yang

ditandai dengan penyumbatan terus menerus aliran udara dari paru-paru. Ini

29
30

adalah penyakit paru-paru yang mengancam kehidupan didiagnosis yang

mengganggu pernapasan normal dan tidak sepenuhnya reversibel. Mencakup

bronkitis kronis dan emfisema (WHO, 2016).

3.3 Partisipan

Partisipan merupakan objek yang ditentukan melalui suatu kriteria tertentu

yang akan dikategorikan ke dalam objek tersebut bisa termasuk orang,

dokumen atau catatan yang dipandang sebagi objek penelitian (Sugiyono,

2013).

Partisipan dalam studi kasus adalah Tn. M dan Tn. S dengan masalah

keperawatan gangguan bersihan jalan nafas dengan diagnosa medis PPOK.

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penyelenggaraaan asuhan keperawatan pada yang mengalami PPOK telah

dilaksanakan di Ruang IGD RSUD Karanganyar selama 2 minggu pada

tanggal 22 Mei - 3 Juni 2017.

3.5 Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013) dalam setiap penelitian, peneliti dituntut untuk

menguasai teknik pengumpulan data sehingga menghasilkan data yang relevan

dengan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang paling

strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah

mendapatkan data. Tanpa mengetahuin teknik pengumpulan data, maka

peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara sebagai berikut

:
31

1) Wawancara

Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara berinteraksi,

bertanya dan mendengarkan apa yang disampaikan secara lisan oleh

responden atau partisipan. Metode wawancara merupakan pilihan yang

tepat jika ingin mendapatkan data yang mendalam atau ingin memperjelas

terhadap sesuatu yang diamati dari responden. Metode ini sering

digunakan untuk mengetahui pendapat, pandangan, pengalaman atau

persepsi responden tentang suatu permasalahan (Dharma, 2013). Dalam

penelitian ini penulis melakukan wawancara terhadap pasien ataupun

keluarga, ataupun perawat lainnya, dan hasil wawancara berisi tentang

identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat

penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat imunisasi pasien,

riwayat alergi, riwayat gizi, kondisi lingkungan pasien dan pola kebiasaan

pasien.

2) Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Observasi adalah kegiatan pengumpulan data melalui pengamatan

langsung terhadap aktivitas responden atau partisipan yang terencana,

dilakukan secara aktif dan sistematis (Dharma, 2013). Observasi

merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan

secara langsung kepada responden penelitian untuk mencari perubahan

atau hal-hal yang akan diteliti. Dalam metode observasi ini, instrumen

yang dapat digunakan antara lain, lembar observasi, panduan pengamatan,

atau lembar checlist. Observasi ada tiga macam yaitu, obervasi partisipan,

observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok. Observasi partisipan


32

merupakan pengamatan melalui pengindraan dengan peneliti terlibat

secara langsung. Observasi tidak terstruktur merupakan observasi yang

dilakukan tanpa pedoman observasi. Observasi kelompok merupakan

observasi yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti.

3) Studi Dokumentasi

Menurut Hidayat (2014) Studi Dokumentasi merupakan pengumpulan

data dengan cara mengambil data yang berasal dari dokumen asli.

Dokumen asli tersebut dapat berupa gambar, tabel, atau daftar periksa, dan

film dokumenter.

3.6 Uji Keabsahan Data

Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya yang dilakukan

adalah melakukan uji keabsahan data. Kegiatan ini dilakukan untuk melihat

kebenaran data yang telah dikumpulkan dan agar hasil-hasil data dapat

dipertanggung jawabkan dari segala segi (Sugiyono, 2013).

Dalam penelitian ini uji keabsahan data yang dimaksud kan untuk menguji

kulitas data/informasi yang diperoleh sehingga menghasilkan data dengan

validitas tinggi. Disamping integritas peneliti (karena peneliti menjadi

instrument utama), uji keabsahan data dilakukan dengan:

1) Memperpanjang waktu pengamatan atau tindakan

Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah

data yang telah diberikan selama ini merupakan data yang sudah benar

atau tidak. Bila data yang diperoleh selama ini setelah dicek kembali pada

sumber data asli atau sumber lain ternyata tidak benar, maka peneliti
33

melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga

diperoleh data yang pasti kebenarannya (Sugiyono, 2013).

2) Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi dari tiga sumber

data utama yaitu pasien, perawat dan keluarga pasien yang berkaitan

dengan masalah yang diteliti yaitu pada pasien yang mengalami Penyakit

Paru Obstruksi Kronis (PPOK) di Ruang IGD RSUD Karanganyar.

Menurut Sugiyono (2013) Triangulasi diartikan sebagai teknik

pengumpulan data yag bersifat menggabungkan dari berbagai teknik

pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dengan teknik

pengumpulan data triangulasi, maka peneliti akan meningkatkan

kredibilitas data karena menggunakan lebih dari satu pespektif sehingga

kebenarannya terjamin.

3.7 Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi

dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam

unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan

dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri

sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2013).

Langkah-langkah dalam analisis data adalah :

1) Pengumpulan data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi, studi

dokumentasi). Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, catatan

terstruktur dalam bentuk catatan asuhan keperawatan.


34

2) Mereduksi data

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan

dijadikan satu dalam bentuk transkrip dan dikelompokkan menjadi data

subjektif dan data objektif, dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan

diagnostik kemudian dibandingkan nilai normal.

3) Penyajian data

Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks

naratif. Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan mengaburkan identitas

dari klien.

4) Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan

hasil penelitian terdahulu dan secaa teoritis dengan perilaku kesehatan.

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Data yang

dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan,

tindakan, dan evaluasi keperawatan.


BAB IV

HASIL

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran Lokasi pengambilan data

Gambar 4.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data

RSUD Karanganyar ialah salah satu RS milik Pemkab

Karanganyar yang bermodel RSU, dikelola oleh Pemda Kabupaten dan

termuat kedalam Rumah Sakit Kelas C. RS ini telah teregistrasi

semenjak 26/10/2013 dengan Nomor Surat ijin

503/26/RSU.C/BPPT/2014 dan Tanggal Surat ijin 08/04/2014

dari Bupati Karanganyar dengan Sifat Tetap, dan berlaku sampai 5

tahun. Sesudah melangsungkan Metode AKREDITASI Rumah sakit

Seluruh Indonesia dengan proses Pentahapan III (16 Pelayanan)

akhirnya diberikan status Lulus Akreditasi Rumah Sakit. RSU ini

bertempat di Jl. Yos Sudarso Karanganyar, Karanganyar, Indonesia.

35
36

Pengambilan data dilakukan di IGD RSUD Karanganyar pada

tanggal 22 Mei 2017 – 3 Juni 2017. Data yang diambil yaitu dari data 2

pasien yang mempunyai diagnosa medis yang sama yaitu Penyakit Paru

Obstruksi Kronis (PPOK).

4.1.2 Pengkajian

1. Identitas Pasien

Tabel 4.1 Identitas Pasien


IDENTITAS Pasien 1 Pasien 2
KLIEN (23 Mei 2017, 13.45 WIB) (26 Mei 2017, 18.42 WIB)
Nama Tn. M Tn. S
Alamat Jumantono , Karanganyar Jantiharjo , Karanganyar
Umur 82 tahun 70 tahun
Agama Islam Islam
Pendidikan SD SMP
Pekerjaan Petani Petani
Identitas
Penanggung Pasien 1 Pasien 2
Jawab
Nama Ny. J Ny. H
Alamat Jumantono , Karanganyar Jantiharjo , Karanganyar
Umur 57 tahun 49 tahun
Agama iis Islam Islam
Pendidikan SMP SMA
Pekerjaan Petani Swasta
Hubungan Dengan Anak Anak
Klien
37

2. Pengkajian Primer

Tabel 4.2 Riwayat Penyakit


Pengkajian Pasien 1 Pasien 2
Primer
Airway Jalan nafas terdapat sumbatan, Jalan nafas terdapat
terdapat sekret terdengar suara sumbatan, terdapat sekret
wheezing terdengar suara wheezing

Breathing Sesak nafas, respiratory rate Sesak nafas, , nafas cepat,


28 kali/menit, terdengar suara tarikan otot intercosta, nafas
vesikuler menurun, terdapat cuping hidung, respiratory
suara nafas tambahan rate 34 kali/menit, SPO2
wheezing dan ronchi , nafas 96%
cuping hidung, SPO2 92%

Circulation Tekanan darah : 140/90 Tekanan darah : 110/70


mmHg mmHg
Nadi : 95 kali/menit Nadi : 79 kali/menit
Suhu : 36,8 oC Suhu : 37oC
Akral hangat, nadi lemah Akral dingin

Disability Glasgow coma Scale : 15, Glasgow coma Scale : 15,


kesadaran composmenti, kesadaran composmentis,
reaksi pupil kanan/kiri +/+ reaksi pupil kanan/kiri +/+
jika didekati cahaya jika didekati cahaya

Exposure Suhu : 36,8OC. Suhu : 37oC

3. Pengkajian Sekunder

Tabel 4.3 Pengkajian Sekunder


Pengkajian Sekunder Pasien 1 Pasien 2
Keadaan/penampilan umum
a. Kesadaran Composmentis Composmentis
GCS 15 (E: 4, V:5, GCS 15 (E: 4, V:5,
M:6) M:6)

b. TTV Tekanan darah : Tekanan darah :


140/90 mmHg 100/70 mmHg
Nadi : 95 kali/menit Nadi : 79 kali/menit
Respiratory Rate : 28 Respiratory Rate : 34
kali/menit kali/menit
Suhu : 36,8 oC Suhu : 37oC

History (SAMPLE)
a. Subjektif Pasien mengatakan Pasien mengatakan
sesak nafas sesak nafas, dada
sebelah kiri terasa
panas

b. Alergi Pasien mengatakan Pasien mengatakan


tidak ada alergi obat tidak ada alergi obat
38

ataupun makanan ataupun makanan

c. Medikasi Pasien mengatakan Pasien mengatakan


tidak mengonsumsi tidak mengonsumsi
obat-obatan obat-obatan

d. Riwayat Penyakit Pasien mengatakan Pasien mengatakan


Sebelumnya pernah dirawat di sebelumnya pernah
rumah sakit dengan dirawat di rumah sakit
diagnosa yang sama dengan asma

e. Last Meal Pasien mengatakan Pasien mengatakan


terakhir terakhir mengonsumsi
mengonsumsi nasi, nasi, lauk dan teh
sauyur, lauk dan air
putih, tetapi nafsu
makan berkurang

f. Even Leading Pasien mengatakan Pasien mengatakan


sesak nafas setelah sesak nafas setelah
mencari rumput di melakukan kegiatan
kebun ± pukul 09.00 kerja bakti ± pukul
WIB. Pasien batuk 11.00 WIB, batuk
berdahak ± 7 hari berdahak dan dahak
tetapi dahak sulit susah keluar ± 4 hari.
keluar.

Pemeriksaan fisik
a. Kepala
- Bentuk kepala Mesochepal Mesochepal
- Kulit kepala Bersih Bersih
- Rambut Beruban Beruban
Mata
Palpebra Tidak bengkak Tidak bengkak
Konjungtiva Tidak anemis Tidak anemis
Sclera Tidak ikterik Tidak ikterik
Pupil Isokor Isokor
Diameter ka/ki 2mm/2mm 2mm/2mm
Reflek terhadap cahaya Positif Positif
Penggunaan alat bantu Tidak menggunakan Tidak menggunakan
penglihatan
Hidung Bersih, nafas cuping Bersih, nafas cuping
hidung, terpasang O2 hidung, terpasang O2
kanul 3 lpm kanul 3 lpm
Mulut Bersih Bersih
Gigi Gigi tidak utuh Gigi tidak utuh
Telinga Tidak ada serumen Tidak ada serumen
b. Leher Tidak ada Tidak ada pembesaran
pembesaran kelenjar kelenjar tyroid
tyroid
c. Dada
39

- Paru-paru
Inspeksi Bentuk dada barel Bentuk dada simetris
chest, ada retraksi
dada
Palpasi Vocal Fremitus kanan Vocal Fremitus kanan
kiri tidak sama kiri sama
Perkusi Hipersonor Hipersonor

Auskultasi Terdengar wheezing, Terdengar wheezing


ronchi

- Jantung
Inspeksi Simetris dan tidak Simetris
ada jejas
Palpasi Ictus cordis teraba di Ictus cordis teraba di
SIC V mid clavikula SIC V mid clavikula
sinistra sinistra
Perkusi Suara pekak Suara pekak
Auskultasi Bunyi jantung I dan Bunyi jantung I dan II
II lup dup lup dup
d. Abdomen
Inspeksi Tidak ada jejas Tidak ada jejas
Auskultasi Bising usus terdengar Bising usus terdengar
14x/mnt 15x/mnt
Perkusi Kuadran I pekak, Kuadran I pekak,
kuadran II III IV kuadran II III IV
tympani tympani
Palpasi Tidak ada nyeri tekan Tidak ada nyeri tekan
e. Genetalia Tidak terkaji Tidak terkaji
f. Rektum Tidak terkaji Tidak terkali
g. Ekstremitas
- Atas
Kekuatan otot ka/ki 4/4 4/4
ROM ka/ki Aktif Aktif
CRT < 2 detik < 2 detik
Perubahan bentuk Tidak ada Tidak ada
tulang
- Bawah
Kekuatan otot ka/ki 4/4 4/4
ROM ka/ki Aktif Aktif
CRT < 2 detik < 2 detik
Perubahan bentuk Tidak ada Tidak ada
tulang

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tabel 4.4 Riwayat Kesehatan Keluarga


Pasien 1 Pasien 2
Keluarga pasien Keluarga pasien mengatakan
mengatakan di dalam pasien mempunyai riwayat
keluarganya memiliki sebagai perokok aktif.
Riwayat Kesehatan
riwayat penyakit menurun Keluarga pasien mengatakan
Keluarga
hipertensi, dan klien didalam keluarganya tidak
memiliki riwayat sebagai memiliki riwayat penyakit
perokok aktif. menurun seperti hipertensi,
DM dan tidak memiliki
40

riwayat penyakit menular


seperti TBC.

5. Hasil Pemeriksaan Diagnostik

Tabel 4.5 Hasil Pemeriksaan Diagnostik


Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Pasien 1 (tanggal 23 Mei 2017)
HEMATOLOGI RUTIN
Darah Rutin
Hemoglobin 12,4 g/dl 12,0-16,0
Hematokrit 38,1 % 37,0-52,0
Leukosit 20,5 Ribu/ul 4,8-10,8
Trombosit 350 Ribu/ul 150-450
Eritrosit 4,87 Juta/ul 4,40-5,50
MCV 78,3 fL 80,0-99,0
MCH 25,6 fL 27-31
MCHC 32,6 fL 33,0-37,0
Diff Count
Neutrofil 93,8 50-70
Limfosit 2,6 20-40
MXD 3,6 1,0-12,0
RDW 20,2 10,0-15,0

4.1.3 ANALISA DATA


Tabel 4.6 Analisa Data
Tanggal/ Data Masalah Etiologi Ttd
jam Pasien 1
Selasa Ds : Igna
23-05-17 Pasien Ketidakefektifan Hiperventilasi
13.45 mengatakan pola nafas
sesak nafas
Do :
Pasien tampak
susah bernafas,
terdengar suara
vesikuler
menurun, nafas
cepat,
terpasang O2
kanul 3 lpm
Tanda-tanda
Vital:
Tekanan darah
: 140/90 mmHh
Nadi : 95
kali/menit
Respirasi : 28
kali/menit
Selasa Ds : Igna
23-05-17 Pasien Ketidakefektifan Penumpukan
13.50 mengatakan bersihan jalan nafas sekret dijalan
41

batuk berdahak nafas


± 7 hari tetapi
dahak sulit
keluar

Do :
Jalan nafas
terdapat sekret
dan terdengar
suara Wheezing
dan ronchi
Selasa Ds : Igna
23-05-17 Pasien Cemas Kurangnya
13.55 mengatakan pengetahuan
kawatir
penyakitnya
yang tak
kunjung
sembuh
Do :
Pasien tampak
murung, nafsu
makan
berkurang
Pasien 2
Jumat Ds : Igna
26-05-17 Pasien Ketidakefektifan Hiperventilasi
18.42 mengatakan pola nafas
sesak nafas
Do :
Pasien tampak
kesulitan
bernafas, nafas
cepat, nafas
cuping hidung,
menggunakan
otot bantu
nafas, SPO2
93%, terpasang
O2 kanul 3 lpm
Tanda-tanda
Vital:
Tekanan darah
: 100/70 mmHh
Nadi : 79
kali/menit
Respiratory
rate : 34
kali/menit
Suhu : 37o C
Jumat Ds : Igna
26-05-17 Pasien Ketidakefektifan Penumpukan
18.45 mengatakan bersihan jalan nafas sekret dijalan
batuk berdahak nafas
± 4 hari dan
dahak susah
keluar
Do :
42

Terdapat sekret
dijalan nafas
dan terdengar
suara wheezing

4.1.4 Diagnosa Keperawatan

Tabel 4.7 Diagnosa Keperawatan


Masalah Etiologi Diagnosa
Pasien 1

Ketidakefektifan Penumpukan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d


bersihan jalan sekret dijalan penumpukan sekret dijalan nafas
nafas nafas

Ketidakefektifan Hiperventilasi Ketidakefektifan pola nafas b.d


pola nafas hiperventilasi

Cemas Kurangnya Cemas b.d kurangnya pengetahuan


pengetahuan
pasien 2

Ketidakefektifan Penumpukan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d


bersihan jalan nafas sekret dijalan penumpukan sekret dijalan nafas
nafas

Ketidakefektifan Hiperventilasi Ketidakefektifan pola nafas b.d


pola nafas hiperventilasi

4.1.5 Perencanaan Keperawatan


Tabel 4.8 perencanaan Keperawatan
Dx
KRITERIA HASIL INTERVENSI
Keperawatan
Pasien 1
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi respirasi pasien
bersihan jalan keperawatan 60 menit 2. Posisikan klien untuk
nafas b.d diharapkan bersihan jalan memaksimalkan ventilasi
penumpukan nafas efektif, dengan kriteria 3. Ajarkan batuk efektif
sekret dijalan hasil : 4. Kolaborasi dengan tim
nafas 1. Sputum dapat keluar medis dalam pemberian
2. Respiratory rate nebulizer
dalam rentang normal
16-24 x/ menit

Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi respirasi


pola nafas b.d keperawatan 60 menit 2. Posisikan semi fowler
43

hiperventilasi diharapkan pola nafas menjadi 3. Motivasi pasien untuk


efektif dengan kriteria hasil : tetap tenang
1. Tidak terdengar suara 4. Kolaborasi dengan tim
nafas tambahan medis dalam pemberian
wheezing oksigen
2. Tidak menggunakan
otot bantu nafas
3. Respiratory rate
dalam rentang normal
16-24 x/ menit

Cemas b.d Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi tanda tanda vital


kurangnya keperawatan 60 menit 2. Identifikasi tingkat
pengetahuan diharapkan rasa cemas kecemasan
berkurang, denan kriteria hasil 3. Pemberian informasi
: tentang penyakit
1. Pasien mampu 4. Kolaborasi dengan tim
mengidentifikasi medis
gejala cemas
2. Ekspresi wajah
tampak rilek
3. Tanda – tanda vital
dalam rentang normal
TD : 120/80
RR : 16 -24 x/menit

pasien 2
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi respirasi
bersihan jalan keperawatan 60 menit 2. Posisikan klien untuk
nafas b.d diharapkan bersihan jalan memaksimalkan ventilasi
penumpukan nafas efektif, dengan kriteria 3. Ajarkan batuk efektif
sekret dijalan hasil : 4. Kolaborasi dengan dokter
nafas 1. Sputum dapat keluar dalam pemberian nebulizer
2. Respiratory rate
dalam rentang normal
16-24 x/ menit

Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi respirasi


pola nafas b.d keperawatan 60 menit 2. Posisikan semi fowler
hiperventilasi diharapkan pola nafas menjadi 3. Motivasi pasien untuk
efektif dengan kriteria hasil : tidak banyak bergerak
1. Tidak terdengar suara 4. Kolaborasi dengan doker
nafas tambahan dalam pemberian oksigen
wheezing
2. Tidak menggunakan
otot bantu nafas
3. Respiratory rate
dalam rentang normal
16-24 x/ menit
44

4.1.6 Implementasi Keperawatan


Tabel 4.9 Implementasi Keperawatan
Pasien 1
Diagnosa Keperawatan Selasa, 23 Mei 2017
Jam Implementasi
Ketidakefektifan bersihan 13.45 Melakukan pemeriksaan TTV dan respirasi
jalan nafas b.d pasien
penumpukan sekret dijalan
nafas
Ketidakefektifan pola 13.50 Memberikan O2 kanul 3 lpm
nafas b.d hiperventilasi
13.55 Memposisikan pasien semi fowler

Ketidakefektifan bersihan 14.00 Memberikan terapi nebulizer (ventolin 2,5


jalan nafas b.d mg dan flixotide 0,5 mg)
penumpukan sekret dijalan
nafas 14.15 Mengajarkan batukn efektif

Cemas b.d kurangnya 14.30 Mengidentifikasi tingkat kecemasan


pengetahuan
14.35 Memberi informasi tentang penyakit yang
sedang dialami
Ketidakefektifan bersihan 14.45 Melakukan pemeriksaan ulang respirasi
jalan nafas b.d pasien
penumpukan sekret dijalan
nafas
Pasien 2
Diagnosa keperawatan Jumat, 26 Mei 2017
Jam Implementasi
Ketidakefektifan bersihan 18.42 Mengobservasi TTV dan respirasi pasien
jalan nafas b.d
penumpukan sekret dijalan
nafas
Ketidakefektifan pola 18.50 Memberikan O2 kanul 3 lpm
nafas b.d hiperventilasi
18.55 Memposisikan posisi semi fowler

Ketidakefektifan bersihan 19.05 Memberikan terapi nebulizer (ventolin 2,5


jalan nafas b.d mg dan flixotide 0,5 mg)
penumpukan sekret dijalan
nafas 19.20 Mengajarkan batuk efektif

Ketidakefektifan pola 19.35 Memotivasi pasien untuk tidak banyak


nafas b.d hiperventilasi bergerak
Ketidakefektifan bersihan 19.40 Mengkaji ulang pernafasan klien
jalan nafas b.d
penumpukan sekret dijalan
nafas
45

4.1.7 Evaluasi Keperawatan


Tabel 4.10 Evaluasi Keperawatan
Pasien 1
Diagnosa Selasa, 23 Mei Evaluasi
keperawatan 2017
Ketidakefektifa 15.00 WIB S: Pasien mengatakan dahak sudah bisa
n bersihan jalan keluar
nafas b.d O : Suara nafas wheezing dan ronchi
penumpukan berkurang
sekret dijalan A : Masalah teratasi sebagian
nafas P : Lanjutkan intervensi
- Observasi respirasi pasien
- Ajarkan batuk efektif

Ketidakefektifa 15.00 WIB S : Pasien mengatakan sesak nafas


n pola nafas b.d berkurang
hiperventilasi O : Respiratory Rate 24x/menit
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
Cemas b.d 15.00 WIB S : Pasien mengatakan masih kawatir
kurangnya dengan penyakitnya
pengetahuan O : Pasien tampak murung
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Jelaskan dan beritahu informasi
tentang penyakitnya
Pasien 2
Diagnosa Jumat, 26 Mei Evaluasi
keperawatan 2017
Ketidakefektifa 20.15 WIB S : Pasien mengatakan dahak bisa keluar
n bersihan jalan sedikit
nafas b.d O : Suara nafas wheezing berkurang
penumpukan A : Masalah teratasi sebagian
sekret dijalan P : Lanjutkan intervensi
nafas - Observasi respirasi
- Ajarkan batuk efektif

Ketidakefektifa 20.15 WIB S : Pasien mengatakan sesak nafas


n pola nafas b.d berkurang
hiperventilasi O : Respiratory Rate 25x/menit
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Observasi respirasi
- Posisikan pasien semi fowler
46

BAB V

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan pada Tn. M

dan Tn. S dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Pembahasan pada bab

ini terutama akan membahas adanya kesenjangan maupun kesesuaian antara teori

dengan kasus.

5.1 Pengkajian

Pengkajian terdiri dari pengumpulan informasi subjektif dan objektif

(misalnya tanda vital, wawancara pasien atau keluarga, pemeriksaan fisik)

dan informasi riwayat pasien pada rekam medik. Perawat juga

mengumpulkan informasi tentang kekuatan (untuk mengidentifikasi peluang

promosi kesehatan) dan resiko (area perawat dapat mencegah atau potensi

masalah yang dapat ditunda (Herdman & Shigemi Kamitsuru, 2015).

5.1.1 Tahapan pengkajian primer

Airway pada Tn. M dan Tn. S didapatkan jalan nafas terdapat

sumbatan, terdapat sekret dan suara nafas Tn. M terdengar suara wheezing

dan ronchi dan Tn. S terdengar suara wheezing. Wheezing adalah

pernapasan frekuensi tinggi nyaring yang terdengar di akhir fase ekspirasi.

Wheezing diakibatkan oleh obstruksi saluran nafas yang merupakan

kombinasi spasme otot bronkus, penyumbatan mukus, edema dan inflamasi

dinding bronkus (Gilbert, 2013). Sedangkan ronchi adalah bunyi gaduh

yang dalam. Terdengar selama : ekspirasi. Penyebab : gerakan udara

46
47

melewati jalan napas yang menyempit akibat obstruksi napas. Obstruksi :

sumbatan akibat sekresi, odema, atau tumor (Gilbert, 2013). Pada Tn. M dan

Tn. S didapatkan pengkajian airway adanya sumbatan pada jalan nafas hal

ini disebabkan adanya penumpukan sekret pada saluran pernafasan.

Breathing pada Tn. M dan Tn. S didapatkan pasien sesak nafas, Tn. M

terdapat suara nafas wheezing dan ronchi dan pada Tn. S terdapat suara

nafas wheezing, nafas cepat, tarikan otot intercosta, nafas cuping hidung,

respiratory rate Tn. M 28 kali/menit, SPO2 92% dan respiratory rate Tn. S

34 kali/menit, SPO2 93%. Sesak nafas atau kesulitan bernafas disebabkan

oleh aliran udara dalam saluran pernafasan karena penyempitan.

Penyempitan dapat terjadi karena saluran pernafasan menguncup, oedema

atau timbulnya sekret yang menghalangi saluran pernafasan. Sesak nafas

dapat ditentukan dengan menghitung pernafasan dalam satu menit

(Handoko, 2012). Pernapasan cuping hidung lebih identik sesak napas atau

dispnea karena adanya gangguan pada pertukaran gas antara O2 dan CO2

sehingga menyebabkan kebutuhan ventilasi makin meningkat dan terjadi

sesak napas. Saturasi oksigen adalah prosentase hemoglobin yang berikatan

dengan oksigen dalam darah arteri, saturasi oksigen normal antara 95-100%

(Aryres, 2010). Circulation pada Tn. M tekanan darah 140/90 mmHg, heart

rate 95 kali/menit, capillary refill kurang dari dua detik, akral teraba hangat,

dan suhu tubuh 36,8 ºC dan pada Tn. S tekanan darah 100/70 mmHg, heart

rate 79 kali/menit, capillary refill kurang dari dua detik, akral teraba dingin,

dan suhu tubuh 37 ºC. Tidak ditemukan sinosis pada Tn. S dan Nn. F.

Disability Tn. M dan Tn. S didapatkan tingkat kesadaran composmentis,


48

nilai GCS (Glasgow Coma Scale) 15, Eyes: 4, Verbal: 5, Motorik: 6, reaksi

pupil positif terhadap cahaya, pupil isokor diameter 2 mm. Kesadaran

composmentis (conscious) yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat

menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya dengan tepat.

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor,

termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan,

kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan

berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Salah satu cara untuk mengukur

tingkat kesadaran yaitu dengan menggunakan nilai GCS (Glasgow Coma

Scale). Nilai GCS meliputi: reflek membuka mata, respon verbal, dan

respon motorik (Gilbert, 2013). Exposure berisi pengkaji suhu Tn. M 36,8
o
C dan suhu Tn. S 37 oC.

Pengkajian ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability,

Exposure) pada Tn. M dan Tn. S terdapat adanya hasil yang tidak normal

dipengkajian airway dan breathing. Menurut penulis airway normal yaitu

jalan nafas paten, tidak ada benda asing (sekret) dan tidak ada suara nafas

tambahan. Breathing normal tidak ada masalah pada pola nafas, respiratory

rate 16-24 kali/menit, tidak ada suara nafas tambahan, tidak mengunakan

otot bantu pernafasan dan SPO2 dalam batas normal 95-100%.

5.1.2 Pengkajian sekunder

Subjektif didapatkan Tn. M dan Tn. S mengatakan sesak nafas, batuk

berdahak dan susah keluar. Alergi didapatkan Tn. M dan Tn. S tidak ada

alergi terhadap obat-obatan, makanan. Medikasi didapatkan Tn. M dan Tn.

S tidak mengonsumsi obat-obatan. Past Illnes ( Riwayat Penyakit Dahulu )


49

pada Tn. M pernah dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang sama yaitu

PPOK dan Tn. S pernah dirawat di rumah sakit dengan Asma. Last meal Tn.

M mengatakan terakhir mengonsumsi nasi, sayur, lauk dan air putih dan Tn.

S mengatakan terakhir mengkonsumsi nasi, lauk dan teh. Event leading

pada Tn. M mengatakan Pasien mengatakan sesak nafas setelah mencari

rumput di kebun ± pukul 09.00 WIB. Dan mengeluh batuk berdahak tetapi

dahak sulit keluar ± 7 hari. Tn. S mengatakan sesak nafas setelah mengikuti

kerja bakti ± pukul 11.00 WIB, batuk berdahak dan dahak susah keluar ± 4

hari.

Hasil pemeriksaan fisik paru-paru pada Tn. M dan Tn. S terdapat

perbedaan. Tn. M hasil pemeriksaan paru-parunya adalah inspeksi bentuk

dada barel chest, adanya retraksi dada, palpasi vocal fremitus kanan kiri

tidak sama, perkusi hiprsonor pada seluruh lapang paru, auskultasi

terdengar wheezing dan ronchi. Tn. S hasil pemeriksaan paru-parunya

adalah inspeksi bentuk dada simetris, palpasi vocal fremitus kanan kiri

sama, perkusi hipersonor pada seluruh lapang paru, auskultasi terdengar

wheezing. Pemeriksaan fisik paru setelah diauskultasi terdengar suara nafas

tambahan wheezing. Pada PPOK akan ditemukan pemeriksaan fisik paru-

paru barel chest (dada tong), bunyi nafas vesikuler menurun, ekspirasi

memanjang, ronchi dan wheezing, menggunakan otot bantu nafas

(Aziz, 2008).
50

5.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah pernyataan tertulis yang tegas dan

jelas tentang masalah kesehatan pasien, penyebabnya dan faktor

yang menunjang. Kegiatan yang dilakukan meliputi memilih

data, mengelompokkan data, mengenal masalah, menyusun daftar

masalah, menyusun referensi dan kesimpulan serta menegakkan diagnosa

(Nursalam, 2013).

Berdasarkan data-data yang didapatkan penulis dari hasil pengkajian

pada Tn. M dan Tn. S di Instalasi Gawat Darurat RSUD Karanganyar bahwa

pasien mempunyai masalah keperawatan yang sama yaitu ketidakefektifan

bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret dijalan nafas.

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas adalah ketidakmampuan untuk

membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk

memepertahankan bersihan jalan nafas. Batasan karakteristik dari

ketidakefektifan bersihan jalan nafas adalah suara nafas tambahan, perubahan

frekuensi nafas, perubahan irama nafas, sputum dalam jumlah yang

berlebihan dan batuk yang tidak efektif (Herdman, 2015).

Diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas menjadi diagnosa utama

dikarenakan masalah yang utama pada kasus PPOK terletak pada saluran

nafas yaitu adanya sekret yang berlebihan pada jalan nafas sehingga

kebutuhan oksigen untuk masuk ke paru-paru terganggu. Dari pengkajian dan

observasi yang penulis lakukan terhadap pasien PPOK, penulis menemukan

ada tanda dan gejala yang muncul pada Tn. M dan Tn. S sehingga penulis

akan mengangkat diagnosa ini sebagai diagnosa utama (Nanda, 2014). Hal ini
51

ditandai dengan adanya suara wheezing dan ronchi, perubahan pada frekuensi

pernafasan (Potter & Perry, 2012).

5.3 Intervensi Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah pedoman tertulis untuk melaksanakan

tindakan keperawatan dalam membantu pasien dalam memecahkan masalah

serta memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mengkoordinir staf perawatan

dalam (Nursalam, 2013).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 60 menit pada diagnosa

keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan

penumpukan sekret dijalan nafas diharapkan bersihan jalan nafas efektif

dengan kriteria hasil menurut NOC (Nursing Outcome Classification) yaitu

menunjukan jalan nafas paten, sesak nafas berkurang, respires rate : 16-24

kali/menit (Moorhead, 2016). Intervensi keperawatan yang akan penulis

rencanakan sesuai dengan ONEC (Observation, Nursing, Education,

Colaboration) dengan diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan nafas

sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi. Berdasarkan diagnosa yang telah

ditegakkan maka penulis akan menyusun intervensi keperawatan disesuaikan

dengan NIC (Nursing Intervention Classification) yaitu Airway Management

dengan mengajarkan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.

5.4 Implementasi Keperwatan

Implementasi keperawatan adalah melaksanakan tindakan

keperawatan berdasarkan asuhan keperawatan yang telah disusun. Hal-hal


52

yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu

mengamati keadaan bio-psiko-sosio-spiritual pasien, sesuai dengan waktu

yang telah ditentukan, mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakam

kegiatan, menerapkan etika keperawatan serta mengutamakan kenyamanan

dan keselamatan pasien. Kegiatan yang dilakukan meliputi melihat data dasar,

mempelajari rencana, menyesuaikan rencana, menentukan kebutuhan

bantuan, melaksanakan tindakan keperawan sesuai rencana yang telah

disusun, analisa umpan balik, mengkomunikasikan hasil asuhan keperawatan

(Nursalam, 2008).

Berdasarkan intervensi yang telah direncanakan, implementasi pada

diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan

dengan penumpukan sekret dijalan nafas. Implementasi utama yang

diberiakan pada Tn. M dan Tn. S adalah mengajarkan batuk efektif. Batuk

efektif yang bertujuan untuk membantu mengeluarkan sekret. Langkah –

langkah perlakuan batuk efektif meliputi pasien diberi posisi duduk tegak

di tempat tidur dengan kaki disokong, kemudian inhalasi maksimal dengan

mengambil nafas dalam dan pelan menggunakan pernafasan diafragma

sambil meletakkan 2 jari tepat di bawah procesus xipoideus dan dorong

dengan jari saat mendorong udara, lalu pasien disuruh tahan nafas selama 3-

5 detik kemudian hembuskan secara perlahan – lahan melalui mulut ambil

nafas kedua dan tahan, lalu suruh pasien untuk membatukkan dengan kuat

dari dada (bukan dari belakang mulut atau tenggorokan) dan gunakan 2

batuk pendek yang benar-benar kuat, setelah itu istirahat 2 – 3 menit

kemudian diulang kembali untuk latihan mulai langkah dari awal.


53

Setelah dilakukan tindakan batuk efektif didapatkan respon objektif

dari Tn. M adalah sekret dapat keluar. Respon objektifnya dari Tn. S adalah

sekret dapat keluar sedikit. Batuk efektif dilakukannya setelah diberikannya

terapi nebulizer.

Kondisi pasien sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan

tidakan batuk efektif terlihat ada perbedaan yang sangat signifikan dalam

pengeluaran dahak antara Tn. M dan Tn. S. Hal ini menunjukkan bahwa

tindakan batuk efektif dalam pengeluaran dahak pada Tn. M tapi belum

efektif untuk Tn. S karena dahak yang keluar hanya sedikit untuk itu penulis

melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

5.5 Evaluasi

Evaluasi adalah mengkaji respon pasien terhadap standart atau kriteria

yang ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai. Penuliasan pada tahap

evaluasi proses keperawatan yaitu terdapat jam melakukan tindakan, data

perkembangan pasien yang mengacu pada tujuan, keputusan apakah tujuan

tercapai atau tidak, serta ada tanda tangan atau paraf. Kegiatan yang

dilakuakan meliputi menggunakan standar keperawatan yang tepat,

mengumpulkan dan mengorganisasi data, membandingkan dan dengan

kriteria dan menyimpulkan hasil yang kemudian di tulis dalam daftar masalah

(Nursalam, 2008).

Setelah dilakukan tindakan keperawatan batuk efektif pada Tn. M dan

Tn. S dengan diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas,

hasil evaluasinya yaitu pasien mengatakan dahak sudah bisa keluar. Hasil

observasi didapatkan suara nafas wheezing dan ronchi berkurang dan pada
54

Tn. S suara nafas wheezing sudah berkurang. Masalah keperawatan

ketidakefektifan bersihan jalan nafas pasien teratasi sebagian. Lanjutkan

intervensi dengan mengobservasi respirasi dan ajarkan batuk efektif.


BAB VI

KESIMPULAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari uraian bab pembahasan, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :

1. Pengkajian

Hasil pengkajian yang telah penulis lakukan pada tanggal 23

Mei 2017 keluhan utama yang dirasakan Tn. M yaitu pasien

mengatakan batuk berdahak tetapi dahak sulit keluar, jalan nafas

terdapat sekret dan terengar suara wheezing dan ronchi. Pengkajian

Tn. S pada tanggal 26 Mei 2017 mengatakan batuk berdahak, dahak

sulit keluar, jalan nafas terdapat sekret dan terengar suara wheezing.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa atau masalah keperawatan utama yang pada Tn. M

dan Tn. S yaitu ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan

dengan penumpukan sekret dijalan nafas.

3. Intervensi Keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 60 menit pada

diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas

berhubungan dengan penumpukan sekret dijalan nafas diharapkan

bersihan jalan nafas efektif dengan kriteria hasil jalan nafas paten,

sesak nafas berkurang, respirasi rate : 16-24 kali/menit. Intervensi

keperawatan mengobservasi respirasi pasien, memposisikan pasien

55
56

untuk memaksimalkan ventilasi, mengajarkan batuk efektif dan

kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian nebulizer.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan pada Tn. M dan Tn. S

mengajarkan batuk efektif . Batuk efektif sangat efektif untuk Tn.

M karena dilakukan satu kali sekret dapat keluar tapi kurang efektif

untuk Tn. S karena sudah dilakukan batuk efektif sekret yang keluar

hanya sedikit.

5. Evaluasi

Evaluasi pada Tn. M tanggal 23 Mei 2017 pukul 15.00 WIB

tindakan keperawatan batuk efektif, pasien mengatakan dahak sudah

bisa keluar. Hasil observasi didapatkan suara nafas tambahan

wheezing dan ronchi sedikit berkurang.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan batuk efektif

tanggal 26 Mei 2017 pukul 20.15 WIB pada Tn. S hasil

evaluasinya yaitu pasien mengatakan dahak keluar sedikit. Hasil

observasi didapatatkan suara nafas tambahan wheezing sedikit

berkurang

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Rumah Sakit

Bagi rumah sakit khususnya Instalasi Gawat Darurat RSUD

Karanganyar dapat memberikan pelayanan kesehatan dan mempertahankan


57

hubungan kerjasama yang baik antar tim kesehatan maupun pasien serta

keluarga pasien.

6.2.2 Bagi tenaga kesehatan khususnya perawat

Perawat memiliki tanggung jawab dan ketrampilan yang lebih dan

berkoordinasi dengan tim keseshatan lain dalam memberikan Asuhan

Keperawatan khususnya pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan

terutama pada pasien PPOK dan melakukan perawatan sesuai dengan

standart operasional prosedur.

6.2.3 Bagi pasien

Batuk efektif dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Dapat

membantu mengeluarkan sekret pada saluran pernafasan saat pasien batuk

berdahak dan dahak atau sekret susah keluar.


DAFTAR PUSTAKA

Ikawati. 2016. Penatalaksanaan Terapi Penyakit Sistem Pernafasan. Yogyakarta:


Bursa Ilmu.

Arto Yuwono Soeroto. 2015. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta Pusat:


Interna Publishing.

Arita Murwani. 2011. Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Yogyakarta: Gosyen


Publishing.

Brunner & Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Arif Muttaqin. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Irman Soemantri. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan


Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Akde Triyoga, Prita Ayu Kusuma Dewi. 2015. Pelaksanaan Dokumentasi


Keperawatan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Baptis Kediri. Jurnal
Penelitian Keperawatan. Vol.1 No.2.

Nieniek Ritianingsih, Farial Nurhayati. 2017. Lama Sakit Berhubungan Dengan


Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Jurnal
Kesehatan Bakti Tunas Husada. Vol.17 No.1.

Ashima Sonita, Erly, Machdawaty Masr. 2014. Pola Resistensi Bakteri pada
Sputum Pasien PPOK Terhadap Beberapa Antibiotika di Laboratorium
Mikrobiologi RSUP Dr.M.Djamil Periode 2010 – 2012. Jurnal Kesehatan
Andalas.Vol.3 No.3.

Fadhil el Naser, Irvan Medison, Erly. 2016. Gambaran Derajat Merokok Pada
Penderita PPOK di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil. Jurnal Kesehatan
Andalas. Vol.5 No.2.
Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. Alfabeta.
Dharma, Kelana Kusuma. 2013. Metode Penelitian Keperawatan. Jakarta: CV.
Trans Info Media.
Sujarweni, Wiratna. 2014. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Nursalam. 2008. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktik.
Jakarta: Salemba Medika.
Naser et al. 2016. Kajian Epidemiologis Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK).
Media Litbangkes. Vol.23 No.2.
Pranowo, C. W. (2008). Efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk
penemuan Bta pada pasien tb paru diruang rawat inap. Rumah sakit
Mardi Rahayu Kudus. Dinkes pada tanggal 02 April 2014

Potter perry. 2012. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

Nanda Internasional. 2014. Diagnosa Keperawatan Definisi dan


KlasifikasiJakarta: EGC

Nugroho, Y. A. 2014. Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien


Dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi Medik Rumah
Sakit Baptis Kediri. Jurnal STIKES RS. Baptisn Kediri Volume 4, No. 2.
Handoko. 2012. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ignatia Ery Permata Sari

Tempat, tanggal lahir : Sragen, 23 Maret 1996

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat Rumah : Sukomarto RT.02 RW.08, Jetak, Sidoharjo, Sragen

Riwayat Pendidikan : 1. TK Santa Anna Sragen

2. SD Santo Fransiscus Lulusan Tahun 2008

3. SMP N 5 Sragen Lulusan Tahun 2011

4. SMA N 2Sragen Lulusan Tahun 2014

Riwayat Pekerjaan : Belum pernah bekerja

Riwayat Organisasi :-

Publikasi :-